Udin Sabarudin
Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Placental Growth Factor Level is Lower in Early-Onset Preeclampsia, while Tumor Necrosis Factor Alpha Level does not Show any Difference between Early and Late Onset Preeclampsia Ekapatria, Christofani; Sabarudin, Udin; Sasotya, Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Vol. 36. No 4 Oktober 2012
Publisher : Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractObjective: To analyze the difference of PlGF and TNF-α serum level between early-onset and late-onset preeclampsia.Method: This is a cross-sectional analytic comparative study comparing serum level of PlGF and TNF-α between groups with earlyand late-onset preeclampsia. Each group consists of 32 subjects who met inclusion criteria and presented to Dr. Hasan Sadikin Hospital orits district hospitals in September - November 2012. Statisticalanalysis was performed with Kolmogorov Smirnov test, Saphiro-Wilk test, and non-parametric Mann-Whitney test.Result: Mean of PlGF serum level in the group with early-onset preeclampsiais 53.0344±38.07140 pg/ml, while mean of which in thegroup with late-onset preeclampsia is 241.8063±192.8373 pg/ml (p<0.0001). Mean of TNF-α serum level in the group with early-onset preeclampsia is 2.7733±0.97533pg/ml, while mean of which in the group with late-onset preeclampsia is 2.5061±0.84872 pg/ml (p= 0.235).Conclusion: Serum level of PlGF in early-onset preeclampsia is lower than the level of which in late-onset preeclampsia (p<0.0001). There is no significant difference of TNF-α serum level between the early- and late-onset preeclampsia (p=0.235).[Indones J Obstet Gynecol 2012; 36-4: 181-4]Keywords: early onset, late onset preeclampsia, PlGF, preeclampsia, TNF-α
Perbandingan Analgesia Epidural Menggunakan Bupivakain 0,125% dengan Kombinasi Bupivakain 0,0625% dan Fentanil 2 μg/mL terhadap Nyeri dan Blok Motorik pada Persalinan Normal Mose, Oktofina K.; Sabarudin, Udin; Sitanggang, Ruli Herman; Boom, Cindy E.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.382 KB)

Abstract

Analgesia epidural merupakan standar emas untuk memfasilitasi persalinan normal tanpa nyeri. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan analgesia epidural bupivakain 0,125% dengan bupivakain 0,0625% ditambah fentanil 2 μg/mL yang diukur dengan numeric rating scale (NRS) dan blok motorik yang dinilai dengan skala bromage selama persalinan normal. Penelitian dilakukan sebagai uji klinis acak terkontrol buta ganda terhadap 34 parturien primigravida dengan status fisik ASA II yang direncanakan melahirkan normal di ruang bersalin Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Desember 2011–Juni 2012. Subjek dikelompokkan menjadi 2, kelompok bupivakain (B) dan kelompok bupivakain fentanil (BF). Hasil penelitian dianalisis memakai uji chi-kuadrat dan uji t-independent dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila p<0,05 dan sangat bermakna jika p<0,001. Hasil penelitian didapatkan nilai NRS kelompok B vs BF tidak berbeda bermakna dengan nilai p>0,05. Nilai bromage kelompok B vs BF berbeda bermakna dengan nilai p<0,05 pada menit ke-90. Simpulan penelitian ini adalah analgesia yang dihasilkan pada kombinasi bupivakain 0,0625% + fentanil 2 μg/mL sama dengan bupivakain 0,125% dan mengurangi kejadian blok motorik selama persalinan normal yang diberikan analgesia epidural.Kata kunci: Bromage score, bupivakain, epidural, fentanil, numeric rating scale (NRS), parturien, primigravida Comparison of Epidural Analgesia Bupivacaine 0.125% with Combination of 0.0625% Bupivacaine and Fentanyl 2 μg /mL to the Pain and Motoric Block in Normal Labor Epidural analgesia became the gold standard to facilitate normal labor without pain. The purpose of this study was to compare bupivacaine 0.125% versus bupivacaine 0.0625% + fentanyl 2 μg/mL epidural analgesia in the reduction of pain during labor as measured by the numeric rating scale (NRS) and motor block was assessed using the bromage score. A randomized double blind controlled clinical trial was conducted on 34 primigravida parturien with ASA physical status II planned for vaginal birth at delivery in delivery room Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung within December 2011–June 2012. Subjects were randomly assigned into two groups. The research data were analyzed using of the chi-square and independent ttest with 95% confidence level and considered significant when p<0.05 and highly significant if p<0.001. The results of this study showed that the NRS B vs BF group was not significantly different with p value >0.05. Bromage score B vs BF group significantly different with p value <0.05 at 90 minutes. This study concluded that the combination of 0.0625% bupivacaine + fentanyl 2 μg/mL produce analgesia similar to that provided by infusion of 0.125% bupivacaine and reduce the incidence of motor block during labor.Key words: Bupivacaine, bromage score, epidural, fentanyl, numeric rating scale (NRS), parturien, primigravida DOI: http://dx.doi.org/10.15851/jap.v1n2.120
Perbandingan Keberhasilan Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) pada Inersia Uteri Hipotonik dengan dan tanpa Pemberian Oksitosin Drip Setiawan, Dani; Krisnadi, Sofie Rifayani; Sabarudin, Udin
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.152 KB)

Abstract

Percobaan persalinan per vaginam dapat menjadi pilihan untuk wanita yang sebelumnya pernah mengalami seksio sesarea. Percobaan yang berhasil dinamakan sebagai vaginal birth after a cesarean (VBAC). Kegagalan VBAC sering kali disebabkan karena terjadinya inersia uteri hipotonik. Augmentasi oksitosin drip bukan merupakan kontraindikasi, pemberian augmentasi oksitosin drip merupakan upaya untuk meningkatkan angka keberhasilan VBAC akan tetapi harus diberikan dengan pemantauan kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan keberhasilan VBAC pada inersia uteri hipotonik dengan dan tanpa pemberian oksitosin drip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan uji klinik acak terkontrol (randomized clinical trial), terhadap 40 penderita dengan riwayat seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, dan Rumah Sakit Astana Anyar yang memenuhi kriteria inklusi periode Maret–Mei 2009; dilakukan perbandingan dua kelompok, yaitu kelompok dengan oksitosin drip dan tanpa oksitosin drip. Karakteristik penderita, keberhasilan VBAC, dan komplikasi ibu serta keluaran neonatus dicatat sebagai data. Uji kemaknaan perbedaan dua proporsi dengan menggunakan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan VBAC secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan bermakna antara kelompok oksitosin drip (80%) dan tanpa oksitosin drip (60%) dengan nilai p=0,168 (p>0,05), tetapi dengan interval kepercayaan 95% keberhasilan VBAC dengan oksitosin drip lebih besar 1,71 (0,72–4,06). Komplikasi pada ibu dan neonatus yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan, pemberian oksitosin drip pada kasus inersia uteri hipotonik meningkatkan keberhasilan VBAC. [MKB. 2012;44(2):114–20].The Successful Comparison of Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) on Hypotonic Uterine Inertia with and without Oxytocin InfusionTrial of labor after cesarean section can be a choice on maternity with cesarean history. The successful trial of labor is then called vaginal birth after a cesarean (VBAC). The failure on VBAC is often caused by hypotonic uterine inertia. Oxytocin infusion augmentation is not a contraindication; it is a solution for increasing success on VBAC with requisite continuing observation. The aim of this research was to determine the successful differences of VBAC on hypotonic uterine inertia with and without oxytocin augmentation. This research was an experimental study on randomized clinical trial, using 40 patients with history of cesarean section at Dr. Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals (Sumedang and Astana Anyar) during March–May 2009 which fulfilled inclusion criteria divided into two groups; the group using oxytocin infusion and the group without oxytocin infusion. The patients’ characteristic, the success on VBAC and the maternal complication also neonatal condition were noted as encode. Chi-square test was used for statistical analysis. There was no statistical significant difference of success between the group used oxytocin infusion (80%) and the group without using oxytocin infusion (60%) with p>0.05 (p=0.168), but using confidence interval 95% showed the successful on VBAC with oxytocin infusion was greater 1.71 (0.72–4.06). The maternity and neonatal complication on two groups did not indicate a significant difference. In conclusion, using oxytocin infusion on hypotonic uterine inertia can increase the success on VBAC. [MKB.2012;44(2):114–20]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.130
Polimorfisme Gen MMP-9, Ekspresi MMP-9, dan Indeks Apoptosis Sel Serviks pada Kehamilan 21–36 Minggu Sabarudin, Udin; Mose, Johanes C.; Krisnadi, Sofie R.
Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.386 KB)

Abstract

Ekspresi berlebihan serta aktivasi beberapa matriks metaloproteinase (MMP) sebelum persalinan mengarah pada degradasi jaringan amnion korion yang secara klinis disebut ketuban pecah dini (KPD). Peningkatan aktivitas MMP akibat polimorfisme gen matrik metaloproteinase-9 (MMP-9) (C-1562T) akan diikuti oleh apoptosis. Penelitian ini bertujuan mencari perbedaan ekspresi MMP-9, indeks apoptosis (IA) sel serviks, serta polimorfisme gen MMP-9 (C-1562T) pada kehamilan 21–36 minggu tanpa dan disertai KPD. Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol yang dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin dan RS jejaring Bandung (Mei−November 2009). Tidak terdapat hubungan bermakna antara ekspresi MMP-9 dan IA sel serviks dengan setiap variabel pada kedua kelompok. Tiga kasus KPD ditemukan pada ibu berusia di bawah 20 tahun. Usia kehamilan 28−34 minggu memiliki peluang mengalami KPD lebih besar dibandingkan dengan usia kehamilan 21−28 minggu. Ibu hamil dengan indeks massa tubuh (IMT) 19–26 memiliki risiko mengalami KPD. Hanya terdapat satu sampel yang menunjukkan polimorfisme MMP-9 (C-1562T) di kelompok kehamilan 21–36 minggu disertai KPD. Dapat disimpulkan, tidak ditemukan hubungan bermakna antara ekspresi MMP-9 dan IA sel serviks pada kedua kelompok penelitian, begitu pula dengan polimorfisme MMP-9 (C-1562T) yang dapat menyebabkan peningkatan ekspresi MMP-9. [MKB.2011;43(4):199–206].Kata kunci: Apoptosis sel serviks, ekspresi MMP-9, ketuban pecah dini, polimorfisme gen MMP-9MMP-9 Gene Polymorphism, MMP-9 Expression and Cervical Apoptotic Index on 21–36 Weeks of PregnancyOver expression and premature activation of matrix metalloproteinase (MMP) can lead to degradation of amnion chorionic membrane which clinically called premature rupture of membrane (PROM). Increasing MMP activity caused by matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) gene polymorphism (C-1562T) will be followed by apoptosis. This study was aimed to find the differences between MMP-9 expression and cervical apoptotic index (AI) and also MMP-9 (C-1562T) polymorphism on 21–36 weeks of pregnancy with or without PROM. This was case control study and conducted in Dr. Hasan Sadikin Hospital and Bandung Networking Hospitals (May−November 2009). There were no significant correlation between MMP-9 expression and cervical AI in every variable on both groups. Three cases of PROM were found in mothers below 20 years of age. Women with 28−34 weeks of pregnancy had a greater risk for PROM than 21−28 weeks. Pregnant women with body mass index (BMI) 19−26, had risk to have PROM. Only one sample that showed a MMP-9 (C-1562T) polymorphism in the premature labor with PROM group. It can be concluded that there are no significant correlation between MMP-9 expression and cervical cells AI on both groups as well as MMP-9 (C-1562T) polymorphism which can alter MMP-9 expression. [MKB. 2011;43(4):199–206].Key words: Cervical cell apopt
Kadar Prostaglandin dan Oksitosin pada Persalinan Hewan Model Marmot (Cavia porcellus) Bunting Cukup Bulan dan Kurang Bulan dengan dan tanpa Amniotomi Sabarudin, Udin
Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketuban pecah dini pada kehamilan prematur merupakan penyebab penting kematian maternal. Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses pecah ketuban antara lain aktivitas prostaglandin (PG) dan oksitosin (OT). Pada beberapa kasus ditemukan ibu dengan ketuban pecah dini yang tidak diikuti dengan kontraksi uterus. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kadar OT dan prostaglandin E-2 (PGE-2) pada hewan model marmot bunting cukup dan kurang bulan dengan dan tanpa amniotomi. Penelitian dilakukan selama bulan September–Desember 2011, di Laboratorium Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dan analisis hasil di Laboratorium Klinik Utama Prodia. Dalam penelitian cross sectional ini, sebanyak 20 ekor hewan model marmot bunting dibagi menjadi 5 kelompok (kelompok marmot bunting kurang bulan, marmot bunting kurang bulan yang diamniotomi dengan dan tanpa kontraksi, dan marmot bunting cukup bulan dengan dan tanpa kontraksi). Sampel penelitian berupa serum darah digunakan untuk pemeriksaan kadar PGE-2 dan OT dengan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kadar PG dan OT pada seluruh kelompok (p<0,05). Dibandingkan dengan kelompok lainnya, kelompok bunting kurang bulan amniotomi dengan kontraksi ternyata menunjukkan kadar PGE-2 dan OT tertinggi. Simpulannya, untuk menimbulkan kontraksi diperlukan kadar PGE-2 dan OT yang lebih tinggi, terutama pada keadaan bunting kurang bulan. Selain itu, setelah terjadi pecah ketuban, kadar PG meningkat lebih cepat dari pada kadar OT. Artinya, untuk memperlambat terjadinya kontraksi pada kelompok hamil kurang bulan setelah terjadi pecah ketuban, penggunaan antiprostaglandin lebih disarankan.
Heme Oxygenases1 (Hmox1) and Serum Ferritin Level between Preeclampsia and Normal Pregnancy Putra, Ridwan A; Effendi, Jusuf S; Sabarudin, Udin
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 5, No. 1, January 2017
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.635 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v5i1.457

Abstract

Objective: To determine the comparison of Hmox-1 to serum ferritin level between patients with preeclampsia and normal pregnancy. Methods: This study used analytic observational with cross sectional design. We included 30 subjects with preeclampsia and the other 30 people with normal pregnancy in accordance with inclusion and exclusion criteria. Examination of Hmox-1 and ferritin level was performed through ELISA method. The data consisted of physical and laboratory examination and they would be continued to the calculation in the statistical analysis. Results: The average of Hmox-1 level in normal pregnancy and preeclampsia was 1.2 (SD 1.6) ng/ml and 0.3 (SD 0.2) ng/ml (p
Heme Oxygenases1 (Hmox1) and Serum Ferritin Level between Preeclampsia and Normal Pregnancy Putra, Ridwan A; Effendi, Jusuf S; Sabarudin, Udin
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 5, No. 1, January 2017
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.635 KB) | DOI: 10.32771/inajog.v5i1.457

Abstract

Objective: To determine the comparison of Hmox-1 to serum ferritin level between patients with preeclampsia and normal pregnancy. Methods: This study used analytic observational with cross sectional design. We included 30 subjects with preeclampsia and the other 30 people with normal pregnancy in accordance with inclusion and exclusion criteria. Examination of Hmox-1 and ferritin level was performed through ELISA method. The data consisted of physical and laboratory examination and they would be continued to the calculation in the statistical analysis. Results: The average of Hmox-1 level in normal pregnancy and preeclampsia was 1.2 (SD 1.6) ng/ml and 0.3 (SD 0.2) ng/ml (p
Postpartum Anxiety Factors Involved in Subjects Undergoing Cesarean Section as Analyzed by Zung Self Rating Anxiety Scale Rahmat, Akbar; Saputra, Lucky; Pramatirta, Akhmad Yogi; Sabarudin, Udin; Krisnadi, Sofie Rifayani; Susanto, Herman; Effendi, Jusuf Sulaeman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.383 KB)

Abstract

AbstractObjective: postpartum mother who underwent cesarean section may experience anxiety. The risk factors associated with anxiety include age, education and income level, parity, social and cultural factors, delivery methods, as well as the history of pregnancy.Methods: This study used analytic, cross-sectional method. Postpartum mother (n=194) were recruited for this study. All participants consented to fill a questionnaire, to determine the subject’s parameters and anxiety levels. Severity of postpartum anxiety was determined based on the Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS). Results: Postpartum anxiety (SAS ≥45) were mostly found in the group experiencing emergency cesarean section (71.13%) compared to the group with scheduled cesarean section (32.1%) (p<0.001). Forty-seven subjects (82.5%) women aged <20 years old experienced postpartum anxiety, while 32.1% women aged ≥20 years old were found to have similar condition (p<0.001). Subjects with lower education levels had a higher prevalence of postpartum anxiety than those with higher education levels (73.4% vs 12.9%, p<0.001). Different income levels  had 47.2% and 46.3% prevalence of postpartum anxiety respectively, but not statistically significant. Conclusion: there was a correlation between anxiety score on women who experienced an emergency and scheduled cesarean section with age and education level.Keywords: Cesarean section, age, education levels, income levels, parity, Zung Self-rating Anxiety ScaleBeberapa Faktor yang Memengaruhi Kecemasan Pasien yang Menjalani Seksio Sesarea dengan Pemeriksaan Zung Self Rating Anxiety ScaleAbstrakTujuan: Kondisi pascaseksio sesarea dapat menimbulkan kecemasan ibu. Faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kecemasan antara lain usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, faktor sosial budaya, faktor jenis persalinan, dan riwayat persalinan yang lalu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik cross-sectional. Wanita pasca seksio sesarea yang memenuhi kriteria penelitian (n=194) dengan kuesioner. Tingkat kecemasan dinilai berdasarkan derajat Zung Self-rating Anxiety Scale (SAS).Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Ujung Berung, RSKIA Kota Bandung, RSUD Soreang Kabupaten Bandung dari bulan Maret sampai dengan April 2017.Hasil: Penelitian ini menunjukan bahwa kecemasan postpartum (SAS ≥45) lebih banyak ditemukan pada pasien yang menjalani operasi sesar darurat (71,13%) dibandingkan dengan pasien yang telah dijadwalkan terlebih dahulu (32,1%) (p <0,001). Empat puluh tujuh pasien (82,5%) wanita usia <20 tahun mengalami kecemasan pasca melahirkan, sementara 32,1% wanita berusia ≥ 20 tahun ditemukan memiliki kondisi yang sama (p <0,001). Tingkat pendidikan ≤ SLTP memiliki prevalensi kecemasan lebih tinggi dibandingkan > SLTA (73,4% vs 12,9%, p <0,001). Tingkat pendapatan yang berbeda (lebih rendah dari UMR, sama atau lebih tinggi dari UMR) memiliki prevalensi pasca melahirkan sebesar 47,2% dan 46,3%, namun tidak signifikanberbeda  secara statistik. Simpulan: Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pasca seksio sesarea pada kelompok  seksio sesarea segera dibandingkan terencana dengan usia dan tingkat pendidikan.Kata kunci: Seksio sesarea, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, paritas, Zung Self-rating Anxiety Scale
Hubungan antara Faktor Risiko Demografi dan Klinis terhadap Kejadian Persalinan Preterm Dini dan Lanjut Sasongko, Rahadyan Aji; Effendi, Jusuf Sulaeman; Sabarudin, Udin; Armawan, Edwin; Siddiq, Amillia; Zulvayanti, Zulvayanti
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 1 Nomor 1 Maret 2018
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.026 KB)

Abstract

Tujuan: Persalinan preterm dini dan lanjut masih menjadi penyebab penting morbiditas dan mortalitas perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien, menganalisis hubungan faktor risiko demografi dan klinik dengan persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut periode Januari 2015-Desember 2016. Metode: Penelitian secara potong lintang retrospektif dilaksanakan pada bulan April-Juni 2017 dengan sumber data rekam medis Rumah Sakit Hasan Sadikin. Hasil: penelitian menunjukan insidensi persalinan preterm adalah 38,54%. Diskusi: Terdapat hubungan signifikan dari faktor risiko pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini terhadap kejadian persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut. Pendidikan SD meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 2,3 kali, perawatan antenatal kurang dari 4 kali selama kehamilan meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,6 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya meningkatkan kejadian persalinan preterm dini 1,9 kali. Ketuban pecah dini meningkatkan kejadian persalinan preterm lanjut 2,6 kali (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, jumlah perawatan antenatal, riwayat persalinan preterm, dan ketuban pecah dini, dengan  persalinan spontan preterm dini dan preterm lanjut.Kata kunci: Faktor demografi, faktor klinik, persalinan spontan preterm dini, persalinan spontan preterm lanjutRelation between Demographic and Clinical Risk Factors to the Occurrence of Spontaneous Early and Late Preterm Birth Abstract     Objective: Early and late preterm birth remains an important cause of perinatal morbidity and mortality. Various studies indicate the incidence of is influenced by demographic and clinical factors affecting baby’s outcome. This study aims to analyze demographic and clinical factor’s relations of spontaneous early and late preterm birth in Hasan Sadikin General Hospital, from January 2015 until December 2016. Method: Retrospective-cross sectional was conducted in April until June 2017 from Hasan Sadikin General Hospital’s medical record, collected from January 2015 to December 2016. Results: Incidence of preterm birth from January 2015 until December 2016 was 38,54%. There was significant relations of education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane with spontaneous early and late preterm birth. Education level of elementary school increased the incidence of spontaneous early preterm birth 2.3 times, previous preterm birth increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.6 times, antenatal care less than 4 times increased the incidence of spontaneous early preterm birth 1.9 times. Premature rupture of membrane increased the incidence of spontaneous late preterm birth 2.6 times (p<0.05. Conclusion: there is a relations between education, times of antenatal care, previous preterm birth, and premature rupture of membrane,  with spontaneous early and late preterm birth.Keywords: Demographic factors, clinical factors, preterm spontaneous early delivery, spontaneous late preterm delivery
Korelasi antara Kadar Vitamin D dengan Kejadian Preeklamsi Retnosari, Ekadewi; Permadi, Wiryawan; Setiawati, Elsa Pudji; Husin, Farid; Mose, Johanes Cornellius; Sabarudin, Udin
Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 4 (2015): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.877 KB) | DOI: 10.24198/ijemc.v2i4.34

Abstract

Program Pembangunan Kesehatan di Indonesia dewasa ini masih diprioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan kesehatannya yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan bayi pada masa perinatal. Hal ini ditandai dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI tahun 2007 sebesar 228/100.000 Kelahiran Hidup (KH) meningkat menjadi 359 /100.000 KH. Penyebab langsung kematian ibu adalah faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti perdarahan, preeklamsi/eklamsi dan infeksi. Preeklamsi  merupakan gangguan multifaktorial. Beberapa penelitian memperlihatkan adanya bukti yang mendukung tentang kadar vitamin D yang berperan untuk terjadinya komplikasi kehamilan. Sumber vitamin D berasal dari sintesis endogen (matahari) dan sintesis eksogen (makanan). Sinar ultraviolet dapat mengubah pre vitamin D menjadi  vitamin D3. Indonesia terletak didaerah tropis yang kaya akan sinar ultraviolet, tetapi masih banyak ibu hamil yang menderita preeklamsi, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah menganalis hubungan antara kadar vitamin D dengan kejadian preeklamsi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil yang di diagnosis preeklamsi dan di diagnosis hamil normal yang melakukan pemeriksaan di RSUD H.M. Rabain dan  empat puskesmas di wilayah kabupaten Muara Enim. Total sampel 76 orang yang terdiri dari 38 orang kelompok kasus dan 38 orang kelompok kontrol. Rancangan penelitian dengan metode analitik yang dilakukan secara cross sectional. Analisis hasil dengan uji korelasi Point Biserial. Hasil penelitian dengan uji korelasi Point Biserial menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan kejadian preeklamsi dengan nilai p  0,052. Simpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara kadar vitamin D dengan kejadian preeklamsi awitan dini. Kadar vitamin D berkaitan  dengan awitan lanjut pada kejadian preeklamsi yang merupakan bagian dari faktor maternal, disamping itu kejadian preeklamsi sampai saat ini dipengaruhi oleh etiopatogenesis yang kompleks.