M. Nur Salim
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM: RESPON TERHADAP PATOFISIOLOGIK GINJAL = THE EFFECTS OF PAPAYA LEAF EXTRACT ON CHICKENS: III. KIDNEY PATHOPHYSIOLOGICAL RESPONSE Kamaruddin, Mufti; Salim, M. Nur
Jurnal Sain Veteriner Vol 20, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik ginjal ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) adalah 577 ± 69,97 gram. Hewan percobaan dikelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlakuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertama sebagai kontrol hanya diberikan aquades (Po); kelompok kedua sampai kelompok lima diberi air perasaan daun pepaya dosis tunggal sebagai berikut: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun pepaya digunakan 400 g daun pepaya yang diekstraksi secara sederhana. Empat hari setelah perlakuan ayam dibedah bangkai, dinekropsi dan dilakukan pemeriksaan ginjal. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode parafin dan diwamai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pads ginjal pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada ginjal terlihat membengkak dan hiperemik, dan secara mikroskopik struktur ginjal terjadi degenerasi epitel tubulus, hiperemi, hemoragi, dan koloni sel polimorfonuklear. Pada kelompok Po dan P1 tidak terlihat adanya perubahan makroskopik dan mikroskopik pada ginjal ayam. Dan basil penelitian dapat disinapulkan bahwa dosis air perasan daun pepaya 1,5 ml tidak menirnbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,6 ml; 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada ginjal ayam buras. Semakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan pada ayam semakin besar perubahan pada ginjal. Kata kunci: Air perasan daun pepaya; patofisiologik ginjal
PENGAMATAN BRUISES PADA MUSCULUS PECTORALIS AYAM BROILER YANG DIJUAL DI PASAR LAMBARO ACEH BESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN JUMLAH MIKROBA Budiman, Hamdani; Ferasyi, T. Reza; Windasari, Wulan; Salim, M. Nur; Aisyah, Siti; Hambal, Muhammad
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.896 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2999

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan jumlah mikroba antara ayam normal dengan ayam yang mengalami bruises. Sampel ayam broiler diperoleh di Pasar Lambaro Aceh Besar dengan memilih lima musculus pectoralis ayam normal dan lima musculus pectoralis ayam yang mengalami bruises untuk dilakukan uji mikrobiologis. Bagian musculus pectoralis ditimbang dengan berat 25 g, kemudian dilakukan stomaker untuk mendapatkan ekstrak. Selanjutnya dilakukan uji mikrobiologis, perhitungan jumlah koloni dilakukan selama 24 jam. Jumlah mikroba pada sampelayam normal masing-masing adalah Sn1 (1,6x102), Sn2 (2,6x103), Sn3 (3,5x102), Sn4 (1,3x103), dan Sn5 (1,2x102) Cfu/ml, sedangkan pada sampel ayam yang mengalami bruises masing-masing adalah Sb1 (3,8x104), Sb2 (3,0x104), Sb3 (1,3x105), Sb4 (1,9x105), dan Sb5 (1,6x105) Cfu/ml. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ayam yang mengalami bruises memiliki jumlah mikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam normal.
JUMLAH SEL GOBLET PADA USUS HALUS AYAM KAMPUNG (Galludomesticus) YANG TERINFEKSI Ascaridia galli SECARA ALAMI Balqis, Ummu; Hanafiah, M.; Januari, Connie; Salim, M. Nur; Aisyah, Siti; Fahrimal, Yudha
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.249 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.3001

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghitung jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absortif usus halus ayam kampung yang terinfeksi Ascaridia galli secara alami. Penelitian ini menggunakan 10 usus halus ayam kampung yang didapat dari pasar di Banda Aceh. Usus halus ayam kampung diukur kemudian dibagi menjadi tiga bagian (duodenum, jejunum, dan ileum). Kemudian masing-masing bagian usus dibelah dan dihitung jumlah cacing Ascaridia galli. Masing-masing bagian usus tersebut dipotong sepanjang 2 cm, lalu ditempelkan di kertas karton. Kemudian dibuat preparat histopatologis dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin. Parameter dalam penelitian ini adalah jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absortif duodenum, jejenum, dan ileum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel Goblet pada setiap 1000 sel absorbtif usus halus yang terinfeksi Ascaridia galli dengan infeksi ringan, sedang, dan berat secara berturut-turut adalah 465, 480, dan 484. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah infeksi Ascaridia galli di duodenum, jejenum, dan ileum maka semakin meningkat proliferasi sel Goblet.
PENGARUH EKSTRAK DAUN JAMBLANG (Syzygium cumini ) TERHADAP HISTOPATOLOGI PANKREAS TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOSIN The (Effect of Syzygium cumini leaf Extract on Pancreas Histopathology of Rat (Rattus norvegicus) Induced with Streptozotocin) Dinullah, Lestari Sukma; Salim, M. Nur; B, Hamdani
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.876 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.4463

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas ekstrak daun jamblang (Syzygium cumini) sebagai antidiabetik pada gambaran mikroskopis pankreas  tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi streptozotosin. Induksi diabetes dilakukan dengan pemberian steptozotosin 40 mg/kg bb. Sebanyak 15 ekor tikus putih jantan diadaptasi selama 7 hari, kemudian dibagi kedalam 5 kelompok dan 3 ulangan. Kelompok kontrol negatif  (KN) hanya diberikan akuades, kelompok kontrol positif (KP) diberikan streptozotosin dan akuades, dan kelompok perlakuan diberikan ektrak daun jamblang dosis 100 mg/kg bb (K1), 150 mg/kg bb (K2) dan 200 mg/kg bb (K3). Pemberian ektrak daun jamblang diberikan secara oral selama 14 hari. Gambaran histologi jaringan pankreas dilakukan dengan menggunakan metode pewarnaan hemotoksilin dan eosin. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ektrak daun jamblang dengan dosis 100 mg/kg bb, 150 mg/kg bb, dan 200 mg/kg bb berpengaruh terhadap perbaikan jaringan pulau Langerhans pankreas dengan bertambahnya jumlah sel β pankreas, ruang intersel semakin berkurang, sel-sel β tersebar ke seluruh pulau Langerhans, dan ukuran pulau Langerhans lebih besar. Dosis 200 mg/kg bb ekstrak daun jamblang menunjukkan perbaikan histopatologi pankreas yang lebih baik.Kata kunci : Jamblang, streptozotosin, diabetes, pankreas ABSTRACTThis study aimed to determine the effectiveness of jamblang (Syzygium cumini) leaf extract  as an antidiabetic on histopathological lesion of rat (Rattus norvegicus)  pancreas induced by streptozotocin. Diabetic induction was performed by giving steptozotosin 40 mg/kg BW. 15 male rats were adapted for 7 days, divided into 5 groups and 3 replications. Negative control group  (NC) was given only aquadest, positive control group (PC) was given streptozotocin and aquadest, and the treatment groups was given jamblang leaf extract dose of 100 mg/kg BW (K1), 150 mg/kg BW (K2) and 200 mg/kg BW (K3). Jamblang leaf extract were given by oral for 14 days. The histological of pancreatic tissue were performed using the Hematoxylin-Eosin staining. Data of research result was analyzed descriptively. The results showed that the extract of jamblang leaves with dose of 100 mg/kg BW, 150 mg/kg BW, and 200 mg/kg BW have an effect on the improvement islet  of Langerhans pancreas proven by the increasing number of pancreatic β cells, decreasing of intercellular space, β cells were spread throughout islet of Langerhans, increasing the size islet of Langerhans. Doses of 200 mg/kg BW of jamblang leaf extract showed better improvement in histopathological pancreatic.
HISTOPATOLOGI KULIT MENCIT (Mus musculus) FASE REMODELING PADA PENYEMBUHAN LUKA SAYAT DENGAN SALEP GETAH JARAK PAGAR (Jatropha curcas Linn) Nanda, Yunita; Salim, M. Nur; Iskandar, Cut Dahlia
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 4 (2017): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.876 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i4.5476

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas salep getah jarak pagar pada fase remodeling penyembuhan luka sayat kulit mencit. Hewan coba yang digunakan adalah mencit jantan sebanyak 9 ekor, berat 25-40 gram dan berumur 2-3 bulan, dibagi ke dalam 3 kelompok perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri atas 3 ekor mencit. Setiap kelompok sampel dilakukan perawatan luka terbuka dengan intensitas yang sama yaitu dua kali sehari selama 10 hari. Pada kelompok P1 diberi Vaselin kuning, kelompok P2 diberi getah jarak pagar 10%, dan P3 diberi Gentamicin 0,1%. Parameter yang diukur adalah skor kolagen pada setiap kelompok perlakuan. Data kuantitatif diuji menggunakan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (LSD). Dari hasil ANAVA dapat diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap distribusi kolagen. Hasil uji LSD, pada kelompok P1 dengan P2 dan P2 dengan P3 berbeda nyata (P<0,05) sedangkan P1 dengan P3 tidak berbeda nyata (P>0,05). Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan bahwa pemberian getah jarak pagar (Jatropha curcas Linn) 10% dalam sediaan salep selama 10 hari dapat meningkatkan pembentukan distribusi jaringan kolagen pada daerah luka sehingga mempercepat proses penyembuhan luka sayat kulit mencit (Mus musculus) fase remodeling.ABSTRACKThis study aimed to find out the effectiveness of jatropha remover ointment in the remodeling phase of wound healing in mice. The experimental animals used were 9 male mice, 25-40 gram weight and 2-3 months sample group was treated with the same intensity of twice daily for 10 days. P1 groupwas given yellow Vaseline, P2 was given a jatropha gene of 10%, and P3 was given 0.1% of Gentamicin. The parameters measured were collagen scores in each treatment group. Quantitative data were analysed using variance analisys (ANAVA) and followed by with the smallest real difference test (LSD). The results of ANAVA showed that treatment was significantly effect (P<0,05) to collagen distribution. The result of LSD test, in group P1 with P2 and P2 with P3 was significantly different (P<0,05) while P1 with P3 was not significantly (P>0,05). Histophatological observations showed that 10% of Jatropha curcas Linn in ointment for 10 days increase the formation of collagen tissue distribution in the wound area, thus accelerating the healing process of mice remodeling rats (Mus musculus).
PENGARUH PEMBERIAN KACANG PANJANG (Vigna unguiculata) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ALOKSAN (Effect of Long Bean (Vigna unguiculata) on Blood Glucose Level of Mice (Mus musculus) Induced by Alloxan) Aprila, Intan Fitri; Salim, M. Nur; Daud, Razali; Armansyah, T.; Asmilia, Nuzul; Jamin, Faisal
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 2 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.992 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i2.3983

Abstract

The aim of this research was to find out the effect of long bean (Vigna unguiculata) on level of blood glucose on mice (Mus musculus) induced by alloxan. Twelve mice with the weigh of 25-40 grams and clinically healthy were used in this research. All mice were randomly divided into 4 treatment groups, 3 mice each. K0 was negative control group, only given aquadest. K1, K2, and K3 groups were induced by alloxan 0.5 ml. K1 group was positive control. K2 group was fed with 100 grams long bean mixed with 50 ml distilled water. K3 group was fed with 100 grams long bean mixed with 100 ml distilled water. Long bean was fed orally 0.5 ml every morning and evening for 7 consecutive days. On day eight the examination of blood glucose level was performed. The average level of blood glucose were K0 (142.00±23.39), K1 (167.00±10.54), K2 (122.67±12.50), dan K3 (154.67±16.26) mg/dL. In conclusion, the administration of long bean for seven consecutive days does not decrease blood glucose level on mice induced by alloxan.Key words: blood glucose, alloxan, long bean
PENGAMATAN LESI MAKROSKOPIS PADA HATI AYAM BROILEYANG DIJUAL DI PASAR LAMBARO ACEH BESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEBERADAAN MIKROBA Budiman, Hamdani; Ferasyi, T. Reza; -, Tapielaniari; Salim, M. Nur; Balqis, Ummu; Hambal, Muhammad
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.411 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2997

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara lesi makroskopis dengan keberadaan mikroba pada hati ayam broiler. Sampel ayam broiler diperoleh di pasar Lambaro Aceh Besar dengan memilih lima hati ayam normal dan lima hati ayam yang mengalami lesi untuk dilakukan uji mikrobiologis. Hati diambil seberat 25 g, kemudian dilakukan stomaker untuk mendapatkan ekstrak pengencerannya. Selanjutnya dilakukan uji mikrobiologis, pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan menghitung koloni per cawan petri. Hasil dari penelitian menunjukkan sampel hati ayam normal memiliki koloni masing-masing sebanyakn Sn21 (6,5x1022), x Sn2 (2,3x103), Sn3 (1,3x103), Sn4 (1,5x103), dan Sn5 (2,3x102) Cfu/ml, sedangkan sampel hati yang mengalami lesi memiliki koloni masing-masing sebanyak SL1  (3,1x104), SL2 (1,8x106), SL3 (2,7x105), SL4(4,5x106), dan SL5 (1,2x107 )Cfu/ml. Berdasarkan hasil pengamatan disimpulkan bahwa hati yang mengalami lesi cenderung memiliki jumlah mikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan hati yang normal.
PENGARUH PEMBERIAN KACANG PANJANG (Vigna unguiculatTERHADAP STRUKTUR MIKROSKOPIS GINJAL MENCIT (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ALOKSAN Handani, Atika Resty; Salim, M. Nur; Harris, Abdul; Budiman, Hamdani; -, Zainuddin; -, Sugito
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.728 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2987

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian kacang panjang (Vigna unguiculata) dengan pengenceran bervariasi terhadap struktur mikroskopis ginjal mencit yang diinduksi aloksan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 12 ekor mencit (Mus musculus) jantan dengan rata-rata bobot badan 25-40 g yang dibagi menjadi empat kelompok perlakuan. Kelompok pertama (K0) sebagai kontrol negatif, hanya diberi akuades. Kelompok K1, K2, dan K3 diinduksi aloksan masing-masing 0,5 ml. Kelompok K1 sebagai kontrol positif. Kelompok K2 diberikan terapi 100 g kacang panjang yang dicampurkan dengan 50 ml akuades, sebanyak 0,5 ml. Perlakuan keempat (K3) diberikan terapi 100 g kacang panjang yang dicampurkan dengan 100 ml akuades, sebanyak 0,5 ml. Terapi diberikan pada pagi dan sore hari selama waktu 7 hari , secara oral dengan menggunakan sonde lambung. Pada hari ke-8 semua mencit dieutanasia dengan menggunakan kloroform dan diambil organ ginjal untuk pembuatan preparat histologis dan pemeriksaan struktur mikroskopis. Perubahan struktur mikroskopis diperiksa berdasarkan parameter sel glomerulus, sel tubulus hemoragi, peradangan dan nekrosis. Berdasarkan hasil pengamatan, pemberian kacang panjang pada kelompok K2 dan kelompok K3 dapat memperbaiki struktur glomerulus dan tubulus ginjal.
20. The Isolation of Salmonella sp. on quail eggs (cortunxi-cortunix japonica) that failed to hatch in Garot, Darul Imarah Subdistrric, Aceh Besar Suryandari, Latifa; Erina, Erina; Darniati, Darniati; Safika, Safika; Asmilia, Nuzul; Salim, M. Nur
Jurnal Medika Veterinaria Vol 12, No 2 (2018): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.432 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v12i2.4118

Abstract

The study aimed to isolate the Salmonella sp on quail eggs that failed to hatch in Garot village, Darul Imarah Subdistrict, Aceh Besar. A total of thirty quail eggs that failed to hatch were examined in microbiology laboratory of Veterinary Medicine Faculty, Syiah Kuala University. Modification of Carter method was used in this study to isolated samples. The eggs were opened for taking the embryo and then it was swabbed with sterile swabs.  The swab was put into Selenite Cystine Broth (SCB) and incubated at 37o C for 24 hours. The breed was then transferred onto Salmonella Shigella Agar (SSA). The growing Bacteria were observed for their morphology and Gram staining to make sure the bacteria belonged to the negative Gram. The result showed that 10 of the 30 of quail eggs that failed to hatch were positively infected with Salmonella sp. Based on this study, it can be concluded that the salmonella sp.can be isolated from quail eggs which were not hatched in the farm of Garot, Darul Imarah Subdistrict, Aceh Besar
The Effects of Sulphaquinoxalin in Broiler Chicken: Clinical Symptom and Anatomical Pathology Salim, M. Nur; Masyitha, Dian
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 4, No 2 (2010): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.383 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v4i2.9805

Abstract

The clinical symptom and anatomical pathology effect of sulphaquinoxalin administration were studied in 12 male -seven days-old Hubbard broiler chickens with the weight of 85.57.83 g. The chickens were randomly dividedinto 2 groups of 6 each. The P0 group as control group just orally received aquadest and the P groups were treated 1 orally with 0.1% sulphaquinoxalin which dissolved in drinking water. The sulphaquinoxalin was administrated forseven days. At the end of experiment all chickens were sacrificed for necropsy. The results indicated that less appetite and drinking water as well as decrease of body weight (P<0.01). Ptechial haemorrhagic was seen in thorax andfemur muscle, mucosa of duodenum, liver, kidney, heart, lung, and spleen. The liver, kidney, heart, and spleen were swollen.