Dindy Samiadi
Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Radioterapi Eksternal terhadap Nilai Ambang Eksitabilitas Saraf Fasialis pada Radioterapi Eksternal Penderita Karsinoma Nasofaring Altila, Yunaldi; Samiadi, Dindy; Aroeman, Nur Akbar
Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radioterapi eksternal (external beam radiation therapy/EBRT) merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Efek samping radioterapi eksternal yaitu neuropati saraf tepi. Radioterapi eksternal menyebabkan perubahan perbandingan antara akson dan area total serabut saraf. Tujuan penelitian ini menilai pengaruh radioterapi eksternal pada perubahan nilai ambang eksitabilitas saraf fasialis pada penderita karsinoma nasofaring. Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok–Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September–November 2012. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan nerve excitability test (NET) praradioterapi, fraksinasi radiasi ke-15, fraksinasi ke-33, dan 4 minggu pascaradioterapi. Hasil penelitian ini dihitung dengan menggunakan uji-t berpasangan. Terdapat 26 subjek mengalami peningkatan nilai NET selama radioterapi sesuai dengan kemaknaan jumlah fraksinasinya (p<0,001). Hal tersebut tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin dan usia penderita. Simpulan, terjadi peningkatan nilai NET sesuai bertambahnya fraksinasi radiasi, namun 4 minggu pascaradioterapi mengalami penurunan nilai NET mendekati >nilai praradioterapi pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2013;45(3):167–73]Facial Nerve Excitability Values on Nasopharyngeal Carcinoma Patients who Undergo External Beam RadiotherapyExternal radiotherapy is the main treatment for nasopharyngeal carcinoma. One of complication of the external beam radiotherapy (EBRT) is peripheral neuropathy. External radiotherapy could cause changes in ratio between axons and the total area of the nerve fibers. The purpose of this study was to assess the influence of EBRT to the changes in the value of the facial nerve excitability in nasopharyngeal carcinoma. This research was observational analytic study by pre and post design and it was performed in the months September until November, year 2012 at the Otolaryngology–Head and Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Nerve excitability test (NET) examination was performed just before EBRT, fractionation the 15th, fractionation the 30th, and four weeks after EBRT. Analytical statistic calculated by using paired t-test. They were 26 subjects had significant of NET value increased during radiotherapy according to the number of fractionation (p<0.001). It does not have a significant relationship with gender and age of the patient. In conclusions, there is increased NET value corresponding increase in fractionation radiation, but they would be decreases approaching the original value as before EBRT on nasopharyngeal carcinoma patients. [MKB. 2013;45(3):167–73] DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n3.147
Pengaruh Alfa Tokoferol pada Efek Ototoksik Sisplatin Santosa, Yanuar Iman; Samiadi, Dindy; Aroeman, Nur Akbar; Fianza, Pandji Irani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemoterapi sisplatin memiliki efek samping ototoksik, diperantarai radikal bebas, mengakibatkan kematian sel rambut luar koklea, menyebabkan gangguan dengar. Alfa tokoferol memiliki efek otoprotektif terhadap sisplatin pada hewan coba. Diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia. Tujuan penelitian mengukur fungsi pendengaran untuk mengetahui pengaruh pemberian alfa tokoferol per oral pada pencegahan efek ototoksik sisplatin. Dilakukan penelitian uji klinis acak di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) periode Desember 2011–Februari 2012 pada dua kelompok. Kelompok perlakuan menjalani pengobatan standar kemoterapi sisplatin dengan tambahan alfa tokoferol per oral dengan dosis 400 International Unit (IU) per hari sejak 1 hari sebelum kemoterapi selama 30 hari. Kelompok kontrol menjalani pengobatan standar kemoterapi sisplatin. Pemeriksaan fungsi pendengaran dilakukan dengan timpanometri, audiometri, dan distortion product otoacoustic emission (DPOAE) sebelum dan setelah kemoterapi siklus pertama dan kedua. Didapatkan hasil kejadian ototoksik setelah siklus pertama lebih rendah secara bermakna pada kelompok 1 (33,3%) dibandingkan dengan kelompok 2 (66,7%) (p=0,046; IK=95%). Demikian juga dengan kejadian ototoksik setelah siklus kedua lebih rendah secara bermakna pada kelompok 1 (50%) dibandingkan dengan kelompok 2 (88,9%) (p=0,027; IK=95%). Simpulan, terapi alfa tokoferol 400 IU per oral dapat mencegah efek ototoksik sisplatin. [MKB. 2012;44(4):205–12].Kata kunci: Alfa tokoferol, ototoksik, sisplatinEffects of Alpha Tocopherol Againts Cisplatin–Induced OtotoxicityOtotoxicity is a known side effect of cisplatin chemotherapy due to formation of free radicals causing death to cochlear outer hair cells, resulting in hearing loss. Alpha tocopherol has otoprotective effects towards cisplatin in animal studies. Further human studies are needed. The objective of this study was to measure hearing function to know the otoprotective effects of alpha tocopherol against cisplatin. A randomized control trial was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in December 2011–February 2012 in 2 groups. The treatment group received standard cisplatin chemotherapy treatment and alpha tocopherol 400 International Unit (IU)/day since day 1 before a 30-day-treatment. the control group received standard cisplatin chemotherapy treatment. Hearing evaluation was done using tympanometry, audiometry and distortion product otoacoustic emission (DPOAE) before and after the first and second cycles of chemotherapy. Results showed that ototoxic incidence after the first cycle of chemotherapy was significantly lower in group 1 (33.3%) than group 2 (66.7%) (p=0.046, CI=95%). Ototoxic incidence after the second cycle of chemotherapy was significantly lower in group 1 (50%) than group 2 (88.9%) (p=0.027, CI=95%). In conclusion, oral alpha tocopherol 400 IU can prevent cisplatin-induced ototoxicity. [MKB. 2012;44(4):205–12]Key words: Alpha tocopherol, cisplatin, ototoxicity DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.176
Ketebalan Tunika Intima dan Media Arteri Karotis Komunis pada Karsinoma Nasofaring Pra dan Pascaradioterapi Sofyan, Ferryan; Samiadi, Dindy; Soeseno, Bogi; Boesoirie, M. Thaufiq; Lasminingrum, Lina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radioterapi eksternal merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Radioterapi  eksternal menyebabkan disfungsi endotel arteri karotis komunis yang menurunkan produksi nitrogen oksida dan prostasiklin di sel endotel sehingga terjadi penebalan dinding pembuluh darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan ketebalan intima media dan diameter lumen arteri karotis komunis akibat radioterapi eksternal  pada penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah  studi deskriptif dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret 2009–Februari 2010. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan  ultrasonografi  gray scale praradioterapi, pascaradioterapi, dan 10 minggu pascaradioterapi.  Hasil penelitian ini menggunakan uji Fischer dan T berpasangan. Terdapat 25 subjek karsinoma nasofaring dan hasil penelitian ditemukan peningkatan ketebalan intima media sebesar 0,1 mm di intima media arteri karotis komunis kanan dan 0,09 mm di intima media arteri karotis komunis kiri (p<0,001), juga ditemukan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis kanan sebesar 0,384 mm dan 0,342 mm di arteri karotis komunis kiri (p<0,001).  Simpulan, radioterapi eksternal menunjukkan ketebalan intima media dan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2012;44(3):179–85].Kata kunci: Diameter lumen, karsinoma nasofaring, ketebalan intima media, radioterapi eksternal                     Intima and Media Tunica Thickness of Common Carotid Artery in Nasopharyngeal Carcinoma Pre and Post External RadiotherapyExternal radiotherapy is the main treatment for nasopharyngeal carcinoma. External radiotherapy  can cause endothelial dysfunction of common carotid artery and reduces nitrogen oxide and prostacyclin by endothelial cell and cause thickening of the vessels walls. Purpose of this study was to find out changes in intima-media thickness and lumen diameter of common carotid artery due to radiotherapy in patients with nasopharyngeal carcinoma. This research was descriptive with pre and post design and performed from March 2009 to February 2010 in the Ear Nose Throat-Head Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Gray scale ultrasound examination was performed before, after and ten weeks after radiotherapy and calculated by using Fischer’s test and paired T test.  They were 25 subjects and was found out 0.1 mm additional thickness in right intima media and 0.09 mm in left intima media common carotid artery (p<0.001), also found reduction in lumen diameter of common carotid artery in which 0.384 mm in the right and 0.342 mm in the left (p<0.001). In conclusions, external radiotherapy can cause increase intima media thickness  and reduction lumen  diameter  in common  carotid artery  in patients with nasopharyngeal carcinoma. [MKB. 2012;44(3):179–85].Key words: External beam irradiation, intima media thickness, lumen diameter, nasopharyngeal carcinoma DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.206
Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring Nurmasari, Shinta; Samiadi, Dindy; Purwanto, Bambang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, dan emisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 lakilaki dan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea.Effect of External Radiotherapy to Cochlear Outer Hair Cells Function on Nasopharyngeal Carcinoma PatientsRadiotherapy is the main treatment of nasopharyngeal carcinoma. Exposure to high dose radiotherapy can cause damage to the surrounding tissue structure and hearing loss is one of it. Depraved cochlea is occur due to damaged outer hair cells (OHC) because of degeneration of striae vascularis, spiral ligament, and bacillar membrane atrophy. The purpose of this study was to understand the OHCs function due to radiotherapy in nasopharyngeal carcinoma patients. The type of study was observational analytic study with prospective design to determine the influence of radiotherapy to the function of OHC in the department of ENT-HNS Hasan Sadikin General Hospital Bandung and performed from March to September 2007. Pure tone audiometry examination, tympanometry, and otoacoustic emission (OAE) was performed before radiotherapy. Tympanometry and OAE was measured when radiotherapy performed and one month after radiotherapy. McNemar and Z test was performed to calculate the effects of radiotherapy to OHC. In this study 42 ears from 27 subjects that meet the inclusion criteria 18 men and 9 women. The result of this study showed that the prevalence of damaged OHC were 9.6% at 2,000 cGy, 61.5% at 4,000 cGy,81.1% at 6,600 cGy, and 82.8% after one month of radiotherapy. Damaged OHCs function was significance at dose radiation exposure from 4,000 to 6,600 cGy (p<0.001). The conclusion of this study is radiotherapy can alter OHCs function in patients with nasopharyngeal carcinoma.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.12 
Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring Nurmasari, Shinta; Samiadi, Dindy; Purwanto, Bambang
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, danemisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 lakilakidan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea.
Efektivitas Terapi Kortikosteroid Intranasal pada Hipertrofi Adenoid Usia Dewasa berdasarkan Pemeriksaan Narrow Band Imaging Ratunanda, Sinta Sari; Satriyo, Jipie Iman; Samiadi, Dindy; Madiadipoera, Teti; Anggraeni, Ratna
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.914

Abstract

Hipertrofi adenoid merupakan proses perubahan ukuran adenoid yang membesar, merupakan penyebab utama hidung tersumbat. Hipertrofi adenoid dapat terjadi karena proses yang fisiologis, akibat inflamasi, atau suatu keganasan. Proses inflamasi adenoid dapat dinilai menggunakan nasoendoskopi serat lentur dengan pencahayaan narrow band imaging (NBI). Kortikosteroid intranasal menjadi pilihan terapi medikamentosa pada penatalaksanaan hipertrofi adenoid pada anak, namun belum banyak diteliti penggunaannya pada hipertrofi adenoid usia dewasa. Tujuan penelitian ini menilai efektivitas terapi kortikosteroid intranasal untuk mengurangi ukuran adenoid dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. Penelitian dimulai bulan November 2012–Januari 2013 di poliklinik Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (THT-KL RSHS) Bandung dengan metode kuasieksperimental open labeled pre and posttest design. Pemilihan sampel berdasarkan urutan kedatangan, ditentukan 11 subjek penelitian. Penegakan diagnosis pada subjek penelitian berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis THT, pemeriksaan nasoendoskopi serat lentur dilengkapi dengan NBI, dan dilakukan biopsi mukosa adenoid. Subjek penelitian diberikan terapi kortikosteroid intranasal selama empat minggu, kemudian dilakukan evaluasi ulang pemeriksaan NBI dan biopsi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon, hasilnya didapatkan perbaikan nilai derajat inflamasi adenoid secara signifikan pascaterapi kortikosteroid intranasal (p<0,05). Uji McNemar didapatkan hasil signifikan untuk penurunan ukuran adenoid (p<0,05). Uji rank Spearman untuk menganalisis hubungan gambaran histopatologi dengan penilaian NBI pra dan pascaterapi, hasilnya didapatkan korelasi bermakna (p<0,05). Simpulan, kortikosteroid intranasal efektif diberikan pada inflamasi penyebab hipertrofi adenoid usia dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. [MKB. 2016;48(4):228–33]Kata kunci: Hipertrofi adenoid, kortikosteroid intranasal, narrow band imagingEffectiveness of Intranasal Corticosteroids Treatment on Adult Adenoid Hypertrophy based on Narrow Band Imaging ExaminationAbstractAdenoid hypertrophy is a process in which adenoid size becomes enlarged and causes clinical symptoms, especially nasal obstruction. Adenoid hypertrophy can be due to physiological, inflammatory, or malignancy processes. Adenoid inflammatory process can be assessed using a flexible fiberoptic nasoendoscopy with narrow band imaging (NBI). Intranasal corticosteroid is one of the choices to treat adenoid hypertrophy in children; however, more experiments are needed to use it in adults. This study was performed in the period of November 2012 to January 2013 at the outpatient clinic of the Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, using pre- and post-test open-labeled quasiexperimental design. Sample was selected through consecutive sampling, involving 11 subjects. Diagnosis was based on research subject’s anamnesis, ear nose and throat (ENT) physical examination, NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination, and adenoid mucosal biopsy. Subjects were given intranasal corticosteroid therapy for four weeks. NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination and biopsy examination were performed after therapy. Data were analyzed using Wilcoxon test, showing significant improvement of the adenoid inflammation after intranasal corticosteroids therapy (p<0.05). McNemar test results showed a significant reduction in adenoid size (p<0.05). Spearman rank test showed a significant correlation between histopathologic findings and NBI examination result (p<0.05). In conclusion, intranasal corticosteroids are effective for adult adenoid hypertrophy treatment based on NBI examination. [MKB. 2016;48(4):228–33]Key words: Adenoid hypertrophy, intranasal corticosteroids, narrow band imaging
Efektivitas Terapi Kortikosteroid Intranasal pada Hipertrofi Adenoid Usia Dewasa berdasarkan Pemeriksaan Narrow Band Imaging Ratunanda, Sinta Sari; Satriyo, Jipie Iman; Samiadi, Dindy; Madiadipoera, Teti; Anggraeni, Ratna
Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.914

Abstract

Hipertrofi adenoid merupakan proses perubahan ukuran adenoid yang membesar, merupakan penyebab utama hidung tersumbat. Hipertrofi adenoid dapat terjadi karena proses yang fisiologis, akibat inflamasi, atau suatu keganasan. Proses inflamasi adenoid dapat dinilai menggunakan nasoendoskopi serat lentur dengan pencahayaan narrow band imaging (NBI). Kortikosteroid intranasal menjadi pilihan terapi medikamentosa pada penatalaksanaan hipertrofi adenoid pada anak, namun belum banyak diteliti penggunaannya pada hipertrofi adenoid usia dewasa. Tujuan penelitian ini menilai efektivitas terapi kortikosteroid intranasal untuk mengurangi ukuran adenoid dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. Penelitian dimulai bulan November 2012–Januari 2013 di poliklinik Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (THT-KL RSHS) Bandung dengan metode kuasieksperimental open labeled pre and posttest design. Pemilihan sampel berdasarkan urutan kedatangan, ditentukan 11 subjek penelitian. Penegakan diagnosis pada subjek penelitian berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis THT, pemeriksaan nasoendoskopi serat lentur dilengkapi dengan NBI, dan dilakukan biopsi mukosa adenoid. Subjek penelitian diberikan terapi kortikosteroid intranasal selama empat minggu, kemudian dilakukan evaluasi ulang pemeriksaan NBI dan biopsi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon, hasilnya didapatkan perbaikan nilai derajat inflamasi adenoid secara signifikan pascaterapi kortikosteroid intranasal (p<0,05). Uji McNemar didapatkan hasil signifikan untuk penurunan ukuran adenoid (p<0,05). Uji rank Spearman untuk menganalisis hubungan gambaran histopatologi dengan penilaian NBI pra dan pascaterapi, hasilnya didapatkan korelasi bermakna (p<0,05). Simpulan, kortikosteroid intranasal efektif diberikan pada inflamasi penyebab hipertrofi adenoid usia dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. [MKB. 2016;48(4):228–33]Kata kunci: Hipertrofi adenoid, kortikosteroid intranasal, narrow band imagingEffectiveness of Intranasal Corticosteroids Treatment on Adult Adenoid Hypertrophy based on Narrow Band Imaging ExaminationAbstractAdenoid hypertrophy is a process in which adenoid size becomes enlarged and causes clinical symptoms, especially nasal obstruction. Adenoid hypertrophy can be due to physiological, inflammatory, or malignancy processes. Adenoid inflammatory process can be assessed using a flexible fiberoptic nasoendoscopy with narrow band imaging (NBI). Intranasal corticosteroid is one of the choices to treat adenoid hypertrophy in children; however, more experiments are needed to use it in adults. This study was performed in the period of November 2012 to January 2013 at the outpatient clinic of the Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, using pre- and post-test open-labeled quasiexperimental design. Sample was selected through consecutive sampling, involving 11 subjects. Diagnosis was based on research subject’s anamnesis, ear nose and throat (ENT) physical examination, NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination, and adenoid mucosal biopsy. Subjects were given intranasal corticosteroid therapy for four weeks. NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination and biopsy examination were performed after therapy. Data were analyzed using Wilcoxon test, showing significant improvement of the adenoid inflammation after intranasal corticosteroids therapy (p<0.05). McNemar test results showed a significant reduction in adenoid size (p<0.05). Spearman rank test showed a significant correlation between histopathologic findings and NBI examination result (p<0.05). In conclusion, intranasal corticosteroids are effective for adult adenoid hypertrophy treatment based on NBI examination. [MKB. 2016;48(4):228–33]Key words: Adenoid hypertrophy, intranasal corticosteroids, narrow band imaging
Ketebalan Tunika Intima dan Media Arteri Karotis Komunis pada Karsinoma Nasofaring Pra dan Pascaradioterapi Sofyan, Ferryan; Samiadi, Dindy; Soeseno, Bogi; Boesoirie, M. Thaufiq; Lasminingrum, Lina
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radioterapi eksternal merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Radioterapi  eksternal menyebabkan disfungsi endotel arteri karotis komunis yang menurunkan produksi nitrogen oksida dan prostasiklin di sel endotel sehingga terjadi penebalan dinding pembuluh darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan ketebalan intima media dan diameter lumen arteri karotis komunis akibat radioterapi eksternal  pada penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah  studi deskriptif dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret 2009–Februari 2010. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan  ultrasonografi  gray scale praradioterapi, pascaradioterapi, dan 10 minggu pascaradioterapi.  Hasil penelitian ini menggunakan uji Fischer dan T berpasangan. Terdapat 25 subjek karsinoma nasofaring dan hasil penelitian ditemukan peningkatan ketebalan intima media sebesar 0,1 mm di intima media arteri karotis komunis kanan dan 0,09 mm di intima media arteri karotis komunis kiri (p<0,001), juga ditemukan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis kanan sebesar 0,384 mm dan 0,342 mm di arteri karotis komunis kiri (p<0,001).  Simpulan, radioterapi eksternal menunjukkan ketebalan intima media dan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2012;44(3):179–85].Kata kunci: Diameter lumen, karsinoma nasofaring, ketebalan intima media, radioterapi eksternal                     Intima and Media Tunica Thickness of Common Carotid Artery in Nasopharyngeal Carcinoma Pre and Post External RadiotherapyExternal radiotherapy is the main treatment for nasopharyngeal carcinoma. External radiotherapy  can cause endothelial dysfunction of common carotid artery and reduces nitrogen oxide and prostacyclin by endothelial cell and cause thickening of the vessels walls. Purpose of this study was to find out changes in intima-media thickness and lumen diameter of common carotid artery due to radiotherapy in patients with nasopharyngeal carcinoma. This research was descriptive with pre and post design and performed from March 2009 to February 2010 in the Ear Nose Throat-Head Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Gray scale ultrasound examination was performed before, after and ten weeks after radiotherapy and calculated by using Fischer’s test and paired T test.  They were 25 subjects and was found out 0.1 mm additional thickness in right intima media and 0.09 mm in left intima media common carotid artery (p<0.001), also found reduction in lumen diameter of common carotid artery in which 0.384 mm in the right and 0.342 mm in the left (p<0.001). In conclusions, external radiotherapy can cause increase intima media thickness  and reduction lumen  diameter  in common  carotid artery  in patients with nasopharyngeal carcinoma. [MKB. 2012;44(3):179–85].Key words: External beam irradiation, intima media thickness, lumen diameter, nasopharyngeal carcinoma DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.206
Pengaruh Alfa Tokoferol pada Efek Ototoksik Sisplatin Santosa, Yanuar Iman; Samiadi, Dindy; Aroeman, Nur Akbar; Fianza, Pandji Irani
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemoterapi sisplatin memiliki efek samping ototoksik, diperantarai radikal bebas, mengakibatkan kematian sel rambut luar koklea, menyebabkan gangguan dengar. Alfa tokoferol memiliki efek otoprotektif terhadap sisplatin pada hewan coba. Diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia. Tujuan penelitian mengukur fungsi pendengaran untuk mengetahui pengaruh pemberian alfa tokoferol per oral pada pencegahan efek ototoksik sisplatin. Dilakukan penelitian uji klinis acak di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) periode Desember 2011–Februari 2012 pada dua kelompok. Kelompok perlakuan menjalani pengobatan standar kemoterapi sisplatin dengan tambahan alfa tokoferol per oral dengan dosis 400 International Unit (IU) per hari sejak 1 hari sebelum kemoterapi selama 30 hari. Kelompok kontrol menjalani pengobatan standar kemoterapi sisplatin. Pemeriksaan fungsi pendengaran dilakukan dengan timpanometri, audiometri, dan distortion product otoacoustic emission (DPOAE) sebelum dan setelah kemoterapi siklus pertama dan kedua. Didapatkan hasil kejadian ototoksik setelah siklus pertama lebih rendah secara bermakna pada kelompok 1 (33,3%) dibandingkan dengan kelompok 2 (66,7%) (p=0,046; IK=95%). Demikian juga dengan kejadian ototoksik setelah siklus kedua lebih rendah secara bermakna pada kelompok 1 (50%) dibandingkan dengan kelompok 2 (88,9%) (p=0,027; IK=95%). Simpulan, terapi alfa tokoferol 400 IU per oral dapat mencegah efek ototoksik sisplatin. [MKB. 2012;44(4):205–12].Kata kunci: Alfa tokoferol, ototoksik, sisplatinEffects of Alpha Tocopherol Againts Cisplatin–Induced OtotoxicityOtotoxicity is a known side effect of cisplatin chemotherapy due to formation of free radicals causing death to cochlear outer hair cells, resulting in hearing loss. Alpha tocopherol has otoprotective effects towards cisplatin in animal studies. Further human studies are needed. The objective of this study was to measure hearing function to know the otoprotective effects of alpha tocopherol against cisplatin. A randomized control trial was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung in December 2011–February 2012 in 2 groups. The treatment group received standard cisplatin chemotherapy treatment and alpha tocopherol 400 International Unit (IU)/day since day 1 before a 30-day-treatment. the control group received standard cisplatin chemotherapy treatment. Hearing evaluation was done using tympanometry, audiometry and distortion product otoacoustic emission (DPOAE) before and after the first and second cycles of chemotherapy. Results showed that ototoxic incidence after the first cycle of chemotherapy was significantly lower in group 1 (33.3%) than group 2 (66.7%) (p=0.046, CI=95%). Ototoxic incidence after the second cycle of chemotherapy was significantly lower in group 1 (50%) than group 2 (88.9%) (p=0.027, CI=95%). In conclusion, oral alpha tocopherol 400 IU can prevent cisplatin-induced ototoxicity. [MKB. 2012;44(4):205–12]Key words: Alpha tocopherol, cisplatin, ototoxicity DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.176
Radioterapi Eksternal terhadap Nilai Ambang Eksitabilitas Saraf Fasialis pada Radioterapi Eksternal Penderita Karsinoma Nasofaring Altila, Yunaldi; Samiadi, Dindy; Aroeman, Nur Akbar
Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radioterapi eksternal (external beam radiation therapy/EBRT) merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Efek samping radioterapi eksternal yaitu neuropati saraf tepi. Radioterapi eksternal menyebabkan perubahan perbandingan antara akson dan area total serabut saraf. Tujuan penelitian ini menilai pengaruh radioterapi eksternal pada perubahan nilai ambang eksitabilitas saraf fasialis pada penderita karsinoma nasofaring. Jenis penelitian adalah studi analitik observasional dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok–Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung bulan September–November 2012. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan nerve excitability test (NET) praradioterapi, fraksinasi radiasi ke-15, fraksinasi ke-33, dan 4 minggu pascaradioterapi. Hasil penelitian ini dihitung dengan menggunakan uji-t berpasangan. Terdapat 26 subjek mengalami peningkatan nilai NET selama radioterapi sesuai dengan kemaknaan jumlah fraksinasinya (p<0,001). Hal tersebut tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan jenis kelamin dan usia penderita. Simpulan, terjadi peningkatan nilai NET sesuai bertambahnya fraksinasi radiasi, namun 4 minggu pascaradioterapi mengalami penurunan nilai NET mendekati >nilai praradioterapi pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2013;45(3):167–73]Facial Nerve Excitability Values on Nasopharyngeal Carcinoma Patients who Undergo External Beam RadiotherapyExternal radiotherapy is the main treatment for nasopharyngeal carcinoma. One of complication of the external beam radiotherapy (EBRT) is peripheral neuropathy. External radiotherapy could cause changes in ratio between axons and the total area of the nerve fibers. The purpose of this study was to assess the influence of EBRT to the changes in the value of the facial nerve excitability in nasopharyngeal carcinoma. This research was observational analytic study by pre and post design and it was performed in the months September until November, year 2012 at the Otolaryngology–Head and Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Nerve excitability test (NET) examination was performed just before EBRT, fractionation the 15th, fractionation the 30th, and four weeks after EBRT. Analytical statistic calculated by using paired t-test. They were 26 subjects had significant of NET value increased during radiotherapy according to the number of fractionation (p<0.001). It does not have a significant relationship with gender and age of the patient. In conclusions, there is increased NET value corresponding increase in fractionation radiation, but they would be decreases approaching the original value as before EBRT on nasopharyngeal carcinoma patients. [MKB. 2013;45(3):167–73] DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n3.147