Nasir Saleh
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Kotak pos 66 Malang 65101

Published : 21 Documents
Articles

Found 21 Documents
Search

Incorporating root crops under agro-forestry as the newly potential source of food feed and renewable energy

International Journal of Renewable Energy Development (IJRED) Vol 3, No 2 (2014): Article in Press - Vol 3 (2): June 2014
Publisher : Center of Biomass & Renewable Energy, Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Entering the third millennium food and energy crisis is becoming more serious in line with water scarcity amid of climate change induced by global warming, that so called as FEWS (food energy and water scarcity).  In the last five decades Indonesian agricultural development of food crops had been emphasized on cereals and grains based. Conversion of forest into agricultural field in the form of upland and lowland facilitated by irrigation is prioritized for cereals such as rice, maize as well as grain legumes such as soybean, peanut etc. Unfortunately, root crops which their main yield underground are neglected.  At the end of second millennium Indonesia was seriously suffered from multi-crisis economic trap, so Indonesia as part of countries under World Food Program to import the huge of food to cover domestic consumption such as rice, wheat, soybean, corn etc. On the other hand, consumption of energy was also increase significantly. These conditions triggering government to stimulate integrated agricultural enterprises for providing abundance of food as well as adequate renewable energy. Although root crops were neglected previously, however from its biological potential to produce biomass promotes root crops into an appropriate position. The variability of root crops which ecologically can be grown from upland in dry areas till swampy submergence condition. Forest conversion into agricultural land is not allowed due to forest is useful to prevent global warming. Therefore, food, feed and fuel (renewable energy) production have to be able grown under agro-forestry. Fortunately the potential of root crops has competency to meet the current need to fulfil food, feed and fuel as well as fibre under future greener environment.

PENGENDALIAN TERPADU PENYAKIT KUDIS (Sphaceloma batatasSaw.) PADA UBIJALAR

Buletin Palawija No 25 (2013)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit kudis yang disebabkan oleh Sphaceloma batatas merupakan penyakit penting dan banyak menimbulkan kerugian hasil yang cukup besar di negara-negara produsen ubijalar (Ipomoea batatas)di Asia, Australia, negara-negara Caribia, kepulauan Pacific dan Amerika latin. Di Indonesia penyakit kudis telah tersebar di sentra produksi ubijalar di Jawa,Bali, Sumatera dan Papua. Kehilangan hasil ubijalar akibat serangan penyakit kudis dapat mencapai 30%, tergantung varietas, umur tanaman pada saat terinfeksi dan kondisi lingkungan. Umumnya penyakit kudis berkembang  didataran tinggi dan terutama pada musim hujan. Pengendalian terpadu penyakit kudis dapat dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa cara pengendalian yang saling kompatibel dalam satu paket pengendalian yaitu: menanam varietas yang tahan (Muaratakus, Cangkuang, Sewu, Sari, Sukuh, Kidal, Papua Salosa dan Sawentar), menggunakan bibit sehat atau mencelup bibit dalam larutan fungisida  Benomyl atau Mankozeb selama 15 menit, rotasi tanam dengan tanaman yang bukan inang jamur seperti tanaman kacang tanah, kedelai, jagung atau padi, sanitasi lahan dengan memusnahkan bekas tanaman yang terinfeksi dan menyemprot fungisida Benomyl (400 g ba/ha), Chlorotalonil 1300 g ba/ha, Captafol 1520 g ba/ha, fentin hidraxide 300 g ba/ha, tembaga oxiklorida 1500 g ba/ha dan Mankozeb 1500 g ba/ha, atau pestisida nabati (4 g/100 ekstrak bawang merah) apabila diperlukan.

PENYAKIT ”LELES” PADA TANAMAN UBIKAYU BIOEKOLOGI DAN CARA PENGENDALIANNYA

Buletin Palawija No 26 (2013)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit “leles” pada tanaman ubikayu (Manihot esculenta Crantz.) di Indonesia, identik dengan penyakit busuk akar/umbi (root rot disease) yang merupakan penyakit sangat penting dan merugikan di negara produsen ubikayu di Afrika, Asia dan Amerika Latin. Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut sangat tinggi mencapai 80–100% pada varietas rentan. Di Lampung, penyakit “leles” pada varietas UJ-3 serangannya mencapai 74,6%. Gejala penyakit pada tanaman muda berupa layu, daun menguning dan gugur, dan akhirnya tanaman mati, sedangkan gejala pada tanaman tua berupa busuk akar/umbi serta busuk pangkal batang. Penyakit tersebut biasanya berkembang pada lahan dengan kelembaban tinggi atau pada musim hujan. Hasil identifikasi patogen menunjukkan bahwa beberapa jamur patogenis yaitu Botryodiplodia sp., Fusarium spp. Colletotrichum sp., Sclerotium rolfsii, Cladosporium sp. dan Aspergillus spp. berasosiasi dengan penyakit tersebut. Cara pengendalian yang sangat potensial diterapkan terhadap penyakit “leles” adalah dengan menanam varietas tahan penyakit (seperti UJ-5, Malang-4, Adira-4, Litbang UK-2), pemilihan lokasi bebas penyakit, pengelolaan tanaman melalui pemupukan berimbang, pengelolaan lahan dengan baik termasuk menghindari tanam di daerah rawan banjir ataupun tergenang, perbaikan drainase, sanitasi lahan, eradikasi tanaman sakit, rotasi tanaman, serta tidak menunda waktu panen. Selain itu untuk mencegah penyakit terbawabibit (stek), maka stek perlu dikelola dengan baik misalnya dengan pencelupan dalam air hangat ataupun menggunakan fungisida benomil.

PENYAKIT VIRUS TANAMAN UBIJALAR DAN UPAYA PENGENDALIANNYA

Buletin Palawija No 27 (2014)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, tanaman ubijalar (Ipomoea batatas) merupakan sumber karbohidrat yang penting sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan baku berbagai industri pangan/non-pangan. Namun demikian karena bukan merupakan komoditas utama, penelitian dan pengembangan komoditas tersebut masih terbatas. Pada tahun 2011, rata-rata nasional hasil ubijalar adalah 12,2 t/ha, masih di bawah potensi hasil beberapa varietas unggul yang mencapai 30–35 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas ubijalar adalah adanya infeksi virus. Hingga kini di Indonesia, paling tidak terdapat enam jenis virus yang menginfeksi tanaman ubijalar yaitu: Sweet potato feathery mottle virus (SPFMV), sweet potato mild mottle virus (SPMMV), Sweet potato latent virus (SPLV), Sweet potato chlorotic fleck virus (SPCFV), Sweet potato virus-6 (SPV-6) dan Sweet potato virus-8 (SPV-8). Diduga Sweet potato virus disease (SPVD) yang merupakan infeksi ganda SPFMV+SPCSV juga telah ada di Indonesia. Di luar negeri infeksi virus telah terbukti secara nyata merugikan. Infeksi SPVD dapat mengakibatkan kehilangan hasil hingga 90%. Pengendalian penyakit virus dapat dilakukan dengan merakit varietas tahan/toleran, menanam bibit sehat, pengaturan lokasi/musim tanam, rotasi tanam, dan pengendalian vektor dengan pestisida. Pendekatan PHT dengan melaksanakan sekolah lapang bagi petani akan lebih meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit virus.

Profil Dan Peluang Pengembangan Ubi Kayu Di Indonesia

Buletin Palawija No 14 (2007)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman ubi kayu merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi kayu banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri. Secara umum keragaan produksi dan produktivitas ubi kayu selama 9 tahun terakhir (1999–2007) menunjukkan pertumbuhan yang positif meskipun dengan luas tanam yang berfluktuasi. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat alternatif selain beras, berkembangnya industri pakan ternak dan perkembangan industri kimia berbasis ubi kayu (termasuk industri bio-etanol), kebutuhan ubi kayu dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanaman. Dengan tersedianya varietas unggul dan teknologi budidayanya, lahan untuk perluasan ubi kayu yang luas serta pangsa pasar yang masih terbuka maka peluang pengembangan ubi kayu sangat besar.

Profil dan Peluang Pengembangan Ubi Jalar untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Agroindustri

Buletin Palawija No 15 (2008)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, pakan maupun bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal komoditas tanaman tersebut. Ketersediaan lahan yang masih luas, teknologi produksi dan pasar yang masih terbuka merupakan potensi untuk pengembangan ubi jalar di Indonesia. Potensi sekaligus peluang tersebut dapat direalisasikan melalui upaya pelatihan, bimbingan berkelanjutan dan fasilitasi permodalan, penyediaan sarana produksi bagi petani serta kemitraan yang adil dengan pengusaha/industri berbasis ubi jalar.

Teknologi Produksi Ubi Kayu Mendukung Industri Bioetanol

Buletin Palawija No 16 (2008)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan sumber energi alternatif yang berasal dari hasil pertanian seperti biodiesel dan bioetanol menjadi isu penting akhir-akhir ini seiring dengan meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasaran dunia dan menipisnya cadangan fosil sebagai bahan baku minyak. Sesuai dengan Peraturan Presiden No.5 tahun 2006, ubi kayu berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar nabati (biofuel) dalam bentuk bioetanol sebagai campuran premium dengan proporsi 10% (Gasohol-E10). Pada tahun 2008, kebutuhan premium untuk transportasi nasional mencapai 19,66 juta KL dan akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan 7,07% per tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan perlu-nya pengembangan ubi kayu untuk memenuhi permintaan industri bioetanol, dan industri lainnya. Untuk mendukung industri pengolahan bioetanol dari bahan ubi kayu telah tersedia teknologi berupa varietas ubi kayu yang sesuai seperti Adira-4, MLG-6, dan UJ-5, teknologi budidaya yang produktif dan efisien yang mampu menghasilkan umbi 35–45 t/ha serta teknologi pengelolaan waktu tanam dan panen yang menjamin pasokan bahan ubi kayu secara lebih merata sepanjang tahun.

Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku Industri Bioetanol

Buletin Palawija No 17 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi kayu sebagai bahan baku industri bioetanol. Penggunaan sumber energi alternatif terbarukan yang berasal dari hasil pertanian seperti bioetanol perlu dilakukan karena meningkatnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasaran dunia dan menipisnya cadangan fosil. Ubi kayu cukup berpotensi sebagai bahan baku industri etanol karena mampu memproduksi etanol sebanyak 2.000–7.000 l/ha/th. Kandungan pati yang tinggi pada ubi kayu merupakan substrat yang baik untuk menghasilkan glukosa sebagai produk antara pada pembuatan etanol. Proses pengolahan ubi kayu menjadi etanol meliputi gelatinisasi pati, diikuti hidrolisis pati secara enzimatis menjadi glukosa dengan menggunakan enzim amilase dan glukoamilase (likuifikasi dan sakarifikasi), lalu difermentasi menjadi etanol dan dilanjutkan dengan distilasi dan dehidrasi untuk mendapatkan bioetanol dengan kadar 99,5% (fuel grade). Berdasarkan kadar gula total, pati dan ratio fermentasinya, beberapa varietas/klon ubi kayu, di antaranya CMM 99008-3, MLG 0311, OMM 9908-4 dan UJ-5 sesuai untuk bahan baku industri etanol dengan nilai konversi 4–4,5 kg umbi kupas segar/liter etanol 96%. Departemen Pertanian melalui program Peningkatan Mutu Intensisifikasi (PMI) dan perluasan areal tanam, telah memproyeksikan secara bertahap pengembangan ubi kayu untuk mendukung industri bioetanol. Program tersebut perlu mendapat dukungan semua stake holder, termasuk pengusaha/industri serta kebijakan serius dari Pemerintah untuk mendorong realisasi substitusi 10% premium dengan bioetanol (Gasohol E-10).

Perbaikan Perbenihan Guna Mendukung Peningkatan Produksi Ubi Jalar

Buletin Palawija No 18 (2009)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbaikan perbenihan guna mendukung peningkaan produksi ubi jalar. Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai sumber karbohidrat, ubi jalar banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan dan bahan baku industri. Sejalan dengan program diversifikasi pangan yang menjadikan sumber karbohidrat sebagai alternatif selain beras, perkembangan industri kimia berbasis ubi jalar, dan berkembangnya industri pakan ternak, kebutuhan ubi jalar dipastikan akan meningkat tajam sehingga diperlukan peningkatan produksi baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanaman komoditas tersebut. Teknologi budidaya untuk peningkatan produktivitas maupun lahan untuk pengembangan ubi jalar telah tersedia. Namun masih diperlukan sistem perbenihan yang mampu menjamin tersedianya benih bermutu secara memadai dan berkesinambungan. Sistem perbenihan ubi jalar yang perbanyakannya menggunakan bagian vegetatif berupa stek batang atau stek pucuk dan secara genetis tidak berbeda dengan induknya perlu diatur tersendiri agak berbeda dengan tanaman yang diperbanyak melalui biji. Hubungan, keterkaitan dan koordinasi antara produsen benih/benih terutama penyedia benih sumber, penangkar benih, distributor/penyalur benih yang selama ini masih dirasa kurang harmonis masih perlu ditingkatkan. Untuk mencapai pertumbuhan industri benihan yang berkelanjutan, diperlukan peran sinergi sektor swasta, institusi riset pemerintah dan institusi yang menangani regulasi serta fasilitasi perbenihan.

HAMA BOLENG PADA TANAMAN UBIJALAR DAN PENGENDALIANNYA

Buletin Palawija No 19 (2010)
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, ubijalar merupakan bahan pangan sumber karbohidrat sesudah beras dan jagung. Sayangnya produktivitas ubijalar hingga saat ini masih tergolong rendah yaitu sekitar 10,78 t/ha. Salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas ubijalar tersebut adalah serangan hama boleng, Cylas formicarius sedangkan petani belum melakukan pengendalian terhadap hama tersebut secara optimal. Pengendalian terpadu menggunakan dua atau lebih komponen pengendalian sangat diperlukan untuk mengatasi serangan hama boleng tersebut. Pengendalian hama boleng terpadu dilakukan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian, yaitu: Sanitasi lahan, cara bercocok tanam meliputi penggunaan bibit sehat (stek pucuk), pembumbunan, pengairan, dan pergiliran tanaman; penggunaan varietas/klon toleran terhadap hama boleng seperti Cangkuang dan Genjahrante; penangkapan serangga jantan dengan menggunakan feromon seks sintetik atau C. formicarius virgin sebanyak 5–10 ekor/100 m2; pemanfaatan agensia biologi, jamur B. bassiana; penyemprotan dengan insektisida organik yaitu serbuk biji mimba dengan takaran 20 kg/ha; secara kimiawi dengan perendaman stek ke dalam insektisida dan penyemprotan pertanaman dengan insektisida permetrin, karbosulfan, dan endosulfan, atau insektisida dalam bentuk butiran yaitu karbofuran 3G masing-masing dengan konsentrasi anjuran.