Kusnandi Rusmil
Department of Child Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran-Dr. Hasan Sadikin General Hospital

Published : 41 Documents
Articles

Risk Factors of Psychosocial Disorder Patients with Thalassemia Mayor Adriani, Nia; Rusmil, Kusnandi; Hilmanto, Dany
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 2 February 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Introduction: Thalassemia is a chronic disease in which transfusion dependent could affectpsychosocial life. The aim of this study is to observe risk factors for psychosocial disorder.Methods: This was a cross sectional observational analytic study. Subjects were thalassemiaoutpatients aged 4-16 years in April-May 2011 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital. Psychosocial disorder was measured by pediatric symptom checklist (PSC) 17. Risk factors include age, female, education, low income of parents, history of psychological disorder in family, and length of the disease. Data were analyzed using chi-square, then logistic regression multivariate analysis.Results: From 96 children, 42 had psychosocial disorder. Bivariate analysis showed aged >10years was 2.7 times risk (OR 2.71, CI95%: 1.51-4.86, p<0.001), length of the diseases >10 years was 6.7 times risk (OR 6.69, CI95%: 1.74-25.75; p<0.001), low education of mothers was 8.8 times risk (OR 8.78, CI95%: 1.32-58.51, p<0.001), low income of parents was 9.7 times risk (OR 9.69, CI95%: 3.22-29.19, p<0.001). Female was not a risk factor (OR 1.16; CI95%: 0.74-1.82, p 0.531). Multivariate analysis showed low income of parents was 14.7 times risk (OR 14.7,  CI95%: 2.65-83.33, p<0.001) and duration of the disease was 55 times (OR 55.622, CI95%: 5.540-558.395, p<0.001).Conclusion: Risk factors of psychosocial disorder in patients with thalassemia major were lowincome parents and length of the disease. J Indon Med Assoc. 2012;62:56-9.Keywords: Psychosocial disorder, risk factors, thalassemia major
Knowledge and Attitude of Midwives in Private Practice on Vaccine Storage Mboe, Muliadi; Rahayuningsih, Sri Endah; Rusmil, Kusnandi
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 62 No. 10 October 2012
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Introduction: Immunization is the most effective strategy to decrease morbidity and mortality inchildren. Vaccine effectiveness is maintained by the application of proper vaccine storage according to the cold chain guidelines. All health-care workers who handle vaccines should know the standard procedure of vaccine storage and put them into daily practice. This study aims to determine the correlation between knowledge and attitude of midwives in private practice on the practice of vaccine storage.Methods: An analytic study using a cross-sectional design was conducted at private practicemidwives in Bandung from January to April 2012. The sample consist of 90 midwives. Correlation between knowledge and attitude of the midwives on vaccine storage practice was analyzed using the Pearson correlation test.Result: A significant positive correlation was found between knowledge and vaccine storagepractice (r=0.611, p<0.001), as well as the one between attitude and vaccine storage practice(r=0.623, p<0.001).Conclusion: The higher the knowledge and the more positive the attitude of the midwies, the better vaccine storage practice gets in private practice midwives. J Indon Med Assoc. 2012;62:402-6.Keywords: attitude, knowledge, private practice midwives, vaccine storage practice
Respon Imun terhadap Vaksin Influenza pada Remaja Dhamayanti, Meita; Rusmil, Kusnandi; Idjradinata, Ponpon
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Influenza merupakan penyakit yang mudah menular dengan mortalitas dan morbiditas tinggi serta sering menimbulkan kejadian  luar biasa, epidemi, dan pandemi. Pada anak  sekolah,  influenza menyebabkan  tingginya angka absensi dan remaja merupakan  sumber  penularan  terbesar .  Penelitian  dilakukan  untuk menilai  respons  imun    terhadap  vaksin influenza pada kelompok remaja 12–18 tahunpada bulan Juni–September 2008, di Puskesmas Garuda Bandung. Desain dilakukan dengan  intervensional,  longitudinal, acak sederhana, dan tersamar tunggal. Vaksin  influenza yang mengandung 3 jenis virus A/H1N1, A/H3N2 dan B, disuntikkan intramuskular. Pengambilan darah dilakukan pra dan pasca vaksinasi. Pemeriksaan kadar antibodi dilakukan dengan metode hemaglutinasi inhibisi (HI). Respons imun dinilai berdasarkan nilai serokonversi, dan peningkatan geometric mean titer (GMT). Subjek dibagi 2 kelompok, 69 (52,7%) remaja pertengahan (12–15  tahun) dan 62  (47,3%)  remaja akhir  (16–18  tahun). Semua  subjek  telah mempunyai kadar antibodi protektif HI>1:40 pascavaksinasi. Nilai serokonversi kedua kelompok berbeda bermakna pada pra  (p=0,02) dan pascavaksinasi (p=0,02). Serokonversi  terhadap virus A/H3N2 antara remaja pertengahan dan akhir berbeda bermakna pada pravaksinasi (p=0,02). Pada pra dan pascavaksinasi  terdapat peningkatan GMT bermakna  terhadap ketiga  jenis virus  influenza  (Zw 9,73; 9,19; 9,59 dan p=0,00). Simpulan, vaksinasi influenza pada remaja menghasilkan kadar protektif. Respons imun remaja pertengahan dan akhir  tidak berbeda, namun  remaja pertengahan  tampak   lebih  responsif.Kata Kunci: Influenza,  remaja,  responsimun, vaksin
Profil Keamanan setelah Pemberian Dosis Primer Vaksin Pentabio® pada Bayi di Indonesia Sundoro, Julitasari; Rusmil, Kusnandi; Sitaresmi, Mei Neni; Arhana, Arhana; Djelantik, I.G.G.; Hadinegoro, Sri Rezeki; Satari, Hindra Irawan; Syafriyal, Syafriyal; Bachtiar, Novilia Sjafri; Sari, Rini Mulia
Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v49n2.1052

Abstract

Vaksin Hib mulai digunakan pada Pogram Imunisasi Nasional sejak tahun 2013 secara bertahap dan di seluruh Indonesia mulai tahun 2014 dalam bentuk vaksin kombinasi DTP/HB/Hib (Pentabio®), yang memberikan  kekebalan terhadap difteria, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b. Studi ini menilai reaksi sitemik, reaksi lokal, dan reaksi yang serius pascaimunisasi dengan Pentabio®. Sebanyak 4.000 bayi penerima vaksin Pentabio®bergabung dalam studi ini. Reaksi yang timbul dicatat pada kartu harian oleh petugas yang sudah dilatih. Vaksin Pentabio®yang diamati pada PMS ini menggunakan vaksin rutin dari Program Imunisasi Nasional dalam waktu pengamatan 28 hari di empat propinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Bali, Yogyakarta, dan Jawa Barat pada periode Mei–Desember 2014. Sebanyak 3.978 data dapat dianalisis karena 22 di antaranya tidak memberikan informasi yang valid. Reaksi sistemik yang paling banyak timbul adalah demam 0,85% pada 30 menit pertama, dan meningkat menjadi 14,03% pada satu hari pascaimunisasi, kemudian sembuh pada hari berikutnya. Reaksi lokal yang paling sering timbul adalah nyeri pada tempat suntikan pada 67,6% subjek pada 30 menit setelah imunisasi, dan meningkat menjadi 87,23% pada 1 hari pascaimunisasi namun sembuh pada hari berikutnya. Mayoritas nyeri yang timbul adalah kategori ringan. Tidak ditemukan kejadian ikutan pascaimunisasi serius selama pengamatan. Simpulan, reaksi lokal dan sistemik pascaimunisasi dengan Pentabio® dapat ditoleransi pada bayi. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Kata kunci: Bayi, Pentabio®, post marketing surveillance, reaksi lokal, reaksi sistemik   Safety Profile Following Pentabio® Primary Dose Vaccination in Indonesian Infants   Since 2013 Indonesian Expanded Program on Immunization (EPI) has  graduallyincluded Hib vaccine into routine EPI schedule in four provinces and has established the vaccine inclusion in the the nationwide program through integration of Hib vaccine into existing DTP/HB vaccine in the form of pentavalent vaccine (DTP/HB/Hib). Pentabio® vaccine is given to provide protection against diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B, and Hib infection in infants and children under 5 years old.  The objective of this study was to assess the systemic reactions, local reactions, and any serious adverse event after Pentabio® immunization. About 4,000 infants were involved in this study. Systemic and local reactions were recorded on diary cards by trained health care provider. Pentabio® vaccines in this PMS were obtained from the National Immunization Program within 28 days of observation in four provinces, West Nusa Tenggara, Bali, Yogyakarta, and West Java in May–December 2014. In total, 3,978 infants were analyzed, while the other 22 forms were not included due to incomplete information. The most common systemic reaction was fever, found in 0.85% of the subjects at 30 minutes after injection, and increased to 14.03% at day 1 (one) after immunization, which disappeared the day after. The most common local reaction was pain, which was found in 67.6% subjects at 30 minutes after injection, and increased to 87.23% at day 1 (one) after immunization to disappear the day after. The intensity of the pain was mostly mild. No serious adverse event following immunization found during observation. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Key words: Infants, local reactions, Pentabio®, post marketing surveillance, systemic reactions 
Imunogenisitas dan Keamanan Vaksin Tetanus Difteria (Td) pada Remaja sebagai Upaya Mencegah Reemerging Disease di Indonesia Fadlyana, Eddy; Rusmil, Kusnandi; Garna, Herry; Suwarman, Iwin; Adi, Soenarjati Soedigo; Bachtiar, Novila Sjafri
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Di Indonesia berpotensi terjadi reemerging disease difteria akibat belum adanya program imunisasi ulang yang berkesinambungan pada remaja. Untuk menilai imunogenisitas dan keamanan vaksin tetanus, difteria (Td) yang diberikan sebagai imunisasi ulang pada remaja, dilakukan uji klinis prospective, randomized double-blind controlled terhadap 296 pelajar remaja sehat di kota Bandung, usia 10–18 tahun, pada September 2007–September 2008. Sebanyak 296 remaja sebagi subjek penelitian, dibagi 2 kelompok secara acak sederhana. Kelompok I mendapat dosis suntikan 0,5 mL yang diberikan intramuskular. Kelompok II mendapat vaksin TT sebagai kontrol. Pemeriksaan darah dilakukan sebelum dan 1 bulan setelah imunisasi menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assays (ELISAs). Data tentang keamanan dikumpulkan sampai 1 bulan sejak imunisasi menggunakan buku harian. Konsentrasi antibodi seroproteksi (0,1 IU/mL) terhadap difteria dan tetanus mencapai  93,2% and 100,0%. The geometric mean titer (GMT) terhadap difteria meningkat bermakna dari 0,0618 IU/mL ke 0,7583 IU/mL (p<0,001), dan terhadap tetanus meningkat bermakna dari 0,4413 IU/mL ke 14,4054 IU/mL (p<0,001). Nyeri pada tempat suntikan terjadi pada 20,3% kelompok Td dan 18,2% pada TT (p=0,028). Demam >37,5°C sedikit terjadi pada kedua kelompok (Rentang Td: 0,7-4,7%; Rentang TT: 3,4–6,7%). Tidak terdapat reaksi serius dan semua penerima vaksin dapat menerimanya dengan baik. Imunisasi ulang Td meningkatkan kadar immunoglobulin spesifik protektif terhadap difteria dan tetanus, serta aman diberikan pada remaja.
The occurrence of pulmonary hypertension in patients with thalassemia major Basri, Hasan; Firman, Armijn; Rusmil, Kusnandi; Fadlyana, Eddy
Paediatrica Indonesiana Vol 43 No 5 (2003): September 2003
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.461 KB) | DOI: 10.14238/pi43.5.2003.162-4

Abstract

Background The life of patients with thalassemia major dependson blood transfusions, while repeated blood transfusions may causeadverse effects such as iron deposition in various organs, includ-ing heart and lungs, which eventually increases the pulmonaryarterial pressure.Objective This study was proposed to know the occurrence ofpulmonary hypertension in patients with thalassemia major, mea-sured by echocardiography in the Thalassemia Clinic, Departmentof Child Health, Medical School, Padjadjaran University/HasanSadikin Hospital, Bandung.Methods A descriptive cross-sectional study was carried outon 30 patients with thalassemia major, aged 10-14 year-old whoreceived repeated blood transfusions. The study was conductedfrom April to May 2002. Subjects were examined right after ablood transfusion completed and the pulmonary arterial pres-sure was assessed using Doppler–echocardiography and 2-Dechocardiography.Results Twenty two out of 30 subjects showed pulmonary hyper-tension, with pulmonary arterial pressure ranged between 32.3 to46.2 mmHg. According to the age group, pulmonary hypertensionwas found in 12 out of 17 subjects aged 10-12 years old and 10out of 13 subjects aged 13-14 years old.Conclusion The occurrence of pulmonary hypertension in patientswith thalassemia major at Hasan Sadikin Hospital was 22/30 andseemed to increase with the age of the patients
The Safety of Haemophilus influenzae Type b/Polyribosylribitol phosphate-Tetanus (Hib/PRP-T) Vaccine, Phase I Study Rusmil, Kusnandi; Fadlyana, Eddy; Gunadi, Rachmat; Bachtiar, Novilia Sjafri; Hadyana, Hadyana
International Journal of Integrated Health Sciences VOL 3, NO 2, September (2015)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To assess the safety and immunogenicity of Haemophilus influenzae type b/polyribosylribitol phosphate-Tetanus (Hib/PRP-T) liquid vaccine in healthy adults.Methods: An open label prospective intervention phase I study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from November to December 2010. Healthy adults aged 18−40 were eligible to participate. Participants received one dose of Hib/PRP-T liquid vaccine. Blood samples were taken before, 4 days and 1 month after vaccination. For a 28-day period following vaccination, solicited adverse events were collected in the subjects’ diary and assessed afterward. Results: Neither local reactions nor immediate systemic events were observed during a 30-minute period after immunization. There were no serious local or systemic reactions in this study. All of local and systemic reactions observed were slight, transient, self-limiting in time, without lasting for more than 72 hrs. after the administration of the vaccine, and resolved without any medical intervention. Hematologic and biochemical indices before and 4 days after vaccination showed in normal limits. All subjects (100%) reached protective levels of antibodies (seroprotectivity) against Hib. All subjects demonstrated antibodies performing high bactericidal activities 1 month after immunization. Conclusions: This study demonstrated that liquid Hib/PRP-T vaccine is highly immunogenic and have a beneficial safety when administered to healthy adults. Keywords: Adults, Hib vaccines, immunogenicity, safety DOI: 10.15850/ijihs.v3n2.584
Hubungan Status Gizi dan Perkembangan Anak Usia 1 - 2 Tahun Gunawan, Gladys; Fadlyana, Eddy; Rusmil, Kusnandi
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.142-6

Abstract

Latar belakang.Pada umumnya usia 1-2 tahun pertama kehidupan akan menentukan kualitas hidup anak di kemudian hari. Tujuan. Mengetahui gambaran perkembangan anak usia 1-2 tahun dan status gizi. Metode.Penelitian dilakukan di tiga Puskesmas Garuda, Ibrahim Aji, dan Puter yang terdiri dari 24 Posyandu di Kabupaten Bandung. Penelitian dilakukan dilakukan secara cross sectionaldengan subjek anak usia 1-2 tahun yang sehat dan kooperatif pada saat pemeriksaan, serta orang tua menyetujui ikut dalam penelitian. Tes perkembangan dilakukan oleh satu dokter anak dan dua dokter (residen) dengan menggunakan KPSP (Kuesioner Pra Skrening Perkembangan). Empat aspek perkembangan yang dinilai yaitu motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa, sosial dan kemandirian. Penelitian dilakukan dari tanggal 15 November 2010 sampai 30 November 2010. Hasil.Jumlah subjek 321 anak usia 1–2 tahun dan yang memenuhi kriteria inklusi 308 anak, terdiri dari 164 laki-laki (53,2%) dan 144 perempuan (46,8%). Anak yang mengalami perkembangan normal 278 anak (90,22%) dan meragukan 30 anak (9,78%). Sedangkan status gizi dinilai berdasarkan BB/PB, hasil normal 277 anak (89,9%) dan kurus 31 anak (10,10%). Dari 31 anak dengan status gizi kurang, di antara 2 anak di antaranya mengalami perkembangan meragukan dan dari 28 anak dengan perkembangan meragukan mempunyai status gizi normal. Kesimpulan.Tidak terdapat hubungan antara gangguan perkembangan dengan status gizi (p=0,394) begitu juga dengan status gizi dengan kondisi ekonomi (p=2,500) dan perkembangan dengan status ekonomi (p=0,336). Dari perkembangan dengan nilai meragukan adalah motorik kasar (6,17%), motorik halus (0,65%), bicara dan bahasa (4,54%), serta sosialisasi dan kemandirian (2,92%). Faktor-faktor yang berhubungkan dengan status perkembangan adalah umur anak (p=0,009). Perlu upaya untuk mengevaluasi perkembangan yang meragukan dan perlu penelitian lanjut dengan pembanding.
Wabah Difteri di Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia Rusmil, Kusnandi; Chairulfatah, Alex; Fadlyana, Eddy; Dhamayanti, Meita
Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.6.2011.397-403

Abstract

Latar belakang.Sejak tahun 1986 tidak ditemukan lagi kasus difteri yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Jawa Barat. Namun, wabah difteri selalu terjadi di beberapa kabupaten di Jawa Barat seperti yang dilaporkan sejak tahun 1993 sampai tahun 2010. Kementerian Kesehatan juga melaporkan peningkatan kasus difteri di beberapa provinsi di Indonesia tahun 2010. Suatu penelitian saat wabah di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur tahun 2001 sebagai gambaran kejadian wabah di salah satu kabupaten di Jawa Barat.Tujuan. Menggambarkan kejadian wabah difteri, mengetahui tingkat kekebalan dengan mengukur kadar antibodi difteri dan untuk menemukan kemungkinan adanya kuman C. difteriaeberedar di masyarakat di daerah wabah.Metode. Data kejadian penyakit dan kematian diperoleh dari Puskesmas Cikalong Wetan RS Cianjur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur. Data kadar antibodi diperoleh dengan mengukur kadar anti bodi terhadap difteri pada 698 subyek, yang dibagi menurut kelompok usia. Titer antibodi diukur dengan menggunakan teknik ELISA ganda.Hasil.Selama wabah terdapat 25 kasus yang dilaporkan dari Puskesmas Cikalong Wetan dengan angka kematian/crude fatality rate(CFR) 28%. Diduga kuat bahwa kasus pertama berasal dari kecamatan yang berdekatan dengan Kecamatan Cikalong Wetan. Beberapa bulan sebelumnya dijumpai kasus rawat inap 21 pasien, 55% di antaranya balita, dengan angka kematian 35% terutama disebabkan oleh miokarditis. Walaupun cakupan imunisasi difteri pertusis tetanus (DPT) tinggi pada anak kurang dari 1 tahun di Kecamatan Cikalong Wetan, hanya 19,3% anak usia 1 tahun memiliki tingkat kekebalan protektif yang memadai. Titer antibodi terus berkurang sesuai dengan meningkatnya usia anak, bahkan tidak ada subjek yang memiliki kadar protektif yang memadai pada kelompok usia 5 – 6 tahun. Enam dari 324 biakan apus tenggorokan pada masyarakat tumbuh strain toxigenic C. difteriae gravis.Kesimpulan.Wabah yang terjadi di Kecamatan Cikalong Wetan Kabupaten Cianjur disebabkan oleh karena rendahnya kadar antibodi terhadap toxigenic C.difteriaepada masyarakat.
Perbandingan Manfaat Vaksin Oral Polio 1 (Monovalen) dengan Vaksin Oral Polio Trivalen Terhadap Transmisi Virus Polio 1 dalam Upaya Mengatasi Kejadian Luar Biasa Polio 1 di Indonesia Tahun 2005: ditinjau melalui respons imun dan keamanannya Rusmil, Kusnandi
Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.1.2009.71-8

Abstract

Latar belakang. Indonesia menggunakan trivalent oral polio vaccine (tOPV) sejak tahun 1977 dan sejak tahun 1995 tidak pernah ditemukan lagi kasus poliomelitis. Pada Maret 2005 terjadi kejadian luar biasa (KLB) polio yang meluas ke seluruh pulau Jawa dan Sumatera. Berdasarkan pengalaman negara yang berhasil mengatasi KLB, penggunaan monovalent oral polio vaccine (mOPV) sesuai penyebab KLB memberikan hasil lebih cepat dibandingkan tOPV.Tujuan. Melihat manfaat pemberian mOPV1 dibandingkan dengan tOPV ditinjau dari imunogenisitas dan keamanan vaksin.Metode. Penelitian dilakukan pada anak berumur 0-12 bulan, menggunakan mOPV1 dan tOPV saat saat Pekan Imunisasi Nasional tahun 2005.Hasil. Penelitian menunjukkan sero konversi pada kelompok mOPV terdapat pada 19 subjek dan tOPV pada 2 subjek, dengan titer rerata masing-masing 69,47 dan 48. Proporsi kenaikan titer ≥4 kali kelompok mOPV1 40,5%, tOPV 27,2% (X2=5,49; p=0,014). GMT kelompok mOPV1 21,9 menjadi 54,84 (Zw=5,45; p<0,001); kelompok tOPV 42,93 menjadi 52,30 (Zw=1,488; p=0,137). Ekskresi virus polio 1 pada hari ke-7 dan ke-21 setelah pemberian mOPV1 berturut-turut 38%, dan 4% (p<0,001), pada kelompok tOPV berturut-turut 26%, dan 14% (X2=1,65; p=0,125).Kesimpulan. Respon imun mOPV1 memberikan respons yang lebih baik dibandingkan dengan tOPV dan kedua kelompok vaksin mempunyai keamanan yang sama, tidak ditemukan reaksi KIPI yang berat selama penelitian.