Rohmadi Rohmadi
CTECH Labs Edwar Technology

Published : 8 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

MENYOROTI PASAL-PASAL RUU KUHP YANG MENGANDUNG RELASI GENDER DAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM

SAWWA Vol 8, No 2 (2013): sawwa
Publisher : SAWWA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDiskursus tentang relasi gender dan anak kembali mengemukaseiring dengan pembahasan RUU KUHP tentang persoalan seputarperkawinan. Nikah siri, perzinaan, kumpul kebo dan pelacuranmenjadi isu hangat yang termuat dalam RUU tersebut.Permasalahan ini menjadi menarik dan sangat penting untuk dikajimengingat bukan hanya menyangkut norma agama danbudaya namun juga terkait dengan isu gender dan anak. Bagaimanapun,berbagai praktik perzinaan, kumpul kebo dan sejenisnyaberdampak pada pola relasi antara laki-laki dan perempuan,dan juga anak. Tulisan ini akan memaparkan tentangpasal-pasal dalam RUU KUHP yang secara spesifik membahastentang relasi tersebut dengan menggunakan perspektif hukumpidana Islam.Kata Kunci: RUU KUHP, gender, hukum pidana Islam

MENYOROTI PASAL-PASAL RUU KUHP YANG MENGANDUNG RELASI GENDER DAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM

Sawwa: Jurnal Studi Gender dan Anak Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Sawwa: Jurnal Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.603 KB)

Abstract

Diskursus tentang relasi gender dan anak kembali mengemuka seiring dengan pembahasan RUU KUHP tentang persoalan seputar perkawinan. Nikah siri, perzinaan, kumpul kebo dan pelacuran menjadi isu hangat yang termuat dalam RUU tersebut. Permasalahan ini menjadi menarik dan sangat penting untuk dikaji mengingat bukan hanya menyangkut norma agama dan budaya namun juga terkait dengan isu gender dan anak. Bagaimana­pun, berbagai praktik perzinaan, kumpul kebo dan se­jenis­­nya berdampak pada pola relasi antara laki-laki dan perempu­an, dan juga anak. Tulisan ini akan memaparkan tentang pasal-pasal dalam RUU KUHP yang secara spesifik membahas tentang relasi tersebut dengan menggunakan perspektif hukum pidana Islam.

Pengembangan LKS Model Inkuiri Terbimbing Pelajaran IPA Materi Sifat-Sifat Cahaya

Jurnal Pedagogik Vol 5, No 10 (2017): Jurnal Pedagogi
Publisher : Jurnal Pedagogik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is (1) analyze the potential for developing student work sheet; (2) describe the attractiveness, easiness, and expediency of developing student work sheet. The research used research and development approach with step including research and collect information, planning, preliminary product development, preliminary trial, revise first product, first trial, and revise operational product. The collected data uses test and questionnaire. The research data was analyzed as descriptive and T-Test. The result of the research show that 1) the student work sheet is effective to be used as the guide of IPA student work sheet in material the characteristic of light by seeing the improving the result of student learning, with gain average 0,58, 2) the student work sheet is efficiency to be used by looking at the less time that was used in this learning than the time that was needed with the efficiency value 1,4, and 3) the student work sheet is interesting to be used by looking at the result of interesting test the student work sheet with percentages average 81%.Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis potensi untuk pengembangan LKS dan (2) mendeskripsikan kemenarikan, kemudahan dan kemanfaatan pengembangan LKS. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan dengan tahapan meliputi penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk pendahuluan, uji coba pendahuluan, revisi terhadap produk utama, uji coba utama, revisi produk operasional. Pengumpulan data menggunakan tes dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) LKS efektif digunakan sebagai panduan LKS IPA materi sifat-sifat cahaya dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa, dengan rata-rata gain 0,58. 2) LKS efisien digunakan dilihat dari lebih sedikit waktu yang digunakan dalam pembelajaran jika dibandingkan dengan waktu yang diperlukan, dengan nilai efisiensi 1,4 dan 3) LKS menarik digunakan dilihat dari hasil uji kemenarikan LKS dengan rata-rata persentase 81%.Kata kunci: IPA, LKS, model inkuiri.

Health Care Workers Communication on Diabetes Mellitus Management in Hospital and Community Health Center

KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.485 KB)

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) patients require DM management for life. Research proved that good quality self-care behavior of DM patients in dr. Harjono Regional Public Hospital Ponorogo and in North Ponorogo Community Health Center were still low (28,6% in dr. Harjono Regional Public Hospital Ponorogo and 50% in North Ponorogo Community Health Center). Health care worker communication is related to self-care behavior of DM patients. Differences in hospital and community health center self-care behavior in the previous study results triggered a question on the differences in hospital and community health center workers communication. This study was conducted in 2017 and aimed to explain the difference of health care workers communication regarding DM management in hospital and community health center. This study used comparative research design with 32 respondents from dr. Harjono Regional Public Hospital Ponorogo and 31 respondents from North Ponorogo Community Health Center. The results showed that 78.1% of respondents in hospitals and 93.5% of respondents in community health center stated good health care workers communication. The Fisher’s Exact test found p value of 0.148 which meant that there was no difference in communication of healthcare workers in hospital and community health center. Most patients in both places suffered from DM for 1-5 years and required the same health care workers communication, therefore there was no difference in the communication of health workers in both places.

AMBIVALENSI RADIKALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF MUHAMMADIYAH

Muaddib : Studi Kependidikan dan Keislaman Vol. 8 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.801 KB)

Abstract

There is no sexiest word besides Radicalism. Its existence often makes people stricken with fear. Even those who guessed that the end of radicalism was a brutal act of terrorism. The end of the religion is related. Various types of prevention are carried out by various official governmental and private institutions. The aim is none other than so that the ideas that lead to acts of terror can be stopped. In understanding the meaning of radicalism, many are confused, because if it is traced, the equivalent of the word radicalism is not in accordance with the meaning. Because the meaning of the radik is root / rooted (meaning deep thinking / philosophizing), while people do too much, they may not necessarily think deeply. Meanwhile, the word ism itself which contains the meaning of a notion, should be distinguished by an act that ends brutally. Herein lies the error, the word used to describe this should be extremism. Because there are always people who overdo it.That the symptoms of radicalism among Muslims in the post-New Order era can be seen as an 'act of identity' carried out in order to respond and answer the crisis of identity they experienced in the midst of dramatic and dramatic changes that occurred in Indonesia in the early phase of transition to democracy. not right if always associated with religion. But it does not mean that in religion there is no action, in any religion there are always people who interpret religion in a textual way, raping the scriptures for their interests. So that short-sightedness leads to brutal action / terror. The Muhammadiyah which is the main guardian of the Unitary State of the Republic of Indonesia will also not agree with various kinds of violence, occupation and deviant acts. It's just that Muhammadiyah suggested that the handling that smelled of Islam be carried out with a persuasive approach. Therefore, if the government insists on repressive actions, new terrorists will emerge. The emergence of radicalism cannot be separated from the long history of this nation, herein lies the ambivalent nature that we must seek and solve together, so that such ideas do not reappear.

PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF NEUROSAINS

Ruhama : Islamic Education Journal Vol 1, No 1 (2018): Volume 1 No 1 Mei 2018
Publisher : Ruhama : Islamic Education Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.191 KB)

Abstract

Pengembangan kurikulum di Indonesia telah banyak mengalami perubahan yang terbaru adalah pengembangan kurikulum 2013 pada madrasah dan sekolah. Sedangkan pada perguruan tinggi pengembangan kurikulum mengacu pada SNPT dan KKNI dari sisi dokumen telah baik. Banyak hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, salah satunya landasan psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Kenapa psikologi belajar dan psikologi perkembangan karena pada cabang ilmu psikologi kedua-duannya mengkaji secara mendalam manusia yang menjadi subyek dan obyek pendidikan baik dari sisi perkembangannya maupun dari cara memperoleh pengetahuan. Dalam pengembangan kurikulum aspek psikologi sangat penting dipertimbangkan, pada implementasi kurikulum faktor psikologi perkembangan dan psikologi belajar mutlak harus dipahami oleh guru. Ilmu neurosains pendidikan sangat mendukung, untuk melengkapi  psikologi perkembangan dan psikologi belajar sebagai pendekatan dalam mengembangkan kurikulum dan implemnetasinya diseluruh tingkatan. Cara mendidik manusia agar berkembang maksimal melalui kerja pendidikan adalah sebagai berikut: 1). Untuk mendapatkan efek pengayaan, stimulus harus baru. 2). Stimulus harus menantang. 3). Stimulus Harus koheren dan bermakna. 4). Pembelajaran harus terjadi sepanjang waktu. 6). Harus ada sebuah cara bagi otak untuk belajar dari stimuli yang baru dan menantang.  Keenam hal ini, sebagai perspektif baru yang dapat dimaksukkan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum pendidikan Islam.Kata Kunci : Pengembangan, Implementasi, Kurikulum, Pendidikan Islam, Neurosains

PENERAPAN KARAKTER RELIGIUS PADA PESERTA DIDIK DI MTs MUHAMMADIYAH 3 YANGGONG PONOROGO

TARBAWI:Journal on Islamic Education Vol 2, No 2: Oktober 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.15 KB)

Abstract

Penerapan merupakan suatu proses tindakan yang dilakukan dalam mencapai tujuan sedangkan karakter religius ialah sikap individu dari dalam diri seseorang. Penerapan karakter religius merupakan usaha untuk menerapkan pendidikan karakter pada peserta didik dengan melalui beberapa metode atau pembiasaan untuk tercapainya karakter religius. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui penerapan karakter religius pada peserta didik di MTs Muhammadiyah 3 Yanggong Ponorogo. (2) Mengetahui factor pendukung dan penghambat penerapan karakter religius pada peserta didik di MTs Muhammadiyah 3 Yanggong Ponorogo. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi untuk menjawab permasalahan penerapan karakter religius pada peserta didik di MTs Muhammadiyah 3 Yanggong Ponorogo.Hasil dari penelitian ini disimpulkan sebagai berikut: (1) Hafalan juz ama sebelum pembelajaran dimulai, (2) pembiasaan sholat dhuha, (3) pembiasaan sholat dhuhur berjamaah. Adapun model penerapannya adalah (1) Memberi suri tauladan yang baik seperti berjabat tangan setiap pagi. (2) Berpakaian muslimah. Adapun factor pendukung dan penghambat penerapan karakter religius pada peserta didik di MTs Muhammadiyah 3 Yanggong Ponorogo, faktor pendukung adalah semangat siswa untuk berubah menjadi lebih baik, adanya kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, ilmu pendidik yang memadai. Sedangkan faktor penghambat adanya beberapa siswa yang kurang semangat untuk berubah menjadi lebih baik, dan masih ada terkendalanya alat yang belum, yaitu peralatan pelatihan haji masih pinjam.