Safriansyah Safriansyah
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

PERSEPSI HIZBUT TAHRIR INDONESIA (HTI) TERHADAP PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENJUALAN MINUMAN BERALKOHOL

Jurnal Ilmu Politik & Pemerintahan Lokal Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Ilmu Politik & Pemerintahan Lokal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minuman berlakohol adalah satu penyebab dari kerusakan moral dan akhlak manusia. Banyak tindak kriminalitas dan asusila terjadi akibatnya. Indonesia memiliki sebuah Keppres No.3 tahun 1997 yang mengatur peredaran minuman beralkohol, kemudian di daerah Banjarmasin sesuai dengan prinsip otonomi daerah, berdasarkan Keppres tersebut maka dibuatlah sebuah perda yang mengatur peredaran minuman keras yaitu Perda No.27 tahun 2011. Perda ini dapat dikatakan masih prematur, karena belum mampu sepenuhnya menjamin dan mengatur peredaran dan pendistribusian minuman beralkohol. Terbukti dengan tindakan kejahatan yang masih ada, maka dapat dikatakan minuman beralkohol masih dapat dengan mudah dijumpai di Kota Banjarmasin. Terlepas dari itu semua, dalam tesis ini penulis mengangkat sebuah persepsi Islam, yakni tentang haramnya minuman beralkohol, dan bagaimana Islam memandang dan mengatur minuman beralkohol. Objek yang diambil adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Banjarmasin, karena ormas ini mempunyai visi dan misi untuk menegakkan dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan Syariah Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan informan diambil secara purposive sampling, yakni yang mewakili adalah Ketua, Humas HTI, DPRD dalam hal ini Kabag Keuangan, Ketua Badan Legislasi, Kasat Pol PP. Dijelaskan dengan tipe deskriptif, eksplanatif, dan komparatif. Pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan teknik snow ball. Dari hasil penelitian HTI memandang kebijakan yang diambil yakni dengan adanya Perda ini adalah sesuatu yang bermasalah, baik secara tertulis ataupun prakteknya. Mereka berpendapat sesuatu yang haram yaitu minuman beralkohol harus dilarang total, karena lebih banyak mendatangkan mudharat daripada manfaat. Terhadap hasil dari retribusi minuman berlakohol, tidak ada apa-apanya, karena sangat kecil sekali. Untuk itu pemerintah harus memperhatikan suara mayoritas yang menolak adanya peredaran minuman beralkohol di Kota Banjarmasin. Pemerintah lebih memihak kepada kaum kapitalis, kepentingan ekonomi, dan menimbulkan ketidak adilan. Sehingga diharapkan HTI bahwa Pemerintah Kota yang pemimpinnya bahkan beragama Islam harus dengan tegas menolak dan melarang pengedaran minuman beralkohol, bukan secara parsial, tapi secara total.   Kata Kunci: Persepsi, Kebijkan Publik, Minuman Beralkohol/Minuman Keras  

Analisis Faktor Risiko Pencemaran Mikroba Pada Produk Obat Tradisional (Studi Titik Kendali Kritis dalam Proses Produksi Obat Tradisional Bentuk Serbuk pada Perusahaan Jamu di Kalimantan Selatan).

JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA Vol 1, No 2 (2002): vol 1, No 2 (2002)
Publisher : JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10101.833 KB)

Abstract

ABSTRACT Background : Consuming the medicinal herbs has become the habitual legacy in Indonesian community. Powder packed medicinal herbs are enjoyed and commonly used. Some research result and the quality control activity of herbal medicine by legal institution proved that the powder herbs produks are not save from biological hazard yet, as some tixic fungsi are available in the market. Methods : This research used an observation study with the cross-sectional approach to observe the microbial contaminations risk factoring processing the herbal medicine. The samples of researches all the kind of herbal medicine, 13 product in from of powder produced by the herbal company in south Kalimantan in April and May 2002, by the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) model Approach, this research determined 6 critical procedure, sorting procedure, washing procedure, drying procedure, pre-packaging product storage and primary packaging procedure whereas the microbial contamination level was measured to 3 parameter of microbial number from the end product, which were ALT (total bacteria), MPN Coliform and Kapang-Khamir. Results : Chi-square test’s result in the limited sample (fisher’s Exact Test) and also Rank Spearman correlation coefficient indicated a significant relationship between the implementation level of simplisia drying procedure and primary packaging procedure with the total bacteria contamination level (p < 0,05). Moreover, with the Rang Spearman correlation coefficient  test the research found the significant relationship between the implementation level of pre – packaging product storage producer and kapang khamir contamination level (P<0,05). There were no significant relationship between variable in the production process with the Coliform contamination level (MPN Coliform). The result of logistic regression analysis showed the effect between the simplisia storage procedure, sorting and the drying procedure to the total bacteria contamination level (ALT) in the end product. Recommendation : Therefore, to improve the quality of microbiological herbal powder product, especially in minimizing the total bacteria and Kapang-Khamir contamination, it is suggested to conduct some improvement in the implementation of simplisia storage procedure, sorting, drying, pre-packaging product storage and primary packaging.   Keywords = medicinal herb, microbial contamination. HACCP

SEBUAH KESENJANGAN IMPLEMENTASI INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARS (IFRS), ANTARA TEORI, PRAKTIK DAN RISET PADA PERGURUAN TINGGI

Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan. Desember 2013
Publisher : Program Studi Akuntansi FPEB UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14703.92 KB)

Abstract

Development of accounting theory is a way of theory, practice and research. Three aspects of the accounting development is an integrated whole, which would form a logical reasoning embodied in engineering financial reporting to become a Conceptual Framework. In practical terms, the adoption of IFRS is not an option for Indonesia, but must, in the hope, foreign investment will continue to enter or even increased and we are not isolated in the international arena. Nobes ( 2010) in his book states that, the International Accounting Standards have an important role in developing countries. Adoption of IFRS is the cheapest way for these countries than setting its own standards. Since January 1 st, 2012, Indonesia has adopted IFRS, there is a gap or imbalance between academics accounting practices and understanding regarding the implementation of IFRS in Indonesia. It should be encouraged readiness for accountants, auditors, management, Tax Officials, and regulators and academics to begin adjusting to the provisions of IFRS