Rustopo Rustopo
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD

MALIH PEDDAS Vol 2, No 2/ Desember (2012): malih peddas
Publisher : MALIH PEDDAS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo yang belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 65, dengan rata-rata kelas 61,67. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun pelajaran 2012/2013? Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun pelajaran 2012/2013. Jenis penelitian ini adalah Eksperimen kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 31 siswa. Sampel yang diambil semua populasi dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Sebelum penelitian Soal post-test yang akan diberikan terlebih dahulu di uji cobakan di SDN 2 Sumberejo. Lembar observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data pengelolaan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match oleh guru dan kerjasama siswa selama pembelajaran berlangsung. Desain penelitian yang digunakan adalah postest only control design. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kelompok yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match materi mengenal lambang bilangan romawi lebih berpengaruh terhadap hasil belajar dibandingkan kelompok yang pembelajarannya menggunakan dengan metode konvensional. Hal ini terbukti pada analisa akhir diperoleh, nilai thitung = 4,72 dan db =29 dilihat pada tabel t harga t kritik pada t 0,05 = 1,699 pada taraf signifikan 5% didapat 4,72 > 1,699 karena thitung > ttabel maka kelompok eksperimen berpengaruh, diperoleh rata-rata kelas eksperimen 86,25 lebih baik daripada rata-rata kelas kontrol 66,00. Kesimpulannya bahwa hasil belajar matematika yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match mempengaruhi hasil belajar dibandingkan pembelajaran dengan metode konvensional. Saran yang dapat peneliti sampaikan hendaknya guru dapat menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match agar siswa tidak merasa bosan pada saat pembelajaran berlangsung.Kata Kunci : hasil belajar, make a match,lambing bilangan romawi

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV SD

Malih Peddas (Majalah Ilmiah Pendidikan Dasar) Vol 2, No 2 (2012): malih peddas
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.265 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dari hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo yang belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 65, dengan rata-rata kelas 61,67. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun pelajaran 2012/2013? Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terhadap hasil belajar matematika materi mengenal lambang bilangan romawi siswa kelas IV SDN 03 Sumberejo tahun pelajaran 2012/2013. Jenis penelitian ini adalah Eksperimen kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 31 siswa. Sampel yang diambil semua populasi dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Sebelum penelitian Soal post-test yang akan diberikan terlebih dahulu di uji cobakan di SDN 2 Sumberejo. Lembar observasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data pengelolaan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match oleh guru dan kerjasama siswa selama pembelajaran berlangsung. Desain penelitian yang digunakan adalah postest only control design. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kelompok yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match materi mengenal lambang bilangan romawi lebih berpengaruh terhadap hasil belajar dibandingkan kelompok yang pembelajarannya menggunakan dengan metode konvensional. Hal ini terbukti pada analisa akhir diperoleh, nilai thitung = 4,72 dan db =29 dilihat pada tabel t harga t kritik pada t 0,05 = 1,699 pada taraf signifikan 5% didapat 4,72 > 1,699 karena thitung > ttabel maka kelompok eksperimen berpengaruh, diperoleh rata-rata kelas eksperimen 86,25 lebih baik daripada rata-rata kelas kontrol 66,00. Kesimpulannya bahwa hasil belajar matematika yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match mempengaruhi hasil belajar dibandingkan pembelajaran dengan metode konvensional. Saran yang dapat peneliti sampaikan hendaknya guru dapat menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match agar siswa tidak merasa bosan pada saat pembelajaran berlangsung.Kata Kunci : hasil belajar, make a match,lambing bilangan romawi

Makna ‘Seneng lan Kemringet’ dalam Festival Lima Gunung

PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTThis article aims to discover the meaning of the expression ‘seneng lan kemringet’ at FLG (Festival Lima Gunung) in Magelang. The expression ‘seneng lan kemringet’ gives an opportunity to anybody who involved to reveal his existence and to speak about the essence of himself. By building a sense of familiarity, direct involvement in art activities, and dialogue with the farmers about circumstances in the field, it will be possible to reveal the meaning behind the expression ‘seneng lan kemringet. The research results showed that within the expression seneng lan kemringet, there is vitality as a fundamental asset for the FLG sustainability. ‘Seneng lan kemringet’ can also be understood as an autonomy and self-actualization. Additionally, seneng lan kemringet is a part of a game with the goal of displaying self-existence. Finally, ‘seneng lan kemringet’ is an embodiment of self-esteem. Keywords: ‘seneng lan kemringet’, vitality, and game ABSTRAKArtikel ini bertujuan untuk mengetahui makna ungkapan ‘seneng lan kemringet’ pada Festival Lima Gunung (FLG) di Magelang. Ungkapan ‘seneng lan kemringet’ memberi kesempatan bagi yang terlibat untuk mengungkapkan keberadaannya dan berbicara tentang hakikat dirinya. Dengan keakraban, keterlibatan langsung dalam aktivitas kesenian, dan berdialog dengan petani atas kenyataan-kenyataan di lapangan, akan dapat disingkap makna di balik ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersebut. Hasil dari penelitian kami menunjukkan bahwa di dalam ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersimpan daya hidup sebagai modal dasar keberlanjutan FLG. ‘Seneng lan kemringet’ juga dimaknai sebagai otonomi dan aktualisasidiri. Selain itu, ‘seneng lan kemringet’ adalah bagian dari permainan dengan tujuan untuk memperlihatkan eksistensi diri. Pada akhirnya, ‘seneng lan kemringet’ merupakan kebanggaan diri.Kata kunci: ‘seneng lan kemringet’, daya hidup, dan permainan 

PENGEMBANGAN MEDIA POP-UP ELEKTRIK BERBANTU MODEL STAD UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KELAS III SEKOLAH DASAR

JS (JURNAL SEKOLAH) Vol 3, No 1 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.853 KB)

Abstract

Abstrak: Pengembangan Media Pop-Up Elektrik Berbantu Model STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III Sekolah Dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengetahui apakah media Pop-up Elektrik berbantu model STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD layak digunakan atau tidak. Jenis penelitian ini adalah penelitian Research and Development dengan model ADDIE (Analysis, Desain, Development, Implementation, Evaluation). Subjek uji coba pada penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Brambang  sebanyak 27 siswa. Validasi media dilakukan oleh 3 dosen ahli media dan materi. Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan angket. Hasil penelitian ini adalah kelayakan media pop-up Elektrik memperoleh rata-rata skor untuk media adalah 92.5% dan rata-rata skor untuk materi adalah 94.8% dan memperoleh kategori sangat layak digunakan. Kata Kunci: Pop-up, STAD, Hasil Belajar

Makna ‘Seneng lan Kemringet’ dalam Festival Lima Gunung

PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.749 KB)

Abstract

AbstractThis article aims to discover the meaning of the expression ‘seneng lan kemringet’ at FLG (Festival Lima Gunung) in Magelang. The expression ‘seneng lan kemringet’ gives an opportunity to anybody who involved to reveal his existence and to speak about the essence of himself. By building a sense of familiarity, direct involvement in art activities, and dialogue with the farmers about circumstances in the field, it will be possible to reveal the meaning behind the expression ‘seneng lan kemringet'. The research results showed that within the expression 'seneng lan kemringet', there is vitality as a fundamental asset for the FLG sustainability. ‘Seneng lan kemringet’ can also be understood as an autonomy and self-actualization. Additionally, 'seneng lan kemringet' is a part of a game with the goal of displaying self-existence. Finally, ‘seneng lan kemringet’ is an embodiment of self-esteem. Keywords: ‘seneng lan kemringet’, vitality, and game AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengetahui makna ungkapan ‘seneng lan kemringet’ pada Festival Lima Gunung (FLG) di Magelang. Ungkapan ‘seneng lan kemringet’ memberi kesempatan bagi yang terlibat untuk mengungkapkan keberadaannya dan berbicara tentang hakikat dirinya. Dengan keakraban, keterlibatan langsung dalam aktivitas kesenian, dan berdialog dengan petani atas kenyataan-kenyataan di lapangan, akan dapat disingkap makna di balik ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersebut. Hasil dari penelitian kami menunjukkan bahwa di dalam ungkapan ‘seneng lan kemringet’ tersimpan daya hidup sebagai modal dasar keberlanjutan FLG. ‘Seneng lan kemringet’ juga dimaknai sebagai otonomi dan aktualisasi diri. Selain itu, ‘seneng lan kemringet’ adalah bagian dari permainan dengan tujuan untuk memperlihatkan eksistensi diri. Pada akhirnya, ‘seneng lan kemringet’ merupakan kebanggaan diri.Kata kunci: ‘seneng lan kemringet’, daya hidup, dan permainan

KONTRIBUSI ORANG-ORANG TIONGHOA DI SURAKARTA DALAM KEBUDAYAAN JAWA 1895-1998

Dewa Ruci Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Dewa Ruci Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini merupakan kajian sejarah sosial-budaya, tentang orang-orang Tionghoa di Surakarta yang berperan penting dalam pengembangan kebudayaan Jawa dan sekaligus menjadi jawa. Aspek temporalnya dibatasi dari 1085 hingga 1998. Tahun 1985 menandai awal sebuah proses sejarah yang menempatkan orang Tionghoa sebagai pengembang kebudayaan Jawa yang kreatif.Sebaliknya tahun 1998 merupakan tragedi yang menempatkan orang-orang Tionghoa menjadi korbannya. Untuk mengkaji sejarah tentang orang-orang Tionghoa di Surakarta ini menerapkan pendekatan dan analisis historis. Teori psikologis perkembangan digunakan untuk memahami upaya-upaya mereka menjadi Jawa. untuk memahami interaksi sosial dan kultural orang-orang Tionghoa dan Jawa digunakan teori-teori antropologi budaya dan sosiologi pengetahuan. Proses sejarah sebagai realitas kultural dimulai dari Gam Kam dalam industri seni pertunjukan ini diikuti oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa lainnya yang membawa wayang wong panggung mencapai puncak popularitasnya. Dalam bidang lainnya yang membawa wayang wong panggung ini diikuti oleh pengusaha-pengusaha Tionghoa lainnya yang membawa wayang wong panggung mencapai puncak popularitasnya. Dalam bidang lain muncul dua tokoh Tionghoa yang kontras; yang pertama Tjan Tjoe Siem, mewakili intelektual tinggi dan yang kedua Kho Djien Tiong, mewakili pemikir dan kreator ke;as rakyat (massa). Yang pertama diangkat sebagai guru besar dalam Bahasa dan Sastra Jawa, dan yang kedua diakui sebagai guru besar dalam dunia seni pertunjukan lawak.Terakhir adalah tokoh yang mewakili keunikan yang tidak ada duanya. Ia merupakan orang Tionghoa yang luluh dalam dunia kehidupan Jawa melalui seni pertunjukan, seni rupa, bahasa, arsitektur, kepurbakalaan, permuseuman, adat-istiadat dan upacara keraton. Ia adalah Go Tik Swan, yang derajat kejawaannyadianggap paling matang di antara orang-orang Tionghoa lainnya. Semua karya-karya mereka mewakili Jawa yang ‘baru’. Jawa ‘baru’ yang mereka hasilkan merupakan hibrida antara unsur-unsur kebudayaan keraton, rakyat, kota, desa, tradisional, modern. Dalam realitas kultural, Jawa ‘baru’ made by Chinese inibagaimanapun telah membuat Surakarta dan Jawa menjadi beradab. Sebaliknya dalam realitas sosial ‘Surakarta’ telah memperlakukan orang-orang Tionghoa secara biadab.Kata kunci: Seni, Kebudayaan, Surakarta, Jawa, Tionghoa

KEEFEKTIVAN MODEL SAVI TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PUISI SISWA KELAS V

JURNAL SINEKTIK Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sinektik:Desember-2018
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.231 KB)

Abstract

Latar belakang yang mendorong penelitian ini adalah rendahnya kemampuan membaca puisi siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektif tidaknya model Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI) terhadap kemampuan membaca puisi siswa kelas V SD Negeri 3 Banjarejo kabupaten Blora tahun pelajaran 2018/2019. Metode membaca puisi menggunakan penelitian kuantitatif. Hasil analisis data penelitian setelah mendapatkan perlakuan dengan model Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI), menunjukan nilai rata-rata pretest 74,277 sedangkan nilai rata-rata posttest 78,611, sehingga ada peningkatan. Pada analisis akhir hasil uji t diketahui lebih besar dari  (3,545 > 2,030) taraf signifikan 5%. Kemampuan membaca puisi siswa terbukti meningkat dengan pemerolehan nilai yang semakin bagus ketika dilakukan posttest setelah diberikan perlakuan. Kesimpulannya bahwa model Somatic Auditory Visualization Intellectualy (SAVI) efektif terhadap membaca puisi di kelas V SD Negeri 03 Banjarejo kabupaten Blora