Articles

Found 15 Documents
Search

ANALISIS KANDUNGAN KALSIUM (Ca) DAN BESI (Fe) PADA KEPITING BAKAU (Scylla olivacea) CANGKANG KERAS DAN CANGKANG LUNAK DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

MAJALAH FARMASI DAN FARMAKOLOGI Vol 17, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.46 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian analisis kandungan kalsium dan besi pada kepiting bakau (Scylla olivacea) cangkang keras dan cangkang lunak secara spektrofotometri serapan atom. Penelitian ini dilakukan dengan cara destruksi kering pada kepiting bakau, hasil destruksi dilarutkan dengan asam. Dari kedua sampel yang di uji keduanya mengandung kalsium dan besi. Analisis kimia menggunakan metode spektrofotometrik serapan atom pada panjang gelombang 422,7 nm untuk analisis kalsium dan panjang gelombang 248,3 nm untuk analisis besi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kandungan kalsium kepiting bakau (Scylla olivacea) untuk cangkang keras 10,75 gram/100 gram, untuk cangkang lunak 29,14 gram/100gram. Sedangkan untuk kandungan besi pada kepiting bakau cangkang keras 1,875 gram/100 gram, dan cangkang lunak 2,15 gram/100 gram.

PENDIDIKAN KARAKTER PADA PSIKOLINGUISTIK BAHASA ARAB

Al-Ulum Vol 13, No 1 (2013): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.342 KB)

Abstract

Tulisan ini akan membahas tentang dimensi psikolinguistik bahasa Arab yang berorientasi pendidikan karakter. Saat pendidikan mengalami berbagai kendala prinsip dalam memanusiakan manusia menuju perubahan yang lebih baik sebagai orientasi dasar pendidikan, pendidikan karakter bangsa muncul dengan menawarkan empat pilar pengembangan yang meliputi olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga sebagai menifestasi dari nilai luhur pancasila. Dalam dimensi psikolinguistik, pembelajaran bahasa Arab yang cenderung dianggap sebagai suatu aktivitas yang mengikis nasionalisme akan kecintaan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bisa menjadi proses yang semakin memperkokoh nasionalisme tersebut dengan melakukan integrasi keempat pilar pendidikan karakter bangsa tersebut dalam kegiatan pembelajaran bahasa Arab. -------------------------------This article is going to discuss about psycholinguistics point of view in the Arabic language which is oriented to character education. When education meets some principles obstacle in putting human be a human to be better as basic orientation of education, national character education emerges with four pillar of development whichare included heart cultivation, thought cultivation, sense cultivation, and physical cultivation as the manifestation of Pancasila moral values. In psycholinguistic point of view, Arabic language lesson tends to be considered as an activity which erodes nationalism in using Indonesia language as united language. However, Arabic language can be a process to strengthen the nationalism by integrating the four pillar of national character education in learning Arabic language.

AVERROISME DAN KRITIK TERHADAP AL-GHAZALI: KHAZANAH PEMIKIRAN IBN RUSYD

Tajdid Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Tajdid

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibn Rusyd adalah seorang filosof Islam yang mengemukakan pemikiran tentang kesejalanan antara wahyu dan akal atau agama dan ilmu pengetahuan. Bila terjadi ketidaksejalanan antara agama dan ilmu pengetahuan maka agama harus diberi penafsiran sehingga keduanya tidak bertentangan. Ide besar Ibn Rusyd ini dikenal sebagai faham Averroisme. Berdasarkan faham Averroisme ini Ibn Rusyd berpendapat bahwa filsafat yang berpijak pada argumen-argumen akal di samping wahyu, harus dikembangkan supaya dapat mengiringi ilmu pengetahuan untuk mencapai kemajuan. Karena itu, kemudian Ibn Rusyd mengeritik kembali al-Ghazali yang menganggap haram filsafat dan mengafirkan para filosof. Kata Kunci: Averroisme, Tahâfut al-Falâsifah, al-Ghazali.

The Commodification of Religion in the Maqāṣid Al-Shariah Perspective

Mazahib Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Samarinda

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.938 KB)

Abstract

This article discusses the problem of the commodification of religion in Islam, namely looking at the perspective of Islamic law on a process that directs the symbols and religious expressions of Muslims in the framework of market-based power as a commodity or business object. The theory used is the Maqashid ash-Shariah theory, to find out whether or not the objectives of sharia law are maintained in the religious practices which intersect with the economic dimension. This becomes relevant because for a Muslim the conformity with the objectives of sharia is the materialization of maslahah which is the wisdom of establishing a law in Islam. It employs a normative approach in the perspective of Maqashid jurisprudence. The results of this study indicate that in the Islamic context, there are several things that reveal the symptoms of religious commodification which are packaged in various forms of industry. Some types of industry still exist which are built with economic rationality to seek mere worldly benefits and ignore the principles of benefit. For this type of business practice, the government with its various instruments or institutions must continue to carry out sharia-compliant supervision. Meanwhile for the sharia-based business practices or industries, there is no legal issue in complying with sharia objectives there.KeywordsCommodification of religion, Maqasid al-Sharia, Islamic law, religion with economic dimensions AbstrakTulisan ini membahas masalah komodifikasi agama dalam Islam, yaitu melihat perspektif hukum Islam terhadap suatu proses yang mengarahkan simbol-simbol dan ekspresi keberagamaan Umat Muslim dalam kerangka market-based power sebagai komoditas atau objek bisnis. Teori yang digunakan adalah teori Maqashid  asy-Syariáh, untuk mengetahui tetap terjaga atau tidak-nya maksud atau tujuan penetapan hukum syariah dalam praktek-praktek agama dalam dimensi ekonomi tersebut. Hal ini menjadi relevan karena bagi seorang muslim kesesuaian dengan tujuan syariah yaitu tercapainya maslahah yang merupakan hikmah ditetapkannya suatu hukum dalam Islam merupakan hal yang sangat prinsip. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif dalam perspektif fiqih Maqashid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks Islam, terdapat beberapa hal yang menampakkan adanya gejala komodivikasi agama yang dikemas dalam berbagai bentuk Industri. Beberapa jenis industri masih ada yang dibangun dengan rasionalitas Ekonomi untuk mencari keuntungan duniawi semata dan mengabaikan prinsip-prinsip kemaslahatan. Untuk praktek tersebut, pemerintah dengan berbagai instrumen atau lembaga yang dimilikinya harus terus melakukan pengawasan. Sedangkan untuk berbagai industri dan praktek bisnis yang berbasis syariah dan mengedepankan maslahah− yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional−maka tidak ada persoalan hukum secara syariah.Kata kunciKomodifikasi agama, Maqasid al-Syariah, Hukum Islam, Agama dalam dimensi ekonomi

KEMAJUAN SPANYOL ISLAM DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENAISSANS DI EROPA

Tajdid Vol 12, No 1 (2013)
Publisher : Tajdid

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejayaan Islam di Spanyol pernah menciptakan sebuah Spanyol Islam yang maju dalam banyak segi peradaban. Kekuasaan Islam di Spanyol berhasil mengembangkan toleransi beragama, membangun universitas, mendorong pengembangan ilmu pengetahuan. Setelah itu, Spanyol mengalami kemajuan dalam bidang pemikiran dan ilmu pengetahuan: filsafat, kedokteran, matematika, kimia, dan fisika. Rakyat mengalami kemakmuran. Ketika Spanyol Islam maju, banyak pelajar dan mahasiswa yang berdatangan dari Eropa untuk menimba ilmu. Setelah belajar dan pulang ke Eropa, mereka mengembangkan ilmu yang diperolehnya di Eropa. Lalu rasionalitas keilmuan di Eropa berkembang dan mendorong kaum pemikir dan intelektualnya untuk mengadakan penelitan dan pengembangan ilmu. Akhirnya muncul ranaissan di Eropa. Artikel ini hendak mendeskripsikan sejarah awal perkembangan Islam di Spanyol.

Unsur Muannats Gramatika Bahasa Arab dan Implikasinya Pada Proses Komunikasi Verbal: Perspektif Psikolinguistik

An - Nisa` Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : PSW

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1274.049 KB)

Abstract

Abstraksi: Bahasa Arab adalah bahasa yang telah dipilih Tuhan untuk membawa nilai-nilai mulia dari al-Quran untuk memacu kualitas hidup manusia termasuk emansipasi perempuan. Unsur muannats dalam gramatika bahasa Arab adalah hal yang bisa berimplikasi positif ataupun negatif pada komunikasi verbal di antara manusia dalam perspektif psikolinguistik. Oleh karena itu, implikasi positif harus dimaksimalkan dan impilikasi negatif harus diminimalisir. Bahasa, termasuk bahasa Arab, sangat dinamis yang dikembangkan berdasarkan kesepakatan masyarakat yang tentunya sangat memungkinkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat tentunya.

Emansipasi Wanita, Konsep Mitra Sejajar dan Pendidikan Islam

An - Nisa` Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : PSW

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495.617 KB)

Abstract

Abstraksi: Proses perjalanan kaum perempuan telah melawati rentang waktu dan peradab-an yang silih berganti dari pra sejarah hingga era sejarah. Eminsipasi wanita sudah berjalan selama barabad-abad, recordnya dapat dilihat sejak Rasulullah Saw dalam perspektif agama Islam. Namun, di Barat proses tersebut baru dimulai pada awal abad 20, dimana banyak teori emansipasi lahir. Hal ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan dan ketidakadilan. Tuntutan emansipasi bukan hanya pada satu aspek tetapi semua aspek kehidupan..Diantaranya adalah aspek pendidikan yang dinggap sebagai garda terdepan yang dapat memposisikan wanita sejajar dengan pria. Makalah ini akan membahas konsep emansipasi wanita dalam sudut pandang Barat dan Islam.

Pembacaan Teks Nashr Hamid Abu Zaid Atas Relasi Laki-Laki dan Perempuan

Muadalah Vol 3, No 2 (2015): Perempuan Banjar
Publisher : IAIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper seeks to understand how the reading of text made by Nasr Hamid Abu Zayd, especially the problem of relationships between men and women. His work which in directly related to womens problems is Dawâir al-Khauf. In the book, Abu Zaid had admitted that he wanted to do ijtihâd solving the women problems. For him the fundamental problem in Islam is text. According to him, alquran as a text when revealed has made dialogue with social and cultural around it, especially the Arab community in which the quran was first revealed. The reading of quran, then, necessitates not only ‘ulûm al-qur’an but also humanities sciences such as semiotics and hermeneutics which could help us to reconstruct the intrinsic values of the quran. On this method, Abu Zaid has suggested “productive interpretation”, qira’ah muntijah, in reading alquran. Furthermore, it has been found that alquran is actually very humanizing women, where it is contradictory to the reality and the reading of Islamic texts today.

Communicative Arabic and Structure of Its Philosophical Teaching

Langkawi: Journal of The Association for Arabic and English Vol. 4 No. 1 2018
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.075 KB)

Abstract

This article orients to expose the philosophical frame of communicative Arabic teaching. Communicative Arabic teaching has a strong philosophical framework because this modern teaching approach directs the Arabic language to its original position as a tool to communicate. In this context, the ontology dealing with the essence of Arabic teaching as a pedagogical reality, the epistemology dealing with its procedural framework and the ontology dealing with its value framework see that communicative Arabic teaching should be developed with a suitable educational philosophy reinforcing the Arabic to its functional-communicative framework. This article, finally, presents an alternative analysis to perceive communicative Arabic teaching.

MAKNA KISAH NUH AS DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF HERMENEUTIKA FILOSOFIS)

Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The writing discusses story of Noah (peace be upon him) in the Quran. The story will be approached by philosophical hermeneutics is conceived by Heiddegger and Gadamar. The main questions of the article are why and how the meaning of the story for Arabic people especially and for Moslem (human kind) generally. Finally, the result shows that Prophet Nuh is one of important ancestors for Arabic people and those people had listened and seen some historical events related to this prophet and his people. Moreover, the story teachs human being to surrender to Allah as it will lead them to appreciate all creations in this universe.