Rusnaldy Rusnaldy
Dosen Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 27 Documents
Articles

Found 27 Documents
Search

MONITORING KONDISI PAHAT DENGAN SINYAL GETARAN PADA PROSES BUBUT

ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" VOLUME 13, NOMOR 3, JULI 2011
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.113 KB)

Abstract

Turning process plays an important role in manufacturing industry. Almost all cilyndrical specimen worked with turning machine. But the unperfect process is often unrealized by the operator. Thus, we need a method to monitor a tool condition. The objective of this study is to introduce a method of tool condition monitoring during a turning process. In this study, vibration signal was used to monitor tool condition. Two kind of tool conditions were used, new tool and tool with built-up-edge (BUE). During a turning process the vibration of the tool was measured. Surface roughness of machined surface was measured after turning process. The results show that vibration signal can be implemented as a tool for monitoring a tool condition. Tools with BUE have high vibration amplitude, vibration amplitude increases with increase the BUE area. Cutting with these tools can cause plowing or rubbing, resulting in a poor surface due to high friction.

PROSES SIMULASI UNTUK MENENTUKAN BESARNYA GAYA POTONG PADA PROSES BUBUT

ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" Volume 11, Nomor 1, Januari 2009
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4400.314 KB)

Abstract

Gaya potong dalam proses permesinan merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui. Gaya potong yang besar akan memperbesar getaran dalam proses permesinan serta meningkatkan gesekan antara pahat dan benda kerja, sehingga akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan, misalnya produk yang dihasilkan akan memiliki kekasaran permukaan yang besar. Besar kecilnya gaya potong dipengaruhi oleh parameter pemotongan (kecepatan potong, rake angle, depth of cut, feed rate) dan geometri pahat potong. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh parameter pemotongan dan geometri pahat potong terhadap gaya potong pada proses bubut dengan menggunakan software DEFORM 2D V8.1. Simulasi digunakan untuk melihat kecenderungan perubahan gaya potong pada proses pemotongan untuk setiap variasi proses pemotongan.

STUDI KETAHANAN BALISTIK BAJA HIGH STRENGTH LOW ALLOY AISI 4140

ROTASI Vol 19, No 1 (2017): VOLUME 19, NOMOR 1, JANUARI 2017
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja adalah material yang mudah diperoleh dan relatif murah harganya. Selama ini material tahan peluru yang digunakan untuk membuat kendaraan tempur (Tank) masih berasal dari negara lain. Baja yang digunakanpun kebanyakan adalah dari jenis baja armor atau baja khusus untuk menahan serangan peluru. Pada studi ini baja komersial yang terdapat di pasaran digunakan untuk diteliti kemampuannya dalam menahan peluru. Jenis baja tersebut adalah jenis baja high strength low alloy (HSLA) AISI 4140. Agar dapat menahan peluru, baja tersebut perlu ditingkatkan kekuatan dan kekerasannya melalui proses perlakuan panas. Disamping itu perlu dicari berapa ketebalan minimum dari baja jenis ini yang masih dapat menahan penetrasi peluru. Uji balistik dilakukan di lapangan tembak markas Brimob di Semarang. Uji tembak dilakukan oleh personil Brimob yang memiliki keahlian menembak dari jarak jauh (sniper) dengan menggunakan senjata AK 101 yang mampu melontarkan peluru dengan kecepatan 900 m/s. Peluru yang digunakan memiliki kaliber 5,6 mm dengan jarak tembak 25 m. Setelah uji tembak, dilakukan pengamatan terhadap jenis kerusakan yang terjadi pada pelat target. Dari hasil pengujian didapatkan bahwa proses perlakuan panas hardening dapat meningkatkan ketahanan peluru baja AISI 4140, dimana ketebalan minimum pelat yang masih dapat menahan peluru adalah 7 mm

PENGUKURAN MODULUS ELASTISITAS BERBAGAI JENIS KAYU UNTUK FURNITUR

ROTASI Volume 11, Nomor 4, Oktober 2009
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.35 KB)

Abstract

Dalam studi ini, modulus elastisitas kayu dievaluasi sebelum mengalami proses permesinan. Modulus elastisitas kayu menentukan kekakuan kayu. Kekakuan yang tinggi menyebabkan kayu tidak mudah melentur saat proses permesinan dilakukan sehingga ketelitian dimensi produk menjadi tinggi. Modulus elastisitas juga menentukan karakteristik dinamik kayu. Kayu yang mudah bergetar saat proses permesinan dilakukan menyebabkan kekasaran permukaan kayu menjadi meningkat. Jenis kayu yang akan dievaluasi adalah jenis kayu yang biasa digunakan dalam industri furnitur.Untuk itu alat uji three point bending didesain dan dibuat untuk pengujian modulus elastisitas kayu. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa jenis kayu lamtoro (Leucenia leucocephalla) memiliki nilai modulus elastisitas yang paling tinggi, kemudian berturut-turut disusul kayu jati (Tectona grandis), kayu mahoni (Switenia macrophylla), kayu akasia (Acacia villosa), dan kemudian kayu nangka (Artocarpus heterophyllus).

PENGARUH PEMAKANAN (FEED) TERHADAP GEOMETRI DAN KEKERASAN GERAM PADA HIGH SPEED MACHINING PROCESSES

ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" Volume 8, Nomor 1, Januari 2006
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.954 KB)

Abstract

Meningkatnya permintaan untuk memperbesar produktivitas dengan biaya produksi rendah, menuntut untukdilakukannya permesinan yang cepat maka dilakukan pemesinan dengan cara meningkatkan kecepatan pemesinan.Teknologi pemesinan kecepatan tinggi (high speed machining) merupakan salah satu cara untuk meningkatkanproduktivitas. Dengan kecepatan potong dan pemakanan yang tinggi, maka volume pelepasan material dari materialinduk akan meningkat sehingga akan diperoleh penghematan waktu pemesinan yang cukup berarti.Tulisan ini meneliti pengaruh kedalaman pemakanan dengan geometri dan kekerasan geram, dimana prosespemesinan yang dilakukan pada kecepatan tinggi adalah pada mesin bubut semi otomatis dengan empat jenis bendakerja yang mempunyai kekuatan tarik yang berbeda-rbeda. Geram yang dihasilkan di ukur geometri dan kekerasannya.Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan naiknya nilai kedalaman pemakanan akan menaikkankekerasan geram. Disamping itu sifat dan jenis dari material benda kerja akan sangat berpengaruh terhadap geometrigeram yang dihasilkan.

MEASUREMENT OF LINEAR POSITIONAL ERROR AND STRAIGHTNESS ERROR BY LASER INTERFEROMETER

ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" Volume 10, Nomor 1, Januari 2008
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.489 KB)

Abstract

This paper presents the results of measurement of linear positional error and straightness error of a vertical machining center (VMC) using laser interferometer. The laser interferometry tests were performed to measure the linear positional error and straightness error.

DIFFUSION BONDING : AN ADVANCED OF MATERIAL PROCESS

ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN" Volume 3, Nomor 1, Januari 2001
Publisher : ROTASI "JURNAL TEKNIK MESIN"

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.843 KB)

Abstract

Diffusion bonding or diffusion welding is a solid state joining process. This bonding technique is based on theatomic diffusion of elements at the joining interface. The diffusion-welding interface has same physical and mechanicalproperties as base metal. The strength of joining depends on pressure, temperature, time of contact and the cleanness ofthe interface. Diffusion bonding needs longer time than the other welding processes.

PENGARUH BENTUK PROYEKTIL TERHADAP KETAHANAN BALISTIK PADA PLAT BAJA TIPIS

JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengujian balistik dikembangkan untuk merancang suatu material anti peluru agar energi peluru yang dihasilkan dari proses penembakan dapat direduksi sebesar mungkin, yang kemudian dihubungkan dengan melihat fenomena yang terjadi akibat dari penetrasi yang diberikan oleh peluru pada suatu material target. Pada perngujiann kali ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis bentuk peluru terhadap ketahanan balistik suatu material target.Pada pengujian ini menggunakan peluru berkaliber 4,5 mm yang ditembakan menggunakan senapan angin dengan menggunakan peluru jenis conical, flat, dan hemispherical, dengan massa 0.53 g, 0.6 g, dan 0.54 g, dengan kekerarasan masing masing 5.93 VHN, 5.93 VHN, dan 6.93 VHN, yang melewati sebuah lintasan peluru menuju plat baja 0,2 mm & 0,4 mm dengan nilai kekerasan 481.7 VHN dan 245.93 VHN sebagai material target yang dicekam oleh sebuah jig. Dengan menganalisa dari sisi crater (keliling, tinggi, dan volume), deformasi peluru, dan kedalaman peluru menembus balok sebagai wujud data kualitatif dari besarnya enegi yang diserap oleh plat baja, sehingga menghasilkan kecepatan sisa. Dari setiap variasi tersebut menghasilkan jenis kegagalan berupa kegagalan ulet dengan pembesaran lubang. Peluru conical memberikan kerusakan terbesar sekaligus energi yang diserap oleh pelat sangat besar, sedangkan peluru jenis hemispherical adalah penetrator terbaik.

ANALISA KEGAGALAN TERHADAP TUBE CRUDE OIL HEATER (FURNACE)

JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 1 (2014): VOLUME 2, NOMOR 1, JANUARI 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat pipa yang mengalami kebocoran. Kegagalan pipa ini terjadi di dalam furnace pada bagian elbow-180o yang beroperasi secara terus menerus selama 3 tahun pada suhu 454oC – 540oC. Pipa ini berfungsi untuk mengaliri minyak mentah (crude oil) menuju ke proses distilasi dalam industri pengolahan minyak. Secara visual tidak nampak keretakan diakibatkan oleh korosi, erosi dan kavitasi. Kemungkinan penyebabnya adalah creep failure atau thermal fatigue. Untuk membuktikan hal tersebut, maka dilakukan serangkaian pengujian seperti; pengujian komposisi kimia material, uji kekerasan Rockwell dan struktur mikro. Material uji sesuai dengan standar ASTM A 234 setelah dilakukan pengujian komposisi kimia material menggunakan spektrometer emisi. Retakan pada spesimen memperlihatkan retakan transgranular yang menunjukkan bahwa material ini adalah ductile yang merupakan ciri dari creep. Struktur mikro mengalami pembesaran dan perubahan fasa pada daerah retak yang menyebabkan terjadinya pelunakan. Hal ini diperkuat setelah dilakukan uji kekerasan yang menunjukkan perbedaan kekerasan yang terjadi pada daerah crack 94.25 HB dan 106.83 HB pada jarak ± 15 cm dari crack. Dapat disimpulkan bahwa material ini sesuai dengan standar ASTM A 234. Gejala retakan yang terjadi pada pipa diakibatkan oleh gejala creep pada material karena pipa beroperasi pada suhu yang tinggi dalam jangka waktu yang lama.

PENGARUH KONDISI PEMESINAN TERHADAP TEMPERATUR DAN DAYA PEMESINAN

JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cutting fluid adalah komponen yang sangat penting pada proses pemesinan (metal-cutting operation), selain untuk memperpanjang umur pahat cutting fluid dalam beberapa kasus mampu menurunkan gaya potong dan memperhalus permukaan produk hasil pemesinan. Kondisi pemesinan yang digunakan pada penelitian ini adalah pemesinan kering (tidak menggunakan cutting fluid), menggunakan cutting fluid dromus dan synthetic oil. Material benda kerja yang digunakan sebagai spesimen uji dalam penelitian ini adalah baja St 40. Dan untuk material pahat yang digunakan adalah berbahan PVD coated carbide. Untuk pengukuran temperatur dan daya pemesinan dilakukan dengan variasi kecepatan spindle yaitu 580, 850 dan 1400 rpm. Untuk gerak makan (feed) sebesar 0.204 mm/rev. Dan  depth of cut sebesar 1 mm. Dari pengujian tersebut diketahui kondisi pemesinan yang paling baik terhadap temperatur adalah kondisi pemesinan menggunakan cutting fluid synthetic oil. Sedangkan kondisi pemesinan yang paling baik terhadap daya pemesinan adalah kondisi pemesinan kering (dry).