Hedi Pudjo Santosa
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 87 Documents
Articles

SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer ) Harditya, Dwinda; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.912 KB)

Abstract

Nama : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Judul : SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer )ABSTRAKSIWAGs merupakan akronim dari wives and girfriends. WAGs pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 sebagai bentuk kekesalan terhadap para pacar dan istri personel Timnas Inggris yang dianggap mengganggu konsentrasi dan membawa dampak yang negatif. Pada perkembangannya istilah ini digunakan untuk menyebut para pacar dan istri pesepak bola profesional. Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid bertema sepak bola di Indonesia yang secara khusus membahas tentang sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sosok WAGs yang direpresentasikan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Selain itu, penelitian ini juga ingin membedah konstruksi sosok WAGs untuk mencari nilai tersembunyi tentang sosok WAGs Teori yang digunakan adalah teori representasi dari Stuart Hall dan Teori tentang konstruksi perempuan dalam tabloid. Tipe penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan sintagmatik dan paradigmatik dengan pendekatan analisis narasi dan pemikiran Roland Barthes tentang teknik konotasi pesan fotografis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabloid Soccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.Kata kunci : perempuan, tabloid, representasi, stereotip, fenomena sepak bola.Name : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Title : WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) FIGURES IN TABLOID SOCCER (Semiotical Analysis of Soccer Babes Column and Love Story Column in Tabloid Soccer)ABSTRACTWAGs is an acronym for wives and girfriends. WAGs, first introduced by British journalists at the World Cup 2006 in Germany as a form of resentment against the wives and girlfriends who are interfere concentration of England national team personnel and have a negative effect. In the development, this term is used to describe all the wives and girlfriends professional footballer . Soccer is one of the football tabloid in Indonesia that specifically discusses the WAGs figures in Soccer Babes column and Love Story column.The purpose of this research is to identify the WAGs figures, which is represented by Soccer Babes column and Love Story column. In addition, this research also wanted to dissect WAGs construction to find the hidden value. This research used representation theory of Stuart Hall and theories about the construction of women in the tabloids. The type of research is a qualitative descriptive with semiotical approach and documentation technique for collecting data. Data analysis was performed with the syntagmatic and paradigmatic analysis with narrative analysis approach and message connotations photographic technique by Roland Barthes .The results showed, WAGs of professional footballers have positive values, both through with narrative and image display. WAGs with the main role and the positive values will covered negative values, which is generated by the previous WAGs. Soccer helps to introduce and establish a new understanding to the readers about WAGs figures through display and narrative in Soccer Babes column and Love Story column.Keywords : women, tabloid, representation, stereotypes , phenomenon of footballSOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAMTABLOID SOCCER(Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Storydi Tabloid Soccer)I. PENDAHULUANWAGs (dibaca wog) merupakan akronim dari wives and girfriends, sebuah istilah yang dilekatkan pada pacar dan istri para pesepak bola profesional. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman. Para WAGs personel Inggris tersebuat antara lain sosok Victoria Adams, mantan vokalis Spice girls yang merupakan istri David Beckham, Cheryl Tweedy istri dari bek Inggris Ashley Cole sekaligus anggota grup musik Girls Aloud, Alex Curran, super model Eropa yang sekaligus istri dari Steven Gerrard, dan masih banyak lagi yang kesemuanya merupakan artis, model, public figure papan atas di Inggris maupun Eropa. Para jurnalis Inggris yang dikenal tajam dalam mengkritik, menganggap para WAGs tersebut menjadi kambing hitam atas kegagalan Inggris di Piala Dunia 2006. Para WAGs tersebut dianggap mengganggu konsentrasi para pemain karena harus menemani dan melayani kehidupan sosialita mereka seperti berbelanja di butik dan pergi ke salon.Sejak saat itu, istilah, WAGs sudah menjadi sebuah stereotip negatif bagi para pacar dan istri pesepak bola profesional. Stereotip negatif yang dimaksud adalah para pacar dan istri mereka dianggap sebagai pendompleng status kepopuleran para pesepak bola profesional tersebut, selain itu penghasilan pesepak bola profesional yang tinggi dianggap menjadi daya tarik. Bagi para WAGs, selain gaji para pesepak bola yang tinggi, ketenaran akibat prestasi yang ditorehkan oleh para pesepak bola tersebut secara tidak langsung turutmenaikkan nama WAGs tersebut di mata masyarakat. Mereka yang awalnya berasal dari sosok yang tidak dikenal, belum terlalu terkenal di mata masyarakat, secara tiba-tiba dapat menjadi populer seiring dengan prestasi pacar atau suami mereka di dunia sepak bola, atau sosok yang terkenal dapat meningkatkan popularitas dengan berpacaran dengan pesepak bola profesional yang berprestasi. Media memiliki peran besar dalam memperkenalkan sosok WAGs tersebut lewat berbagai cara. Pertama, cara yang dilakukan adalah dengan mengkategorisasikan para WAGs tersebut. Kedua, melalui kontroversi yang dilakukan oleh pesepak bola terhadap WAGsnya maupun sebaliknya.Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid olahraga yang khusus mengambil tema sepak bola. Tabloid olahraga yang terbit di Indonesia yang membahas secara spesifik mengenai sosok WAGs melalui kolom Soccer babes dan love story. Kedua kolom tersebut termasuk dalam kategori rubrik Soccer Style dalam tabloid ini. Soccer Style merupakan salah satu rubrik dalam Tabloid Soccer yang membahas mengenai sisi lain dunia sepak bola. Soccer mencoba memberikan ruang bagi para perempuan untuk dapat muncul dalam tabloid olahraga yang seringkali didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut salah satunya coba diwujudkan dengan cara menampilkan sosok WAGs yang selama ini jarang dibahas secara mendalam oleh media lain. Melalui kedua kolom tersebut, sosok WAGs coba diprofilkan sekaligus diperkenalkan kepada para pembaca tabloid ini. Sebagai sebuah media cetak, Soccer memiliki ideologi sendiri dalam menampilkan sosok WAGs. Soccer memiliki tampilan atau cara tersendiri untukmenghadirkan sosok ini bagi para pembacanya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Soccer merepresentasikan sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story. Penelitian ini menggunakan pendekaan teori representasi dari Stuart Hall, Tabloid dan konstruksi perempuan dari Martin Hamer dan Martin Conboy. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan semiotika dengan analisis data secara sintagmatik melalui analisis narasi dan teknik konotasi pesan fotografis dari Roland Barthes. Selain analisis sintagmatik, peneliti menggunakan analisis paradigmatik untuk mencari nilai tersembunyi yang terdapat dalam Soccer yang menampilkan sosok WAGs melalui kolom Soccer Babes dan Love Story.II. ISIDari dua belas sosok WAGs yang diwakili oleh sosok Eleanor Abbagnato, Michella Quattrocioche, Carolina Marcialis (Liga Italia), Heather Weir, Ursula Santirso, Georgina Dorsett (Liga Inggris), Pilar Rubio, Jorgelina Cardoso, Carolina Martin (Liga Spanyol), Maria Imizcoz Garcia, Lilli Hollunder, dan Anna Stachurska (Liga Jerman), yang termuat dalam kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Menurut Vladimir Propp, analisis sintagmatik menggunakan unit narasi dasar yang disebutkan oleh Propp sebagai sebuah “fungsi”, fungsi tersebut dapat diperoleh dari berbagai adegan atau bagian yang terdapat dalam film, komik, televisi, dan segala jenis produk media yang mengandung narasi (Berger, 1991: 14). Analisis paradigmatik digunakan untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang tersembunyi dalamteks yang mampu membangkitkan makna tertentu bagi pembaca (Berger, 1991: 18), secara analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik maka diperoleh nilai-nilai antara lain :1. Secara sintagmatik, melalui analisis narasi dan analisis fotografis Roland Barthes, Tabloid Soccer menampilkan sosok WAGs sebagai sosok perempuan yang aktif, memiliki pengaruh, ceria, setia independen, memiliki bakat, dan berprestasi. Melalui gambar, sosok WAGs ditampilkan Soccer sebagai sosok perempuan modis, berparas cantik, dan menampilkan nilai sensualitas perempuan dalam batas kewajaran.2. Secara paradigmatik, ada lima nilai yang bisa dipetik dari dua belas sosok WAGs yang diteliti, yaitu WAGs sebagai sosok penentu karir, WAGs sebagai pasangan ideal, WAGs sebagai perempuan mandiri, WAGs sebagai sosok perempuan pecinta fashion, dan WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci.Pertama, Sosok WAGs sebagai penentu karir. Definisi WAGs sebagai sosok penentu karir adalah Sosok WAGs yang memiliki pengaruh besar terhadap karir pasangannya sebagai pesepak bola profesional, seperti pengaruh WAGs dalam menentukan klub yang dipilih oleh pasangannya dan WAGs membantu meningkatkan perubahan moral pasangannya dalam karir sepak bola.Kedua, WAGs sebagai sosok pasangan ideal didefinisikan bahwa sosok WAGs membantu memberi dukungan terhadap pasangannya sebagai pesepak bola profesional, dan menjadi sosok yang bisa diandalkan untuk membangun komitmen dalam membina sebuah hubungan.Ketiga, WAGs sebagai perempuan mandiri memiliki definisi sosok WAGs yang secara ekonomi mampu memiliki profesi yang bisa diandalkan untuk hidup, dan tidak bergantung dari penghasilan pasangannya. Hal ini sebagai perwujudan liberalisme secara ekonomi dan eksistensi yang dilakukan oleh WAGs.Keempat, WAGs sebagai sosok pecinta fashion didefinisikan sebagai sosok WAGs yang memiliki selera fashion yang baik, karena latar belakang sosok WAGs yang mayoritas merupakan selebriti sehingga memiliki selera fashion yang cukup baik, selain itu fashion merupakan salah identitas yang membangun karakter sosok WAGs.Kelima, sosok WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci oleh perempuan didefinisikan sebagai WAGs merupakan sebuah stereotip yang diciptakan media-media di Inggris dan berkonotasi negatif, dari hasil penelitian ditemukan beberapa WAGs yang secara nyata menolak sebutan itu karena mampu mempengaruhi nilai dan peran mereka di mata masyarakat.Dari kelima nilai tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa Tabloid Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.III. PENUTUPSoccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Dalam hal ini, media berperan membentuk makna baru dengan merepresentasikan nilai-nilai dan bentuk yang berbeda.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Soccer tidak sekadar menganggap para WAGs sebagai news candy semata, melainkan ada nilai yang coba disampaikan kepada pembacanya, misalnya nilai kemandirian. Dalam penelitian ini, sosok WAGs telah mengalami pergeseran nilai yang ke arah positif dibanding ketika istilah ini muncul pertama kali pada 2006. Hal ini menunjukan bahwa sosok WAGs saat ini tidak bisa digeneralisir dengan makna terdahulu, perlu adanya pembanding atau informasi mendalam yang menunjukkan sosok WAGs memiliki nilai positif atau negatif.DAFTAR PUSTAKASUMBER BUKU :Barker, Chris. 2004. Dictionary Of Cultural Studies. London : Sage Publications.Barthes, Roland. 1990. Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta : Jalasutra.Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. London : Sage Publications.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta: Jalasutra.Cashmore, Elish. 2002. Key Concepts Sports and Exercise Psychology. London: Routledge.Coakley, Jay. 2001. Sports in Society : Issues & Controversies. New York: Mc Graw Hill.Conboy, Martin. 2006. Tabloid Britain. London : Routledge.Danesi, Marcel. 2010. Memahami Semiotika Media. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman & Yvonna Lincoln. 1994. The SAGE Handbook of Qualitative Research. London: Sage Publications.Eriyanto. 2001. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKIS. Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies : Sebuah pengantar paling Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra. Hall, Stuart. 1997. Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage Publications.Hamer, Martin. 2004. Key Concepts In Journalism Studies. London : Sage Publications.Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kawamura, Yuniya. 2005. Fashionology: an introduction to fashion studies. Oxford: Berg Publisher. Kuper, Simon & Stefan Szymanski. 2009. Soccernomics. New York : Nation Books. Leslie, Larry Z. 2011. Celebrity in 21 Century. California : ABC CLIO LLC. Potter, Deborah. 2006. Handbook of Independent Journalism. United States: Bureau of International Information Programs U.S. Department Of State. Putnam, Hilary. 2001. Representation and Reality. Cambridge : The Mit Press. Rojek, Chris. 2001. Celebrity. London: Reaktion Books. Sugiarto, Atok. 2005. Paparazzi: Memahami Fotografi Kewartawanan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Scapp, Ron & Brian Seitz. 2010. Fashion Statements. New York: Palgrave Macmilan. Schwarzmantel, John. 2008. Ideology and Politics. London: Sage Publications. Sterling, Cristopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. London : Sage Publications. Tannsjo, Torbjorn & Claudio Tamborini. 2000. Values in Sport. London: E & FN Spon. Tong, Roesmarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta : JalaSutra. Turner, Rachel S. 2008. Neo Liberal Ideology: History, Concepts, and Policies. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis Dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism, and Media. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Urrichio, William. 2008. Media, Representations, and Identities. United Kingdom: Intellect Books.Van loon, Borin, dkk. 2008. Introducing Media Studies. Yogyakarta : Resist Book. Watkins, Susan Alice dkk. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta : Resist Book. Webb, Jenn. 2009. Understanding Representation. London : Sage Publications. Wood, Julie T. 1994. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Stamford: Wadswoerth Publishing.SUMBER MEDIA CETAK : London Evening Standard, 5 July 2006.London Lite, 14 May 2007.Times Magazine, New Yorker, & Sunday Times, July 2006. New Yorker, 3 July 2006. The Football Agents, Buklet Tabloid Bola Edisi 03, Terbit 28 Januari 2013. 20 Highest Paid Footballers, Buklet Tabloid Bola Edisi 17, Terbit 6 Mei 2013. Tabloid Soccer edisi 1 September 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Oktober 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Desember 2012 Tabloid Soccer edisi 26 Januari 2013 Tabloid Soccer edisi 2 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 16 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 11 Mei 2013 Tabloid Soccer edisi 1 Juni 2013 Tabloid Soccer edisi 22 Juni 2013.SKRIPSI : Ayun, Primada Qurrota. 2011. Representasi Perempuan dalam Rubrik Sosialita Koran Kompas. Skripsi : Universitas Diponegoro. Savitri, Isma. 2009. Representasi Perempuan dalam Tabloid Bola. Skripsi: Universitas Diponegoro. Tambunan, Chrismanto. 2010. Konstruksi Perempuan Pada Iklan Obat Kuat di Media Cetak. Skripsi: Universitas Diponegoro.SUMBER INTERNEThttp://www.biography.com/people/mia-hamm-16472547, diakses 2 juli 2013. www.bola.net/bolatainment/shakira-dinobatkan-sebagai-WAGs-tercantik-di-euro-2012-b33ff4.html, diakses 9 Maret 2013. www. bolamaster.com, diakses 27 Juni 2013. bleachreport.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.cbc.ca/sports/soccer/fifawomensworldcup2011/story/2011/05/27/spf-homare-sawa.html, diakses 2 juli 2013. dnaberita.com, diakses 27 Juni 2013. www. detiksport.com, diakses 19 Mei 2013. www.duniasoccer.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.fifa.com, diakses 2 Juli 2013. Footbalerswives.com, diakses 27 Juni 2013. google images.com/WAGsEngland2006, 19 Mei 2013. Hufftington.post, diakses 27 Juni 2013. Lavaguardian.com, diakses 27 Juni 2013 www. kapanlagi.com, diakses 27 Juni 2013 Madrid-Barcelona.com , diakses 27 Juni 2013www. namafb.com, diakses 9 Maret 2013. Mirror.co.uk, diakses 27 Juni 2013. Reveal.co.uk, diakses 27 Juni 2013.http://rsssf.com/tableso/ol-women.html, diakses 2 Juli 2013. http://www.thesun.co.uk/themostbeautifulWAGs, diakses 27 Juni 2013 uk.omg.yahoo.co.uk, diakses 27 Juni 2013. www.wowkeren.com, diakses 27 Juni 2013zimbio.com, diakses 27 Juni 2013.www. zonabola.com, diakses 19 Mei 2013.
PENGARUH GAYA KOMUNIKASI DAN KUALITAS PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP KEPUASAN NASABAH (Studi pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang) Mazaya, Mirnalia; Setiabudi, Djoko; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.843 KB)

Abstract

PENGARUH GAYA KOMUNIKASI DANKUALITAS PELAYANAN CUSTOMER SERVICETERHADAP KEPUASAN NASABAH(Studi pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang)ABSTRAKSIPengaruh Gaya Komunikasi dan Kualitas Pelayanan Customer Service Terhadap KepuasanNasabah (Studi Pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang)Nasabah merupakan jantung kehidupan dari BNI Syariah Cabang Semarang yangharus terus di jaga. Menjamurnya perbankan syariah di Kota Semarang saat ini yang memilikiproduk dan layanan yang nyaris serupa membuat kualitas pelayanan BNI Syariah CabangSemarang yang diharapkan dapat menjadi pembeda. Gaya komunikasi dan kualitas pelayananCustomer Service jika di sinergikan dengan baik maka akan menciptakan kualitas layananprima yang dapat memberikan kepuasan di hati nasabah BNI Syariah Cabang Semarang.Penelitian ini menggunakan penelitian eksplanatoris dengan menggunakan uji anlisis regresiberganda untuk menguji hipotesis penelitian dimana terdapat pengaruh antara gayakomunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasan nasabah. Datadiperoleh dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada responden yaitu nasabahBNI Syariah Cabang Semarang dengan jumlah sampel 96 responden. Gaya komunikasidiukur menggunakan indikator posisi tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, dan intonasi suara.Sedangkan kualitas pelayanan diukur menggunakan indikator penampilan, sikap, kerapihantempat kerja, kecepatan pelayanan, ketepatan pelayanan, prosedur pelayanan, dan pelayananyang informatif.Hasil dari penelitian ini, gaya komunikasi dan kualitas pelayanan menunjukkan angkayang tinggi yakni 42,3% dan 67,9%. Sedangkan kepuasan nasabah signifikan dengan kualitaspelayanan dan gaya komunikasi sebesar 55,7%. Hasil analisis regresi linear sederhana denganUji T menunjukkan nilai T hitung 2,559 dengan nilai signifikansi sebesar 0,012 < 0,05, makahal ini berarti bahwa hipotesis menyatakan bahwa gaya komunikasi memiliki pengaruh yangsignifikan terhadap kepuasan nasabah. Sedangkan kualitas pelayanan diperoleh nilai T hitung10,275 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka hal ini berarti bahwa hipotesismenyatakan kualitas pelayanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasannasabah. Sehingga Ha terbukti yakni terdapat hubungan antara gaya komunikasi dan kualitaspelayanan customer service terhadap kepuasan nasabah BNI Syariah Cabang Semarang.ABSTRACTThe Effect of Communication Style and Quality Service of Customer Service To TheCustomer Satisfaction (Study on Customer PT. Bank BNI Syariah Branch Semarang)The Customer is the heart of the life of BNI Syariah Branch Semarang that shouldcontinue in the case. The mushrooming of Islamic banking in the city of Semarang today whohave products and services that make a nearly identical service quality BNI Syariah BranchSemarang which is expected to be a differentiator. Communication style and quality customerservice if in united properly it will create a high quality of services that can provide customersatisfaction at the heart of Semarang BNI Syariah Branch. This study uses explanatory studyusing multiple regression anlisys test to test the hypothesis that there is influence betweencommunication style and quality customer service to customer satisfaction. Data obtainedusing questionnaires distributed to respondents, customers BNI Syariah Branch Semarangwith a sample of 96 respondents. Communication style was measured using an indicator bodyposition, eye contact, facial expressions, and tone of voice. While service quality is measuredusing indicators of performance, attitude, work neatness, speed of service, accuracy ofservice, service procedures, and informative service.The results of this study, communication style and quality of service showed a highrate 42.3% and 67.9%. While significant customer satisfaction with quality of service andcommunication styles of 55.7%. Results of simple linear regression analysis with T testshowed T value 2.559 with a significance value of 0.012 <0.05, then it means that thehypothesis stating that the communication style has a significant influence on customersatisfaction. While the quality of service obtained T value 10.275 with a significance value of0.000 <0.05, then it means that the hypothesis stated service quality has a significant impacton customer satisfaction. Ha so evident that there is a relationship between communicationstyle and quality customer service to customer satisfaction BNI Syariah Branch Semarang.BAB IPENDAHULUANI. 1. Latar BelakangKomunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam kegiatan perbankan. Setiapbagian dalam perbankan dari frontline sampai back office tidak dapat terhindar dari proseskomunikasi. Bahkan tanpa komunikasi kegiatan perbankan pun tidak akan berjalansebagaimana mestinya. Komunikasi dalam dunia perbankan membantu penyaluran ide dangagasan sehingga segala kepentingan, keinginan dan harapan-harapan perusahaan dannasabah dapat saling diketahui dan dimengerti. Sehingga dapat dilakukan usaha-usaha untukmemenuhi seluruh kebutuhannya tersebut.Dalam persaingan yang semakin ketat saat ini, pelayanan dalam bisnis jasa perbankanyang biasa-biasa saja saat ini sudah tidak dapat lagi diharapkan untuk mampu bersaing dalamkancah persaingan global. Diperlukan sebuah konsep pelayanan prima yang diterapkan olehperusahaan khususnya perusahaan jasa perbankan. BNI Syariah Cabang Semarang adalahsalah satu contoh perusahaan perbankan yang bergerak di bidang jasa keuangan danmenerapkan konsep standar pelayanan prima bagi para nasabahnya. BNI Syariah CabangSemarang memiliki standar layanan baku dan seragam dengan seluruh BNI Syariah cabanglainnya se-Indonesia. Moto pelayanannya adalah GREAT (Greetings, Relationship, Emphaty,Atitude, Trust) yang tercetak pada bros PIN yang ditempel pada baju seragam kantor setiappetugas di Unit Pelayanan Nasabah. BNI Syariah Cabang Semarang sadar betul jika saat initidak dapat lagi menjalankan bisnisnya dengan berorientasi pada profit semata.Dari waktu ke waktu customer service BNI Syariah Cabang Semarang harus mampumemperbaiki dan menjaga kualitas pelayanannya, karena tanpa memberikan kualitaspelayanan yang prima pada nasabah, mustahil rasa puas yang diharapkan nasabah dapattercapai dan hal tersebut akan sangat menghambat BNI Syariah Cabang Semarang untukdapat hidup dan berkembang. Untuk menjaga dan meningkatkan kepuasan nasabahnya, BNISyariah Cabang Semarang perlu menjaga kepercayaan dimata nasabah. Kepercayaan inidapat dibangun melalui kualitas pelayanan yang prima oleh seluruh jajaran karyawannyatermasuk customer service, komunikasi yang dikemas dengan gaya komunikasi yang tepatsesuai sikon, inovasi produk, dan terjaminnya keamanan transaksi perbankan. Tanpakesemuanya itu, pencapaian kepuasan nasabah yang sedang dan akan dibangun tidak akantercapai.I. 2. Perumusan MasalahBNI Syariah Cabang Semarang idealnya tidak memiliki kendala yang berarti di bidangstandar layanan. Yang mana kesemuanya banyak mendapat masukan dari BNI selaku bank induk.Sehingga idealnya nilai minimal bagi petugas customer service adalah 90 atau A.Realita yang terjadi kualitas pelayanan yang dilakukan oleh customer servicekhususnya dari hasil penilaian internal mistery shopper tahun 2012 sangat mengecewakan,disisi layanan customer service BNI Syariah Cabang Semarang memperoleh nilai D denganskor 67.Padahal bank induk BNI telah memberikan konsep standar layanan yang samaterhadap BNI Syariah. Hendaknya petugas customer service BNI Syariah Semarang memilikikemampuan komunikasi yang mumpuni, gaya komunikasi yang luwes disertai denganpemahaman informasi yang luas sehingga mampu menyampaikan informasi secara akuratdan mudah dipahami serta memberikan kualitas pelayanan yang memuaskan terhadap semuanasabahnya. Pemberian pelatihan standar layanan terhadap customer service, kegiatan roleplay(simulasi layanan nasabah yang sesuai standar layanan) setiap dua minggu sekali danaktivitas sharing session seminggu sekali idealnya telah memberikan pemahaman yang lebihdari cukup untuk diterapkan dengan baik oleh seluruh pegawai di Unit Pelayanan Nasabahkhususnya customer service BNI Syariah Cabang Semarang.Berdasarkan uraian tersebut, maka yang menjadi masalah adalah apakah ada pengaruhantara gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasan nasabahPT. Bank BNI Syariah ?I. 3. Tujuan dan Kegunaan PenelitianI.3.1. Tujuan PenelitianAdapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanyapengaruh antara gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasannasabah PT. Bank BNI Syariah.I.3.2. Kegunaan PenelitianKegunaan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:1. Kegunaan TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuandi lembaga pendidikan Universitas Diponegoro khususnya di jurusan IlmuKomunikasi FISIP mengenai teori tentang gaya komunikasi (communication style)dan kualitas pelayanan (service quality).2. Kegunaan PraktisPenelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan, sebagai dasarpertimbangan dalam usaha perbaikan BNI Syariah pada umumnya dan diharapkandapat memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sehinggadiharapkan jumlah nasabah dapat terus meningkat setiap harinya.I. 4. Metode PenelitianI.4.1. Tipe penelitianTipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory.I.4.2. Populasi dan Teknik Pengambilan SampelI.4.2.1. PopulasiPopulasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa dalam penelitian ini yaitunasabah laki-laki maupun perempuan usia diatas 15 tahun yang telah memiliki tabungan danmenjadi nasabah BNI Syariah Semarang minimal selama 6 bulan.I.4.2.2.SampelUntuk menentukan ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya, penelitimenggunakan penetapan sampel berdasarkan rumus Slovin:n = N1 + Ne2n = 23871 + 2387 (10%) ²n = 23871 + 23,87n = 238724,87n = 95,97 = 96 Responden.I.4.2.3. Teknik Pengambilan SampelPengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probabilitysampling / non random sampling dengan teknik accidental sampling. Yakni teknik penentuansampel berdasarkan siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti yang dapatdipergunakan sebagai sampel, jika dipandang orang yang ditemui itu cocok sebagai sumberdata (Ruslan, 2004:156).Adapun prosedurnya adalah kuesioner yang berjumlah 96 buah di distribusikan ke 3orang petugas customer service BNI Syariah Cabang Semarang, lalu customer servicememberikan kuesioner untuk diisi kepada nasabah yang datang ke meja customer service,yakni nasabah yang sesuai dengan kriteria responden dalam penelitian ini (minimal usia 15tahun,memiliki tabungan dan sudah 6 bulan menjadi nasabah BNI Syariah CabangSemarang).I.4.3. Jenis dan Sumber DataSumber data yang digunakan dalam penelitian digolongkan menjadi 2 sumber:1. Data PrimerData primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari kuesioner yang diisioleh responden di lapangan. Yaitu nasabah laki-laki maupun perempuan usia diatas 15tahun yang telah memiliki tabungan dan menjadi nasabah BNI Syariah Semarangminimal selama 6 bulan.2. Data SekunderData sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari literatur dan referensi lainnyayang relevan dengan penelitian. Seperti buku register harian pembukaan tabungannasabah, buku register harian komplain nasabah, Buku Pedoman Perusahaan (BPP)dan Buku Pedoman Standar Layanan Nasabah BNI Syariah.I.4.4. Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi.I.4.5. Instrumen PenelitianAlat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftarpertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban yang terstruktur yangharus diisi oleh responden.I.4.6. Teknik Analisis DataData mengenai pengaruh gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer serviceterhadap kepuasan nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang, yang telah diperolehdari sejumlah responden, kemudian disusun secara sistematis, faktual, dan akurat berdasarkandata di lapangan.Kemudian untuk menguji hipotesis penelitian ini, peneliti menggunakan analisaregresi linear sederhana dan analisa regresi berganda dengan bantuan program SPSS 16.Teknik ini digunakan untuk mencari koefisien korelasi antara nominal dan ordinalnya.I.4.7. Uji Validitas dan Reliabilitas1.4.7.1.Uji ValiditasUji Validitas dilakukan untuk mengukur sah / validnya suatu kuesioner. Suatukuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkansesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas ini membandingkan nilaimasing-masing item pertanyaan dengan nilai total. Apabila besarnya nilai total koefisien itempertanyaan masing-masing variabel melebihi nilai signifikansi maka pertanyaan tersebuttidak valid. Nilai signifikasi harus lebih kecil dari 0,05 maka item pertanyaan baru dikatakanvalid atau dapat dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (nilai korelatif/ nilai productmoment) dengan r tabelnya. Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel dan nilai rpositif dan signifikan, maka butir pertanyaan tersebut dikatakan valid (Ghozali, 2005:34).I.4.7.2. Uji ReliabilitasUji Reliabilitas merupakan uji kehandalan yang bertujuan untuk mengetahui sebarapajauh alat ukur tersebut dapat dipercaya. Kehandalan berkaitan dengan seberapa jauh suatualat ukur konsisten apabila pengukuran dilakukan secara berulang dengan sampel yangberbeda-beda. Uji Reliabilitas dilakukan dengan menggunakn Cronbach alpha (). Suatukonstruk/variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai (alpha () > 0,60 (Ghozali,2005:35).DAFTAR PUSTAKAAndito. 1998. Belajar Teori Behavioristik. Bandung : Pustaka Hidayah.Barata, Atep Adya. 2004. Dasar-Dasar Pelayanan Prima. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra AdityaBakti.Effendy, Onong Uchjana. 1993. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Fatmawati, Endang. 2007. Gaya Komunikasi Pustakawan Terhadap Pengguna: PengaruhTerhadap Kualitas Layanan Di Perpustakaan Fakultas Ekonomi UniversitasDiponegoro Unit S1 Reguler. Skripsi. Semarang: Fakultas Sastra UniversitasDiponegoro Semarang.Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS edisi 3.Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Griffin , Jill. 2005. Customer Loyalty Menumbuhkan dan Mempertahankan KesetiaanPelanggan. Jakarta: Erlangga.Kasmir. 2006. Etika Customer Service. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Kang, Juhee. 2012. Effective Communication Styles for The Customer-Oriented ServiceEmployee: Introducing dedicational behaviors in luxury restaurant patrons. UnitedStates: International Journal of Hospitality Management.Liliweri, Alo.2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana Prenada mediagroup.Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.Nasution. 2004. Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: Ghalia Indonesia.Prasetyo, Riza Fajar. 2012. Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap KepuasanNasabah pada Bank BRI Unit Sampangan. Q-MAN Vol.2 No.4. Desember.Rahmayanty, Nina. 2010. Manajemen Pelayanan Prima, Mencegah Pembelotan danMembangun Customer Loyalty. Yogyakarta: Graha Ilmu.Rangkuti, Freddy.2002. Measuring Customer Satisfaction: Gaining Customer RelationshipStrategy. Jakarta: Pustaka Utama.Ratminto dan Atik Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Ruslan, Rosady.2004, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Supranto, J. 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Rineka Cipta.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : Penerbit Andi.Venus, Antar. 2004. Manajemen Kampanye. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah Tangga Bertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa di Majalah Kartini Sari, Ayu Permata; Santosa, Hedi Pudjo; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.139 KB)

Abstract

Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa diMajalah KartiniSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Ayu Permata SariD2C009109JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama : Ayu Permata SariNIM : D2C009109Judul : Pemaknaan Pembaca Terhadap Kisah-kisah Rumah TanggaBertema Perselingkuhan dalam Rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartiniABSTRAKKehadiran rubrik-rubrik confession di majalah-majalah sebagai tempat curahanhati penulis menjadi pilihan bagi pembaca yang ingin berbagi kisah pribadinya.Rubrik Oh Mama, Oh Papa di Majalah Kartini menjadi rubrik pengakuan yangcukup dikenal sejak awal kemunculannya. Dengan menyajikan berbagai kisahkisahrumah tangga termasuk yang bertema perselingkuhan, rubrik ini jugamenampilkan konstruksi wanita dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitianini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan pembaca Majalah Kartini terhadapkisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan di rubrik Oh Mama, Oh Papadan konstruksi wanita di dalamnya. Teori yang digunakan Encoding/DecodingModel Stuart Hall, Relevance Theory dan Konstruksionisme Sosial. Tipepenelitian ini deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada keempat informan yaitu pembacarubrik Oh Mama, Oh Papa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaca rubrik Oh Mama, Oh Papa melihatrubrik tersebut sebagai rubrik berbagi wanita yang bermasalah dengan rumahtangga. Manfaat lain yang diperoleh dari rubrik ini sebagai sarana pembelajarandan hiburan. Kisah-kisah rumah tangga bertema perselingkuhan menarik dibacadan membuat pembaca penasaran dengan ending cerita. Konten lain sepertitanggapan psikolog dan kotak simpati serta penampilan visual rubrik Oh Mama,Oh Papa ini juga menarik. Tanggapan psikolog dirasa menolong dengan memberipenyelesaian masalah serta dukungan dan saran bagi penulis. Kotak simpatisebagai wujud rasa empati pembaca terhadap masalah penulis. Rubrik Oh Mama,Oh Papa yang menarik serta memberikan manfaat tersebut tidak membuatinforman ingin berpartisipasi dalam menulis kotak simpati danmerekomendasikan rubrik ini kepada teman atau kerabat yang memiliki masalahrumah tangga. Kisah-kisah rumah tangga yang dramatis dan terkadang tragismerupakan hasil karya editting redaksi yang bertujuan meraup keuntungan.Konstruksi wanita di rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai wanita lemah, tertindas,dan hidup dalam diskriminasi gender dan partiarkhi. Dibalik konstruksi, wanitadinilai kuat dan tegar menghadapi masalah rumah tangga sendiri. Dalam kisahperselingkuhan, wanita dan pria memiliki peluang sama menjadi pelaku. Posisipelaku tidak membuat wanita terlihat superior namun justru dinilai tidakterhormat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima rubrik OhMama, Oh Papa sebagai rubrik curahan hati yang berguna bagi yang bermasalahdengan rumah tangga.Kata kunci : Penerimaan pembaca, rubrik, konstruksi, rumah tanggaPendahuluan :Keluarga dan rumah tangga merupakan hal yang tak dapat dipisahkan darikehidupan seorang individu. Perselingkuhan oleh pasangan ini dinilai sebagaisalahsatu penyebab ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Ketidakharmonisandalam rumah tangga terkadang membuat pasangan ingin mengakhiripernikahannya dengan bercerai. Perselingkuhan juga bisa memicu konflikberkepanjangan yang perlu segera diatasi.Wanita yang menghadapi segala macam konflik rumah tangga inimembutuhkan tempat untuk berbagi cerita dan juga mendapatkan dukungan,saran, serta solusi untuk menyelesaikan konflik rumah tangga tersebut. Rubrik OhMama, Oh Papa di Majalah Kartini hadir sebagai tempat memenuhi kebutuhanwanita tersebut. Selain menampung berbagai macam kisah-kisah tentangpermasalahan rumah tangga yang dialami oleh wanita, rubrik ini jugamenyediakan bantuan psikologis yang mendukung wanita.Wanita yang pernah meluapkan kisah rumah tangganya dalam rubrik inidianggap lumrah oleh sebagian besar masyarakat, namun diluar dugaan ada pulakaum pria yang juga menceritakan kisahnya. Sosok pria dalam masyarakat kitadipandang lebih tangguh daripada wanita serta dapat menyelesaikan masalahnyasendiri. Psikolog dihadirkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa sebagai problemsolver yang menanggapi, memberi saran, solusi untuk permasalahan yangdihadapi. Disediakan juga kotak simpati di akhir sebagai tempat khusus untukpara pembaca mencurahkan simpati bagi penulis yang sedang menghadapimasalah.Kisah-kisah yang ditulis dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa terutama yangberkaitan dengan perselingkuhan seolah meyakinkan pembaca bahwa perempuanmemang perlu perlindungan dan dukungan. Kebebasan para wanita ini dalammencurahkan masalah mereka pada media massa mungkin merupakan salah satucara ampuh bagi mereka untuk menyelesaikan masalahnya. Hal-hal pribadi sepertimasalah rumah tangga bagi sebagian orang bukan suatu hal yang harusdisebarluaskan untuk dijadikan konsumsi khalayak umum. Namun di rubrik ini,wanita rela menceritakan masalah mereka untuk dibaca banyak orang.Pembaca diajak secara aktif menerima pesan dan memproduksi makna,tidak hanya menjadi individu pasif yang menerima makna yang diproduksi dalamrubrik Oh Mama, Oh Papa. Pemaknaan yang nantinya didapat oleh pembaca akandiolah dengan segala pengalaman dan latar belakang yang pernah pembaca alami.Majalah Kartini yang membidik kaum wanita sebagai pembacanya ternyatamenemukan sebagian kecil kaum pria pernah membaca dan ada pula yang tertarikmenuliskan kisahnya di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Kesimpulan yang bisa ditarikadalah pembaca majalah ini tak hanya wanita namun pria juga memiliki peluangmenjadi pembacanya rubrik tersebut.Bagi wanita, rubrik ini bisa dirasa sangat bermanfaat sebagai tempatberbagi cerita dan mendapatkan solusi atas masalah rumah tangga yang dihadapi.Namun lain halnya dengan pria, bisa saja setuju atau menentang adanya rubrik OhMama, Oh Papa ini. Terbukti dengan adanya pria yang pernah menceritakanmasalah rumah tangga di rubrik Oh Mama, Oh Papa.Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasi bagaimanapembaca secara aktif dapat memaknai isi pesan dari kisah-kisah rumah tanggaberkaitan dengan perselingkuhan yang disajikan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papapada majalah Kartini.Tujuan Penelitian :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayakmenginterpretasikan kisah-kisah rumah tangga berkaitan dengan temaperselingkuhan dalam teks media di rubrik Oh Mama, Oh Papa di MajalahKartini. Selain itu, penelitian ini juga ingin melihat bagaimana konstruksi sosokwanita di dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa.Kerangka Pemikiran :Stuart Hall’s Decoding Encoding ModelModel ini fokus pada ide bahwa audiens memiliki respon yang bermacammacampada sebuah pesan media karena pengaruh posisi sosial, gender,usia, etnis, pekerjaan, pengalaman, keyakinan, dan kemampuan merekadalam menerima pesan. Teks media dilihat sebagai sebuah jalanmenghadirkan “preferred reading” kepada audiens tetapi mereka tidakperlu menerima preferred reading tersebut. Preferred reading mengacupada cara untuk menyandikan kembali (decode) pesan yang menawarkanaudiens untuk menginterpretasikan pesan media pada segala kemungkinanyang dapat diperdebatkan.Teori Relevansi (Relevance Theory)Dan Sperber dan Deirdre Wilson dalam teori relevansi berusaha untukmenjelaskan bagaimana pendengar (listeners) memahami maksud atautujuan pembicara (speakers). Dua pendekatan yang digunakan untukmenjelaskan masalah ini yaitu model coding dan model inferential. Modelcoding sering kali dikaitkan dengan semiotika, atau berarti kata-kata dansimbol bersama-sama membentuk suatu makna. Model inferencemengusulkan bahwa makna tidak secara sederhana disampaikan tapi harusdisimpulkan oleh komunikator lewat bukti dalam pesan. Komunikasimanusia modern tidak bisa dijelaskan hanya dengan perspektif coding,membuat pendekatan inferential sangat penting. (Sperber dan Wilsondalam Littlejohn, 1999: 130)Khalayak Aktif Versus Khalayak PasifMedia mengenal dua kategori khalayak yaitu khalayak aktif dan pasif.Khalayak pasif dilihat sebagai orang-orang yang mudah dipengaruhi olehmedia. Sedangkan khalayak aktif dipandang sebagai kalangan orang-orangyang membuat keputusan aktif tentang bagaimana menggunakan media.Ide-ide mengenai konsep khalayak seringkali diasosiasikan denganberaneka ragam teori efek media sebagai kekuatan yang ‘powerful’ atauberkuasa terhadap khalayak pasif, sedangkan efek yang minim akandidapatkan media pada khalayak aktif.Media : Konstruksionisme SosialPaham konstruksionisme sosial (social constructionism) menurut hasilpenelitian Peter Berger dan Thomas lebih dipahami dan dikenal denganistilah the social construction of reality. Sudut pandang ini telahmelakukan penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusiadibentuk melalui interaksi sosial. Identitas benda dihasilkan daribagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untukmenangkap konsep kita, dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diripada pengalaman umum mereka. Oleh karena itu, alam dirasa kurangpenting dibanding bahasa yang digunakan untuk memberi nama,membahas, dan mendekati dunia. (Littlejohn, 2009:67)Rubrik dalam MajalahMajalah seperti sebuah club, yang mana fungsi utamanya adalahmemberikan wadah bagi pembaca untuk mendapatkan informasi denganmemberikan rasa nyaman dan menjadikannya kebanggaan bagiidentitasnya. (Winship dalam Jenny McKay, 2000:3). Ide yang dituangkandi dalam sebuah majalah memberikan wadah bagi pembaca agar dapatmenciptakan rasa saling memiliki dengan kelompok yang lebih luasmeskipun tujuan majalah utamanya adalah meningkatkan pendapatandengan menarik perhatian pembaca dengan segala konten yang ada didalamnya sehingga dapat mempertahankan konsumen yang tak lain adalahpembacanya.Kesimpulan Penelitian :1. Rubrik Oh Mama, Oh Papa diterima sebagai rubrik yang memberikan wanitatempat bercerita tentang kisah-kisah rumah tangganya. Rubrik ini mampumemberikan manfaat pembelajaran dan hiburan bagi pembaca.2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada keempat informan, kisah-kisahrumah tangga yang ditampilkan dalam rubrik Oh Mama, Oh Papamenunjukkan preferred reading yang ditawarkan dalam rubrik Oh Mama, OhPapa dapat dimaknai sebagai makna dominan dalam teks tersebut meliputikisah-kisah rumah tangga yang disajikan, tema perselingkuhan, tanggapanpsikolog, serta penampilan visual di rubrik Oh Mama, Oh Papa. Maknanegosiasi terjadi di dalam konstruksi wanita yang dihadirkan dalam rubrik OhMama, Oh Papa. Keempat informan menegosiasikan tentang bagaimanagambaran wanita yang sengaja ditampilkan sebagai sosok yang lemah,tertindas, selalu menerima ketidakadilan. Pemaknaan alternatif yang merekabentuk adalah menolak konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, OhPapa akan tetapi menganggap dengan adanya konstruksi tersebut,ditampilkan kekuatan, ketegaran dan kesabaran wanita dalam menghadapimasalah rumah tangga sendirian. Sedangkan posisi oposisi terdapat padaketidaktertarikan mereka untuk merekomendasikan teman atau kerabatmereka yang mengalami masalah rumah tangga bercerita ke rubrik Oh Mama,Oh Papa. Selain itu, kotak simpati untuk menunjukkan empati kepada penuliskisah dirasa tidak perlu ditampilkan.3. Konstruksi sosok wanita dalam rubrik Oh Mama, Oh Papa kurang berpihakpada wanita. Wanita digambarkan lemah, tertindas, terpaksa menerimaketidakadilan dalam diskriminasi gender dan budaya partiarkhi. Dalam kisahkisahbertema perselingkuhan, para informan memaknai berbeda tentangposisi pria dan wanita dalam perselingkuhan. Menurut para informan,perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya dilatarbelakangi alasanemosional sedangkan pada pria dilatarbelakangi faktor kejenuhan danbiologis. Citra wanita yang berselingkuh akan lebih buruk di mata masyarakatdaripada pria yang berselingkuh. Pria yang berselingkuh akan dipandangbiasa saja, namun pada wanita akan diberikan label rendahan, tidak terhormat,dan tidak bisa menjaga diri dan kelurga. Wanita menilai perselingkuhanmerugikan pihak wanita karena selain melukai hati wanita dan keluarganya,perhatian pria akan tercurah pada wanita lain. Pria menilai perselingkuhanbisa jadi wajar dilakukan apabila dalam rumah tangga tidak ditemuikeharmonisan dan kenyamanan.DAFTAR PUSTAKABuku :A. Bell, M. Joyce and D. Rivers. 1999. Advanced Media Studies. Hodder &StoughtonAllen, Pamela. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi; [Re]interpretasi FiksiIndonesia 1980-1995 (terj. Bakdi Soemanto). Magelang: Indonesiatera.Downing, John, Ali, Mohammadi, dan Sreberny, Annabelle. 1990. QuestioningThe Media : A Critical Introduction. London : Sage Publication, Ltd.Assegaf, Djafar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia. Jakarta.Baran, Stanley. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba HumanikaBaran, Stanley. 2012. Introduction to Mass Communication : Media Literacy andCulture (updated edition). McGraw-Hill EducationBerger, Peter L. & Thomas Luckmann. 1990. Langit Suci: Agama sebagaiRealitas Sosial (diterjemahkan dari buku asli Sacred Canopy olehHartono). Jakarta: Pustaka LP3ES.Burton, Graeme. 2002. More Than Meets The Eye: An intoduction to MediaStudies. London: Arnold PublisherByerly, Carolyn M dan Ross, Karen. 2006. Women and Media. United Kingdom :Blackwell PublishingChambers, Deborah, Steiner and Carole Fleming. (2004). Women And Journalism.London And New York.Djunaedi, Fajar. 2007. Komunikasi Massa Pengantar Teoritis. Yogyakarta:SantustaJane, Ritchie dan Luwis, Jane. 2003. Qualitative Research Practice. New Delhi :SAGE PublicationsJensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 1991. A Handbook of QualitativeMethodologies For Mass Communication Research. London : Routledge.Jensen, Klaus Bruhn & Nicholas W. Jankowski. 2002. A Handbook of Media andCommunication. Taylor&FrancisKasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan Konsep dan aplikasinya DiIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Littlejohn, Stephen W dan Foss, Karen A. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta : Salemba HumanikaMcKay, Jenny. 2000. The Magazines Handbook. New York.McKay, Jenny. 2003. The Handbook of Magazines. London : RoutledgeMcQuail, Dennis. 2003. Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMcQuail, Dennis. 2011. McQuail’s Mass Communication Theory. London : SagePublication, LtdMoleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Mosco, Vincent. 2009. The Political Economy of Communication (2nd edition).London : SAGE Publications, LtdNeuman, W. Lawrence. 2007. Social Research Methods: Qualitative andQuantitative Approaches – 6th Edition. Boston: Pearson EducationRayner, Philip, Wall, Peter dan Kruger, Stephen. 2004. Media Studies theEssential Resources. London dan New York: RoutledgeShoemaker, Pamela dan Resse, Stephen D. 1991. Mediating The Message :Theories of Influence on Mass Media Content- 2nd Edition. New York:Longmann PublisherTong, Rosemarie Putnam. 2004. Feminist Thought. Yogyakarta: JalasutraVivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : KencanaJurnal :Dwi Utami, Heni. 2004. KEKERASAN TERHADAP PREMPUAN DI MEDIAMASSA (Analisis Wacana Rubrik “Oh Mama, Oh Papa” di MajalahKartini). Universitas Muhammadiyah MalangIdi Subandi Ibrahim dan Hanif Suranto (Ed). 1998. Wanita dan Media, KonstruksiIdeologi Gender dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: Remaja RosdaKaryaWiratmo, Liliek Budiastuti dan Mohammad Ghiffari. 2008. RepresentasiPerempuan dalam Majalah Wanita, Jurnal Studi Gender dan Anak, PSGSTAIN Purwokerto, Vol. 3, No.1.Internet :Tanesia, Ade. 2011. Representasi Perempuan dalam Media. Pusat Sumber DayaMedia Komunitas (http://www.antaranews.com/berita/1269598504/sumurkasur-dapur-citra-perempuandimedia-Massa).Kamus Bahasa Indonesia Online dalam http://kamusbahasaindonesia.org/rubrikdiakses pada tanggal 9 September 2013 pukul 17.30 WIBMajalah Kartini, Bacaan Kaum Wanita. Dalamhttp://www.anneahira.com/majalah-kartini.htm Diunduh pada tanggal 25Maret 2013 pukul 05.21 WIBRubrik Oh Mama, Oh Papa diangkat ke Layar Televisi. Dalamhttp://arsip.gatra.com/2005-06-29/versi_cetak.php?id=85404 Diakses padatanggal 25 Maret 2013 : 05.40 WIB
Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika Dalam Film A Time to Kill Laurentius, Michael; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.178 KB)

Abstract

1ABSTRAKSINama : Michael LaurentiusNIM : D2C007056Judul : Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika AmerikaDalam Film A Time to KillAdapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penulisan ilmiah ini adalahuntuk mengetahui adanya representasi kekuasaan dan mengetahui visualisasi rasismemelalui pembagian kelas yang ada di film ini. Pemaknaan kedamaian positif yang ingindisampaikan melalui film A Time to Kill seakan seperti selaput yang menutupi superioritaskulit putih Amerika terhadap masyarakat kulit hitam.Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika.Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Untuk mengkaji makna tandayang terkandung pada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yangmengacu pada teori C.S. Peirce dengan identifikasi relasi segitiga antara tanda, penggunadan realitas eksternal sebagai suatu keharusan model untuk mengkaji makna. Representasidan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasan kebudayaan. Kedua hal inimerupakan sistem yang muncul dalam setiap pembahasan terkait dengan budaya atauculture. Perlu diketahui bahwa budaya terbentuk dari proses pembagian atau pertukarandari banyak makna. Kekuatan dalam representasi (power in representation) menunjukkanbagaimana kekuasaan dapat memberi tanda atau nilai tertentu, menetapkan danmengklasifikasi. Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudut pandangkultural dan terminologi simbolik.Oleh karena itu perlu dipahami secara kritis akan cara kerja representasi kekuasaandan rasisme dalam film meskipun film tersebut bertujuan positif dengan menampilkan sisikemanusiaan. Bisa jadi terdapat ketidaksamaan kekuatan (power) yang mencolok antara2kelompok yang satu dengan yang lain, ada pihak yang lemah dan ada pihak yang lebih kuatserta mendominasi banyak hal hingga pada akhirnya terciptalah sebuah konsep pandanganumum tentang adanya perbedaan kekuatan atau kekuasaan.3ABSTRACTIONName : Michael LaurentiusStudent Number : D2C007056Title : Representation of American White Power Against The AfricanAmerican in A Time to Kill MovieThe research objectives to be achieved in scientific writing is to know therepresentation of power and knows racism visualization through class divisions that exist inthis film. Meaning of a positive peace which is to be conveyed through “A Time to Kill”movie as if such membranes covering the white American superiority against the blackcommunity.Method of approach used in this study is semiotics. Basic understanding ofsemiotics is the study of signs. To assess the meaning of the sign is contained in the film, thisstudy uses a semiotic analysis method refers to the CS Peirce theory with the identificationof triangular relations between signs, users and external reality as a necessity model toexamine meaning. Representation and semiotics have a relationship in the discussion ofculture. Both of these are systems that arise in any discussion related to the culture. Keep inmind that the culture formed by the division or exchange of a lot of meaning. Power inrepresentation shows how power can mark or a specific value, specify and classify. Powermust be understood not only in terms of economic exploitation and physical coercion, butalso must be understood in the broader perspective of cultural and symbolic terms.Therefore, it will be critically important to understand how the representation ofpower and racism in the movie even though the movie aims to show the positive side ofhumanity. It could be that there is inequality strength (power) striking between the groupswith each other, there are those who are weak and there are those who are stronger anddominate many things and eventually created a concept of the common view of thedifference in strength or power.4REPRESENTASI KEKUASAAN KULIT PUTIH AMERIKA TERHADAP KAUMAFRIKA AMERIKA DALAM FILM A TIME TO KILL1.1 Latar BelakangLatar waktu pada film tepatnya diatur memasuki tahun 1982. Dimana padawaktu ini sang penulis John Grisham sebelum menjadi novelis yang sebelumnyamerupakan seorang pengacara pernah menangani kasus serupa. Novel pertamanya, ATime to Kill, terinspirasi dari kesaksian seorang perempuan berusia 10 tahun yangdibelanya yang menjadi korban perkosaan dan penganiayaan. Grisham begituterobsesi dengan perkara tersebut. Grisham menuturkan,”Apa yang akan terjadi jikaayah si gadis cilik itu membunuh para pemerkosanya. Saya akan menuliskannyakembali.”(http://sosok.kompasiana.com/2013/05/05/grisham-pengacara-yang-sukses-jadi-novelis-557505.html)Peneliti melihat novel populer ini sangat kontroversial dan sangat beranidengan judul yang sama dengan filmnya. John Grisham berani memutar ceritaberdasarkan pengalamannya dengan memposisikan seorang kulit hitam membunuhdua orang kulit putih karena dendam demi kehormatan dan keadilan. Ada maknayang ingin disampaikan John Grisham melalui novel ini berdasarkan judulnya, yaitumomentum seorang individu (kulit hitam) yang merasa sudah seharusnya membunuhorang kulit putih karena telah menghancurkan masa depan putrinya yang ia sayangi ,tidak akan ada waktu yang tepat bila kita menunggu karena waktu yang tepatditentukan oleh kita sendiri. Pemeran kulit hitam seakan diceritakan oleh JohnGrisham akhirnya sebagai pengambil keputusan, “sudah waktunya saya bertindak dansudah waktunya saya harus membunuh bila kehormatan dan keadilan tidak bisadiselamatkan” (A Time to Kill).Namun dibalik tujuan menggambarkan sebuah kerjasama antar ras terdapatbias yang terjadi dalam film ini yang bukan terkait makna kerjasama antar rasmelainkan ada makna tanda lain yang lebih dominan mengangkat citra kulit putih dansecara visual membentuk sikap rasis yang semuanya itu digambarkan secarakompleks melalui permainan dan kontrol kekuasaan yang didominasi oleh kulit putih.Oleh karena itulah, penulis sangat tertarik untuk mengangkat masalah ini sebagaibahan pembuatan penulisan ilmiah dengan memberi judul “Representasi KekuasaanKulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika dalam Film A Time to Kill”.5Film A Time to Kill juga memunculkan salah satu terminologi sosiologisberupa pembentukan kaum mayoritas dan minoritas. Dalam kehidupanbermasyarakat, hampir dimana ada kelompok mayoritas, baik di bidang agama,ekonomi, moral, politik, dan sebagainya. Minoritas lebih mudah ditindas dan lebihsering mengalami penderitaan karena tekanan oleh pihak mayoritas. Hubungan antarakaum mayoritas-minoritas sering menimbulkan konflik sosial yang ditandai olehsikap subyektif berupa prasangka dan tingkah laku yang tidak bersahabat(Schwingenschlögl, 2007). Secara umum, kelompok yang dominan cenderungmempertahankan posisinya yang ada sekarang dan menahan proses perubahan sosialyang mungkin akan mengacaukan status tersebut. Ketakutan akan kehilangankekuasaan mendorong mereka untuk melakukan penindasan dan menyia-nyiakanpotensi produktif dari kaum minoritas (Griffiths, 2006).1.2 Rumusan MasalahSecara visual umum film A Time To Kill menggambarkan perjuangan seorangkulit hitam, dimana dia harus membunuh dengan cara main hakim sendiri yaitumenembak dengan membabi buta kedua pelaku pemerkosa putrinya. Eksekusi dengandasar dendam ini dilakukan di aula pengadilan di muka umum saat dimana parapelaku pemerkosa tersebut akan diadili. Tindakan tersebut dilakukan oleh kulit hitamyang mengeksekusi dua orang kulit putih yang mana berdasarkan visualisasi latarbelakang waktu film ini digambarkan masih dalam era rasisme Amerika.Penggambaran film ini memperlihatkan bagaimana kasus ini diproses secara hukumdan di dalamnya secara jelas memperlihatkan dominasi tokoh kulit putih dalammenyelesaikan kasus pembunuhan interasial ini. Pengacara kulit putih dan timnyayang bersedia membela dan datang sebagai “pahlawan”, pengacara yang cerdas, danpantang menyerah. Berbeda dengan tokoh utama kulit hitam yang digambarkansebagai buruh, main hakim sendiri, emosional, dan pasrah terhadap kasus yangsedang dijalaninya kepada pengacaranya.Dalam merumuskan masalah ini, penulis akan mengemukakan beberapapermasalahan yang berkaitan dengan penjelasan di atas, yaitu sebagai berikut :1. Bagaimana representasi kekuasaan kulit putih dalam film A Time to Kill terjadi ?2. Bagaimana visualisasi rasisme dipraktikkan dalam peran dan tokoh film A Time toKill ?61.3 Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui adanya representasi kekuasaan kulit putih di Amerika dalamfilm A Time to Kill.2. Untuk mengetahui visualisasi rasisme dan pembagian kelas di Amerika yang adadalam film A Time to Kill.1.4 Maanfaat Penelitian1. Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan danmenggambarkan bagaimana proses terjadinya konstruksi sosial di dalam mediakhususnya dalam film A Time to Kill. Dalam film ini terdapat konstruksi sosialyang divisualisasikan antara kelompok mayoritas dengan minoritas yang jugadikaitkan dengan sebuah permainan kekuasaan serta rasisme disertai pemisahankelas yang secara tidak langsung dilakukan pihak mayoritas di balik tujuan untukmembantu minoritas.2. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikankesadaran kepada masyarakat agar dapat memahami bagaimana kekuasaan itudapat dimainkan di dalam kehidupan khususnya melalui media dengan berbagaibentuk baik itu dilakukan secara negatif ataupun di balik perilaku kekuasaan yangpositif. Masyarakat pun harus paham akan bagaimana kekuasaan baik dalam mediaataupun tidak melalui media dapat menciptakan suatu pembedaan dalammasyarakat itu sendiri bisa dalam hal paham, keyakinan atau agama, ras dan lainsebagainya. Khalayak luas pun harus dapat memahami secara kritis dan bijakterhadap pembedaan yang menciptakan perbedaan tersebut.1.5 KERANGKA TEORI1.5.1 State of The ArtPenelitian terkait representasi rasisme dalam penelitian melalui film sudahdilakukan oleh peneliti sebelumnya. Peneliti sebelumnya menjelaskan danmenggambarkan lebih mendalam terkait representasi rasisme dan kelas yangdiceritakan dalam film. Fenomena sosial seperti rasisme memang sering munculdan diangkat dalam media massa khususnya melalui film.7Penelitian sebelumnya hanya fokus pada representasi rasisme dan belumbanyak mengaitkan faktor representasi kekuasaan yangmembentuk pencitraanrasisme dan stereotyping suatu kelas dalam film. Ada hal menarik untuk ditelitilebih lanjut yaitu adanya bentuk representasi kekuasaan tersembunyi yangdilakukan oleh pihak dominan (di dalam film) sehingga menciptakan suatustereotyping kelas dan semuanya itu dicitrakan dalam beberapa film yangumumnya melibatkan tokoh-tokoh yang berbeda latar belakang budaya, agama,warna kulit, dan lain sebagainya.1.5.2 Fungsi Media (Film) Dalam Semiotika KomunikasiFungsi film yang bersifat audio visual atau bahkan dengan tambahan teksakan memudahkan makna dari tanda (sign) muncul ke permukaan sehinggapenonton dapat memahami semiotika komuikasi yang bisa jadi terlalu rumit dansulit dipahami maknanya. Penonton film yang mendengar dan melihat, memilikipemahaman tanda yang lebih cepat dimaknakan dibandingkan seorang pendengaraudio saja (contoh: radio) atau seorang yang hanya melihat secara visual tanpa teks(contoh: gambar poster).1.5.3 Representasi dan SemiotikaRepresentasi dan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasankebudayaan. Kedua hal ini merupakan sistem yang muncul dalam setiappembahasan terkait dengan budaya atau culture. Perlu diketahui bahwa budayaterbentuk dari proses pembagian atau pertukaran dari banyak makna (sharedmeanings) (Hall, 1997:1). Dalam pendekatan semiotika, sebuah representasidimengerti sebagai basis jalur kata-kata yang berfungsi sebagai tanda yangterdapat di dalam bahasa (Hall, 1997:42). Representasi dalam semiotika lebihmemikirkan pada representasi sebagai sebuah sumber produksi pengetahuan sosialatau social knowledge. Pengetahuan sosial ini merupakan sistem yang lebihterbuka, serta terhubung lebih banyak dan mendalam di setiap praktek-prakteksosial.Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudutpandang kultural dan terminologi simbolik, termasuk juga kekuasaan untukmerepresentasikan seseorang atau sesuatu dengan cara tertentu, hingga dapatdikatakan terdapat „rezim reperesentasi‟ di dalamnya (Hall, 1997:259). Hal initermasuk dalam penggunaan simbol kekuasaan (symbolic power) melalui praktek8praktek representasional. Stereotyping adalah elemen kunci dalam penggunaan„simbol kekejaman‟.1.5.4 Diskursus Dalam MediaSinema atau film dapat dikatakan merupakan salah satu institusi mediatekstual yang berperan menampilkan berbagai bentuk nilai sosial atau tanda dalambentuk imaji audio dan visual hingga dapat memproduksi efek realitas tertentu dimasyarakat. Diskursus dalam media erat kaitannya dengan kekuasaan yang munculdalam percakapan.1.5.5 Stereotype dan KekuasaanStereotype adalah citra mental yang melekat pada sebuah grup ataukelompok. Pengertian lain dari stereotype adalah penilaian terhadap seseoranghanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapatdikategorikan. Stereotype merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secaraintuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks danmembantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.Bias dalam film A Time to Kill terlihat mengarah pada penggunaankekuasaan kaum dominan yaitu orang kulit putih Amerika. Ada suatu gambaranpendiktean oleh sebuah kekuasaanyang dianggap lebih pintar dan bijak dalammenyelesaikan masalah rasisme serta dapat menjadi solusi terbaik. Kekuasaanbijak tersebut seakan direpresentasikan melalui tokoh-tokoh orang kulit putih.Dalam psikologi sosial interpersonal dan intergroup terdapat penjelasan dariSusan Fiske yang dibantu oleh kolega-koleganya (berdasarkan pengaruh teoriDacher Keltner) telah mengembangkan teori power as control (PAC) melaluiberbagai penelitian lab, survey, dan bidang neuroscientific (Dowding, 1996:504).Dalam hal ini PAC dapat diteliti berdasarkan gambaran kondisi dan situasi yangmemungkinkan suatu kekuasaan atau power muncul, dan melalui beberapadiskusi terkait bagaimana kekuasaan itu digunakan apakah untuk tujuan yang baikatau untuk menyakiti.91.5.6 Konsep Marxisme Dalam Media (film) Melalui Kode Konsepsi KelasBentuk metodologi Marxis dan kritiknya terhadap formasi sosialmenciptakan sebuah kelas. Berikut ini merupakan penjelasan serta contoh kasuspemetaan kelas yang divisualisasikan dalam sebuah film populer yang bersumberdari buku Marxism and Media Studies.1.5.6.1 Memetakan kelas (mapping class)Pembelajaran sekarang mengenai kelas sosial telah difokuskan padakelas menengah white-collar/kerah putih yang tidak manual dan kelas pekerjablue-collar manual. Kelas-kelas tersebut sering dibagi lagi dalam berbagaitingkatan dalam bentuk kategori-kategori pekerjaan. Klasifikasi khususnyaadalah sebagai berikut:Kelas menengah : profesional yang lebih tinggi, manajerial dan administrative,Ahli/profesional yang lebih rendah, manajerial danadministratifKelas pekerja : kemampuan manual (Skilled Manual) Kemampuan semimanual(semi-skilled manual)  Tidak memiliki kemampuan manual (unskilledmanual) (Haralambos 1985:48)1.6 Metodologi Penelitian1.6.1 Tipe PenelitianPenelitian tentang bias kekuasaan kaum kulit Amerika dalam film A Timeto Kill merupakan studi yang menggunakan pendekatan interpretif (subjektif)kritis dengan desain penelitian deksriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif bertujuanuntuk mempersilahkan pembaca mengetahui apa yang terjadi dalam penelitiantersebut dan bagaimana subjek memandang atau bahkan menilai kejadian tertentu.Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong,2004:3) mengemukakan metode kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kataatau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapatdiamati.101.6.2 Subjek PenelitianSubjek penelitian yang digunakan dalam penelitian berikut adalah film ATime to Kill yang rilis di Amerika tahun 1996. Film ini diangkat dari novel dengandengan judul serupa karya John Grisham yang secara garis besar menceritakankrisis dan konflik rasial antara kulit putih Amerika dengan kaum kulit hitam AfrikaAmerika.1.6.3 Metode RisetMetode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsemiotika. Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studitentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya,hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya olehmereka yang menggunakannya. Menurut Preminger (2001), ilmu ini menganggapbahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tandatanda(Kriyantono, 2006:265). Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan,konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tandamengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengenalanoleh penggunannya sehingga bisa disebut tanda (Fiske, 2011:61)Fokus penelitiannya adalah bagaimana bias kekuasaan direpresentasikandalam film A Time to Kill. Untuk mengkaji makna tanda-tanda yang terkandungpada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yang mengacupada teori Roland Barthes dengan model semiotika berupa signifier(penanda/teks), signified (petanda/konteks), sign (tanda).Stereotype negatif yang dilekatkan pada tokoh kulit hitam di film ini seakansudah menjadi mitos sejarah yang terus terpelihara dan dibenarkan sebagai budakdengan gambaran tanda atau sign kehidupan yang “kumuh”, “kurang terdidik”,“kasar / barbar” dan “sumber masalah”. Sedangkan tokoh-tokoh kulit putih (peranpengacara dalam film ini) secara dominan digambarkan secara lebih positif, “punyakuasa”, “berpenampilan rapih”, “lebih terdidik”, dan “seorang yang dapat mengontrolsituasi”, layaknya gambaran tuan tanah yang berusaha mengatasi aksi protes budakkulit hitam di masa sejarah rasisme.Denotasi yang muncul dari cuplikan gambar berupa seorang kulit hitamdengan penampilan lusuh menembakkan senjata, kemudian berada di penjara.11Ditambah lagi dalam gambar pemeran kulit hitam tersebut sempat berkata keras dankasar di persidangan yang ditujukan pada para pemerkosa yang sudah ia tembaksampai mati, “Yes, they deserve to die, and I hope they burn in Hell” (ya, merekapantas mati, dan saya berharap merek terbakar di neraka). Peran kulit putih adagambar selanjutnya digambarkan rapih, bersih, dan terpelajar (sebagai pengacara).Konotasi positif muncul pada peran kulit putih yang “jas dan berdasi” denganpekerjaan sebagai pengacara sehingga dimaknakan “punya kuasa atau berkuasa”untuk bertindak.1.6.4 Jenis DataSumber data penelitian ini adalah data teks, dimana data kualitatifberasal dari teks-teks tertentu. Penggunaan data ini disesuaikan denganpendekatan sistem tanda di dalam proses penelitian khususnya analisis semiotik.Berdasarkan buku Riset Komunikasi (Kriyantono, 2006:38), dalam kajiankomunikasi segala macam tanda adalah teks yang di dalamnya terdapat simbolsimbolyang sengaja dipilih, di mana pemilihan, penyusunannya, danpenyampaiannya tidak bebas dari maksud tertentu, karena itu akan memunculkanmakna tertentu. Sistem analisis yang dikembangkan yaitu sistem konotasi dandenotasi. Kata konotasi berasal dari bahasa latin “Connotare” menjadi tanda danmengarah kepada makna- makna kultural yang terpisah atau berbeda dengankata dari bentuk-bentuk komunikasi. Kata konotasi melibatkan simbol –simbol,historis dan hal – hal yang berhubungan dengan emosional. Denotasi dankonotasi menguraikan hubungan antara signifier dan referentnya. Denotasimenggunakan makna dari tanda sebagai definisi secara literal atau nyata.Konotasi mengarah pada kondisi sosial budaya dan emosional personal.1.6.5 Sumber DataData yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu :a. Data Primer, data ini diperoleh langsung dari objek penelitian yaitu dari filmA Time To Kill, yaitu akting, dialog, dan alur cerita.b. Data Sekunder, yang diperoleh dari sumber lain yaitu studi kepustakaandalam bentuk buku atau melalui situs internet, baik teori maupun informasiyang berkaitan dengan film A Time to Kill.121.6.6 Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang dilakukan adalahdengan studi dokumenter(documentary study).Studi dokumenter merupakan suatu teknik pengumpulan datadengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen,baik dokumentertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudiandianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasilkajian yang sistematis, padu dan utuh. Dalam penelitian ini film A Time to Killadalah objek utama penelitian yang nantinya akan dibantu dengan data-datapustaka atau dokumen lainnya terkait tujuan pembongkaran tanda-tandarepresentasi kekuasaan dan stereotype yang bersifat rasis.1.6.7 Teknik Analisis DataKode televisi sebuah acara atau film yang ditayangkan sudah dikodekan olehkode-kode sosial dalam beberapa tingkatan (Fiske, 2001:7-13) mulai dari;Tingkat satu:Reality, Tingkat dua : Representation, Tingkat tiga :Ideology (Ideologi)Realitas:Pengaturan Kamera (Camera Work), Pencahayaan (Lightning), Editing, Music,Casting, Setting and Costume, Tata Rias (Make Up), Action, Percakapan(Dialogue), Ideological Codes.1.6.8 Unit AnalisisUnit analisis dalam penelitian ini adalah teks visual dan audio yang ada dalambeberapa adegan dari film yang mencangkup gambar, narasi / copywriting, musik,warna, serta konteks cerita A Time to Kill.KesimpulanSetelah dilakukan penelitian dan kajian pustaka tentang film A Time to Killmemang dapat disimpulkan adanya nilai kemanusiaan yang kental melalui visualisasicerita. Tapi peneliti tidak melihat hanya dari nilai kemanusiaan yang menjadi intisaridari film ini, hal lainnya yang dapat digali lebih dalam untuk mengetahui kenyataanyang terlihat semu. Berdasarkan perumusan masalah maka peneliti dapat mengambil13beberapa kesimpulan bahwa film A Time to Kill secara keseluruhan penuh denganrepresentasi kekuasaan mutlak akan “kekuatan” yang lebih dominan yaitu orang kulitputih terhadap kaum negro. Saat peneliti mengesampingkan nilai kemanusiaan dalamfilm ini dan mencoba melihat lebih dalam dibalik “topeng” kemanusiaan itu sendiri.14DAFTAR PUSTAKABerger, Arthur Asa. 1982. Media Analysis Techniques.California. Sage Publications.Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PTRajagrafindoPersada.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Davis, Kenneth C. 2003. Don’t Know Much About History. New York: Harper-Collins Publishers.Dowding, Keith. 1996. Encyclopedia of Power. London: Sage Publications.Fiske, John. 2001. Television Culture. London: The Taylor and Francis Group elibrary.Fiske, John. 2011. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Foucault, Michel. 1997. Seks dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representation and Signifying Practies.London: Sage Publications.Kriyantono, Rachmat. 2006. Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.Mulyana, Deddy. 2006. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Remaja RosdakaryaThwaites, Davis dan Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies.Yogyakarta: Jalasutra.Wayne, Mike. 2003. Marxism and Media Studies: Key Concept and ContemporaryTrends. London: Pluto Press.15
MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKAN ANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINE Irsya, Eleonora; Santosa, Hedi Pudjo; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.912 KB)

Abstract

MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEAbstrakPortal berita online memberikan keleluasaan kepada pengaksesnya untuk mengunduhaplikasi situs berita dan berkomentar dalam kolom komentar yang disediakan hanya denganmembuat akun. Namun, banyak yang membuat akun dengan identitas lain atau tidak denganidentitas aslinya atau anonim. Hal itu dipermudah dengan tidak adanya verifikasi ketat ketikaakan membuat akun. Selain itu diduga adanya komunikasi hiperpersonal dalam portal beritaonline yaitu masyarakat lebih tertarik berkomunikasi dengan perantaraan internet daripadaberkomunikasi secara langsung. Banyak alasan yang mendasari mengapa mereka melakukan haltersebut ditambah dengan menggunakan akun anonim. Penelitian ini bertujuan untukmengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasi hiperpersonalmenggunakan akun anonim. Penelitian ini menggunakan landasan Computer MediatedCommunication Theory (CMC), Deindividuation Theory dan Dependency Theory.Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa Portal berita online, selain sebuah situsberita online juga merupakan media komunikasi maya, memungkinkan penggunanya dapatmenulis identitas yang diinginkan sebagai upaya membentuk suatu image tertentu. Akun anonymtersebut dibuat supaya diri mereka tidak mudah dikenali oleh orang lain ketika mengirimkankomentar. Ada pula yang merasa identitas tidak terlalu penting dalam kolom komentar karenadirinya tidak ingin terganggu oleh orang yang terganggu dengan komentar yang dikirimnya.Komunikasi hiperpersonal yang terjadi dikarenakan adanya sebuah kesepahaman yang terbentukwalaupun tidak mengenal latarbelakang masing-masing. Ada pula yang mempunyai keterbatasandalam berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan nyata sehingga beralih ke portal beritaonline untuk membahas isu-isu yang terjadi.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademisdan praktis. Implikasi akademis penelitian ini berupa kontribusi dalam memperkaya ilmupengetahuan mengenai interaksi dengan menggunakan media baru di mana terdapat fenomenamelakukan komunikasi hiperpersonal dengan akun anonim. Sementara itu, implikasi praktismemberikan rekomendasi bagi pengakses portal berita online dalam berperilaku sehingga dapattercipta komunikasi yang sehat.Kata Kunci: Media Online, Anonim, Komunikasi Hiperpersonal.UNDERSTANDING HYPERPERSONAL COMMUNICATION PHENOMENON USINGANONYMOUS USERNAME IN ONLINE NEWS PORTALAbstractOnline news portal provides flexibility for users to download the application news sitesapplication and submit a comment in the comments field which will if only users made theaccount. However, many user creates account using fake or anonymous identity. The access tobe anonymous user get easier by the absence of the detail verification when creating an account.Besides that, it is believed that using hyperpersonal communication is because people these dayare more interested to communicate using Internet than direct communication. Many underlyingreason that make them do so and also using the anonymous account. This research is aimsuncover the reason why using hyperpersonal communication using anonymous username. Thisresearch uses Computer Mediated Communication Theory (CMC), Deindividuation Theory andDependency Theory.The research’s outcomes found that online news portal, in addition to an online news siteis also a virtual communication media, allowing users to write the desired identity as an effort toestablish a certain image. The anonymous accounts were made so that they themselves are noteasily recognized by others when submitting a comment. There is also a feeling of identity doesnot really matter in the comments field because he did not want to bothered by people who aretroubled by the comments sent. Hyperpersonal communication that occurs due to a form ofunderstanding that even do not know the background of each. There also has limitations incommunicating with other people in real life so the switch to online news portal to address issuesthat occur.The research is expected to provide the implications of the academic and practicalaspects. Academic implications of this research is a contribution in enriching the knowledge ofthe interaction by using new media where there is a phenomenon Hyperpersonal communicatewith an anonymous account. Meanwhile, the practical implications of providingrecommendations to the access of online news portals to behave so as to create a goodcommunication.Key words : Online Media, Anonym, Hyperpersonal CommunicationMEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEKolom sign in or log in atau register or log in sudah tidak asing lagi ketika mengaksessosial media. Fungsinya adalah mendaftarkan identitas untuk memperoleh username. Apakahsulit? Tidak, tinggal mengisi kolom-kolom sesuai dengan data diri. Sayangnya, dewasa ini makinbanyak identitas non riil atau asal-asalan yang dibuat untuk berinteraksi antar pengunjung atauuser lain dalam media sosial tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya tuntutan untuk membuatidentitas username yang sesuai dengan identitas asli dan kebebasan untuk membuat sebanyakmungkin username.Mendaftar dengan verifikasi yang longgar memicu adanya identitas palsu yangmemberikan kebebasan dalam menggunakan sosial media. Kelonggaran identitas tersebut tidakterlepas dari salah satu karakteristik media baru yang disampaikan Feldman (dalam Flew2005:101) yaitu manipulable (mudah dimanipulasi). Masyarakat diberi kebebasan untukmemanipulasi, merubah data dan informasi secara bebas tanpa adanya batasan atau aturan.Belum pernah ada kasus hukum yang melibatkan users dalam sebuah portal media online karenakomentar yang melanggar etika.Masyarakat seperti diberi kesempatan untuk tidak perlu bertanggung jawab terhadapkomentar atau pendapat dengan pilihan kata yang tidak patut. Hal itu dikarenakan masyarakataman karena identitas mereka tidak riil atau berlindung dibalik username palsu. Manusia telahlupa pada kehidupan nyata dan terjebak dalam virtual reality di mana mereka lebih nyamanuntuk hidup di dalamnya. Internet digunakan sebagai pelarian untuk mendapatkan rasa nyamandan mengatasi rasa kesepian sehingga dapat mengembalikan harga diri sebagai makhluk sosial—tidak dapat hidup tanpa berinteraksi dengan orang lain.Orang yang hidup dengan menggunakan internet acap kali terjebak dalam situasi isolasisosial di mana dia lebih terbuka pada media tersebut. Orang-orang tersebut menggunakaninternet sebagai teknologi sosial atas solusi dalam mengatasi kesepian, ketidakberdayaan, dankehilangan harga diri (Maria Bakardjieva, 2005:123). Sedangkan Walther memberi nama“komunikasi hiperpersonal” untuk menggambarkan komunikasi dengan perantara komputer yangsecara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung. Dia memberikan tiga faktor yangcenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik: (a) e-mail dan jeniskomunikasi komputer lainnya memungkinkan presentasi diri yang sangat efektif, dengan lebihsedikit penampilan atau perilaku yang tidak diinginkan dibandingkan komunikasi langsung; (b)orang yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami proses atributif yangberlebihan yang di dalamnya dengan membangun kesan stereotip tentang partner mereka; dan (c)ikatan intensifikasi bisa terjadi dalam pesan-pesan positif dari seseorang partner sehingga akanmembangkitkan pesan-pesan positif dari rekan satunya (dalam Severin dan Tankard, 2005:462).Dalam dunia nyata identitas merupakan karakteristik esensial yang menjadi basis pengenalandari sesuatu hal, ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Menurut Chris Barker,identitas itu bukanlah sesuatu yang terberi (given), tetapi merupakan sesuatu yang dibuat(created). Sama halnya dengan virtual reality, identitas harus dibuat namun tidak mengharuskanakan kebenarannya.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan mengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkankomunikasi hiperpersonal menggunakan anonymous username.TeoriComputer Mediated Communication Theory and the problem of identityComputer Mediated Communication Theory digunakan untuk menjelaskan komunikasiyang terjadi dengan menggunakan media baru yang dinamakan internet. Teori ini digunakanuntuk menjelaskan komunikasi yang dalam hal ini memberi tanggapan atau komentar antarpemilik username pada portal berita online, di mana komunikasi tersebut terjadi dalam ruangvirtual yang dikenal sebagai virtual reality.Deindividuation TheoryTeori Deindividuation juga menegaskan bahwa masuknya individu secara mendalamdalam sebuah kerumunan atau kelompok mengakibatkan hilangnya identitas diri. Akibatnya,seseorang yang merasa kehilangan identitas pribadi lebih cenderung mendorong orang untukbertindak agresif atau menyimpang dari perilaku sosial supaya dapat diterima ketika merekaberada di pengaturan grup daripada ketika mereka sendirian. Dalam kaitannya dengan teorideindividuation, kondisi anonim dalam kelompok menyebabkan kurangnya kesadaran seseorangsiapa mereka sebagai individu.Dependency TheoryTeori ketergantungan media itu sendiri berpendapat bahwa pengaruh media ditentukan olehketerkaitan antara media, penonton, dan masyarakat. Keinginan individu untuk informasi darimedia adalah variabel utama dalam menjelaskan mengapa pesan media memiliki efek kognitif,afektif, atau variabel. Ketergantungan media tinggi, ketika individu mendapatkan kepuasan tetapibergantung pada informasi dari sistem media.Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif-deskriptif. Penelitiankualitatif mencari jawaban atas pertanyaan dengan menguji berbagai latar sosial dan individuyang menjalaninya. Moleong (2007:6) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitianyang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitianmisalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan denganmemanfaatkan metode alamiah.Mengungkap alasan atau motivasi yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasihiperpersonal menggunakan username anonym pada portal berita online membutuhkanpendekatan secara langsung di lapangan sehingga diperoleh pengetahuan baru berdasarkanpandangan para informan.Menurut Husserl (dalam Kuswarno 2009:40) fenomenologi bertugas untuk menjelaskanthings in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna danesensinya dalam intuisi dan refleksi diri. Proses ini memerlukan penggabungan apa yang tampakdan apa yang ada dalam gambaran orang yang mengalaminya. Jadi gabungan antara yang nyatadengan yang ideal.Salah satu komponennya yang menjadi analisis dalam penelitian ini adalah kesengajaan.Kesengajaan untuk membuat anonymous username untuk berkomunikasi dalam portal beritaonline. Kesengajaan selalu berhubungan dengan kesadaran, dengan demikian kesengajaanmerupakan proses internal dalam diri manusia. Faktor yang berpengaruh terhadap kesengajaanantara lain kesenangan (minat), penilaian awal dan harapan terhadap objek. Kesengajaan untukmembuat anonymous username dibangun oleh konsep pokok yaitu identitas menjadikan sebuahentitas yang masuk dalam kesadaran sama seharusnya identitas mempertahankan karakteristikdasar dari sebuah entitas. Dalam fenomenologi, identitas terdapat pada ilusi untukmempertahankan hal-hal pokok dari objek sehingga masih bisa dikenali. Dalam sisi portal beritaonline, individu merusak identitas ketika mengembalikan ilusi kepada kesadaran, inilah yangdisebut Husserl sebagai sebuah kesengajaan.PembahasanPerilaku Mengakses Internet dalam Kehidupan Sehari-hariInternet sebagai media komunikasi paling mutakhir bisa dipahami sebagai bagian darikomunikasi massa yang tujuannya memberikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak.Tetapi, karena adanya beberapa perbedaan karakteristik yang cukup signifikan sebagaiakibat perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat (Hadi, 2005:20). Portal beritaonline sebagai bagian dari internet telah menjadi bagian dari kebutuhan hiduppenggunanya. Dengan mengakses media sosial ini, pengakses portal berita online dapatmemanfaatkan internet sebagai ”sebuah alat” untuk memenuhi kebutuhan akan informasidan komunikasi manusia yang semakin tinggi. Ditambah lagi, dukungan piranti dalammengakses internet yang semakin praktis memungkinkan manusia dapat lebih mudahdalam mengakses internet dengan menggunakan handphone. Dari keterangan yangdiperoleh dari para informan, aktivitas yang cukup padat tidak menghalangi mereka untuktetap menyempatkan waktu mengakses portal berita online, walaupun sekadar mengecekataupun mencari informasi yang sedang up to date. Dari hasil penelitian, diperolehpemanfaatan lain dari portal berita online dan kolom komentar. Informan dari penelitianmengakui bahwa pemanfaatan portal berita online dan kolom komentar juga dapatdigunakan untuk menambah wawasan atas sebuah isu yang berkembang baik dibacanyasecara langsung atau diperolehnya dari komentar pengakses lain. Ditambah, para informantidak menemukan kelebihan yang dirasakannya menggunakan portal berita online darimedia konvensial. Para informan menganggap media konvensional sudah tidak praktis danekonomis, sehingga perlahan meninggalkan media konvensional untuk beralih ke mediaonline. Tidak semua portal yang ada di Indonesia diakses oleh para informan penelitian ini,paling sering dikunjungi adalah Detik.com, Kompas.com, Tempo.co dan Bola.net karenamenurut informan portal ini menjanjikan kecepatan informasi dalam mengakses berita yangterbaru. Selain itu, tampilan yang lebih sederhana dan lebih terfokus pada beritamenjadikan alasan menarik menjadikan akun portal berita pantas dipilih untuk diikuti. Darihasil penelitian, ditemukan bahwa informan menggunakan portal berita online sebagaimedia baru yang memiliki banyak kegunaan, seperti yang dikatakan McQuail (2000:128-129) yang menjabarkan konsep media baru yang dimiliki oleh portal berita online yaituTingkat Interaktivitas, Tingkat Social Presence, Tingkat Autonomy dan TingkatPlayfullness.Penggunaan Akun Anonymous dalam Portal Berita OnlinePara informan seperti terpengaruh oleh orang lain dan merasakan bahwa tidak adaketentuan yang ketat dalam pembuatan akun. Slouka dalam Ashar Hadi (2005:165)menjelaskan bahwa penggandaan identitas di Internet tak lebih dari sekedar komoditas.Artinya, identitas tidak bersifat esensial, melainkan dibentuk untuk kepentingankepentingan.Para informan juga mempunyai kepentingan menggunakan anonymous,mereka tidak ingin ditelusuri identitasnya karena tidak ingin berurusan dengan orang lainkarena komentarnya. Goffman (dalam Littlejohn dan Foss [eds], 2008:87) mengatakantentang bagaimana cara komunikator mempresentasikan dirinya (self-presentation).Kehidupan sehari-hari dapat dilihat seperti sebuah pertunjukan, di mana terdapat rasapenasaran apa yang akan ditampilkan oleh sang aktor dan yang akan membentuk suatukesan kepada khalayaknya. Seperti layaknya sebuah pertunjukan, terdapat dua bagian dimana aktor tersebut berperan, yaitu front stage dan back stage. Bagian front stage adalahtempat di mana pertunjukan tersebut berlangsung dan diatur sedemikian rupa. Bagianback stage adalah tempat di mana terdapat kesan yang berlawanan dari kesan yangdibangun saat pertunjukan (Goffman dalam Lemert dan Branaman [eds], 1997:Ixv).Akun anonymous yang dimiliki oleh para informan memainkan peran sebagaiaktor pada front stage. Dalam front stage, terdapat beberapa faktor penentu yaitu latar(setting), ciri khas (personal front), dan penampilan dan sikap (appearance and manner)(Goffman, 1956:13-16). Sebagai aktor pada front stage, akun anonymous diharuskanmenyembunyikan beberapa hal, seperti misalnya kesalahan (errors) yang secara tidaksengaja muncul saat persiapan pertunjukan atau saat pertunjukan tersebut berlangsung(Goffman, 1956:27). Hal itu dilakukan oleh para informan dengan membaca ulangkomentar yang hendak mereka kirimkan dan menambah wawasan mereka telebih dahulusebelum memberikan komentar. Goffman sendiri yang mengatakan bahwa untukmemperoleh peran, maka seorang aktor tidak diperkenankan untuk membiarkan dirinyamengalami ejekan, hinaan, dan berbagai bentuk perendahan diri (1956:29). Sependapatdengan Goffman, para informan menghindari hal-hal negatif yang bisa saja terjadidengan menyembunyikan identitas asli mereka. Seperti yang dikatakan oleh Goffman(1956:28), untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang bagus, standar ideal yangdimiliki seorang aktor dapat diperoleh dengan mengorbankan privasi dirinya ataubeberapa hal yang berhubungan dengan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Privasibukan saja seputar identitas namun juga berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehaktor pada back stage. Para informan tidak memberikan tambahan informasi mengenaidiri mereka sebenarnya dalam bentuk apapun dalam akun anonymous. Bagaimana punjuga, meski terdapat tekanan dari suatu bagian untuk dapat diidentifikasi sebagai frontdan back dari sebuah pertunjukan yang di mana saling berhubungan satu sama lain, tetapakan ada beberapa bagian yang fungsinya dapat saling bertukar, kapan menjadi front dankapan menjadi back, dan juga sebaliknya (Goffman, 1956:77). Hal ini menurut parainforman bergantung pada rubrik berita yang mereka baca, mereka bisa menjadi dirisendiri ketika mengomentari hal yang mereka suka, bola misalnya. Berbeda ketikamengomentari news dan isu politik yang mereka belum tentu paham.Perilaku Komunikasi Hiperpersonal dalam Portal Berita OnlineTerdapat perbedaan pandangan pengakses portal berita online dalam menyikapikomunikasi dengan menggunakan media virtual ini. Pandangan pertama, bahwa portalberita online memberikan kenyamanan kepada penggunanya sebagai media komunikasiyang mudah. Portal berita online memberikan situasi yang berbeda di mana penggunanyadapat menentukan momen yang tepat dalam membuat komentar sehingga orang dapatmemberikan respon yang sesuai dengan harapan. Maka dari itu, pengakses portal beritaonline berusaha menyesuaikan dengan orang lain sehingga dapat tertarik untuk meresponkomentar yang dibuatnya. Harapan (expectation) yang dimaksud dalam bahasan iniadalah seperti yang dijelaskan oleh West dan Turner (2008:159) yang dapat diartikansebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan oranglain. Oleh karenanya, termasuk di dalam harapan ini adalah perilaku verbal dan nonverbalseseorang. Akan tetapi, harapan dalam komunikasi pengakses portal berita onlineberkaitan dengan isi berita dan perilaku yang diwakilkan oleh tulisan yang dibuat olehpenggunannya di portal berita online. Untuk memaknai harapan yang bersifat non-verbalcukup berbeda dengan dunia nyata karena para pelaku komunikasi tidak bertemu secaralangsung. Burgoon dan Hale menyatakan ada dua jenis harapan : prainteraksional daninteraksional.Harapan pra-interaksional (pre-interactional expectation) mencakupjenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang dimiliki oleh komunikatorsebelum memulai percakapan. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian mengenaiperilaku pengakses portal berita online, para pengakses portal berita online tidakselalu mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankansebuah percakapan. Percakapan yang terjadi tidak selalu sesuai yang diharapkankarena belum tentu suatu permulaan pembicaraan dapat menarik orang lain untukturut berkomentar atau mengomentari komentar yang dibuat oleh para informan.Pengetahuan akan komunikan dan keahlian kecakapan interaksional komunikatorsangat besar pengaruhnya.Harapan interaksional (interactional expectation) merujuk padakemampuan seseorang untuk menjalankan interaksi itu sendiri. Kebanyakan orangmengharapkan orang lain untuk menjaga jarak sewajarnya dalam sebuahpercakapan. Menurut Burgoon dan Hale kemampuan seseorang dalammenjalankan interaksi ini sering kali mempertimbangkan isyarat non-verbal danketergantungannya pada latar belakang budaya dari komunikator. Dengandemikian, harapan akan terpenuhi oleh budaya tempat komunikator tinggal.KesimpulanPerangkat elektronik seperti perangkat komputer atau laptop serta gadget seperti smartphone danandroid memudahkan para pengakses portal berita online untuk selalu terhubung dengan internetdan mengakses situs berita. Walaupun tidak praktis dibandingkan dengan gadget, intensitasmengakses internet menggunakan komputer tidak kalah dengan pengguna gadget canggih.Media konvensional meliputi koran dan majalah sudah tidak efisien dibandingkan dengan situsberita online dalam menyajikan sebuah news dan perkembangan isu-isu yang sedang hangatdiperbincangkan. Situs berita online dianggap lebih efisien dan hemat dan memiliki efek dominoyang mampu membawa pembaca untuk mengetahui berita secara mendalam dan dalam berbagaisisi yang berbeda. Ditambah dengan kemudahan interaktif yang disediakan dalam bentuk kolomkomentar.Pembuatan akun anonymous yang dilakukan merupakan dianggap tidak menyalahi peraturankarena tidak ada peraturan yang berlaku tegas dalam pembuatan identitas dalam portal beritaonline. Nama yang dipakai ada yang tidak jauh dari identitas asli namun ada yang sangat jauhdari identitas asli. Hal ini dimanfaatkan para pengakses portal untuk bisa berkomentar tanpadikenali langsung oleh orang lain. Mereka tidak ingin terganggu ruang privasinya karenakomentar yang dikirimkan.Komunikasi dalam portal berita online sangat rentan terhadap mis-understanding dalammemaknai pesan. Kecakapan pengakses portal berita online dalam menyampaikan pesan kepadapengakses lain dianggap penting dalam berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapatdimaknai secara benar dan tidak menyinggung orang lain.Kekurangan dalam berkomunikasi langsung dan kekurangan dalam diri sendiri menjadi salahsatu alasan pengakses portal berita online untuk secara nyaman berkomunikasi via portal beritaonline. Identitas baru yang dibuat bisa saja diketahui kemudian hari, namun pengakses portalberita dan pemilik akun anonymous tidak gentar dan takut karena mereka merasa benar danberkomentar secara sopan.
Kajian Ekonomi Politik Sinetron Religi Adelia, Rika Futri; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.725 KB)

Abstract

Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia (D2C009076)AbstrakPenduduk Indonesia yang beragama Islam merupakan pangsa pasar baru bagi produk budaya sinetron religi yang saat ini sedang digemari oleh berbagai rumah produksi. Dari segi produksi, keberadaan para pekerja media menjadi unsur penting terciptanya sinetron religi. Selain itu, ada juga data rating milik Nielsen Indonesia yang digunakan sebagai acuan produksi sinetron religi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh bagaimana proses produksi sinetron religi. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para industrialis memperlakukan para pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi. Penelitian ini menggunakan landasan culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),dan konsep nilai-lebih (karya Karl Marx dalam Magnis-Suseno, 2003). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada lima informan yang memiliki jabatan yang berbeda, yakni produser pelaksana, penulis naskah, sutradara, pemain,dan editor final.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kepentingan bisnis yang ingin dicapai oleh rumah produksi ketika memproduksi sebuah sinetron religi yaitu berupa hasrat untuk terus bersaing dengan perusahaan hiburan lain dan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Meskipun ada pesan dan nilai-nilai agama yang ingin disampaikan kepada masyarakat namun hal tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan kepentingan komersil yang ingin dicapai. Selain itu sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Terjadi pula eksploitasi terhadap para pekerja media yang terlibat langsung dalam rangkaian proses produksi sinetron religi pada tahap creation. Penilaian terhadap proses kerja para pekerja media maupun kesuksesan sinetron religi sendiri bergantung pada data rating yang dikeluarkan Nielsen Indonesia. Keberadaan rating sebagai bentuk komodifikasi imanen yang mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang ada.Kata kunci: ekonomi politik media, komodifikasi tenaga kerja, sinetron religi indonesia.Political Economy Studies of Religious Soap OperaRika Futri Adelia (D2C009076)AbstractIndonesian Muslim population is a new market for cultural products religious soap opera that is currently favored by many production houses. In terms of production, the existence of media workers become an important element of religious soap opera creation. In addition, there is also a Nielsen ratings data belonging Indonesia allegedly used as a reference for religious soap opera production. The purpose of this study was to find out more about how the religious sinetron production process. In addition, to find out how the media industrialists treat workers involved in the production process of religious soap opera. This study uses basis culture industry (Adorno, 1991), commodifications (Vincent Mosco, 2009),and the concept of surplus value (by Karl Marx in Magnis-Suseno, 2003). This type of research is associated with a qualitative descriptive analysis of the political economy of media. Data was collected using in-depth interview to five informants who have a different position, the executive producer, script writer, director, artist/actor and final editor.These results indicate the existence of business interests to be achieved by the production when producing a soap opera in the form of religious desire to continue to compete with other entertainment companies and make a profit as much as possible. Although there is a message and religious values has to say to the public, but it is smaller when compared with commercial interests to be achieved. Beside it, religious soap opera elements combined match with other themes, such as drama, comedy and others, will become a promising business. There is also the exploitation of media workers who are directly involved in the production process at the stage of creation of religious soap opera. Assessment of the labor process and the success of media workers themselves religious soap operas rely on Nielsen ratings data owned by Indonesia. Rating as the existence of a form immanent commodification decisions affecting the advertisers to place ads in a commercial break existing slot.Keywords: political economy of media, commodification of labor, religious indonesian soap opera.Kajian Ekonomi Politik Sinetron ReligiRika Futri Adelia, Dr. Hedi Pudjo Santosa, M. Si. (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S. Sos, M.Si. (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Latar belakang dalam penelitian ini menjelaskan tentang deskripsi singkat keberadaan dan kondisi para pekerja media dalam sinetron religi. Awalnya, para pekerja media ini adalah para sineas yang memiliki kebebasan berkreasi di bidang sinematografi dan seni peran dalam rangka menciptakan sebuah karya sinema yang berkualitas. Namun, campur tangan para industrialis telah mengubah kebebasan berkreasi yang dimiliki menjadi sesuatu hal yang dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan finansial. Sedangkan sinetron religi merupakan salah satu produk baru industri budaya yang sedang digemari oleh masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya data rating dan share beberapa sinetron religi dari tahun 2011 hingga tahun 2013. Oleh karena itu, sinetron religi bukan lagi merupakan program acara spesial yang hanya tayang saat bulan Ramadhan tiba akan tetapi mampu dinikmati tiap hari pada jam-jam prime time.Adanya perubahan pola penayangan sinetron religi ikut serta mengubah pola produksi sinetron religi itu sendiri. Proses produksi (dari pra produksi hingga pasca produksi) dilakukan secepat mungkin menyesuaikan tenggat waktu yang diberikan pemilik modal sebelum sinetron religi dapat ditayangkan, yaitu kira-kira 24 jam. Hal ini menempatkan sinetron religi sebagai salah satu komoditas industri budaya yang cukup menjanjikan dan mampu menghasilkan keuntungan yang melimpah. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya merupakan satu bentuk kebudayaan massa dan produksinya berdasarkan pada mekanisme kekuasaan sang produser dalam penentuan bentuk, gaya, dan maknanya (Adorno, 1991:99). Oleh karena itu, para sineas dan orang-orang yang terlibat dalam proses produksi dijadikan sebagai salah satu sasaran komodifikasi sinetron religi hingga akhirnya mampu menciptakan sebuah tayangan yang sesuai dengan keinginan pasar. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui prosesproduksi sinetron religi pada tahap creation dan ingin mengetahui cara pandang industrialis terhadap keberadaan pekerja media yang terlibat dalam proses produksi sinetron religi.PEMBAHASAN: Sesuai yang dikatakan Picard (1989) bahwa media massa adalah lembaga perekonomian karena terlibat dalam sebuah produksi dan penyebaran konten yang ditargetkan untuk para konsumen (Albarran, 1996:3). Oleh karena itu, banyak perusahaan hiburan berusaha menyajikan konten-konten media dalam kemasan program acara yang menarik dan disukai para penontonnya. Salah satu program acara yang menjadi primadona dalam mengumpulkan banyak laba bagi sebuah perusahaan hiburan adalah sinetron religi.Tema atau genre adalah suatu formula produksi yang memiliki karakteristik dan jenis yang berbeda-beda terkait dengan penggunaan dan kesenangan tertentu (Pearson dan Simpson, 2001:273). Beberapa genre ada yang populer dan memiliki daya tarik tertentu pada masanya sehingga seringkali hal tersebut diproduksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu pula. Demikian juga dengan sinetron Pesantren & Rock n Roll 3 (PRR 3) yang mengusung tema drama religi komedi atau lebih sering disebut dengan religi komedi romantis. Unsur komedi dalam sinetron religi PRR 3 terlihat pada adegan-adegan yang dimainkan oleh Ramzi, Rizky Alatas, Cecep Reza, Andi Peppo dan Kukuh Riyadi. Unsur drama sendiri diperankan oleh Aulia Sarah, Rizky Nazar, Dinda Kirana, Rizky Alatas dan Indri Giana. Visualisasi simbolik Islam yang dilakukan oleh Karsono Hadi melalui pakaian muslim yang dikenakan oleh para pemain dan setting background yang dipilih. Kolaborasi antara ketiganya menjadi formula ampuh garapan Screenplay Productions hingga mampu menyedot perhatian banyak penonton.Dengan adanya penambahan unsur komedi dan drama percintaan dalam PRR 3, menjadikan sinetron religi sebagai sebuah produk industri budaya. Menurut Theodor W. Adorno, industri budaya adalah sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya yang mengatur produksi mulai dari hal-hal penting untuk membuat kepentingan (Taylor dan Harris, 2008:62-63). Dalam industri sinetronreligi terdapat komodifikasi terhadap tenaga kerja. Komodifikasi yaitu proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar. Hal ini terkait dengan bagaimana tindakan komunikasi manusia menjadi produk yang mampu mendatangkan keuntungan (Mosco, 2009:130). Jadi, komodifikasi tenaga kerja artinya industri sinetron religi menciptakan tenaga kerja dengan sistem upah.Tenaga kerja yang dimaksud adalah para pekerja media yang terlibat langsung dalam proses produksi budaya yang mana berada pada tahap creation dalam analisis Bill Ryan (1992) mengenai sirkulasi produksi budaya (Hesmondhalgh, 2007:68). Hal ini dikarenakan tahap creation adalah awal dan inti dari gterciptanya sebuah produk budaya itu sendiri. Tahap creation tersebut meliputi conception atau preproduction, execution atau production dan transcription atau postproduction. Keberadaan para pekerja media yaitu seperti penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor, kameraman, tim artistik dll menjadi aset berharga yang dimiliki perusahaan karena mereka lah yang bertindak sebagai symbol creators. Symbol creators adalah para pekerja utama dalam pembuatan sebuah produk media yang melibatkan kemampuan kreatifitas yang dimiliki (Hesmondhalgh, 2007:5). Hasil kerja symbol creators inilah yang nantinya mampu memberikan masukan keuntungan bagi perusahaan.Dengan adanya komodifikasi tenaga kerja maka muncul pula proses eksploitasi karena eksploitasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses kerja kapitalis. Menurut kalangan Marxis, eksploitasi terbagi menjadi dua yaitu eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang nantinya akan mampu meningkatkan perolehan laba bagi perusahaan tempatnya bekerja. Eksploitasi absolut merupakan suatu proses pemanfaatan para pekerja media semaksimal mungkin dengan cara memperpanjang hari kerja yang dimiliki untuk upah yang sama (Mosco, 2009:131). Perpanjangan hari kerja terjadi karena perusahaan merasa memiliki seluruh kemampuan yang ada pada diri tenaga kerja yang dibayarkan melalui sistem upah atau gaji sehingga perusahaan berhak memanfaatkannya selama yang diinginkan. Adanya waktu kerja yang tidak terbatas adalah salah satu caraperusahan mendapatkan laba dari para pekerja media. Sistem kerja pun bergerak mengikuti kemauan sang pemilik perusahaan.Sistem kerja yang terjadi pada Screenplay Productions ketika memproduksi sebuah sinetron religi PRR 3 adalah proses produksi sinetron religi hanya dilakukan selama satu hari per episodenya. Hal ini menjadikan alur proses produksi berlangsung secara beriringan mulai dari penulisan naskah, pengambilan gambar, pemahaman naskah hingga proses editing untuk kemudian diserahkan kepada pihak broadcast. Selain itu, para pekerja media juga tidak memiliki jam kerja karena penentu jam kerja bergantung pada seberapa cepat menyelesaikan beban tugas yang diberikan oleh produser pelaksana PRR 3. Tidak adanya istilah kerja lembur ikut serta meniadakan biaya overtime bagi pekerja media.Adanya penerapan pola produksi kejar tayang dan tidak adanya biaya overtime dalam proses pembuatan PRR 3 yang menjadikan para pekerja media tidak memiliki waktu libur atau cuti sehari pun. Penggabungan antara keduanya merupakan sebuah nilai-lebih yang dimiliki oleh perusahaan untuk dapat memperoleh keuntungan secara maksimal dari proses eksploitasi absolut terhadap para pekerja media. Nilai-lebih sendiri berarti diferensiasi antara nilai yang diproduksikan selama satu hari oleh seorang pekerja dan pemulihan tenaga kerjanya (Magnis-Suseno, 2003:185-186).Sedangkan eksploitasi relatif adalah upaya intensifikasi proses kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja yang berlaku (Mosco, 2009:131). Oleh karena itu, ketika salah seorang pekerja media berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu bukan berarti dirinya benar-benar selesai. Para pekerja media dituntut untuk terus produktif dengan berbagai cara, seperti misalnya pembenahan terhadap kendala internal dan eksternal maupun upaya pemenuhan permintaan dari rumah produksi. Hal-hal semacam itu terjadi ketika para pekerja media sedang mengerjakan proses kreatifnya, baik pada saat preproduction, production maupun postproduction.Dalam teori laba yang dikemukakan oleh Marx menyebutkan bahwa tenaga kerja termasuk sebagai baku baku variabel yang istimewa karena dalam proses pemakaiannya akan menghasilkan produk baru yang memiliki nilai lebih (Magnis-Suseno, 2003:190-191). Oleh karena itu, Screenplay Productions memanfaatkan pertukaran antara gaji dengan sumber daya yang dimiliki para pekerja media semaksimal mungkin untuk menghindari terjadinya kerugian dan mendapatkan perolehan laba yang lebih besar lagi. Besarnya gaji tersebut berbeda untuk tiap pekerja media, yaitu penulis naskah memperoleh gaji sekitar 2-5 juta/episode, sutradara 5-7,5 juta/episode, co-sutradara kurang lebih 2 juta/episode, pemain senior yaitu Ramzi kira-kira 2 milyar/bulan dan editor final 7-10 juta/bulan.Perpaduan antara waktu kerja yang tidak terbatas dengan rangkaian proses dan beban kerja yang dialami oleh Novia Rini Faizal, Karsono Hadi, Ramzi, Zurvi B.K. dan yang lainnya merupakan cara yang dipakai oleh Screenplay Productions agar perusahaan tidak mengalami kerugian karena telah membeli kemampuan mereka dengan sejumlah uang yang telah disepakati sebelumnya. Atas dasar itu maka rumah produksi merasa memiliki keseluruhan potensi diri masing-masing pekerja media yang mengakibatkan terjadinya eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif sebagai suatu hal yang normal dan bisa dimaklumi. Hal ini dikarenakan apa yang dikerjakan masih menjadi beban kerja yang harus diselesaikan dan masih berada dalam waktu kerja yang disepakati. Terjadinya perlakuan eksploitasi terhadap pekerja media tanpa batas ini menjadikan konsep eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif yang diungkapkan oleh kalangan Marxis sedikit kabur.Selain itu, Screenplay Productions tidak hanya menggunakan komodifikasi tenaga kerja melalui proses eksploitasi absolut dan eksploitasi relatif tetapi juga memanfaatkan keberadaan rating yang dimiliki oleh Nielsen Indonesia. Rating digunakan sebagai alat pengukur kesuksesan sinetron religi PRR 3 dan parameter keberhasilan proses kerja yang dilakoni oleh masing-masing pekerja media. Hampir setiap hari Screenplay Productions membeli data rating PRR 3 yang dikeluarkan oleh Nielsen Indonesia yang mana data tersebut digunakan sebagaiacuan pembuatan naskah untuk episode berikutnya. Jadi, ketika ratingnya bagus maka konflik cerita akan terus dipertahankan namun jika tidak baik maka konflik cerita akan diubah dan dicari permasalahan yang lebih menarik lagi. Terjadinya ‘ketaatan’ terhadap hasil rating menjadikan keberadaan rating sebagai sebuah komoditas baru dalam industri sinetron religi. Rating terbentuk melalui proses komodifikasi imanen yang tercipta sebagai akibat langsung dari adanya komodifikasi lain (Mosco, 2009:141).Posisi PRR 3 yang selalu masuk 5 besar rating tertinggi menjadikannya sebagai salah satu program acara terlaris saat jam prime time sehingga banyak pemasang iklan yang mengisi slot jeda iklan yang disediakan oleh Screenplay Productions. Banyaknya pemasang iklan yang berebut slot jeda iklan tersebut ikut serta menambah keuntungan yang didapat dari segi penjualan sinetron religi PRR 3. Hal ini dikarenakan data rating mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dengan cara membayarkan sejumlah uang tertentu kepada pemilik program acara (Pearson dan Simpson, 2001:39). Oleh karena itu, kualitas program acara bukan lagi menjadi prioritas utama melainkan tergantung pada apa yang disukai dan tidak disukai oleh masyarakat yang tergambar melalui hasil rating hingga nantinya mampu menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan.PENUTUP: Sinetron religi yang dipadu padan dengan unsur tema lain, seperti drama, komedi dan yang lainnya, akan menjadi sebuah bisnis yang cukup menjanjikan. Sinetron tersebut muncul karena adanya tren yang sedang berkembang, pangsa pasar masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, menyukai hal-hal yang lucu dan berbau drama. Selama proses produksi berlangsung (preproduction, production, postproduction) terjadi eksploitasi terhadap para pekerja media, baik penulis naskah, sutradara, pemain/aktor, editor maupun kru lainnya. Ada juga data rating dan share sebagai bentuk komoditas baru yang dijadikan acuan untuk mengukur kesuksesan sinetron religi yang telah diproduksi dan penilaian terhadap proses kerja yang dilakukan oleh para pekerja media dari mulai pembuatan naskah hingga proses editing selesai dan ditayangkandi stasiun televisi tertentu. Selain itu, posisi rating dan share juga mempengaruhi keputusan para pemasang iklan untuk menempatkan iklannya dalam slot jeda iklan yang disediakan oleh pihak program acara. Semakin baik posisi rating dan share sinetron religi maka semakin banyak pula perolehan keuntungan bagi rumah produksi.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Albarran, Alan B. (1996). Media Economics: Understanding Markets, Industries and Concepts. USA: Iowa State University Press/Ames.; Hesmondhalgh, David. (2007). The Cultural Industries: 2nd Edition. London: Sage Publications.; Magnis-Suseno, Franz. (2003). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Pearson, Roberta E. dan Philip Simpson. (2005). Critical Dictionary of Film and Television Theory. New York: Routledge.; Taylor, Paul A. dan Jan LI. Harris. (2008). Critical Theories of Mass Media: Then and Now. England: Open Universitu Press.
Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan ODHA Bergabung Untuk Membangun Kepercayaan Diri Nuraga, Nugraheni Yunda; Suprihatini, Taufik; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS merupakan sebutan di Indonesiabagi mereka yang mengidap HIV/AIDS. Keberadaan ODHA selalu dipandangsebelah mata oleh kebanyakan orang. Di Indonesia masyarakat menganggap virusHIV/AIDS sebagai suatu aib, masyarakat lebih memilih menghindari ODHAbahkan berdampak hingga orang – orang terdekat ODHA seperti orang tua,saudara dan teman. Masyarakat menganggap demikian karena kebanyakan orangmengkaitkan virus HIV/AIDS dengan sex bebas atau penggunaan narkoba.Muncul diskriminasi antara ODHA dengan masyarakat, sehingga mengakibatkanadanya tekanan psikologis seperti takut, stres, marah dan kecewa. Dengankeadaan demikian, ODHA memilih untuk tertutup dari dunia luar.Tekanan psikologis seperti stres, mendorong ODHA dapat merubahkarakteristik kepribadian mereka. Tekanan negatif dari orang – orang disekitarODHA membentuk konsep diri yang negatif bagi ODHA. Kepribadian yangawalnya terbuka, bersikap positif, dan supel dapat berubah menjadi sebaliknya.Keadaan demikian dapat memperburuk kehidupan sosialisasi ODHA dalamrutinitas keseharian mereka.Keadaan tertutup sebenarnya menambah beban bagi ODHA, hal ini dapatmenurunkan mutu hidup mereka. Mutu hidup adalah motivasi untuk tetap survivedan dapat beradaptasi dengan keadaan. Dengan mutu hidup yang baik, makamereka akan memiliki semangat juang untuk bertahan hidup yang tinggi. ODHAmembutuhkan interaksi komunikasisekedar untuk mencurahkan isi hati ataubahkan menambah informasi mengenai penyakitnya tersebut. Sulit bagi ODHAmembuka percakapan tentang dirinya kepada orang lain. Kenyamanan,kepercayaan, dan kedekatan menjadi aspek penting bagi ODHA untuk melakukankomunikasi. Salah satu caranya adalah bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya (KDS).Namun, ODHA utamanya mereka yang menetap di KabupatenTemanggung masih enggan untuk bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya Smile Plus. Salah satu pengurus KDS Smile Plus (Dias. 53tahun)menyatakan, “ ODHA di Kota Temanggung kebanyakan belum memiliki tingkatkesadaran diri mengenai penyakit yang di idapnya. Ada beberapa yang takutbergabung karena faktor kecemasan, tidak percaya diri dan ada pula yang sudahtidak mau memperdulikan kesehatannya lagi”. Hingga tahun 2011 sendiri anggotaSmile Plus tergabung sebanyak 32 orang, dan bersifat dinamis. Sedangkan padaawal tahun terbentuk di tahun 2008 hingga tahun 2010, jumlah anggota hanyamencapai 24 anggota. Jumlah ini sangat miris jika dibandingkan dengan jumlahpenderita HIV/AIDS di Kota Temanggung sebanyak 192 kasus.Kurangnya pengetahuan, rasa tidak percaya diri, malu, takut untuk terbukamembuat ODHA memilih untuk tetap menutup diri dengan tidak bergabungdalam Kelompok Dukungan Sebaya ini. Dengan jumlah kasus HIV/AIDS diTemanggung tinggi dan kurangnya kesadaran diri ODHA untuk bergabungdengan Kelompok Dukungan Sebaya menjadi suatu masalah bagi pengurus SmilePlus. Mereka harus melakukan komunikasi persuasif yang tepat dan baik untukmeyakinkan bahwa melalui Kelompok Dukungan Sebaya Smile Plus membantuODHA untuk memotivasi diri mereka, memperdulikan kesehatan mereka, dantempat untuk saling berbagi.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami komunikasi persuasif KelompokDukungan Sebaya (KDS) Smile Plusdalam meyakinkan ODHA bergabung untukmenumbuhkan kepercayaan diri.Penemuan Penelitian1. Karakteristik KDS Smile Plus dalam komunikasi kelompokKelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus lebih mengacu kepadakomunikasi kelompok primer. Karakteristik kelompok primer antara lain; (1).Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas, artinyamenembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, pada kelompok primer kitaungkapkan hal – hal yang bersifat pribadi. (2). Komunikasi pada kelompok primerbersifat personal, dalam kelompok primer yang penting ialah siapa dia, bukanapakah dia. Kita mengkomunikasikan seluruh pribadi kita. (3). Pada kelompokprimer, komunikasi lebih menekankan pada aspek hubungan dari pada aspek isi,komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan baik. (Jalaludin Rakhmat.2007; 142 – 143).Karakteristik kelompok primer sangat dekat sekali dengan karakteristikKDS Smile Plus. Kualitas komunikasi yang mendalam menembus pada hal – halpribadi, dan membangun ikatan emosional dengan anggota menjadi landasanSmile Plus untuk melakukan komunikasi dengan anggotanya. Pembimbing diSmile Plus membuat ODHA nyaman untuk menceritakan hal – hal pribadinya,sehingga anggota Smile Plus menganggap kelompok ini seperti keluarga bukansebagai kelompok profesional. Dua informan yang merupakan pembimbing diKDS Smile Plus selalu memposisikan dirinya sebagai saudara, orang tua atausahabat dengan anggotanya. Dengan anggapan seperti itu membuat anggota SmilePlus yang hampir keseluruhan adalah ODHA akan membangun ikatan emosionalyang dekat, tidak merasa KDS Smile Plus sebagai kelompok yang profesional,sehingga mereka menganggap KDS Smile Plus sebagai keluarga kedua.2. Cara KDS Smile Plus dalam membangun self disclosure ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Menurut Liliweri (1994:163), teori self disclosure menekankan bahwahubungan antar pribadi yang ideal adalah kalau seseorang membiarkan dirinyadan orang lain membagi pengalaman mereka sepenuhnya dengan membuka diri,karena adanya prinsip bahwa pribadi yang dimiliki ibarat kertas “tembuspandang” (transparan), sukar ditutupi sehingga orang lain pun bisa melihat.Membuat ODHA mau terbuka menceritakan segala hal yang dialaminyakepada orang lain membutuhkan cara yang berbeda dengan orang – orangbiasanya. KDS Smile Plus menggunakan beberapa cara agar ODHA nyamanuntuk terbuka dengan pembimbing di Smile Plus, diantaranyaa. Membangun ikatan emosional kekeluargaan antara KDS Smile Plus denganODHAb. Menjaga Privasi ODHAc. Mengikuti kesenangan ODHA dalam berkomunikasi3. Cara KDS Smile Plus dalam membangun kosep diri positif ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Membentuk konsep diri yang positif di pikiran ODHA tidak mudah,karena mereka beranggapan bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak adaobatnya dan apabila orang lain tahu bahwa dirinya positif HIV/AIDS makaresikonya adalah akan dikucilkan. Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yangdapat mempengaruhi berubahnya konsep diri ODHA menjadi positif, diantaranyaadalah keberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.William D. Brooks (Jalaludin Rakhmat, 2007:99) mendefinisikan konsepdiri sebagai “those phsyical, social, and psychological perception of ourselvesthat we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadikonsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentangdiri ini bisa bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Seperti yang sudah disebutkansebelumnya, konsep diri yang dimiliki ODHA dapat berubah positif dari pengaruhkeberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.1. Orang Lain.Orang lain dalam hal ini adalah peran pendampingan yang dilakukan olehpembimbing KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diri positif pada ODHA.Gabriel Marcel menjelaskan bahwa “the fact is that we can understandourselves by starting from the other, or from others, and only by starting fromthem” . Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.Bagaimana orang lain menilai diri kita, akan membentuk konsep diri kita pribadi.(Jalaludin Rakhmat, 2007: 101). Maka bagaimana pendamping KDS Smile Plusmenilai ODHA, akan membentuk konsep diri ODHA seperti apa.2. Kelompok Rujukan atau (Refrence Group)Tergabung dalam sebuah kelompok sangat mempengaruhi konsep diriseseorang. Secara tidak langsung ODHA akan mengikuti aturan – aturan hinggakebiasaan sebuah kelompok yang diikuti dalam keseharian. Sama halnya denganODHA yang bergabung dengan KDS Smile Plus, mereka secara disadari atautidak perlahan mengalami perubahan, baik perilaku atau konsep diri mereka. KDSSmile Plus yang dibentuk untuk ODHA dan dari ODHA bertujuan untuk menjadiwadah bagi ODHA untuk saling bertukar informasi dan saling menguatkan diri.ODHA yang sebelumnya merasa sendiri, memiliki konsep diri negatif akanberubah menjadi lebih baik karena pengaruh kelompok ini.ODHA akan menyesuaikan keadaan yang ada di dalam KDS Smile Plus.Di dominasi dengan pendampingan dari pembimbing yang selalu memacumotivasi hidup ODHA untuk survive, dan pengaruh teman dalam kelompoktersebut, maka hal itu berpengaruh besar bagi ODHA untuk melakukan hal yangsama dengan teman – temannya yang satu kelompok dengannya.Kelompok rujukan adalah kelompok yang secara emosional mengikat dirikita, dan berpengaruh terhadap konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini,orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri – cirikelompoknya. (Jalaludin Rakhmat, 2007: 104).Cara – cara yang digunakan oleh KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diriyang positif di diri ODHA diantaranya adalaha. Memberikan pujian kepada ODHAb. Menggunakan testimonic. Event KDS Smile Plus (close meeting)4. Karakteristik ODHA dalam komunikasi persuasifKomunikasi persuasif menurut Nimmo (2000:128) mengungkapkanpersuasi mengubah sikap dan perilaku orang dengan menggunakan kata – katalisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. Komunikasipersuasif merupakan metode untuk menyamapikan pesan – pesan darikomunikator untuk mempengaruhi komunikannya dengan pesan – pesan yangsebelumnya telah dikelola seraya menyesuaikan dengan keadaan psikologis dansosiologis serta kebudayaan dari komunikan atau dengan kata lain denganmenggunakan tehnik persuasi (Soenarjo & Djoenasih, 1993:30).Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh KDS Smile Plus kepadaODHA diantaranya adalah untuk merubah perilaku negatif ODHA danmenguatkan diri mereka dari status positif HIV/AIDS. Mengajak ODHA untukmerubah perilaku sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menjadi sebuahkebiasaan. Dalam penelitian ini, ODHA yang sulit untuk dipersuasif melakukanpendampingan adalah ODHA yang memiliki jabatan atau tokoh di lingkungannya.Mereka takut jika statusnya tersebut tersebar hingga ke telinga orang – orangdisekitarnya, sehingga mereka mengganggap bahwa dirinya sehat dan tidak perludilakukan pendampingan dari KDS Smile Plus.Dengan demikian dibutuhkan caratersendiri bagi pembimbing di KDS Smile Plus agar komunikasi persuasif iniberjalan efektif.Dalam melakukan komunikasi persuasif dalam bukunya Miller dan Williamsyang berjudul “The 5 Path To Persuasion”, menjelaskan lima tipe komunikandalam melakukan komunikasi persuasif, yang pertama adalah the charismaticdecision maker, kedua the thinker decision maker, skeptic decision maker,follower decision maker, dan yang terakhir adalah controller decision maker . Jikaditerapkan dalam karakteristik ODHA di Temanggung dapat diklasifikasikanberdasarkan tipe komunikan dalam buku Miller dan Williams ini.a. ODHA sebagai follower decision maker.Follower berdiskusi berdasarkan pada pengalamanan terdahulu yangpernah dialaminya sebelumnya. Mereka mempunyai tanggung jawab yang baik.Untuk melakukan komunikasi persuasif kepada follower yang harus dilakukanadalah sediakan banyak bukti yang menyatakan proposal atau data tersebut suksesuntuk kasus sebelumnya dan harus relevan serta kredibel. (Williams dan Miller.2005. 108).b. ODHA sebagai Skeptic decision maker.Mereka sulit menerima informasi dari orang lain. Mereka akan terusbertanya dan melawan apabila tidak sesuai dengan pikirannya, terutama padaremaja. Mereka memiliki gaya bicara seenaknya sendiri, sulit menghargai oranglain dan akan mengatakan apa yang mereka fikirankan tanpa memperdulikanorang lain. Skeptis memiliki kepribadian yang kuat, namun skeptis merupakantipe yang sulit mempercayai orang. Untuk dapat mempersuasif tipe skeptis harusmemiliki strategi yang kuat diantaranya membangun kepercayaan, kemudianmencari penengah antara skeptis dan persuator, jangan berfikir dari sudut pandangpersuator sendiri, harus ada sumber terpercaya untuk mempersuasif orang tipeskeptis. (Williams dan Miller. 2005. 77).Dalam penelitian ini juga memperlihatkan perbedaan tehnik komunikasipersuasif yang dilakukan oleh pembimbing KDS Smile Plus kepada ODHA.Dalam penelitian ini menunjukan bahwa pembimbing yang positif HIV/AIDSmelakukan komunikasi persuasif dengan mengontrol emosinya menjadi lebihsabar dan lembut. Ia berusaha untuk meredam emosi ODHA dengan halus.Sedangkan pembimbing yang negatif dari virus HIV/AIDS lebih terbuka danmudah beradaptasi/ mudah bergaul dalam melakukan komunikasi persuasifdengan ODHA. Ia tidak sungkan untuk mengingatkan ODHA dengan lebih tegasjika mereka melakukan kesalahan.Implikasi AkademisBerdasarkan lingkup teoritis, penelitian ini membahas mengenaikomunikasi persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalammeyakinkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bergabung untuk membangunkepercayaan diri. Dengan teori konsep diri yang memaparkan mengenai konsepdiri positif mempengaruhi ODHA memiliki pengembangan kepercayaan lebihbaik dari pada ODHA dengan konsep diri negatif. Di dukung dengan adanya teoriself-disclosure ODHA bisa berbagi tentang privasinya kepada pembimbing diKDS Smile Plus, sehingga memudahkan dalam melakukan pendampingan.Sedangkan pada teori komunikasi persuasif menunjukan bahwapembimbing KDS Smile Plus melakukan interaksi perusasif tanpa ada paksaan.Pembimbing menghormati segala keputusan ODHA saat dilakukannyapendampingan. Pembimbing KDS Smile Plus membangun kepercayaan denganODHA dan berusaha agar adanya perubahan membangun kepercayaan diri padaODHA. Maka dalam penelitian ini tidak terbukti adanya penemuan – penemuanuntuk mengembangkan teori baru.DAFTAR PUSTAKABuku:Adler, Ronald.B dan Neil Towne. 1987. Looking Out/Looking In InterpersonalCommunication. USA: CBS Coliege Publishing.Alvin A. Goldberg Carli. E Larson. 1985. Komunikasi Kelompok Proses-ProsesDiskusi dan Penerapannya. Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press)Beebe, Steven A, Susan J. Beebe, Mark V.Redmond. 2005. InterpersonalCommunication Relating To Others. United States of America : PersonEducation, Inc.De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Guba, Egon G & Yvonna S. Lincoln. 1994. Competing Paradigms in QualitativeResearch. Dalam Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (ed).Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California : SAGEPublications.Jourard, S.M. 1971. The Transparent Self (Edisi Revisi). New York: VanNostrandLiliweri, Alo. 1994. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication (6th edition).USA : WadsworthLittlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication (6th edition).USA : Wadsworth.Littlejohn, Stephen W. 2008. Theories of Humn Communication (8th edition).USA: Wadsworth.Miller, Robert B & Williamms, Garry A. 2005. Acclaim For The 5 Paths ToPersuasion. New York : Warner Book GroupMoleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. London : SagePublications, Inc.Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media. RemajaRosdakarya: Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1998. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1999. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS.Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Soenarjo & Djoenasih.S. 1993. Komunikasi Persuasif dan Retorika. Yogyakarta:Liberty.
Hubungan Terpaan Informasi Politik Partai NasDem di Televisi dan Komunikasi di dalam Kelompok Referensi Terhadap Preferensi Memilih Partai NasDem Mufti, Zulfikar; Pradekso, Tandiyo; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.079 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Saat ini, kehidupan masyarakat seakan tidak bisa luput dari informasi.Dimanapun tempat beraktivitas, akan selalu ditemui informasi baik dengansengaja ataupun tidak. Informasi hadir dengan beragam bentuk kepadamasyarakat, baik yang melalui media cetak, elektronik, maupun konvensional.Dari sekian banyak pilihan saluran komunikasi yang ada, televisi adalahsalah satu media yang menjadi pilihan favorit masyarakat. Hal itu tidak bisadilepaskan dari kelebihan – kelebihan media televisi yakni dalam segi audiovisual, baik suara, gerak, dan gambar. Kelebihan inilah yang kemudian membuatinformasi yang disampaikan melalui televisi menjadi lebih menarik dan memilikidampak yang lebih besar kepada audiencenya.Seiring perkembangan zaman, media televisi tidak hanya menjadi salurankomunikasi bagi pesan – pesan komersil, tetapi juga pesan – pesan yangmengandung informasi politik pun kini sudah banyak menghiasi layar televisikita. Pesan – pesan politik yang sering muncul di televisi paling sering dikemasdalam bentuk iklan dan berita.Informasi politik yang sering hadir di televisi saat ini adalah informasitentang partai Nasional Demokrat atau yang sering disingkat NasDem, informasiyang ditampilkan dikemas dalam dua bentuk yaitu berita dan iklan politik.Menariknya, partai ini di danai oleh Surya Paloh yang juga merupakanpemilik dari stasiun televisi MetroTV. Bahkan belakangan Harie Tanoesodibyoyang juga pemilik MNC Group yang terdiri dari RCTI, Global TV, dan MNC TVpun merapat ke partai Nasdem dengan jabatan sebagai ketua dewan pakar. Olehsebab itu, tak dapat dihindari bagaimana informasi politik tentang partai NasDemkerap kali bermunculan di beberapa stasiun televisi yang telah disebutkan di atas.Perubahan yang sangat signifikan pada pemilu di era reformasi adalahrakyat langsung bisa memilih para calon wakil – wakilnya yang akan duduk diDPR, kemudian Presiden, Gubernur, Bupati maupun walikota. Sayangnya dilainpihak, angka partisipasi masyarakat dalam setiap perhelatan politik lima tahunantersebut selalu mengalami penurunan. Individu - individu yang tidak ikutberpartisipasi dalam pemilihan umum ini sering disebut dengan sebutan “golput”atau golongan putih. (http://kanalpemilu.net/?q=node/800).Salah satu kelompok sosial di masyarakat yang rentan untuk menjadigolput adalah mahasiswa, hal ini karena tingkat pendidikan yang dimilikimahasiswa untuk cenderung bertindak secara rasional dalam menentukan sikappolitiknya, sikap golput ini karena tidak ada pilihan calon yang layak dan bersihuntuk dipilih sehingga mahasiswa menentukan untuk golput, selain itu mahasiswacenderung bersikap apatis, apolitis dan kritis terhadap pemilu, serta merupakankelompok yang biasanya teralienasi dari sistem atau proses politik yang ada.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan terpaan informasipolitik partai NasDem di televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensiterhadap preferensi memilih.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory(penjelasan) yang dimaksudkan untuk mengetahui hubungan diantara variabelbebas dan variabel terikat dari tema penelitian. Penelitian explanatory digunakanuntuk menjelaskan hubungan atau korelasi antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi sebagai variabel independen pertama, dan komunikasi dalamkelompok referensi sebagai variabel independen kedua, dengan preferensimemilih sebagai variabel dependen.PEMBAHASANDalam berkomunikasi minimal akan tiga unsur yang langsung terlibat,yakni communicator, message, dan communicant. Komunikasi yang dilakukanakan selalu menimbulkan effect seperti apa yang dijabarkan oleh Harold Laswellbahwa komunikasi adalah siapa mengatakan apa, melalui apa, kepada siapa, danapa akibatnya ( Cangara, 2009 : 19). Efek terjadi sebagai dampak atau timbalbalik atas pesan yang diterima individu baik secara sengaja maupun tidakdisengaja. Efek pada komunikasi massa dapat dilihat dari adanya suatu perubahanyang terjadi sebagaimana yang diinginkan komunikator, seperti pengetahuan,sikap, dan perilaku, atau bahkan ketiganya ( Wiryanto, 2000 : 39).Karena dalam penelitian ini media massa tidak menjadi variabel tunggaldalam mempengaruhi sikap, maka diperlukan model efek terbatas yangmenjelaskan ada hubungan faktor lain secara psikologis dan sosial yangmempengaruhi sikap. Penelitian Joseph Klapper melaporkan tentang efek mediamassa dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, yaitu :1. Pengaruh komunikasi massa dikarenakan oleh faktor – faktor sepertipredisposisi persona, proses selektif, keanggotaan kelompok atau disebutjuga faktor personal.2. Karena faktor – faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsimemperkokoh sikap dan pendapat yang ada , walaupun kadang – kadangberfungsi sebagai media pengubah (agent of change)3. Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecilpada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada ”konversi” (perubahanpada seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap bidang – bidangdi mana pendapat orang lemah.5. Komunikasi massa cukup efektif dalam menciptakan pendapat tentangmasalah – masalah baru bila tidak ada presdiposisi yang harus dipengaruhi(Rakhmat, 2005 : 232).Joseph Klapper dalam buku The Effect of Mass Communicationmenunjukkan temuan yang menarik, bahwa faktor psikologis dan sosial ikutberpengaruh dalam proses penerimaan pesan dari media massa. Faktor – faktortersebut antara lain proses seleksi, proses kelompok, norma kelompok, dankeberaan pemimpin opini (Nurudin, 2003 : 208). Media massa bukan hanya faktortunggal dalam dalam perubahan sikap, kelompok adalah psikologis yang dapatmempengaruhi individu.Dari hasil uji statistik korelasi Rank Kendal diketahui bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di tolak.Artinya bahwa tinggi rendahnya terpaan informasi politik partai NasDem ditelevisi yang menerpa responden, tidak semerta – merta membuat respondencenderung untuk memilih partai NasDem.Bittner ( dalam Nurudin, 2007 : 211) mengungkapkan fokus utama efekmedia adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience, tetapibagaimana juga audience mereaksi pesan – pesan media yang sampai padadirinya. Faktor interaksi yang terjadi antar individu akan mempengaruhi pesanyang diterima. Dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah bagaimanaresponden memberikan respon terhadap informasi politik partai NasDem yangditerimanya melalui media televisi, responden sebagai individu juga tidak terlepasdari interaksi dengan kelompok referensinya yang membentuk sikap respondendalam mengurai terpaan informasi partai NasDem yang diterimannya.Nurudin ( 2007 : 225 – 226) menyatakan ada dua alasan yangmengakibatkan efek terbatas media massa bisa terjadi, yaitu :1. Rendahnya terpaaan media massaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwa makinsempurna monopoli komunikasi massa, makin besar kemungkinan perubahanpendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dikehendaki.2. Perlawanan individu dalam menerima pesan mediaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwapemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dankepentingan yang ada dan oleh norma – norma kelompok.Setelah dilakukan pengujian, dapat diinterpretasikan bahwahipotesis yang menyatakan terdapat hubungan komunikasi di dalam kelompokreferensi (X2) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) diterima. Artinyabahwa tinggi rendahnya komunikasi di dalam kelompok referensi akan ikutmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.Kelompok rujukan adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai dirisendiri atau untuk membentuk sikap. konformitas di dalam kelompok membuatkelompok rujukan menjadi sangat efektif dalam membentuk sikap individu(Rakhmat, 2004: 149).Selain media massa, saluran informasi politik dapat melalui komunikasi didalam kelompok (Maran, 2001 : 165). Interaksi yang sering terjadi membuathubungan mereka menjadi lebih akrab satu sama lain. Komunikasi yang terjadidalam kelompok ini adalah menggunakan dua arus komunikasi, yang pada tahappertama pemimpin – pemimpin opini di kelompok akan menguraikan danmenyaring pesan – pesan yang masuk, kemudian disebarkan kepadakelompoknya.Saluran informal dalam kelompok penting karena tiga hal, yaitu pertama :sebagai saluran informasi yang aktual; kedua, sebagai sumber tekanan sosial atasindividu untuk mematuhi berbagai norma tingkah laku; dan ketiga, sebagaisumber dukungan atas norma – norma yang berguna bagi keutuhan dalamkelompok (Maran, 2001 : 166).Setelah dilakukan uji korelasi, dapat diinterpretasikan bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) dan komunikasi didalam kelompok referensi (X2)terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di terima. Artinya bahwa terpaaninformasi politik partai NasDem dan komunikasi dalam kelompok referensi dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem, sekalipun kedua variabeltersebut tidak dapat secara mutlak membentuk preferensi memilih.Preferensi memilih dalam pemilihan umum, selain dipengaruhi olehInformasi Politik juga dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang membentukkomunikasi dalam kelompok.Terpaan informasi politik partai NasDem dan komunikasi di dalamkelompok referensi membutuhkan sebuah tahapan atau proses agar sampai padasikap preferensi memilih partai NasDem. Kelman (dalam Azwar, 2005 : 55)mengungkapkan teorinya mengenai organisasi sikap dengan menekankankonsepsinya mengenai proses yang sangat berguna dalam memahami fungsipengaruh sosial terhadap perubahan sikap. Tiga proses sosial yang berperan dalamperubahan sikap adalah kesediaan, identifikasi, dan internalisasi.Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa variabel terpaaninformasi politik partai NasDem di televisi dan variabel komunikasi di dalamkelompok referensi bahwa memiliki hubungan dengan variabel memilih partaiNasDem, namun kedua varibael tersebut tidak secara mutlak menjadi faktorpenentu bagi individu untuk memilih partai NasDem. Masih terdapat faktor lainjuga yang dapat mempengaruhi preferensi seseorang, yakni sikap, nilai,kepercayaan, bidang – bidang pengalaman dan hubungan – hubunganinterpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Klapper (dalam McQuail, 1987 :236) sebagai pendekatan fenomenistik yaitu pendekatan yang memandang mediasebagai pengaruh yang berfungsi di tengah – tengah pengaruh lainnya di dalamsuatu situasi menyeluruh.PENUTUPKesimpulan :1. Tidak terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partai NasDemdi televisi terhadap preferensi memilih partai NasDem.2. Terdapat hubungan positif antara komunikasi di dalam kelompok referensi(terhadap preferensi memilih partai NasDem.3. Terdapat hubungan positif antara terpaan infromasi politik partai NasDemdi televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensi terhadappreferensi memilih partai NasDem.Saran :1. Partai NasDem harus bisa mendesain ruang komunikasi politik selainmelalui media televisi, agar informasi politik yang disampaikan dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.2. Partai NasDem perlu mentransfer informasi politik kedalam jaringankomunikasi kelompok, karena dari kelompok – kelompok itulah yangterbukti sangat berpengaruh terhadap preferensi individu memilih partaiNasDem.Daftar PustakaAzwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik : Konsep, Teori, dan Praktek. Jakarta :Raja Grafindo Persada.Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : Rineka Cipta.Mc Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nurudin. 2007. Komunikassi Massa. Malang : Gespur.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi. Jakarta : Grasindo.
Hubungan antara Terpaan Iklan Produk Pelangsing di Televisi dan Interaksi Teman Sebaya dengan Persepsi Remaja Tentang Perempuan Ideal Kusumaningtyas, Asti; Herieningsih, Sri Widowati; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.053 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Citra ideal kecantikan perempuan telah bergeser yang semula berdiri diatas stigma beauty inside dan inner beauty, namun saat ini pencitraan ini bergeser menjadi beauty outside. Idealnya perempuan hanya dilihat dari aspek ragawi saja, sedangkan aspek-aspek lainnya cenderung diabaikan. Seakan-akan sudah ketetapan masyarakat soal kriteria-kriteria untuk menjadi perempuan yang ideal. Perempuan kini diindentikan untuk terus mempercantik dirinya. Kecantikan seorang wanita dilihat dari tubuh yang ramping menjulang tinggi, kaki mulus, hidung mancung, dan kulit putih bersih. Hal ini semakin menyeret perempuan untuk memaknai kecantikan lebih dari sekedar kecantikan dalam (inner beauty), seakan-akan sudah ketetapan masyarakat soal kriteria-kriteria untuk menjadi perempuan yang ideal. Timbul dari opini masyarakat akan keharusan perempuan untuk tampil cantik dan anggapan bahwa perempuan ideal dentik dengan tubuh langsing, memicu lahirnya kepercayaan baru bahwa jika perempuan tidak cantik dan bertubuh ideal, maka tidak ada bagian dari tubuh yang bisa dibanggakan. Dengan adanya wacana seperti ini, media mencoba menyebarluaskan pemikiran mengenai keindahan tubuh. Kondisi ini kemudian menjadi pasar yang sempurna bagi industri kecantikan, khususnya produk pelangsing tubuh.Produsen produk pelangsing menggunakan motif yang terdapat dalam diri perempuan, khususnya remaja untuk mengiklankan produknya seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rakhmat bahwa pesan-pesan kita dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif yang menggerakkan atau mendorong perilaku orang lain. Oleh karena itu, iklan suatu produk misalnya, iklan produk kecantikan selalu menampilkan model cantik, menarik, dan populer sehingga bisa menambah kepercayaan akan produk, yang pada akhirnya mampu “memaksa” khalayak sasaran untuk membeli produk yang diiklankan tersebut apalagi didukung oleh pemakaian gaya bahasa yang menjanjikan sehingga akan menambah ketertarikan para pemirsa televisi. (Rakhmat, 1999 : 298).Dengan maraknya iklan produk pelangsing di televisi membuat banyak perempuan semakin ingin menjadi ideal dengan memiliki bentuk tubuh yang menarik. Menarik disini diartikan sebagai bentuk tubuh yang langsing seperti yang tergambar dalam iklan. Banyak orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan tubuh langsing. Ketika media televisi menayangkan produk diatas, maka akan memberi efek pada khalayak. Efek yang disebabkan oleh media massa bisa berupa kognitif, afektif, dan behavioral. Gerbner (1978) melaporkan penelitian berkenaan dengan persepsi penonton televisi tentang realitas sosial. Ia menemukan2bahwa penonton televisi kelas berat cenderung memandang lebih banyak orang yang berbuat jahat, lebih merasa berjalan sendirian berbahaya, dan lebih berfikir bahwa orang lebih memikirkan dirinya sendiri. Jelas citra tentang dunia dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya dalam televisi. Bila kita berlangganan koran Pos Kota, besar kemungkinan kita menduga bahwa dunia ini dipenuhi oleh pemerkosaan, penganiayaan, dan pencurian. (Rakhmat, 1999 : 225).Persepsi tidak hanya dibentuk oleh media massa, tetapi ada faktor lain diantaranya adalah interaksi dengan teman sebaya. Seseorang yang terkena terpaan iklan terus menerus tidak serta merta menentukan pilihan pada suatu produk tanpa pengaruh dari orang lain, dalam hal ini teman sebaya. Teman sebaya merupakan faktor yang penting dalam kehidupan remaja. Remaja umumnya lebih dekat dengan teman sebaya daripada dengan orangtuanya. Remaja dalam berinteraksi dengan teman sebaya membentuk kelompok dengan perilaku yang hampir sama. Oleh karena itu remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, dan penampilan, lebih besar daripada pengaruh keluarga.Remaja sebagai individu yang saling mempengaruhi satu sama lain, juga mengobservasi perilaku teman sebaya dan mempraktekkan perilaku tersebut. Ketika remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, dalam interaksi tersebut sedikit banyak membicarakan tentang perempuan yang ideal, maka setiap individu akan berinteraksi. Interaksi antar individu dapat mempengaruhi penilaian seseorang akan suatu hal karena adanya standart dan nilai yang mempengaruhi penilaian. Tingkat penafsiran remaja terhadap perempuan ideal seperti yang digambarkan melalui iklan, akan menimbulkan persepsi antara individu yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain.Menurut dalil perepsi yang diungkapkan oleh Krech dan Cructhfield, sifat-sifat perceptual dan kognitif dari subkultur pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan kelompok, akan dipengaruhi oleh keanggotaannya dalam kelompok. Begitu pula dengan persepsi individu cenderung menyamakan dengan persepsi kelompok, dengan efek asimilasi atau kontras. (Rakhmat, 1999 : 59). Begitu pula dengan remaja ketika membicarakan tentang perempuan ideal, maka kecenderungan yang ada yang timbul adalah pendapat yang diungkapkan akan sama dengan kelompok teman sebayanya.3Penelitian ini hanya untuk menguji hipotesis dimana diasumsikan sementara bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Pembatasan penelitian kali ini hanya dilakukan terhadap masyarakat yang gemar menyaksikan acara televisi karena penonton televisi dengan tingkat frekuensi yang tinggi, secara tidak langsung mereka terterpa iklan produk pelangsing dan berusia 16-24 tahun. Diharapkan pada pembahasan kita dapat mengetahui hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal.BATANG TUBUH Penelitian ini menjabarkan efek media yang terjadi pada individu, dan kohesivitas dalam kelompok dimana apabila konsumen terkena terpaan iklan dan berinteraksi dengan teman sebaya, maka akan tercipta perasaan dan sikap tertentu terhadap pandangan diri yakni pada tingkat persepsi.Dalam budaya kita selama ini, perempuan bertubuh ideal adalah mereka yang bertubuh langsing dimana akan mendapatkan respek daripada perempuan bertubuh gemuk. Perempuan dengan tubuh gemuk akan tersingkir dan itu akan menyebabkan perempuan merasa harus tetap berusaha langsing. Kecantikan inilah yang akhirnya menjadi sangat penting bagi beberapa orang, dimana kecantikan yang dimaksud hanya sebatas kecantikan fisik. Pandangan masyarakat mengenai perempuan cantik (dengan badan langsing atau sintal, dan berkulit mulus) yang sekarang berkembang sebenarnya merupakan mitos atau keyakinan yang beredar luas menyangkut suatu hal yang belum tentu kebenarannya. Keyakinan mengenai wujud perempuan cantik sebenarnya lebih merupakan hasil konstruksi sosial yang diciptakan oleh masyarakat sendiri.Penekanan masyarakat pada penampilan fisik perempuan sebagai salah satu sumber utama kualitas diri sebetulnya didasari oleh control pada perempuan yang terletak pada kemampuan memenuhi tuntutan mitos kecantikan. Jika mereka tidak memenuhi tuntutan tubuh ideal, dan jika mereka tidak berusaha untuk menjadikan dirinya cantik dan langsing, mereka tetap akan dipandang kurang postif karena dianggap “gagal” menyesuaikan peran atau telah menentang peran yang telah ditetapkan bagi mereka. Maka kegemukan dapat berakibat pada konsekuensi negative, seperi penolakan sosial dan self-esteem yang rendah. (Melliana, 2006 : 78).4Anggapan sosial yang positif yang selalu dihubungkan dengan kelangsingan, tidak terlepas dari gambar-gambar yang disodorkan media massa dengan memperkuat bukti bahwa tipe bentuk tubuh langsing sangat mendominasi. Sesungguhnya, media massa merupakan salah satu faktor yang menyebarluaskan dampak dari pemikiran mengenai fitur keindahan tubuh dengan gencar. Begitu gencarnya provokasi sehingga para remaja dan perempuan dewasa bahkan ibu-ibu tengah baya akhirnya mengukur dirinya dengan bentuk ideal seorang perempuan adalah perempuan yang diciptakan oleh majalah, TV, dan iklan-iklan lainnya. Akibatnya para perempuan yang merasakan kesenjangan antara gambaran image tubuh ideal dengan gambaran tubuh senyatanya cenderung mengalami emosi negative.Jalaludin Rakhmat menjelaskan bahwa media massa (dalam hal ini iklan televisi) memperlihatkan realitas nyata secara selektif yang mampu membentuk idealisme suatu citra tertentu menjadi bentuk citra yang baku. Ketidaktepatan bentuk ideal suatu pandangan tertentu mampu menimbulkan stereotipe tertentu. Stereotipe adalah gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dan seringkali timpang atau tidak benar. Gambaran ini merupakan semua wujud dari gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi dari perempuan, seperti yang tergambar dalam iklan dan ditimbulkan oleh pikiran, pendengaran, penglihatan, perabaan, atau pengecapan tentang perempuan. (Rakhmat, 2004 : 79)Saat ini terdapat beberapa produk pelangsing yang marak beredar di masyarakat. Produk-produk tersebut ada yang beriklan melalui iklan di televisi, media online, radio, dan lainnya. Persaingan yang terjadi antara satu merek dengan yang lainnya membuat para pesaing menampilkan strategi iklan yang berbeda-beda. Perbedaan strategi iklan tersebut dibuat agar masing-masing produk pelangsing memiliki ciri khas untuk mempermudah khalayak mengingat merek yang berujung pada peningkatan penjualan. Iklan yang baik, menggunakan rumus yang dikenal dengan AIDCA (Kasali, 1995 : 83-85). Iklan produk-produk pelangsing menggunakan strategi periklanan dengan prinsip AIDCA, seperti yang telah dijelaskan diatas. Pada tahap attention (perhatian) dan interest (minat/ketertarikan) dilakukan dengan cara menggunakan perempuan yang dianggap ideal, sehingga mendapat perhatian dan minat khalayak. Tahap selanjutnya desire (keinginan) dan convicntion (rasa percaya), dimana dilakukan dengan cara menambah slogan iklan yang membangun citra produk. Citra produk yang ditampilkan oleh iklan produk pelangsing adalah menjadi perempuan ideal harus menggunakan produk tersebut. Ketika iklan produk pelangsing ditayangkan di televisi secara berulang-ulang, kemudian menerpa khalayak5dimana informasi yang disampaikan dalam iklan tersebut berisi tentang gambaran perempuan ideal, maka citra remaja tentang perempuan ideal akan dipengaruhi oleh iklan produk pelangsing, sehingga akan berlanjut pada pembentukan persepsi. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya sampai pada tahap Convicntion sesuai dengan judul penelitian ini.Makin lama seseorang mempelajari tentang media, makin jelas efek penenggelaman media yang makin kuat. Efek-efek yang timbul, tidak timbul sebagai akibat dari satu rangsang saja, tetapi bersifat kumulatif. Pembahasan-pembahasan tentang pesan media yang dilakukan seseorang, makin memperluas persebaran media, dan tidak lama kemudian tidak ada perbedaan antara pesan yang diterima, dan disampaikannya. Efek-efek media sebagian tidak disadarai, orang tidak dapat memberikan penjelasan apa yang terjadi. Mereka mencampuradukkan persepsi langsung mereka dengan persepsi yang disaring melalui kacamata media menjadi keseluruhan yang utuh, yang tampak berasal dari pemikiran dan persepsi mereka sendiri (Litlejohn, 1996 : 343).Media televisi menayangkan iklan produk pelangsing yang berisi tentang perempuan ideal, media juga secara langsung dan tidak langsung mengirim symbol-simbol terhadap masyarakat. Simbol yang dikirim oleh iklan produk pelangsing adalah symbol tentang perempuan ideal. Meskipun khalayak mempunyai suatu persepsi sendiri tentang perempuan ideal, namun karena media lebih sering memunculkan symbol tentang perempuan ideal dengan cara menayangkan iklan produk pelangsing secara berulang di televisi, maka peran iklan televisi lebih ditentukan dalam membentuk persepsi individu yakni remaja tentang symbol perempuan ideal.Tentu saja tidak semua pecandu berat televisi terkultivasi secara sama. Sebagai contoh, pengaruh ini akan berlangsung bukan saja seberapa banyak seseorang menonton televise, melainkan pendidikan, penghasilan, jenis kelamin penerima, lingkungan dan lainnya. Sebagai contoh pemirsa dengan penghasilan rendah melihat kejahatan sebagai masalah yang serius sedangkan pemirsa dengan berpenghasilan tinggi tidaklah demikian. Begitu pula perempuan dengan pecandu berat melihat kejahatan sebagai masalah yang lebih seirus daripada pria dengan pecandu berat (Winarni, 2004 : 91). Oleh karena itu televisi bukanlah satu-satunya sarana yang membentuk dan mempengaruhi persepsi khalayak, namun ada faktor lain yang mempengaruhi persepsi khalayak, seperti lingkungan terdekat, dalam hal ini interaksi dengan teman sebaya.Individu tidak dapat hidup tanpa kerjasama dengan orang lain. Manusia akan membentuk kelompok-kelompok dalam hal ini adalah kelompok teman sebaya (peer group).6Seperti diketahui bersama bahwa pada hakikatnya manusia itu disamping sebagai makhluk individu, juga makhluk sosial. Tentu manusia dituntut adanya saling berhubungan dengan manusia dalam kehidupannya. Dalam kelompok teman sebaya (peer group), individu merasakan adanya kesamaan satu dengan yang lainnya seperti usia, kebutuhan, dan tujuan yang dapat memperkuat kelompok itu.Terbentuknya kelompok teman sebaya (peer group) timbul karena adanya latar belakang antara lain perkembangan sosialisasi, kebutuhan untuk menerima penghargaan, perlunya perhatian orang lain, dan ingin menemukan dunianya. Perkembangan proses sosialisasi, dimana pada usia tertentu individu mengalami proses saling interaksi satu sama lain dan merasa diterima dalam kelompok, akan muncul dengan apa yang disebut dengan konformitas. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap dan tingkah laku orang lain karena adanya tekanan yang nyata ataupun yang dibayangkan oleh mereka. (Santrock, 2003 : 221).Derajat ketertarikan atau yang disebut kohesivitas kelompok, merupakan salah satu factor pembentuk konformitas kelompok. Kohesivitas kelompok adalah semua faktor yang menjadi latar belakang dimana anggota kelompok merasa memiliki ketertarikan dengan kelompok tersebut dan membuatnya tetap berada di dalam kelompok tersebut. Ketika ada kohesivitas di dalam suatu kelompok, anggota kelompok akan menerima lebih banyak pengetahuan, dengan kata lain, anggota kelompok akan memungkinkan untuk saling bertukar informasi tentang segala sesuatu. Adanya kohesivitas dalam kelompok, membuat pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok kemudian diyakini sebagai persepsi kelompok. Persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar tentang adanya informasi yang akan memberikan pedoman baginya untuk membedakan, mengidentifikasi, dan memaknai sehingga dari pemaknaan tersebut akan mendapat referensi baru untuk menilai suatu hal secara komprehensif.Menurut Krech dan Krutchfield yang dikutip dalam buku Jallaludin Rakmat, merumuskan dalil-dalil persepsi sebagai berikut :1. Persepsi bersifat selektif secara fungsional.Obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek yang memenuhi tujuan individu tang melakukan persepsi. Contohnya : pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya.2. Media perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti.7Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun stimul yang kita terima tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasinya yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita terima.3. Sifat-sifat perceptual dan kognitif dari subkultur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan.Menurut dalil ini, jika individu sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi keanggotaan kelompoknya dengan efek asimilasi dan kontras.4. Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi bagian dari struktur yang sama.Artinya, seseorang akan mempersepsikan sesuatu dengan membandingkan kedekatan suatu objek dengan objek lain dan mengambil suatu generalisasi. Contoh : orang menitikberatkan pada kekayaan akan membagi masyarakat menjadi kelompok kaya dan miskin. Orang yang menitikberatkan pada pendidikan, membagi masyarakat menjadi dua kelompok terdidik dan tidak terdidik. (Rakhmat, 1999 : 56)Individu melakukan interaksi di dalam kelompok teman sebaya, maka peer group memberikan dampak pada individu itu sendiri, yakni pada tingkat persepsi. Pengaruh kelompok sosial khususnya kelompok teman sebaya terhadap persepsi individu telah diteliti oleh Solomon E. Asch dengan melakukan percobaan. Percobaan dilakukan dengan cara menentukan panjang garis. Hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa mula-mula perbedaan pendapat antara mayoritas dan minoritas tidak menimbulkan pengaruh apa-apa. Tetapi setelah percobaan di ulang-ulang, nampaklah adanya keraguan pada minoritas terhadap persepsinya sendiri, dan ada kecenderungan individu menyesuaikan dengan jawabannya dengan jawaban mayoritas (Santosa, 1992 : 72)Melihat pada uraian diatas, remaja dalam berintekasi dengan teman sebaya membentuk kelompok dengan perilaku yang hampir sama. Oleh karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapat dimengerti bahwa pengaruh teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan lebih besar daripada keluarga. Demikian pula remaja dalam mempersepsikan perempuan ideal, maka remaja yang lain akan terpengaruh untuk memiliki pandangan yang serupa. Jadi, ketika remaja berinteraksi dengan kelompok teman sebaya (peer group), dimana dalam interaksi tersebut membicarakan mengenai perempuan ideal, maka pendapat remaja ada kecenderungan sesuai dengan kelompok teman sebayanya. Dengan interaksi dengan8kelompok teman sebayanya tersebut yang berlangsung terus-menerus, maka akan mempengaruhi persepsi remaja tentang perempuan ideal.Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja usia 16-24 tahun yang pernah melihat atau mengamati iklan produk pelangsing di televisi. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah accidental sampling yang berjumlah 50 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall dengan menggunakan perhitungan dengan program SPSS.Temuan lapangan menyatakan bahwa terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi terhadap persepsi remaja tentang perempuan ideal. Adanya hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal juga dijelaskan oleh Jalaludin Rakhmat bahwa media massa (dalam hal ini iklan televisi) memperlihatkan realitas nyata secara selektif yang mampu membentuk idealisme suatu citra tertentu menjadi bentuk citra yang baku. Ketidaktepatan bentuk ideal suatu pandangan tertentu mampu menimbulkan stereotipe tertentu. Stereotipe adalah gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dan seringkali timpang atau tidak benar. Gambaran ini merupakan semua wujud dari gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi dari perempuan, seperti yang tergambar dalam iklan dan ditimbulkan oleh pikiran, pendengaran, penglihatan, perabaan, atau pengecapan tentang perempuan.Sesuai dengan efek yang ditimbulkan media, dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada diri khalayak sebagai publik yang terpengaruh. Efek media yang ditimbulkan seperti dari iklan televisi adalah efek kognitif, afektif, dan konatif. Efek kognitif yaitu kemampuan seseorang menyerap dan memahami apa yang ditayangkan kemudian melahirkan pengetahuan bagi khalayak. Efek afektif yaitu khalayak dihadapkan pada trend actual yang ditayangkan televisi. Efek konatif adalah proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi dan khususnya iklan produk kecantikan seperti pelangsing, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (terjadi proses peniruan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari).Selain itu, hasil olah data menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori kohesivitas atau derajat ketertarikan kelompok. Adanya kohesivitas dalam kelompok, membuat pandangan-pandangan yang dimiliki oleh kelompok kemudian9diyakini sebagai persepsi kelompok. Persepsi sebagai proses dimana seseorang menjadi sadar tentang adanya informasi yang akan memberikan pedoman baginya untuk membedakan, mengidentifikasi, dan memaknai sehingga dari pemaknaan tersebut akan mendapat referensi baru untuk menilai suatu hal secara komprehensif.Interaksi sosial yang dialami seseorang akan membentuk sikap sosial. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lain, serta terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Dalam proporsinya, suatu sikap yang didominasi oleh komponen afektif (emosional) yang kuat dan kompleks akan lebih sukar untuk berubah walaupun dimasukkan informasi baru yang berlawanan mengenai objek sikapnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, antara lain : pengalaman pribadi, pengaruh kebudayaan, lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengaruh faktor emosional, dan pengaruh faktor emosional. (Azwar, 2011 : 30)Temuan lapangan yang telah dijelaskan sebelumnya juga menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam penelitian bahwa hipotesis yang menyatakan “terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi (X1) dan interaksi dengan teman sebaya (X2) dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal (Y)” tidak dapat diterima atau ditolak.Persepsi sosial tiap individu akan berbeda karena ada kecenderungan seseorang melihat apa yang ingin dilihat, dan mendengar apa yang ingin didengar. Sehingga setiap orang memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas sekelilingnya. Hal ini berkaitan dengan atensi seseorang pada suatu rangsangan menjadi faktor utama menentukkan selektivitas seseorang. Sesuai dengan teori selective influence, bahwa bagaimana iklan-iklan produk pelangsing yang ditayangkan televisi secara berulang-ulang, lalu menerpa khalayak khususnya remaja, maka remaja akan memberikan respon yang berbeda karena perbedaan struktur kognitif yang dimiliki. Dengan demikian, terdapat perbedaan penerimaan pesan yang dipersepsi oleh penerima, karena terdapat perbedaan kognisi itu. (Lowery, 1983 : 65-67).PENUTUPKesimpulan1. Terdapat hubungan antara terpaan iklan dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hal ini menunjukkan bahwa terpaan iklan yang tinggi, maka persepsi remaja tentang perempuan menjadi ideal.102. Tidak terdapat hubungan antara interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun interaksi teman sebaya sedang, tinggi, atau sangat tinggi, persepsi remaja tentang perempuan hanya sebatas cukup ideal.3. Tidak terdapat hubungan antara terpaan iklan produk pelangsing di televisi dan interaksi teman sebaya dengan persepsi remaja tentang perempuan ideal. Hasil tersebut memiliki arti bahwa variabel tersebut tidak memiliki hubungan yang signifikan, dalam arti ketika terpaan iklan produk pelangsing tinggi, maka persepsi remaja tentang perempuan pun ideal meskipun interaksi dengan teman sebaya rendah atau pun tinggi.Saran1. Meskipun banyak tayangan iklan yang mampu mempersuasi remaja serta tingkat interaksi dengan teman sebaya yang tinggi, remaja diharapkan memiliki keyakinan, serta sikap yang didominasi oleh komponen afektif. Sikap yang didominasi oleh komponen afektif (emosional) yang kuat dan kompleks akan lebih sukar untuk berubah walaupun dimasukkan informasi baru. 2. Remaja memiliki banyak tantangan yang harus dihadapi seperti tuntutan akses komunikasi/internet yang bebas, dan juga siaran media baik tulis maupun elektronik. Oleh karena itu, remaja harus mempunyai berbagai keterampilan dan pengalaman sehingga mereka dapat melalui fase ini dengan optimal dan mampu memilah hal yang dianggap positif dan penting dengan yang tidak.DAFTAR PUSTAKAAzwar, Saifuddin. 2011. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset Kasali, Renald. 1995. Manajemen Periklanan: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Grafiti Littlejhon, Stephen W. 1996. Theories of Humas Communication. USA : Wadworth Publishing Company. Lowery, Shearon dkk. 1983. Milestone In Mass Communication Research : Media Effects. Newyork : Longman.11Melliana, Annastasia. 2006. Menjelajah Tubuh : Perempuan dan Mitos Kecantikan. Yogyakarta : LKiSRakhmat, Jalaludin. 1999. Psikologi Komunikasi Edisi revisi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset Santosa, Drajad. 1992. Dinamika Kelompok. Jakarta : Bumi Aksara.Santrock, John W. 2003. Adolescene Perkembangan Remaja / john W. Santrock; alih bahasa, Shinto B. Adelar; Sherly Saragih; editor, Wisnu C. Kritiaji. Jakarta : Erlangga Winarni. 2004. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Malang : UMM Press
Hubungan Daya Tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Wardah Cosmetics Fatmawati, Nofita; Santosa, Hedi Pudjo; Setyabudi, Djoko
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJudul Skripsi : Hubungan Daya Tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Wardah CosmeticsNama : Nofita FatmawatiNim : D2C308011Jurusan : Ilmu KomunikasiMaraknya sertifikasi halal pada produk konsumsi (makanan) akhir-akhir ini mulai merambah pada produk kosmetik. Wardah Cosmetics merupakan kosmetika Indonesia yang sejak awal kemunculannya pada 1995 membawa label halal. Akan tetapi meskipun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, Wardah Cosmetics bukan merupakan merek kosmetika yang penjualannya berada di peringkat treratas atau menjadi top brand pilihan konsumen. Iklan merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen dengan target market. Iklan Wardah Cosmetics yang menggunakan endorser Inneke Koesherawaty diharapkan mampu menimbulkan minat beli sekailgus menguatkan citra merek Wardah sebagai kosmetika halal dan aman.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kepada pembaca tentang hubungan daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics. Penulis menggunakan teori respon kognitif yang menjelaskan tentang bagaimana minat beli produk didasari oleh sumber pesan (endorser) yang kemudian dapat membentuk sikap merek, dimana semakin positif sikap konsumen terhadap merek maka citra merek pun juga positif yang kemudian dapat menimbulkan minat beli terhadap produk.Uji korelasi diantara ketiga variable menunjukkan bahwa Nilai Kendall W adalah sebesar 0,980. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan antara Daya tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan Hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics.ABSTRACTSkripsi Title : Celebrity endorser attractiveness and Brand Image relatedto Buying Intentions of Wardah CosmeticsName : Nofita FatmawatiNIM : D2C308011Departement : Science of CommunicationsThe rise of the halal certification on consumer products (food) recently began to explore in cosmetic products. Wardah Cosmetics is a cosmetic Indonesia since its inception in 1995 to bring halal label. However, although the majority of Indonesias population is Muslim, Wardah Cosmetics not a brand of cosmetics whose sales ranks treratas or a top brand consumer choice. Advertising is a form of communication between producers and target market. Wardah Cosmetics ads that use Inneke Koesherawaty endorser is expected to generate interest in purchasing sekailgus reinforce brand image Wardah as halal and safe cosmetics.This study aims to explain to the reader about the relationship endorser attractiveness and image of the brand by buying interest Wardah Cosmetics. The author uses the theory of cognitive response that explains how interest in buying products based on message source (endorser) which then can form brand attitudes, which increasingly positive consumer attitudes toward the brand were also positive brand image that can then lead to interest in buying the product.Correlation among the three variables showed that the value is equal to 0.980 W Kendall. Values obtained by testing the significance of 0.000 <0.05. This means that there is a connection between the endorser and the appeal of the Brand Image Buy Interests Products. Thus, it is in accordance with the hypothesis that there is a relationship between the endorser attractiveness and image of the brand with buying interest Wardah Cosmetics products. HUBUNGAN DAYA TARIK ENDORSER DAN CITRA MEREK DENGAN MINAT BELI WARDAH COSMETICSPENDAHULUANSertifikasi halal pada produk konsumsi saat ini semakin marak tidak hanya di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Di benua Eropa pun saat ini juga sudah mulai diterapkan pelabelan halal pada produk konsumsi. Produk kosmetika merupakan salah satu produk yang juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Meskipun bukan produk konsumsi yang berupa makanan, akan tetapi pemakaian kosmetik juga diserap oleh tubuh melalui kulit. Wardah Cosmetics merupakan kosmetika asli Indonesia yang sejak awal kemunculannya pada tahun 1995 sudah mencantumkan label halal dan aman dari MUI dan BPOM. Meskipun demikian, penjualan Wardah Cosmetics tidak terlalu bagus, karena tidak dapat menjadi top brand ataupun kosmetika terlaris di Indonesia, padahal mayoritas penduduk di Indonesia merupakan muslim.Pertumbuhan indoustri kosmetik di Indonesia cukup pesat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya produsen kosmetik yang muncul dipasaran. Bahkan menurut Wiyantono, selaku ketua bidang perdagangan persatuan perusahaan dan asosiasi kosmetika Indonesia (Perkosmi) proyeksi penjualan kosmetik semester I cukup baik, naik 14,9% secara tahunan, (http://www.indonesiafinancetoday.com).Wakil Direktur LPPOM MUI Bidang Auditing, Ir. Muti Arintawati, M.Si mengungkapkan, berdasarkan asalnya, kosmetika dapat dikategorikan berasal dari beberapa sumber bahan, yaitu tumbuhan, hewan, sintetik kimia, mikroba dan manusia. Dilihat dari sumber asalnya tersebut, ada beberapa bahan yang menjadi titik kritis pencemaran bahan haram dalam kosmetika, bahkan ada pula bahan-bahan kosmetika yang jelas-jelas haram, seperti plasenta, protein hewani maupun media yang digunakan untuk menghasilkan senyawa tersebut bagi sebagian besar pengguna bersifat haram. (http://www.halalmui.org).Produsen kosmetik pun kemudian seolah berlomba untuk bisa memperoleh sertifikasi halal atas produknya. Jauh sebelum banyaknya produk kosmetik yang mempunyai labelhalal, Wardah Cosmetics muncul dengan karakteristik yang berbeda, yaitu dengan label halal dan aman. Wardah Cosmetics merupakan pioneer kosmetik halal dan aman yang sudah memiliki sertifikat halal dari MUI. Wardah Cosmetics mempunyai kurang lebih 200 jenis produk kosmetik yang tercatat mempunyai label halal dan aman dikonsumsi. Setelah label halal menjadi trend, produsen-produsen kosmetik yang sebelumnya tidak mempunyai sertifikat halal mulai berusaha untuk mendapatkan sertifikasi halal. beberapa produkkosmetik yang beberapa produknya sudah mendapatkan sertifikasi halal antara lain : La Tulipe, Ristra, Sari Ayu, Caring Colours Martha Tilaar, Purbasari (lulur), Pourvous dan Kanna (krim penghalus) (http://naturafia.blogspot.com/2012/06/kosmetik-halal.htmlPasar kosmetik di Indonesia semakin meningkat, persaingan antar produsen kosmetik pun juga semakin kompetitif untuk memperebutkan pasar. Menurut Direktur Marketing Martha Tilaar Group Samuel Pranata di sela pembukaan IFW 2010 di Jakarta, saat ini sejumlah produk lokal kalah bersaing dalam merebut pasar dalam negeri. Sebagai contoh, pangsa pasar produk kosmetik dan skincare Indonesia berada di bawah produk luar negeri. jawara untuk kategori kosmetik di Indonesia adalah Oriflame. Dengan sistem penjualan multilevel marketing, merek kosmetik asal Swedia itu berhasil menguasai pasar Indonesia. Dan Martha Tilaar sendiri berada di posisi 2 atau hanya menguasai 16% atau nomer dua di pasar Indonesia, sedangkan untuk produk skincare Martha Tilaar menguasai 6% atau berada di nomor empat setelah Unilever, P n G dan L’oreal. (http://www.beritasatu.com)Perumusan masalahMaraknya tren halal akhir-akhir ini membuat banyak produsen kosmetik untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI. Wardah kosmetik merupakan produk kosmetik yang sejak awal kemunculannya pada tahun 1995 sudah mempunyai label halal jauh sebelum tren halal marak akhir akhir ini. Meskipun demikian merek Wardah belum bisa menguasai pasar. Hal ini dapat di lihat dari urutan kosmetika yang paling laris di Indonesia. Bahkan Wardah Cosmetics tidak berada di urutan 3 besar ataupun 10 besar.Adakah hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics?Tujuan penelitianUntuk mengetahui hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah cosmetics?Penelitian ini menggunakan teori respon kognitif, Cognitive Response Model (CRM) adalah sebuah teori untuk mengenali proses kognisi pada iklan, melalui tahap pengolahan informasi (kognisi), perubahan sikap terhadap merek (afeksi) yang pada akhirnya menuju pada keputusan pembelian (konasi).Fokusnya adalah untuk menentukan jenis respon yang ditimbulkan oleh sebuah pesan iklan dan bagaimana respon ini berhubungan dengan sikap terhadap iklan, sikap terhadap merek, dan minat pembelian. Gambar 1 menggambarkan tiga kategori dasar respon kognitif yang telah diidentifikasi peneliti – product/message, source oriented, dan ad execution thought – dan bagaimana ketiganya mungkin berhubungan dengan sikap dan minat (attitudes and intentions).Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatory (penjelasan) karena peneliti ingin menjelaskan pengaruh antara tiga variable penelitian, yaitu daya tarik endorser (X1), Citra merek (X2) sebagai variable bebas dan minat beli produk (Y) sebagai variable terikat.Data yang diperoleh langsung dari responden melalui kuesioner tentang daya tarik endorser, citra merek terhadap minat beli Wardah Cosmetics. Melalui wawancara survey dengan menggunakan kuesioner terhadap sampel penelitianPopulasi dari penelitian ini adalah wanita muslimah yang berstatus mahasiswi, karyawati dan ibu rumah tangga. Pemilihan objek disebabkan karena wanita merupakan sasaran produk Wardah Cosmetics. Karena tuntutan pekerjaan dan kehidupan sosial sangat penting bagi mereka. Kecenderungan itu membuat mereka mencari produk kecantikan yg cocok. Teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling.Teknik sampling yang digunakan adalah Accidental Sampling, Merupakan metode sampling yang memilih sampel dari orang atau unit yang paling mudah dijumpai atau diakses. Dimana pengambilan sampel didasarkan pada pemilihan sampel yang sesuai sebagai sumber data oleh peneliti. Metode ini digunakan karena peneliti tidak mempunyai data populasi.ISIWardah Cosmetics merupakan produsen kosmetik yang pertama kali mengusung tema halal dan aman. Muncul di Indonesia pada tahun 1995, didirikan oleh Nurhayati Subakat..Awalnya Wardah dipasarkan secara door to door, multi level marketing, hingga sekarang produknya mudah dijumpai di pasar. Saat ini sudah ada lebih dari 200 produk Wardah yang sudah mempunyai sertifikat halal, mulai dari perawatan wajah hingga perawatan tubuh.Iklan Wardah pada awal kemunculannya di bintangi oleh Marissa Haque, kemudian Inneke Koesherawaty dan sekarang sudah turut menggandeng Marshanda dan seorang desainer muda baju-baju muslimah, Dian Pelangi. Bahkan di beberapa iklan, Wardah tidak hanya menampilkan sosok muslimah yang diwakilkan oleh sosok yang menggunkaan jilbab Dari pemilihan bintang iklan dan penggunaan endorser pendukung, dapat dilihat bahwa Wardah sepertinya sedang melakukan perluasan segment. Karena sebelumnya Wardah Cosmetics terkesan hanya diperuntukkan bagi wanita dewasa saja. Iklan-iklan Wardah saat ini berbeda sekali dengan iklan Wardah yang terdahulu. Iklan Wardah Cosmetics saat ini terlihat lebih fresh dan menarik bersaing dengan iklan-iklan produk kosmetik lainnya.Khalayak sasaran penelitian ini merupakan wanita yang beragama islam. Mulai dari remaja yang diwakili oleh mahasiswi hingga wanita dewasa yang diwakili oleh wanita muslimah yang bekerja hingga ibu rumah tangga. Usia mereka berkisar antara 18-50 tahun.Hasil penelitian- Diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden memberikan penilaian yang tinggi mengenai Daya Tarik Endorser yaitu sebanyak 75%, dan diikuti dengan 23%responden yang menilai sangat tinggi dan hanya 2% yang menilai bahwa Inneke Koesherawaty memiliki daya tarik yang rendah.- Kemudian sebagian besar responden memberikan penilaian yang tinggi mengenai Citra merek produk Wardah Cosmetic yaitu sebanyak 76%, dan didukung oleh 17% penilaian sangat tinggi dan hanya 7% responden yang menilai rendah.- Dan sebagian besar responden memberikan penilaian yang sangat tinggi mengenai minat beli yaitu sebanyak 87%, didukung oleh 9% menjawab memiliki minat beli yang tinggi dan hanya 1% responden yang menilai rendah dan 3% memiliki minat yang sangat rendah.Temuan penelitian- Korelasi antara Daya Tarik Endorser dengan Minat Beli Produk diperoleh sebesar 0,068. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat rendah. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,381 > 0,05. Hal ini berarti tidak ada hubungan antara Daya Tarik Endorser dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian H1 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli tidak terbukti.- Korelasi antara Citra merek dengan Minat beli produk adalah sebesar 0,379. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang relative rendah. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan positif antara Citra merek dengan Minat beli produk. Dengan demikian H2 dalam penelitian ini terbukti, yaitu bahwa terdapat hubungan antara citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics- Nilai Kendall W adalah sebesar 0,980. Nilai signifikansi pengujian diperoleh sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan antara Daya tarik Endorser dan Citra Merek dengan Minat Beli Produk. Dengan demikian, hal ini sesuai dengan H3 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli produk Wardah Csmetics.- Berdasarkan uji statistik didapati bahwa ternyata tidak terdapat hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli Wardah Cosmetics. Dengan demikian, secara statistik hipotesis di awal yang menyatakan “terdapat hubungan positif antara daya tarikendorser dengan minat beli Wardah Cosmetics”. Artinya, semakin tinggi daya tarik endorser maka akan semakin tinggi pula minat beli Wardah Cosmetics tidak dapat diterima. Dan tidak sesuai dengan teori respon kognitif yang digunakan dalam penelitian ini. Padahal menurut teori respon kognitif disebutkan bahwa terdapat hubungan antara sumber pesan yang diwakili oleh Endorser dengan minat beli. Hal ini dapat dijelaskan dengan beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat beli Wardah Cosmetics yang berkaitan dengan daya tarik endorser. Antara lain seperti banyaknya responden yang menilai bahwa Inneke Koesherawaty merupakan selebritis yang jarang tampil di Indonesia, dan jarang membintangi film/sinetron dan iklan islami. Selain itu Inneke Koesherawat dianggap tidak sesuai dengan usia target market Wardah Cosmetics dan dianggap tidak dapat memberikan rekomendasi kepada target market yang usianya lebih muda dari Inneke Koesherawaty. Bagi beberapa target market Wardah Cosmetics yang berusia di bawah Inneke Koesherawaty, mereka menilai bahwa Inneke tidak sesuai dengan usia mereka dan tidak dapat memberikan rekomendasi kepada mereka. Inneke hanya dinilai cocok oleh target market Wardah Cosmetics yang berusia kurang lebih sama dengan Inneke Koesherawaty.- Sesuai dengan hasil pengujian hipotesis yang menyebutkan bahwa tidak adanya hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli bisa jadi juga dikarenakan pemilihan daya tarik endorser yang dinilai tidak sesuai dengan konsumen Wardah Cosmetics. Pemilihan selebriti menjadi sesuatu yang penting. Selebriti harus mempunyai pengakuan yang tinggi, pengaruh yang sangat positif dengan ketepatan produk yang tinggi pula.- Kemungkinan yang terjadi pada penelitian ini, sesuai dengan hasil penelitian di lapangan adalah karena Inneke dinilai sudah jarang tampil di Indonesia, tidak sesering dulu. Dan lagi perubahan image Inneke yang dahulu kerap membintangi film-film yang bertolak belakang dengan penampilannya sekarang. Perubahan image tersebut bagi sebagian target market Wardah Cosmetics yang berusia sama dengan Inneke Koesherawaty mungkin belum bisa diterima. Sedangkan bagi target market yang lebih muda dianggap bahwa Inneke tidak sesuai dengan usia mereka sebagai target market Wardah Cosmetics.- Setelah dilakukan pencarian dan pengolahan data diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara citra merek dengan minat beli produk Wardah Cosmetics. Dalam hipotesis disebutkan bahwa terdapat hubungan positif antara citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics yang artinya semakin tinggi/positif citra merek artinya semakin tinggi minat beli terhadap produk Wardah Cosmetics. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian dan seseuai dengan teori respon kognitif yang menyebutkan bahwa sikap terhadap merek dapat memunculkan minat beli.- Jika sikap seorang konsumen terhadap suatu merek cenderung positif maka konsumen tersebut juga cenderung mempunyai citra yang positif terhadap merek tersebut, begitu pula sebaliknya. Maka sangat disayangkan ketika seorang selebritis yang sudah dipilih untuk menjadi endorser suatu produk kemudian tersangkut masalah atau tidak dapat mempertahankan citranya sehingga citra tersebut berdampak pada produk yang diiklankannya.Melalui hasil pencarian dan pengolahan data dalam penelitian ini ternyata membuktikan bahwa terdapat hubungan antara daya tarik endorser dan citra merek dengan minat beli Wardah Cosmetics. Meskipun pada hasil penelitian tidak didapati hubungan antara daya tarik endorser dengan minat beli akan tetapi setelah dimunculkan faktor lain selain daya tarik endorser yaitu citra merek dapat memunculkan minat beli produk Wardah Cosmetics.- Hal ini konsisten dengan Cognitive Respons Model yang menerangkan bahwa dalam untuk menimbulkan minat beli distimuli oleh beberapa tahap pengolahan informasi (kognisi), perubahan sikap terhadap merek (afeksi) yang pada akhirnya kemudian menuju pada keputusan pembelian (konasi). Konsumen akan mempunyai kecenderungan untuk memeilih sebuah merek saat dalam dirinya terkumpul sejumlah informasi positif tentang merek. Informasi-informasi tersebut disampaikan melalui sumber pesan yang diwakili oleh endorser iklan.. dimana citra endorser tersebut diharapkan mampu untuk memperkuat citra merek dibenak konsumen sehingga dapat mempersuasi target market untuk melakukan pembelian.PENUTUPIklan merupakan salah satu bentuk komunikasi pemasaran yang sering digunakan oleh produsen untuk mengenalkan produk hingga menarik minat beli konsumen. Dalam iklan, endorser lazim digunakan untuk dapat lebih mempersuasif minat beli konsumen. Penggunaan selebriti sebagai endorser sebuah produk diharapkan untuk dapat menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi konsumen., yaitu untuk menarik minat beli dan menguatkan citra produk di benak konsumen. Pemilihan endorser yang tidak sesuai dengan produk dapat berakibat pada citra produk itu sendiri, sehingga berdampak pada minat beli terhadap produk.KesimpulanDari hasil analisis data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya dari penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :1. Hasil pengujian hubungan antara Daya tarik Endorser dengan Minat Beli Produk diperoleh tidak adanya hubungan yang signifikan,2. Hasil pengujian hubungan antara Citra merek dengan Minat beli produk menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan namun dalam kategori rendah3. Hasil pengujian hubungan Daya tarik Endorser dan Citra merek dengan Minat Beli Produk secara bersama-sama menunjukkan adanya hubungan yang signifikan.Saran1. Pemilihan selebriti sebaiknya dilakukan dengan terlebih dahulu mempertimbangakan faktor-faktor yang membentuk citra selebriti, latar belakang selebriti, reputasi selebriti, kesesuaian karakter selebriti dengan produk yang akan diiklankan.2. Pemilihan selebriti sebaiknya dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan survey terhadap masyarakat yang menjadi target market. Hal ini dimaksudkan agar pesan iklan tersebut nantinya sampai kepada target market.DAFTAR PUSTAKABuku :Assael, Henry, Consumer Behaviour, Houghtn Mifflin 2004Belch&Belch,2001 dalam Ardha, Ardha Berlian, Modu Manajemen Promosi, Universitas MercuBuana Jakarta 2007Kotler, Philips & Armstrong, Gary , Prinsip-Prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 2 2008,Kotler, Philip,Manajemen Pemasaran Jilid 2, 2000Rangkuti, Fredy, Riset Pemasaran, Gramedia Pustaka Utama2009Royan, Frans M, Marketing Celebrities, Elex Media Komputindo 2005Setiadi, Nugroho J, Perilaku Konsumen, Kencana 2003Shimp, A Terence, Periklanan Promosi jilid 1, Erlangga 2001Tjiptono, Fandy, Strategi Pemasaran, Andy Offset 1997Widiyanto, Ibnu, Pointers Metodologi Penelitian, CV.Dikalia 2008Mowen, John C, Consumer Behaviour, Prentice Hall 1995Skripsi :Prita Ayu Nurastuti, Hubungan Daya Tarik Selebriti dan Atribut Produk terhadap Minat Beli Motor Yamaha Jupiter MX, 2009Rike Ayu Yuniar , Hubungan Daya Tarik Endorser iklan Vaseline Men dan Ekuitas MErek terhadap Minat Beli Konsumen, 2011Pengaruh Terpaan Iklan dan Citra Merek terhadap Loyalitas Knsumen Aqua, Aprilia Nur Prasiwi, 2012Hubungan Daya TArik EmosionalIklan Pond’s Flawless White dan Citra Merek terhadap Minat Beli Produk, Kurnianingrum Ayu Miranti, 2009Hubungan Daya Tarik Iklan Animasi dan Sikap Merek dengan Minat Beli Produk Molto Ultra, Rhima Sugi Prabandani, 2010Hubungan Terpaaan Iklan Televisi dan Tingkat Awareness terhadap Minat Beli Konsumen pada Produk L-Men, Elbwisza Hertanto, 2010Majalah :Majalah Medisina Edisi 4/Vo.II/Aptil-Juni2008 halaman 5Internet :http://www.indonesiafinancetoday.comhttp://naturafia.blogspot.com/2012/06/kosmetik-halal.htmlhttp://www.halalmui.orghttp://www.indonesiafinancetoday.comhttp://www.beritasatu.com
Co-Authors Adi Nugroho Agus Naryoso Angga Dwipa Annie Renata Siagian, Annie Renata Apriani Rahmawati Arlita Dwi Utami Arum Sawitri Wahyuningtias Asti Kusumaningtyas Ayu Nabilla, Ayu Ayu Permata Sari Ayu Pramudhita Noorkartika Ayunda Sari Rahmahanti Bagas Satria Pamungkas, Bagas Satria Brillian Barro Vither Cantya Darmawan Purba Dewanta Citra Luckyta Lentera Gulita Danieta Rismawati Dara Pramitha Debi Astari, Debi Diah Rukmi Ambarwati, Diah Rukmi Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Dilla Maulida, Dilla Distian Jobi Ridwan Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Dyah Puspita Saraswati, Dyah Puspita Eleonora Irsya Fahrina Ilhami Febri Ariyadi Fransiska Candraditya Utami, Fransiska Candraditya Galih Arum Sri Gelar Mukti Ghela Rakhma Islamey Gilang Maher Pradana, Gilang Maher Gilang Wicaksono Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas I Nyoman Winata Ifadhah Vellayati Widjaja Indra Prasetya Jenny Putri Avianti Jimmy Fachrurrozy, Jimmy Jonathan Dio Sadewo, Jonathan Dio Joyo NS Gono Kaisya Ukima Tiara Anugrahani Kartika Ayu Pujamurti, Kartika Ayu Kevin Devanda Sudjarwo Kuni Zakiyyah Lintang Ratri Rahmiaji Luh Rani Wijayanti, Luh Rani Luthfi Fazar Ridho M Bayu Widagdo Michael Laurentius Mirnalia Mazaya Mirtsa Zahara Hadi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muhammad Bayu widagdo Muhammad Imaduddin Nailah Fitri Zulfan Nanda Dwitiya Swastha Nicolas Handoko Raharjo, Nicolas Handoko Nofita Fatmawati Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum Nugraheni Yunda Nuraga Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurriyatul Lailiyah, Nurriyatul Nurul Hasfi Oki Adi Saputra Oki Riski Karlisna Phopy Harjanti Bulandari Primada Qurrota Ayun, Primada Qurrota Puji Purwati, Puji Rangga Akbar Pradipta, Rangga Akbar Ria Rahmawati Rika Futri Adelia Rika Kurniawati Rika Novitasari Rizki Rengganu Suri Perdana Rizky Kusnianto, Rizky S. Rouli Manalu, S. Rouli Sallindri Sanning Putri Sarah Veradinata Purba, Sarah Veradinata Sefti Diona Sari Shabara Wicaksono Siska Ratih Dewanti Sony Kusuma Anugerah Sri Widowati Herieningsih Sulastri _ Sunyoto Usman Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresa Christya A Theresia Dita Anggraini Tri Hastuti Caisari Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vania Ristiyana Wahyu Irara Wahyu Widiyaningrum Wiwied Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yuanisa Meistha Yudi Agung Kurniawan, Yudi Agung Yuliantika Hapsari, Yuliantika Zulfikar Mufti