Articles

Found 35 Documents
Search

Participation of Mothers Who Work in Religious Activities Towards Child Behavior Isnaningsih, Anti; Rohman, Arif
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 3, No 1 (2019): June, 2019 In Press
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.733 KB) | DOI: 10.31004/obsesi.v3i1.157

Abstract

One of the provisions of parents to stimulate aspects of moral religious behavior in early childhood at home is by attending religious activities held in schools and places of worship. The study involved 26 children aged 4-6 years from working mothers. With a quantitative descriptive research approach the type of correlation is from mothers who have careers and participate in religious activities or not. This study looked at whether there were differences in moral religious behavior of children from both parents' backgrounds. The results showed that there were differences in the moral behavior of children's religion seen from the results of the Mann Whitney t test obtained by the results of sig. equal to 0,000 or <probability value that is 0.05. The effect of caregiving is proven on the behavior of children of mothers who attend religious activities that are more controlled than children of mothers who do not attend religious activities. Children tend not to be temperament, able to resist emotions, help each other, easily forgive and get used to pray before and after doing activities. This finding proves that nurturing the role of mother in the home environment is very influential despite being busy with her work
Rumours and Realities of Marriage Practices in Contemporary Samin Society Rohman, Arif
Jurnal Humaniora Vol 22, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2621.741 KB)

Abstract

Since the mid - 19th century the Samin people have made a contribution to resisting the Dutch colonial rule in rural Java through their non-violence movement and passive resistance (lijdelijk verset). History also notes that they have a unique culture and system of values which reflect their own local wisdom. However, many negative rumours have become widespread regarding this community. This article explores the marriage practices in Samin society and investigates how this society gives meaning to these marriage practices. It also examines whether the practice of virginity tests and stray marriages exist in contemporary Samin society.
The Changed and Unchanged Situations in the Representation of Women in Contemporary Cinema Rohman, Arif
Jurnal Humaniora Vol 25, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.496 KB)

Abstract

The second feminist wave in the 1960s has influenced feminists to increase their campaign against patriarchy in almost all areas. One of the areas which has made women very vulnerable is the issue of women in cinema. This article investigates some changes in the representation of women in cinema by comparing four movies: Stepford Wives (1975), Orlando (1992), When Night Is Falling (1995), and Stepford Wives (2004). This study was conducted by using modern hermeneutics method. The results indicate that these four films appear to contain three changed aspects regarding women, that is, the equality of work, the expression of sexual identity, and the image of ‘higher-education-woman’. The films also show that some aspects in the representation of women, such as the expectation of motherhood, the myth of sexuality, and the position of women as victims, remain unchanged.
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TERDAKWA SALAH TANGKAP DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA Rohman, Arif
Jurnal Komunikasi Hukum (JKH) Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Komunikasi Hukum
Publisher : Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.301 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dari perlindungan hukum terhadap terdakwa indikasi salah tangkap dalam sistem peradilan pidana, yakni perlindungan terhadap hak-hak terdakwa karena adanya suatu kesalahan dari sub sistem peradilan pidana.Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran yang jelas tentang bentuk perlindungan hukum terhadap terdakwa yang diindikasikan salah tangkap akibat dari salah identifikasi yang dilakukan oleh penyidik dan penarikan kembali keterangan para saksi. Alat yang dipergunakan untuk memperoleh informasi deskriptif sebagai data penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan penelitian lapangan (field research).Secara ius constitutum, perlindungan hukum yang diberikan terhadap terdakwa terindikasi salah tangkap adalah diperlakukan sama seperti terdakwa lainnya yakni diberikan hak-haknya berdasarkan KUHAP. Seperti tetap memproses perkara sampai pada penjatuhan putusan hakim mengenai bersalah atau tidak bersalah berdasarkan proses pembuktian. Hal tersebut dilakukan karena lebih mengutamakan kepastian hukum yaitu dengan adanya putusan tidak bersalah dari pengadilan, kemudian putusan tersebut dapat dijadikan dasar hak untuk mengajukan tuntutan ganti kerugian akibat perbuatan penyidik yang menyimpang. Secara ius constituendum, perlindungan hukum yang berkaitan dengan hak terdakwa sudah diatur dalam instrumen internasional, seperti Konvenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Convenant on Civil and Political Rights) yang telah diratifikasi oleh Indonesia dan dituangkan dalam UU No. 12 Tahun 2005, Universal Declaration Human Right, serta sudah diatur dalam hukum Nasional seperti KUHAP dan UU No. 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman. Tetapi, implementasi dari instrument serta Undang-undang tersebut yang perlu dipertegas, supaya penyidik dalam melakukan tugasnya lebih professional. Kata kunci: Perlindungan hukum, terdakwa salah tangkap, sistem peradilan pidana.
Problematika Penetapan Kawasan Hutan di Wilayah Masyarakat Adat dalam Rangka Pembangunan Berkelanjutan di Kota Tarakan -, Marthin; Zein, Yahya Ahmad; Rohman, Arif
Pandecta: Research Law Journal Vol 9, No 1 (2014): Pandecta January 2014
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/pandecta.v9i1.2855

Abstract

Pada dasarnya hukum diciptakan sebagai alat perubahan sosial. Salah satu berkurangnya hutan yang ada di Tarakan disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan mengklaim hutan yang ada sebagai hutan adat sehingga diperlukan kebijakan pemerintah daerah untuk menetapkan kawasan hutan tertentu. Hal ini di samping sebuah perintah UU juga merupakan tugas Pemerintah Daerah. Yang intinya sebagai peran Hukum Administrasi pada intinya, pertama, yang memungkinkan tugas administrasi negara, Kedua, melindungi warga negara terhadap tindakan sikap administrasi negara dan juga melindungi administrasi negara itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini termasuk jenis penelitian empiris. Sedangkan untuk memperoleh data menggunakan study pusktaka, observasi dan wawancara, kemudian data primer, sekunder dan tersier dianalisis untuk memecahkan masalah yang ditimbulkan. Status lahan hutan di Wilayah Adat di kota Tarakan adalah hutan negara, hutan harus dikelola sesuai dengan hak ulayat masyarakat adat. Suatu kawasan hutan tidak dapat dikatakan sebagai kawasan hutan adat begitu saja, tetapi harus melalui beberapa prosedur dan salah satu peran Pemerintah daerah Kota Tarakan adalah mengeluarkan peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Kota 2012-2032 yang di dalamnya memuat tentang hutan. Basically the law was created as a tool for social change. One of the existing forest loss in Tarakan caused by population growth and forest claimed as indigenous forest policy that required local governments to establish a particular forest area. This is in addition to a command law is also the duty of Local Government. Which is essentially the role of Administrative Law in essence, the first, which allows the state administration tasks, Second, to protect citizens against the actions and attitude of the state administration also protects the state administration itself. The method used in this study include the type of empirical research. As for obtaining data using pusktaka study, observation and interview, then the primary data, secondary and tertiary analyzed to solve the problems posed . Status of forest land in the town of Tarakan Indigenous Territory is a state forest, the forest must be managed in accordance with the customary rights of indigenous peoples. A forest can not be regarded as indigenous forests for granted, but must go through one of several procedures and the role of local government is issuing regulations Tarakan City Region No. 4 of 2012 on City Spatial Plan 2012-2032 in which the load on the forest .
DINAMIKA RELASI POLITIK ANTARA OTONOMI GURU DAN DOMINASI KEKUASAAN Rohman, Arif; Muhadjir, Noeng; Suyata, Suyata
Journal Pembangunan Pendidikan Fondasi dan Aplikasi Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Journal Pembangunan Pendidikan Fondasi dan Aplikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.386 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika relasi politik antara otonomi guru dan dominasi kekuasaan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis. Lokasinya di Kabupaten Bantul. Subjek terdiri dari 37 orang yang dipilih secara purposive. Prosedur penelitian ditempuh dengan lima langkah, dengan metode penggalian data: angket terbuka, wawancara mendalam, dan kajian dokumen. Trianggulasi melalui trianggulasi: metode dan sumber, diskusi ahli, dan penjelasan banding. Analisis data dilakukan secara kualitatif fenomenologis. Temuan penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, upaya guru dalam membangun otonominya menuju sosok profesional dipengaruhi oleh dinamika politik. Kedua, terdapat politisasi guru oleh penguasa daerah, yang dilakukan melalui ‘praktik terselubung’ untuk ‘meraih dukungan’ dan berujung pada bargaining politik dan sharing kekuasaan. Ketiga, ada dua bentuk politik dominasi penguasa terhadap guru, yaitu melalui ‘politik kooptasi’ dan melalui ‘politik pengambilan hati’. Keempat, politik kooptasi berimplikasi negatif pada melemahnya sikap kritis guru, sedangkan politik pengambilan hati berimplikasi positif pada meningkatnya jumlah guru dalam studi lanjut dan meningkatnya kesejahteraan guru. Kata kunci: relasi politik, otonomi guru, dan dominasi kekuasaan
KEKUASAAN GURU DALAM BIROKRASI PEMERINTAHAN DAERAH Rohman, Arif
HUMANIORA Vol 18, No 2: Oktober 2013
Publisher : HUMANIORA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.611 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tiga hal, yaitu: (1) konsep pemahaman guru tentang kekuasaan; (2) motif guru dalam memilih menjadi pejabat di jajaran birokrasi pemerintah; (3) cara guru dalam meraih kekuasaan birokrasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif model fenomenologis di wilayah kabupaten Bantul. Hasil penelitian ini adalah: (1) guru memahami kekuasaan sebagai amanah dan peluang untuk terlibat dalam pembangunan pendidikan. Apabila amanah datang maka wajib bagi guru untuk menerima dan menjalankannya. (2) motif guru memilih menjadi pejabat di birokrasi pemerintah adalah agar menjadi pelaku langsung dalam pembangunan pendidikan. Menjadi pejabat bagi guru adalah penting dari pada jabatan tersebut dipegang oleh orang yang tidak mengetahui pendidikan. Apabila jabatan dipegang oleh orang yang tidak memahami pendidikan akan berakibat fatal. (3) Cara guru dalam meraih kekuasaan birokrasi adalah melalui PGRI. Penguasa sangat berkepentingan terhadap PGRI dalam rangka menguasai guru, begitu juga guru melalui PGRI dapat lebih dekat dengan penguasa
MODEL PEMBELAJARAN INTER-TEAMS GAME TOURNAMENT UNTUK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN KOLABORASI MAHASISWA CALON GURU Rohman, Arif
JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN JPIP, Vol 6, Nomor 1, Maret 2013
Publisher : JURNAL PENELITIAN ILMU PENDIDIKAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.232 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan collaborative team-work mahasiswa calon melalui penggunaan metode Inter-teams game tournament (Intim). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, pada siklus-1 kemampuan collaborative team-work mahasiswa masih sedang. Pada siklus-2 praktek pembelajaran dikembangkan dengan meningkatkan motivasi agar mahasiswa lebih percaya diri. Kedua, kemampuan collaborative team-work mahasiswa dapat ditingkatkan melalui strategi pembelajaran inter-teams gamestournament. Kemampuan tersebut mencakup (a) komunikasi  empatik (b) kerjasama sinergis, (c) solidaritas kohesif, (d) sikap saling percaya, dan (e) pembagian kerja efektif. Lima kemampuan tersebut merupakan nilai dasar dalam bekerjasama secara kolaboratif.   Kata kunci: pembelajaran, kemampuan kolaborasi, dan kerja sama dalam tim
MASALAH PEMBELAJARAN DAN UPAYA PENCARIAN SOLUSI MELALUI KLINIK Rohman, Arif
MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN No 1 (2009): Jurnal Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi Mei 2009
Publisher : MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.284 KB)

Abstract

Sekolah dianggap sebagai instrumen penting dalam mewujudkan sosok manusiayang diharapkan. Aneka kesulitan telah menghadang sekolah dalam mewujudkan sosokmanusia diantaranya adalah drug use, early pregnancy, delinquency, dan schoolfailures. Salah satu jenis school failures adalah kesulitan sekolah dalam menentukankontrol atas faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar efektif untuk mencapaistudents’ academic and social gains. Arus utama peningkatan pengelolaan pendidikandewasa ini mencakup peningkatan relevansi, iklim akademik, komitmen kelembagaan,efisiensi, dan keberlanjutan; Untuk itu peningkatan kualitas pembelajaran memperolehtempat yang amat penting, yang meliputi: kualitas perilaku pembelajaran guru (teacher’sbehavior), perilaku belajar siswa (student’s behavior), iklim pembelajaran (learningclimate), materi pembelajaran, media pembelajaran, dan sistem pembelajaran disekolah. Aneka permasalahan pembelajaran (learning problems) yang terjadi dalampraktek pembelajaran di sekolah, khususnya sekolah dasar (SD), memiliki variasi yangamat beragam.Tiga problem yang paling menonjol pada Klinik Pembelajaran milikiDirektorat Ketenagaan Ditjen Dikti yaitu: (1) Cara menangani kasus pada anak didikseperti rendahnya motivasi belajar, kesulitan membaca, daya serap rendah, danketerbatasan lain, (2) Kesulitan memilih metode mengajar secara efektif untuk bidangstudi tertentu, dan (3) Kesulitan memahami dan menerapkan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) serta memahami sertifikasi guru. Oleh karenanya, hal ini menjadikanKlinik Pembelajaran menjadi bagian dari pencarian solusi atas problem pembelajaran.
MENAKAR POTRET REALITAS DAN IDEALITAS KUALITAS SEKOLAH ROHMAN, ARIF
FONDASIA Vol 2, No 10 (2010): FONDASIA
Publisher : LABORATORIUM JURUSAN FSP FIP UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3393.525 KB)

Abstract

Banyak ahli mensinyalir bahwa ada persoalan dengan sekolah. Aneka kesulitan yang dialaminya antara lain menyangkut drug use, early pregnancy, delinquency, dan school failures. Salah satu yang termasuk school failures adalah kesulitan dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar efektif. Proses ini hanya dapat dilakukan oleh sekolah berkualitas. Pandangan awam, sekolah berkualitas adalah sekolah dengan kemegahan gedung, keluesan den keindahan area lingkungan, secara kelengkapan fasilitas serana dan prasarananya. Namun oleh pare ahli, sekolah berkualitas lebih ditentukan pada kualitas proses belajar mengajar yang dapat menghasilkan lulusan berkualitas. Kualitas proses belajar mengajar ditentukan oleh enam faktor dan gabungan dari kesemuanya, yaitu: teachers behavior, students behavior and learning impact, learning climate, subject matters mastery, media, dan learning system. Untuk meningkatkan kualitas sekolah, dewasa ini terdapat dua gerakan yaitu School effective Movement oleh Mortimor dan kawan-kawan dan The Quality School Movement oleh William Glasser den kawan-kawan. Masing-masing memiliki pendekatan, cara, dan indikator yang berbeda.