Suradi Wijaya Saputra
Progam Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 87 Documents
Articles

Productivity and Feasibility of Tuna Longliner on Cilacap District Central Java Saputra, Suradi Wijaya; Solihin, Anhar; Wijayanto, Dian; Kurohman, Faik
SAINTEK PERIKANAN Vol 6, No 2 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Tuna Longliner or Tuna Longliner is fishing gear for a large pelagic fish, including Tuna. One unit of Tuna Longlinerr usually operate are 1000-2000 off the hook for once. Tuna Longliner generally operated on the high seas or ocean waters. Fuel is the largest production factor of Tuna Longliner. Fuel prices tend to rise is expected to affect the productivity and business feasibility. This study aims to assess the productivity and business feasibility Tuna Longliner at Cilacap district. Research carried out in PPS Cilacap in August until September 2008, using survey methods. Primary data collected are: the price of fish, size of vessel (GT), composition of the catch, and volume production. While secondary data is captured fish production of Tuna Longliner and fishing trip. Analysis of production data and produksivity using descriptive statistics, presented in the curves. Business feasibility analysis performed by calculating the NPV, IRR, and payback periods.  The results showed that the productivity of Tuna Longliner of Cilacap district is relatively low (0.045 tons / GT / year). The low of productivity due to the occurrence of a fully-exploited. This apparently resulted in a fishing business using Tuna Longliner of Cilacap district is not feasible, based on indicators of NPV, IRR, and payback periods. This condition requires that the management of serious action from government. Keyword: Tuna Longline, produktivity, feasibility.
Dispersion of Fine Shrimp (Metapenaeus elegans de Man 1907) on Segara Anakan Lagoon Cilacap Central Java Saputra, Suradi Wijaya
SAINTEK PERIKANAN Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research of the dispersion of fine shrimp (Metapenaeus elegans de Man 1907) was held on Segara Anakan Lagoon, Cilacap Central Java. Sampling was collected systematically during survey from February to December 2004. Based on habitat condition and the distribution of Apong (small size set net) fishing units, study area was divided into three zone : the West, Central and the East Zone. Results showed that fine shrimp caught along the year, was distributed to all Segara Anakan waters. M. elegans catched more in Donan river waters (East zone). Shrimp caught in the lagoon (West zone) was lagger in size than those collected from other zone and they were in the maturing reproductive status. Specimens caught from Tritih Kulon and west Kutawaru were reconded on the smallest. Spawning occurred along the year, with peak seasons in May. The spawning ground in the West Zone, is mainly the lagoon of East Karanganyar.  Key word : M. elegans, dispersion, Segara Anakan Lagoon
Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Demak Widiyanto, Arif; Saputra, Suradi Wijaya; Purwanti, Frida
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan ekosistem penting di pesisir, memiliki potensi sumberdaya alam yang besar, dan harus dijaga kelestariannya. Masyarakat sendiri kurang menyadari betapa pentingnya nilai ekonomi ekosistem tersebut. Penelitan dilakukan pada bulan Januari-Februari 2012 bertujuan untuk mengetahui  pemanfaatan ekosistem mangrove dan nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Desa Bedono, Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Pengumpulan data melalui wawancara terhadap 94 orang responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil valuasi ekonomi ekosistem mangrove didapat manfaat langsung sebesar Rp 169.797.000,00 per tahun (8,5%) didapat dari pemanfaatan kayu bakar dan dari sektor perikanan. Manfaat tidak langsung sebesar Rp 1.827.985.770,00 per tahun (89,5%) didapat dari nilai sebagai daerah asuhan, mencari makan, dan daerah pemijahan serta manfaat sebagai penahan abrasi serta pelindung tambak. Manfaat pilihan sebesar Rp 39.223.125,00 per tahun (2%) didapat dari fungsi ekologis. Nilai ekonomi total ekosistem mangrove di Kelurahan Bedono, Demak adalah sebesar Rp 2.037.005.895,00 per tahun.
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI UDANG MANTIS (Oratosquilla oratoria De Haan, 1844) DI PERAIRAN CILACAP, JAWA TENGAH Widyaningtiwi, Winda Ari; Djuwito, -; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Cilacap memiliki potensi perikanan yang tinggi dan memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Salah satu sumberdaya perikanan yang ada yaitu sumberdaya udang Mantis (Oratosquilla oratoria). Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis udang Mantis yang tertangkap di perairan pantai Cilacap, beberapa aspek biologi udang Mantis (O. oratoria) di perairan pantai Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lengkong, TPI Kemiren,  TPI Tegal Katilayu dan TPI Menganti Kisik di Kabupaten Cilacap pada bulan Oktober – Desember 2012. Hasil penelitian didapatkan dua jenis udang Mantis yaitu O. oratoria dan Oratosquillina gravieri. Pola pertumbuhan udang Mantis (O. oratoria) jantan dan betina bersifat allometrik negatif. Nilai faktor kondisi (Kn) pada udang Mantis jantan 1,05 dan betina 1,09. Ukuran rata-rata tertangkap (Lc50%) udang Mantis selama penelitian yaitu 17,8 mm dengan L∞ = 37,05 mm, yang berarti (Lc50%) lebih kecil dari ½  L∞, menunjukkan bahwa ukuran udang Mantis dalam keadaan belum layak tangkap. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) didominasi oleh TKG 0. Udang  Mantis pertama kali matang gonad (Lm50%) pada ukuran 19 mm. Nisbah kelamin udang Mantis O. oratoria adalah 1:1,28.
Efektifitas Fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Pasir Dalam Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Di Kabupaten Kebumen Wardani, Muhamad Sutri; Ghofar, Abdul; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Perikanan merupakan pusat pengembangan ekonomi yang mempunyai tugas pokok untuk menunjang peningkatan usaha di bidang perikanan. Untuk memacu perkembangan dan pertumbuhan usaha perikanan serta peningkatan taraf hidup nelayan, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kabupaten Kebumen mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi Pelabuhan Perikanan dilihat dari potensi sumberdaya perikanan yang besar. Kabupaten Kebumen mempunyai wilayah penangkapan yang cukup luas, adanya sumber daya perikanan laut yang memungkinkan dieksploitasi oleh armada perikanan yang cukup besar dan jumlah nelayan yang cukup banyak, adanya industri pengolahan ikan dan kegiatan pemasaran, serta dukungan yang besar dari masyarakat nelayan Kebumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPUE (Catch per Unit Effort) selama sepuluh tahun di Kabupaten Kebumen mengalami fluktuasi, nilai cpue alat tangkap pelagis tertinggi  131,62 kg/trip tahun 2002 dan terendah 20,95 kg/trip pada tahun 2008 sedangkan nilai cpue alat tangkap demersal tertinggi  16,17 kg/trip tahun 2007 dan terendah 0,45 kg/trip pada tahun 2004. Kondisi fasilitas-fasilitas di PPI saat ini sebagian rusak dan kurangnya perawatan. Persepsi nelayan Pasir  terhadap efektifitas pengembangan fasilitas PPI Pasir dalam kaitan dengan pengelolaan sumberdaya perikanan didominasi kategori cukup baik 73,15%. Kondisi fasilitas di PPI Pasir dalam kategori kurang baik 91,3% pada fasilitas dasar, cukup baik 65,22% pada fasilitas fungsional dan kurang baik 54,35% pada fasilitas penunjang.
Valuasi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Ekosistem Terumbu Karang Pada Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta Subekti, Julianto; Saputra, Suradi Wijaya; Triarso, Imam
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di laut yang mempunyai banyak manfaat. Kegiatan utama pemanfaatan dalam kawasan TNKpS yang mendominasi adalah kegiatan perikanan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2011 di yang berada dalam kawasan SPTN 1 – SPTN 3 Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ekosistem terumbu karang di kawasan TNKpS dan nilai ekonomi total manfaat ekonomi terumbu karang di TNKpS. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei sedangkan untuk pengambilan contoh yang digunakan adalah metode purposive sampling. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 71 orang, yaitu 33 orang nelayan, 12 orang pembudidaya, 4 orang penangkapan ikan hias, 15 orang masyarakat sekitar kawasan dan 10 orang pihak Taman Nasional Kepulauan Seribu. Nilai ekonomi total (Total Economic Value) manfaat ekosistem terumbu karang di TNKpS seluas 98.176 ha adalah sebesar Rp. 20.241.981.976 per tahun dengan rincian manfaat langsung Rp. 12.718.678.584 (69,24%), manfaat tidak langsung Rp. 2.319.596.989 (11,46%), dan manfaat pilihan Rp. 1.451.321.082 (7,17%).
ANALISIS HASIL TANGKAPAN, PRODUKTIVITAS, DAN KELAYAKAN USAHA PERIKANAN RAWAI DASAR DI PPI BAJOMULYO I KABUPATEN PATI Kisworo, Rian; Saputra, Suradi Wijaya; Ghofar, Abdul
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rawai dasar merupakan alat tangkap dengan target penangkapan ikan - ikan demersal. Rawai dasar banyak dipergunakan nelayan  di Kabupaten Pati, khususnya nelayan di PPI Bajomulyo I Juwana. Makin bertambahnya jumlah kapal dengan alat tangkap rawai dasar setiap tahunnya akan mempengaruhi kelestarian sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil tangkapan rawai dasar (komposisi, produksi, dan nilai produksi), nilai hook rate dan produktivitas alat tangkap rawai dasar, dan kelayakan usaha (keuntungan, revenue cost ratio, payback period) rawai dasar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2012. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan terdiri dari data primer yaitu jenis ikan, produksi dan nilai produksi satu trip, ukuran kapal, jumlah ikan tertangkap, jumlah pancing, modal usaha, biaya operasional, dan pendapatan yang didapatkan. Data sekunder terdiri dari jumlah trip selama satu tahun, jumlah ABK selama satu tahun, volume produksi dan nilai produksi selama satu tahun. Hasil penelitian menunjukkan komposisi hasil tangkapan dari 48 kapal sampel didominasi oleh ikan Remang (Congresox talabon) dengan presentase sebesar 61,9 %. Nilai hook rate  termasuk dalam kategori kurang baik. Nilai hook rate berkisar antara 0,85 - 2,89 , dengan rata - rata sebesar 1,98. Semakin besar ukuran kapal, nilai produktivitas per tonnage yang didapatkan semakin kecil. Sedangkan semakin besar ukuran kapal semakin tinggi nilai produktivitas per ABK dan produktivitas per trip. Hasil perhitungan kelayakan usaha didapatkan nilai keuntungan kapal ukuran 30 - 39 GT lebih tinggi dibanding dengan ukuran 20 - 29 dan 40 - 49 GT. Nilai R/C kapal rawai dasar > 1 atau usaha layak dilakukan. Pengembalian modal atau payback period kapal rawai dasar dalam kategori pengembalian sedang yaitu berkisar 3,23 - 4,16 tahun.
PERTUMBUHAN DAN LAJU MORTALITAS LOBSTER BATU HIJAU (Panulirus homarus) DI PERAIRAN CILACAP JAWA TENGAH Bakhtiar, Nurul Mukhlish; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lobster merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya intensitas penangkapan yang tidak terkendali menyebabkan ukuran rata - rata lobster yang tertangkap semakin kecil dan nilai ekonomisnya semakin rendah. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk memberikan beberapa informasi mengenai aspek biologi lobster. Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui pertumbuhan, laju mortalitas, dan pola rekrutmen lobster. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan September sampai Bulan Januari di Perairan Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan data simple random sampling. Lobster yang didaratkan di TPI Menganti dan Sentolokawat diambil seluruh hasil tangkapan kemudian dilakukan identifikasi, pengukuran panjang, dan penimbangan berat. Data diambil setiap satu bulan sekali selama lima bulan. Data dianalisis ukuran pertama kali tertangkap, faktor kondisi, nisbah kelamin, hubungan panjang-berat, pendugaan parameter pertumbuhan, laju mortalitas, dan pola rekrutmen. Didapatkan hasil ukuran pertama kali tertangkap (L50%=43,5mm) kurang dari setengah panjang asimtotik (½L∞=55,5mm). Hubungan panjang-berat lobster jantan yaitu W = 0,00293 L2,71 dan lobster betina W = 0,00196 L2,83. Faktor kondisi pada lobster jantan (1,02) dan betina (1,01) mempunyai tingkat kemontokan yang sama. Nisbah kelamin yang didapatkan antara lobster jantan dibanding lobster betina yaitu 1,774 : 1. Hasil uji chi square antara jantan dan betina didapatkan berbeda nyata sehingga dapat dinyatakan tidak seimbang. Persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy lobster jantan Lt =110(1-e-0,31(t+0,37)) dan lobster betina Lt=94,5(1-e-0,26(t+0,47)), sehingga dapat dinyatakan pertumbuhan lobster jantan lebih cepat daripada lobster betina. Mortalitas total (Z) didapatkan sebesar 1,6 per tahun, mortalitas alaminya (M) sebesar 0,69 per tahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar 0,91 per tahun. Tingkat eksploitasi (E) didapatkan sebesar 0,57 per tahun sehingga dapat dikategorikan termasuk dalam keadaan penangkapan berlebih. Pola penambahan baru lobster di Perairan Cilacap ini memiliki dua puncak yaitu pada bulan Juni dan Oktober. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penangkapan lobster P. homarus sudah dalam keadaan growth overfishing yang dikhawatirkan akan mengarah kepada recruitment overfishing.
KERAGAMAN JENIS DAN BEBERAPA ASPEK BIOLOGI UDANG Metapenaeus DI PERAIRAN CILACAP, JAWA TENGAH Rizkiyana, Wahyu; Saputra, Suradi Wijaya; Solichin, Anhar
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang Metapenaeus di Kabupaten Cilacap produksinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini merupakan indikasi dari tingkat pemanfaatan udang Metapenaeus yang sudah sangat intensif. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan adanya informasi tentang keragaman jenis dan beberapa aspek biologi udang Metapenaeus di perairan Cilacap. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keragaman jenis, aspek biologis, dan konsep pengelolaan udang Metapenaeus. Hasil penelitian tersebut akan dijadikan acuan dalam penyusunan konsep pengelolaan udang Metapenaeus yang berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah metode survei. Tempat pengambilan sampel yaitu TPI Lengkong, TPI Kemiren, TPI Menganti Kisik, dan TPI Tegal Katilayu. Sampel udang diambil 10% secara acak dari total hasil tangkapan tiap perahu. Pengambilan sampel empat kali dari bulan September-Desember 2012. Data primer yang dikumpulkan yaitu jenis udang, panjang total dan karapas, berat total, jenis kelamin, TKG, dan mesh size. Data sekunder meliputi jumlah produksi udang Metapenaeus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 3 spesies yang ditemukan yaitu Metapenaeus affinis, Metapenaeus dobsoni, dan Metapenaeus ensis. Jumlah udang betina lebih banyak daripada jantan. Nilai L50%  ketiganya cukup besar yaitu udang M. affinis 46,5mm, M. dobsoni 40,5mm, M. ensis 49,5mm. Sifat pertumbuhannya allometrik negative, dengan persamaan untuk udang M. affinis betina W=0,0122L1,8225, jantan W=0,0423L1,4684, M. dobsoni betina W=0,0159L1,5693, jantan W=0,0705L1,1512, M. ensis betina W=0,0015L2,3973, jantan W=0,0004L2,7434. Nilai faktor kondisi ketiga jenis udang tersebut memiliki tingkat kemontokan yang sama. Sebagian besar udang Metapenaeus  yang  tertangkap belum matang  gonad, dan nilai  Lm50%  udang  M. affinis 51,0mm, M. dobsoni 46,5mm, M. ensis 58,5mm.
Analisis Panjang-Berat dan Faktor Kondisi pada Udang Rebon (Acetes japonicus) di Perairan Cilacap, Jawa Tengah Akbar, Pratik Primas; Solichin, Anhar; Saputra, Suradi Wijaya
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Udang Rebon merupakan jenis udang berukuran kecil yang hidup diperairan pantai yang dangkal dan berlumpur serta merupakan jenis udang yang memiliki sifat fototaksis positif. Fototaksis positif adalah tingkah laku udang yang tertarik untuk mendekati sumber cahaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengambilan sampel atau data menggunakan metode random sampling. Data yang digunakan adalah data panjang total (mm) dan berat (gram) dari udang Rebon serta ukuran mata jaring (mesh size) arad sebagai alat tangkapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat pertumbuhan dari udang Rebon adalah allometrik negatif, bentuk tubuhnya kurus, dan jaring arad yang digunakan untuk menangkap udang Rebon tergolong tidak selektif. Sifat pertumbuhan allometrik negatif memiliki arti bahwa pertambahan panjang udang Rebon lebih cepat dari pertambahan beratnya. Nilai ukuran pertama kali udang Rebon tertangkap (L50%) adalah 24,6 mm, nilai L infinite (L~) sebesar 33,89 mm, Faktor Seleksi (FS) sebesar 2,05 dan mesh size jaring arad 0,5 inchi. Ukuran udang Rebon layak tangkap sebesar 16,95 mm.