Articles

Found 17 Documents
Search

Penerapan analogi pada perkuliahan genetika untuk menumbuhkan keterampilan penalaran ilmiah (scientific reasoning) Maryuningsih, Yuyun; Hidayat, Topik; Riandi, Riandi; Rustaman, Nuryani Y
JURNAL BIOEDUKATIKA Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.437 KB) | DOI: 10.26555/bioedukatika.v6i2.9429

Abstract

Keterampilan penalaran ilmiah yang merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang perlu dilatihkan pada mahasiswa calon guru untuk materi-materi genetika yang bersifat abstrak seperti topik materi genetik dan pindah silang. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan dalam perancangan program perkuliahan genetika, untuk mengetahui penggunaan strategi dan metode yang tepat dalam beberapa materi genetika. Implementasi pembelajaran genetika dengan analogi diujikan secara terbatas pada tiga puluh tujuh mahasiswa Pendidikan Biologi yang mengambil mata kuliah genetika. Analogi dilakukan pada topik materi genetik dan pindah silang. Penerapan analogi pada model DNA dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan model DNA dan analogi pada pindah silang dengan menggunakan lilin malam/plasticine. Profil keterampilan penalaran ilmiah siswa diukur secara skoring pada model DNA untuk topik materi genetik dan pindah silang. Data dianalisis secara kualitatif untuk melihat profil siswa dalam penalaran ilmiah. Hasil dari penelitian ini bahwa penggunaan analogi dalam pembelajaran genetika dapat diterapkan pada topik materi genetik dan pindah silang. Analogies application of genetic course to arise scientific reasoning skills. Scientific reasoning skills were high-level thinking skills that need to be trained in prospective teacher students for abstract genetic material such as the topic of genetic material and crossovers. This research was a preliminary study in the design of the genetic lecture program, to find out the use of appropriate strategies and methods in some genetic material. The implementation of genetic learning by analogy was limitedly tested on thirty-seven Biology Education students who took genetics courses. The analogy was done on the topic of genetic material and crossovers. The application of analogies to DNA models using materials that can be used in making DNA models and analogies to crossovers using night candles/plasticine. Profiles of students' scientific reasoning skills are measured scoring on DNA models for the topic of genetic material and crossovers. Data were analyzed qualitatively to see students' profiles in scientific reasoning. The results of this study that the use of analogies in genetic learning could be applied to the topic of genetic material and crossovers.
PENDIDIKAN DAN PENELITIAN SAINS DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI UNTUK PEMBANGUNAN KARAKTER Rustaman, Nuryani Y
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.509 KB)

Abstract

ABSTRAK   Proses membangun karakter berlangsung terus menerus dan seyogianya dilakukan melalui pendidikan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses tersebut memerlukan upaya serius untuk merealisasikannya secara terencana. Studi tentang pembangunan karakter dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya melalui pembelajaran bidang studi tertentu, melalui pengembangan kemampuan berpikir; mengintegrasikan domain kognitif, afektif dan psikomotor; memfokuskan pada ipteks dan imtaq, dan pengembangkan sikap ilmiah. Pembangunan karakter melalui pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu alternatif dalam pendidikan sains. Kecerdasan majemuk juga meru-pakan salah satu wahana yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Kebiasaan berpikir (habits of mind) sebagai perilaku cerdas jauh lebih penting dibandingkan dengan membekalkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik melalui pendidikan sains. Habits of mind dalam arti perilaku cerdas dapat dilatihkan dan diukur pencapaiannya. Semua itu dimungkinkan apabila pendidikan sains menekankan pembelajaran berbasis inkuiri dan didukung dengan penerapan asesmen otentik dan asesmen formatif.  Penelitian sains yang menekankan asesmen formatif menjadi bidang yang menarik untuk diteliti, karena berbeda dengan asesmen sumatif yang lebih menekankan hasil belajar (assessment of learning), asesmen formatif justru mendorong peserta didik untuk belajar (assessment for learning).   Kata kunci : Keterampilan berpikir tingkat tinggi, habits of mind, pendidikan sains, pembangunan karakter, kecerdasan majemuk
PENDIDIKAN DAN PENELITIAN SAINS DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI UNTUK PEMBANGUNAN KARAKTER Rustaman, Nuryani Y
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.509 KB)

Abstract

ABSTRAK   Proses membangun karakter berlangsung terus menerus dan seyogianya dilakukan melalui pendidikan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses tersebut memerlukan upaya serius untuk merealisasikannya secara terencana. Studi tentang pembangunan karakter dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya melalui pembelajaran bidang studi tertentu, melalui pengembangan kemampuan berpikir; mengintegrasikan domain kognitif, afektif dan psikomotor; memfokuskan pada ipteks dan imtaq, dan pengembangkan sikap ilmiah. Pembangunan karakter melalui pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu alternatif dalam pendidikan sains. Kecerdasan majemuk juga meru-pakan salah satu wahana yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Kebiasaan berpikir (habits of mind) sebagai perilaku cerdas jauh lebih penting dibandingkan dengan membekalkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik melalui pendidikan sains. Habits of mind dalam arti perilaku cerdas dapat dilatihkan dan diukur pencapaiannya. Semua itu dimungkinkan apabila pendidikan sains menekankan pembelajaran berbasis inkuiri dan didukung dengan penerapan asesmen otentik dan asesmen formatif.  Penelitian sains yang menekankan asesmen formatif menjadi bidang yang menarik untuk diteliti, karena berbeda dengan asesmen sumatif yang lebih menekankan hasil belajar (assessment of learning), asesmen formatif justru mendorong peserta didik untuk belajar (assessment for learning).   Kata kunci : Keterampilan berpikir tingkat tinggi, habits of mind, pendidikan sains, pembangunan karakter, kecerdasan majemuk
KAJIAN TENTANG PENGUASAAN KONSEP GIZI SISWA SMP K, Mimin Nurjhani; Rustaman, Nuryani Y; Redjeki, Sri
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia Vol 1, No 2 (2012): October 2012
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpii.v1i2.2132

Abstract

Penelusuran menggunakan angket menunjukkan bahwa tidak semua konsep yang yang tercakup dalam kisi-kisi pengembangan soal disampaikan oleh guru di kelas. Terdapat konsep yang tidak didapatkan siswa dari guru tetapi didapatkan dari hasil penalaran siswa terhadap informasi yang ada pada soal dan teman yaitu memperkirakan jenis dan jumlah makanan yang harus dimakan setiap hari berdasarkan piramida makanan serta mengidentifikasi jenis dan kandungan zat makanan berdasarkan label pada kemasan makanan.   Search using the questionnaire showed that not all concepts covered in the lattice about the development delivered by teachers in the classroom. There is a concept that does not get students from the teacher but the students come from the reasoning of the existing information on the matter and your friends are estimating the type and amount of food should be eaten every day by the food pyramid and identify the type and content of nutrients on the labels on food packaging.
KEMAMPUAN PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE GURU BIOLOGI YANG BERPENGALAMAN DAN YANG BELUM BERPENGALAMAN Anwar, Yenny; Rustaman, Nuryani Y; Widodo, Ari; Redjeki, Sri
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 19, No 1 (2014): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.598 KB) | DOI: 10.18269/jpmipa.v19i1.426

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan Pedagogical Content Knowledge (PCK) guru biologi senior (mengajar > 20 th) dan guru junior ( mengajar < 10 th). Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus, partisipannya adalah dua orang guru biologi junior dan dua orang guru biologi senior. Kemampuan ini diukur dengan meminta guru membuat CoRes dan PaP-eRs pada materi transportasi zat yang dilanjutkan dengan teknik wawancara. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa guru senior memunculkan tujuh konsep penting yang harus diajarkan sedangkan guru junior memunculkan antara delapan sampai 10 konsep. Guru senior lebih fokus pada konsep-konsep yang cenderung menimbulkan miskonsepsi dan pada bagian sulit dipahami oleh siswa seperti konsep difusi dan osmosis, serta pembelajaran lebih kepada penggunaan metode. Guru senior lebih fleksibel menggunakan strategi mengajar, disesuaikan dengan kondisi dilapangan dan keadaan siswa. Guru junior lebih fokus pada kedalaman materi dan model-model pembelajaran yang akan digunakan. Penggunaan strategi cenderung kurang fleksibel, lebih dikaitkan pada perencanaan yang sudah dibuat.Kata kunci : Pedagogical Content Knowledge (PCK), biologi, guru berpengalaman, guru belum berpengalaman
KONSEPSI CALON GURU BIOLOGI TENTANG IPA, BELAJAR, DAN MENGAJAR (CONCEPTION OF BIOLOGY STUDENT TEACHERS’ ABOUT SCIENCE, LEARNING, AND TEACHING) Rustaman, Nuryani Y; Widodo, Ari
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 2, No 1 (2001): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.313 KB) | DOI: 10.18269/jpmipa.v2i1.387

Abstract

A study for one semester in Teaching learning strategy course was carried out to get the profile of biology student teachers conception about science, learning, and science teaching, as we know that constructivist paradigm in education is not just studied as a theory, but needs to be implemented in real teaching learning processes. A number of Biology education students (n =29) were involved as subjects. Their free essay were used as source and were organized through coding and then recoding using specific program (NUD.IST). It was found that there are five categories for their conception about science (i.e. study about nature, collection of knowledge or concepts, research method, the single truth, to worship their Creator); five categories their conception about learning (i.e. changing process, knowledge improvement, conceptual change, thinking process, interaction with environment); and three catagories for their conception about  science teaching (i.e. as fasilitating, knowledge transfer, interaction between teacher and students). Most of biology students have more than one conception (two or three), but none of them has a complete conception about science, learning and science teaching.  Biology student teachers conception about teaching (mostly as knowledge transfer) is paralel with their conception about science (mostly as study about nature) and about learning (mostly as knowledge improvement).  These findings give implication to their supervisor to pay attention more seriously on the students conception abot science, learning, and teaching. Because the way they teach will be influenced by their conception about those things. One suggestion to handle is by giving the student teachers to express their opinion about those things so that they are aware to other conceptions and in turn they will be aware to accept (and apply) conception based on constructivist reference or paradigm.Keywords:  conception, student teacher, science, learning, teaching.  
PENGEMBANGAN MODEL ASESMEN PADA KEGIATAN FIELD TRIP MATA KULIAH EKOLOGI UMUM BERBASIS INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI Amprasto, Mr; Rustaman, Nuryani Y; K, Hertien; Saefudin, Mr
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 17, No 2 (2012): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.647 KB) | DOI: 10.18269/jpmipa.v17i2.240

Abstract

Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa kuliah lapangan Ekologi Umum belum memiliki model penilaian yang dapat secara optimal menilai semua kegiatan mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan "model penilaian" dan untuk mengetahui efektivitas dengan mencoba model dalam kegiatan perjalanan ekologi bidang umum Metode penelitian untuk penelitian kami adalah metode penelitian campuran dengan desain eksploratif. Penilaian dilakukan dari tahap persiapan, selama perjalanan Ekologi Umum lapangan, dan pasca-field trip. kinerja siswa ditentukan oleh diri sendiri dan peer-assessment dengan skor kisaran 0-4. Setelah kunjungan lapangan selesai, pendapat siswa yang terjaring oleh kuesioner dan wawancara. mayoritas siswa (> 90%) menyatakan bahwa "model penilaian" yang berusaha optimal adalah untuk menilai kinerja siswa dan kemampuan kerja ilmiah, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran; mempengaruhi rasa tanggung jawab, interaksi sosial , kepercayaan siswa lain, dan komitmen untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik siswa mengaku. memahami kriteria penilaian, tetapi ada beberapa siswa yang tidak suka dengan cara ini dan diasumsikan rekan-rekan mereka tidak cukup kompeten untuk menilai, selain masalah "keadilan ", kritik mengurangi rasa percaya diri, dan merasa buruk menilai teman sendiri. Singkatnya, model penilaian cukup efektif dalam menilai kinerja siswa dalam bidang ekologi umum berbasis inkuiri. Hal ini masih perlu dimodifikasi dalam rubrik penilaian dan strategi penilaian.Kata kunci: ekologi umum, kuliah lapangan, model asesmen, inkuiri sains 
ANALISIS KEMUNCULAN KETERAMPILAN SPESIFIK LAB MIKROBIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN MIKROBIOLOGI BERBASIS PROYEK INKUIRI “MINI-RISET” MAHASISWA BIOLOGI Kusnadi, Mr; Rustaman, Nuryani Y; Redjeki, Sri; Aryantha, I Nyoman P
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 17, No 1 (2012): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.363 KB) | DOI: 10.18269/jpmipa.v17i1.236

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kemunculan keterampilan laboratorium mikrobiologi melalui program pembelajaran mikrobiologi berbasis proyek inkuiri (P2MBPI) mini-riset. Penelitian melibatkan sejumlah mahasiswa semester IV Program Studi Biologi di salah satu LPTK Negeri di kota Bandung (n=33), yang mengikuti perkuliahan mikrobiologi. Program pembelajaran dirancang dalam setting laboratorium berbasis proyek inkuiri kelompok (free inquiry labs). Data penelitian dijaring melalui laporan mini-riset, presentasi oral dan poster serta wawancara.  Hasil penelitian  menunjukkan bahwa P2MBPI mini-riset setiap kelompok memberikan kontribusi terhadap kemunculan keterampilan laboratorium mikrobiologi yang cukup beragam. Hal ini selaras dengan tahapan proyek mulai dari pemilihan masalah dan topik mini-riset, sampai pengambilan keputusan proyek yang dilaksanakan oleh kelompok. Secara umum ruang lingkup topik proyek mini-riset mencakup empat bidang, yaitu mikrobiologi pertanian (tanah), mikrobiologi lingkungan (air), mikrobiologi kesehatan, dan mikrobiologi pangan. Hasil analisis kemunculan jenis keterampilan spesifik lab mikrobiologi dari laporan, presentasi oral, dan poster, serta wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar kelompok menunjukkan persentase kemunculan jenis keterampilan yang tinggi (100)%), yaitu pada keterampilan bekerja aseptik, keterampilan mengisolasi mikroba, sterilisasi, dan menggunakan mikroskop.  Kemunculan jenis keterampilan dengan persentase sedang (75%) pada keterampilan identifikasi dan kultivasi mikroorganisme. Selanjutnya berdasarkan hasil wawancara mendalam pada 7 orang mahasiswa, menyatakan bahwa program pembelajaran mikrobiologi berbasis proyek inkuiri mini-riset ini juga sangat berarti, disamping mendapatkan keterampilan lab mikrobiologi, juga dapat membekali keterampilan meneliti (research skill) mahasiswa biologi.  Dengan demikian P2MBPI mini-riset ini, perlu terus dikembangkan karena memberikan konstribusi yang berarti dalam membekali mahasiswa calon ilmuwan biologi bekerja di laboratorium dan melakukan penelitian biologi.Kata kunci: pembelajaran mikrobiologi berbasis proyek inkuiri, mini-riset, free inquiry labs, research skill.  
EFEKTIVITAS SQ5R TERHADAP PENGETAHUAN KONSEPTUAL DAN RETENSI SISWA SMA PADA PEMBELAJARAN SISTEM REPRODUKSI MANUSIA Hikmawati, Vitta Yaumul; Rustaman, Nuryani Y; Saefudin, Saefudin
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 19, No 2 (2014): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.106 KB) | DOI: 10.18269/jpmipa.v19i2.461

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efektivitas SQ5R (Survey, Question, Read, Recite, Record, Reflect and Review) terhadap pengetahuan konseptual dan retensi siswa SMA pada pembelajaran Sistem Reproduksi Manusia. Penelitian ini menggunakan metode weak experiment dengan desain ”The One Group Pre-Post and Retest” yang melibatkan 34 siswa SMA Kelas XI jurusan IPA. Pengetahuan konseptual siswa yang dijaring dengan tiga buah peta konsep melalui teknik fill in meningkat dengan N-gain pada subkonsep Sistem Reproduksi Pria, Sistem Reproduksi Wanita dan Gangguan Reproduksi Manusia berturut-turut adalah 0,4; 0,3 dan 0,5 yang termasuk kedalam kategori sedang. Retensi siswa meningkat dengan skor 96%, yang termasuk dalam kategori sangat baik. Efektivitas pembelajaran dengan SQ5R terlihat dari peningkatan hasil pre-test terhadap post-test yang dijaring menggunakan soal pilihan ganda. Nilai rata-rata sebelum pembelajaran adalah 47,5 dan setelah pembelajaran adalah 74 dengan N-gain 0,5, yang termasuk kategori sedang. Hasil penjaringan daftar cek keterlaksanaan SQ5R menunjukkan bahwa sebagian besar (90,2%) siswa sudah melaksanakan tahapan SQ5R dan keterlaksanaannya mengalami peningkatan pada setiap pertemuan. Penjaringan angket tentang respon siswa terhadap pembelajaran dengan SQ5R menunjukkan bahwa 47,1% siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dan penerapan SQ5R dalam membaca artikel membantu mereka (94,2%) dalam memahami materi Sistem Reproduksi Manusia.Kata kunci: pengetahuan konseptual, retensi, SQ5R
SCIENCE PRE SERVICE TEACHERS BELIEF ON ASSESMENT Efendi, Ridwan; Rustaman, Nuryani Y; Kaniawati, Ida
Jurnal Pengajaran MIPA Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Pengajaran MIPA - April 2017
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18269/jpmipa.v22i1.8386

Abstract

This study aims to reveal personal beliefs of prospective science teachers about assessment. The study involved 46 prospective science teachers who have passed the 7th semester the course evaluation. Personal beliefs of prospective science teachers about assessment revealed using Personal Beliefs about Assessment Scale (SKDA). SKDA developed based on standards of assessment literacy and construct validity is done using Rasch models, with a Cronbach Alpha value of 0.93. Analysis and classification level of personal beliefs of prospective science teacher about assessment is done using the Rasch model is based on the logit ability of prospective science teachers based on the separation. The results showed that personal beliefs of prospective science teachers about assessment varies between two or three levels, depending on the standard of assessment literacy. There are still some aspects of the assessment of each standard that is trusted or considered less important by prospective teachers of science, namely: 1) consider the learning targets, learning experiences, and learning decision in choosing methods of assessment; 2) using the existing assessment and available in developing assessment methods; 3) interpret summary score; 4) use the assessment results to decision-making about the school and curriculum development; 5) consider extracurricular activities when developing procedures for judging; 6) report the result to another level with appropriate means and methods; and 7) to know when the assessment results are used inappropriately/inappropriate by others.AbstrakStudi ini bertujuan mengungkap kepercayaan calon guru sains tentang asesmen. Studi melibatkan 46 mahasiswa calon guru sains semester 7 yang telah lulus perkuliahan evaluasi pembelajaran. Kepercayaan calon guru sains tentang asesmen diungkap dengan menggunakan Skala Kepercayaan Diri Asesmen (SKDA). SKDA dikembangkan mengacu pada standar literasi asesmen dan validitas konstruk dilakukan dengan menggunakan Rasch model, dengan nilai Cronbach Alpha 0,93. Analisis dan pengelompokkan level kepercayaan calon guru sain tentang asesmen dilakukan menggunakan Rasch Model berdasarkan nilai logit kemampuan calon guru sains berdasarkan nilai separation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan calon guru sains tentang asesmen bervariasi antara dua atau tiga level kepercayaan, bergantung pada standar literasi asesmen. Masih terdapat beberapa aspek tentang asesmen pada masing-masing standar yang dipercaya kurang dipertimbangkan atau penting oleh calon guru sains, yaitu: 1) mempertimbangkan target belajar, pengalaman belajar, dan keputusan pembelajaran dalam memilih metode asesmen; 2)  menggunakan penilaian yang ada dan tersedia dalam mengembangkan metode asesmen; 3) menginterpretasi rangkuman skor; 4) menggunakan hasil asesmen untuk untuk pengambilan keputusan tentang pengembangan sekolah dan kurikulum; 5) mempertimbangkan aktivitas ekstrakurikuler ketika mengembangkan prosedur menilai; 6) melaporkan hasil penilaian kepada pendidikan lain dengan cara dan metode yang tepat; dan 7) mengenal kapan hasil penilaian digunakan secara tidak tepat/pantas oleh orang lain.