- Ruswahyuni
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

KELIMPAHAN JENIS TERIPANG (Holothuroidea) DI RATAAN TERUMBU KARANG DAN LERENG TERUMBU KARANG PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Fadli, Muhamad; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.707 KB)

Abstract

Kepulauan Karimun Jawa Jepara Jawa Tengah sangat terkenal akan kekayaan sumberdaya alam yang ada di dalam laut. Jenis-jenis biota yang beragam hidup di dalamnya.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan teripang pada lokasi rataan terumbu karang dan lereng terumbu karang serta mengetahui hubungan antara kelimpahan teripang dengan penutupan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah metode line transek.Hasil penelitian didapatkan prosentase penutupan karang hidup pada rataan terumbu karang 65,69 % dan pada lereng 69,26 %. Kelimpahan individu teripang pada daerah rataan terumbu karang 37 ind/ 300 m2 dan pada lereng terumbu karang 11 ind/ 300 m2. Berdasarkan hasil Uji Test “T” di dapatkan kelimpahan jenis teripang yang paling banyak adalah pada stasiun A rataan terumbu karang.
ANALISIS PERBEDAAN MORFOLOGI DAN KELIMPAHAN KARANG PADA DAERAH RATAAN TERUMBU (Reef Flate) DENGAN DAERAH TUBIR (Reef Slope) DI PULAU PANJANG, JEPARA Septyadi, Kiai Agoes; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.979 KB)

Abstract

Pulau Panjang merupakan kawasan wisata di Jepara yang memiliki potensi salah satunya adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang mempunyai fungsi ekologis yaitu sebagai habitat untuk berkembang biak, mencari makan dan berlindung bagi biota lain. Terumbu karang juga mempunyai fungsi melindungi pantai dari hempasan ombak dan arus laut. Selain itu keindahan alam laut dan terumbu karang sendiri dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai daerah pariwisata bahari.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan morfologi karang pada zona rataan (reef flat) dengan terumbu karang daerah tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, Jepara. Dan mengetahui kelimpahan terumbu karang pada zona rataan (reef flat) dan terumbu karang pada zona tubir (reef slope) di perairan pulau Panjang, jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Dimana metode yang digunakan tergolong dalam metode survei yang bersifat deskriptif. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah Line Intercept Transect (LIT). Penelitian dilakukan pada dua lokasi yaitu daerah rataan terumbu dan daerah tubir. Panjang line transek adalah 10 m, di letakkan sejajar garis pantai, transek yang digunakan di daerah rataan terumbu sebanyak 3 line dan daerah tubir sebanyak 3 line. Jarak antara line dimasing-masing lokasi sampling 5 m.Hasil penelitian jenis karang yang ditemukan di rataan terumbu dan tubir yaitu  adalah jenis Porites sp., Acropora sp., Echinopora sp., Turbinaria sp., Goniastrea sp., Pavona  sp., Favites sp., Leptoseries sp., Pectinia sp., dan Goniopora sp. Prosentase penutupan karang hidup tertinggi di rataan terumbu yaitu jenis Porites sp. 26,73% , Goniastrea sp. 4,10% dan Acropora sp 3,67%. Sedangkan presentase penutupan karang hidup tertinggi di tubir yaitu jenis Porites  sp. 35,67%, Echinopora sp. 6,50% dan Acropora sp. 6,33%. Nilai prosentase penutupan karang hidup di daerah rataan terumbu sebesar 36,40% yang termasuk dalam kategori sedang. Sedangkan nilai prosentase penutupan karang hidup di tubir sebesar 65,50% termasuk kategori baik. Pada rataan terdapat jenis morfologi Acropora yaitu  jenis Acropora Branching (ACB) sebesar 3,67%, sedangkan pada tubir  sebesar 6,33%. Jenis morfologi yaitu jenis Acropora terdapat satu jenis yaitu Acropora Branching (ACB), Baik daerah rataan dan tubir.  Sedangkan untuk non Acropora yang paling banyak adalah jenis Coral Encrusting (CE) baik pada rataan dan tubir.
HUBUNGAN KELIMPAHAN MEIOFAUNA PADA KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG, JEPARA Assy, Dwi; Widyorini, Niniek; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.278 KB)

Abstract

Lamun merupakan salah satu sumberdaya laut yang sangat potensial dan dapat dimanfaatkan. Organisme benthos seperti meiofauna menepati posisi yang sangat penting dalam proses biodegradasi di ekosistem pantai. Meiofauna bersifat relatif menetap pada dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan meiofauna pada kerapatan lamun yang berbeda di Pantai Pulau Panjang, Jepara dan mengetahui hubungan antara kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan meiofauna. Metode pengambilan sampel dan pengamatan meiofauna adalah sampel diambil 7 titik dari setiap stasiun, pengambilan sampel meiofauna dengan menggunakan pralon 20 cm, sampel kemudian disaring dengan menggunakan saringan sampel 0,5 mm dan diberi formalin sebanyak 4% ,larutan rose bengale™ dan larutan ludox. Jenis lamun yang ditemukan di lokasi penelitian ini didapatkan 5 genera lamun yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhalus sp, Syringodium sp dan Halodule sp. Jumlah spesies individu meiofauna pada stasiun A yaitu 34.666 individu/m3 dari 22 spesies, pada stasiun B yaitu 42.666 individu/m3 dari 22 spesies dan pada stasiun C yaitu 54.000 individu/m3 dari 22 spesies. Uji korelasi pearson didapatkan nilai sebesar 0,565 ( ≥ 0,05 ) dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara meiofauna dengan kerapatan lamun yang berbeda di Pulau Panjang Jepara. Nilai korelasi antara meiofauna dengan kerapatan lamun sebesar -0,632, hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan yang erat antara meiofauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang, Jepara.
KELIMPAHAN NUDIBRANCHIA PADA KARANG BERCABANG DAN KARANG BATU DI PANTAI PANCURAN BELAKANG PULAU KARIMUNJAWA JEPARA Kusuma, Rizky Chandra; Ruswahyuni, -; Subiyanto, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.153 KB)

Abstract

Nudibranchia adalah salah satu Moluska tidak bercangkang yang seringkali berwarna terang dan mencolok. Nudibranchia memanfaatkan karang sebagai feeding ground dan spawning ground, tanpa mengganggu kehidupan karang. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kelimpahan dan perbedaan Nudibranchia yang terdapat pada daerah karang bercabang dan karang batu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013 di Pantai Pancuran Belakang, Pulau Karimunjawa. Metode yang digunakan dalam pengambilan data menggunakan metode line transek sepanjang 50 meter sejajar garis pantai dan kuadran transek dengan ukuran 2 x 2 meter. Hasil penelitian didapatkan Penutupan substrat perairan dimasing-masing lokasi paling banyak tertutupi oleh karang hidup yaitu pada daerah karang bercabang 64,48% dengan jumlah Nudibranchia sebanyak 38 ind/300m2. Pada daerah karang batu sebesar 75,87% dengan jumlah Nudibranchia 50 ind/300m2. Terdapat 5 jenis Nudibranchia di lokasi penelitian yaitu Chromodoris lineolata, Phyllidia varicosa, Phyllidiella nigra, Thuridilla lineolata dan Thuridilla sp. Pada Uji Independent T-Test, rata-rata kelimpahan Nudibranchia pada karang bercabang dan batu adalah sama. Hal ini membuktikan bahwa kelimpahan Nudibranchia sangat dipengaruhi oleh adanya terumbu karang dan tidak berbeda antara karang bercabang (branching) dan karang batu (massive).
KELIMPAHAN JENIS BULU BABI (ECHINOIDEA, LESKE 1778) DI RATAAN DAN TUBIR TERUMBU KARANG DI PERAIRAN SI JAGO – JAGO, TAPANULI TENGAH Mustaqim, Muhammad Mirza; Ruswahyuni, -; Suryanti, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.583 KB)

Abstract

Penelitian tentang kelimpahan ikan, moluska dan bentos pada daerah terumbu karang sudah banyak dilakukan, tetapi dalam kenyataannya belum banyak yang meneliti tentang kelimpahan bulu babi di daerah terumbu karang. Adapun daerah rataan terumbu karang dan tubir terumbu karang adalah sebagai habitat atau tempat hidup dari bulu babi, maka dimungkikan kelimpahan bulu babi pada kedua lokasi tersebut. Aktivitas di perairan Si Jago – Jago baik berupa penangkapan ikan maupun pariwisata diduga telah mempengaruhi keseimbangan ekosistem terumbu karang dan organisme yang berasosiasi di dalamnya khususnya bulu babi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan jenis bulu babi (Echinoidea) pada daerah rataan terumbu karang dan tubir terumbu karang di Perairan Si Jago – Jago, Tapanuli Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012. Metode pengambilan data persentase penutupan terumbu karang menggunakan metode line transek berukuran 30 meter, sedangkan pengambilan data kelimpahan bulu babi (Echinoidea) menggunakan metode kuadran transek berukuran 5 x 5 meter. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu bahwa nilai persentase penutupan karang hidup pada daerah rataan terumbu karang sebesar 45,51 %. Sedangkan nilai persentase penutupan karang hidup pada daerah tubir terumbu karang sebesar 46,2 %. Nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Pada daerah rataan terumbu karang didapatkan kelimpahan individu bulu babi sebanyak 298 individu/ 450 meter2, sedangkan kelimpahan individu bulu babi pada daerah tubir terumbu karang sebanyak 122 individu/ 450 meter2. Jenis bulu babi yang ditemukan pada lokasi penelitian yaitu Diadema antilarum, Diadema setosum, dan Echinotrix calamaris. Kelimpahan jenis bulu babi yang paling banyak ditemukan pada daerah rataaan dan tubir adalah jenis Diadema antilarum.  Berdasarkan hasil Uji “T” test dapat disimpulkan bahwa kelimpahan jenis bulu babi yang paling tinggi adalah pada daerah rataan terumbu karang. Hal tersebut didapatkan dari nilai signifikasi yaitu 0,043, yang kurang dari < 0,05 sehingga terima H1 tolak H0, bahwa ada perbedaan kelimpahan bulu babi pada daearah rataan dan tubir terumbu karang.
PENGARUH LAJU SEDIMENTASI DENGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DI PERAIRAN BANDENGAN JEPARA Albert, Maruli; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.045 KB)

Abstract

Perairan Pantai Bandengan Jepara terletak di daerah utara Pulau Jawa. Jenis biota yang ada beragam dengan populasi masing-masing jenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan rumput laut, nilai laju sedimentasi pada daerah rumput laut serta mengetahui hubungan perbedaan kerapatan rumput laut dengan laju sedimentasi di perairan bandengan Jepara. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunitas rumput laut yang dibagi menjadi 3 pengambilan,  pengambilan dilakukan secara tegak lurus ke arah laut dan penghitungan laju sedimentasi dengan menggunakan sedimen trap yang di pasang pada lokasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey. Metode penentuan kerapatan rumput laut dilakukan dengan frame kuadran ukuran 1x1 m dengan cara menghitung jumlah tegakan rumput laut dalam setiap meter persegi sepanjang 100 m. Kerapatan rumput laut di perairan Bandengan Jepara di dapat 431 individu/300m2 yang terdapat 9 jenis dari 2 filum yaitu  Filum Chlorophyta : Halimeda opuntia sebanyak 157 individu/300m2 , Halimeda descoides sebanyak 58 individu/300m2, Halimeda makroloba sebanyak 74 individu/300m2,filum Phaeophyta : Chordoria flagelliformis sebanyak 31 individu/300m2, Padina crassa sebanyak 83 individu/300m2, Sargassum yendoi sebanyak 15 individu/300m2, Sargassum piluliferum sebanyak 3 individu/300m2, Sargassum confusum sebanyak 5 individu/300m2, dan Sargassum duplicatum sebanyak 5 individu/300m2. Hasil penghitungan laju sedimentasi diketahui rata-rata laju sedimentasi pada lokasi penelitian adalah 0,85 mg/cm3/hari. Nilai korelasi antara laju sedimentasi dengan kerapatan rumput laut sebesar 0,85, hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang erat antara laju sedimentasi dengan kerapatan rumput laut di perairan Bandengan, Jepara.
STUDI HUBUNGAN SUBSTRAT DASAR DAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK DALAM SEDIMEN DENGAN KELIMPAHAN HEWAN MAKROBENTHOS DI MUARA SUNGAI SAYUNG KABUPATEN DEMAK Taqwa, Rella Nur; Muskananfola, Max Rudolf; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.93 KB)

Abstract

Muara sungai Sayung merupakan daerah yang telah mengalami perubahan kondisi ekologi perairan yang disebabkan karena pengaruh pasang tertinggi (rob). Daerah tersebut telah berubah menjadi daerah tergenang dan banyak didominasi oleh substrat berlumpur. Substrat lumpur kaya akan bahan organik dan akan menjadi cadangan makanan bagi hewan makrobenthos yang hidup di muara sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen dengan kelimpahan hewan makrobenthos, dan untuk mengetahui kondisi lingkungan Muara Sungai Sayung berdasarkan nilai keanekaragaman dan keseragaman hewan makrobenthos. Penelitian ini berdasarkan studi kasus dan menggunakan metode purposive sampling untuk pengambilan sampel. Hasil penelitian dari ketiga stasiun di Muara Sungai Sayung didapatkan kelimpahan hewan makrobenthos berkisar antara 363 – 4829 ind/m3. Hewan makrobenthos yang didapatkan selama penelitian terdiri dari 3 kelas yaitu Polychaeta, Gastropoda, dan Bivalvia. Hasil penelitian pada stasiun I nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,63, indeks keseragaman sebesar 0,57, Stasiun II nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,13, indeks keseragaman sebesar 0,19, dan Stasiun III diperoleh nilai indeks keanekaragaman sebesar 1,79 dan indeks keseragaman sebesar 0,78. Nilai keanekaragaman tergolong dalam kategori rendah sampai sedang yang menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sudah tidak layak untuk kehidupan hewan makrobenthos di dalamnya dan nilai keseragaman termasuk dalam kategori kecil sampai tinggi yang menunjukkan bahwa komposisi jenis hewan makrobenthos tidak sama dan kondisi ekosistemnya tidak stabil sehingga rawan akan terjadinya penurunan pada fungsi ekosistemnya. Berdasarkan nilai uji regresi sederhana dan uji regresi berganda dimana nilai koefisien korelasi berkisar 0,9 < r ≤ 1,0 menunjukkan bahwa kelimpahan hewan makrobenthos memiliki hubungan yang sangat kuat dan memiliki korelasi yang sangat nyata dengan jenis substrat dasar dan kandungan bahan organik dalam sedimen.
HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT DENGAN SUBSTRAT DASAR BERBEDA DI PERAIRAN PANTAI BANDENGAN, JEPARA Ain, Nur; Ruswahyuni, -; Widyorini, Niniek
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.926 KB)

Abstract

Pantai Bandengan adalah salah satu pantai pesisir utara Jawa yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Kabupaten Jepara memiliki potensi sumberdaya pesisir yang besar ditinjau dari keberadaan garis pantainya lebih dari 72 Km. Pantai Bandengan ini juga sebagai habitat rumput lautyang merupakan tumbuhan laut dasar perairan (fitobentos), makroalga, dan termasuk Thallophyta. Rumput laut tergolong tanaman yang hidupnya melekat pada substrat, seperti karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnya atau bahkan melekat pada tumbuhan lain secara epifitik.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kerapatan rumput laut dengan substrat dasar berbeda di perairan Pantai Bandengan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif menggunakan line transek sepanjang 100 meter dan kuadran transek 1x1 meter dengan tiga kali pengambilan. Setiap kuadran transek dilakukan pengukuran parameter fisika dan kimia meliputi kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu air, dan pH (untuk mendukung hasil data sampling).Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah sembilan jenis rumput laut yaitu Halimeda opuntia; Halimeda descoides; Halimeda macroloba; Chordoria flagelliformis; Padina crassa; Sargassum yendoi; Sargassum piluliferum; Sargassum confusum; dan Sargassum duplicatum. Kerapatan tertinggi ditemukan pada Halimeda opuntia (18,19%) atau total 103 individu dengan penutupan substrat (12,54 m2, terbanyak pada substrat pecahan karang). Sedangkan penutupan tertinggi terdapat pada jenis Sargassum duplicatum yaitu 15 m2. Berdasarkan hasil analisa data Chi Kuadrat didapatkan nilai X2 hitung sebesar 72,00 dan nilai X2 tabel sebesar 21,026. Hal tersebut dapat dinyatakan ada hubungan kerapatan rumput laut terhadap substrat dasar karena X2 hitung ≥  X2 tabel yang menyatakan terima H1 tolak H0.
HUBUNGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA TINGKAT KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PANTAI PULAU PANJANG, JEPARA Herfina, -; Ruswahyuni, -; Sulardiono, Bambang
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.314 KB)

Abstract

Pulau panjang merupakan salah satu wilayah di perairan Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragamanan ekosistem perairan, antara lain adalah ekosistem lamun yang merupakan tempat hidup bagi biota-biota perairan yang salah satunya adalah epifauna. Secara ekologi, padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir yang salah satunya yaitu berfungsi menstabilkan dasar-dasar lunak di mana kebanyakan spesies tumbuh, terutama dengan sistem akar yang padat dan saling menyilang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda dan mengetahui hubungan kelimpahan epifauna yang berasosiasi pada kerapatan lamun yang berbeda diperairan pantai pulau panjang jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2012, di perairan pantai Pulau Panjang, Kabupaten Jepara.  Metoda sampling yang digunakan adalah metoda pemetaan sebaran lamun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang bersifat deskriptif. Tingkat kerapatan lamun dibagi menjadi 3 stasiun dengan kerapatan yang berbeda yaitu kerapatan jarang, kerapatan sedang dan kerapatan padat, dengan luasan yang sama (5 m x 5 m). Pengambilan sampel epifauna dilakukan pada 9 titik sampling dengan cara pengambilan permukaan substrat yang berbeda didalam kuadran transek dengan menggunakan cetok dan disaring dengan menggunakan saringan ukuran 1 mm dan diberi formalin 4 %. Sampel disortir di laboratorium dan diidentifikasi. Dari hasil pengamatan diketahui terdapat 5 spesies lamun pada ketiga stasiun dengan jumlah yang berbeda. Jenis lamun yang ditemukan adalah jenis Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodule sp dan Syringodium sp. Kerapatan lamun yang jarang dengan jumlah individu 15.923 individu, kerapatan lamun sedang berjumlah 36.546 individu dan kerapatan lamun padat dengan berjumlah 53.182 individu. Kelimpahan epifauna yang ditemukan di daerah kerapatan lamun jarang yaitu 118 individu/m2 dari 17 spesies, sedangkan pada daerah kerapatan lamun sedang didapatkan 149 individu/m2 dari 15 spesies dan untuk kerapatan padat didapatkan 170 individu/m2 dari 19 spesies. uji korelasi  pearson didapatkan (nilai Sig (2-tailed pada output SPSS) sebesar 0, 698 ( ≥ 0,05), dengan kesimpulan H0 diterima dan H1 ditolak  yaitu tidak ada perbedaan yang signifikan antara struktur hewan epifauna pada kerapatan lamun yang berbeda di pulau Panjang Jepara. Selain itu, didapatkan nilai korelasi antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun sebesar -0, 457. menunjukkan tidak adanya hubungan yang erat antara hewan epifauna dengan kerapatan lamun di Pulau Panjang.
HUBUNGAN KERAPATAN RUMPUT LAUT Sargassum sp. DENGAN KELIMPAHAN EPIFAUNA DI PANTAI BARAKUDA PULAU KEMOJAN, KEPULAUAN KARIMUNJAWA, JEPARA Ibrahim, Ahmad Mahdi; Subiyanto, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Management of Aquatic Resources Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.493 KB)

Abstract

Perairan Pantai Barakuda merupakan perairan yang terletak di Pulau Kemojan, Kepulauan Karimunjawa yang memiliki berbagai kekayaan alam hayati dan non hayati. Salah satu sumberdaya diantaranya adalah rumput laut Sargassum sp. yang tumbuh subur pada perairan tersebut. Tegakan rumput laut berfungsi sebagai penahan arus dan gelombang sehingga dapat memberikan perlindungan di bawah akar rumput yang mendukung bagi berbagai kehidupan organisme akuatik dan secara ekologi berfungsi sebagai perangkap sedimen dan pencegah abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan epifauna pada ekosistem Sargassum sp. dan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan dari Sargassum sp. dengan kelimpahan epifauna di Pantai Barakuda, Karimunjawa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey lapangan dan metode pengambilan sampel adalah sistematik sampling. Lokasi sampling terdiri dari line yang tegak lurus garis pantai dengan panjang 100 meter.  Hasil penelitian menunjukan kelimpahan epifauna terdapat 623 individu yang terdiri dari Gastropoda dan Bivalvia . Epifauna yang ditemukan lima spesies epifauna dari kelas Gastropoda yaitu Cerithium sp., Nassarius sp., Conus sp., Colubraria sp., Latirus sp. Terdapat Tiga spesies dari kelas bivalvia yaitu Donax sp. , Acanthocardia sp., Lioconcha sp. Kelimpahan epifauna secara nyata dipengaruhi oleh kerapatan rumput laut Sargassum sp. (Uji Regresi Linier sederhana P= 0,05). Dengan persamaan y = 20,731x + 1,8734 dimana y adalah kelimpahan epifauna dan x adalah kerapatan rumput laut Sargassum sp. Sedangkan, kelimpahan epifauna secara nyata tidak dipengaruhi oleh luasan penutupan daripada Sargassum sp. yang ditunjukan dengan grafik linier yang negatif dan menjauhi garis.  Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kelimpahan epifauna ada hubungan dengan kerapatan rumput laut Sargassum sp. Barakuda Beach is located at Kemujan Island was part of Karimunjawa Islands which has various biotic and abiotic resources. One of those was Sargassum sp. seaweed that grow well and fertile in that coastal. The trunks of seaweed is function as a current and wave protection which be able to give protection among seweed roots for living kinds of aquatic organisms, and ecologically it function as a sediment trap and abration prohibition.  This research was aimed to know epifauna abundances on Sargassum sp. ecosystem and to knows the relationship between   of Density from Sargassum sp. by abundances of ephifauna in Barakuda Beach, Karimunjawa. This research was held on March and April 2013. The research method was field survey method and sample collection by systematic sampling method. Sampling location divide into 2 lines were one of line has long 50 meters. The research result showed that ephifauna abundances has 623 individu of eppifauna. There were found five species of ephifauna each as class Gastrophoda consist of Cerithium sp., Nassarius sp., Conus sp., Colubraria sp., Latirus sp. There were three species of ephifauna each as class Bivalvia consist of Donax sp. , Acanthocardia sp., Lioconcha sp . Ephifauna abundances significantly determained by Sargassum sp. density (Simple Linier Test, P= 0,05). The formula was y= 20,731x - 1,8734 which y is ephifauna abundances and x is Sargassum sp. seaweed density. Beside that, there weren’t a determained for ephifauna abundances by canopy of Sargassum sp. which showed by negatif linier graphic who long from main line of graphic. From the research result could be concluded that ephifauna abundances was significant relationship between of Density from Sargassum sp. seaweed density and ephifauna abundances.