Articles

Found 6 Documents
Search

KEANEKARAGAMAN ASPERGILLUS PADA BERBAGAI TRADISIONAL SIMPLISIA JAMU Rukmi, Isworo
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 17 Issue 2 Year 2009
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT---The  presence  of Aspergillas sp. in the simplisia  commonly consumed by Javanese people as a  traditional  medicine has been done. The  eight  simplisia  examined were:  kunyit  rhizome (Cucurma domesfica Val.), temuireng  rhizome (Cucurma aeroginosae), daun sambiloto (Andrographis paniculata), temulawak rhizome (Cucurma xanthorhizu), and mahkota  dewa (Phaleria macrocarpa). Sixteen Aspergillus  species were found from the samples, came from the niger,  flavus, versicolor, wentii, fumigatus, ochraceus dan ornatus  group.  Isolates found  in  this  study  were A. parositicus, A. flavas,  A. oryzae, A. tamarin, A. clavato-flavus, A. flavofurcatis, A. tubingiensis, A. awamori, A. ochraceus, A. sulphureus, A. melleus, A. ornatus, A. brunneo-uniseriatus, A. versicolor, A.  wentii, and A. fumigatus,  the first six are the member of flavus group  that  found  in  all  simplisia samples. Nine species of the isolatesknown as mycotoxin producers.Keywords : Aspergillus, simplisia, mikotoksin
Flavonoids Production Capability Test of Tea Mistletoe (Scurrula atropurpurea BL . Dans) Endophytic Bacteria Isolates Priyanto, Jepri Agung; Pujiyanto, Sri; Rukmi, Isworo
JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA Volume 22 Issue 4 Year 2014
Publisher : JURNAL SAINS DAN MATEMATIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.599 KB)

Abstract

Tea Mistletoe (S. Atropurpurea BL. Dans) is a medicinal plant species used as anticancer because it contains some flavonoids compounds are chalcones, c-glycoflavonols, chatechin and quercetin. The ability of endophytic bacteria to produce similar bioactive compounds with its host plant is potential source to get flavonoids compounds. This research aims to know ability of endophytic bacteria in produce flavonoids compounds in vitro. Each isolate was fermented in submerged culture with 0.1% soluble starch, 0.5% pepton, and 0.15% yeast extract medium for 5 days, then extracted with ethyl acetate. Flavonoid content of the extract then was tested qualitatively and confirmation test used thin layer chromatography. Qualitative test results showed that crude extract from isolates B4, B5, B10, B17, and B19 positive containing flavonoids. The most potent extract were B10 and B19 tested by thin layer chromatography. Two of these extracts had the same Rf value with quercetin, thus endophytic bacteria from tea mistletoe can produce flavonoids in vitro.
Kempong, A Traditional Fermented Food in Karangpucung Kidul village, Linggapura Bumiayu, Central Java: Fermentation Agent and Their Roles Rukmi, Isworo; Arfina, Devia Kusmawati; Kusdiyantini, Endang
Indonesian Food and Nutrition Progress Vol 14, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Association of Food Technologists

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ifnp.24257

Abstract

Kempong is a traditional fermented food that is found only in South Karangpucung    Linggapura Bumiayu village, Central Java. It is prepared from palm kernel cake (PKC).  This fermented food is consumed mostly everyday by the people in the village as a side dish or snack. Study on the mold important in the kempong fermentation was done by isolating molds from kempong, PKC, laru and the air of preparation room. Eleven species of molds were successfully isolated from different samples. Among the mold isolates three species came out from kempong product, i.e. R. oryzae, E. chevaliery and A. oryzae. The isolates showed the capability in producing amylase, protease, lipase, and cellulase. Both R. oryzae and A. oryzae indicated as the main fermentation mold in kempong production, because the inoculum laru only contained these two species.
Eksplorasi Mikroorganisme Termofil Indigenous Dari Sumber Air Panas Gedongsongo Sebagai Penghasil Ensim Termostabil Rukmi, Isworo; Lunggani, Arina Tri; Suprihadi, Agung; Raharjo, Budi
Berkala Bioteknologi Volume 1 Nomor 1 April 2018
Publisher : Berkala Bioteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Mikroorganisme termofil merupakan suatu sumber untuk mendapatkan ensim ektraseluler termotoleran yang penting dalam indusri. Isolasi bakteri termofil dari dua sampel air yang berasal dari sumber air panas geotermal di Gedongsongo Jawa  Tengah pada lokasi yang telah ditentukan ini bertujuan untuk mendapatkan isolat-isolat bakteri termofil indigenous  yang potensial menghasilkan ensim amilase, protease dan selulase termotoleran. Isolasi dilakukan dengan medium selektif Skim Milk Agar, CMC Agar dan Nutrien Amilum Agar. Inkubasi dilakukan pada suhu 55oC. Koloni yang menunjukkan aktivitas ensim diisolasi ke dalam medium Nutrient Agar. Uji aktifitas ensim dilakukan pada medium yang mangandung skim milk untuk protease, amilum untuk amilase dan CMC untuk selalulase, inkubasi dilakukan pada 55oC selama 72 jam. Pengamatan morfologi dan sifat gram isolat juga dilakukan. Penelitian ini menghasilkan  4 isolat bakteri proteolitik termotoleran yang terdiri dari 2 isolat gam positif kokus dengan indeks proteolitik tertinggi  1,40;   2 isolat gram negatif kokus dengan indeks proteolitik tertinggi 3.5. Enam isolat bakteri amilolitik termofil  terdiri dari 2 isolat gram positif kokus, 2 isolat gram negatif kokus, satu  isolat gram positif batang dan satu  isolat gram negatif batang . Indeks amilolitik berkisar dari 1,29-2,50.   Tujuh bakteri selulolitik termofil terdiri dari 5 isolat gram positif kokus dengan indeks selulolitik tertinggi 5,0;  satu  isolat kokus gram negatif, dengan indeks selulolitik 7,5 satu isolat batang gram positif dengan indeks selulolitik 3,0. Kata kunci: termofil, bakteri, amilase, protease, selulase
PRODUKSI INULINASE DARI UMBI DAHLIA (Dahlia variabilis) OLEH Pichia manshurica DUCC Y-015 DENGAN VARIASI WAKTU INKUBASI DAN KONSENTRASI GLUKOSA SEBAGAI SUMBER KARBON TAMBAHAN Fitrania, Fathika; Rukmi, Isworo; Wijanarka, Wijanarka
Jurnal Akademika Biologi Vol. 7 No.2 April 2018
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Produksi fruktosa secara langsung dari inulin oleh inulinase hanya memerlukan satu tahap reaksi enzimatis dan menghasilkan 95% fruktosa. Inulin diperoleh dari tepung umbi dahlia dan inulinase diproduksi Pichia manshurica DUCC Y-015. Produksi inulinase (E.C. 3.2.1.7) dapat dipengaruhi oleh keberadaan glukosa sebagai sumber karbon tambahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi glukosa dan waktu inkubasi terhadap produksi inulinase khamir P. manshurica DUCC-Y015 dalam substrat umbi dahlia. Pengukuran produksi enzim meliputi aktivitas inulinase dan aktivitas invertase. Aktivitas inulinase dan invertase dianalisis dengan metode DNS dan ditentukan berdasarkan 1 µmol fruktosa yang dihasilkan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor I berupa konsentrasi glukosa 0% (G0) ; 0,25%  (G1) ;  0,5% (G2) dan faktor II berupa waktu inkubasi 6 jam (T6), 12 jam (T12), dan 18 jam(T18) dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi glukosa, perbedaan waktu inkubasi maupun  interaksi keduanya berpengaruh tidak signifikan  terhadap produksi enzim inulinase. Produksi enzim inulinase  tertinggi dari P. manshurica DUCC Y-015 ditunjukkan oleh perlakuan G1T12 dengan konsentrasi glukosa sebesar 0,25%  dan waktu inkubasi 12 jam dengan nilai aktivitas enzim sebesar 0,574 IU/mL. 
Optimasi Pertumbuhan Bakteri Laut Salinicola peritrichatus LBF-1-0025 dalam Senyawa Alkana Lingga, Ratna Cempaka; Thontowi, Ahmad; Yetti, Elvi; Budiharjo, Anto; Rukmi, Isworo; Yopi, Yopi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.11 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v12i2.344

Abstract

AbstrakPentana, dekana, pentadekana, dan parafin merupakan jenis kelompok senyawa alkana yang tidak dapat larut dalam air dan sulit terdegradasi. Sifat ini yang menjadikan senyawa alkana dapat mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum senyawa alkana bagi pertumbuhan isolat LBF-1-0025 dan mengidentifikasinya secara molekuler berdasarkan gen 16S rDNA. Dari skrining awal diketahui bahwa isolat LBF-1-0025 memiliki potensi tinggi dalam mendegradasi senyawa pentana, dekana, pentadekana, dan parafin. Optimasi pertumbuhan isolat LBF-1-0025 pada beberapa senyawa alkana dilakukan dengan menumbuhkannya dalam medium Artificial Sea Water (ASW) yang mengandung beberapa konsentrasi senyawa pentana, dekana, pentadekana, dan paraffin. Isolat LBF-1-0025 mampu tumbuh secara optimal pada pentana 150 ppm, dekana 200 ppm, pentadekana 150 ppm, dan parafin 200 ppm setelah 3 hari inkubasi. Hasil analisis sekuen gen 16S rDNA, bakteri LBF-1-0025 memiliki kemiripan sebesar 97% dengan Salinicola peritrichatus DY22.The Growth Optimization of Marine Bacteria  Salinicola  peritrichatus LBF-1-0025 in AlkanesAbstractPentane, decane, pentadecane, and paraffin are kind of groups of alkane compounds that are insoluble in water and difficult to degrade. This characteristic cause alkane compounds to pollute the environment. The aims of this research were to determine the optimum concentration of alkane compounds for the growth of isolate LBF-1-0025 and molecular identification based on 16S rDNA gene. From initial screening test, it was known that isolate LBF-1-0025 had high potential in degrading pentane, decane, pentadecane and paraffin compounds. Growth optimization of isolate LBF-1-0025 on several alkane compounds were carried out by culturing it in ASW medium containing various concentration of alkane (pentane, decane, pentadecane, and paraffin). Isolate LBF-1-0025 had optimum growth in pentane 150 ppm, decane 200 ppm, pentadecane 150 ppm and paraffin 200 ppm after 3 days incubation. Result analysis of 16S rDNA gene showed that isolate LBF-1-0025 had a similarity of 97% with  Salinicola  peritrichatus DY22.