Articles

Found 17 Documents
Search

PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) PADA ANAK USIA 1-2 TAHUN DI KELURAHAN LAMPER TENGAH KECAMATAN SEMARANG SELATAN, KOTA SEMARANG Rohmani, Afiana
PROSIDING SEMINAR NASIONAL Vol 1, No 1 (2010): Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.234 KB)

Abstract

Selama ini banyak pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang terlalu dini bagi bayi dan  berakibat anak diare, produksi ASI berkurang, karena anak sudah kenyang dan jarang menyusui, serta dapat menimbulkan alergi dikemudian hari karena usus bayi masih mudah dilalui oleh protein asing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia pemberian makanan pendamping ASI pertama kali dengan status gizi batita, menganalisis hubungan antara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi batita, menganalisis hubungan antara kesesuaian jenis MPASI terhadap umur dengan status gizi batita dan mengalisis hubungan antara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi batita. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 1-2 tahun yang berkunjung ke Posyandu Kelurahan Lamper Tengah, kota Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 60 anak yang menggunakan metode purpose random sampling. Data yang didapatkan antara lain tinggi dan berat badan anak, umur anak, dan pemberian MPASI yang meliputi usia pemberian MPASI, frekuensi pemberian MPASI, kesesuaian jenis MPASI terhadap perkembangan umur dan frekuensi pemberian ASI. Data yang dianalisis menggunakan statistik non parametrik, dengan menganalisis bubungan antar variabel dengan uji korelasi spearman dan analisis uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia pertama pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, tidak ada hibungan antara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi pada indek BB/U dan terdapat hubungan antara kesuaian MPASI dengan umur dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U. Dengan demikian perlu adanya penyuluhan terhadap ibu melalui posyandu tentang pola pemberian makanan pada bayi, khususnya kapan bayi dapat diberi MPASI, serta bagaimana pemberian MPASI yang benar, antara lain jenis-jenis MPASI yang disesuaikan dengan perkembangan umur, cara pemberian MPASI, dan porsi pemberian MPASI.Kata Kunci: Makanan, pendampng, asi, anak, batita, status gizi
HUBUNGAN KEPUASAN PASIEN DENGAN MINAT PASIEN DALAM PEMANFAATAN ULANG PELAYANAN KESEHATAN PADA PRAKTEK DOKTER KELUARGA Anggraini, Merry Tiyas; Rohmani, Afiana
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.798 KB)

Abstract

Latar belakang: Penyelenggaraan praktek dokter keluarga mempunyai peran yang strategis dalamreformasi pelayanan kesehatan pada tingkat primer, tujuannya adalah suatu bentuk pelayanankesehatan individu dan keluarga serta masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya. Indikatoruntuk menilai kualitas pelayanan kesehatan dokter keluarga adalah dengan melihat mutupenyelenggaraan pelayanan dokter keluarga itu sendiri. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungankepuasan pasien dengan minat pasien dalam pemanfaatan ulang pelayanan kesehatan pada praktekdokter keluarga di Klinik Sayung Husada. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif denganmenggunakan kuesioner yang disebarkan kepada sampel terpilih dengan random sampling yangdilakukan di Klinik Sayung Husada, Sayung, Demak. Jumlah sampel 97 orang. Hasil: Dari hasil ujistatistik dengan menggunakan chi square didapat nilai X2=97,00 dengan p=0,00. P<0,05 artinyaterdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan pelayanan Dokter dengan kembali berkunjung keKlinik Dokter Keluarga, didapat nilai X2=34,412 dengan p=0,00. P<0,05 artinya terdapat hubunganyang bermakna antara kepuasan pelayanan tenaga paramedis dengan minat pasien kembaliberkunjung ke Klinik Dokter Keluarga, didapat nilai X2=0,491 dengan p=0,631. P>0,05 artinya tidakterdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan pelayanan tenaga administrasi dengan minatpasien kembali berkunjung pasien ke Klinik Dokter Keluarga, didapat nilai X2=7,741 denganp=0,014. P<0,05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan pelayanan sarana danprasarana penunjang dengan minat pasien kembali berkunjung ke Klinik Dokter Keluarga.Simpulan: Sebagian besar responden menyatakan puas terhadap pelayanan Dokter dan pelayanantenaga paramedis, sebagian besar responden menyatakan tidak puas terhadap pelayanan saranapenunjang dan pelayanan administrasi, sebagian besar responden menyatakan berminat untuk berobatkembali ke Klinik Sayung Husada saat mereka merasakan sakit lagi.
PEMAKAIAN ANTIBIOTIK PADA KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE ANAK DI RUMAH SAKIT ROEMANI SEMARANG TAHUN 2010 Rohmani, Afiana; Anggraini, Merry Tiyas
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.614 KB)

Abstract

DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus , sehingga pemberian antibiotikdalam pengobatan DBD tidak diperlukan kecuali jika terdapat komplikasi infeksi sekunder yangdisebabkan oleh bakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi pemberian antibiotikpada penetalaksanaan DBD anak.Penelitian ini bersifat retrospektif diskriptif analitik, dilakukan di RS Roemani Semarang.Responden yang diambil adalah pasien anak dengan diagnosis akhir DBD di RS Roemani diSemarang periode Januari- Desembner 2010. Data penelitian merupakan data sekunder yaitu daricatatan rekam medis .Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian antibiotik pada penderita DBD anak masihcukup besar. Dari jumlah sampel 84 anak penderita DBD, sebanyak 74 anak ( 88,10%)tanpa mengalami komplikasi infeksi sekunder. Penderita DBD tanpa komplikasi infeksi sekunderlebih banyak diberikan pengobatan antibiotik yaitu sebesar 93,3%. Pemberian antibiotik palingbanyak adalah golongan cefalosporin yaitu cefadroxil sebesar 33,3% dan cefotaxim sebesar 25,0%dengan lama pemberian berkisar 4 – 6 hari. Pemberian antibiotik paling banyak hanya diberikan 1jenis obat sebesar 54,7% dan pemberian dengan 2 jenis obat sebesar 39,7%.
Hubungan Fase Pengobatan dan Status Gizi Tuberkulosis Anak Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Soewondo Kendal Periode Januari 2011 – September 2011 Prayitami, Septia Putri; Dewiyanti, Lilia; Rohmani, Afiana
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 1 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.464 KB)

Abstract

Latar belakang : Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular dan bersifat sistemik yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yang mayoritas (>95%) menyerang paru. Pengobatan tuberkulosis terdiri dari dua fase yaitu fase awal selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 6-12 bulan.Salah satu faktor yang mempengaruhi tuberkulosis yaitu status gizi. Anak balita merupakan kelompok paling rawan terhadap terjadinya kekurangan gizi. Anak yang sering terkena infeksi dan gizi kurang akan mengalami gangguan tumbuh kembang yang akan mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas di masa depan.Tujuan : Mengetahui adakah hubungan fase pengobatan dengan status gizi tuberkulosis anak di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Soewondo Kendal periode Januari 2011-September 2011.Metode : Desain penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional pada 117 anak penderita tuberkulosis yang menjalani rawat jalan diRumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Soewondo Kendal. Subyek dipilih dengan menggunakan tekhnik random sampling. Data didapatkan darirekam medis yang dianalisis menggunakan uji Chi Square. Status gizi dinilai berdasarkan baku rujukan WHO-NHCS dalam versi skor simpang baku (z score).Hasil : Sebagian besar anak berada pada fase lanjutan sebesar 54,7% dan mayoritas anak memiliki status gizi nomal sebesar 61,5%. Darihasil menunjukkan ada hubungan antara fase pengobatan dengan status gizi tuberkulosis anak. Uji statistic Chi Square didapatkan hasil p value < 0,05.Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara fase pengobatan dengan status gizi tuberkulosis anak.Kata kunci : Fase pengobatan, status gizi
Hubungan Pola Pemberian ASI dan Karakteristik Ibu dengan Tumbuh Kembang Bayi 0-6 Bulan di Desa Bajomulyo, Juwana Megawati, Retno Ayu; Notoatmojo, Harsoyo; Rohmani, Afiana
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 1 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.76 KB)

Abstract

Pendahuluan: Masa tumbuh kembang bayi 0-6 bulan membutuhkan asupan gizi yang diperoleh melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI)eksklusif. Gangguan tumbuh kembang pada awal kehidupan bayi diantaranya disebabkan karena ibu tidak memberi ASI eksklusif kepadabayinya. Jumlah penderita gizi kurang di Desa Bajomulyo sebesar (24%) dengan jumlah 12 balita dari 50 balita. Hal ini tentunya erat kaitannya dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif.Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan pola pemberian ASI dan karakteristik ibu dengantumbuh kembang bayi0-6 bulan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu cross sectional dengan sampel sebanyak 42 orang ibu yang memiliki bayi berusia 0-6 bulandan masih menyusui. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara dengan panduan kuesioner dan observasi. Analisis datamenggunakan uji Chi-Square.Hasil: Pola pemberian ASI dan karakteristik ibu berhubungan dengan pertumbuhan bayi yaitu pemberian kolostrum (p=0,000), frekuensipemberian ASI (p=0,000), durasi pemberian ASI (p=0,000), waktu antara pemberian ASI (p=0,000), usia ibu (p=0,003), pendidikan ibu (p=0,000), pekerjaan ibu (p=0,000),jumlah anak ibu (p=0,001). Pola pemberian ASI dan karakteristik ibu juga berhubungan dengan perkembangan bayi yaitu pemberian kolostrum (p=0,002), frekuensi pemberian ASI (p=0,002), durasi pemberian ASI (p=0,000), waktu antara pemberian ASI (p=0,000), usia ibu (p=0,002), pendidikan ibu (p=0,000), pekerjaan ibu (p=0,002), jumlah anak ibu (p=0,001).Kesimpulan: Ada hubungan bermakna antara pola pemberian ASI dan karakteristik ibu dengan tumbuh kembang bayi 0-6 bulan di DesaBajomulyo Kecamatan Juwana.Kata kunci : Pola pemberian ASI, karakteristik ibu, tumbuh kembang bayi
PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) PADA ANAK USIA 1-2 TAHUN DI KELURAHAN LAMPER TENGAH KECAMATAN SEMARANG SELATAN, KOTA SEMARANG Rohmani, Afiana
PROSIDING SEMINAR NASIONAL 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.234 KB)

Abstract

Selama ini banyak pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang terlalu dini bagi bayi danberakibat anak diare, produksi ASI berkurang, karena anak sudah kenyang dan jarang menyusui, sertadapat menimbulkan alergi dikemudian hari karena usus bayi masih mudah dilalui oleh protein asing.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia pemberian makanan pendamping ASIpertama kali dengan status gizi batita, menganalisis hubungan antara frekuensi pemberian MPASI denganstatus gizi batita, menganalisis hubungan antara kesesuaian jenis MPASI terhadap umur dengan statusgizi batita dan mengalisis hubungan antara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi batita. Metodepenelitian menggunakan studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan crosssectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 1-2 tahun yang berkunjung ke PosyanduKelurahan Lamper Tengah, kota Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 60 anak yang menggunakanmetode purpose random sampling. Data yang didapatkan antara lain tinggi dan berat badan anak, umuranak, dan pemberian MPASI yang meliputi usia pemberian MPASI, frekuensi pemberian MPASI,kesesuaian jenis MPASI terhadap perkembangan umur dan frekuensi pemberian ASI. Data yangdianalisis menggunakan statistik non parametrik, dengan menganalisis bubungan antar variabel denganuji korelasi spearman dan analisis uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubunganantara usia pertama pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, terdapat hubunganantara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, tidak ada hibunganantara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi pada indek BB/U dan terdapat hubungan antarakesuaian MPASI dengan umur dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U. Dengan demikian perluadanya penyuluhan terhadap ibu melalui posyandu tentang pola pemberian makanan pada bayi,khususnya kapan bayi dapat diberi MPASI, serta bagaimana pemberian MPASI yang benar, antara lainjenis-jenis MPASI yang disesuaikan dengan perkembangan umur, cara pemberian MPASI, dan porsipemberian MPASI.Kata Kunci: Makanan, pendampng, asi, anak, batita, status gizi
Ekstrak Buah Kersen (Muntingia calabura) dalam Menurunkan Jumlah Sel Goblet pada Tikus yang Dipapar Asap Rokok Kurniati, Ika Dyah; Rohmani, Afiana
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.659 KB)

Abstract

Asap rokok dapat meningkatkan stres oksidatif yang menyebabkan aktivasi dari Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) sehingga mencegah apoptosis sel bersilia serta mendiferensiasi sel bersilia menjadi sel goblet. Buah kersen (Muntingia calabura) mengandung antioksidan diantaranya flavonoid. Tujuan penelitian ini membuktikan pengaruh pemberian ekstrak buah kersen terhadap jumlah sel goblet pada trakea tikus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan Post Test Only Control Group Desain. Tikus sejumlah 18 ekor dibagi 3 kelompok, kemudian di papar asap rokok 7 batang perhari dan ekstrak buah kersen (EBK) selama 4 minggu. Kelompok pertama sebagai kontrol (K) diberi plasebo, kelompok Perlakuan 1 (P1) diberi EBK 100mg/kgBB/hari dan kelompok Perlakuan 2 (P2) diberi EBK 200mg/kgBB/hari. Perbedaan jumlah sel goblet dianalisis dengan Kruskal-Wallis Test dilanjutkan Post Hoc Mann-Whitney U Test. Hasil menunjukkan bahwa rerata sel goblet pada kelompok perlakuan 1 (P1=14,44) paling sedikit dibandingkan kelompok perlakuan 2 (P2=15,32) dan kelompok kontrol (K=23,08). Ada perbedaan bermakna jumlah sel goblet antara kelompok K dengan P1(ρ<0.0001) dan kelompok P1 dengan P2 (ρ=0,002), namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok K dengan P (ρ=0,126). Simpulannya ekstrak buah kersen mampu menurunkan jumlah sel goblet trakea tikus yang di papar asap rokok. Kata kunci: asap rokok, Muntingia calabura, sel goblet
Hubungan Antara Status Gizi dengan Anemia pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 3 Semarang Wibowo, Cahya Daris Tri; Notoatmojo, Harsoyo; Rohmani, Afiana
Jurnal Kedokteran Muhammadiyah Vol 1, No 2 (2012): JURNAL KEDOKTERAN
Publisher : Jurnal Kedokteran Muhammadiyah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.685 KB)

Abstract

Latar belakang : Anemia banyak terjadi terutama pada usia remaja baik kelompok pria maupun wanita. Indonesia sendiri prevalensi anemia yang didapatkan masih cukup tinggi, dimana data depkes tahun 2009 didapatkan angka kejadian anemia pada remaja putri mencapai presentasi 33,7 %. Sedangkan angka kejadian anemia di jawa tengah mencapai presentasi sebesar 30,4 % dan disemarang sendiri angka kejadian anemia pada remaja mencapai 26 %. berdasarkan survey awal yang telah dilakukan di SMP Muhammadiyah 3 Semarang dari 55 siswi terdapat 5 siswi dengan status gizi baik tetapi mempunyai riwayat anemia. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan anemia pada remaja putri SMP Muhammadiyah 3 Semarang Metode : Penelitian yang dilakukan bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 254 siswi dan sampel dalam penelitian ini sebanyak 44 siswi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik non random sampling, yaitu purposive sampling. Kemudian dilakukan uji Chi-Square.Hasil : responden dengan status gizi baik sebanyak 31 siswi Kata kunci : status gizi, anemia
Efektivitas in vitro Alfa Mangostin Pada Pertumbuhan Bakteri Uropatogen Escherichia coli Multiresisten Rakhmawatie, Maya Dian; Rohmani, Afiana; Ahyar, Fariz Wafaul
Sains Medika Vol 8, No 1 (2017): January - June 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran; Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.141 KB)

Abstract

Background. The incidence of Multi Drug Resistant (MDR) in extraintestinal E. coli has become a global problem in the world. In Indonesia, the greatest resistance to the uropathogen E. coli is resistant to ampicillin (91.9%), ciprofloxacin (83.7%) and cefixime (67.6%). Therefore it takes effort for the treatment of MDR uropathogen E. coli, one of them are development of new antibiotics from herbal isolates of Garcinia mangostana L., α-mangosteen. This study examined the activity of α-mangosteen in vitro on the growth of MDR uropathogen E. coli.Methods. Treatment of uropathogen E. coli is performed in vitro, using α-mangosteen with a range of levels 14 - 450 µg/mL. The antibacterial activity of α-mangosteen is measured by determine at the growth or death of bacteria at each concentration using indirect methods, which is absorbance reading. Uropathogen E. coli that had been treated with various concentration of α-mangosteen incubated for 18-20 hours, then read an absorbance at wavelenght 625 nm using a spectrophotometer.Result. The Minimal Inhibitory Concentration (MIC) of α-mangosteen in this study was 450 µg/mL. Based on the linear regression (STATA 13.1) relationship between concentration of α-mangosteen and activity of growth inhibition of bacteria, obtained the F test value 0.0001 < 0.05, states that all concentrations of α-mangosteen simultaneously have a significant influence on the growth of uropathogen E. coli.Conclusion. MIC value is relatively large causing α-mangosteen activity against Gram-negative bacteria needs to be studied further. Potentially relevant activity in the clinic will occur if the value of in vitro MIC < 100 µg/mL. Likewise, the pharmaceutical industry prefers the development of antibiotics that have in vitro MIC values ≤ 2 µg/mL.
OPTIMASI DAN VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR SIPROFLOKSASIN DALAM MEDIA MUELLER HINTON BROTH MENGGUNAKAN HPLC (High Performance Liquid Chromatography) Rakhmawatie, Maya Dian; Rohmani, Afiana
e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang Prosiding Seminar Nasional "Perkembangan Terbaru Pemanfaatan Herbal Sebagai Agen Preventif Pada Ter
Publisher : e-Publikasi Ilmiah Fakultas Farmasi Unwahas Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Model kinetika in vitro telah dikembangkan untuk menggambarkan simulasi farmakokinetika antibiotika sesuai dengan profil farmakokinetika pada tubuh manusia. Untuk melakukan penelitian model kinetika in vitro, salah satu faktor penting untuk dianalisis adalah kadar obat dalam media bakteri yang disesuaikan dengan kadar obat dalam tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis optimasi dan validasi penetapan kadar antibiotik siprofloksasin dalam media Mueller Hinton Broth (MHB), menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) UV Vis pada panjang gelombang 275 nm. Pemisahan kromatografi dilakukan menggunakan kolom C18 (250 x 4,6 mm; 4,6 µm; Knauer Jerman). Fase gerak isokratik terdiri dari 0,02 M buffer natrium dihidrogen fosfat pH ± 3,0 dan asetonitril (65:35, v/v). Fase gerak mengandung 5 mM trietilamin sebagai agen pasangan ion. Laju fase gerak konstan 0,8 mL/menit, pada suhu kolom 42°C, dan tekanan kolom berkisar 183 – 198 kgf. Metode yang digunakan selektif dapat memisahkan puncak area kromatogram dengan media MHB. Waktu retensi berada pada 3,74 menit (SD 0,04; CV 1,06%). Metode ini valid dan linear pada rentang konsentrasi 0,1 – 10 µg/mL (r2 = 0,992). Sensitivitas ditunjukkan dengan nilai LOD dan LLOQ sebesar 1,24 µg/mL dan 4,12 µg/mL. Stabilitas sampel yang diukur pada penyimpanan 7 hari suhu 2 – 8°C menunjukkan nilai perolehan kembali hasil simpan sebesar 93,80%. Kata kunci : HPLC; media Mueller Hinton Broth; siprofloksasin.