M. Rifqi Rokhman
Faculty of Pharmasi, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, Indonesia

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN HOME CARE OLEH APOTEKER PADA PASIEN DIABETES MELITUS Rokhman, M. Rifqi; Darakay, Chlara Nikke; Raditya, Rakta
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.213

Abstract

Salah satu bentuk pelayanan komprehensif bagi pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah home care. Penelitian bertujuan melihat pengaruh pemberian home care oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu (GDS), dan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Penelitian termasuk kuasi eksperimental yang dilakukan di Puskesmas Srandakan, Bantul pada Maret hingga Juni 2015 dengan metode pretest-posttest design with control group. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Sebanyak 58 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing sebanyak 29 pasien. Pemberian home care dilakukan dalam bentuk konseling di rumah pasien. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale 8, kadar GDS didapat dari rekam medis pasien, dan kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire. Data diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa pemberian home careoleh apoteker dapat meningkatkan kepatuhan, kualitas hidup total, dan menurunkan kadar GDS pasien kelompok perlakuan secara signifikan. Namun demikian,kenaikan kepatuhan, kualitas hidup total, dan penurunan kadar GDS pasien tersebut belum berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hanya perbaikan domain efek pengobatan dan frekuensi gejala dari kualitas hidup pasien yang berbeda signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kata kunci: home care, apoteker, diabetes mellitus, kepatuhan, kualitas hidup
Dispensing Prescription Medicines without a Prescription in Pharmacy Rokhman, M. Rifqi; Widiastuti, Mentari; Suwarni, Satibi; Fatmawati, Ria Fasyah; Munawaroh, Nimatul; Pramesti, Yenda Ayu
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33256

Abstract

A poor drug monitoring system in many developing countries makes patient easy to buy any prescription medicines without prescription. This research aimed to assess the compliance of pharmacy towards prescription medicine’s regulations, pharmacist knowledge toward a list of medicines as prescription or over the counter medicines, and the reasons associated with dispensing prescription medicines without a prescription in pharmacy. The research was a descriptive non-experimental study. The sample was taken using simple random sampling in Sleman and Kota Yogyakarta Regency from September 2016 to January 2017. Data were taken in 2 steps, using simulated patient and a questionnaire one week after the first step. The simulated patient would come to the pharmacy and requested amlodipine 5 mg 10 tablets and allopurinol 100 mg 20 tablets. The questionnaire assessed pharmacist knowledge in classifying of several medicines as prescription or over the counter medicines, information taken and given when dispensing prescription medicines without a prescription, and the reason associated with dispensing prescription medicines without a prescription. The data were analyzed descriptively. The results showed that from 138 pharmacies randomly selected, 132 pharmacies (95,7%) dispensed amlodipine and 127 pharmacies (92,0%) sold allopurinol without a prescription. Majority of pharmacists (more than 85%) hold a view that prescription medicines mainly for chronic diseases (glibenclamide, metformin, amlodipine, captopril, allopurinol, dan simvastatin) as the over the counter medicines, as the main reason was patients regularly taking this medication before. However, the majority of pharmacists (79,2%) perceived that antibiotics as prescription medicines that should be dispensed only with a medical prescription. This research showed that pharmacist does not fully implement applicable regulations.
PENGARUH FASILITATOR TERHADAP SIKAP APOTEKER UNTUK MENGIMPLEMENTASIKAN PHARMACEUTICAL CARE Rokhman, M. Rifqi; Utami, Kanthi Noorani; Dianastuti, Nurul Adila
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.225

Abstract

Meskipun banyak apoteker telah menerima konsep pharmaceutical care, namun implementasi pada farmasi komunitas terbukti lebih lambat dari yang diharapkan sehingga diperlukan fasilitator sebagai faktor yang dapat mempercepat sekaligus mengatasi hambatan dalam implementasi pharmaceutical care. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitator terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care pada farmasi komunitas di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian termasuk penelitian asosiatif dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 110 apoteker. Fasilitator yang diteliti yaitu peningkatan hubungan profesional apoteker dengan dokter, kemampuan klinis apoteker, peran organisasi profesi, remunerasi, permintaan pasien, institusi pendidikan, dan individu apoteker. Data dianalisis menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 variabel yaitu peran organisasi profesi (p=0,000), institusi pendidikan (p=0,005), dan individu apoteker (p=0,001) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care. Dua fasilitator yaitu peran organisasi profesi dan institusi pendidikan merupakan fasilitator pada tingkat organisasi. Hal ini mengindikasikan implementasi pharmaceutical care sebaiknya dilakukan tidak hanya dengan pendekatan individu namun juga dengan pendekatan level organisasi. Model mampu menjelaskan sikap apoteker sebesar 63,6%.  Kata kunci: implementasi, pharmaceutical care, farmasi komunitas, fasilitator
PERAN INTERPROFESSIONAL EDUCATION TERHADAP PERSEPSI KETERLIBATAN APOTEKER DALAM KOLABORASI ANTAR PROFESI Ilmanita, Dzikrina; Rokhman, M. Rifqi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.283

Abstract

Kolaborasi antar profesi mengharuskan semua profesi memiliki persepsi yang sama terhadap ranah masing-masing profesi termasuk ranahketerlibatan apoteker. Interprofessional education (IPE) dapat digunakan untuk menyamakan persepsi tersebut. Penelitian dilakukan untuk melihat peran IPE dalam mempengaruhi persepsi mahasiswa kesehatan terhadap keterlibatan apoteker pada kolaborasi antar profesi. Penelitian dilakukan pada Februari sampai Mei 2014 menggunakan rancangan cross sectional dengan alat ukur kuesioner pada satu univeritas yang sudah menerapkan IPE dan 1 universitas lainnya yang belum menerpkan IPE. Kuesioner mengukur tiga bentuk keterlibatan apoteker dalam kolaborasi antar profesi yaitu keterlibatan apoteker dalam IPE, kewenangan apoteker, dan tanggung jawab apoteker. Pengambilan sampel dengan metode kuota sampling ditetapkan 225 responden mahasiswa kesehatan yang terbagi menjadi kelompok yang sudah dan belum mendapatkan IPE. Data dianalisis menggunakan two way anova, one way anova,dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa yang sudah mendapat IPE secara signifikan mempunyai tingkat kesetujuan yang lebih tinggi pada 84,6% pertanyaan tentang keterlibatan apoteker dalam kolaborasi antar profesi, 33,3% pertanyaantentang tanggung jawab apoteker, dan 33,3% pertanyaan tentang kewenangan apoteker. Mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi maupun farmasi yang sudah mendapatkan IPE memiliki tingkat percaya diri yang homogen. Tingkat percaya diri mahasiswa farmasi yang sudah mendapat IPE lebih tinggi daripada mahasiswa farmasi yang belum mendapat IPE. Kata kunci: kolaborasi antar profesi, interprofessional education, apoteker, mahasiswa kesehatan
THE COMPARISON BETWEEN PRODUCT CLASS KNOWLEDGE, PERCEIVED RISK, AND ATTITUDE TOWARDS GENERIC DRUGS Anisa, Anisa; Sugiyanto, Sugiyanto; Rokhman, M. Rifqi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.74

Abstract

People often consider that generic drugs are inferior drugs. Knowledge holds big roles in consumer decision making process, including in purchasing generic drugs. Students of health sciences got different understanding compared to students of non health sciences about to knowledge of generic drugs. Therefore, this study aimed to get better understanding and compare product class knowledge, perceived risk, and attitude towards generic drugs in students of health sciences versus students of non health sciences. The population of this non experimental study was Gadjah Mada University students. Sampling technique was using purposive sampling. Samples were UGM students of health sciences and students of non health sciences who met inclusion criteria. Data were collected using questionnaires and analyzed using path analysis and Mann-whitney. Results of this study showed that there was significant negative influence between objective knowledge and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.368), subjective knowledge and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.485), prior experience and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.485), and perceived risk and attitude toward generic drugs (standardized coefficient beta value = -0.489). There were difference between health students and non health students on their product class knowledge, perceived risk and attitude towards generic drugs, which health students got higher product class knowledge and attitude towards generic drugs, while non health students got higher perceived risk compared to health students. Keywords: product class knowledge, perceived risk, attitude towards generic drugs, generic drugs.
THE COMPARISON BETWEEN PRODUCT CLASS KNOWLEDGE, PERCEIVED RISK, AND ATTITUDE TOWARDS GENERIC DRUGS Anisa, Anisa; Sugiyanto, Sugiyanto; Rokhman, M. Rifqi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.74

Abstract

People often consider that generic drugs are inferior drugs. Knowledge holds big roles in consumer decision making process, including in purchasing generic drugs. Students of health sciences got different understanding compared to students of non health sciences about to knowledge of generic drugs. Therefore, this study aimed to get better understanding and compare product class knowledge, perceived risk, and attitude towards generic drugs in students of health sciences versus students of non health sciences. The population of this non experimental study was Gadjah Mada University students. Sampling technique was using purposive sampling. Samples were UGM students of health sciences and students of non health sciences who met inclusion criteria. Data were collected using questionnaires and analyzed using path analysis and Mann-whitney. Results of this study showed that there was significant negative influence between objective knowledge and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.368), subjective knowledge and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.485), prior experience and perceived risk (standardized coefficient beta value = -0.485), and perceived risk and attitude toward generic drugs (standardized coefficient beta value = -0.489). There were difference between health students and non health students on their product class knowledge, perceived risk and attitude towards generic drugs, which health students got higher product class knowledge and attitude towards generic drugs, while non health students got higher perceived risk compared to health students. Keywords: product class knowledge, perceived risk, attitude towards generic drugs, generic drugs.
Dispensing Prescription Medicines without a Prescription in Pharmacy Rokhman, M. Rifqi; Widiastuti, Mentari; Suwarni, Satibi; Fatmawati, Ria Fasyah; Munawaroh, Nimatul; Pramesti, Yenda Ayu
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33256

Abstract

A poor drug monitoring system in many developing countries makes patient easy to buy any prescription medicines without prescription. This research aimed to assess the compliance of pharmacy towards prescription medicine’s regulations, pharmacist knowledge toward a list of medicines as prescription or over the counter medicines, and the reasons associated with dispensing prescription medicines without a prescription in pharmacy. The research was a descriptive non-experimental study. The sample was taken using simple random sampling in Sleman and Kota Yogyakarta Regency from September 2016 to January 2017. Data were taken in 2 steps, using simulated patient and a questionnaire one week after the first step. The simulated patient would come to the pharmacy and requested amlodipine 5 mg 10 tablets and allopurinol 100 mg 20 tablets. The questionnaire assessed pharmacist knowledge in classifying of several medicines as prescription or over the counter medicines, information taken and given when dispensing prescription medicines without a prescription, and the reason associated with dispensing prescription medicines without a prescription. The data were analyzed descriptively. The results showed that from 138 pharmacies randomly selected, 132 pharmacies (95,7%) dispensed amlodipine and 127 pharmacies (92,0%) sold allopurinol without a prescription. Majority of pharmacists (more than 85%) hold a view that prescription medicines mainly for chronic diseases (glibenclamide, metformin, amlodipine, captopril, allopurinol, dan simvastatin) as the over the counter medicines, as the main reason was patients regularly taking this medication before. However, the majority of pharmacists (79,2%) perceived that antibiotics as prescription medicines that should be dispensed only with a medical prescription. This research showed that pharmacist does not fully implement applicable regulations.
PENGARUH FASILITATOR TERHADAP SIKAP APOTEKER UNTUK MENGIMPLEMENTASIKAN PHARMACEUTICAL CARE Rokhman, M. Rifqi; Utami, Kanthi Noorani; Dianastuti, Nurul Adila
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.225

Abstract

Meskipun banyak apoteker telah menerima konsep pharmaceutical care, namun implementasi pada farmasi komunitas terbukti lebih lambat dari yang diharapkan sehingga diperlukan fasilitator sebagai faktor yang dapat mempercepat sekaligus mengatasi hambatan dalam implementasi pharmaceutical care. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitator terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care pada farmasi komunitas di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian termasuk penelitian asosiatif dengan menggunakan alat bantu kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 110 apoteker. Fasilitator yang diteliti yaitu peningkatan hubungan profesional apoteker dengan dokter, kemampuan klinis apoteker, peran organisasi profesi, remunerasi, permintaan pasien, institusi pendidikan, dan individu apoteker. Data dianalisis menggunakan uji statistik regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 variabel yaitu peran organisasi profesi (p=0,000), institusi pendidikan (p=0,005), dan individu apoteker (p=0,001) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap apoteker untuk mengimplementasikan pharmaceutical care. Dua fasilitator yaitu peran organisasi profesi dan institusi pendidikan merupakan fasilitator pada tingkat organisasi. Hal ini mengindikasikan implementasi pharmaceutical care sebaiknya dilakukan tidak hanya dengan pendekatan individu namun juga dengan pendekatan level organisasi. Model mampu menjelaskan sikap apoteker sebesar 63,6%.  Kata kunci: implementasi, pharmaceutical care, farmasi komunitas, fasilitator
PERAN INTERPROFESSIONAL EDUCATION TERHADAP PERSEPSI KETERLIBATAN APOTEKER DALAM KOLABORASI ANTAR PROFESI Ilmanita, Dzikrina; Rokhman, M. Rifqi
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 4, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.283

Abstract

Kolaborasi antar profesi mengharuskan semua profesi memiliki persepsi yang sama terhadap ranah masing-masing profesi termasuk ranahketerlibatan apoteker. Interprofessional education (IPE) dapat digunakan untuk menyamakan persepsi tersebut. Penelitian dilakukan untuk melihat peran IPE dalam mempengaruhi persepsi mahasiswa kesehatan terhadap keterlibatan apoteker pada kolaborasi antar profesi. Penelitian dilakukan pada Februari sampai Mei 2014 menggunakan rancangan cross sectional dengan alat ukur kuesioner pada satu univeritas yang sudah menerapkan IPE dan 1 universitas lainnya yang belum menerpkan IPE. Kuesioner mengukur tiga bentuk keterlibatan apoteker dalam kolaborasi antar profesi yaitu keterlibatan apoteker dalam IPE, kewenangan apoteker, dan tanggung jawab apoteker. Pengambilan sampel dengan metode kuota sampling ditetapkan 225 responden mahasiswa kesehatan yang terbagi menjadi kelompok yang sudah dan belum mendapatkan IPE. Data dianalisis menggunakan two way anova, one way anova,dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa yang sudah mendapat IPE secara signifikan mempunyai tingkat kesetujuan yang lebih tinggi pada 84,6% pertanyaan tentang keterlibatan apoteker dalam kolaborasi antar profesi, 33,3% pertanyaantentang tanggung jawab apoteker, dan 33,3% pertanyaan tentang kewenangan apoteker. Mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi maupun farmasi yang sudah mendapatkan IPE memiliki tingkat percaya diri yang homogen. Tingkat percaya diri mahasiswa farmasi yang sudah mendapat IPE lebih tinggi daripada mahasiswa farmasi yang belum mendapat IPE. Kata kunci: kolaborasi antar profesi, interprofessional education, apoteker, mahasiswa kesehatan
PENGARUH PEMBERIAN HOME CARE OLEH APOTEKER PADA PASIEN DIABETES MELITUS Rokhman, M. Rifqi; Darakay, Chlara Nikke; Raditya, Rakta
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 5, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.213

Abstract

Salah satu bentuk pelayanan komprehensif bagi pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 pada fasilitas kesehatan tingkat pertama adalah home care. Penelitian bertujuan melihat pengaruh pemberian home care oleh apoteker terhadap tingkat kepatuhan, kadar glukosa darah sewaktu (GDS), dan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Penelitian termasuk kuasi eksperimental yang dilakukan di Puskesmas Srandakan, Bantul pada Maret hingga Juni 2015 dengan metode pretest-posttest design with control group. Sampel diperoleh dengan metode purposive sampling. Sebanyak 58 pasien DM tipe 2 dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan masing-masing sebanyak 29 pasien. Pemberian home care dilakukan dalam bentuk konseling di rumah pasien. Pengukuran kepatuhan menggunakan Morisky Modified Adherence Scale 8, kadar GDS didapat dari rekam medis pasien, dan kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionnaire. Data diolah menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil menunjukkan bahwa pemberian home careoleh apoteker dapat meningkatkan kepatuhan, kualitas hidup total, dan menurunkan kadar GDS pasien kelompok perlakuan secara signifikan. Namun demikian,kenaikan kepatuhan, kualitas hidup total, dan penurunan kadar GDS pasien tersebut belum berbeda secara bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hanya perbaikan domain efek pengobatan dan frekuensi gejala dari kualitas hidup pasien yang berbeda signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kata kunci: home care, apoteker, diabetes mellitus, kepatuhan, kualitas hidup