Mahdi Santoso
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Kombinasi Boraks dan Asam Borat sebagai Bahan Penghambat Api dan Antirayap Pada Kayu Meranti Merah Santoso, Mahdi; Hadikusumo, Sutjipto A.; Aziz, Abdul
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Woods have properties which are easy to be ignited by fire and most of them have a low natural durability. Therefore, it is required to improve the quality of wood by impregnating the fire-retardant and anti-termites possessed chemicals. The aim of this research was to investigate the effect of impregnation duration by combination of borax:boric acid ( 1:1) against the fire and termites. This study used red meranti wood (Shorea spp) with the dimension of 6 x 15 x 500 cm. The pressure times were 1, 2, and 3 hours as the concentration of borax:boric acid was 7% in 5 replications. Empty cell method was applied as preservation method by 12 kg/cm2 of pressure. Testing the fire resistance referred ASTM E 69-02 B and anti-termite evaluation was conducted by no-choice feeding method. Observed parameters were absorption, actual retention, burn intensity, maximum combustion temperature, glowing time, termite mortality, mass loss, the degree of damage and visual observation. The results showed that the combination of borax: boric acid (1: 1) could improve the quality of red meranti samples against the fire and termite attacks. The most effective impregnation process were 2 hours of pressing time to obtain the 331 kg/ m3 of absorption; actual retention of 28.8 kg/ m3; burnt intensity of 10.9%; maximum combustion temperature of 140ºC; glowing time of 1.03 minutes, termite mortality of 100%; mass loss of 0.002%; and mild degrees of damage category. IntisariKayu mempunyai sifat yang mudah terbakar dan sebagian besar mempunyai keawetan alami yang rendah. Perbaikan kualitas kayu dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut, salah satunya dengan mengimpregnasikan bahan kimia yang bersifat menghambat api dan beracun terhadap organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah melihat kemampuan boraks:asam borat (1:1) untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering dan mengetahui proses pengawetan yang efektif. Penelitian ini menggunakan kayu meranti merah (Shorea spp) berukuran 6 x 15 x 500 cm. Waktu pengawetan adalah 1, 2, dan 3 jam serta konsentrasi bahan pengawet 7% dalam 5 ulangan. Metode pengawetan menggunakan metode sel kosong dengan tekanan 12 kg/cm2 . Pengujian ketahanan terhadap api mengacu pada ASTM E 69-02 prosedur B, pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering mengacu pada metode rayap makan tanpa pilihan. Parameter yang diamati ialah absorpsi, retensi aktual, intensitas bakar, suhu pembakaran maksimal, lama pembaraan, mortalitas rayap kayu kering, pengurangan berat contoh uji, derajat kerusakan dan kondisi fisik sampel setelah uji bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi boraks:asam borat (1:1) memiliki efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering. Proses pengawetan yang paling efektif adalah lama penekanan 2 jam dengan absorpsi 331 kg/m3 ; retensi aktual 28,8 kg/m3 ; intensitas bakar 10,9%; suhu pembakaran maksimal 140ºC; lama pembaraan 1,03 menit; mortalitas rayap kayu kering 100%; pengurangan berat contoh uji 0,002%; serta derajat kerusakan kategori ringan.Katakunci: penghambat api, anti rayap, boraks, Shorea spp, Cryptotermes cynocephalus
Uji Ekstrak Etanol Kumis Kucing (Orthosiphon sp.) sebagai Pengawet Alami Kayu Azis, Abdul; Prayitno, T.A.; Hadikusumo, Sutjipto A; Santoso, Mahdi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The utilization of plants as a natural preservative agent of wood has not much been explored although the amount and kind of plants are relatively abundant. This study aims to determine the effectiveness of the extract of kumis kucing (Orthosiphon sp.) plant at the extract concentration to solvent of 1:12 , 1:8 and 1:4 against the dry wood termites (Cryptotermes sp.). The tested parameters were termite mortality, mass loss, and degree of damage of the test samples (filter paper). Research was carried out by impregnating the ethanol extract of the leaves and twigs mixtures in the filter papers and then the papers were fed to dry-wood termites. Data were analyzed by analysis of variance. The analysis of variance showed that treatment concentration has a highly significant effect to the mortality levels of the termites. Further, at the concentration of 1:4, the extract exhibited the highest efficacy (mortality of 65 % and mass loss of 2.71 %) and the lowest levels were shown by the controls or 0 (zero) concentration (mortality of 1 % and mass loss of 37.86 %). The concentration of the extract also affected the degree of damage. The higher the concentration, the lower the degree of damage that occurred. The degree of damage due to termite attacks at the treatment from the lowest (1:12) to the highest (1:4) concentration could be classified as heavy to light. Thus, ethanol extract of the kumis kucing at concentration of 1:4 is potent for wood preservatives because it could reduce the degradation of cellulosic materials due to dry wood termites. Intisari Pemanfaatan tumbuhan belum banyak dilakukan sebagai bahan alami pengawet kayu padahal jumlah dan jenisnya cukup melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol tumbuhan kumis kucing (Orthosiphon sp.) pada konsentrasi ekstrak terhadap pelarut 1:12, 1:8 dan 1:4 terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp.), pengurangan berat dan derajat kerusakan contoh uji (kertas saring) dalam rangka aplikasinya sebagai pengawet alami kayu. Penelitian dilakukan dengan mengimpregnasi ekstrak etanol campuran daun dan ranting kumis kucing pada kertas saring lalu diumpankan pada rayap kayu kering. Data penelitian dianalisis dengan analisis varian. Analisis varian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas rayap kayu kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kumis kucing pada konsentrasi 1:4 menunjukkan efektifitas paling tinggi (mortalitas rayap kayu kering sebesar 65 % dan pengurangan berat contoh uji 2,71 %) dan terendah ditunjukkan oleh kontrol atau konsentrasi 0 (mortalitas rayap sebesar 1 % dan pengurangan berat 37,86 %). Konsentrasi ekstrak juga mempengaruhi besar derajat kerusakan. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin rendah derajat kerusakan yang terjadi. Derajat kerusakan pada perlakuan dengan konsentrasi terendah (1:12) hingga tertinggi (1:4), serangan rayapnya dapat digolongkan sebagai berat hingga ringan. Ekstrak etanol tumbuhan kumis kucing konsentrasi 1:4 berpotensi sebagai bahan alami pengawet kayu karena dapat mengurangi degradasi bahan selulosa oleh rayap kayu kering.Katakunci: Orthosiphon sp., Cryptotermes sp., ekstrak daun, anti rayap, pengawet alami.
Kombinasi Boraks dan Asam Borat sebagai Bahan Penghambat Api dan Antirayap Pada Kayu Meranti Merah Santoso, Mahdi; Hadikusumo, Sutjipto A.; Aziz, Abdul
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.22146/jik.5735

Abstract

Kayu mempunyai sifat yang mudah terbakar dan sebagian besar mempunyai keawetan alami yang rendah. Perbaikan kualitas kayu dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut, salah satunya dengan mengimpregnasikan bahan kimia yang bersifat menghambat api dan beracun terhadap organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah melihat kemampuan boraks:asam borat (1:1) untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering dan mengetahui proses pengawetan yang efektif. Penelitian ini menggunakan kayu meranti merah (Shorea spp) berukuran 6 x 15 x 500 cm. Waktu pengawetan adalah 1, 2, dan 3 jam serta konsentrasi bahan pengawet 7% dalam 5 ulangan. Metode pengawetan menggunakan metode sel kosong dengan tekanan 12 kg/cm2 . Pengujian ketahanan terhadap api mengacu pada ASTM E 69-02 prosedur B, pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering mengacu pada metode rayap makan tanpa pilihan. Parameter yang diamati ialah absorpsi, retensi aktual, intensitas bakar, suhu pembakaran maksimal, lama pembaraan, mortalitas rayap kayu kering, pengurangan berat contoh uji, derajat kerusakan dan kondisi fisik sampel setelah uji bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi boraks:asam borat (1:1) memiliki efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering. Proses pengawetan yang paling efektif adalah lama penekanan 2 jam dengan absorpsi 331 kg/m3 ; retensi aktual 28,8 kg/m3 ; intensitas bakar 10,9%; suhu pembakaran maksimal 140ºC; lama pembaraan 1,03 menit; mortalitas rayap kayu kering 100%; pengurangan berat contoh uji 0,002%; serta derajat kerusakan kategori ringan.Katakunci: penghambat api, anti rayap, boraks, Shorea spp, Cryptotermes cynocephalus Borax and Boric Acid Combination As Fire Retardant and Anti-termite Agents on Red Meranti WoodAbstractWoods have properties which are easy to be ignited by fire and most of them have a low natural durability. Therefore, it is required to improve the quality of wood by impregnating the fire-retardant and anti-termites possessed chemicals. The aim of this research was to investigate the effect of impregnation duration by combination of borax:boric acid ( 1:1) against the fire and termites. This study used red meranti wood (Shorea spp) with the dimension of 6 x 15 x 500 cm. The pressure times were 1, 2, and 3 hours as the concentration of borax:boric acid was 7% in 5 replications. Empty cell method was applied as preservation method by 12 kg/cm2 of pressure. Testing the fire resistance referred ASTM E 69-02 B and anti-termite evaluation was conducted by no-choice feeding method. Observed parameters were absorption, actual retention, burn intensity, maximum combustion temperature, glowing time, termite mortality, mass loss, the degree of damage and visual observation. The results showed that the combination of borax: boric acid (1: 1) could improve the quality of red meranti samples against the fire and termite attacks. The most effective impregnation process were 2 hours of pressing time to obtain the 331 kg/ m3 of absorption; actual retention of 28.8 kg/ m3; burnt intensity of 10.9%; maximum combustion temperature of 140ºC; glowing time of 1.03 minutes, termite mortality of 100%; mass loss of 0.002%; and mild degrees of damage category.
Uji Ekstrak Etanol Kumis Kucing (Orthosiphon sp.) sebagai Pengawet Alami Kayu Azis, Abdul; Prayitno, T.A.; Hadikusumo, Sutjipto A; Santoso, Mahdi
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.22146/jik.6137

Abstract

Pemanfaatan tumbuhan belum banyak dilakukan sebagai bahan alami pengawet kayu padahal jumlah dan jenisnya cukup melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak etanol tumbuhan kumis kucing (Orthosiphon sp.) pada konsentrasi ekstrak terhadap pelarut 1:12, 1:8 dan 1:4 terhadap mortalitas rayap kayu kering (Cryptotermes sp.), pengurangan berat dan derajat kerusakan contoh uji (kertas saring) dalam rangka aplikasinya sebagai pengawet alami kayu. Penelitian dilakukan dengan mengimpregnasi ekstrak etanol campuran daun dan ranting kumis kucing pada kertas saring lalu diumpankan pada rayap kayu kering. Data penelitian dianalisis dengan analisis varian. Analisis varian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas rayap kayu kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kumis kucing pada konsentrasi 1:4 menunjukkan efektifitas paling tinggi (mortalitas rayap kayu kering sebesar 65 % dan pengurangan berat contoh uji 2,71 %) dan terendah ditunjukkan oleh kontrol atau konsentrasi 0 (mortalitas rayap sebesar 1 % dan pengurangan berat 37,86 %). Konsentrasi ekstrak juga mempengaruhi besar derajat kerusakan. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin rendah derajat kerusakan yang terjadi. Derajat kerusakan pada perlakuan dengan konsentrasi terendah (1:12) hingga tertinggi (1:4), serangan rayapnya dapat digolongkan sebagai berat hingga ringan. Ekstrak etanol tumbuhan kumis kucing konsentrasi 1:4 berpotensi sebagai bahan alami pengawet kayu karena dapat mengurangi degradasi bahan selulosa oleh rayap kayu kering.Katakunci: Orthosiphon sp., Cryptotermes sp., ekstrak daun, anti rayap, pengawet alami. Ethanol Extracts Test of Kumis Kucing (Orthosiphon sp.) Leaves as Natural Preservative of WoodAbstractThe utilization of plants as a natural preservative agent of wood has not much been explored although the amount and kind of plants are relatively abundant. This study aims to determine the effectiveness of the extract of kumis kucing (Orthosiphon sp.) plant at the extract concentration to solvent of 1:12 , 1:8 and 1:4 against the dry wood termites (Cryptotermes sp.). The tested parameters were termite mortality, mass loss, and degree of damage of the test samples (filter paper). Research was carried out by impregnating the ethanol extract of the leaves and twigs mixtures in the filter papers and then the papers were fed to dry-wood termites. Data were analyzed by analysis of variance. The analysis of variance showed that treatment concentration has a highly significant effect to the mortality levels of the termites. Further, at the concentration of 1:4, the extract exhibited the highest efficacy (mortality of 65 % and mass loss of 2.71 %) and the lowest levels were shown by the controls or 0 (zero) concentration (mortality of 1 % and mass loss of 37.86 %). The concentration of the extract also affected the degree of damage. The higher the concentration, the lower the degree of damage that occurred. The degree of damage due to termite attacks at the treatment from the lowest (1:12) to the highest (1:4) concentration could be classified as heavy to light. Thus, ethanol extract of the kumis kucing at concentration of 1:4 is potent for wood preservatives because it could reduce the degradation of cellulosic materials due to dry wood termites.
Kualitas Papan Partikel dari Pelepah Nipah dengan Perekat Asam Sitrat dan Sukrosa Santoso, Mahdi; Widyorini, Ragil; Prayitno, Tibertus Agus; Sulistyo, Joko
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.22146/jik.16514

Abstract

Penggunaan perekat alami dan bahan baku non kayu dalam pembuatan papan partikel masih sangat terbatas. Sukrosa dan asam sitrat adalah dua bahan alami yang potensial sebagai perekat alami pengganti perekat sintetik berbasis formaldehida. Nipah (Nypa fruticans Wurmb.) merupakan bahan non kayu yang potensial dijadikan alternatif bahan baku papan partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas papan partikel pelepah nipah yang direkat dengan sukrosa/asam sitrat (100/0, 87,5/12,5 dan 75/25). Papan partikel yang dibuat berukuran 25 cm × 25 cm × 1 cm, target kerapatan 0,8 g/cm3. Variabel perekatan antara lain jumlah perekat 20%, waktu kempa 10 menit, suhu kempa 180°C dan tekanan spesifik 3,6 MPa. Sifat fisika dan mekanika papan partikel diuji berdasarkan standar JIS A 5908:2003, kekasaran permukaan diukur menggunakan metode yang dilakukan oleh Hiziroglu (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan asam sitrat terhadap sukrosa berpengaruh positif terhadap sebagian besar sifat papan partikel pelepah nipah. Papan partikel pelepah nipah dengan perekat sukrosa/asam sitrat 87,5/12,5 mampu memberikan hasil terbaik dengan memenuhi standar JIS A 5908:2003. Karakteristik papan partikel tersebut adalah kerapatan 0,89 g/cm3, kadar air 10,21%, pengembangan tebal 2,45%, penyerapan air 23,55%, kekasaran permukaan 5,13 μm, keteguhan rekat internal 0,39 MPa, keteguhan patah 9,80 MPa dan keteguhan elastisitas 3,19 GPa.Kata kunci: papan partikel, pelepah nipah, perekat alami, sukrosa, asam sitrat Quality of the Nipa Frond Particleboard Bonded with Citric acid and SucroseAbstractUtilization of natural binder for non-wood composite is still limited. Sucrose and citric acid are potential natural binding agents for composite products. Nipa (Nypa fruticans Wurmb.) was non-wood materials which are potentially to be used as an alternative raw material for particleboards. This study aimed to determine the quality of the nipa frond particleboard bonded with sucrose/citric acid (100/0, 87.5/12.5 and 75/25). Particleboards were manufactured in 25 cm × 25 cm × 1 cm dimension, the target of density 0.8 g/cm3. The variables included resin content of 20%, press time of 10 m, pressing temperature of 180°C and specific pressure of 3.6 MPa. The physics and mechanics properties of particleboard were tested in accordance to standard JIS A 5908:2003 and surface roughness was measured by following the method performed by Hiziroglu (1996). The results showed that the addition of citric acid to sucrose give a positive effect on most of the properties of the nipa frond particleboards. The particleboard bonded with sucrose/citric acid 87.5/12.5 was able to provide the best results to meet the standards of JIS A 5908: 2003. Characteristics of the particleboard was a density of 0.89 g/cm, moisture content of 10.21%, thickness swelling of 2.45%, water absorption of 23.55%, surface roughness of 5.13 ìm, internal bonding of 0.39 MPa, modulus of rupture of 9.80 MPa and modulus of elasticity of 3.19 GPa.