Baskoro Rochaddi
Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Dr. Soedarto, Tembalang, Semarang, Indonesia. 50275

Published : 39 Documents
Articles

Found 39 Documents
Search

Pestisida Organoklorin pada Aqifer Dangkal di Wilayah Pesisir Kota Semarang

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.377 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis kondisi fisika-kimiawi dan tingkat kontaminasi pestisida organoklorin dalam aqifer dangkal di wilayah pesisir Kota Semarang.  Sampel airtanah diambil di 10 lokasi di pesisir Semarang, yang mewakili daerah industri, pertanian dan pemukiman.  Hasil penelitian menunjukkan nilai parameter fisika-kimiawi airtanah (pH, suhu, salinitas) mempunyai variasi yang rendah.  Ke 10 sampel yang diamati menunjukan warna, rasa dan bau dalam air sampel.  Hasil rata-rata kandungan heptaclor adalah 0.023-0.055 µg L-1 dan enfrin adalah tidak terdeteksi sampai 0.648 µg L-1.  Hasil perbandingan kandungan pestsida organochlorine dalam aqifer dangkal di pesisir Semarang dengan WHO dan IWQS menunjukan bahwa air pada aqifer di Semarang termasuk terkontaminasi pestisida organochlorine dan membuktikan telah ditemukannya pestisida organochlorine pada aqifer dangkal di wilayah pesisir Kota Semarang.Kata kunci: aqifer dangkal, organochlorin pestisida, wilayah pesisir  The present study was conducted to assess psycho-chemical parameters and the level of organochlorine pesticides contamination in shallow aquifer of Semarang city coastal areas.  Ten samples of groundwater were collected in different sites of Semarang coastal i.e. industrial, agriculture and settlement areas. The results indicated that low variation existed among some physico-chemical parameter (pH, temperature, salinity). In the colors, taste and odor of 10 water sample were also investigated.  Mean values found in positive samples were heptachlor, ranging from 0.023 to 0.055 µg L-1, whereas endrin, ranging from undetected to 0.648 µg L-1. Compare to World Health Organization (WHO) limits and Indonesian Drinking and Domestic Water Quality Standard for Ground Water (IWQS) showed that this study proved the presence of organochlorine pesticides contamination of some shallow aquifer supplies in the coastal areas of Semarang city. Key  words : shallow aquifer, organochlorine pesticides, coastal area

Ekologi Perairan Delta Wulan Demak Jawa Tengah: Korelasi Sebaran Gastropoda dan Bahan Organik Dasar di Kawasan Mangrove

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 4 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Delta Wulan merupakan salah satu kawasan bermangrove yang memili kesuburan tinggi karena kandungan bahan organiknya. Banyak organisme yang berasosiasi dengan mangrove salah satunya adalahgastropoda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran gastropoda di kawasan mangrove perairan delta. Pengambilan sampel gastropoda dilakukan di kawasan mangrove dengan luasan 5x5 m pada4 stasiun yang berbeda. Hasil pengamatan ditemukan 7 famili dan 9 genus gastropoda. Kesembilan genus gastropoda hampir tersebar di keseluruhan stasiun, jumlah individu terbanyak di temukan pada stasiun I yang lokasinya dekat laut sedangkan yang terkecil pada stasiun IV yang lokasinya jauh dari laut. Pola sebaran gstropoda pada masing masing stasiun adalah mengelompok dan indek kesamaan komunitas hampir setiap stasiun sama.Kata kunci : Delta Wulan, gastropoda, organic dasarDelta Wulan waters is one of the mangrove areas which has highest fertile condition due to high organic matter conteint. Many of animals including gastropod were associated with mangrove vegetation to make symbiotics between them. The aim of the research was to understand the dispersion of gastropod on mangrove forest of Delta Wulan areas. The samples were collected by using 5x5 square meter in 4 different stations. The research found 7 families and 9 genera of gastropod. Most of the gastropod was distributed on 4 stations and the highest number of individual was found in station I which locoted closer with sea water and the lowest number was found at station IV which futher away from the sea. The dispersal pattern of gatropod in their location was clumped and community similarity indices were also similar.Key words: Delta Wulan, gastropod, benthic organic mater

Pemanfaatan Citra Aster untuk Inventarisasi Sumberdaya Laut dan Pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan, Kepulauan Karimunjawa

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 3 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.045 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Pulau Karimunjawa dan Kemujan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan sumberdaya laut dan pesisir Pulau Karimunjawa dan Kemujan serta potensinya melalui analisis citra penginderaan jauh dengan menggunakan data citra satelit ASTER. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah diskriptif, sedangkan untuk cek lapangan menggunakan sampling purposif. Hasil menunjukkan bahwa sumberdaya laut di Pulau Karimunjawa terdapat lima kelas yaitu pasir ± 41,4 ha, padang lamun/rumput laut ± 84,16 ha, pecahan karang ± 43,77 ha, karang hidup ± 379,21 ha dan karang mati ± 107,9 ha. Sedangkan sumberdaya laut yang ada di Pulau Kemujan yaitu pasir ± 86,71 ha, padang lamun/rumput laut ± 163,16 ha, pecahan karang ± 59,00 ha, karang hidup ± 483,15 ha dan karang mati ± 153,46 ha. Sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa terdapat sembilan kelas, yaitu hutan mangrove ± 184,89 ha, hutan primer ± 846,80 ha, hutan skunder ± 715,01 ha, perkebunan ± 159,40 ha, pertanian ± 25,74 ha,semak belukar ± 187,21 ha, tambak ± 38,37 ha, pemukiman ± 56,01 ha dan lahan kosong 41,96 ha. Sedangkan sumberdaya pesisir untuk Pulau Kemujan yaitu hutan mangrove ± 222,90 ha, hutan skunder ± 254,76 ha,perkebunan ± 247,73 ha, pertanian ± 31,46 ha, semak belukar ±273,30 ha, tambak ± 21,95 ha, pemukiman ± 99,07 ha, lahan kosong ± 50,47 ha dan bandara udara 16,80 ha. Uji ketelitian klasifikasi sumberdaya lautsebesar 86,04 % dan 85,50 % untuk ketelitian klasifikasi sumberdaya pesisir di Pulau Karimunjawa dan Kemujan.Kata kunci: inventarisasi, sumberdaya laut dan pesisir, citra asterThis study was carried out at Karimunjawa and Kemujan Islands. The objective of this research is to investigate marine and coastal resources of Karimunjawa and Kemujan Islands through analysis of remote sensing images by using ASTER satellite image data. Descriptive method was used in this research, while for the field check use purposive sampling. The result of this study indicate that there were five classes of marine resources at Karimunjawa Island i.e. sand ± 41,4 ha, seagrass ± 84,16 ha, coral ruble ± 43,77 ha, life coral ± 379,21 ha and dead coral ± 107,9 ha. While marine resource that exist in Kemujan Island that is sand ± 86,71 ha, field of seagrass ± 163,16 ha, piece coral ± 59,00 ha, life coral + 483,15 ha and dead coral ± 153,46 ha. There were nine classes of coastal resources at Karimunjawa Island i.e. is mangrove forest + 184,89 ha, primary forest ± 846,80 ha, secondary forest ± 715,01 ha, plantation + 159,40 ha, agriculture ± 25,74 ha, coppice ± 187,21 ha, dam out ± 38,37 ha, settlement ± 56,01 ha and empty farm + 41,96 ha. While coastal resource found at Kemujan Island were mangrove forest ± 222,90 ha, secondary forest ± 254,76 ha, plantation ± 247,73 ha, agriculture ± 31,46 ha, coppice ± 273,30 ha, dam out ± 21,95 ha, settlement ± 99,07 ha, empty farm + 50,47 ha and airport ± 16,80 ha. Sensitivity test of marine resource classification equal to 86,046% and 86,956 % for the sensitivity of coastal resource classification in Karimunjawa and Kemujan Island.Key words: inventory, seas and coastal resource, aster image.

Deliniasi Batas Biogeofisik Wilayah Daratan Pesisir

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 1 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2196.527 KB)

Abstract

Perencanaan untuk pengelolaan kawasan pesisir memerlukan batasan dan deskripsi mengenai kawasan daratan pesisir yang jelas. Permasalahan yang ada di Indonesia pada umumnya dan Kota Semarang pada khususnya adalah belum ditetapkannya batas wilayah pesisir baik untuk perencanaan maupun operasionalnya, sehingga sampai sekarang wilayah daratan pesisir masih diperlakukan sama seperti wilayah daratan lainnya. Maka dari itu penelitian untuk mencari batas daratan pesisir,  sangat penting dilakukan di Kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas wilayah daratan pesisir di Kota Semarang dengan pendekatan biofisik. Penelitian lapangan dilakukan pada tanggal 21 Agustus -30 September 2004. Penelitian dilakukan di wilayah Kota Semarang, meliputi tiga sungai yaitu Sungai Plumbon, Sungai Banjir Kanal Barat, dan Sungai Banjir Kanal Timur. Adapun data intrusi air asin pada akuifer air tanah dangkal berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2000. Materi penelitian meliputi parameter biologi (makrozoobenthos, fitoplankton, dan mangrove) dan parameter fisik (jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada akuifer dangkal, kajian teoritis geologi). Dari hasil analisis kedua parameter tadi, maka selanjutnya dapat ditarik batas wilayah daratan pesisir di daerah Kota Semarang. Hasil dari tumpang tindih peta berdasarkan parameter jangkauan masuknya air laut di sungai, intrusi air laut pada air tanah dangkal, makrozoobenthos, fitoplankton dan mangrove menunjukkan bahwa batas daratan pesisir Kota Semarang secara biofisik untuk Semarang bagian barat adalah 1,7 -2,2 Km dari garis pantai, Semarang bagian tengah 1,9 -3,5 Km dari garis pantai dan untuk Semarang bagian timur 2,4 -4,8 Km dari garis pantai.   Kata kunci: batas biofisik, daratan pesisir, Semarang The delineation and description of coastal land are needed in coastal planning and management. The main problem in Indonesia especially in Semarang is the delineation for planning and operation unsettled yet. Until now coastal land still treated like others land region. Because of that the research to seek the delineation of coastal land is very important to be done. The objective of this research is to determine delineation of coastal land in Semarang by biophysical approach. The research was conducted in August 21st -September 30th 2004 in Semarang including 3 rivers which are Plumbon River, Banjir Kanal Barat River, and Banjir Kanal Timur River. The data of intrusion sea water in unconfined aquifer is based on the research in 2000. The materials of these researches were biology parameters such as (macrozoobenthos, Phytoplankton and mangrove) and physical parameters (intrusion of sea water in river, intrusion of sea water in unconfined aquifer and study of theoretical geology). Base on analysis of the parameters can be determining the delineation of coastal land in Semarang. The results of over lay map based on intrusion of sea water in river, intrusion of sea water in unconfined aquifer, macrozoobenthos, phytoplankton and mangrove parameters shows that delineation of coastal land in west part of Semarang was 1, 7 -2.2 Km from coastal line, central part of Semarang was 1, 9 -3, 5 Km from coastal line, east part of Semarang was 2, 4 -4, 8 Km from coastal line. Key words: biophysical delineation, coastal land, Semarang

Physico-chemical Characteristics and Heavy Metal Contents in Shallow Groundwater of Semarang Coastal Region

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 4 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.408 KB)

Abstract

Kandungan logam berat di dalam lingkungan perairan secara alami berasal dari hasil proses geokimia. Namun, kandungan logam berat dalam perairan ini dapat meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas manusia seperti, aktivitas pelayaran, limbah industri, limbah domesitk dan sebagainya. Dalam penelitian ini telah dilakukan studi untuk menentukan kandungan logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb), besi (Fe), Kromium (Cr) dan tembaga (Cu). Parameter fisika-kimia contoh air dan kandungan logam berat sampel air yang berasal dari daerah pantai Semarang juga diukur dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keragaman  antar parameter fisika kimia (pH, suhu, salinitas) adalah kecil. Warna, rasa dan bau dari sampel air juga diamati. Kandungan logam berat (mg L-1) dalam sampel air menunjukkan nilai Cr 5.083 + 1.59, Pb 5.52 + 1.34,  Fe 1.199 + 1.29. Sedangkan logam Hg dan Cu dalam penelitian ini tidak terdeteksi. Nilai rerata hasil penelitian tersebut melebihi ambang maksimum yang disyaratkan World Health Organization (WHO) dan Indonesian Drinking & Domestic Water Quality Standard for Ground Water . Penelitian ini menunjukkan bukti adanya kontaminasi logam berat yang membahayakan pada suplai airtanah dangkal di daerah pantai Semarang. Kata kunci: parameter fisika kimia, logam berat, Atomic Absorption Spectrophotometer  Heavy metals in the aquatic environment have to date come mainly from naturally occurring geochemical materials. However, this has been enhanced by human activities such as boat activity, industrial effluents, domestic sewage etc. An attempt was made to determine the level of trace metals such as Mercury (Hg), Lead (Pb), Iron (Fe), Chromium (Cr) and Copper (Cu). The physico-chemical and trace metal contents of water samples from coastal zone of Semarang were assessed using Atomic Absorption Spectrophotometer technique. Results indicated that low variation existed among some physico-chemical parameter (pH, temperature, salinity). In the water sample colour, taste and odor were investigated. Heavy metal levels (mg L-1) in the water were Cr 5.083 + 1.59, Pb 5.52 + 1.34,  Fe 1.199 + 1.29. However, Hg and Cu were not detected in any of the samples. Comparison of the metal contents in the water sample with World Health Organization (WHO) limits and Indonesian Drinking & Domestic Water Quality Standard for Ground Water showed that the mean levels of Fe, Pb, Cr were exceeded the maximum permissible levels for drinking  water. This work has conclusively proven the presence of dangerous heavy metal contamination of the groundwater supply in the coastal area of Semarang. Key words: Physico-chemical parameters, heavy metals,  Atomic Absorption Spectrophotometer

Kajian Kerentanan Tsunami Menggunakan Metode Sistem Informasi Geografi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Journal of Marine Research Vol 2, No 1 (2013): Journal of Marine Research
Publisher : Journal of Marine Research

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian archipelago directly opposite to the subduction zone between the Indo-Australian plate with the Eurasian plate. Based on plate movements, earthquakes are common in the Indian Ocean. As a result, the southern part of Java Island is very prone to earthquakes. If earthquakes occur beneath the sea and vertical fracture occurs, it will cause a tsunami. The purpose of this research is to create a map of vulnerability to tsunamis in the region peisir Bantul, Yogyakarta using Geographic Information Systems technology (GIS) and identify any areas that are highly vulnerable The research was conducted in March 2012 until August 2012. The method of analysis in this research is qualitative and quantitative. The methodology used in this study include data gathering both primary and secondary data include satellite imagery, DEM, scale 1:25,000 Topographic maps, demographic data, seismic positioning data, bathymetry data, and earthquake data fault. Processing parameters data that represent each variable vulnerability, ie environmental vulnerability, physical, social and economic was weight and then given a vulnerability score of each variable, vulnerability areas data processing to tsunami to get the vulnerability of the region to the tsunami map and field surveys. Villages in coastal areas that have a high level of tsunami vulnerability is Poncosari Village, Gadingsari Village, Gadingharjo Village, Srigading Village, Tirtoharo Village, Donotirto Village and Parangtritis village. Land use in Bantul related to human activities that weredamage threatened by the tsunami are residential, gardens, fields, ponds, moor and forest.

STUDI ARUS DAN SEBARAN SEDIMEN DI PERAIRAN SRENGSEM LAMPUNG

Journal of Oceanography Vol 1, No 1 (2012): Journal of Oceanography
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Mempelajari arus dan sebaran sedimen (tersuspensi dan sedimen dasar) sangatlah penting, yaitu untuk mengetahui arah dan pergerakan arusnya serta. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pola arus,  sebaran sedimen tersuspensi dan sedimen dasar serta mengetahui lokasi yang berpotensi mengalami kekeruhan. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, tahap pengambilan data di lapangan pada tanggal 05-08 Agustus 2011 di daerah perairan Srengsem Kecamatan Panjang Lampung dan tahap analisis sedimen. Penelitian ini memakai data primer yaitu arus, pasang surut, sedimen dasar, sedimen tersuspensi dan data sekunder yaitu peta bathimetri dan data angin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, menggunakan software SMS versi 8.1. Hasil analisa kecepatan arus pada perairan srengsem berkisar 0.051-0.2 m/s, dengan pola arus dominan dipengaruhi oleh arus non pasut. Pada saat pasang menuju surut arus bergerak menuju barat laut dan sebaliknya pada saat surut menuju pasang bergerak menuju timur laut. Hasil dari data lapangan distribusi sebaran konsentrasi TSS (Total Suspended Solid) berkisar antara 7 mg/l-16 mg/l, lokasi yang berpotensi mengalami kekeruhan adalah stasiun 3. Dominasi jenis sedimen di daerah penelitian adalah lanau

KAJIAN KONDISI ARUS DAN SEBARAN SEDIMEN DASAR PADA SAAT MUSIM TIMUR DI PERAIRAN SEMARANG - DEMAK

Journal of Oceanography Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSpasi : 1 -------------------------------------------------------------------------------------------------Pemilihan lokasi untuk wilayah pengembangan pelabuhan tergantung pada beberapa faktor seperti geologi, sedimen dasar, kedalaman, gelombang, arus dan sedimentasi. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi tentang kondisi oseanografi agar dapat menunjang dalam kegiatan pengembangan wilayah pesisir maupun pengembangan suatu pelabuhan. Penelitian ini hanya sebatas memberikan informasi tentang sebaran jenis sedimen dasar yang berupa pasir, lanau dan lempung dan kondisi arus yang berada diperairan Semarang – Demak. Data yang diambil merupakan data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data arus yang didapat dari pemasangan alat ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) di dasar perairan dan sedimen perairan yang diambil dengan alat sedimen grab, sedangkan data skunder berupa data peta kontur kedalaman lokasi penelitian dan peramalan pasang surut pada bulan penelitian. Untuk analisa butir sedimen diketahui bahwa jenis sedimen, di dominasi oleh jenis pasir, dengan persentase dari 50 % sampai dengan 95,55 %, %, kandungan lanau dengan kisaran  4,45 % sampai dengan 41,55 %, sedangkan lempung kisaran antara 0 % sampai dengan 12,42 %. Jenis arus yang mendominasi di perairan Semarang adalah arus pasang surut dengan persentase dominasi arus pasang surut sebesar 84,079 % dan persentase dominasi arus residu (non pasang surut) sebesar 15,921 %. Kecepatan arus maksimum dalam pengukuran adalah 0,184 m/detik pada arah 212,8 NE, dan kecepatan arus minimum adalah 0,002 m/detik pada arah 333,4 NE. Dapat di artikan  arus perairan relatif tenang.

KAJIAN SPASIAL SUHU PERMUKAAN LAUT AKIBAT AIR BAHANG PLTU PAITON MENGGUNAKAN SALURAN TERMAL SATELIT LANDSAT 7/ETM+ DI PANTAI BHINOR KABUPATEN PROBOLINGGO JAWA TIMUR

Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk memetakan secara horisontal suhu permukaan laut di perairan PLTU Paiton Probolinggo dan mengkaji sebaran spasial termal perairan akibat air bahang PLTU Paiton Probolinggo. Pengolahan data citra dilakukan menggunakan perangkat lunak ER Mapper 7.0 dan ArcGIS 9.3. Data yang digunakan dalam penelitian adalah citra Satelit Landsat 7ETM+ tahun 2009 hingga tahun 2012, data arus permukaan dan angin yang diperoleh dari BMKG Maritim Perak Surabaya dan data hasil pengukuran lapangan bulan Februari 2012. Kenaikan suhu permukaan perairan kompleks PLTU Paiton Probolinggo akibat air bahang berkisar  dari  yang  terendah  28 °C  hingga suhu  tertinggi 36 °C yang berada pada mulut saluran buangan PLTU. Luasan area perairan yang mengalami kenaikan suhu permukaan akibat air bahang bervariasi mulai dari 2,07  hingga mencapai 35,65 . Arah pergerakan air bahang dipengaruhi oleh arus yang dibangkitkan oleh sistem angin monsun.

STUDI MODEL FISIK STABILITAS DESAIN BREAKWATER TERHADAP HEMPASAN GELOMBANG DI PANTAI GLAGAH YOGYAKARTA

Journal of Oceanography Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKegiatan manusia telah banyak beranjak ke arah pantai sehingga sudah selayaknya mendapatkan perhatian lebih dalam hal perlindungan dari serangan gelombang seperti breakwater. Bangunan breakwater di Pelabuhan Adikarta Glagah, Kulon Progo telah dibangun dan dalam proses modifikasi akibat dari kerusakan yang dialami dengan banyaknya tetrapod yang mengalami kegagalan (failed) sehingga tetrapod berpindah tempat (bergeser dan/atau longsor). Untuk mengkaji dan mempelajari kegagalan unit lapis lindung pada breakwater di Pelabuhan Adikarta Glagah, maka pengujian stabilitas lapis lindung menggunakan model fisik dilaksanakan di Laboratorium Model Fisik BPDP – BPPT Yogyakarta menggunakan metode eksperimental. Hasil penelitian didapat tingkat kerusakannya desain breakwater sekitar 0.71 % dengan koefisien stabilitas 12,57.Sehingga tetrapod tersebut  akan bekerja dengan baik untuk melindungi breakwater.