Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS DAN PREDIKSI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH CAIR PABRIK PENGALENGAN IKAN Sahubawa, Latif
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar parameter pencemaran serta beban pencemaran limbah cair pabrik pengalengan ikan sardin. Manfaatnya adalah sebagai saran pertimbangan kepada industri untuk mengelola limbah cair secara profesional, menjamin kelestarian dan peruntukkan badan air penerima limbah cair, serta bahan informasi ilmiah kepada pengambil kebijakan (terutama pejabat daerah) dalam pengelolaan kualitas lingkungan hidup secara berkelanjutan. Metode analisis yang digunakan adalah neraca masa, dengan parameter pengamatan yaitu: debit limbah cair maksimum (DM) dan debit limbah cair sebenarnya (DA), serta beban pencemaran maksimum (BPM) dan beban pencemaran sebenarnya (BPA) dari parameter pH, TSS, BOD, COD, dan minyak/lemak sesuai Kepmen LH. No. 06 Tahun 2007. Berdasarkan hasil pengukuran, tercatat debit air limbah aktual (Dp) = 10,0 liter/detik, debit air limbah sebenarnya (DA) = 2.880 m 3, serta debit air limbah maksimum (DM) = 720 m 3, (jadi DA > DM). Dari hasil analisis laboratorium, kadar parameter indikator pencemaran limbah cair pabrik ikan kaleng, masing-masing: pH = 6,5; TSS = 250 mg/l; BOD 5 = 95,0 mg/l; COD = 105 mg/l; dan minyak/lemak = 0,5 mg/l. Berdasarkan hasil perhitungan, ternyata beban pencemaran sebenarnya dari masing-masing parameter (BPA-TSS, BOD 5 , dan COD) lebih besar dari beban pencemaran maksimum (BPM), kecuali lemak di mana BPA < BPM. Dengan demikian beban pencemaran limbah cair industri pengalengan untuk parameter TSS, BOD, dan COD telah melewati ambang batas baku mutu air limbah industri perikanan (Kepmen LH No. 06 tahun 2007), dan dapat menimbulkan pencemaran (merubah peruntukan) badan air penerima limbah.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP MUTU KOLAGEN KULIT NILA HITAMPENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP MUTU KOLAGEN KULIT NILA HITAM Sahubawa, Latif; Putra, A.B. Naro
Jurnal Teknosains Vol. 1 No. 1 tahun 2011
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of the research was studied the effect of  acetic acid concentration and extraction time on the collagen quality of black tilapia leather. Black tilapia leather processed into collagen  as an alternative to increasing value-added of fisheries industry waste. Collagen of black tilapia was extracted by the treatment of acetic acid molarity, each: 0.25 M, 0.50 M, and 0.75 M (A factor) and  extraction time of 16 and 48 hours (B factor). Based on the analysis of variance, is known that the interaction of those treatments (AB) didn’t significantly effect on the yield  (p>0.05). Collagen extraction of tilapia leather with 0.75 M of acetic acid at 16 hours, produces the greatest yield  (5.97%), with denaturation temperature is 35.75oC, and quantitative composition of glisine, alanine, and glutamic amino acids were: 5395.82 ppm (52.99%), 2979.15 ppm (22.08%), and 1684.42 ppm (7.45%). Based on the analysis of SDS-PAGE, is known that the collagen contained were α component and β component, so that collagen of tilapia leather has type I collagen.
The Effect of Using Catalyst in Transesterification Reaction on the Biofuels Quality from Sardine Flour Oil Waste Sahubawa, Latif; Ningtyas, Diah Probo
SAINTEK PERIKANAN Vol 7, No 1 (2011): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.393 KB)

Abstract

Process of the transesterification reaction of sardine flour oil waste with NaOH as base catalyst in producing biofuels was conducted. The research purpose has studied the influence of NaOH concentration in transesterification process and examinate its effect on the quality of biofuels production, conversion, and physic quality. The variables that analysed was the effect of NaOH concentration as catalyst (0.5%, 1.0%, 1.5%, and 2.0% from amount of oil and methanol) in the transesterification reaction step. The result showed that the increasing NaOH concentration (0.5% until 1.5%), enhanced the biofuel conversion (%). The highest conversion of biofuels was achieved by using 1.50% NaOH (w/w) with 45.34% biofuels conversion. The major component in the biofuels was methyl palmitate (20.31%). ASTM analysis data also supported that the biofuel product was in agreement with automotive diesel fuel specification.   Keywords: catalyst, transesterification, biofuels, quality, wastes
Pengaruh kombinasi bahan penyamak formalin dan syntan terhadap kualitas kulit ikan pari tersamak Sahubawa, Latif; Pertiwiningrum, Ambar; Pamungkas, Adityo Triarso
Majalah Kulit, Karet, dan Plastik Vol 27, No 1 (2011): Majalah Kulit, Karet, dan Plastik
Publisher : Center for Leather, Rubber, and Plastic Ministry of Industry, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2887.051 KB) | DOI: 10.20543/mkkp.v27i1.211

Abstract

abstrak
Pengaruh pengulangan pengapuran dengan kapur tohor (CaO) terhadap kualitas fisik kulit pari tersamak Rahmat, Aidil; Sahubawa, Latif; Yusuf, Iwan
Majalah Kulit, Karet, dan Plastik Vol 24, No 1 (2008): Majalah Kulit, Karet, dan Plastik
Publisher : Center for Leather, Rubber, and Plastic Ministry of Industry, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (793.975 KB) | DOI: 10.20543/mkkp.v24i1.320

Abstract

The objective of this research was to know the influence of reliming on physical properties of tanned stingray skin. The research used randomized completely block design with three treatments. The treatment consisted of: liming once (PI), liming twice (P2), and liming three times (P3). Quality parameters analyzed were tensile strength (%), elongation at break (kg/cm2), and skin suffocation organoleptically. The data were analyzed by analysis of variance methods and subsequently by Least Significant Differences Test, α. 0,05. The results showed that elongation at break tanned stingray skin of P1, P2, and P3 respectively were 26.5, 30.0, and 32.0%. Result analysis of tensile strength tanned stingray skin of treatment P1, P2, and P3 respectively were 238,04 ; 259,53 : and 270,89 kg/cm2. The result analysis of suffocation tanned stingray skin of treatment P1, P2, and P3 respectively were 1,78 ; 2,13 and 2,45. The P3 treatment effected the tanned stingray skin on the tensile strength, elongation at break and skin suffocation, and meet the requirement of SNI 06-6121-1999, about the quality criterion for stingray skin leather product.Key words : tanned stingray skin, reliming, CaO lime, physical properties ABSTRAK             Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh variasi pengulangan pengapuran terhadap kualitas fisik kulit ikan pari tersamak. Rancangan percobaan yang dipakai adalah Rancangan Acak Lengkap Blok (RALB) dengan pengulangan pengapuran berturut-turut 1 kali (P1), 2 kali (P2), dan 3 kali (P3). Parameter mutu kulit yang diamati yaitu kemuluran, kekuatan tarik serta kelemasan kulit secara inderawi. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistic keragaman, dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tingkat kepercayaan 95% (α.0,05). Hasil percobaan menunjukan bahwa kemuluran kulit pari tersamak dari pengulangan pengapuran P1,P2, dan P3 berturut-turut 238,04 ; 259,53 & 270,89 kg/cm2. Kelemasan kulit pari tersamak dari pengapuran 3 kali (P3), mampu menghasilkan kualitas kulit ikan pari tersamak dengan sifat kekuatan tarik, kemuluran, & kelemasan yang terbaik, dan memenuhi syarat mutu yabg ditetapkan dalam SNI 06-6121-1999 tentang persyaratan mutu kulit pari untuk produk barang kulit.Kata kunci : kulit pari tersamak, pengapuran, kapur CaO, sifat fisik
DAMPAK PEMBUANGAN LIMBAH TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS OSEANOGRAFI BIOFISIK-KIMIA DAN PRODUKSI IKAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN LAUT TELUK AMBON Sahubawa, Latif
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 8, No 1 (2001)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk: (l) mengidentifikasi karakteristik limbah hasil aktivitas manusia di pesisir teluk yang berpengaruh potensial terhadap penurunan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan Laut Teluk Ambon; (2) mengevaluasi perubahan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan dalam kaitannya dengan penyimpangan persyaratan peruntukkan sebagai tempat budi daya perikanan; dan (3) mengevaluasi pengaruh penyimpangan persyaratan peruntukan badan air laut terhadap potensi dan densitas ikan pelagis kecil, serta produksi ikan teri pada musim Timur dan Barat. Sampel penelitian terdiri atas air laut, ikan teri, dan kerang. Teknik pengambilan sampel ialah dengan pengacakan dan tanpa pengacakan. Teknik pengambilan data berupa survei, analisis laboratorium, wawancara, dan kuesioner. Metode analisis data Kurva Normal, Kuadrat Terkecil, Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial dan Berblok dengan Uji-F, Koefisien Nilai Nutrisi (KNN), Produksi Surplus, Hidroakustik, dan Sedimentasi Utermohl. Berdasarkan hasil analisis statistik, umumnya variabel penelitian tidak berpengaruh terhadap perubahan parameter oseanografi biofisik-kimia perairan Teluk Ambon, kecuali bahwa lokasi sampling berpengaruh terhadap nilai kecerahan pada tingkat signifikansi 95%. Kisaran nilai parameter oseanografi biofisik-kimia perairan laut ialah temperatur 23,7 - 28,7"C; TSS 2,005 - 12,436 mg/^; salinitas 24,00 - 35,50 mill; kecerahan 2,5 - 9,0 meter; pH 6,5 - 8,6; oksigen terlarut 2,09 - 6,88 mgA; BODs 10 - 50 mg/l; COD 22,5 - 150,8 mg/l; PO43- 0,22 - 3,29 mg/L, NQ-0.02 -2,94 mg/L; NO3- 21- 15,40 mg/L; Hg 0,001- 0,065 mg/L; KNN 0,27 -0/8 gr/cm; fitoplankton red-tede spesies Alexandrium affrne dengan jumlah 60,0 x 105 sel/liter menimbulkan perubahan warna perairan menj adi merah-kecoklatan. Produksi ikan teri pada musim Timur 191,5 ton (59,5 %) dan musim Barat 130,2 ton (40,5 %). Populasi maksimum telur dan larva ikan teri adalah 4.090 telur/SO mt pada musim Timur dan 396 ekor/50 m2 pada musim Barat di wilayah Ambang Galala-Rumahtiga. Potensi ikan pelagis kecil pada musim Timur 63.968,76 tor/tahun, Peralihan 56.311,55 ton/tahun, dan Barat 60.244,35 ton/tahun atau 3,86Vo dari total potensi ikan pelagis kecil perairan Maluku (1.564,000 ton/tahun). Densitas ikan pelagis kecit pab musim Timur 34,62 kg/m3, Peralihan 29,83 kg/m3, dan Barat 32,33 kg/m3. Tingkat eksploitasi sumber daya ikan pelagis kecil perairan Teluk Ambon yaitu 30 % ("status sedang berkembang").
KAJIAN EROSI MARIN SEBAGAI PENYEBAB DEGRADASI KEPESISIRAN KOTA TERNATE Sofyan, Adnan; Sunarto, Sunarto; Sudibiyakto, Sudibiyakto; Sahubawa, Latif
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erosi marin yang terjadi di Kota Ternate telah banyak menimbulkan kerugian terhadap masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah kepesisiran. Erosi marin juga menyebabkan luas hutan mangrove di beberapa desa yang terletak di pantai menjadi berkurang bahkan hilang. Perubahan garis pantai berupa pengurangan pantai karena erosi pantai yang bervariasi terutama pada hampir sebagian besar di sepanjang pantai bagian Barat dari Kota Ternate, seperti di pantai Gambesi, pantai Sasa, pantai Castela, pantai Rua, pantai Taduma, pantai Togafo, pantai Takome. Erosi marin yang terjadi di Kola Ternate dominan dipengaruhi oleh faktor angin, pasang surut, arus, dan gelombang. Gelombang yang bersifat destruktif umumnya memiliki sifat yang merusak, hal ini dapat terjadi karena sifat gelombang yang destruktif mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang sangat tinggi. Ini terutama terjadi pada musim Utara.
ANALISIS DAN PREDIKSI BEBAN PENCEMARAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KAYULAPIS PT. JATI DHARMA INDAH, SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS PERAIRAN LAUT Sahubawa, Latif
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 15, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik, beban pencemaran serta distribusi pencemaran limbah cair Industri Kayulapis di perairan Laut Batu Gong Teluk Banguala Ambon. Berdasarkan hasil penelitian, rerata nilai parameter limbah industri kayulapis sebagai berikut: suhu = 35,8 oC; TSS : 12,783 mg/l; pH : 5, 6; BOD5 : 610 mg/l; COD : 759,50 mg/l; total phenol : 0,480 mg/l dan Hg : 0,00083 mg/l. Nilai pH, BOD5, COD telah melampui ambang batas Baku Mutu Limbah Cair Industri Kayulapis (Kepmen LH. No. 03, Tahun 1991). Debit limbah cair sebenarnya (Dp) : 88,125 m3/hari, debit limbah cair maksimum (DM) : 11.164,99 m3/bulan, dan debit limbah cair sebenarnya (DA) :2.643,840 m3/bulan (jadi DA < DM). Beban Pencemaran sebenarnya (harian BPA dan bulanan BPAi) parameter TSS, COD, dan phenol limbah cair industri lebih kecil dari Beban Pencemaran maksimum harian dan bulanan (BPM dan BPMi) masing-masing parameter tersebut. BPA dan BPAi parameter BOD5 lebih besar dari beban pencemaran maksimumnya. Rerata temperatur tertinggi perairan laut : 27,4 oC (stasion Il), TSS : 30,830 mg/l (stasion V), pH:8,0 (stasion VI), BOD, : 1070,00 mg/l (stasion II), COD : 1349,00 mg/l (stasion II), total phenol :0,325 (stasion II), Hg:0,00080 mg/l (stasion II), salinitas:33,0 ppm (stasion IV). Parameter BOD, COD, dan phenol telah melampui ambang batas Baku Mutu Air Laut untuk Biota Laut (Budidaya Perikanan) (Kepmen LH. No. 82 Tahun 2001). Rerata nilai Indeks Diversitas Plankton pada lokasi A (stasion II), lokasi B (antara stasion III dan IV), lokasi C (antara stasion V dan VI) masing-masing: 1,40; 1,66 dan 2,03. Lokasi A dan B telah melampaui nilai batas pencemaran sebesar 2 (tercemar berat) (Lee,l978). Rerata Koefisien Nilai Nutrisi (NVC) ikan pada lokasi B dan C yaitu 1,43 dan 1,38 lebih kecil dari nilai normal 1,7 (Lucky, 1977). Jenis ikan teri yang tertangkap sebanyak 4 jenis, dengan jumlah terbanyak adalah Stelaphorus spp.
PENGARUH SIKAP PERILAKU DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP KELESTARIAN TERUMBU KARANG DI TAMAN NASIONAL LAUT PULAU GUNUNG API BANDA, MALUKU TENGAH Sahubawa, Latif; Hussein, Arief M.
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 15, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji manusia, perilaku, dan tingkat pendidikan masyarakat (variabel bebas) terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang (variabel terikat) di Taman Nasional Laut Pulau Gunung Api Banda. Metode penelitian yang dipakai yaitu survei, di mana pengambilan sampel/data menggunakan pendekatan wawancara, kuesioner, transek garis, sensus, serta analisis data dengan metode regresi linier. Berdasarkan hasil kajian, tingkat pendidikan penduduk Desa Kampung Baru (stasion utama I) dan Desa Selamun (stasion utama II) yaitu: 80% tidak berpendidikan, dan memiliki kecenderungan berperilaku negatif masing-masing 68% dan 79%. Kontribusi pengaruh variabel bebas terhadap perilaku negatif penduduk dalam eksploitasi sumber daya terumbu karang masing-masing: tidak berpendidikan (73,5%), penghasilan rendah (64%), pekerjaan petani/nelayan (67,0%), penduduk pendatang (62%), tidak ada pekerjaan sampingan (68%), dan tidak ada pendidikan formal (65%. Semua variabel bebas berpengaruh terhadap perilaku penduduk pada tingkat signifikansi 95% dengan r : 0,812 dan R2 = 66n/n. Aktivitas manusia yang dominan merusak ekosistem terumbu karang adalah: penggunaan terumbu karang untuk konstruksi rumah (45%), pelindung pantai (27%), penangkapan ikan dengan potasium (15%), hiasan (10%) dan lain-lain (3%). Nilai parameter hidrooseanografi (gelombang, kecepatan arus, kecerahan. suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan pH) perairan Taman Nasional Laut masih berada di bawah ambang batas Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut (Kepmen LH. No. 82 tahun 2001). Jumlah spesies terumbu karang pada 4 stasion sebanyak 20 jenis dari l0 suku. Jenis yang dominan aclalah Poryles lutae, Goniastera rotifomtis, Echinopora lamellosa,. Platigira sp., Goniopora sp., Acropora aspero, A. Echinota, Pachyseris rugoso, Milepord sp., dan Polypilia talpina. Pada stasion utama l. jumlah individu terbanyak berasal dari jenis Ganiastrea retiformis (28 individu) sedangkan yang sedikit (1 individu) dari jenis Polypillia talpina dengan indeks keanekaragaman (H)=0,709. Pada stasion pembanding I, spesies Polypillia talpina terbanyak 51 ekor dan sedikit 2 ekor adalah Galoxea pascilucaris dengan H= 0,919. Jumlah individu terbanyak ditemui pada Stasion ll yaitu Porytes lutae (38 individu) dan terkecil 1 individu jenis Heliopora sp. dengan H = 0,721. Stasion pembanding Il, spesies Polypillia talpina terdapat dalam jumlah besar (42 individu) dan sedikit 2 individu dari Mintipora sp. dengan H = 0,828. Jumlah individu, total jenis, diameter, dan nilai H pada Stasion Pembanding I dan ll lebih besar dari Stasion utama I dan Il. Ikan karang yang didapatkan pada lokasi sampling yaitu 21 spesies, didominasi spesies: Achanturus sp,, Amphiprion spp., Abudefduf vaigniensis, Caranxs sp., Chaetodon melanotyus, C. trifasciatus dan C. vabundus.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP MUTU KOLAGEN KULIT NILA HITAMPENGARUH KONSENTRASI ASAM ASETAT DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP MUTU KOLAGEN KULIT NILA HITAM Sahubawa, Latif; Putra, A.B. Naro
Jurnal Teknosains Vol 1, No 1 (2011): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/teknosains.3987

Abstract

The objective of the research was studied the effect of  acetic acid concentration and extraction time on the collagen quality of black tilapia leather. Black tilapia leather processed into collagen  as an alternative to increasing value-added of fisheries industry waste. Collagen of black tilapia was extracted by the treatment of acetic acid molarity, each: 0.25 M, 0.50 M, and 0.75 M (A factor) and  extraction time of 16 and 48 hours (B factor). Based on the analysis of variance, is known that the interaction of those treatments (AB) didn’t significantly effect on the yield  (p>0.05). Collagen extraction of tilapia leather with 0.75 M of acetic acid at 16 hours, produces the greatest yield  (5.97%), with denaturation temperature is 35.75oC, and quantitative composition of glisine, alanine, and glutamic amino acids were: 5395.82 ppm (52.99%), 2979.15 ppm (22.08%), and 1684.42 ppm (7.45%). Based on the analysis of SDS-PAGE, is known that the collagen contained were α component and β component, so that collagen of tilapia leather has type I collagen.