Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS KARAKTERISTIK ARUS HARMONIKAKIBAT PASANG SURUT DI PERAIRAN TELUK AWUR KABUPATEN JEPARA Bonauli, Melissa; Helmi, Muhammad; S. Pranowo, Widodo
Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.533 KB)

Abstract

Teluk Awur di Kabupaten Jepara merupakan salah satu dari banyak teluk yang ada di Kabupaten Jepara. Kawasan ini menjadi penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Adanya perubahan fisis-oseanografi yang terjadi di daerah ini berdampak terhadap perubahan karakterisitik pantai, seperti arus dan pasang surut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik arus harmonik dan informasi dalam menunjang perencaan pengembangan pantai. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode deskriptif dan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 2 Maret 2015 – 5 Maret 2015. Data yang diolah berupa data arus dan data pasang surut. Arus laut diamati berdasarkan metode Eulerian menggunakan ADCP. Metode ini merupakan metode pengukuran arus stasioner menggunakan ADCP statis di satu titik. Sedangkan pengukuran pasut menggunakan data pasang surut BMKG. Hasil yang didapat dari penelitian ini ialah karakteristik arus harmonik dan pasang surut harmonik. Berdasarkan komponen di tiga kedalaman terukur serta kedalaman rata-rata didapatkan nilai formzahl yang  untuk mengelompokkan tipe pasang surut masing-masing. Di kedalaman 4,8 meter yaitu Cell 1 memiliki tipe pasang surut pasang surut campuran dominasi tunggal (mixed tide prevailing diurnal). Dikedalaman 2,4 meter yaitu Cell 2 dan di kedalaman 1,2 yaitu Cell 3 memiliki tipe pasang surut harian tunggal (Diurnal tide). Di kedalaman rata-rata memiliki tipe pasang surut campuran dominasi tunggal (mixed tide prevailing diurnal). Arah arus harmonik akibat pasang surut di Teluk Awur berdasarkan pola ellips di kedalaman rata-rata secara umum menunjukkan arah pergerakan arus Timur Laut-Barat Daya. Sedangkan secara lebih detail deskripsi per kedalaman : di kedalaman 1,2 meter (Cell 1) arus harmonik bergerak Timur laut-Barat Daya; di kedalaman 2,4 meter (Cell 2) arah arus harmonik bergerak ke arah Timur Laut-Barat Daya; sedangkan di dasar perairan di kedalaman 4,8 meter (Cell 3) arus harmonik mengalami perubahan arah yakni Utara-Selatan.
Kualitas perairan Natuna pada musim transisi Kusumaningtyas, Mariska Astrid; Bramawanto, Rikha; Daulat, August; S. Pranowo, Widodo
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 3, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.73 KB) | DOI: 10.13170/depik.3.1.1277

Abstract

Abstrak. Perairan Natuna, khususnya pada Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) I diprioritaskan untuk mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan, sehingga penting diketahui kualitasperairannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air berdasarkan parameter fisika maupun kimia sebagai basis data terkini mengenai kualitas perairan Natuna pada musim transisi. Penelitian dilakukan di 31 stasiun pada bulan November 2012. Parameter kualitas air yang diukur antara lain kecerahan, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut, suhu, salinitas, padatan tersuspensi total atau Total Suspended Solids (TSS) dan nutrien (nitrat, fosfat, silikat). Parameter pH, oksigen terlarut, suhu, dan salinitas diukur secara in-situ menggunaan alat water quality meter (TOA-DKK), kecerahan diukur menggunakan secchi disk, sedangkan sampel air di bawa ke laboratorium untuk dianalisis konsentrasi nutrien dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan nilai kisaran kecerahan yaitu 2-20,9 (m), pH 8,09-8,27, oksigen terlarut 6,34-7,96 (mg/l), suhu 29,2-30,6 (°C), salinitas 27,9-30,4 (PSU), TSS <3-26 (mg/l), nitrat 0,005-0,078 (mg/l), fosfat <0,005-0,015 (mg/l) dan silikat 0,045-0,704 (mg/l). Hasil penelitian dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi perairan Natuna masih tergolong baik untuk menunjang kehidupan biota laut.Kata kunci: Parameter kimia; Parameter fisika; Natuna; musim transisi
PEMANFAATAN ALGORITMA ZHU UNTUK ANALISIS KARBON LAUT DI TELUK BANTEN ., Ramawijaya; Yusuf Awaludin, Muhammad; S. Pranowo, Widodo; ., Rosidah
Jurnal Harpodon Borneo Vol 5, No 2 (2012): Volume 5 No 2 Oktober 2012
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.112 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v5i2.89

Abstract

Tantangan penting dalam bidang meteorologi laut dan perubahan iklim adalah bagaimana memprediksikan secara kuantitatif interaksi laut dan atmosfer dalam kaitannya dengan proses penyerapan (sink) / pelepasan (source) CO2 oleh laut yang dikontrol oleh proses kimia, fisika, dan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa penyerapan/pelepasan CO2 laut dengan pendekatan model melalui perhitungan tekanan parsial CO2 (pCO2) laut. Hasil algoritma menunjukkan sebagian besar stasiun pengamatan memberikan nilai positif dengan kisaran 0 – 5000 μatm dengan nilai bias yang tinggi pada stasiun bagian dalam teluk. Sementara itu hasil observasi SPL dan klorofil-a menunjukkan nilai ∆pCO2 bernilai negatif berkisar antara 0 s/d –20 μatm pada perairan luar teluk dan bernilai 0  s/d +420 μatm untuk bagian dalam teluk. Secara umum Perairan Teluk Banten berperan sebagai source sedangkan bagian luar teluk berperan sebagai sink CO2. Namun Algoritma Zhu ini tidak disarankan untuk digunakan di daerah perairan dalam teluk atau pesisir.  Kata Kunci : Teluk Banten, Algoritma Zhu, karbon laut, sink, source
DINAMIKA ARUS DALAM MENDUKUNG PERIKANAN BUDIDAYA LAUT DI TELUK BONE S. Pranowo, Widodo; D. Puspita, Candra; Bramawanto, Rikha; A. Adi, Rizky; Kusumawardani, Anastasia R. T. D.
Jurnal Harpodon Borneo Vol 7, No 2 (2014): Volume 7 No 2 Oktober 2014
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.698 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v7i2.119

Abstract

Ocean current condition which is hypothized support potential fisheries in Teluk Bone is interesting to be studied. This article presents the result of a simulation of the three-dimensional hydrodynamics modeling, in order to understand the current circulation in Teluk Bone. Snapshots of the modeling produce the phenomena that occur in Southeast Monsun period (August 1-10, 2004) in order to match with data verification available. Sea surface elevation at spring tide is  0.0492 – 2.4140 meters. The speed velocity of surface current at same condition in range of 0.5x10-3 – 12.25x10-3 m/sec, with dominant direction alongshore of the east coast and then headed North and West. Downwelling occurs somewhere in west coast and upwelling occurs somewher in east coast. The vertical upwelling velocity is in range of 0,5x10-3 - 3,5x10-3 m/sec, while vertical downwelling velocity is in range of 0,5x10-3 - 4,6x10-3 m/sec. In this monsoon period, the velocity of surface current support of the marine aquaculture activities, since the range is still follow to UNDP/FAO standard values of  <100 cm/sec. The low vertical velocity of upwelling and downwelling keeps nutrients in a low mixing condition, then those can be stable utilized by phytoplankton. Palopo, Suli and Muranti are the coastal city location nearby  that upwelling and downwelling occurs and sea surface current velocity in good suitability for seaweed cultivation, fish farming on “keramba” floating cages/nets and some oyster pearl cultivation. Keywords : current pattern, hydrodynamics modeling, Teluk Bone, marine aquaculture
APLIKASI MODEL NUMERIK KARAKTERISTIK GELOMBANG UNTUK KAJIAN KESESUAIAN LAHAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT DI SITUBONDO, JAWA TIMUR Risandi, Johan; L. Sagala, Sophia; S. Pranowo, Widodo
Jurnal Kelautan Nasional Vol 10, No 1 (2015): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v10i1.11

Abstract

Model numerik XBeach telah digunakan untuk mensimulasikan penjalaran gelombang laut di perairan Klatakan, Situbondo, Jawa Timur dan hasilnya dipakai untuk analisis kesesuaian lahan budidaya dengan Keramba Jaring Apung (KJA). Data yang digunakan untuk pemodelan ini adalah data batimetri yang diperoleh dari pengukuran langsung, serta gelombang dan angin dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dan National Centers for Environmental Prediction-National Oceanic and Atmospheric Administration (NCEP-NOAA) Amerika Serikat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi gelombang signifikan perairan Situbondo adalah 0,3 m dengan periode gelombang 4,1 detik dominan dari arah timur sedangkan angin dominan datang dari arah barat laut. Pembudidaya perlu mewaspadai kemungkinan gelombang dengan tinggi mencapai 1,5 m dan angin kuat dengan kecepatan lebih dari 16 m/detik yang terjadi pada awal dan pertengahan tahun. Validasi model dengan perhitungan analitik mengindikasikan XBeach telah melakukan over-estimasi perhitungan tinggi gelombang pada daerah studi dengan kesalahan relatif rata-rata sebesar 16,22% yang diduga disebabkan oleh perbedaan pendekatan pada kedalaman dimana proses shoaling terjadi. Klasifikasi kesesuaian lahan menunjukkan adanya sebaran daerah sangat sesuai hingga tidak sesuai untuk budidaya dengan KJA pada perairan tersebut. Hasil tersebut diverifikasi dengan citra Ikonos melalui Google Earth, dimana terlihat bahwa KJA para pembudidaya terletak di perairan yang dikategorikan sangat sesuai untuk lahan budidaya dengan tinggi gelombang di area tersebut kurang dari 0.6 meter. [Title : THE APPLICATION OF WAVE CHARACTERISTIC NUMERICAL MODEL FOR SITE SELECTION OF MARINE AQUACULTURE DEVELOPMENT IN SITUBONDO, EAST JAVA ] Xbeach numerical model has been used to simulate wave propagation in Klatakan – Situbondo, East Java and the results were used to analyze the site suitability for mariculture using Floating Net Cage (FNC). Parameters used in the model were bathymetric which was obtained from direct measurement, as well as wave and wind data which were obtained from, Indonesian Agency for Meteorology, Climatology and Geophysics, and National Centers for Environmental Prediction-National Oceanic and Atmospheric Administration, respectively. The results showed that a significant wave height recorded in the study area was 0.3 m with wave period of 4.1 s, propagating dominantly from East direction. On the other hand, the wind dominantly moved from north to west direction. The farmers, therefore, need to increase their awareness toward possible high waves of 1.5 m and winds of more than 16 m/s occurred in the beginning and middle of the year. Model validation using analytical approach indicated XBeach has overestimated wave height calculation on the study area with mean relative error of 16,22% due to different approach in depth at which shoaling process occurred. The site classification analysis showed the area distribution for FNC installation varied from unsuitable to very suitable.The result is verified using Ikonos satellite imagery trough Google Earth. It shows that those FNC are located inside the area which is categorized as very feasible for mariculture with the wave height is less than 0.6 m. 
PENDUGAAN LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN TELUK BENOA - BALI BERDASARKAN CITRA SATELIT Tanto, Try Al; Putra, Aprizon; Kusumah, Gunardi; Farhan, A. Riza; S. Pranowo, Widodo; Husrin, Semeidi; ., Ilham
Jurnal Kelautan Nasional Vol 12, No 3 (2017): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v12i3.4212

Abstract

Perairan Teluk Benoa Bali memiliki 6 sungai (tukad) yang bermuara pada perairannya. Tukad Mati dan Tukad Badung adalah 2 sungai terbesar pemberi pasokan sedimen. Pembangunan reklamasi di pelabuhan Benoa dan pembangunan Jalan Tol melintasi Teluk Benoa diduga meningkatkan sedimentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kejadian sedimentasi di perairan Teluk Benoa, dan memperoleh kisaran sedimentasi secara spasial yang terjadi dalam rentang 9 tahun terakhir. Analisis pendugaan sedimentasi dilakukan secara spasial berupa sebaran pengendapan sedimentasi di dasar perairan dengan menggunakan citra satelit Spot – 6 dan Landsat 7. Hasil yang diperoleh adalah luasan sedimentasi pada tahun 1997 sebesar 1640,78 ha mengalami penurunan luasan menjadi 1480,57 ha (tahun 2006) dengan laju perubahan sebesar positif -160,21 ha (-20,03 ha/tahun). Namun, luasan sedimentasi kembali bertambah menjadi 1531,93 ha pada tahun 2012 (laju perubahan negatif +8,56 ha/tahun), bahkan menjadi 1966,14 ha pada tahun 2015 (laju perubahan negatif +144,74 ha/tahun).