Articles

Found 26 Documents
Search

Degradasi Zat Warna Direct Red-23 Secara Fotolisis dengan Katalis C-N-codoped TiO2 Fitriyani, Yuli Okta; Septiani, Upita; Wellia, Diana Vanda; Putri, Reza Audina; Safni, Safni
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 3, No. 2, November 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v0i0.5792

Abstract

Zat warna direct red-23 merupakan pewarna sintetik dengan struktur senyawa organik yang bersifat non-biodegradable. Zat warna direct red-23 mengandung senyawa azo dan bersifat karsinogenik. Zat warna direct red-23 didegradasi secara fotolisis menggunakan sinar UV (ultraviolet), sinar matahari, tanpa dan dengan penambahan katalis C-N-codoped TiO2. Larutan zat warna direct red-23setelah dan sebelum didegradasi diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 400-800 nm. Penentuan berat optimum katalis C-N-codoped TiO2 dilakukan dengan metode fotolisis sinar UV dan didapatkan berat optimum 15 mg. Persen degradasi zat warna direct red-23 secara fotolisis sinar UV dan sinar matahari tanpa katalis C-N-codoped TiO2 27.47% dan 13.74%. Persen degradasi meningkat menjadi 68.68% dan 28.57% dengan penambahan 15 mg katalis C-N-codoped selama 120 menit fotolisis. Dari penelitian dapat disimpulkan metode fotolisis dengan sinar UV lebih efisien dibandingkan dengan sinar matahari. Direct red-23 dye is a synthetic dye that is widely used in textile industry. Wastes generated from textile industrial processes are generally non-biodegradable organic compounds containing azo compounds and carcinogenic. Direct red-23 dye was degraded by photolysis UV Light method,  solar irradiation, without and addition of C-N-codoped TiO2 catalyst. The results degradation of direct red-23 were measured with a UV-Vis spectrophotometer at wavelength of 400-800 nm. Determination of optimum weight of the C-N-codoped TiO2 catalyst was performedby photolysisUV Light methodand the optimum C-N-codoped TiO2catalyst is obtained 15 mg. Percent degradation of direct red-23 dye by photolysis of UV light and solar irradiation without C-N-codoped TiO2to 27.47% and 13.74%. Percent degradation increasedto 68.68% and 28.57% by addingC-N-codoped TiO2 catalyst was adding 120 menutes of photolysis.From the research it can be concluded by photolysis with UV Light methodis more efficient compared to solar radiation.
INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG Mila, Oktri; Setiawan2*, Budi Safni1; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG. Interaksi radiostronsium (Sr-90) dengan tanah calon tapak untuk fasilitas demo disposal yang akan dibangun di Serpong dalam waktu dekat telah dilakukan. Kegiatan ini untuk mengantisipasi kemungkinan penuhnya fasilitas penyimpanan sementara yang ada di Kawasan Nuklir Serpong, dan sekaligus untuk menunjukkan ke masyarakat bagaimana limbah radioaktif dapat dikelola dengan baik dengan teknologi yang ada. Untuk meyakinkan bahwa lokasi tersebut aman, studi keandalan dari tanah calon tapak menjadi sangat penting untuk dilakukan melalui serangkaian percobaan dengan menggunakan parameter-parameter yang berpengaruh seperti waktu kontak, pengaruh kekuatan ionik dan konsentrasi Sr2+ di larutan. Radiostronsium digunakan sebagai perunut dalam percobaan ini dan berperan sebagai radionuklida acuan pada penelitian limbah radioaktif level rendah karena waktu paronya yang panjang dan sangat mudah berasosiasi dengan organisme yang ada di alam. Sehingga interaksi radiostronsium dan sampel tanah menjadi penting untuk dipelajari. Percobaan dilakukan secara catu, dan sampel tanah-larutan yang mengandung radionuklida dicampur dalam vial PE 20 ml. Ratio padat:cair adalah 10-2 g/ml, dengan tujuan mengumpulkan data karakter spesifik radionuklida terserap ke tanah calon tapak. Koefisien distribusi digunakan sebagai indikator dimana akan dibandingkan antara banyaknya aktivitas awal dan akhir radiostronsium di larutan. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi kesetimbangan dicapai setelah kontak 10 hari dengan nilai Kd berkisar antara 1600-2350 ml/g. Penambahan kekuatan ionic larutan menyebabkan nilai Kd menjadi berkurang karena adanya kompetisi antara garam latar dengan radiostronsium ke sampel tanah, dan meningkatnya Sr di larutan membuat menurun nilai Kd di sampel tanah karena terbatasnya kapasitas sorpsi dari sampel tanah. Cepatnya kondisi jenuh ion logam di sampel tanah tercapai karena terjadinya reaksi sederhana. Kata kunci : Tanah calon tapak, radiostronsium, sorpsi INTERACTION OF Sr-90 WITH SITE CANDIDATE SOIL FOR DEMONSTRATION DISPOSAL FACILITY AT SERPONG. Interaction of radiostrontium (Sr-90) with site candidate soil for demonstration disposal facility to be constructed in the near future at Serpong has been done. This activity is to anticipate the interim storage facility at Serpong nuclear area becomes full off condition, and show to the public how radioactive waste can be well managed with the existing technology. To ensure that the location is save, a reliability study of site candidate soil becomes very importance to be conducted through some experiments consisted some affected parameters such as contact time, effect of ionic strength, and effect of Sr+ ion in solution. Radiostrontium was used as a tracer on the experiments and has role as radionuclide reference in low-level radioactive waste due to its long half-live and it’s easy to associate with organism in nature. So, interaction of radiostrontium and soil samples from site becomes important to be studied. Experiment was performed in batch method, and soil sample-solution containing radionuclide was mixed in a 20 ml of PE vial. Ratio of solid: liquid was 10-2 g/ml. Objective of the experiment is to collect the specific characteristics data of radionuclide sorption onto soil from site candidate. Distribution coefficient value was used as indicator where the amount of initial and final activities of radiostrontium in solution was compared. Result showed that equilibrium condition was reached after contact time 10 days with Kd values ranged from 1600-2350 ml/g. Increased in ionic strength in solution made decreased of Kd value into soil sample due to competition of background salt and radiostrontium *) Correspondence Author
PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT Akhyar, Okviyoandra; Suseno, Heny; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT. Telah dilakukan analisis kandungan radionuklida antropogenik pada sampel lingkungan di kawasan pesisir pantai Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan salah satu base line data yang dapat digunakan sebagai data acuan kontaminasi yang disebabkan oleh limbah radioaktif di masa mendatang. Analisis dilakukan pada air laut, sedimen dan ikan sebagai representasi kandungan radionuklida antropogenik yang terdeposit pada ekologi pantai Sumatera Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa kawasan pesisir pantai Sumatera Barat mendeposit sejumlah kecil radionuklida antropogenik 137Cs dan 239Pu. Terdeteksinya aktivitas radionuklida antropogenik di titik penyamplingan mengindikasikan bahwa meskipun belum adanya aktivitas nuklir, wilayah laut Indonesia berpotensi tercemari limbah radioaktif yang berasal dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kata kunci: radionuklida antropogenik, base line, air laut, sedimen, ikan MONITORING OF ANTROPHOGENIC RADIONUCLIDES IN WEST SUMATERA SHORELINE. Analyzed of antrophogenic radionuclides from environment samples in West Sumatera Shoreline have been investigated. The purpose of the research in order to collect data used for base line of contaminant level caused by nuclear waste in the future. Monitoring radionuclides concerned about determine concentration of 137Cs dan 239Pu in sea water, sediment and fish as representation of radionuclide contained in West Sumatera Shoreline. Small amount concentration of radionuclides have been detected which explain that even no data reports about nuclear activities, Indonesian sea potentially contaminated by Pasific and Hindia Ocean released Keywords : antrophogenic radionuclides, base line, sea water, sediment, fish PENDAHULUAN Provinsi Sumatera Barat memiliki luas wilayah 42.297,30 km2 dengan be
BIOAKUMULASI 137CS OLEH KEONG MAS (POMACEA CANALICULATA) DENGAN METODE KOMPARTEMEN TUNGGAL Yandra, Arief; Suseno, Heny; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 3 (2013): Nopember 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

BIOAKUMULASI 137CS OLEH KEONG MAS (POMACEA CANALICULATA) DENGAN METODEKOMPARTEMEN TUNGGAL. Pengujian kemampuan bioakumulasi137Cs oleh keong mas (P.canaliculata) dilakukan dengan menggunakan metode kompartemen tunggal. Proses bioakumulasi137Cs merupakan lepasan yang mungkin terjadi dari fasilitas nuklir yang ada di Serpong sehinggaperlu dimodelkan secara realistis mendekati kondisi lingkungan di sekitarnya. Keong mas (P.canaliculata) adalah jenis keong yang banyak hidup di kolam, sawah beririgasi dan kanal. Keongmas (P. canaliculata) digunakan sebagai organisme untuk pengukuran kontaminan137Cs. Untukmemahami bioakumulasi137Cs oleh keong mas (P. canaliculata) dilakukan penelitian kinetikapengambilan dan pelepasan137Cs dari air tawar dalam kondisi laboratorium dengan berbagaiukuran serta pengaruh kalium dan natrium dalam proses bioakumulasi137Cs. Hasil eksperimenmenunjukkan faktor biokonsentrasi (BCF) pada berbagai ukuran 4,2 ; 3,9 dan 2,9 cm adalah 7,37;43,49 dan 2,67 ml.g-1. Ion kalium dan natrium memberikan pengaruh dalam bioakumulasi137Csoleh Keong mas (P. canaliculata). Sebagian besar137Cs terdistribusi dalam jaringan lunak jikadibandingkan dengan bagian cangkang.Kata kunci: bioakumulasi, P. canaliculata,137CsABSTRACTTHE BIOACCUMULATION OF 137CS BY SNAIL (P. CANALICULATA) WITH SINGLECOMAPRTMENT METHOD. The research of bioaccumulation ability of 137Cs by Snail (P.canaliculata) has been done by single compartment method. The bioaccumulation process of 137Csis probably the outcome which came from nuclear facility in Serpong, so it needs a suitablemodeling with the surrounding environment. P. canaliculata is a snail species which dominantly livein ponds, irrigated field and canal. P. canaliculata is used as an organism in measuring 137Cscontaminant. Determination of the uptake and intake of 137Cs from freshwater in laboratorycondition with many variabels and the effect of potassium and sodium in bioaccumulation processof 137Cs is needed to understand the 137Cs bioaccumulation by P. canaliculata. The experimentresult shows the bioconcentration factor (BCF) in many variabels 4,2; 3,9 dan 2,9 cm ; were 7,37;43,49; and 2,67 ml.g-1. Potassium and sodium gave effect in bioaccumulation of 137Cs by P.canaliculata. Compared to the shell, most of 137Cs was distributed in the soft tissue of P.Canaliculata.Keywords: Bioaccumulation, P. canaliculata, 137Cs
INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN BENTONIT DAN KAOLIN BERASAL DARI BELITUNG DAN SUMATRA BARAT Sari, Elfira Maya; Setiawan, Budi; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 3 (2013): Nopember 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN BENTONIT DAN KAOLIN BERASAL DARI BELITUNG DAN SUMATRA BARAT. Untuk mengantisipasi masalah keselamatan terhadap lingkungan hidup dan masyarakat terhadap adanya rencana introduksi pembangkit listrik tenaga nuklir di Kepulauan Bangka-Belitung perlu diadakannya suatu penelitian tentang keselamatan fasilitas disposal limbah radioaktif. Salah satunya adalah diperoleh data sifat bahan buffer (penyangga) yang ada disekitar di kepulauan Bangka – Belitung dan sekitarnya yang cocok untuk fasilitas disposal limbah radioaktif guna menghambat kemungkinan adanya migrasi kontaminan radioaktif dari fasilitas disposal ke lingkungan seperti batuan bentonit dan kaolinit dari Belitung dan Sumatera Barat. Sifatnya yang kedap air diharapkan dapat berperan sebagai pengontrol laju air tanah, ditambah dengan kemampuannya menyerap radionuklida di air tanah diharapkan pula mampu menghambat migrasi radionuklida ke lingkungan. Radiocesium digunakan karena sebagai representasi radionuklida yang dominan pada inventori paket limbah radioaktif aktivitas rendah-sedang. Data interaksi atau karakter sorpsi radiocesium oleh kaolinit dan bentonit sebagai fungsi waktu, konsentrasi CsCl, kekuatan ion larutan dan pengaruh konsentrasi CsCl di larutan diperoleh secara percobaan batch/catu di laboratorium. Data potensi sorpsi radionuklida pada mineral lokal asli Indonesia sampai saat ini masih sangat minim, untuk alasan itulah maka interaksi mineral alam lokal bentonit dan kaolinit dari Pulau Bangka-Belitung dan Sumatera Barat perlu untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data keandalan mineral alam Indonesia umumnya dan Kepulauan Bangka – Belitung dan Sumatera Barat khususnya apabila bahan-bahan tersebut nantinya digunakan sebagai bahan buffer pada sistem disposal limbah radioaktif. Hasil yang diperoleh adalah kondisi kesetimbangan pada pengontakan Cs-137 dengan sampel kaolin dan bentonit dicapai pada sekitar hari ke 5-6 dan ke 17-18, dengan nilai Kd 1000-1500 mL/g dan 1600- 3600 mL/g masing-masing untuk kaolin dan bentonit. Kondisi kesetimbangan baru dari proses desorpsi diperoleh setelah sekitar 6-7 hari pengocokan dengan nilai Kd 300-1000 mL/g dan 800- 1400 mL/g masing-masing untuk sampel kaolin dan bentonit. Meningkatnya konsentrasi NaCl di larutan telah menyebabkan penurunan nilai Kd radiocesium ke sampel karena adanya kompetisi antara ion Cs dengan ion Na berinteraksi dengan sampel. Koefisien distribusi dari Cs-137 telah berkurang dengan meningkatnya konsentrasi awal CsCl di larutan, karena kapasitas sorpsi CsCl yang terbatas di sampel. Kata kunci: Cs-137, bentonit, kaolin, sorpsi INTERACTION OF RADIOCESIUM WITH BENTONITE AND KAOLINITE FROM BELITUNG AND WEST SUMATRA. To anticipate environment and public safety problem to introduction of nuclear power plant plan in Bangka-Belitung Archipelago was needed a safety assessment on radwaste disposal facility. One of the experiments is to obtain the buffer material properties data located around Bangka - Belitung Island and surrounding such as bentonite and kaolinite rocks from Belitung and West Sumatra which is suitable for radioactive waste disposal facility was required in order to retard the possibility of radioactive contaminants migration into environment from the disposal facilities. Impermeable properties of materials can act as a ground water rate controller, added with their ability to absorb radionuclides in groundwater is also expected to be a barrier material to radionuclide migration into environment. Radiocesium was used as a representation of the dominant radionuclides in low-medium activity of radioactive waste package inventory. Elfira Maya Sari, Budi Setiawan, Safni: Interaksi Radiocesium dengan Bentonit dan Kaolin Berasal dari Belitung dan Sumatra Barat 168 Interaction data or character radiocesium sorption by kaolinite and bentonite as a function of time, concentration of CsCl, ionic strength and effect of CsCl concentration in solution will be obtained in laboratory batch experiments. Radionuclide sorption potentially data of Indonesian origin mineral is still very poor. For that reason, the experiment of local natural mineral interaction with bentonite and kaolinite from Bangka-Belitung and West Sumatra island needs to be done. The purpose of this study was to obtain reliability data of Indonesian natural mineral generally and especially materials from Bangka - Belitung and West Sumatra island when these materials will be used as a buffer material in radioactive waste disposal system. Obtained results were equilibrium conditions on contacting Cs-137 with kaolin and bentonite samples were reached at about 5-6 days and to 17- 18 days, with Kd value of 1000 to 1500 mL / g and 1600-3600 mL / g, for kaolin and bentonite respectively. New equilibrium conditions of the desorption process was obtained after about 6-7 days shaking with Kd values of 300-1000 mL / g and 800-1400 mL / g, for kaolin and bentonite samples respectively. Increasing in NaCl concentration in solution caused a decline in the Kd value of radiocesium into samples due to the competition between Cs with Na ions to interact with the sample. Distribution coefficient of Cs-137 was reduced with increasing of initial CsCl concentration in solution due to the limited capacity of CsCl sorption in the sample. Keywords: Cs-137, bentonite, kaolinite, sorption
BIOAKUMULASI 137CS OLEH KEONG SAWAH (P. AMPULLACEA) DENGAN MENGGUNAKAN METODA KOMPARTEMEN TUNGGAL Putri, Eka; Suseno, Heny; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 3 (2013): Nopember 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

BIOAKUMULASI 137CS OLEH KEONG SAWAH (P. AMPULLACEA) DENGAN MENGGUNAKAN METODA KOMPARTEMEN TUNGGAL. Kemampuan keong sawah (Pila ampullacea) mengakumulasi 137 Cs dengan menggunakan metoda kompartemen tunggal. Operasional fasilitas nuklir memungkinkan lepasnya radionuklida ke lingkungan dan masuk ke dalam jejaring makanan. Radionulida 137 Cs yang terlepas ke lingkungan aquatik dapat diakumulasi oleh berbagai organisme seperti ikan, moluska, krustasea, tumbuhan air dan sebagainya. Penelitian bioakmulasi 137 Cs oleh P. ampullaceal dilakukan dengan menggunakan air tawar dalam kondisi laboratorium. Dari hasil penelitian menunjukkan Faktor Biokonsentrasi (BCF) 137 Cs oleh P. ampullaceal berdasarkan ukuran adalah berkisar antara 13.50 – 111.01 L. Kg -1 , dan distribusi radionuklida didalam tubuh P. ampullaceal berkisar antara 65 – 92 % pada jaringan lunak dan 8 – 23 % pada cangkang. Sedangkan pada variasi pH Faktor Biokonsentrasi (BCF) 137 Cs oleh P. ampullaceal berkisar antara 95.99 – 215.96 L. Kg -1 , dan distribusi radionuklida didalam tubuh P. ampullaceal berkisar antara 82 – 86 % pada jaringan lunak dan 13 – 16 % pada cangkang. Radionuklida 137 Cs diakumulasi oleh P. ampullaceal di pengaruhi oleh beberapa faktor diantara adalah ukuran dari biota dan kondisi lingkungan hidupnya. Kata kunci: Bioakumulasi, P. ampullaceal, radionuklida,137 Cs Ability of snail (P. ampullacea) accumulate 137Cs by using a single compartment method. Operational nuclear facility allows the release of radionuclides into the environmentand into the food network. Radionulida137Cs were released into the environment can be accumulated by aquatic organisms such as fish, molluscs, crustaceans, aquatic plants, etc. Research bioacumulasi137Cs by P.ampullaceal performed using fresh water under laboratory conditions. The results showed Bioconcentration Factor (BCF) 137Cs by P.ampullacea by size is between 13.50-111.01L.Kg-1, and the distribution of radionuclides in the body P.ampullacea ranged between 65-92% of the soft tissue and 8-23% in the shell. While at variation pH Bioconcentration Factor(BCF) 137Cs by P. ampullacea ranged from 95.99-215.96 L.Kg-1, and the distribution of radionuclides in the body P.ampullacea ranged between 82-86% of the soft tissue and 13-16% in the shell. Radionuclide 137Cs accumulated by P.ampullacea is influenced by several factors among is the size of the biota and the environment conditions. Keywords: Bioaccumulation, P. canaliculata, 137Cs
INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG Mila, Oktri; Setiawan, Budi; Safni, Safni
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah Vol 16, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5177.131 KB)

Abstract

INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG. Interaksi radiostronsium (Sr-90) dengan tanah calon tapak untuk fasilitas demo disposal yang akan dibangun di Serpong dalam waktu dekat telah dilakukan. Kegiatan ini untuk mengantisipasi kemungkinan penuhnya fasilitas penyimpanan sementara yang ada di Kawasan Nuklir Serpong, dan sekaligus untuk menunjukkan ke masyarakat bagaimana limbah radioaktif dapat dikelola dengan baik dengan teknologi yang ada. Untuk meyakinkan bahwa lokasi tersebut aman, studi keandalan dari tanah calon tapak menjadi sangat penting untuk dilakukan melalui serangkaian percobaan dengan menggunakan parameter-parameter yang berpengaruh seperti waktu kontak, pengaruh kekuatan ionik dan konsentrasi Sr2+ di larutan. Radiostronsium digunakan sebagai perunut dalam percobaan ini dan berperan sebagai radionuklida acuan pada penelitian limbah radioaktif level rendah karena waktu paronya yang panjang dan sangat mudah berasosiasi dengan organisme yang ada di alam. Sehingga interaksi radiostronsium dan sampel tanah menjadi penting untuk dipelajari. Percobaan dilakukan secara catu, dan sampel tanah-larutan yang mengandung radionuklida dicampur dalam vial PE 20 ml. Ratio padat:cair adalah 10-2 g/ml, dengan tujuan mengumpulkan data karakter spesifik radionuklida terserap ke tanah calon tapak. Koefisien distribusi digunakan sebagai indikator dimana akan dibandingkan antara banyaknya aktivitas awal dan akhir radiostronsium di larutan. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi kesetimbangan dicapai setelah kontak 10 hari dengan nilai Kd berkisar antara 1600-2350 ml/g. Penambahan kekuatan ionic larutan menyebabkan nilai Kd menjadi berkurang karena adanya kompetisi antara garam latar dengan radiostronsium ke sampel tanah, dan meningkatnya Sr di larutan membuat menurun nilai Kd di sampel tanah karena terbatasnya kapasitas sorpsi dari sampel tanah. Cepatnya kondisi jenuh ion logam di sampel tanah tercapai karena terjadinya reaksi sederhana. Kata kunci : Tanah calon tapak, radiostronsium, sorpsi ABSTRACT INTERACTION OF Sr-90 WITH SITE CANDIDATE SOIL FOR DEMONSTRATION DISPOSAL FACILITY AT SERPONG. Interaction of radiostrontium (Sr-90) with site candidate soil for demonstration disposal facility to be constructed in the near future at Serpong has been done. This activity is to anticipate the interim storage facility at Serpong nuclear area becomes full off condition, and show to the public how radioactive waste can be well managed with the existing technology. To ensure that the location is save, a reliability study of site candidate soil becomes very importance to be conducted through some experiments consisted some affected parameters such as contact time, effect of ionic strength, and effect of Sr+ ion in solution. Radiostrontium was used as a tracer on the experiments and has role as radionuclide reference in low-level radioactive waste due to its long half-live and it’s easy to associate with organism in nature. So, interaction of radiostrontium and soil samples from site becomes important to be studied. Experiment was performed in batch method, and soil sample-solution containing radionuclide was mixed in a 20 ml of PE vial. Ratio of solid: liquid was 10-2 g/ml. Objective of the experiment is to collect the specific characteristics data of radionuclide sorption onto soil from site candidate. Distribution coefficient value was used as indicator where the amount of initial and final activities of radiostrontium in solution was compared. Result showed that equilibrium condition was reached after contact time 10 days with Kd values ranged from 1600-2350 ml/g. Increased in ionic strength in solution made decreased of Kd value into soil sample due to competition of background salt and radiostrontium *) Correspondence Author Oktri Mila, Budi Setiawan, Safni: Interaksi Radiostronsium Dengan Tanah Calon Tapak Fasilitas Demo Disposal di Serpong 32 into soil samples, and increased in Sr ion in solution caused decreased of Kd value in soil sample due to limitation of sorption capacity in soil samples. Fast condition in saturated of metal ion into soil samples was reached due to a simple reaction was occurred. Keywords: Site candidate soil, radiostrontium, sorption PENDAHULUAN Limbah radioaktif dari seluruh pelosok Indonesia yang dihasilkan dari bermacam kegiatan seperti dari kegiatan industry, rumah sakit, penelitian dan pendidikan akan dikelola dan diolah pada fasilitas pengolahan limbah radioaktif milik Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-Badan Tenaga Nuklir Nasional. Pengolahan dapat dilakukan secara evaporasi, insinerasi/dibakar, atau ditekan/kompaksi, sehingga volume limbah yang akan dimasukkan ke paket limbah menjadi lebih kecil. Paket-paket limbah yang dihasilkan berbentuk drum 200L atau concrete shell dengan volume 350 dan 950L. Paket-paket limbah hasil pengolahan selanjutnya disimpan pada fasilitas penyimpanan sementara (interim storage) sampai fasilitas penyimpanan tersebut menjadi penuh pada suatu saat. Laju penyimpanan paket-paket limbah tersebut ke dalam
PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT Akhyar, Okviyoandra; Suseno, Heny; Safni, Safni
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah Vol 16, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5177.131 KB)

Abstract

PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT. Telah dilakukan analisis kandungan radionuklida antropogenik pada sampel lingkungan di kawasan pesisir pantai Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan salah satu base line data yang dapat digunakan sebagai data acuan kontaminasi yang disebabkan oleh limbah radioaktif di masa mendatang. Analisis dilakukan pada air laut, sedimen dan ikan sebagai representasi kandungan radionuklida antropogenik yang terdeposit pada ekologi pantai Sumatera Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa kawasan pesisir pantai Sumatera Barat mendeposit sejumlah kecil radionuklida antropogenik 137Cs dan 239Pu. Terdeteksinya aktivitas radionuklida antropogenik di titik penyamplingan mengindikasikan bahwa meskipun belum adanya aktivitas nuklir, wilayah laut Indonesia berpotensi tercemari limbah radioaktif yang berasal dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kata kunci: radionuklida antropogenik, base line, air laut, sedimen, ikan ABSTRACT MONITORING OF ANTROPHOGENIC RADIONUCLIDES IN WEST SUMATERA SHORELINE. Analyzed of antrophogenic radionuclides from environment samples in West Sumatera Shoreline have been investigated. The purpose of the research in order to collect data used for base line of contaminant level caused by nuclear waste in the future. Monitoring radionuclides concerned about determine concentration of 137Cs dan 239Pu in sea water, sediment and fish as representation of radionuclide contained in West Sumatera Shoreline. Small amount concentration of radionuclides have been detected which explain that even no data reports about nuclear activities, Indonesian sea potentially contaminated by Pasific and Hindia Ocean released Keywords : antrophogenic radionuclides, base line, sea water, sediment, fish
INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN BENTONIT DAN KAOLIN BERASAL DARI BELITUNG DAN SUMATRA BARAT Sari, Elfira Maya; Setiawan, Budi; Safni, Safni
Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah Vol 16, No 3 (2013): November 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTERAKSI RADIOCESIUM DENGAN BENTONIT DAN KAOLIN BERASAL DARI BELITUNG DAN SUMATRA BARAT. Untuk mengantisipasi masalah keselamatan terhadap lingkungan hidup dan masyarakat terhadap adanya rencana introduksi pembangkit listrik tenaga nuklir di Kepulauan Bangka-Belitung perlu diadakannya suatu penelitian tentang keselamatan fasilitas disposal limbah radioaktif. Salah satunya adalah diperoleh data sifat bahan buffer (penyangga) yang ada disekitar di kepulauan Bangka – Belitung dan sekitarnya yang cocok untuk fasilitas disposal limbah radioaktif guna menghambat kemungkinan adanya migrasi kontaminan radioaktif dari fasilitas disposal ke lingkungan seperti batuan bentonit dan kaolinit dari Belitung dan Sumatera Barat. Sifatnya yang kedap air diharapkan dapat berperan sebagai pengontrol laju air tanah, ditambah dengan kemampuannya menyerap radionuklida di air tanah diharapkan pula mampu menghambat migrasi radionuklida ke lingkungan. Radiocesium digunakan karena sebagai representasi radionuklida yang dominan pada inventori paket limbah radioaktif aktivitas rendah-sedang. Data interaksi atau karakter sorpsi radiocesium oleh kaolinit dan bentonit sebagai fungsi waktu, konsentrasi CsCl, kekuatan ion larutan dan pengaruh konsentrasi CsCl di larutan diperoleh secara percobaan batch/catu di laboratorium. Data potensi sorpsi radionuklida pada mineral lokal asli Indonesia sampai saat ini masih sangat minim, untuk alasan itulah maka interaksi mineral alam lokal bentonit dan kaolinit dari Pulau Bangka-Belitung dan Sumatera Barat perlu untuk dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data keandalan mineral alam Indonesia umumnya dan Kepulauan Bangka – Belitung dan Sumatera Barat khususnya apabila bahan-bahan tersebut nantinya digunakan sebagai bahan buffer pada sistem disposal limbah radioaktif. Hasil yang diperoleh adalah kondisi kesetimbangan pada pengontakan Cs-137 dengan sampel kaolin dan bentonit dicapai pada sekitar hari ke 5-6 dan ke 17-18, dengan nilai Kd 1000-1500 mL/g dan 1600- 3600 mL/g masing-masing untuk kaolin dan bentonit. Kondisi kesetimbangan baru dari proses desorpsi diperoleh setelah sekitar 6-7 hari pengocokan dengan nilai Kd 300-1000 mL/g dan 800- 1400 mL/g masing-masing untuk sampel kaolin dan bentonit. Meningkatnya konsentrasi NaCl di larutan telah menyebabkan penurunan nilai Kd radiocesium ke sampel karena adanya kompetisi antara ion Cs dengan ion Na berinteraksi dengan sampel. Koefisien distribusi dari Cs-137 telah berkurang dengan meningkatnya konsentrasi awal CsCl di larutan, karena kapasitas sorpsi CsCl yang terbatas di sampel. Kata kunci: Cs-137, bentonit, kaolin, sorpsi INTERACTION OF RADIOCESIUM WITH BENTONITE AND KAOLINITE FROM BELITUNG AND WEST SUMATRA. To anticipate environment and public safety problem to introduction of nuclear power plant plan in Bangka-Belitung Archipelago was needed a safety assessment on radwaste disposal facility. One of the experiments is to obtain the buffer material properties data located around Bangka - Belitung Island and surrounding such as bentonite and kaolinite rocks from Belitung and West Sumatra which is suitable for radioactive waste disposal facility was required in order to retard the possibility of radioactive contaminants migration into environment from the disposal facilities. Impermeable properties of materials can act as a ground water rate controller, added with their ability to absorb radionuclides in groundwater is also expected to be a barrier material to radionuclide migration into environment. Radiocesium was used as a representation of the dominant radionuclides in low-medium activity of radioactive waste package inventory. Elfira Maya Sari, Budi Setiawan, Safni: Interaksi Radiocesium dengan Bentonit dan Kaolin Berasal dari Belitung dan Sumatra Barat
Degradasi Zat Warna Orange-F3R dan Violet-3B secara Sonolisis Frekuensi Rendah dengan Penambahan Katalis C-N-Codoped TiO2 Putri, Reza Audina; Safni, Safni; Wellia, Diana Vanda; Septiani, Upita; Jamarun, Novesar
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 5, No. 1, May 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Syarif Hidayatullah State Islamic Uni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v5i1.7801

Abstract

Zat warna orange-F3R dan violet-3B merupakan zat warna organik sintetis turunan vat yang bersifat non-biodegradable. Degradasi kedua zat warna ini telah dilakukan secara sonolisis dengan penambahan katalis semikonduktor TiO2 anatase yang didoping karbon dan nitrogen. Proses sonolisis menggunakan iradiasi ultrasonik dengan frekuensi 35 kHz. Massa katalis optimum yang diperoleh untuk sonolisis zat warna orange-F3R adalah 9 mg dan 6 mg untuk violet-3B. Persen degradasi meningkat secara signifikan dengan penambahan katalis yaitu dari 8.3% menjadi 36.2% untuk sonolisis zat warna orange-F3R selama iradiasi 180 menit. Sedangkan, dengan waktu iradiasi yang sama persen degradasi dari zat warna violet meningkat dari 5.8% menjadi 34.2% setelah penambahan katalis. Kata kunci: C-N-codoped TiO2, sonolisis, ultrasonik, vat  Orange-F3R and violet-3B are non-biodegradable synthetic organic dyes. The degradation of these two dyestuffs has been done by sonolysis process with the addition of semiconductor TiO2 anatase catalyst which is doped by carbon and nitrogen atoms. The sonolysis process used ultrasonic irradiation with a frequency of 35 kHz. The optimum catalyst mass obtained for the orange-F3R dye sonolysis was 9 mg and 6 mg for violet-3B. The percentage of degradation increased significantly with the addition of the catalyst; it was from 8.3% to 36.2% for the orange-F3R dye during irradiation for 180 min. Meanwhile, by the same irradiation time, the degradation percentage of violet dye increased from 5.8% to 34.2% after the addition of the catalyst. Keywords: C-N-codoped TiO2, sonolysis, ultrasonic, vat-dye.