Rasmia Rowawi
Department of Dermato-Venereology Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS

Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel,  dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM anti virus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis.   Kata kunci: AIDS, herpes genitalis,  terapi

Sifilis Laten: Diagnosis dan Pengobatan

Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Sifilis laten merupakan stadium sifilis yang diakibatkan oleh T. pallidum yang masih menetap dalam tubuh, namun tidak menunjukkan gejala dan hanya menunjukkan hasil pemeriksaan serologis yang reaktif. Sifilis laten yang tidak diterapi dapat menetap bertahun-tahun atau seumur hidup dan dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Ibu hamil dengan sifilis laten dini akan menyebabkan sekitar 40% bayi yang dilahirkankannya tertular, 20% prematur, 10% lahir mati, dan 4% meninggal pada waktu dilahirkan. Diagnosis sifilis laten dini ditegakkan bila dalam 12 bulan terakhir ditemukan satu atau lebih dari tanda-tanda berikut ini: peningkatan titer VDRL/RPR sebanyak empat kali atau lebih; pada anamnesis didapatkan gejala sifilis primer dan sekunder; riwayat kontak seksual dengan seseorang yang didiagnosis atau diduga menderita sifilis primer atau sifilis sekunder atau sifilis laten dini; serta kontak seksual dengan seseorang dengan tes VDRL atau RPR dan TPHA reaktif. Pengobatan yang direkomendasikan untuk sifilis laten dini adalah benzatin penisilin 2,4 juta UI, IM, dosis tunggal, sedangkan pada sifilis laten lanjut, benzatin penisilin 2,4 juta UI, IM, diberikan 3 kali dengan interval satu minggu. Pemeriksaan serologis sifilis non- treponemal (VDRL atau RPR) dilakukan setelah pengobatan 3, 6, 12, dan 24 bulan untuk menilai keberhasilan pengobatan.   Kata kunci: Diagnosis, silifis laten, terapi  

Knowledge and Attitude of Senior High School Students in Jatinangor towards Sexually Transmitted Infections in 2013

Althea Medical Journal Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Sexually transmitted infections (STIs) are major health problem. Until today, the prevalence of STIs is still high and the incidence is increasing. Almost half of STIs new cases occur in adolescents andyoung adults. It is assumed that there is a positive correlation of knowledge about STIs with attitude and practices; therefore, giving proper information of STIs to adolescents could influence their safe sexual practices, and further, it can prevent STIs to occur. The objective of this study is to discover knowledge and attitude of senior high school students in Jatinangor towards STIs.Methods: This descriptive study was conducted in Sekolah Menengah Atas Persatuan Guru Republik Indonesia (SMA PGRI) Jatinangor and Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Jatinangor from May to September 2013. Questionnaires were completed by 278 respondents selected by stratified cluster random sampling.Results: More than half respondents had poor knowledge about STIs (56.5%) while 53.2% of the respondents had positive attitude towards STIs. Most mentioned choices as the information source of STIs were teacher(66.5%), followed by television/radio (45.3%), friends (37.8%), newspaper/magazine (21.2%), mother (16.2%), sibling (7.2%), and father (6.5%). Conclusions: More detail information about STIs is needed by adolescents as a way to encourage safe sexual practices. Teacher and parents are expected to be the source information of STIs while mass media can alsobe used to educate adolescents. Education on STIs for teachers is also needed since they are as the main source for educating the adolescents. [AMJ.2015;2(4):568–74] DOI: 10.15850/amj.v2n4.655

Laporan Kasus: Neurosifilis Asimtomatik pada Pasien Sifilis Sekunder dengan Koinfeksi Human Immunodeficiency Virus

SyifaMEDIKA:Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2017): Syifa Medika
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (807.307 KB)

Abstract

Neurosifilis merupakan infeksi pada sistem saraf pusat yang disebabkan invasi sawar darah otak oleh Treponema pallidum yang umumnya terjadi pada pasien sifiis koinfeksi dengan human immunodeficiency virus (HIV). Neurosifilis umumnya terjadi pada sifilis tersier, tetapi dapat pula terjadi pada stadium lainnya, termasuk stadium sekunder. Diagnosis neurosifilis asimtomatik ditegakkan apabila didapatkan serum venereal disease research laboratory (VDRL) yang positif tanpa tanda dan gejala neurologis disertai satu dari karakteristik berikut pada pemeriksaan liquor cerebrospinal (LCS): (1) jumlah leukosit > 10/mm3; (2) protein total > 50 mg/dL; (3) hasil VDRL reaktif. Dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun dengan sifilis sekunder koinfeksi HIV tanpa ditemukannya tanda dan gejala neurologis. Kecurigaan neurosifilis pada pasien ini disebabkan oleh kegagalan terapi pada sifilis sekunder, status HIV dengan jumlah CD4+ 106/mm3, dan serum VDRL 1:256. Diagnosis neurosifilis pada laporan kasus ini ditegakkan berdasarkan pemeriksaan LCS yang menunjukkan hasil VDRL yang reaktif,peningkatan jumlah leukosit dan protein total. Pasien ini diberikan penisilin G prokain 2,4 juta unit tanpa probenesid yang diberikan secara intramuskular selama 14 hari. Pada pasien sifilis koinfeksi HIV dapat dicurigai neurosifilis apabila ditemukan salah satu karakteristik berikut: (1) tidak terjadi penurunan titer VDRL setelah terapi benzatin penisilin; (2) serum VDRL/rapid plasma reagin (RPR) ≥ 1:32; (3) jumlah CD4+ < 350 sel/mm3. Kegagalan terapi pada sifilis sekunder dapat disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum pada sistem saraf pusat. Simpulan, dilaporkan satu pasien usia 35 tahun dengan neurosifilis asimtomatik yang diberikan terapi penisilin G prokain 2,4 juta unit tanpa probenesid selama 14 hari. Pemeriksaan serum VDRL pada bulan ketiga pasca terapi belum mengalami penurunan titer. 

Mycoplasma Genitalium Infection Prevalence in Patients with Human Immunodeficiency Virus

International Journal of Integrated Health Sciences VOL 2, NO 1, July (2014)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To determine the prevalence of Mycoplasma genitalium (M. genitalium) infection in HIV positive patients by PCR examination in Teratai Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung in order to reduce sexually transmitted diseases, especially M. genitalium infection in HIV positive patients.Methods: This study was a cross-sectional study with consecutive sampling methods. Eighty one HIV positive patients attending the Teratai Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung were recruited to be the subjects of this study. All subjects underwent history taking, physical examination, and PCR examination for M. genitalium. Specimens were taken from cervical smear in females and first void urine in male.Results: The prevalence of M. genitalium based on the PCR examination in HIV positive patients attended to Teratai Clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung was 9%. Conclusions: Mycoplasmal infection identification based on PCR examination should be considered for routine screening test to reduce the incidence of sexually transmitted diseases in HIV positive patients.Keywords: Human immunodeficiency virus, Mycoplama genitalium, polymerase chain reaction DOI: 10.15850/ijihs.v2n1.274

Gonorrhoea Infection Prevalence in Human Immunodeficiency Virus Positive Patients Based on Polymerase Chain Reaction Examination

International Journal of Integrated Health Sciences VOL 2, NO 1, July (2014)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To determine the prevalence of gonorrhoea infection in male and female HIV positive patients based on polymerase chain reaction (PCR)  examination at the Teratai Clinic, Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Methods: This study was conducted in July, 2012 at the Teratai Clinic, while the PCR examination was performed at the Molecular Biology Laboratory of Microbiology Department, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung. This was a cross-sectional observational study. The subjects were 81 HIV positive patients who were taken in consecutive admission. They underwent history taking and physical examination. Samples were taken from urethral swab in males and cervical swab in females for PCR examination.Results: The PCR examination result was positive for gonorrhea in 36% subjects. From all male subjects participating in the study, 37% were positive while 33% of the female subjects were also positive for gonorrhea. Conclusions: The prevalence of gonorrhoea infection in male and female HIV positive patients at the Teratai Clinic, Dr. Hasan  Sadikin  General Hospital  Bandung is quite high, i.e 37% and 33%, respectively.Keywords: Gonorrhoea, human immunodeficiency virus, polymerase chain reaction, prevalence DOI: 10.15850/ijihs.v2n1.270

Manifestasi Erupsi Alergi Obat Antiretroviral Pada Pasien HIV/AIDS di Klinik Teratai Rsup Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2005 – 2014

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.647 KB)

Abstract

Kasus human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) telah menjadi masalah kesehatan dunia. High active antiretroviral therapy (HAART) telah menurunkan angka kematian dan kesakitan pada pasien HIV. Pasien HIV memilki risiko tinggi mengalami erupsi alergi obat dibandingkan masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi manifestasi erupsi alergi obat ARV pada pasien HIV/AIDS periode 2005–2014 di Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien HIV/AIDS dengan erupsi alergi obat ARV di Klinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2005–2014. Dalam penelitian ini didapatkan sebanyak 111 pasien HIV/AIDS mengalami erupsi alergi obat karena ARV. Erupsi alergi obat ARV banyak terjadi pada wanita (55%) dan pada rentang usia 20-29 tahun (55%). Jumlah CD4 pada pasien HIV/AIDS dengan erupsi alergi obat saat pertama kali terdiagnosis HIV terbanyak adalah <200 sel/mm3 (55%). Manifestasi kulit yang paling umum terjadi adalah ruam makulopapular (89,7%). Reaksi erupsi alergi obat umumnya disebabkan oleh nevirapin (82,5%). Dari penelitian ini didapatkan bahwa ruam makulopapular merupakan manifestasi erupsi alergi obat ARV yang paling sering muncul. Obat yang paling banyak ditemukan menyebabkan erupsi alergi obat adalah nevirapin. Kata kunci: erupsi alergi obat, HIV/AIDS, obat ARV

Laporan Kasus: Kutil Kelamin pada Uretra dan Meatus Uretra yang Diterapi dengan Krim 5-Fluorourasil 5%

Syifa'MEDIKA:Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2018): Syifa' Medika
Publisher : Faculty of Medicine University of Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.477 KB)

Abstract

Angka kejadian kutil kelamin (KK) di seluruh dunia terus meningkat. Sampai saat ini belum terdapat terapi yang lebih unggul dibanding dengan terapi lainnya. Krim 5-fluorourasil (5-FU) 5% merupakan salah satu terapi untuk KK pada meatus uretra dan uretra. Krim 5-FU 5% adalah antimetabolit pirimidin fluorinated yang memiliki fungsi sebagai agen antineoplastik dengan menghambat sintesis DNA. Seorang pasien laki-laki berusia 27 tahun dengan KK tipe kondiloma akuminta (KA) di  meatus uretra dan uretra. Pada meatus uretra dan uretra tampak lesi papula ukuran 0,3x0,5x0,2 cm, sewarna kulit dan mukosa dengan permukaan yang tidak rata, pemeriksaan acetowhite positif, dan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) positif untuk HPV tipe 6. Pasien diterapi  dengan krim 5-FU 5% yang diaplikasikan 3 hari berturut-turut setiap minggu per siklus. Setelah mengaplikasikan krim 5-FU 5% selama 3 siklus, didapatkan lesi pada meatus uretra dan uretra menghilang pada pengamatan hari ke-29 serta tidak timbul lesi baru hingga hari ke-180. Hasil, krim 5-FU 5% untuk KK pada meatus uretra dan uretra memiliki efektivitas yang bervariasi, berkisar 25-95%, dan  rekurensi sebesar 50%. Penggunaan krim 5-FU 5% efektif untuk lesi KK berukuran kecil pada meatus uretra dan uretra, dapat diaplikasikan sendiri oleh pasien, mudah digunakan, dan murah. Simpulan, krim 5-FU 5% merupakan terapi yang efektif untuk KK di meatus uretra dan uretra. 

PREVALENCE OF TRICHOMONIASIS IN ASYMPTOMATIC PREGNANT WOMEN POPULATION IN BANDUNG, WEST JAVA, INDONESIA

Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Institute of Topical Disease

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.553 KB)

Abstract

About 81% of pregnant women with trichomoniasis are asymptomatic, while trichomoniasis in pregnant women can increase the risk of complications, include premature rupture of membranes, preterm birth, and babies with low birth weight. Trichomoniasis can also increase the risk of other sexually transmitted infections (STIs) and human immunodeficiency virus (HIV) transmission. Trichomoniasis case in pregnant women could be influenced by demographic characteristics,, the sexual behavior, and also the diagnostic method used. Until now, there is no data about prevalence of trichomoniasis in pregnant women in Indonesia. The aim of this research was to determine the prevalence of trichomoniasis in pregnant women in Bandung, West Java, Indonesia. A descriptive cross-sectional study was performed in December 2016 until January 2017. The study participants were 50 pregnant women who visit antenatal care to Obstetric and Gynecology Clinic of ’Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Kota Bandung’, and meet the inclusion and exclusion criteria, through consecutive sampling. The study participants had a history taking, venereological examination, and Trichomonas rapid test from vaginal swabs. Trichomoniasis in this study was diagnosed based on Trichomonas rapid test, a test that uses color immunochromatographic, capillary flow, dipstick technology, and has high sensitivity and specificity in diagnosing trichomoniasis. Almost all participants in this study were low risk pregnant women to have STI based on demographic characteristics and sexual behaviour. The positive Trichomonas rapid test result was found from one of 50 study participants. In conclusion, prevalence of trichomoniasis in pregnant women in Bandung was 2%. Trichomoniasis case in low-risk pregnant women population is still found.

Mycoplasma Genitalium Infection Prevalence in Patients with Human Immunodeficiency Virus

International Journal of Integrated Health Sciences Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : International Journal of Integrated Health Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Objective: To determine the prevalence of Mycoplasma genitalium (M. genitalium) infection in HIV positive patients by PCR examination in Teratai Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung in order to reduce sexually transmitted diseases, especially M. genitalium infection in HIV positive patients.Methods: This study was a cross-sectional study with consecutive sampling methods. Eighty one HIV positive patients attending the Teratai Clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung were recruited to be the subjects of this study. All subjects underwent history taking, physical examination, and PCR examination for M. genitalium. Specimens were taken from cervical smear in females and first void urine in male.Results: The prevalence of M. genitalium based on the PCR examination in HIV positive patients attended to Teratai Clinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung was 9%. Conclusions: Mycoplasmal infection identification based on PCR examination should be considered for routine screening test to reduce the incidence of sexually transmitted diseases in HIV positive patients.Keywords: Human immunodeficiency virus, Mycoplama genitalium, polymerase chain reaction DOI: 10.15850/ijihs.v2n1.274