p-Index From 2014 - 2019
8.025
P-Index
Articles

PENGARUH PEMBERIAN METANOL DAN ETANOL TERHADAP TINGKAT KERUSAKAN SEL HATI TIKUS WISTAR Nabila, Norma; Santoso, Santoso
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Metanol biasa digunakan sebagai pelarut organik, merupakan jenis alkohol yang mempunyai struktur paling sederhana, tetapi sangat toksik pada manusia. Keracunan metanol mengakibatkan asidosis metabolik, komplikasi neurologis bahkan kematian. Metabolisme metanol dan etanol sebagian besar terjadi di hepar dan memiliki potensi merusak sel hepar. Banyak penelitian yang meneliti tentang intoksikasi metanol dan etanol pada sel hepar tetapi penelitian mengenai pengaruh kerusakan secara histopatologi belum pernah ditemukan.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian metanol dan etanol terhadap tingkat kerusakan sel hepar secara histopatologi pada tikus Wistar.Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan post test only controlled group design. Sampel berupa 20 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Perlakuan diberikan melalui sonde dengan dosis metanol 6 ml/kg berat badan per oral dan dosis etanol 8 gr/kg berat badan per oral. K tidak diberikan metanol ataupun etanol, P1 diberi metanol, P2 diberi etanol, dan P3 diberi metanol dan etanol. Perlakuan diberikan selama 14 hari. Setelah pemberian perlakuan, tikus didekapitasi, diautopsi untuk pengambilan otak, dan dibuat preparat histopatologis.Hasil : Hasil penelitian dianalisa menggunakan uji One-way Annova didapatkan p=0,000. Dilanjutkan dengan uji Post Hoc, diperoleh bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara K-P1(p=0,002), K-P2(p=0,004), K-P3(p=0,000), P1-P3(p=0,029), P2-P3 (p=0,021).Simpulan : Metanol dan etanol efek merusak sel hepar yang hampir sama tetapi tidak bermakna. Namun, bila diberikan bersamaan, metanol dan etanol memiliki efek sinergistik, dimana kedua senyawa meningkatkan kerusakan sel hepar secara bermakna bila dibandingkan dengan kelompok perlakuan lain.Kata kunci : metanol, etanol, tikus Wistar
Analisis Kelengkapan Fasilitas Unit gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang Nurfadli, Nurfadli; Santoso, Santoso; Wijayahadi, Noor
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang : Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan agar dapat mewujudkan derajat kesehatan setinggitingginya. Sebuah rumah sakit harus mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan yang memuaskan agar dalam pelaksanaannya tidak terjadi konflik antara pasien dan tenaga kesehatan. Tidak terkecuali pada bidang kegawatdaruratan medis dimana fasilitas kesehatan yang ada harus memenuhi standar mutu, keamanan dan kelayakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.Tujuan : Menganalisis kelengkapan fasilitas pelayanan kesehatan dan alat-alat kesehatan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi SemarangMetode : Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan menggunakan metode checklist surveilans. Sampel adalah seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan alat-alat kesehatan serta obat-obatan termasuk di dalamnya dilakukanpendataan secara langsung lalu diolah menggunakan statistik deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram.Hasil : Pada penelitian terhadap fasilitas pelayanan kesehatan didapatkan hasil 92,5% fasilitas pelayanan sudah tersedia di Unit Gawat Darurat RSUP Dr. Kariadi Semarang sedangkan 7,5% masih belum tersedia di UGD tersebut. Pada penelitian terhadap seluruh peralatan di UGD RSUP Dr. Kariadi Semarang didapatkan hasil sebanyak 82 buah atau 81,2% peralatan telah memenuhi syarat lengkap dan layak sedangkan terdapat 2 buah atau 2% peralatan yang lengkap tetapi tidak layak serta terdapat 17 buah atau 16,8% peralatan yang masih belum lengkap. Pada penelitan terhadap obat-obatan di UGD RSUP Dr. Kariadi Semarang didapatkan hasil sebanyak 44 sampel (97,8%) telah memenuhi syarat lengkap dan layak sedangkan terdapat 1 sampel (2,2%) yang masih belum lengkap.Kesimpulan : Fasilitas pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang sudah sepenuhnya sesuai dengan standar pelayanan unit gawat darurat tetapi terdapat beberapa fasilitas masih perlu dilengkapi dan dilakukan perbaikan sedangkan obat-obatan yang tersedia sudah memenuhi syarat kelengkapan dan kelayakan.
UJI TOKSISITAS AKUT MONOCROTOPHOS DOSIS BERTINGKAT PER ORAL DILIHAT DARI GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR MENCIT BALB/C Setyowati, Wulan; Santoso, Santoso
MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground : Monocrotophos is a kind of organophosphate pestiside that isworking with inhibite cholinesterase enzym, so that acetilcholin can nott behydrolyzed. That chemical substance come in to the body by mucosa, respirationsystem or disgestive system. Monocrotophos which is come in to the body orallywill have first metabolism in the liver7 The liver that is infected will have damage(degeneration). The aim of this study is to know Balb/c hispatology description ofgiving manatocrophos orally by level.Methode : This experimental study used post test only conrol group design.Sample of the study are 20 Balb/c mice randomly devided into four group, 1control group (K) dan 3 treatment group (P1, P2 dan P3) which is givenmonocrotophos 1/10x dosis letal, dosis letal dan 10x dosis letal by sonde.Observation was done 7 days. At the 7th day termination and liver taking wasdone. Then the observation of hispatology description was done .Result : The highest degenaration of cell of liver was in P3. The Kruskal Wallistest showed significant difference (p=0,000). The Mann Whitney test showedsignificant difference to K-P1(p=0,008), K-P2(p=0,008), K-P3(p=0,008), P1-P2(p=0,009), P1-P3(p=0,009), P2-P3(0,009).Conclusion : Giving monocrotophos by level orally to Balb/c mouse causedamage to the cell of liver as parenchymatous degeneration, hydropicdegenaration and necrosis.Keyword : Monocrotophos, the cell of liver degenaration
HUBUNGAN PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU (PSP) MASYARAKAT TERHADAP VEKTOR DBD DI KOTA PALEMBANG PROVINSI SUMATERA SELATAN Santoso, Santoso; Budiyanto, Anif
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 7, No 2 Agt (2008)
Publisher : Jurnal Ekologi Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Knowledge, Attitude and Practice Relationship of The Community Towards Dengue Hemorraghic Fever (DHF) in Palembang City South Sumatra Province.Knowledge, Attitude and Practice (KAP) of the community regarding DHF have been conducted in Palembang City on May to November 2005. The aim of this research is to know the level of society in KAP regarding DHF. This sampel were 606 houses and 606 respondens by simple random sampling method. Results are known the larva index of mosquito Ae. aegyti: larva index=55,3%; CI=20,8%; HI=44,7%; BI=71,3; Df=5,67. The higher economic level will result in the higher knowledge about DHF. There were significant difference between knowledge and attitude (p=0,000; OR=3,097); knowledge and practice (p=0,000 OR=2,25); attitude and practice (p=0,005 OR=1,62).Keywords: DHF, Aedes aegypti, larva index, KAP
Artesdiaquine and Primaquine combined treatment is more effective for Malaria vivax Santoso, Santoso
Health Science Journal of Indonesia Vol 1, No 1 Des (2010)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang: Pengobatan malaria di Kabupaten OKU sejak tahun 2009 telah menggunakan artesdiakuin untuk malaria vivak dan malaria falsiparum. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan gejala klinis awal penderita malaria vivak dan malaria falsiparum, efektivitas dan efek samping pemberian artesdiakuin. Metode: Penelitian merupakan kuasi eksperimen menggunakan metode pre-post test. Sampling dilakukan secara consecutive terhadap pasien Puskesmas Pengaringan, OKU selama bulan Februari sampai Juni 2010. Diagnosis malaria didasarkan adanya plasmodium pada darah pasien secara mikroskopis. Seluruh pasien yang didiagnosis malaria diterapi artesdiakuin pada H0 sampai H2 sedangkan pemberian primakuin hanya dilakukan pada H0. Pengamatan dilakukan i selama 28 hari yaitu pada H0 sampai H3, H7, H14, H21 dan H28. Pengamatan efek samping dilakukan pada H0 sampai H3 sedangkan penilaian efikasi obat dilakukan setelah H28. Hasil: Diperoleh jumlah penderita malaria falsiparum sebanyak 23 orang dan malaria vivak sebanyak 12 orang. Gejala klinis awal sebelum terapi ditemukan pada 91,3%  pada subjek dengan malaria falciparum berupa menggigil, anoreksia, sakit kepala, pusing dan nyeri otot. Gejala tersebut terjadi pada 50% subjek dengan malari vivak. Obat anti-malaria artesdiakuin memiliki efikasi yang baik (100%) terhadap penderita malaria vivax namun pada penderita malaria falsiparum hanya diperoleh 87%. Efek samping artesdiakuin ditemukan berupa gatal, pusing, mual, muntah dan nyeri lambung. Efek samping obat lebih berat pada penderita malaria falsiparum dibandingkan malaria vivak. Kesimpulan: Penderita malaria vivax lebih banyak yang tidak mengalami gejala klinis awal. Artesdiakuin lebih efektif pada penderita malaria vivak dibandingkan penderita malaria falsiparum. Efek samping yang ditemukan berupa menggigil, anoreksia, sakit kepala, pusing dan nyeri otot. (Health Science Indones 2010; 1: 26 -32) Kata kunci: malaria, artesdiakuin, efektivitas, efek samping   Abstract Background: Malaria treatment in Souh Sumatra has been using artesdiaquine since 2009 for falciparum and vivax malaria. This study is aimed to examine the comparison of the effectiveness of anti-malaria drugs artesdiaquine and its side effects between falciparum malaria and vivax malaria treatment. Methods: This consecutive sampling quasi experimental research was conducted during February to June 2010 in a district of South Sumatra (Indonesia). Diagnosis based on peripheral blood smear plasmodium finding. All patients positive for Plasmodium were observed for 28 days: 0-3 (D0) to 3th (D3), 7th (D7), 14th (D14), 21th (D21) and 28th day (D28). Therapy of artesdiaquine on D0 to D2, while primaquine was only gives on D0. The observations of side effects were done on D0 to D3. The assessments of drug efficacy were immediately after D28. Results: Twenty three falciparum malaria patients and and twelve  vivax malaria patients were included as study subjects Initial clinical symptoms of chills, headache, dizziness, anorexia, and muscle aches were found in falciparum malaria subjects and vivax malaria subjects were 91.3% and 50% respectively. The results showed anti-malaria drugs artesdiaquine had 100% efficacy of vivax malaria patients however for falciparum malaria acquired was only 87%. Artesdiaquine side effects consisted of itching, dizziness, nausea, vomiting, and stomach pain, were more prevalent in patients with falciparum malaria than vivax malaria. Conclusion: The number of malaria vivax patients less clinical symptoms occurred than falciparum malaria. The effectiveness of artesdiaquine anti malaria drugs combination for vivax malaria was better than falciparum malaria. (Health Science Indones 2010; 1: 26 - 32)
STUDI ENDEMISITAS FILARIASIS DI WILAYAH KECAMATAN PEMAYUNG, KABUPATEN BATANGHARI PASCA PENGOBATAN MASSAL TAHAP III Yahya, Yahya; Santoso, Santoso
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 41, No 1 Mar (2013)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Filariasis endemicity research in District Pemayung, Batanghari Regency Post-Mass Drug Administration Phase III has been implemented. The study aims to determine the prevalence of filariasis, microfilaria worm species, the periodicity, reservoir determination and evaluate the results of mass treatment activities that have been 3 times. The number of people who checked their blood preparation for the examination as many as 538. Blood sampling for the periodicity of the parasite examinations performed on 4 persons, each carried out blood sampling every 2 hours for 24 hours. People microfilariae with microfilariae positive number as many as 8 people to rate microfilariae (Mf rate) 1.5%.. The highest parasite density of 17.493 per 20 cu mm of blood occurred at 1:00 am and decresing to 0,415 per 20 cu mm of blood at 07.00 am. The parasite was found in sub periodic nokturna 3 subjects and 1 subject was found only be found in the morning and afternoon. The results of examination of 12 cats and two monkeys were found two positive cats with Brugia malayi microfilariae. Cats that were examined and the positive was one house cat and one stray cat). The conclusion from this study showed that filariasis was still endemic with periodicity of microfilariae was sub periodic nokturna and was zoonotic. Recommendations of this study was that mass treatment  was done by giving the drug directly and took medicine in front of the officers, examination and treatment of microfilariae positive cats. Key words: microfilariae rate, periodicity, Brugia malayi, reservoir. Abstrak  Submit : 28-03-2012  Review : 04-04-2012 Review : 11-06-2012 revisi : 29–08-2012Penelitian untuk menentukan tingkat endemisitas filariasis di wilayah Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari Pasca Pengobatan Massal Tahap III telah dilaksanakan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui prevalensi filariasis, mengetahui spesies cacing mikrofilaria, periodisitas mikrofilaria dan pemeriksaan reservoir serta mengevaluasi hasil kegiatan pengobatan massal yang sudah 3 kali dilakukan. Jumlah penduduk yang diperiksa sediaan darahnya untuk pemeriksaan mikrofilaria sebanyak 538 orang. Pengambilan darah untuk pemeriksaan periodisitas parasit dilakukan terhadap empat orang, masing-masing dilakukan pengambilan darah setiap 2 jam sekali selama 24 jam. Jumlah positif mikrofilaria sebanyak 8 orang dengan Mikrofilaria rate (Mf rate) 1,5%. Kepadatan mikrofilaria tertinggi 17,493 per 20 cu mm darah terjadi pada pukul 01.00 WIB dan menurun menjadi 0,415 pada pukul 07.00 WIB.Mikrofilaria bersifat sub periodik nokturna ditemukan pada 3 subyek dan 1 orang subyek hanya ditemukan ditemukan pada pagi dan sore hari. Hasil pemeriksaan terhadap 12 ekor kucing dan 2 kera ditemukan adanya dua ekor kucing (satu ekor kucing rumah dan satu ekor kucing yang tidak mempunyai pemilik/liar ) yang positif mikrofilaria dengan spesies Brugia malayi). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa filariasis masih endemis dengan periodisitas mikrofilaria bersifat sub periodik nokturna dan merupakan zoonotik. Rekomendasi hasil penelitian ini yaitu agar pengobatan massal dilakukan dengan memberikan obat secara langsung dan meminum obat di depan petugas, pemeriksaan  serta pengobatan terhadap kucing yang positif mikrofilaria. Kata kunci: Mikrofilaria rate, periodisitas, Brugia malayi, reservoir.
Hubungan Kondisi Lingkungan dengan Kasus Filariasis di Masyarakat (Analisis Lanjut Hasil Riskesdas 2007) Santoso, Santoso
Aspirator Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Kementerian Kesehatan RI, Badan Litbang Kesehatan, Loka Litbang P2B2 Ciamis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstracts. Filariasis (elephantiasis disease) in Indonesia is still a health problems, there are still areas with the patient chronic and acute. A total of 1553 villages in 647 health centers scattered in 231 districts in 26 provinces as the location of the endemic, with a number of chronic cases of 6233 people. Elimination program disease elephantiasis has been undertaken by the government, but until today there are still many areas with the number of microfilariae (Mf rate) is still high (> 1%). One of the governments efforts in this regard Litbangkes RI in collecting basic data, including data filariasis is with the activities of the Basic Health Research (Riskesdas) conducted simultaneously across Indonesia. Based on the results of data collection Riskesdas then further analysis is to look at the environmental conditions and demographic status associated with the incidence of filariasis. Based on the results of analysis show that there were a statistically significant relationship between the type of waste water reservoirs; types of sewage systems and types of livestock kept, the classification of villages with the incidence of filariasis.Keywords: riskesdas, filariasis, environmental, demographic status
Faktor Risiko Kejadian Penyakit Filariasis Pada Masyarakat di Indonesia Santoso, Santoso; Yenni, Aprioza; Mayasari, Rika
Buletin Spirakel Edisi 2010
Publisher : Buletin Spirakel

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Filariasis (elephantiasis) still become a problem of health in Indonesia. There are area with acute and chronic patient. According to the report from result survey in the year 2000, there are 1.553 village in working area of 647 care health center spread in 231 Regency of 26 Province as location which endemic, with amount of chronic case 6.233 people. Result  of laboratory survey, through inspection of finger blood, mean of Microfilaria rate (Mf Rate) 3,1%, meaning about 6 million people had been infected by filariasis and about 100 million people have high risk to be contagious because widespread of vector mosquito. Elimination  Program of filariasis have been conducted by government, but we can still found area wfth high number of Mf Rate (> 1%). Other problems have been found is lack of available data of filiariasis so it is difficult to conduct  prevention of elephantiasis. National Institute of Health Research and Development have effort to collect  basic data of filariasis by conduct activity Base Health Research (Riskesdas) in all over Indonesia. According to the result from data collecting of Riskesdas hence we can conduct analysis to see a problems of filariasis in Indonesia. Result of analysis found that morbidities rate of filariasis are 0,1% (210 case). Variables that have relation significant statistics to the occurrence of filariasis are access to health service, availability transportation to health service, type of place of relocation irrigate waste and care animal, and also village classification.   Key word : Riskesdas, filariasis, risk factor, access health service.
STUDI INDEKS LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI DAN HUBUNGANNYA DENGAN PSP MASYARAKAT TENTANG PENYAKIT DBD DI KOTA PALEMBANG SUMATERA SELATAN TAHUN 2005 Budiyanto, Anif; Santoso, Santoso; Purnama, Dian; Pahlepi, R. Irpan
Buletin Loka Litbang P2B2 Baturaja Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Buletin Loka Litbang P2B2 Baturaja

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Palembang merupakan kota yang memberikan kontribusi terbesar bagi besarnya jumlah kasus DBD di Sumatera Selatan. Dari 14 Kecamatan yang ada di Kota Palembang, Kecamatan llir timur I merupakan Kecamatan dengan Kasus DBD terbesar. Pada Tahun 2003 kasus DBD di kecamatan llir Timur I mencapai 117 kasus per 100.000 penduduk dengan CFR 1%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui indek larva nyamuk Ae..aegypti di Kecamatan llir Timur I Palembang tentang penyakit DBD. Jenis penelitian ini adalah observasional (survey), dengan menggunakan studi crossectional. Data indek larva didapatkan dengan melakukan survey jentik menggunakan metode single larva, sedangkan data PSP di dapatkan dengan metode wawancara. Dari hasil penelitian didapatkan tidak ada hubungan antara PSP responden dengan keberadaan jentik di rumah responden. Kelurahan dengan tingkat ekonomi yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan indeks larva. 14% sumur diketahui terdapat jentik Ae.aegypti.   Kata krmci : lndeks Larva, container, PSP
FAKTOR RISIKO FILARIASIS DI KABUPATEN MUARO JAMBI Santoso, Santoso; Sitorus, Hotnida; Oktarina, Reni
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 41, No 3 Sep (2013)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.994 KB)

Abstract

Abstract Jambi Province is one of the endemic areas of filariasis. Chronic filariasis cases found in almost all the districts. The number of reported chronic filariasis cases in Jambi in 2011 as many as 343 cases. The cases spread over 9 of 11 districts. The chronic cases mostly were found in Muaro Jambi (149 cases) which spread in almost all sub-districts, in 4 sub-districts in 7 public health center. Number of cases found in the Muaro Kumpeh public health center were 45 cases. Mass treatment had been implemented since 2003, but new cases still could be found. Base on the situation, the research was aimed to identify the risk factors for filariasis transmission. The study design was cross-sectional through interviews with 412 respondents including 128 cases and 248 healthly. The results shows that the determinant of the risk factors in the incidence of filariasis in Muaro Jambi Regency was water bodies around the house, the travel time to health facilities, mosquito bite prevention behaviors at home, length of stay, education level and gender. The probability of a person with all the risk factors of 95.9% for filariasis infection with OR 23.5 times. Keywords: filariasis, risk factors, Muaro Jambi. Abstrak  Submit : 03-04-2013  Review : 02-05-2013 Review : 10-05-2013 revisi : 22–05-2013Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah endemis filariasis. Hampir seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi terdapat kasus kronis filariasis. Jumlah kasus kronis filariasis yang dilaporkan di Provinsi Jambi sampai dengan tahun 2011 sebanyak 343 kasus. Kasus tersebut tersebar di 9 dari Kabupaten/Kota . Jumlah kasus filariasis terbanyak di Kabupaten Muaro Jambi sebesar 149 kasus. Filariasis di Kabupaten Muaro Jambi menyebar hampir di seluruh kecamatan. Jumlah kasus terbanyak ditemukan di wilayah Puskesmas Muaro Kumpeh sebanyak 45 kasus. Kegiatan pengobatan massal telah dilakukan sejak tahun 2003, namun hingga saat ini masih ditemukan adanya kasus baru. Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko filariasis. Desain penelitian adalah cross sectional dengan melakukan wawancara terhadap 412 orang responden yang meliputi 128 kasus dan 248 bukan kasus. Analisis data dilakukan secara multivariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa determinan faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Muaro Jambi adalah adanya genangan air di sekitar rumah, waktu tempuh ke sarana kesehatan, perilaku pencegahan gigitan nyamuk di dalam rumah, lama tinggal, tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Probabilitas orang dengan seluruh faktor risiko tersebut sebesar 95.9% untuk terinfeksi filariasis dengan OR 23,5 kali.Kata kunci: Filariasis, Faktor risiko, Muaro Jambi
Co-Authors A. Nasution, A. AD Lubis, AD Addo Wibisono, Addo Adelia Cynthia Maharani Adi Prayitno Akhmad Ismail Alexander Beny S. Amri, Imti Tsalil AMROZI AMROZI Anggorowati Anggorowati, Anggorowati Anif Budiyanto Aprioza Yenni Asdani Soehaimi, Asdani Aulia Achmad Yudha Pratama B. Nuryanto, B. Bambang Purwantara Budiyanti Wiboworini Chandra Halim David Try Liputra, David Try Deka Setiawan, Deka Deriansyah Eka Putra Dewi Lestari Dian Purnama Dwi Ngestiningsih Edris Zamroni, Edris Fauzi Rahman Fitriana Fitriana Habi, Maimuna L Hamidin, Dini Hamim Tohari Hardjomidjojo, Hatrisari Haumahu, Johanis P herdis herdis Herman Mulyana Hermawati Thamrin Hidayati, Tri Farus Himmatul Ulya Hotida Sitorus, Hotida Hotnida Sitorus Intarniati Nur Rohmah inzana, nur IWA Darmawan, IWA Jauhari, Muhammad Thonthowi John Haluan Katarina Sri Rahayu, Katarina Sri Kiftiyah, Mariatul Kusmiyati Tjahjono DK, Kusmiyati Tjahjono Lasbudi P Ambarita Lusiana Batubara, Lusiana M Ridla M Surachman Mahyaningtyas, Fransisca Pradnya Martyani, Eka Mastuki Mastuki Maya Arisanti Milana Salim Mitra Mitra Moekarto Moeliono, Moekarto Muhammad Syahdan, Muhammad Mujahid, Rohmad Munsyi, Munsyi Mursyid, Saadilah Muslim, Fluorina Oryza Nasution, Anggiani Noor Wijayahadi Nopriadi, Nopriadi Norma Nabila Nungki Hapsari Suryaningtyas, Nungki Hapsari Nungki Hapsari, Nungki Nurdiansyah Saputra Nurfadli Nurfadli Nurjaya Adinugroho Nurmalina, Radna Pahlepi, R. Irpan Puji Slamet, Puji R. Irpan Pahlepi Rahayu, Endang Purnawati Rahayu, Katarina Sri Ratri Rahayu, Ratri Reni Oktarina Rezha Pahlevi Rika Mayasari Rita Kartika Sari Rohayani AH, Hetty Safitri, Ajeng Sapja Anantanyu, Sapja Satriani, Ade Verientic Shofa Chasani Sipi, Surianto Siti Fatimah Subekti Yuliananda, Subekti Subiadi Subiadi Sudir Sudir, Sudir Sugeng Hari Wisudo Suhardi Marli Suhardi Suhardi Suryaningtyas, Nungki Hapsari Suryo Wibowo, Suryo Susanto, Nadya Ariella Susanto, Nadya Ariella Susianti, Evi Sutalaksana, Iftikar Z Syamsiati, Syamsiati T. Zia Ulqodry Tubagus, Yandi ULFAH RAHMAWATI, ULFAH Ungkap M. Lumbanatu, Ungkap M. Ungkap M.Lumbanbatu, Ungkap W Negara, W W Winarsih Widayanti, Yuyun Wulan Setyowati Yahya Yahya Yahya, Yahya Yamalia, Ikke Yantiningsih, Dewi Yastari Sofyan Afif Yulian Taviv Yulisman Yulisman