Sambas Sabarnurdin
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Jl. Agro No 1, Bulaksumur, Sleman 55281

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGKLASTERAN EROSI DI SUB DAS NGRANCAH KULONROGO Kusumandari, Ambar; Marsono, Djoko; Sabarnurdin, Sambas; Gunawan, Totok
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 19, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Sub DAS Ngrancah yang merupakan daerah tangkapan air Waduk Sermo. Luas wilayah penelitian ini sekitar 2.200 ha. Mayoritas lahan di Sub DAS Ngrancah tergolong kritis yang ditunjukkan oleh tingginya tingkat erosi. Dengan demikian, wilayah ini sangat mendesak untuk dapat dikelola dengan benar agar degradasi lahan dapat dihambat. Untuk memprediksi erosi, diterapkan Model USLE, dengan rumus: A = RKLSCP. Wilayah studi dapat dipilahkan menjadi 77 unit lahan. Sampel tanah diambil dari seluruh unit lahan, demikian pula pengamatan lereng, vegetasi, dan penerapan konservasi tanah. Untuk menganalisis data digunakan analisis kluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat erosi bervariasi dari yang paling rendah sebesar 2,54 ton/ha/th sampai dengan yang tertinggi sebesar 489,30 ton/ha/th. Sekitar 68% wilayah studi termasuk dalam kelas erosi sedang dan sekitar 15% wilayah studi termasuk dalam kelas erosi tinggi. Pengklasteran unit lahan secara statistik menunjukkan bahwa pada jarak klaster terpendek terbentuk 8 klaster tingkat erosi. Uji diskriminan menunjukkan bahwa faktor K (erodibilitas) dan P (praktek konservasi tanah dan air) merupakan faktor yang paling dominan untuk terbentuknya klaster-klaster tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam merancang teknik konservasi tanah dan air untuk menangani erosi di Sub DAS Ngrancah.
PERHITUNGAN NILAI NISBAH HANTARAN SEDIMEN DENGAN MENGGUNAKANKURVA SEDIMEN DAN MODEL EROSI TANAH (Calculation of Sediment Delivery Ratio Using Sediment Rating Curve and Soil Erosion Model) Wahyuningrum, Nining; Sudira, Putu; Supriyo, Haryono; Sabarnurdin, Sambas
Jurnal Agritech Vol 34, No 02 (2014)
Publisher : Jurnal Agritech

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prolonged soil erosion and sedimentation have negative effect on land quality showing by decreasing land productivity, in addition, sedimentation process may cause decreasing function of hydrologic infrastructures. In watershed scale it is important to monitor both important processes. The relationship between the amount of onsite erosion and sedimentation at the watershed outlet is formulated in the Sediment Delivery Ratio (SDR). SDR is the ratio between the erosion that occurs in the entire basin with the amount of sediment in the outlet of a watershed. This study aimed tocalculate SDR value of two watersheds which have different topographic condition and land cover types composition. The study was conducted in two sub-watersheds namely Tapan and Ngunut I. Erosion calculation used USLE formulae while prediction of water discharge and sediment discharge utilized rating curve and sediment rating curve. The study shows that (1) SDR of Tapan is higher than SDR of Ngunut I, it indicates that there are others source of sediment beside sheet erosion which is transported to the outlet of watershed, (2) The value of SDR   fluctuate according to fluctuations in monthly rainfall and runoff, (3) SDR is less sensitive to land cover types rather than of topographic factor (slope, drainage density an watershed area).Keywords: Erosion, sedimentation, land cover, rating curve, sediment rating curve, SDR ABSTRAKProses erosi dan sedimentasi yang berkepanjangan dapat memberi pengaruh negatif terhadap kualitas lahan, selain itu proses sedimentasi juga dapat mengakibatkan menurunnya fungsi bangunan hindrologis. Dalam skala Daerah Aliran Sungai (DAS) kedua proses ini penting untuk dimonitor. Hubungan antara besarnya erosi ditempat dan sedimentasipada luaran DAS dirumuskan dalam bentuk nisbah hantaran sedimen (Sediment Delivery Ratio, SDR). SDR merupakan rasio antara erosi yang terjadi pada seluruh DAS dengan jumlah sedimen pada daerah outlet. Studi ini bertujuan menghitung besarnya nilai SDR pada dua DAS dengan kondisi topografi dan jenis penutupan lahan yang berbeda. Penelitian dilakukan di dua sub DAS Ngunut I dan Tapan. Perhitungan erosi dilakukan dengan metode USLE sedangkan perhitungan sedimen dengan menggunakan rating curve dan sediment rating curve. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) Diperoleh nilai SDR Sub DAS Tapan lebih tinggi (2,37) daripada nilai SDR Sub DAS Ngunut I (0,047). Hal ini mengindikasikan adanya sumber materi sedimen lain selain dari erosi lembar yang terbawa ke luaran DAS, (2) Nilai SDR berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi bulanan hujan dan limpasan, (3) Jenis penutupan lahan kurang berpengaruh terhadap SDR dibandingkan dengan topografi (kemiringan lahan, kerapatan aliran dan luas DAS).Kata kunci: Erosi, sedimentasi, penutupan lahan, rating curve, sediment rating curve, SDR
Tingkat Pendapatan Curahan Tenaga Kerja pada Hutan Rakyat di Kabupaten Ciamis Achmad, Budiman; Purwanto, Ris Hadi; Sabarnurdin, Sambas
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jik.10195

Abstract

Tenaga kerja pada usaha hutan rakyat belum diperhitungkan sebagai faktor produksi yang penting sehingga menyebabkan pendapatan dari hutan rakyat kurang optimal. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pendapatan dan alokasi tenaga kerja pada pengelolaan hutan rakyat serta hubungannya dengan karakter petani. Data dikumpulkan selama bulan Mei sampai Juli 2010 di Desa Ciomas, Desa Kalijaya, dan Desa Kertaharja melalui wawancara pada 60 petani yang dipilih secara sengaja. Data yang terkumpul kemudian dianalisa menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan rata-rata luas pemilikan hutan, usaha hutan rakyat menyumbangkan pendapatan pada petani di Desa Ciomas, Kalijaya, dan Kertaharja Kabupaten Ciamis berturut-turut sebesar Rp 6.641.783,-/th; Rp 8.029.358,-/th, dan Rp 6.302.431,-/th. Mayoritas tenaga kerja di Desa Kalijaya dan Desa Ciomas Kabupaten Ciamis dialokasikan untuk mengelola hutan rakyat yaitu sebesar 104,77 HKP/ha/th dan 216,93 HKP/ha/th, sedangkan alokasi tenaga kerja di Desa Kertaharja sebesar 210,05 HKP/ha/th. Potensi penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian di Kabupaten Ciamis tergolong tinggi, yakni lebih dari 75%. Dalam hubungannya dengan alokasi tenaga kerja, secara umum usia petani mempunyai korelasi positif sedangkan luas lahan mempunyai korelasi negatif.Kata kunci: potensi serapan, alokasi tenaga kerja, pendapatan, hari kerja pria (HKP), luas lahan. Incomes and labor allocation in community forests in Ciamis RegencyAbstractLabor for private forest business has not been considered as an important production factor, which it makes the incomes from the private forests is unfavourable. The research was carried out to find out the incomes and labor allocation on private forests management as well as their correlation to farmer characteristics. Data were collected during May to July 2010 at Ciomas, Kalijaya and Kertaharja villages by interviewing sixty purposively selected farmers. Data were analyzed by qualitative and quantitative description. The results revealed that on the basis of land width ownership, the business earned an income to the farmers in Ciomas, Kalijaya and Kertaharja villages of Ciamis district were 6,641,783 IDR/year; 8,029,358 IDR/year, and 6,302,431 IDR/year, respectively. The labors in Kalijaya and Ciomas villages of Ciamis district were mostly allocated to manage private forests i.e. 104.77 MDW/ha/year and 216.93 MDW/ha/year respectively as labors allocation in Kertaharja village were 210.05 MDW/ha/year. The potency of labor absorption level on agriculture sectors in Ciamis district defined as high, which was more than 75 percent. In relation to labor allocation, generally, ages of farmers had positive correlation while the land width had negative ones. 
Pola tanam dan pendapatan petani hutan rakyat di region atas Kabupaten Ciamis Achmad, Budiman; Purwanto,, Ris Hadi; Sabarnurdin, Sambas; Sumardi, Sumardi
Jurnal Kawistara Vol 6, No 3 (2016)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.23014

Abstract

This study aims to identify the forms of planting pattern developed by farmers in the upper region, business feasibility, the revenue contribution, and to provide some prospective choices of planting pattern that bring high revenue. The study was conducted in May until July 2010 in Ciomas Village, Panjalu District. Data was collected through interviews with using questionnaire, field observation and compilation of related documents. Respondents were selected purposively of twenty agroforestry farmers. The business feasibility was evaluated by using financial analysis, whereas to determine the revenue contribution from household was evaluated by calculating all of the income resources. The result is (1) the prospective planting pattern on land >1ha is planting pattern number 2 with IRR of 38.01 (wood + plantation + fruit + drugs + food), (2) on land between 0.5 to 1ha is planting pattern number 1 with IRR of 47.18 (wood + plantation + fruit + drugs), (3) on land <0.5 ha is planting pattern number 3 with IRR of 32.47 (wood + fruit + drug). The sequences of planting pattern which have the highest revenue to the smallest revenue contribution in a row are the planting pattern number 1 for 33.30%, number 3 for 28.09%, and number 2 for 25.22%. If all farmers in the upper region adopt planting patterns number 1, then the average revenue from private forest will increase to IDR 2,578,389 /ha to IDR 11,990,834 /ha.