Lena Rosida
Department of Histology, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

GAMBARAN FAKTOR RISIKO PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL-SEPTEMBER 2014 Rahdi, Dhia Raihana; Wibowo, Agung Ary; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 11, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v11i2.172

Abstract

The incidences of colorectal cancer in a developing country such as Indonesia are thought to increase, related to some risk factors that increase the likelihood of colorectal cancer to develop. We have done a study aimed to describe the incidence of colorectal cancer based on risk factor in patients of RSUD Ulin Banjarmasin from April-September 2014. This is a descriptive study using primary data obtained through the use of questionnaire. A total of 39 samples were chosen using non randomized accidental sampling technique. The age group with the most incidence of colorectal cancer was the productive age group (15-64 years old) with as many as 79,49% of all samples. Colorectal cancer patients with a bad diet pattern were as many as 82,05% of all samples. Most of the colorectal cancer patients were diagnosed with colorectal tumor or polyp (69,72%). A total of 30 patients (76,92%) were never diagnosed with ulcerative colitis. As many as 76,93% patients were without any familial history of cancer. The lifestyles of 61,54% colorectal cancer patients were bad lifestyle. Based on the result it can be concluded that diet pattern, age, tumor history, and lifestyle had a significant distribution on the incidences of colorectal cancer. Keywords: colorectal cancer, colorectal polyp, ulcerative colitis.
Gambaran Derajat Infiltrasi Sel Radang Dan Infeksi Helicobacter Pylori Pada Biopsi Lambung Pasien Gastritis: Di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2009-2011 Yulida, Erna; Oktaviyanti, Ika Kustiyah; Rosida, Lena
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.918

Abstract

ABSTRACT: Gastritis is a common gastrointestinal problem all over the world. In Indonesia, the prevalence of gastritis is high enough, it’s about 274.396 cases among 238.452.952 people. The aim of this research is to find out the type and level of inflammation and the infection Helicobacter pylori on gastritis patient in RSUD Ulin Banjarmasin during 2009-2011. The method uses descriptive research by emphasize on preparation of gastric biopsy to find the level of acute inflammation, chronic inflammation dan Helicobacter pylori’s infection based on Updated Sydney System from Endoscopy and Pathology Department. Data were classified by gender, age, and the level of severity. From 52 cases, acute inflammation is occurred in 35 patients with 29 patients (83%) mild, 5 patients (14%) moderate, 1 patient (3%) severe. Chronic inflammation is occurred in 51 patients with 2 patients (4%) mild, 14 patients (27%) moderate, and 35 patients (69%) severe. Helicobacter pylori’s infection is  occurred in 30 patients with 3 patients (10%) mild, 6 patients (20%) moderate, and 21 patients (70%) severe. Keywords : gastritis, acute inflammation, chronic inflammation, Helicobacter pylori ABSTRAK: Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran pencernaan yang paling sering terjadi di dunia. Angka kejadian gastritis di Indonesia cukup tinggi, yaitu 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan derajat keparahan infiltrasi sel radang serta infeksi Helicobacter pylori pada pasien gastritis di RSUD Ulin Banjarmasin. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan mengumpulkan data tingkat inflamasi akut, kronis dan infeksi Helicobacter pylori berdasarkan Updated Sydney System dari Instalasi Endoskopi dan Instalasi Patologi Anatomi. Data dikelompokkan menurut jenis kelamin, usia, dan tingkat keparahan. Dari 52 preparat, ditemukan inflamasi akut terjadi pada 35 pasien dengan 29 pasien (83%) derajat ringan, 5 pasien (14%) derajat sedang, dan 1 pasien (3%) derajat berat. Inflamasi kronik terjadi pada 51 pasien dengan  2 pasien (4%) derajat ringan, 14 pasien (27%) derajat sedang, dan 35 pasien (69%) derajat berat. Sedangkan infeksi Helicobacter pylori terjadi pada 30 pasien dengan 3 pasien (10%) derajat ringan, 6 pasien (20%) sedang, dan 21 pasien (70%) derajat berat. Kata-kata Kunci: gastritis, inflamasi akut, inflamasi kronis, Helicobacter pylori
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG PERSONAL HIGIENE DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENULARAN SKABIES Studi Observasional pada Narapidana Anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura Jasmine, Indira Aprilia; Rosida, Lena; Marlinae, Lenie
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : University Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Narapidana anak memiliki risiko terhadap skabies karena kurangnya kepedulian akan personal higiene dan perilaku sehat individu. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies pada narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura. Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pedekatan cross-sectional. Populasi penelitian dengan total sampling sebanyak 54 orang narapidana anak. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Variabel bebas adalah pengetahuan dan sikap tentang personal higiene, sedangkan variabel terikat adalah perilaku pencegahan penularan skabies. Uji statistik hasil penelitian menunjukkan sebanyak 72,2% responden memiliki pengetahuan tentang personal higiene kurang, 77,8% responden memiliki sikap tentang personal higiene negatif dan 75,9% responden memiliki perilaku pencegahan penularan skabies buruk. Analisis data dilakukan dengan uji fisher exact didapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies (p=0,000) dan ada hubungan antara sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies (p=0,004). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang personal higiene dengan perilaku pencegahan penularan skabies pada narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas IIA Martapura. Kata-kata kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, pencegahan penularan skabies AbstractPrisoners child has risks to scabies because of a lack of concern personal hygiene and behavior healthy individual. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes about personal hygiene to prevent transmission of scabies in the behavior of the child prisoners in penitentiaries children Klas IIA Martapura. This study uses a quantitative method with observational analytic design through cross-sectional method. The study population of 54 inmates of children. The research sample was determined by total sampling technique. The research instrument using a questionnaire. The independent variable of knowledge and attitudes about personal hygiene, while the dependent variable scabies infection prevention behaviors. The results showed the majority of 72.2% of respondents have less knowledge about personal hygiene, 77.8% of respondents have a negative attitude about personal hygiene and 75.9% of respondents had a bad scabies infection prevention behaviors. Results of analysis with fisher exact test shows that there is a relationship between knowledge of personal hygiene with scabies infection prevention behavior (p= 0.000) and there is a correlation between attitudes about personal hygiene with scabies infection prevention behavior (p=0.004). From these results it can be concluded that there is a correlation between knowledge and attitudes about personal hygiene to prevent transmission of scabies in the behavior of the child prisoners in penitentiaries children Klas IIA Martapura.Key words: knowledge, attitude, behavior, prevention of transmission scabies
PENGARUH PAPARAN BATUBARA TERHADAP JUMLAH MIKRONUKLEUS MUKOSA BUKAL PADA PEKERJA TAMBANG BATUBARA DI KECAMATAN MURUNG PUDAK KABUPATEN TABALONG Renita Rahmad, Renita; Dewi, Nurdiana; Rosida, Lena
Dentino Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Continuous exposure of genotoxic substance such as coal dust can cause DNA damage. Micronucleus is DNA damage caused by genotoxic substance that manifest on buccal mucosa cell. Micronucleus is cytoplasmic chromatic mass with round shaped located close to nucleus and microscopically visible. Purpose: The purpose of this study was to identify effect of coal exposure on the number of micronucleus buccal mucosa on coal miner. Methods: The method of this study was analytic observational with cross-sectional approach. The total sample of this study was 60 respondents divided into 2 groups, each group contained 30 respondents. The data was primary data which was the result of swabbed of buccal mucosa epithelial cells. Results: The result showed the average number of buccal mucosa micronucleus on coal miners was 25,83  13,28 and non-coal miner is 11,10  3,45. Data analyzed with T test Independent and obtained significant different on the number of micronucleus between coal miners and non-coal miner (p=0,000). Conclusion: Based on this study can be concluded that coal dust exposure affected on the number of micronucleus buccal  mucosa on coal miners in Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong. ABSTRAKLatar belakang: Paparan terus menerus dari suatu substansi genotoksik, seperti debu batubara akan menyebabkan suatu kerusakan DNA. Kerusakan  DNA akibat zat genotoksik yang dapat dilihat pada sel mukosa bukal adalah mikronukleus. Mikronukleus merupakan massa kromatik sitoplasmik berbentuk bulat/oval terletak dekat dengan nukleus dan tampak secara mikroskopik. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh paparan batubara terhadap jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara di Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60 orang dengan tiap-tiap kelompok masing-masing 30 orang. Data yang diperoleh adalah data primer, yaitu hasil apusan sel epitel mukosa bukal.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara adalah 25,83  13,28 dan pada bukan pekerja tambang batubara adalah 11,10 3,45. Data dianalisis menggunakan T test Independent dan didapatkan perbedaan bermakna pada rata-rata jumlah mikronukleus antara kelompok pekerja tambang batubara dan bukan pekerja tambang batubara (p=0,000). Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa paparan batubara berpengaruh terhadap jumlah mikronukleus mukosa bukal pada pekerja tambang batubara di Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong.
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA SISWA SLB DARMA PRAJA BANJARMASIN TENTANG GEJALA DAN PENULARAN INFEKSI CACING KREMI (ENTEROBIUS VERMICULARIS) Hayati, Lisda; Panghiyangani, Roselina; Rosida, Lena
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 3, No 2 (2017): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v3i2.5074

Abstract

Enterobiasis adalah infeksi usus pada manusia yang disebabkan oleh parasit cacing Enterobius vermicularis. Cacing kremi (Enterobius vermicularis) adalah salah satu jenis parasit cacing usus yang juga masih tinggi infeksinya di Indonesia. Kondisi sanitasi lingkungan, kebersihan pribadi yang buruk dan kesadaran akan kebersihan yang masih rendah merupakan faktor risiko enterobiasis. Prevalensi entrobiasis yang cukup tinggi pada anak berhubungan dengan higiene pribadi yang buruk. Hal ini dipengaruhi oleh pola asuhan ibu tentang kebersihan dan kesehatan yang merupakan salah satu cara merintangi enterobiasis. Siswa SLB secara umum memiliki keterbatasan dalam hal kemampuan menjaga kesehatan dan kebersihan pribadi hal ini dapat berakibat terhadap higiene pribadi yang buruk. Pada siswa SLB beberapa masalah yang terjadi adalah kelemahan atau ketidakmampuan pada anak usia sebelum 18 tahun yang disertai keterbatasan dalam kemampuan kemandirian misalnya dalam hal, mengurus diri (oral hygiene, mandi, berpakaian), dan kemandirian dalam hal toileting. Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan orangtua siswa SLB Darma Praja Banjarmasin tentang gejala dan penularan infeksi cacing kremi (Enterobius vermicularis) sehingga lebih lanjut dapat diupayakan suatu kegiatan atau intervensi terhadap pola asuh siswa SLB Darma Praja Banjarmasin. Subjek penelitian adalah 41orang tua siswa SLB Dharma Praja Banjarmasin diambil dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian adalah lembar kuesioner dan, buku register siswa SLB. Hasil penelitian menmperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua yang baik sebesar 9,76%, pengetahuan sedang sebesar 90,24% dan tidak ada yang memiliki pengetahuan buruk.
KAJIAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN PERAN LINTAS SEKTOR TERKAIT Dewi, Ratna Sari; Muhyi, Ruslan; Rosida, Lena
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 1, No 2 (2016): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v1i2.3145

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang utama dan wajib diberikan pada semua bayi yang baru dilahirkan. Kementerian kesehatan menetapkan salah satu indikator pelaksanaan surveilans gizi adalah program pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan dengan pencapaian target sebesar 80%.  Kabupaten Barito Kuala mempunyai pencapaian target yang cenderung meningkat,  namun   masih dibawah target yang ditetapkan (80%). Puskesmas Lepasan mencapai target kinerja terendah (14,49%), Puskesmas Semangat Dalam mencapai target kinerja (86,15%) dan Puskesmas Belawang mampu melebihi target kinerja (99,15%). Masalah penelitian adalah berbagai aspek faktor perilaku diyakini mempunyai peran yang kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif demikian pula peran lintas sektor terkait, sehingga dirasa perlu dilakukan pengkajian kualitatif masalah pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif khususnya di 3 wilayah puskesmas tersebut. Mengkaji pelaksanaan program pemberian ASI Eksklusif dan peran lintas sektor terkait. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode pengambilan data wawancara dan observasi pada beberapa partisipan yang terlibat dalam penelitian ini. Pengkajian yang dilakukan pada 11 partisipan menunjukkan tidak semua ibu yang mempunyai bayi umur 0-6 bulan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ASI Eksklusif, semua partisipan setuju bahwa ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi yang baru lahir, namun dalam penerapannya tidak selalu berhasil. Peran lintas sector terkait dengan pemberian ASI Eksklusif belum diterapkan pada bidang kerja yang bersangkutan sehingga belum mampu mendukung program dari pemerintah tersebut. Pengetahuan, sikap dan keyakinan saja tidak cukup menjamin seorang ibu dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya, penerapan kebijakan dan ketrampilan petugas yang didukung oleh lintas sector terkait diharapkan dapat mendorong ibu untuk memberikan makanan yang terbaik bagi bayi yang baru lahir hingga usia enam bulan yaitu ASI Eksklusif. Dengan mempertimbangkan hasil penelitian maka pengelola program yang terkait dengan Pemberian ASI Eksklusif perlu sosialisasi secara intensif tentang kebijakan pemberian ASI Eksklusif di masyarakat dan lintas sector terkait.
HUBUNGAN ANTARA MASA GESTASI DAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE JUNI 2014-JUNI 2015 Dini, Fitri Nur; Andayani, Pudji; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1865

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a clinical syndrome characterized by symptoms of bacteremia and systemic signs and positive blood cultures showed that during the first month of life. Prematurity and postmaturity risk of morbidity and mortality are high on the gestation age for the occurrence of neonatal sepsis. This study aims to determine the relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin. The design of this study using cross sectional study with retrospective approach. The way the sampling is the purposive sampling were obtained from medical records of patients, then performed statistical analysis using chi-square test with 95%. The number of samples that fulfilled the criteria inclusion in this study as many as 246 cases. The incidence of neonatal sepsis is more common in infants born at 37-42 weeks gestation as many as 25 cases (59.52%). The data not neonatal sepsis who were born with a gestational age <37 weeks or> 42 weeks gained as many as 20 cases (9.80%) and 37-42 weeks gestation obtained as many as 184 cases (90.20%). Chi-square test showed that there is a relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin (p = 0.000) with an odds ratio (OR) 6.256. It is concluded that there is a relationship of gestation age and the incidence of neonatal sepsis (p <0.05) in hospitals Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015 with OR 6.256. Keywords: gestational age, sepsis, neonatal Abstrak: Sepsis neonatorum merupakan suatu sindrom klinis bakteremia yang ditandai dengan gejala dan tanda sistemik serta menunjukkan kultur darah positif yang terjadi pada bulan pertama kehidupan. Prematuritas dan posmaturitas memiliki risiko kesakitan dan kematian yang tinggi pada masa gestasi untuk terjadinya sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan pendekatan retrospektif. Cara pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling yang diperoleh dari data rekam medis pasien, kemudian dilakukan analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan kepercayaan 95%. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini sebanyak 246 kasus. Kejadian sepsis neonatorum lebih banyak dijumpai pada bayi yang lahir dengan masa gestasi 37-42 minggu yaitu sebanyak 25 kasus (59,52%). Data neonatus tidak sepsis yang lahir dengan masa gestasi <37 minggu atau >42 minggu didapatkan sebanyak 20 kasus (9,80%) dan masa gestasi 37-42 minggu didapatkan sebanyak 184 kasus (90,20%). Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin (p=0,000) dengan odds ratio (OR) 6,256. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum (p<0,05) di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015 dengan OR 6,256. Kata-kata kunci: masa gestasi, sepsis, neonatus
Hubungan antara Berat Badan Lahir dan Kejadian Asfiksia Neonatorum Fajarwati, Novia; Andayani, Pudji; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.354

Abstract

Abstract:Neonatal asphyxia is a condition where the baby can not breathe spontaneously and regularly soon after birth or shortly after birth. Birth weight is a part of the factors that can cause neonatal asphyxia. Research conducted retrospective observational analytic approach to determine the relationship between birth weight and neonatal asphyxia which uses secondary data from medical records of patients. The study was conducted in August-October 2015 in the NICU and medical record room of RSUD Ulin Banjarmasin. The sampling technique used purposive sampling and obtained a sample of 334 cases. The statistical test used is chi-square test with 95% confidence level. The results showed that of 334 cases of birth weight data showed 17.4% risk birth weight and no-risk birth weight by 82,6%. Neonatal asphyxia 26.3% and 73.7% of no-neonatal asphyxia. Based on the statistical test showed p = 0.674 so that it can be concluded that there is no significant correlation between birth weight and neonatal asphyxia in RSUD Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015.Keywords: neonatal asphyxia, birth weight, risk factor Abstrak: Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir atau beberapa saat setelah lahir. Berat badan lahir merupakan bagian dari faktor neonatus yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pendekatan retrospektif untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum yang menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2015  di ruang NICU dan ruang rekam medis RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 334 kasus. Uji statistik yang digunakan yaitu  uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 334 kasus diperoleh data berat badan lahir berisiko sebesar 17,4% dan berat badan lahir tidak berisiko sebesar 82,6%. Kejadian asfiksia neonatorum sebesar 26,3% dan tidak asfiksia neonatorum sebesar 73,7%.  Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan hasil p = 0,674 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015. Kata-kata kunci: asfiksia neonatorum, berat badan lahir, faktor risiko
DISTRIBUSI POLA DIET PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE AGUSTUS OKTOBER 2015 Rahmadania, Emma; Wibowo, Agung Ary; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1872

Abstract

Abstract: Colorectal cancer is a malignancy of epithelial cells of the colon or rectum. Factors associated with an increased risk of this type of cancer include eating habits. The purpose of this study was to determine distribution the dietary patterns in colorectal cancer patients at hospitals Ulin Banjarmasin period from August to October 2015 by a review of fat dietary, protein dietary, fiber dietary  by age and gender. This research is a descriptive observasional with  cross sectional approach. Data was collected using a food frequency questionnaire and interviews. Sampling was conducted with consecutive sampling technique to obtain the sample amounted to 30 patients in accordance with the inclusion criteria. Obtained the age group of patients when first diagnosed with colorectal cancer is highest in the age group 41-60 years (50%) as many as 15 people. Sex ratio of colorectal cancer patients in hospitals Ulin Banjarmasin the period August-October 2015 that men of 15 people (50%) and women of 15 people (50%). Of the 30 respondents, there are 28 (93.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume fat, there are 25 (83.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume protein, and there were 25 (88.7%) patients with colorectal cancer are rare consuming fiber. Distribution of pattern dietary (fat, protein, fiber)by age and sex obtained the same result that most are in the rare category. Keywords: colorectal cancer, fat, protein, fiber. Abstrak: Kanker kolorektal adalah suatu keganasan dari sel epitel kolon atau rektum. Faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker jenis ini antara lain kebiasaan makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pola diet pasien kanker kolorektal  di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober  2015 dengan tinjauan terhadap diet lemak, diet protein, diet serat berdasarkan usia dan jenis kelamin. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif observasioal dengan pendekatan cross sectional. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuesioner food frequency dan wawancara. Pengambilan sampel  dilakukan dengan teknik consecutive sampling sehingga didapatkan sampel berjumlah 30 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi. Didapatkan kelompok usia pasien saat pertama kali terdiagnosis kanker kolorektal terbanyak adalah pada kelompok usia 41-60 tahun (50%) yaitu sebanyak 15 orang. Rasio perbandingan jenis kelamin pasien kanker kolorektal di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober 2015 yaitu laki-laki sebanyak  15 orang (50%)  dan perempuan sebanyak 15 orang (50%). Dari 30 responden, terdapat 28 (93,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi lemak, terdapat 25 (83,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi protein, dan terdapat 25 (88,7%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi serat. Distribusi pola diet (lemak, protein, serat) berdasarkan usia dan jenis kelamin didapatkan hasil yang sama yaitu paling banyak berada pada kategori jarang. Kata-kata kunci: kanker kolorektal, lemak, protein, serat
Extract of haruan (channa striata) extract increasing reepithelialisation count in wound healing process on wistar rat’s buccal mucosa Tamales, Devintha AM.; Dewi, Nurdiana; Rosida, Lena
Journal of Dentomaxillofacial Science Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : DiscoverSys Inc

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/jdmfs.v1i1.17

Abstract

Haruan is Kalimantan’s indigenous fish which has the potency to accelerate wound healing. Haruan extract has substantial properties such as albumin, Zn, Cu, and Fe to accelerate wound healing. The aim of this study was to examine the effect of haruan extract on reepithelialization of wistar rats’ buccal mucosa wound healing on day 3, 5, 7, and 10 histopathologically. This study was true experimental with posttest with control design. Samples were divided in 16 treatment groups, haruan extract 25%, 50%, 100% treatment groups and aquadest treatment group as negative control, each treatment was performed for 10 days. Epithelial thickness count reached its peak on day 10. Mean epithelial thickness scoring of each group was 50.40 µm; 56.85 µm; 62.81 µm; 38.28 µm respectively. Two way Anova and Post Hoc LSD tests presented there was a significant difference between negative control and haruan extract groups. Haruan extract treatment significantly increases epithelial thickness count in wound healing process.