Articles

MUHAMMAD SYAHRUR DAN TEORI LIMITNYA

EMPIRISMA Vol 25, No 1 (2016): Ushul Fiqh
Publisher : STAIN Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika Islam berhadapan dengan modernitas, maka sekian problematika muncul. Banyak usaha yang dilakukan oleh para pemikir Muslim untuk merspon persoalan tersebut. Salah satunya adalah Muhammad Syahrur. Di samping menawarkan solusi, Syahrur juga menjadi pengisi kekurangan pemikiran-pemikiran sebelumnya terutama pemikiran Fazlurrahman. Fazlurrahman datang dengan mengajukan tesis double movement theory yang bertumpu kepada kontekstualisasi ayat-ayat al-Qur’an dengan konteks kekinian. Teori Rahman mentok ketika tidak semua  ayat al-Qur’an memiliki asbab al-nuzul. Kelemahan teori Rahman ini kemudian ditutupi oleh Muhammad Syahrur dengan mengajukan teori limit. Artikel sederhana ini membahas teori yang diusung oleh Muhammad Syahrur dan bagaimana contoh-contohnya dalam penerapan hukum Islam. Kata kunci: Muhammad Syahrur, Teori limit, Hukum Islam

RADIKALISME ISLAM DI KALANGAN MAHASISWA (Sebuah Metamorfosa Baru)

Jurnal Analisis Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : IAIN RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggapan bahwa kelompok Islam militan diikuti oleh kalangan awam mulai disadari kalangan fundamentalis. Perubahan gerakan dilakukan kelompok ini, pilihan kelompok mahasiswa sebagai agen baru dianggap mampu merubah pola gerakan. Merebaknya kelompok radikal Islam di kalangan mahasiswa tidak terlepas dari upaya kaderisasi kelompok intelektual kalangan fundamentalis Islam. Strategi yang dilakukan adalah indokrinasi ideologis yang membuat mahasiswa sulit berpisah dari kelompok ini. Fenomena ini akhirnya membentuk metamorfosa baru gerakan Islam radikal di kampus.

Hadis-Hadis “Misoginis” Dalam Persepsi Ulama Perempuan Kota Banjarmasin

Jurnal Muadalah Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Muadalah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan terakhir, di Kalimantan Selatan misalnya, sosok ulama dari kalangan perempuan mulai muncul dalam berbagai majelis taklim. Peran mereka sebagai pendakwah agama untuk umat tidak dapat dinafikan. Hal ini kemudian direpresentasikan dalam bentuk pemahaman mereka terhadap sumber agama, yaitu al-Qur‟an dan hadis. Dalam konteks hadis inilah, maka pemahaman mereka terhadap riwayat yang terkesan merendahkan perempuan menjadi penting untuk dikaji, dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan fiqh al-hadits, melalui teknik wawancara dan dokumentasi, diperoleh temuan bahwa persepsi para ulama perempuan terhadap sejumlah hadis misoginis ini memiliki kesamaan, yaitu tidak memandang hadis-hadis tersebut berkonotasi misoginis. Dari tujuh sampel ulama perempuan yang diteliti, hanya ditemukan satu ulama yang menangkap kesan “keras” dan “diktator” dari hadis tersebut. Meski demikian, ulama tersebut hanya berani mengatakan “kesan”, bukan kenyataan hadis yang sebenarnya. Karena hanya kesan, maka ulama tersebut berusaha mencari makna lain agar kesan tersebut hilang. Penerimaan seluruh responden terhadap hadis-hadis ini dipengaruhi oleh perspektif mereka yang masih kuat memegang nilai-nilai “tradisi”. Nilai-nilai tradisional biasanya memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan secara hirarkis, yaitu menempatkan yang satu lebih tinggi atas yang lain.Kata kunci: misoginis, persepsi, Ulama perempuan.The current trends in South Kalimantan has indicated that women moeslem scholars start to emerge from many religious gathering. Their roles as preacher cannot be neglected. This fact, furthermore, is representated in the form of their comprehension to their religion main guidance—Qur‟an and Hadith. From the context of Hadith, the comprehension of women moeslem scholars on the notion that tends to degrade women becomes significant to be investigated through interview and documentation technique, the writer utilizes descriptive method and fiqh al-hadist approach. It is found that the perceptions of women moeslem scholars to the misogynistic Hadith have a similarity that is, not looking these Hadiths as having misogynistic connotations. Among 7 sampels of the scholars being investigated, only one scholar has the impression of “hars” and dictator” from the Hadith. However, the scholar only dares to say “impression”, not the actual fact from the Hadith. Since it is only an impression, the scholar tries to seek for another meaning to delete the impression. The assumption of the respondents from the hadith is much influenced by their perspectives that strongly hold “traditional” values. The traditional values usually look the relationships between men and women hierarchically, that is placing one higher that the other.Keywords: misogynistic, perceptions, women Islamic scholars.

Peta Kajian Hadis Ulama Banjar

Jurnal Tashwir Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Tashwir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on the development map of hadiths study of Banjar Islamic scholar becomes important to see the extent to which typology of hadiths study that have been developed, either the pattern or its tendency. Using descriptive method and historical approach, it is identified that the hadiths study of Banjar Islamic scholars is plotted in two forms—al-riwayah and al-dirayah. Such typology of hadith study seems to refer to the major classification of the science of hadiths which has been pioneered by the classical scholars—‘ilm al-hadiths riwayah and ‘ilm al-hadiths dirayah. The hadiths study of Banjar scholars in the form of al-riwayah dominates almost all their works of hadiths and is classified into some tendency, such as: syarh study, ta’liq and takhrij study, arba’in hadiths study, thematic study of hadiths with fiqh fragments, the primacy of the noble, and faith, and hadiths study of encyclopedic-referents. Moreover, in the form of al-dirayah, the works of Banjar scholars is tracked relatively fewer, and which can be classified  into two tendency, ie: mushthalah study of general hadiths formatted in the form of dialogue and special mushthalah study (thematic) which specifically highlights the musalsal hadiths theoretically and practically.  Key words: Study map, Hadiths works, Banjar Islamic scholars.  Penelitian terhadap peta perkembangan kajian hadis ulama Banjar, menjadi penting dilakukan, untuk melihat sejauh mana tipologi kajian hadis yang telah dikembangkan, baik bentuk [pola] ataupun kecenderungannya. Dengan menggunakan metode deskriptif dan pendekatan sejarah, diperoleh temuan bahwa kajian hadis ulama Banjar terpola dalam dua bentuk; al-riwāyah dan al-dirāyah. Tipologi studi hadis ini nampaknya memang mengacu klasifikasi mayor ilmu hadis yang dicetuskan oleh para ulama klasik; ‘ilm al-hadīts riwāyah dan ‘ilm al-hadīts dirāyah. Untuk kajian hadis ulama Banjar dalam bentuk al-riwāyah, yang mendominasi hampir seluruh karya-karya hadis mereka, diklasifikasikan dalam beberapa kecenderungan yaitu; kajian syarh, kajian ta’līq dan takhrīj, kajian hadis arba’īn, kajian hadis tematis dengan fragmen fikih, keutamaan orang-orang yang mulia, dan keimanan, dan kajian hadis ensiklopedis-referen . Kemudian untuk bentuk al-dirāyah ini, karya-karya ulama Banjar yang terlacak relatif sangat minim, yang dapat diklasifikasikan dalam dua kecenderungan, yaitu; kajian mushthalah hadis umum, yang diformat dalam bentuk dialogis [tanya-jawab]dan kajian mushthalah khusus [tematis], yang secara khusus menyoroti tentang hadis-hadis musalsal secara teoritis dan praktis. Kata kunci; Peta Kajian, Karya Hadis, Ulama Banjar

TADWIN HADIS DAN KONTRIBUSINYA DALAM PERKEMBANGAN HISTORIOGRAFI ISLAM

Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol 12, No 1 (2013): Jurnal Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Historically, the process of tadwîn was through by the phases of a long and complex historical and colored many controversies. The controversy intensified when considering stream factor in it. Three traditional currents in Islam, Ahl al - Sunnah wa al - Jamaah, Shiites, and Kharijites, proved to have a history of their own tadwîn traditions were different from each other. Concurrently with the tadwîn process of hadith, the scholars also put its methodological tools. Methodological tools that in turn give effect to other disciplines, including Islamic historiography. This study tried to discover more about the dynamics that occured in the tadwîn tradition process and to what extent it impacted to the Islamic historiography. Through the method of historical - comparative historical or combined with Usul al - hadîts, this study revealead that the hadith tadwîn basically been going on since the period of the Prophet and continued in subsequent periods until finally composed " Six Major Hadith Compilation " among the Ahl al - Sunnah wa al - Jamaah and the " Four Major Hadith Compilation " ( al -Kutub al - Arbaah ) among Shiites. The study also showed that tadwîn of hadith clearly had a contribution which was not only limited to providing abundant material for writing the history of Islam in the form of biography (sirah) and military raids or attacks (maghâziy), but more importantly also about resource gathering methods, method of source criticism, and methods of preparation work of Islamic history

Jalan Berliku Menuju Perdamaian Aceh

PASAI Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses  perdamaian di Aceh  adalah  satu  proses  yang  penuh  dengan  liku-liku dan tantangan.  Proses  perdamaian di Aceh  telah menghabiskan  waktu  yang  cukup lama   untuk mencapai hasilnya.   Proses   panjang   menuju  perdamaian  di Aceh  bukan  lagi  sekedar   menjadi   catatan  sejarah,  tetapi sekaligus  menjadi  prestasi  bagi bangsa  Indonesia.  Mengakhiri   perang yang  disebabkan  oleh  adanya   kelompok  yang  sudah   begitu  lama  mengangkat  senjata  bukanlah  sesuatu yang  mudah. Perdamaian  Aceh  pernah mengalami  beberapa  kali kegagalan di lapangan. Perundingan pertama dan lahirnya jeda  kemanusiaan. Ketika jeda kemanusian tidak lagi  dipatuhi oleh kedua  belah pihak  yang  berkonflik  maka dirintislah  perundingan kedua  dan lahirnya COHA. Apabila COHA gagal dalam implimentasinya  maka diggas perundingan ketiga  dan  lahirnya  perjanjian damai Helsinki. Oleh karena itu  wajar  jika  disebutkan perdamaian Aceh   melalui  jalan  berliku. Namun  Aceh kini   bukan  lagi   tempat  latihan  perang  bagi tentera  Indonesia dan  juga   bukan  arena   konflik bersenjata di Nusantara  melainkan  sudah   menjadi  laboratorium  yang  mengajarkan  arti  demokrasi  sebenarnya bagi  Indonesia. 

Analisa Rancangan Konverter DC Ke AC Pada Sumber Listrik Sel Surya Menggunakan Irfz44n Sebagai Saklar Elektronik

SAMUDERA Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisa Rancangan Konverter DCke ACmenggunakan IRFZ44Nsebagai saklar elektronik dibangun dengan menggunakan inverter 12 volt DC ke 220 volt AC. Rangkaian ini menggunakan IC CD4047 sebagai bagian pembangkit pulsa Trigger untuk drain IRFZ44N transistor. Tegangan output AC yang di analisa pada rangkaian masih 12 volt AC, maka diperlukan sebuah transformator step up untuk menaikkan dari 12 volt AC ke 220 volt AC. Kegunaan alat ini nantinya salah satunya akan sangat berguna pada penggunaan listrik sel surya pemakaian rumah tangga.

Analisis Sel Surya Sederhana Menggunakan Transistor Jengkol 2n3055 Sebagai Penyerap Cahaya Matahari

SAMUDERA Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kebutuhan energi listrik ditengah menipisnya cadangan sumber energi konvensional, telah mendorong upaya-upaya untuk mengembangkan energi terbarukan. Salah satu sumber energi terbarukan yang mempunyai potensi yang sangat besar khususnya bagi Indonesia yang berada di daerah tropis adalah energi surya/matahari. Sel surya atau komponen fotovoltaik dapat mengubah sinar matahari menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh beban atau disimpan dalam baterai. Penggunaan bahan bahan yang mempunyai efesiensi besar dan bahan yang digunakan mudah didapatkan merupakan tujuan dari pengembangan sel surya ini. untuk menunjang tercapainya sebuah sel surya yang mempunyai ekonomis murah dan efesiensi yang tinggi kita melakukan sebuah percobaan dan analisa efesiensi dari transistor jengkol 2N3055. Berdasarkan hasil penelitian dengan menserikan dan memparalelkan transistor jengkol 2N3055 sebanyak 48 buah, maka dapat menghasilkan tegangan output maksimum sel surya sederhana 6.20 volt DC dan arus output 0.2 mA. 

Prospek Hukum Islam dalam Sistem Hukum Indonesia

al-'adalah Vol 14, No 2 (2017): Al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kendatipun mayoritas warga negara Indonesia adalah umat Islam, namun hukum Islam tidak dapat secara otomatis berlaku di negeri ini. Hal ini dikarenakan Indonesia bukan negara agama dan tidak menjadikan agama sebagai landasan ideologi negara. Artikel ini menganalisis prospek masuknya hukum Islam dalam sistem hukum nasional. Tujuannya untuk menemukan format yang sesuai dengan karakter negara Indonesia dan tidak menyimpang dari landasan idiil negara yakni Pancasila. Penelitian ini menyimpulkan hanya ada sedikit cara untuk memberlakukan hukum Islam di Indonesia, tanpa mengubah tatanan kenegaraan, yakni (1): melalui amandemen UUD. Ketika ada amandemen konstitusi, hukum Islam bisa saja ditransformasikan menjadi hukum positif sejauh disepakati oleh badan legislatif melalui cara dan prosedur demokratis. Kedua melalui transformasi materi hukum. Cara ini dilaksanakan dengan mengubah hukum materiil yang semula berlandaskan kepada nilai-nilai sekuler menjadi produk hukum yang berlandaskan nilai-nilai ajaran Islam. Ketiga: melalui otonomi daerah. seperti di Aceh, Banten, Madura, dan Gorontalo.

Pergeseran Wacana Relasi Gender Dalam Kajian Tafsir Di Indonesia: (Perbandingan Penafsiran ‘Abd Al-Rauf Singkel Dan M. Quraish Shihab)

Muadalah Vol 2, No 2 (2014): Perempuan dan Kitab Suci
Publisher : IAIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study tries to picture the shift in gender relations discourses in the interpretation paradigm in Indonesia by comparing the interpretation (tafsir) of ‘Abd al Rauf Singkel and M. Quraish Shihab. The result of study shows that there are some similarities and differentiations in the pattern of the compared interpretation of the two Indonesian Malay scholars on gender versus. ‘Abd al Rauf Singkel’s interpretation generally follows the traditional interpretation paradigm, yet the creativity elements still can be found. As the main source, The interpretation of Al-Mustafid which refers to al-Jalalain interpretation may describe the mindset of ‘Abd al Rauf Singkel whose his is in the traditional interpretation mainstream and which is gender bias. It is reflected in some of his interpretations. However, His views are more moderate and tolerant as shown in his interpretation on the issues of women creation and leadership. The shift of gender relation discourse is more visible in the interpretation of Quraish Shihab. He seems to have his own interpretation which does not fully follow the view of both traditional and contemporary interpretation. He, for example, interprets ‘nafswahidah’ as ‘Adam’ whose couple is Eve. However, he does not agree that Eve was created from Adam himself, but from Adam’s type. Thus, he is in a position between the traditional and the contemporary. A similar tendency can also be seen from other themes. These interpretations are a step further than the previous Indonesian commentators (mufasir), not least ‘Abd al Rauf Singkel.