Articles
7
Documents
Pemanfaatan Teknologi Komunikasi dan Informasi pada Erupsi Merapi 2010 di Sleman Yogyakarta

Jurnal Pekommas Vol 17, No 3 (2014): Desember 2014
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erupsi Gunung Merapi tahun 2010 akrab dengan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi. Antara relawan, donatur dan masyarakat saling bekerjasama. Bagaimana pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi pada saat erupsi Merapi pada tahun 2010 di kabupaten Sleman Yogyakarta? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam tulisan ini. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Robert K.Yin. Inti pembahasan terbagi menjadi tiga yaitu; (1) Kemudahan penggunaan (perceived ease of use), (2) Persepsi kemanfaatan (perceive of usefulness). (3) Pemakaian aktual (actual usage). Hasil penelitian ini yaitu Pertama, kemudahan pengguna pada erupsi Merapi tahun 2010 terletak pada teknologi komunikasi seperti handphone dan handy talky. Sedangkan kemudahan pengguna teknologi digital internet sangat bergantung pada dua hal; kemampuan pengguna atau user dan kemampuan akses jaringan internet. Kedua, kemanfaatan TIK dalam kasus erupsi Merapi 2010 bermuara pada manfaat peningkatan kinerja, produktivitas dan efektifitas kerja dalam menangani pra erupsi dan pasca erupsi Merapi. Ketiga, pemakaian aktual TIK pada erupsi Merapi yaitu teknologi media baru yang digunakan secara optimal pada saat recovery Merapi. Melalui website Jalin Merapi, relasi dan interaksi antara relawan, pencarian dana dan warga masyarakat menjadi efektif dan efisien.

Mobilisasi Sosial dalam Ruang Virtual: Studi Etnografi Virtual pada Situs www.sedekahrombongan.co

Jurnal Pekommas Vol 17, No 1 (2014): April 2014
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Situs sedekahrombongan.com hadir tidak sekedar memproduksi konten dan mendistribusikan konten. Sedekahrombongan.com juga menggerakkan dunia virtual dan empirik berupa kegiatan sosial kemanusiaan. Bagaimana penggunaan, konektivitas dan kreativitas pada situs Sedekahrombongan.com? Bagaimana penguatan gerakan dan pemberdayaan individu pada situs tersebut? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam tulisan ini. Inti pembahasan terbagi menjadi dua yaitu; (1) Penggunaan (uses), Konektivitas dan Kreativitas (connected and creativity), (2) Pemberdayaan (empowerment). Dari sisi penggunaan, Sedekah Rombongan merintis sebuah ruang sosial berupa ruang virtual. Ruang itu digunakan sebagai jembatan penghubung antara dunia virtual maya dan empirik nyata yang berfokus pada kegiatan-kegiatan sosial. Konektivitas dalam sedekahrombongan.com mempertemukan relawan, audiens dan para donatur. Interaksi tersebut mendorong Sedekah Rombongan menjadi komunitas virtual yang berbasis massa sekaligus komunitas massa berbasis jaringan. Dari sisi pemberdayaan, Sedekah Rombongan merintis para anggotanya tidak hanya menjadi pembaca aktif dan pengamat pasif melainkan juga dituntut terlibat aktif dan produktif. Proses interaksi berubah menjadi proses konsolidasi aksi untuk berbagi.

Media dan Politik: Pertarungan Ruang & Kuasa Media Menjelang Pemilihan Presiden

JURNAL SIMBOLIKA: Research and Learning in Communication Study Vol 1, No 1 (2015): JURNAL SIMBOLIKA APRIL
Publisher : Communication Sciences Department Faculty of Social and Political Sciences Medan Area Univ

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPemilihan umum tidak hanya melahirkan pertarungan kuasa melainkan juga pertarungan ruang. Ruang sosial, ruang media dan ruang elit saling bersilang sengkarut. Bagaimana pertarungan ruang dan kuasa media menjelang pemilihan presiden? Setidaknya pertanyaan tersebut menjadi benang merah dari tulisan ini.  Pertarungan ruang dan kuasa dirintis melalui remediasi ruang. Di mana ruang sosial tergiring kedalam ruang media kemudian masuk ke dalam ruang elit. Ruang tersebut berbenturan dengan ragam kepentingan media dan partai politik. Kesemuanya saling mereduksi, saling menguasai dan saling mendominasi. Bentuk dominasi ini hadir dalam dua bentuk; Pertama, dominasi atas sumber daya manusia dan Kedua, dominasi atas sumber daya materi. Pertarungan ruang media dan kuasa tidak lagi berkutat pada state based power. Bukan pula terhenti pada market based power melainkan bermuara pada political based power dengan ragam kepentingan politik yang sesaat, instan dan pragmatis.  

PENERAPAN NEW MEDIA TECHNOLOGY PADA TELEVISI BERBASIS INTERNET SOLOPOS TV (2013-2015)

Jurnal Visi Komunikasi Vol 15, No 1 (2016): May 2016
Publisher : Jurnal Visi Komunikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.561 KB)

Abstract

Solopos.tv is present as an internet-based television as an alternative to virtual audiences in the present era. How to develop internet based television program in solopos.tv? The question becomes a common thread in this paper. This research use case study method. The core of the discussion is divided into four namely; (1) Human resources (2) Information management is content production process and content distribution (3) Facilities, infrastructure and funding and (4) Internet-based television structure and culture. The conclusions of this paper are: First, Internet-based television has a difference with conventional television is usually from the use of human resources are trimmed so that it can reduce production costs and post production. Second, the management of informative content not only in the content production process but also its virtual based distribution strategy. The sophistication of new media technology helps save production costs and post production. Finally, the lean structure and creative culture so that it produces creative programs because it supports young people who are familiar with virtual digital technology. Solopos.tv hadir sebagai televisi berbasis internet sebagai alternatif bagi para audien virtual di era kekinian. Bagaimana pengembangan program televisi berbasis internet di solopos.tv? Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam tulisan ini. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Inti pembahasan terbagi menjadi empat yaitu; (1) Sumber daya manusia (2) Pengelolaan informasi yaitu proses produksi konten dan distribusi konten (3) Sarana, prasarana dan pendanaan dan (4) Struktur dan kultur televisi berbasis internet. Simpulan dari tulisan ini yaitu: Pertama, televisi berbasis internet memiliki perbedaan dengan televisi konvensional biasa yaitu dari sisi penggunaan sumber daya manusia yang dipangkas sehingga dapat memperkecil biaya produksi dan pasca produksi. Kedua, pengelolaan konten informatif tidak hanya pada proses produksi konten namun juga strategi pendistribusiannya yang berbasis virtual. Kecanggihan teknologi new media membantu menghemat biaya produksi dan pasca produksi. Terakhir, struktur yang ramping dan kultur yang kreatif sehingga berhasil memproduksi berbagai program kreatif karena didukung anak muda yang akrab dengan teknologi digital virtual.

Stringer Legality and Jurnalistic Works in Television Media (Legalitas Stringer dan Karya Jurnalistik dalam Media Televisi)

Jurnal Pekommas Vol 2, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Recently, Media of Television industry is growing rapidly. There are many problems arise, including the rise of contracted media workers who are separated from work agreement system with media companies. It has a duty to get and excavate news of television media without being clearly bound with media companies. This practice is known as stringer. This research attempts to examine the practice of stringer, stringer legality, and the legality of the work of journalistic video produced. Both of them become long term materials in discussing media employment legislation. This study uses the case study method of Robert K. Yin with single case study design that consists of several sub-unit analyses. The purposes of this research are: to understand more deeply about the practice of stringer, the legality of the stringer and the legality of resulting video journalistic work produced. The results of this case show that firstly, the practice of stringer in the television media becomes as a practice of mutualism symbiotic between stringer, contributors in the region and media companies. Secondly, the stringer position in media companies is not recognized as an official work even though their efforts and their works are spread in national media. The practice of stringer is not legal because it is in the vagueness of value, rights and obligations as an official media worker. Thirdly, the legality of the work, the journalistic videos are produced by stringer, it is illegal although claimed to be the work of official journalistic. It contravenes of code of journalistic ethics, because the preaching of the work that has been published in a media is basically protected as a result of copyright and included in the intellectual property rights category. Industri media televisi berkembang pesat, kebutuhan tenaga kerja media turut meningkat, sehingga memungkinkan lahir dan hadirnya pekerja-pekerja media kontrak yang lepas dari sistem perjanjian kerja dengan perusahaan media. Mereka bertugas mencari dan menggali berita tanpa terikat secara jelas dengan perusahaan media. Praktik ini dikenal dengan istilah stringer. Persoalan yang muncul dan menjadi fokus penelitian ini, yaitu legalitas stringer dan legalitas karya video jurnalistik. Keduanya menjadi bahan dalam membahas tentang undang-undang tenaga kerja media. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus Robert K.Yin dengan desain studi kasus tunggal terjalin yang terdiri dari beberapa sub unit analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pertama, praktek stringer dalam industri media televisi menjadi semacam praktik simbiosis mutualisme antara stringer, kontributor di daerah dan perusahaan media. Kedua, posisi stringer dalam perusahaan media tidak diakui sebagai pekerja resmi meskipun tenaga dan karyanya tersebar di media nasional. Praktik stringer ini tidak legal sebab berada pada ketidakjelasan nilai, hak serta kewajibannya sebagai pekerja media yang resmi. Ketiga, secara legalitas karya. Video jurnalistik yang dihasilkan oleh stringer termasuk illegal meskipun diklaim sebagai karya jurnalis resmi. Hal ini melanggar kode etik jurnalistik sebab pemberitaan hasil karya yang telah dimuat di media pada dasarnya dilindungi sebagai hasil karya cipta dan masuk dalam kategori intellectual property right. 

Media Dan Politik:
Pertarungan Ruangn & Kuasa Media Menjelang Pemilihan Presiden

Jurnal Komunikasi Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pemilihan umum tidak hanya melahirkan pertarungan kuasa melainkan juga pertarungan ruang. Ruang sosial, ruang media dan ruang elit saling bersilang sengkarut. Bagaimana pertarungan ruang dan kuasa media menjelang pemilihan presiden? Setidaknya pertanyaan tersebut menjadi benang merah dari tulisan ini. Pertarungan ruang dan kuasa dirintis melalui remediasi ruang. Dimana ruang sosial tergiring kedalam ruang media kemudian masuk kedalam ruang elit. Ruang tersebut berbenturan dengan ragam kepentingan media dan partai politik. Kesemuanya saling mereduksi, saling menguasai dan saling mendominasi. Bentuk dominasi ini hadir dalam dua bentuk; Pertama, dominasi atas sumber daya manusia dan Kedua, dominasi atas sumber daya materi. Pertarungan ruang media dan kuasa tidak lagi berkutat pada state based power. Bukan pula terhenti pada market based power melainkan bermuara pada political based power dengan ragam kepentingan politik yang sesaat, instan dan pragmatis. Abstract:Elections are not only about the power but also about how to fight the battle space. Social space, media space and elite space crossed chaos. How bout space and power of the media ahead of the presidential election? At least the question becomes common thread of this paper. Battle space and power initiated remediation through space. Social space are led into the media space and then enter the elite space. The space is in conflict with the interests of a variety of media and political parties. All of reducing mutual, mutual control and dominate the other. Form of domination is present in two forms; First, the dominance of human resources and Second, dominance over material resources. The fight media space and power are no longer dwell on the state-based power. Nor is stopped at a market-based power but boils down to political power with a variety of interest-based politics that instant and pragmatic.  

Application of Journalistic Ethics in Political Reporting in Online Media (Case Study of the Governor Election of Jakarta)

Jurnal Pekommas Vol 3, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The selection of the Governor and Deputy Governor of DKI Jakarta in 2017 have been completed. There are several problems in the contestation, especially those relating to violations of journalistic ethics in political reporting in online media. Two key questions in this research, first, what is the form of violations of journalistic ethics in the political reporting of the Jakarta Governor’s election in national online media during 2016-2017? Second, how journalistic ethics to the political reporting of the Jakarta governors election in national online media in 2016-2017? This study uses a qualitative approach with Robert K. Yins case study method with national online media research subjects including sindonews.com, mediaindonesia.com, kompas.com, republika.co.id and tribunnews.com. The results of this study, there are several violations of journalistic ethics, besides the application of journalistic ethics in online media in the selection of the Governor of DKI Jakarta is not optimal. The causes are economic and political factors.