Siti Saidah
Gunadarma University

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

DEVELOPING MANAGEMENT INFORMATION SYSTEM OF PHARMACY WAREHOUSE STOCK (Case Study in RSUD BUDHI ASIH Cawang – Jakarta)

Jurnal Ilmiah Informatika Komputer Vol 13, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RSUD Budhi Asih is a government owned hospital. Their daily activities are to provide medical services. In order to provide fast information services to the patients, computer support that is connected to a networks is required. However, the computer networks have not been used for medicine’s inventory system. Hence, in this research, the development of medicine’s inventory system is developed. The present system of medicine’s inventory relies on stand alone PC so that validation of the quantity, validation of vendor selection and report validation are still taken care manually. With the availability of the new system, data processing for medicine information in the warehouse and satellite warehouse as well as request for medicine from the pharmacy will be fast and easy.Keyword(s) : System, Medicine, Main warehouseSubject Description : K.6.Management of Computing and Information Systems | K.6.1.Project and People Management | System Analysis and Design

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Materi Bunyi Untuk Siswa SMP Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif

Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 3, No 3 (2015): Oktober 2015
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perangkat pembelajaran yang digunakan di SMPN 27 Banjarmasin selama ini masih belum maksimal dan selalu menggunakan metode pembelajaran konvensional, sehingga siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengembangkan perangkat pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif yang layak. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) validitas perangkat pembelajaran materi bunyi, (2) kepraktisan perangkat pembelajaran materi bunyi dilihat dari keterlaksanaan RPP, (3) efektivitas perangkat pembelajaran materi bunyi dilihat dari tes hasil belajar kognitif. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan yang mengacu pada model pengembangan ADDIE. Data diperoleh melalui validasi perangkat pembelajaran, lembar pengamatan keterlaksanaan RPP, dan data hasil belajar. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa: (1) perangkat pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan valid berdasarkan hasil penilaian yang berada dalam kategori sangat baik menurut validator, (2) perangkat pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan praktis dilihat dari keterlaksanaan RPP yang berkategori sangat baik, (3) perangkat pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan efektif dilihat dari gain score hasil belajar yang berada dalam kategori sedang. Diperoleh simpulan bahwa perangkat pembelajaran materi bunyi untuk siswa SMP menggunakan model pembelajaran kooperatif dinyatakan layak digunakan karena memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran; pembelajaran kooperatif; bunyi

Analisis Cost of Illness Terapi Insulin dan Kombinasi Insulin-Metformin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.973 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan suatu penyakit progresif yang berdampak pada biaya yang dikeluarkan pasien selama mengidap penyakit ini. Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei hingga Juni di salah satu rumah sakit di Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perhitungan biaya kesakitan penggunaan insulin monoterapi dan kombinasi insulin-metformin pada pasien DM tipe 2 dengan menggunakan analisis Cost of Illness (COI). Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif pada objek penelitian pasien rawat jalan dengan lama terapi selama 6 bulan pada tahun 2013. Komponen biaya yang diukur adalah biaya medik langsung (biaya kunjungan ke dokter, biaya obat, biaya komplikasi dan biaya pemeriksaan laboratorium) dan human capital (HC) seperti biaya tidak langsung non-medis (kehilangan pendapatan per hari). Hasil penelitian menunjukkan nilai COI selama 6 bulan terapi dengan insulin dan kombinasi insulin-metformin secara berurutan Rp661.063,59 dan Rp443.165,28. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan terapi kombinasi insulin-metformin memiliki biaya kesakitan yang lebih rendah dibandingkan dengan terapi insulin tunggal dan secara statistik (student t-test) menunjukkan perbedaan yang signifikan p=0,004 (p<0,05).Kata kunci: COI, diabetes melitus tipe 2, insulin, kombinasi insulin-metforminCost of Illness Analysis of Insulin and Insulin-Metformin Combination Usage towards Diabetes Mellitus Type 2 Patients at Hospital in BandungDiabetes mellitus (DM) type 2 is a progressive disease that impact on the patients incurred costs during the illness. This study was conducted on May to June at one of hospital in Bandung. This study aimed to obtain cost of illness calculation of insulin monotherapy and insulin-metformin combination in patients with type 2 diabetes using Cost of Illness analysis (COI). This study used cross-sectional method with retrospective data collection on outpatients with 6 months therapy period in 2013. The cost of the measured components are direct medical costs (the cost of doctor visits, medicine costs, costs of complications and the cost of laboratories test) and human capital (HC) such as indirect non-medical costs (lost revenue per day). The results show the value of COI in the six months treatment of insulin and insulin-metformin combination sequentially 661,063.59 IDR and 443,165.28 IDR. This study shows that the use of combination therapy of insulin-metformin has lower cost of illness compared with insulin monotherapy and statistically (student t-test) showed significant differences p=0.004 (p<0.05).Keywords: COI, diabetes mellitus type 2, insulin, insulin-metformin combination

Permasalahan Terkait Obat (Drug Related Problems/DRPs) pada Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronis dengan Penyulit Penyakit Arteri Koroner

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.176 KB)

Abstract

Masalah terkait obat (DRPs) didefinisikan sebagai setiap kondisi dalam penatalaksanaan terapi pasien yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi yang optimal. Penelitian ini dilakukan di salah satu rumah sakit di Kota Cimahi pada bulan Mei 2014. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi DRPs pada pasien wanita berusia 59 tahun yang didiagnosis penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner dan gangren di tangan kiri (jari ke-3). Pasien diketahui mempunyai riwayat diabetes melitus sejak dua hingga tiga tahun yang lalu. Melalui kajian DRPs ditemukan permasalahan terkait obat, yaitu adanya terapi obat yang tidak diperlukan (pemberian kalsium polistiren sulfonat), ketidaktepatan pemilihan antibiotik, Ketidaktepatan dosis (pemberian amoksisilin dan kaptopril), dan risiko interaksi obat-obat merugikan (interaksi kaptopril–furosemid, kaptopril–isosorbid dinitrat, dan kaptopril–natrium bikarbonat). Pasien penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner menerima terapi obat yang kompleks sehingga meningkatkan risiko terjadinya DRPs. Keterlibatan apoteker klinis di rumah sakit dalam penatalaksanaan penyakit yang kompleks diperlukan untuk mengoptimalkan terapi, meminimalisir risiko DRPs, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: Drug related problems, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koronerDrug Related Problems in the Management of Chronic Kidney Disease with Coronary Artery DiseaseDrug related problems were defined as conditions on patient’s therapy management that caused, or potentially caused unsuccessful therapy. This study was conducted at a hospital in Cimahi City in May 2014. In this study, DRPs were identified on a 59 years old woman who was diagnosed with chronic kidney disease and coronary artery disease with gangrene on the left hand (the third finger). The patient also had a diabetes mellitus for two until three years ago. Drug related problems (DRPs) were found in this patient. Unnecessary drug therapy (administration of calsium polystirene sulfonate), inappropriate choosen antibiotic, inappropriate dosing (administration of amoxicillin and captopril), and risks drug interactions (captopril–furosemide, captopril–isosorbide dinitrate, and captopril–sodium bicarbonate). Patients with chronic kidney disease and coronary artery disease received complex drug therapy. These condition lead to higer risk of DRPs. The involvement of clinical pharmacist in interdisciplinary team for management of complex diseases was needed to monitor drug therapy to optimizing the therapy, minimalizing the risk of DRPs, and improving patient’s quality of life.Key words: Chronic kidney disease, coronary artery disease, drug related problems

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Salah Satu Rumah Sakit Umum di Bandung Tahun 2010

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.881 KB)

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat karena intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan jumlah dan pola penggunaan antibiotik pada pasien di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Bandung. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif. Data penggunaan antibiotik pada tahun 2010 diperoleh dari rekapitulasi pengeluaran instalasi farmasi dari bulan Januari–Desember 2010. Pengambilan data dilakukan dari bulan Juni–Juli 2011 di salah satu rumah sakit umum pemerintah tipe B. Data yang diperoleh kemudian diolah dan diklasifikasikan. Pengolahan data penggunaan antibiotik dilakukan dengan metode ATC/DDD dan segmen DU 90%. Hasil penelitian penggunaan antibiotik pada tahun 2010 adalah 95719,01 DDD. Antibiotik yang masuk pada segmen DU 90% ada 5 golongan (penisilin, sefalosporin, kuinolon, makrolida dan sulfonamida). Pola penggunaan antibiotik pada caturwulan ke-1 yang memenuhi segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, dan makrolida. Pada caturwulan ke-2 dan caturwulan ke-3 ada lima golongan antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, makrolida, dan sulfonamida. Penelitian menyimpulkan bahwa pada caturwulan ke-1 hingga caturwulan ke-3 terjadi peningkatan persentase penggunaan dan jumlah golongan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90%.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, segmen DU 90%Rationality Antibiotic Use at One of Public Hospital in Bandung 2010The inappropriate antibiotic use was caused by using of high relatively the antibiotic so that have caused global threat and health problems especially antibiotic resistance. The objective of this study is to determine quantity and pattern of patient antibiotic use at one of hospital in Bandung. The study method was utilized descriptively and was obtained retrospectively. The antibiotic use data on 2010 was obtained from pharmacy department recapitulation on January–December 2010. Data was taking on January–December 2011 at one of type B hospital in Bandung. The data was processed and classified. The antibiotic use data has processed using ATC/DDD method and DU 90 % segment. The result showed that antibiotic use on 2010 was 95719,01 DDD. There were 5 groups of antibiotic class in DU90% segment (penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolide, and sulphonamide) . The antibiotics use pattern in the first quarter in DU 90% segment werepenicillin, cephalosporin, quinolone, and macrolide. There were 5 groups within second and third quarter in DU90% were penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolideand sulphonamide. It can be concluded that the antibiotic use in first to third quarter have decreased percentage and number antibiotic groups in DU90% segment.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU90% segment

ONTOLOGI WEB OBAT ESENSIAL NASIONAL MENGGUNAKAN PROTÉGÉ 5.0

Jurnal Ilmiah Teknologi dan Rekayasa Vol 21, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat generik yang merupakan salah satu program pemerintah, ditujukan untuk menyediakan obat yang lebih terjangkau oleh masyarakat agar mendapatkan pengobatan yang lebih rasional. Obat generik resmi yang dimuat dalam buku atau disebutkan dalam ketetapan perundangan dikenal dengan nama Obat Esensial. Penelitian ini bertujuan untuk membuat aplikasi Ontologi Web Obat Esensial Nasional menggunakan Protégé 5.0 dari daftar obat esensial nasional sehingga dapat mengetahui keterkaitan antara nama kelas terapi dan nama generik, serta memanfaatka nmetodologi KACTUS dala mpembuatan ontologi yang menghasilkan representasi OWL dan model graph. Implementasi ontologi menggunakan tool Protégé 5.0 sebagai editor ontologi dan plug-in Onto Graf untuk visualisasi hasil ontologi. Kesimpulan aplikasi, dapat memberikan informasi serta keterkaitan antara nama kelas terapi dan nama generik dalam bentuk pencarian data yang disajikan dalam bentuk website offline, serta memberikan informasi dalam bentuk model taksonomi berupa vertical, horizontal dan spring yang dihasilkan dari aplikasi Protégé 5.0. Kata kunci: Obat Esensial, Obat Generik, Ontologi, OWL, Protégé, RDF.

ANALISIS POTENSI INTERAKSI OBAT PADA PENATALAKSANAAN PASIEN SKIZOFRENIA DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI JAWA BARAT

JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No. 3, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu penyakit gangguan jiwa berat. Gejala yang ditimbulkan seperti delusi atau halusinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi interaksi obat antipsikotik yang terjadi pada pasien skizofrenia dewasa di instalasi rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat periode Oktober sampai Desember tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan analisis deskriptif dan pengambilan data secara retrospekstif.  Penelitian dilakukan dengan menganalisis data rekam medik pasien. Sampel pasien skizofrenia dewasa rawat inap yang didapatkan kemudian diseleksi dengan kriteria inklusi sehingga didapatkan 118 sampel pasien yang memenuhi kriteria dan terdapat 391 potensi interaksi obat. Obat antipsikotik yang banyak digunakan adalah haloperidol sebanyak 77 pasien (65,25%), klorpromazin 67 pasien (56,78%) dan risperidon sebanyak 65 pasien (55,08%). Berdasarkan mekanismenya, terdapat interaksi farmakodinamik sebanyak 288 kasus (73,66%), interaksi farmakokinetik sebanyak 29 kasus (7,42%) dan tidak diketahui sebanyak 74 kasus (18,92%). Berdasarkan tingkat keparahannya  didapatkan kategori mayor sebanyak 111 kasus (28,39%), moderat 275 kasus (70,33%) dan minor sebanyak 5 kasus (1,28%). Selain itu berdasarkan tingkat signifikansinya diperoleh tingkat signifikansi empat merupakan terbanyak yaitu 233 kasus (59,59%).

Permasalahan Terkait Obat (Drug Related Problems/DRPs) pada Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronis dengan Penyulit Penyakit Arteri Koroner

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah terkait obat (DRPs) didefinisikan sebagai setiap kondisi dalam penatalaksanaan terapi pasien yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi yang optimal. Penelitian ini dilakukan di salah satu rumah sakit di Kota Cimahi pada bulan Mei 2014. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi DRPs pada pasien wanita berusia 59 tahun yang didiagnosis penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner dan gangren di tangan kiri (jari ke-3). Pasien diketahui mempunyai riwayat diabetes melitus sejak dua hingga tiga tahun yang lalu. Melalui kajian DRPs ditemukan permasalahan terkait obat, yaitu adanya terapi obat yang tidak diperlukan (pemberian kalsium polistiren sulfonat), ketidaktepatan pemilihan antibiotik, Ketidaktepatan dosis (pemberian amoksisilin dan kaptopril), dan risiko interaksi obat-obat merugikan (interaksi kaptopril–furosemid, kaptopril–isosorbid dinitrat, dan kaptopril–natrium bikarbonat). Pasien penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner menerima terapi obat yang kompleks sehingga meningkatkan risiko terjadinya DRPs. Keterlibatan apoteker klinis di rumah sakit dalam penatalaksanaan penyakit yang kompleks diperlukan untuk mengoptimalkan terapi, meminimalisir risiko DRPs, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: Drug related problems, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koronerDrug Related Problems in the Management of Chronic Kidney Disease with Coronary Artery DiseaseDrug related problems were defined as conditions on patient’s therapy management that caused, or potentially caused unsuccessful therapy. This study was conducted at a hospital in Cimahi City in May 2014. In this study, DRPs were identified on a 59 years old woman who was diagnosed with chronic kidney disease and coronary artery disease with gangrene on the left hand (the third finger). The patient also had a diabetes mellitus for two until three years ago. Drug related problems (DRPs) were found in this patient. Unnecessary drug therapy (administration of calsium polystirene sulfonate), inappropriate choosen antibiotic, inappropriate dosing (administration of amoxicillin and captopril), and risks drug interactions (captopril–furosemide, captopril–isosorbide dinitrate, and captopril–sodium bicarbonate). Patients with chronic kidney disease and coronary artery disease received complex drug therapy. These condition lead to higer risk of DRPs. The involvement of clinical pharmacist in interdisciplinary team for management of complex diseases was needed to monitor drug therapy to optimizing the therapy, minimalizing the risk of DRPs, and improving patient’s quality of life.Key words: Chronic kidney disease, coronary artery disease, drug related problems

Rasionalitas Penggunaan Antibiotik di Salah Satu Rumah Sakit Umum di Bandung Tahun 2010

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat karena intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan jumlah dan pola penggunaan antibiotik pada pasien di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Bandung. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif dengan pengambilan data secara retrosfektif. Data penggunaan antibiotik pada tahun 2010 diperoleh dari rekapitulasi pengeluaran instalasi farmasi dari bulan Januari–Desember 2010. Pengambilan data dilakukan dari bulan Juni–Juli 2011 di salah satu rumah sakit umum pemerintah tipe B. Data yang diperoleh kemudian diolah dan diklasifikasikan. Pengolahan data penggunaan antibiotik dilakukan dengan metode ATC/DDD dan segmen DU 90%. Hasil penelitian penggunaan antibiotik pada tahun 2010 adalah 95719,01 DDD. Antibiotik yang masuk pada segmen DU 90% ada 5 golongan (penisilin, sefalosporin, kuinolon, makrolida dan sulfonamida). Pola penggunaan antibiotik pada caturwulan ke-1 yang memenuhi segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, dan makrolida. Pada caturwulan ke-2 dan caturwulan ke-3 ada lima golongan antibiotik yang masuk dalam segmen DU 90% yaitu penisilin, sefalosforin, kuinolon, makrolida, dan sulfonamida. Penelitian menyimpulkan bahwa pada caturwulan ke-1 hingga caturwulan ke-3 terjadi peningkatan persentase penggunaan dan jumlah golongan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90%.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, segmen DU 90%Rationality Antibiotic Use at One of Public Hospital in Bandung 2010The inappropriate antibiotic use was caused by using of high relatively the antibiotic so that have caused global threat and health problems especially antibiotic resistance. The objective of this study is to determine quantity and pattern of patient antibiotic use at one of hospital in Bandung. The study method was utilized descriptively and was obtained retrospectively. The antibiotic use data on 2010 was obtained from pharmacy department recapitulation on January–December 2010. Data was taking on January–December 2011 at one of type B hospital in Bandung. The data was processed and classified. The antibiotic use data has processed using ATC/DDD method and DU 90 % segment. The result showed that antibiotic use on 2010 was 95719,01 DDD. There were 5 groups of antibiotic class in DU90% segment (penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolide, and sulphonamide) . The antibiotics use pattern in the first quarter in DU 90% segment werepenicillin, cephalosporin, quinolone, and macrolide. There were 5 groups within second and third quarter in DU90% were penicillin, cephalosporin, quinolone, macrolideand sulphonamide. It can be concluded that the antibiotic use in first to third quarter have decreased percentage and number antibiotic groups in DU90% segment.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU90% segment

Analisis Cost of Illness Terapi Insulin dan Kombinasi Insulin-Metformin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan suatu penyakit progresif yang berdampak pada biaya yang dikeluarkan pasien selama mengidap penyakit ini. Penelitian ini dilakukan dari bulan Mei hingga Juni di salah satu rumah sakit di Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perhitungan biaya kesakitan penggunaan insulin monoterapi dan kombinasi insulin-metformin pada pasien DM tipe 2 dengan menggunakan analisis Cost of Illness (COI). Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan pengambilan data secara retrospektif pada objek penelitian pasien rawat jalan dengan lama terapi selama 6 bulan pada tahun 2013. Komponen biaya yang diukur adalah biaya medik langsung (biaya kunjungan ke dokter, biaya obat, biaya komplikasi dan biaya pemeriksaan laboratorium) dan human capital (HC) seperti biaya tidak langsung non-medis (kehilangan pendapatan per hari). Hasil penelitian menunjukkan nilai COI selama 6 bulan terapi dengan insulin dan kombinasi insulin-metformin secara berurutan Rp661.063,59 dan Rp443.165,28. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan terapi kombinasi insulin-metformin memiliki biaya kesakitan yang lebih rendah dibandingkan dengan terapi insulin tunggal dan secara statistik (student t-test) menunjukkan perbedaan yang signifikan p=0,004 (p<0,05).Kata kunci: COI, diabetes melitus tipe 2, insulin, kombinasi insulin-metforminCost of Illness Analysis of Insulin and Insulin-Metformin Combination Usage towards Diabetes Mellitus Type 2 Patients at Hospital in BandungDiabetes mellitus (DM) type 2 is a progressive disease that impact on the patients incurred costs during the illness. This study was conducted on May to June at one of hospital in Bandung. This study aimed to obtain cost of illness calculation of insulin monotherapy and insulin-metformin combination in patients with type 2 diabetes using Cost of Illness analysis (COI). This study used cross-sectional method with retrospective data collection on outpatients with 6 months therapy period in 2013. The cost of the measured components are direct medical costs (the cost of doctor visits, medicine costs, costs of complications and the cost of laboratories test) and human capital (HC) such as indirect non-medical costs (lost revenue per day). The results show the value of COI in the six months treatment of insulin and insulin-metformin combination sequentially 661,063.59 IDR and 443,165.28 IDR. This study shows that the use of combination therapy of insulin-metformin has lower cost of illness compared with insulin monotherapy and statistically (student t-test) showed significant differences p=0.004 (p<0.05).Keywords: COI, diabetes mellitus type 2, insulin, insulin-metformin combination