Mohammad Rosyid
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri [STAIN] Kudus

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Memartabatkan Generasi Berbekal Kebudayaan Dan Pendidikan Rosyid, Mohammad
ADDIN Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah keprihatinan bahwa generasi terdidik jika tidak cerdas dan tidak santun terhadap diri dan lingkungannya, atau cerdas etapi tidak santun atau tidak cerdas tetapi santun, benar-benar enyesakkan dada lingkungannya. Sebagai contoh, setiap lulus jian, berpawai mengganggu kenyamanan pengguna jalan dengan norak, mencorat-coret pakaiannya sebagai ekspresi lulus, dan bagi yang tidak lulus, menangis berlebihan bahkan sebagian darinya bunuh diri dijadikan jalan pintas. Disusul, selama masih aktif menjadi peserta didik, tawuran antarpelajar atau antarmahasiswa bahkan demo yang tidak jelas substansinya atau demo pesanan menjadi kelaziman. Yang lebih menyeramkan lagi, uang SPP ditukar dengan pulsa, lebih fatal lagi untuk membeli narkoba, sebagai gaya masa kini yang tidak islami dan tidak indonesianis, meskipun mengibuli orangtua yang susah payah membiayai pendidikannya. Di tengah banyak kalangan yang ingin melanjutkan studi, tetapi karena benturan ekonomi pendidikan hanya (sebatas) angan-angan yang terpendam dalam benaknya. Sisi lain, imbas pola konsumsi global, didorong gaya hidup konsumeris dan kimiawi sentris. Semua itu pada dasarnya mengumbar nafsu ankara murka yang memprihatinkan, mengapa? Berpijak dari ungkapan, jika tak terdidik akan merusak negara, mereka berpikir seribu pikir karena tidak mampu. Tetapi, bagi generasi yang terdidik, merobohkan negara, butuh waktu kilat, karena berbekal strategi, kepicikan, danketidakarifannya. Berawal dari keprihatinan itulah, perlunya ’suntikan’ pengetahuan tentang budaya adiluhung yang telah disulam leluhur kita untuk dijadikan fondasi ideal menjadi generasi yang santun dan cerdas. Karena tidak ada jaminan bahwa mereka yang semula santun (hanya) karena bergabung dengan setitik komunitas yang norak, lambat atau cepat mewarnai karakter, apalagi karakter jelek lebih mudah menular.
Urgensi Metode Visiting Area Dalam Pembelajaran Sejarah Rosyid, Mohammad
ADDIN Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Addin
Publisher : ADDIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengunjungi lokasi yang bernilai sejarah agar peserta didik tak jenuh sekaligus dijadikan metode pembelajaran sejarah (visiting area/VA) sangat bermanfaat bagi pemahaman pesan sejarah. Hal ini dengan dalih, mengurangi kebosanan peserta didik jika hanya belajar (sejarah) di kelas dan meyakinkan peserta didik bahwa peristiwa masa lalu benar-benar terjadi. Area yang dikunjungi dapat di museum, makam, atau lainnya. Hal ini perlu dilakukan dengan pertimbangan, berdasarkan temuan United States Agency for International Development (USAID), kurang lebih sepertiga pelajaran yang diobservasi di kelas jenjang tingkat dasar hingga perguruan tinggi (PT) masih didominasi model ceramah. Hal itu berdampak proses belajar tak berjalan kreatif, tak efektif, dan tak menyenangkan. Metode pembelajaran sejarah di sekolah harus diubah/disesuaikan jika tak inovatif agar lebih menyenangkan dan tak membosankan peserta didik. Siswa tak hanya menghafalkan isi buku teks sejarah dan tak memahami latar belakang sejarah tertentu. Mata pelajaran sejarah harus disampaikan dengan cara yang lebih menyenangkan dan tak harus secara konvensional di kelas. Metode pembelajaran meliputi pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran berpusat pada anak (Child-centered learning), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Berbekal fasilitas lembaga pendidikan berupa bus sekolah/kampus, laboratorium, lahan-ladang praktek, atau lainnya peserta didik dapat dengan mudah menggunakan fasilitas tersebut untuk menunjang proses pembelajaran. Di antara tempat yang ideal didatangi adalah museum. Hal yang dapat dipetik, peserta didik yakin dengan kebenaran peristiwa sejarah karena dapat membuktikan secara langsung peninggalan sejarah. Dengan metode “anjangsana dan praktek” diharapkan peserta didik tak jenuh dengan lingkungan monoton. Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah dan VA
Memotret Agama Adam: Studi Kasus pada Komunitas Samin Rosyid, Mohammad
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 23, NOMOR 02, OKTOBER 2014
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.94 KB)

Abstract

Interreligious tolerance in this nation may be achieved through the understanding of local religions’ concept on tolerance, which is practiced by indigenous community. The understanding is expected to gradually reduce religious prejudice. Once, the understanding of other religion is reached, religious difference will not triggered conflict among people from different religious background, in contrary the difference will be treated as a gift of God. This paper attempts to open Pandora box of Samin community perceived to be atheist. Understanding God in the religion of Adam (Samin people’s religion) is the foundation of awareness that Samin people also believe in God and perform their own religious obligations, such as pray and fasting. Meanwhile, the government categorizes the religion of Adam as belief system, not religion. There is difference between belief system and religion.
STUDI KOMPARATIF KONSEP KETUHANAN ISLAM DAN AGAMA ADAM PADA KOMUNITAS SAMIN Rosyid, Mohammad
ULUMUNA Vol 16, No 2 (2012): December
Publisher : State Islamic Institute (IAIN) Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/ujis.v16i2.184

Abstract

Abstract: One of the problems that disturb the harmony between religious communities is a lack of understanding of the majority (mainstream) religion about the local religion, and vice versa. This article aims to develop such inter-religious understanding by comparing between Islam and the religion of Adam, a local religion of Samin community. The comparative study was made within the scope of the concept of God in both religions. This study found that the understanding between Islam the religion of Adam about the concept of God is essential in common. God called Allah (in Islam) and Yai (in the religion of Adam) are equally perceived as condescendent, an only single power, and the Almighty. Both communities also share Adam as the first man in the world. So, it is not proportional if the public ridicule Samin community with atheist stigma.Abstrak: Salah satu problem yang mengganggu keharmonisan antar komunitas beragama adalah kurangnya pemahaman pemeluk agama mayoritas (mainstream) di suatu negara tentang agama lokal, dan demikian pula sebaliknya. Artikel ini bertujuan untuk membangun kesalingpahaman antar pemeluk agama itu dengan melakukan kaji banding antara agama Islam dengan agama Adam, sebuah agama lokal komunitas Samin. Kaji banding itu dilakukan dalam lingkup konsep ketuhanan dalam dua agama itu. Kajian ini menemukan bahwa pemahaman antara Islam dengan agama Adam tentang konsep Tuhan memiliki kesamaan secara esensial. Tuhan yang disebut dengan Allah (dalam Islam) dan Yai (dalam agama Adam) sama-sama dipersepsikan sebagai tempat berlindung, kekuatan tunggal, dan Zat Yang Maha segala-galanya. Kedua komunitas juga sama dalam memandang Adam sebagai manusia yang pertama di dunia. Dengan adanya pemahaman itu maka tidak proporsional lagi jika publik mengolok-olok komunitas Samin dengan stigma ateis.
IDENTITAS DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL: DILEMA KEBIJAKAN LUAR NEGERI FINLANDIA DALAM KRISIS UKRAINA 20141 Margareth, Fitri Kamelia; Rosyid, Mohammad
Dauliyah Journal of Islamic and International Affairs Vol 2, No 2 (2017): DAULIYAH (JOURNAL AND ISLAMIC AND INTERNATIONAL AFFAIRS)
Publisher : UNIDA Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.396 KB) | DOI: 10.21111/dauliyah.v2i2.1360

Abstract

This research aims to explain why Finland did not play role as peacemaker in Ukraine Crisis. The great contribution on mediating conflicts in international relation has made Finland play role as peacemaker, a country which is well known with its peace action. But as Ukraine Crisis occurs, Finland only helps by sending foreign aid and giving advice to Russia and Ukraine to arrange a mediationwithout introducing itself as the mediator. Using constructivist approaches, this research argues that there is identity conflict between Finland’s identity as a peacemaker and as a member of The European Union which is against Russia. The strong solidarity between The European Union and Finland caused Finland tends to support The European Union’s decision to impose economic sanction against Russia, instead of mediating the conflict. This research confirms a constructivist assumption that states must consider their identities in determining foreign policy, so they will not turned dilemma when they face a situation where they need to use more than one identity to conduct foreign policy.
ADAPTASI BUDAYA DAN BENTURAN PERUNDANGAN-UNDANGAN: STUDI KASUS KOMUNITAS SAMIN DI KUDUS Rosyid, Mohammad
Kebudayaan Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.619 KB) | DOI: 10.24832/jk.v12i1.166

Abstract

AbstractThis research was conducted to Samin community in Kudus Regency, Central Java Province. Data was obtainabled through interviews and observations to Wong Samin in Kudus, particularly at Lerakrejo Village, Kaliyoso sub-village, and Karangrowo Village, in Undaan district. This article is descriptive qualitative research. The purpose of this research is to know how adaption efforts that based on culture in Samin community, Kudus, when they are stigmatized by their surrounding communities, and modification of their teachings as a respon of dynamically. As a strategy for maintenance their identity, Wong Samin make notes in a book, which records of their identity and teachings in a simple way in an attempt to straighten out the negative stigma. The book also illustrates compliance teaching to the local government regulations, such as formal school, pay taxes, active in election, and registration of marriages. Wong Samin also assimilate with non-Samin and accommodate non-Samin culture in their environment. Their efforts bring in a positively respon from surrounding community. As an evidence, a part of them is inducted as a chairman of neighborhood association (RT), surrounding association (RW), and farmer groups. However, the main problem that must be faced of Samin community in Kudus is their paddy field as their source economy often failed. So, they are to be urban workers in many cities. The impacts are, homeschooling and pirukunan (gemeinschaft) not repeated agen, because their elders and adult generation to be migrants and returning home uncertainly. Their routine social activities with non-Samin community in their residents are not maximal also.AbstrakRiset ini dilakukan pada komunitas Samin di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi dengan wong Samin Kudus, khususnya di Desa Larekrejo dan Dusun Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan. Analisis riset ini deskriptif kualitatif. Tujuan riset ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya adaptasi berbasis budaya yang dilakukan komunitas Samin di Kudus tatkala distigma lingkungannya dan mengalami pergeseran atas ajarannya akibat dinamika masa kini yang diresponnya. Strategi dalam mempertahankan jati dirinya, wong Samin membuat catatan yang dibukukan berupa jati diri dan ajarannya dalam bentuk sederhana sebagai upaya meluruskan stigma. Di dalamnya juga menggambarkan ketaatannya pada peraturan pemerintah seperti sekolah formal, membayar pajak, aktif dalam pemilu, selain pencatatan perkawinan, membaur dengan warga non-Samin, dan mengakomodasi budaya non-Samin di lingkungannya. Upaya tersebut membuahkan hasil yakni direspon positif lingkungannya dengan bukti dipercaya sebagai Ketua RT, RW, dan kelompok tani. Akan tetapi, problem utama yang dihadapi komunitas Samin di Kudus adalah sumber perekonomiannya sebagai petani padi yang mengalami kegagalan sehingga menjadi pekerja urban di kota. Imbasnya, homeschooling dan pertemuan pirukunan tak lagi berlangsung karena sesepuh dan generasi dewasa menjadi perantau yang pulangnya tak menentu. Rutinitas kegiatan sosial kemasyarakatan dengan warga non-Samin di lingkungannya pun tak maksimal.