Thinni Nurul Rochmah
Department of administration and health Policy, Faculty of Public Health, Universitas Airlangga

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis Biaya Satuan Metode Activity Based Costing (Abc) Dalam Evaluasi Tarif Pelayanan Di Klinik Spesialis Bedah Saraf Rumah Sakit “X” Surabaya Rahmaniar, Dinda; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 3, No 2 (2017): JMK Yayasan RS.Dr.Soetomo, Oktober 2017
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.789 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan organisasi rumah sakit menuntut diselenggarakannya manajemen keuangan yang efektif dan efisien termasuk dalam hal penetapan tarif. Penetapan tarif rumah sakit dapat mempengaruhi profitabilitas dan brand image rumah sakit. Rata-rata profit margin RS “x” Surabaya dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015 adalah (-4,02%). Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis biaya satuan dalam evaluasi tarif pelayanan di RS “X” Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan dengan studi cross sectional menggunakan pendekatan kuantitatif serta pengumpulan data melalui observasi dan wawancara mendalam. Kalkulasi biaya dilakukan melalui analisis biaya dengan metode Activity Based Costing (ABC) pada klinik spesialis bedah saraf di RS “X” Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 9 produk pelayanan di klinik spesialis bedah saraf dan memiliki 2 tarif pelayanan yang rasional, 5 tarif rasional biaya langsung, dan 2 tarif lainnya adalah tarif tidak rasional. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah tarif produk pelayanan klinik spesialis bedah saraf di RS “X” Surabaya cenderung pada tarif rasional dengan biaya langsung. Hal tersebut dapat disebabkan oleh output pelayanan kecil, waktu aktivitas besar, biaya tidak langsung besar, dan jumlah cost driver yang besar. RS “X” Surabaya dapat melakukan efisiensi biaya pada bagian administrasi dan manajemen serta bagian IPS. Hasil unit cost dapat dijadikan dasar dalamproses standarisasi pelayanan, evaluasi, dan penentuan tarif menggunakan strategi cost based pricing sebagai upaya penerapan activity based management di rumah sakit.
Pengendalian Persediaan Obat Generik Dengan Metode Mmsl (Minimum-Maximum Stock Level) Di Unit Farmasi Rumah Sakit Islam Surabaya Kumalasari, Ayu; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 2, No 2 (2016): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo Oktober 2016
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.256 KB)

Abstract

ABSTRAK Rumah Sakit merupakan organisasi yang padat karya dan padat modal, sehingga dalam pengelolaannya harus efektif dan efisien.Salah satu yang harus dikelolah dengan baik adalah logistik obat.Di Rumah Sakit Islam Surabaya terdapat kejadian stockout obat pada jenis obat generik dengan rata-rata kejadian sebesar 56% pada bulan Juli-Desember tahun 2015.Hal ini disebabkan karena belum ada metode perencanaan dan pengendalian persediaan yang diterapkan.Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan perencanaan dengan melakukan analisis berdasarkan tingkat pemakaian obat dan melakukan peramalan dengan menggunakan metode least square dan pengendalian persediaan dengan menggunakan metode MMSL. Penelitian dilakukan di Unit Farmasi Rumah Sakit Islam Surabaya dengan rancangan cross sectional, mengggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.Penelitian dengan menggunakan data sekunder pemakaian obat pada Tahun 2015.Variabel terikat adalah data pemakaian riil obat.Variabel bebas adalah metode perencanaan dan pengendalian persediaan yang digunakan. Hasil penelitian diperoleh bahwa di Rumah Sakit Islam Surabaya belum ada metode perencanaan dan pengendalian persediaan tertentu yang digunakan.Klasifikasi obat generik berdasarkan analisis tingkat pemakaian diperoleh hasil 28 jenis obat termasuk dalam kategori fast moving.Hasil peramalan kebutuhan Tahun 2016 akan digunakan untuk melakukan pengendalian persediaan. Hasil perhitungan metode MMSL akan diperoleh nilai stok minimum dan maksimum persediaan obat. Hasil penelitian didapatkan nilai pengendalian persediaan untuk obat generik dengan metode MMSL.Didapatkan nilai stok minimum dan maksimum obat generik serta didapatkan nilai jumlah pemesanan kembali masing-masing obat generik dengan kategori fast moving.
Beban Ekonomi Pada Penderita Hipertensi Dengan Status Pbi Jkn Di Kabupaten Pamekasan Istiqomah, Ashri Nur; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 2, No 2 (2016): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo Oktober 2016
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.935 KB)

Abstract

ABSTRAKHipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang berlangsung secara menahun dan sering kali tidak bisa disembuhkan. Jumlah kasus hipertensi di Kabupaten Pamekasan pada periode 2012-2014 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2012 jumah kasus hipertensi sebanyak 22.808 kasus, tahun 2013 sebanyak 19.746 kasus dan tahun 2014 sebanyak 21.908 kasus. Jumlah kasus yang tinggi menyebabkan hipertensi termasuk dalam kategori sepuluh penyakit terbanyak di Kabupaten Pamekasan pada periode tahun 2012-2014. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui beban ekonomi yang ditanggung oleh penderita hipertensi dengan status PBI JKN di Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dan observasional. Apabila ditinjau dari waktu, penelitian ini termasuk penelitian cross sectionalPengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data primer adalah melalui wawancara kepada 100 responden dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang variabel yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita hipertensi dengan status PBI di Kabupaten Pamekasan mulai terdiagnosa hipertensi pada umur 52 tahun dengan nilai DALYs 19. Rata-rata biaya langsung yang dikeluarkan penderita hipertensi dengan status PBI di Kabupaten Pamekasan adalah sebesar Rp157.600,-. Rata-Rata biaya tidak langsung adalah sebesar Rp674.980,-. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah biaya tidak langsungyang dikeluarkan penderita hipertensi dengan status PBI di Kabupaten Pamekasan lebih besar dari pada biaya langsung. Sebanyak 65% responden masih mengeluarkan biaya pelayanan kesehatan. Hal ini membuat beban ekonomi yang ditanggung semakin besar dan masih banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa hipertensi yang dialami menyebabkan kerugian ekonomi yang secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kesejahteran baik di tingkat rumah tangga, regional maupun nasional.
Faktor Penyebab Kejadian Stagnant Dan Stockout Di Instalasi Farmasi Upt Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur Hadidah, Imas Sayyidati; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 2, No 2 (2016): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo Oktober 2016
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.799 KB)

Abstract

ABSTRAKLogistik obat termasuk salah satu aspek penting dalam bidang kesehatan. Pembelanjaan untuk penyediaan obat membutuhkan hampir 40% dari total anggaran operasional rumah sakit. Oleh karena itu obat harus dikelola secara efektif dan efisien. Ketidak efisienan dalam melakukan manajemen logistik memberikan dampak negatif terhadap rumah sakit baik dari segi medis maupun non medis. Pengelolaan obat di Instalasi Farmasi UPT Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur masih belum bejalan dengan baik dibuktikan dengan angka kejadian obat stagnant yang cukup tinggi yaitu sebesar 39% dan 29% untuk kejadian stockout. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung kerugian akibat kejadian obat stagnant dan stockout serta melakukan analisis faktor penyebab terjadinya obat stagnant dan stockout di Instalasi Farmasi UPT Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur tahun 2015. Penelitian ini termasuk deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode observasional yang dilakukan secara cross sectional dan melakukan perhitungan kerugian akibat kejadian obat stagnant dan stockout di Instalasi Farmasi UPT Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur tahun 2015. Hasil penelitian ini untuk penyebab kejadian obat stagnant dan stockout di Instalasi Farmasi UPT RSMM Jawa Timur pengadaan obat tidak efektif sebagai akibat dari perencanan yang belum tepat, pendistribusian obat yang kurang efektif, serta kesalahan pada kegiatan pencatatan dan pelaporan. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah masih belum terlaksnannya sistem manajemen logistik dengan benar sehingga menyebabkan kerugian yang cukup besar akibat adanya kejadian obat stagnant dan stockout di Instalasi Farmasi UPT RSMM Jawa Timur. Saran yang dapat diberikan yaitu dengan menerapkan metode yang sesuai pada setiap proses manajemen logistik serta mengembangkan sistem informasi yang tepat untuk mengontrol persediaan obat.
Active Case Treatment Lebih Cost Effective untuk Pengobatan TB Paru Tahap Awal Ardani, Ni Ketut; Rochmah, Thinni Nurul; Wahyuni, Chatarina Umbul
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Center for Health Policy and Management

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.804 KB)

Abstract

Background: Estimated one third of world population have been infected with Mycobacterium tuberculosis. Infected per- son will lose 3-4 months work time and will decrease 20%- 30% of income per year. Finding and treating TB patients are the best endeavor to stop TB spreading with a correct inter- vention. Jember Regency is executing Passive Case Treat- ment (PCT), which lung TB patients should come to puskes- mas to take the Tuberculosis Drug (ATD) in a certain day and hour. The method was not effective, proven by the increase of default rate for 3 years: 5.08% in 2007, 5.14% in 2008 and 6.18% in 2009, followed by the decrease of conversion rate for 3 years: 95.26% in 2007, 93.09% in 2008 and 92.08% in 2009. It is raising alertness for increased re-treatment which will lead to MDR, where MDR is clearly affecting TB patients? quality of life. Afterward, an idea to create an ATD delivery to patients? homes was executed, it is called Active Case Treat- ment (ACT). Method: This study was a Quasy Experimental Research with a prospective design. Conducted in 16 Puskesmas with default rate more than 5% and conversion rate less than 80% in 2009. Begin in September until November 2010, using total sampling technique. The sample was all lung TB patients who came for treatment in September 2010, with criteria were: new case, 15-50 years of age, did not suffer HIV and Diabe- tes Mellitus, was not malnourished, and was not allergic to ATD. Data collection was done through interview, filling ques- tionnaires and exploring documents. Then followed the calcu- lation of the total cost (direct and indirect cost) and Quality of Life (QoL) of both PCT and ACT. Later, total cost was com- pared to QoL, the lesser amount was considered more cost effective. Result: Research result showed that to increase 1 scale of Quality of Life (QoL) of PCT needed an amount of IDR. 35,295.00, while to increase 1 QoL scale ACT was IDR 14,377.00. ACT was smaller than PCT. Conclution: Conclusion derived from the result was that ACT is more cost effective than PCT. Recommendation to be pre- sented is to endorse lung TB treatment with ACT in Jember Regency particularly in Puskesmas with the same character- istics with this research.Latar belakang: Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi mikrobakterium tuberkulosis. Bila terinfeksi, diperkira- kan akan kehilangan waktu kerja 3-4 bulan dan berkurangnya pendapatan 20-30% pertahun. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penu- laran TB dengan intervensi yang tepat. Pengobatan TB di Kabu- paten Jember dilakukan dengan cara Pasive Case Treatment (PCT), yang mengharuskan pasien datang ke puskesmas untuk mengambil OAT pada hari dan jam yang telah ditentukan. Cara ini ternyata kurang efektif yang ditandai dengan meningkatnya default selama 3 tahun yaitu: 2007= 5.08%, 2008= 5.14% dan 2009= 6.18%, yang diikuti dengan menurunnya conversion rate selama 3 tahun, yaitu; 2007= 95.26%, 2008= 93.09% dan 2009= 92.08%. Hal ini akan meningkatkan kasus re-treatment yang berakibat munculnya MDR (Multidrugs resistance) dan juga akan mempengaruhi kualitas hidup penderita TB. Kemudian muncul ide untuk menciptakan cara penggobatan dengan meng- antar OAT ke rumah penderita yang dilakukan oleh kader kese- hatan, yang diistilahkan dengan Active Case Treatment (ACT). Metode: Penelitian ini merupakan Quasy Experimental Re- search dengan rancangan prospektif. Dilakukan di 16 Puskes- mas di Kabupaten Jember yang memiliki angka default lebih dari 5% dan conversion rate kurang dari 80% pada tahun 2009. Dilakukan pada awal September sampai akhir Nopember 2010. Sampelnya adalah seluruh pasien TB Paru yang berobat pada bulan september 2010 dengan kriteria; kasus baru, usia 15-50 tahun, tidak HIV dan diabetes, tidak malnutrisi, dan tidak alergi terhadap OAT. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner dan penelusuran doku- men. Selanjutnya menghitung biaya total (biaya langsung dan biaya tidak langsung) dan tingkat kualitas hidup penderita TB dari kedua cara pengobatan (PCT dan ACT). Kemudian memban- dingkan antara total cost dengan tingkat kualitas hidup. Angka yang lebih kecil menunjukkan lebih cost effective. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menaikkan 1 skala Qol dengan cara PCT dibutuhkan dana sebesar Rp. 35,295.00. Sedangkan untuk menaikkan 1 skala Qol dengan cara ACT membutuhkan dana sebesar Rp. 14,377.00. Cara ACT membutuhkan dana lebih kecil dibanding PCT. Kesimpulan: Dari hasil tersebut diatas maka dapat diambil kesimpulan akhir bahwa pengobatan TB paru cara ACT lebih cost effective dibanding dengan pengobatan TB paru cara PCT. Dengan demikian, rekomendasi yang diusulkan adalah memberlakukan pengobatan TB Paru dengan cara ACT di Kabu- paten Jember terutama pada wilayah puskesmas yang memiliki karateristik yang sama dengan penelitian ini.?
COMPLIANCE DIET INPATIENT DIABETES MELLITUS BASED ON THEORY COMPLIANCE BY NIVEN Ilmah, Farida; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.741 KB)

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus is one of disease related to nutrition. Diabetes Mellitusinpatient’s food waste plate is one of the manifestation of noncompliance to the diet program that have been recommended by health workers. This study analyzed the influence of noncompliance inpatients with Diabetes Mellitus diet in dr. M. Soewandhie Surabaya based on the theory compliance by Niven. This was analytic observasionalstudy with cross sectional design. This study used32 samples. Data were analyzed using linear regression test. The results showed that 64.7% of respondents who have a good attitude did notcomply to the diet, 85,7% of respondentswho noncompliance to the diet has very good belief. Meanwhile, 50% of respondents who di not understand the instruction from nutritionists belonging to noncompliance. Then 85.7% of respondents felt lack of support from their family classified as noncompliance category. While, 75% of respondents who feel very good quality interaction with nutritionists belonging to noncompliance respondent. While, 66,7% respondents who got enough support from nutritioniststned to comply the diet. The study showed that official support (nutritionists) influence the patient compliance (ρ = 0,000) with a value of B = -6. Counseling to inpatients Diabetes Mellitus diet every daycould change the compliance patients. Keywords: compliancetheory, Diabetes  mellitus diet, food waste plate, health                 worker support, niven
SUITABILITY BENEFIT PACKAGE THAT RECEIVED BY THEPARTICIPANTS OF INSURANCE IN THE HEALTH CARECENTER UNIVERSITAS AIRLANGGA Setiawan, Iwan; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.489 KB)

Abstract

ABSTRACTBenefit package provided for policyholderis expected to be in accordance with policyholder’s expectations. This research aimed to evaluate the conformity of the benefit package received by policyholder in Airlangga Health Care Center.This was descriptive study with cross sectional design. Data analysis quantitative with observational data.The population was all employees of Airlangga Health Care Center. The results of this study show that the total cost of health care in the PLK-UA in 2009 amounted to IDR 1.232.974.580, while the income was IDR 1.309.680.000. Based on the result, the calculation shows that the benefit package received by policyholders is worth the premium paid in the amount of IDR 60.000 per year.These conclutionis the implementation managed care insurance system that provides maximum service to policyholders by means of giving back the premium thathas been paid by the policyholders in the form of benefit package or development of facilities and infrastructure. However,revised service package provided by Airlangga Health Care Centershould be reconsidered in order to meet the expectations of policyholders.Keywords:benefit package, health insurancepremium, policyholders
ANALYSIS OF EFFECT COMMUNICATION, LEADERSHIP AND TEAM WORK FOR EMPLOYEE DISCIPLINE OF X HOSPITAL SURABAYA Dila, Afifah Nasyahta; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.116 KB)

Abstract

ABSTRACTDiscipline is one of significant factors that increase the employee’s perfomance. One of discipline indicators is absenteeism. Absenteeism rate of employee in 2014 was high especially for alpa (22,35%). Purpose of this research analyze communication, leadership and team work influence to discipline employees.This research using cross sectional method. Respondents are 36 employees. The sampling through stratified random sampling. The location is in a hospital. The result of this research showed the effectivity of communication level is in moderate cathegory (50%). The hospital leadership has supported employees to be discipline (50%). The effetivity of team work level is high (77,8%). The result of linier regression tests between dependent variable with several independent variables showed that communication (p=0,024) and teamwork (0,004) variables influence employees discipline.Based on the results, to enhance the effectivity of communication by regulating information flow and utilizing feedback. To enhance the effectivity of team work by making an event can increase the flexibility, cohesivity, viability dan communication team such as outbound.Keywords: communication, discipline,  leadership and teamwork
THE INFLUENCE OF BRAND KNOWLEDGE IN CHOOSING HOSPITAL Setyawati, Candra; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.731 KB)

Abstract

ABSTRACT Brand knowledge is an information and public knowledge measurement related to consuming product. Low of care visit in clinical care of specialist dental health and hospital are 22% from maximum supply count each year, so it needs to analyze the decision of choosing Airlangga University Dental Health and Hospital based on brand knowledge. This study was an observational analytic, and based on the time, this study was cross-sectional study with stratified random sampling. There were 100 respondents that participated in this study. Statistical test used logistic regression. The result of this study indicated that there was no effectbetween brand awareness with the public desicion to visit Airlangga University Dental Health and Hospital (p=0,746) and also there was no effectbetween brand image with the public decision to visit Airlangga University Dental Health and Hospital (p=0,138). This study concluded that there was no effectof brand knowledge (that consists of brand awareness and brand image) toward the public decision in choosing Airlangga University Dental Health and Hospital. According to the result, Airlangga University Dental Health and Hospital should improve their medical service quality by advertising and dissemination of their medical service information. Keywords: brand awareness, brand image, brand knowledge,  decision,                           hospital
PARTNERSHIPS SYSTEM ANALYSIS IN IMMUNIZATION PROGRAM BASED ON THE ROLE OF FORCES THE VILLAGE, MIDWIFE VILLAGE, AND SOCIETY Arifada, Aqsha Yuldan; Rochmah, Thinni Nurul
Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.702 KB)

Abstract

ABSTRACT Sumenep regency as the most eastern districts in the region Madura have not been able to meet the target of Universal Child Immunization (UCI) coverage in accordance with the Minimum Service Standards (SPM) Indonesian government. Application of the village partnership system is expected to increase the scope of UCI in the village. This research is aimed to analyze the inputs, processes, and outputs the village partnership system is based on the role of village officials, village midwives, and society. This study uses observational descriptive with cross sectional design. Samples were collected using stratified random sampling method consist of the villages, midwives, and community groups. The result showed that the majority of village officials, midwives, and community groups unoptimal in partnership system in the village, so the need to improvements to the village partnership system is good an solid. There was no significant effect of the variables role of village officials and midwives to result UCI village coverage. On community variables, the process of partnership, and the result of partnership, there are several variables that have significant influence. Based on the survey result it can be concluded that the system of partnership in the area Puskesmas do not use the integrated partnership model, but using a network model of partnership.Keywords: community development, immunization, partnership, Universal Child Immunization