Ristiyanto Ristiyanto
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

DISTRIBUSI SPASIAL KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD), ANALISIS INDEKS JARAK DAN ALTERNATIF PENGENDALIAN VEKTOR DI KOTA SAMARINDA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 22, No 3 Sep (2012)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) happens to be a public health problem in Samarinda city, East Kalimantan Province. Dengue was reported endemic in the entire six subdistricts of the city. Various vector control programs have been conducted by the Health Office, yet the dengue cases were still occurred on the previous years. Comprehensive research was conducted to determine the spatial distribution of DHF cases using geographical information system (GIS) mapping, in relation to positive larvae of the breeding habitat distributions. The study was carried out in five endemic areas namely Pelita village Samarinda Utara Subdistrict, Sambutan village Samarinda Ilir Subdistrict, Sidodadi village Samarinda Ulu Subdistrict, Harapan Baru village Samarinda Seberang Subdistrict and Karang Asam Ilir village Sungai Kunjang Subdistrict. The aim of the study was to determine the specific vector control strategies based on spatial DHF cases and breeding habitat distributions and distance index analyses, larvae free index and insecticide susceptible status of dengue vector of Ae. aegypti against the insecticides which were used for vector control programs. The study revealed that average ABJ in the study areas was 35.85-64.16% and lower the national standar of 95%. Dengue vector of Ae. aegypti was found to be resistant to Malathion, Permethrin, Lambdasihalothrin and Bendiocarb insecticides. Thus an alternative insecticide should be considered. Dengue cases distribution in Samarinda city were found in  clusters/gregorious. Distance index analyses indicated that the transmissions were due to mosquito behaviour. Community empowement is needed to encourage the potential groups (PKK, Dasa Wisma, public health caders, posyandu), to participate on the vector control program.   Keywords: DHF, Spatial distribution, Cases Distance Index, Samarinda City.     Abstrak Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur dan dilaporkan endemis di enam wilayah kecamatan. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota, tetapi kasus DBD masih ditemukan sepanjang tahun.  Penelitian komprehensif telah dilakukan untuk menentukan distribusi spasial kasus DBD dengan pemetaan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG), berkaitan dengan habitat positif jentik. Penelitian dilakukan dilima (5) wilayah kalurahan endemis yaitu: Desa Pelita Kecamatan Samarinda Utara, Desa Sambutan Kecamatan Samarinda Ilir, Desa Sidodadi Kecamatan Samarinda Ulu, Desa Harapan Baru Kecamatan Samarinda Seberang dan Desa  Karang Asam Ilir  Kecamatan Sungai Kunjang. Tujuan penelitian adalah menentukan strategi pengendalian vektor spesifik berdasarkan distribusi spasial/ pemetaan kasus DBD dengan sistem informasi geografi (SIG), Index jarak (distance index) kasus DBD, angka bebas jentik (ABJ) serta status kerentanan nyamuk vektor Ae. aegypti terhadap insektisida. Hasil survei jentik ditemukan bahwa rata-rata ABJ di daerah penelitian jauh lebih rendah daripada standar nasional 95,0%. Uji susceptibility vektor DBD Ae. aegypti telah resisten terhadap insektisida Malathion, Permethrin, Lambdasihalothrin dan Bendiocarb, sehingga diperlukan insektisida alternatif. Distribusi kasus DBD Kota Samarinda ditemukan mengelompok distance index rata-rata 75 meter sebagai indikasi penularan lebih disebabkan perilaku nyamuk vektor. Pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan sebagai usaha memberikan motivasi kepada kelompok masyarakat potensial seperti PKK, Dasa Wisma, kader kesehatan dan posyandu, untuk berpartisipasi dalam program pengendalian vektor DBD.   Kata kunci: DBD, Distribusi spasial, Jarak indeks kasus, Kota  Samarinda

STUDI BIOEKOLOGI VEKTOR MALARIA DI KECAMATAN SRUMBUNG, KABUPATEN MAGELANG, JAWA TENGAH

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 33, No 2 Jun (2005)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study of bioecology on malaria vectors had been conducted in July-November 2004 in Nganggrung sub village, Kamongan village Srumbung sub district, Magelang regency, Central Java Province. The objective of the study is to identify the bionomic and resistances status of malaria vectors against insecticide and malaria cases distribution. Result of the studies revealed that, the water existence in the Salak plantation had become potential as the breeding places for suspected malaria vectors namely Anopheles bala-bacensis, An. aconitus and An. maculatus. Although the rainfall data during the study was very low but three suspected species of malaria vectors were always found biting on man with the density of <0.5/man/hour. The biting activity of An. maculatus as well as occurred through out the night (indoors and outdoors). In addition, before midnight, the biting peak lately revealed. The three-suspected malaria tends to tolerant against both insecticides carbamat and organophosphate. Mapping of malaria cases shows that the breeding places of malaria vector are near to the villagers houses (approximately 25 meters).

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGABUTAN DAN PENABURAN MALATHION 5% DALAM UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT TULAR RODENSIA

Buletin Penelitian Kesehatan Vol 23, No 1 Mar (1995)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A trial of thermal fogging using malathion 5% EC against fleas was conducted two cycles with an interval of two weeks application, in the rodent borne disease enzootic areas, in Boyolali, Central Java. The objective of the trial is to determine the efficacy of malathion 5% EC applied by thermal fogging compared to dusting method by Fanara, et al (1979). Result of the trial showed that the crude index flea was reduced 67.4% - 83.6% for 14 days, compared to 65% - 94% reduction for 120 days by dusting application.

DISTRIBUSI SPASIAL LEPTOSPIROSIS DI WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2002-2012

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 5, No 2 Okt (2013)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis    masih    menjadi    masalah    di    Provinsi    Jawa    Tengah. Studi    ini    bertujuan    mengetahui    pola    distribusisecara    deskriptif    dengan    pendekatan    Sistem    Informasi    Geografis    (SIG).    Analisis    yang    digunakan    adalahanalisis    statistik    deskriptif    untuk    membuat    beberapa    asumsi    pengelompokan    sebaran    leptospirosis    berdasar    identifikasi    wilayah    geografis.    Kasus    leptospirosis    di    Provinsi    Jawa    Tengah    tersebar    di    pesisir    pantai    utara(Kota    Semarang,    Kab.    Demak,    Pati    dan    Jepara)    relatif    mengelompok    dan    bagian    selatan    (Kab.    Wonogiri,Klaten,    Boyolali,    Purworejo,    Banyumas    dan    Cilacap)    sebaran    leptospirosis    meluas    dan    sporadis.    Hubunganketinggian    tempat    dengan    keberadaan    kasus    terlihat    pada    distribusi    kasus    leptospirosis    tertinggi    berada    didaerah    dengan    ketinggian    0-100    mDpl    dan    100-500    mDpl.Kata    Kunci:    Leptospirosis,    distribusi,    Jawa    Tengah.

SURVEI DEMOGRAFI DAN KONDISI LINGKUNGAN RUMAH DI DAERAH KASUS LEPTOSPIROSIS DI DESA SUMBERSARI KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2010

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 4, No 1 Jun (2012)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis is a zoonotic disease, caused by the leptospira bacteria. Leptospirosis atSumbersari Village Moyudan, Subdistrict Sleman District was the highest case in the D.I.Yogyakarta Province with CFR = 16.6% in 2009. The purpose study is to describe an individualcharacteristic and condition of urban environmental leptospirosis case area. It was explorativedescriptive research with cross sectional approach. Population of this study is houses in theleptospirosis case area. Ninety houses were chosen, using simple random sampling. This studyshowed the proportion of leptospirosis in farmer was 4.4 %, proportion on sex male was 6,6 %,proportion on group 40 - 59 years old was 6.6 %, basic education level was 4.4 %. There was astatistically significant correlation between the water storage with the incidence of leptospirosis (p=0.034); the environtmental conditions around of the leptospirosis case with water temperature werebetween 20 - 25 °C, pH range 6.4 - 7.4, soil pH range 6.8 - 7.2; The conclusion of this study are:Farmer and the house with no water storage is at risk for leptospirosis,Key words: leptospirosis, zoonosis, prevalensi. Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis, yang diakibatkan oleh bakteri leptospiraKejadian leptospirosis di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan merupakan yang tertinggi diProvinsi D.I. Yogyakarta dengan CFR= 16,6% pada tahun 2009. Tujuan Penelitian ini adalah untukmendeskripsikan karakteristik individu dan kondisi lingkungan rumah di daerah kasus leptospirosis.Metode penelitian menggunakan jenis ekspoloratif deskriptif dengan pendekatan cross sectional.Populasi dalam penelitian adalah rumah tangga di daerah kasus leptospirosis. Jumlah sampelsebanyak 90 kepala keluarga ,ditentukan dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitianmenunjukkan proporsi kasus leptospirosis pada kelompok pekerjaan (petani) 4,4%. Pada kelompokdengan jenis kelamin laki-laki 6,6%. Pada kelompok golongan umur 40 - 59 tahun 6,6% dan padatingkat pendidikan dasar 4,4 %. Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara rumah yangtidak memiliki tempat menyimpan sarana air bersih dengan kejadian leptospirosis (p= 0,034).Kondisi pH air 6,4 - 7,4 dan suhu air 20 - 25 °C dengan pH tanah 6,8 - 7,2. Kesimpulan penelitian:Pekerjaan sebagai petani dan kondisi rumah yang tidak memiliki tempat menyimpan sarana airbersih berisiko tertular leptospirosis.Kata kunci: leptospirosis, zoonosis, prevalensi.

ANALISIS COSTEFFECTIVENESS PENGENDALIAN HAYATI MENGGUNAKAN Bacillusthuringiensis H-14 GALUR LOKAL

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 2, No 2 Okt (2010)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Economic analysis in health is a studyofthe application ofthe concept ofeconomics in anobjective approach to policy making health programs. Oneofthe success ofa policy is a healthprogram benefits greater than costs incurred. Cost effectiveness analysis (CEA) is one tool to helpmakedecisions. The analysis used tocompare the level ofefficiency programs. Thegeneralobjectiveofthis research is to obtain cost effectiveness model for biological control ofmalariavectorsusingaB. thuringiensisH-14 local strain. Thespecificobjectiveofresearchis to comparethe costeffectiveness use ofBacillusthuringiensis H-14local strain ofB.thuringiensis H-14strain beyond the control of malaria vector mosquito larvae Anopheles sp.The study was conducted in March through December 2006 at the Central Research andDevelopmentofDisease Vectors and Reservoir (B2P2VRP), Salatiga. The study design wasobservationalstudies (observational research). Data were collected retrospectively, for 1-yearstudy. Data were analyzed statistically using Excel program to calculate the cost effectivenessratio (CER) with adiscountrate of10%. Inanalyzingthe cost-effectiveness(CEA) by calculatingthe cost-effectivenessratio(CER).Ifthe valueofCERsfrom avectorcontrolagentusedishigherthan the comparable then the agent is said to be more efficient than a comparable agency or viceversa.Theresults showedthat the modelofmalariavectorcontrolAn.sundaicususingB. thuringiensisH-14local strainis morecosteffectivethan usingB. thuringiensisH-14outsidelines, withthecost effectiveness ratio (CER) in B. thuringiensisH-14 local strainof6.49 x 10-7 andat B.thuringiensisH-14 strains outof3.23 x 10-7.Keywords: Costeffectivenessanalysis,B.thuringiensis,An.sundaicus Analisisekonomidi bidangkesehatanmerupakan suatu kajianpenerapankonsep ilmuekonomi pada pendekatan obyektifpengambilan kebijakan program kesehatan. Salah satukeberhasilansuatu kebijakanprogramkesehatanadalah manfaatyangdiperolehlebih besardaribiaya yang dikeluarkan.Costeffectiveness analysis(CEA) merupakan salah satu alat untukmembantumengambil keputusan. Analisis tersebutdipergunakanuntukmembandingkantingkatefisiensi beberapaprogram. Tujuan umum penelitian adalah mendapatkan cost effectivenessmodel pengendalian vektor malaria secara hayati menggunakanB.thuringiensisH-14galurlokal.Tujuan khusus penelitian adalah Membandingkancost effectiveness penggunaan Bacillusthuringiensis H-14 galur lokal denganB.thuringiensis H-14 galur luar dalam mengendalikanjentiknyamuk vektor malariaAnophelessp.Penelitian dilakukan pada Bulan Maret sampai Desember 2006 di Balai Besar Penelitiandan PengembanganVektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP), Salatiga. Desainpenelitianadalahpenelitianobservasional(observational research).Data dikumpulkan secararetrospektif,selama 1tahun penelitian. Datadianalisis secara statistik menggunakanprogramExceluntukmenghitungCost effectiveness ratio(CER) dengan discount rate 10%. Dalammenganalisisefektivitasbiaya(CEA) dengancaramenghitungrasio efektivitasbiaya(CER). ApabilanilaiCERdariagenpengendalianvektoryangdigunakanlebih tinggi daripadayangdiperbandingkanmakadikatakanagentersebutlebih efisien daripadaagen yangdiperbandingkanatausebaliknya.Hasilpenelitianmenunjukkanbahwamodelpengendalianvektormalaria An. sundaicusmenggunakanB. thuringiensisH-14galurlokal lebih cost effective daripadamenggunakanB.thuringiensisH-14galurluar, dengan Cost effectiveness ratio(CER) padaB. thuringiensisH-14galurlokal sebesar6,49x10"7danpadafi.thuringiensisH-14galurluar sebesar3,23x10"7.Katakunci: Costeffectivenessanalysis,B.thuringiensis,An.sundaicus

DISTRIBUSI DANF AKTOR RESIKO LINGKUNGAN PENULARAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 2, No 2 Okt (2010)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The studyofdistribution and risk factorsofleptospirosis was conductedin Bonang Sub district,Demak Regency in May - July 2006. This study aimed to discover the distribution and risk factorsofleptospirosis incidence using cross sectional approach. The leptospirosis cases were determinedbyperipherbloodtest using leptotek lateral flow, while leptotek dri-dotwasusedto test rodent blood.Thedistributionsofcases andleptospires reservoirwereanalyzedby amappingprogramGISand thecharacteristic ofleptospirosis cases were identified using questionnaire. The result showed thatleptospirosis cases spread randomly along Tuntang Lama River and cored in Bonang sub district(Tridonorejo and Gebang villages). The distance betweenleptospires buffer zone and river was about< 50 meters (21 cases), 50 - 100 meters (8cases) and 100 meters(4 cases). The leptospirosisincidence more prevalent in man (74,8%) than woman (25,2%>). The leptospirosis cases were 15 yearsold or more (87,4%), their occupationwere farmer orfisherman (52,6%), housewife(36,2%) andseller (20%). Their house were easy enteredby rats 74,6% (RR; 23,6-33,2).Thepeoplewho gotleptospires common using water from the river for their daily activities 83,2% (RR; 15,4-17,6) andthey have not any cattle 82,5%)(RR; 1,6-4,7). During the survey was found 57 rats, such asRattustanezumi 36 rats,Norwayrats, R. norvegicus21 rats and theinsectivore Suncusmurinus15 rats. Inaddition,R.tanezumi andR. norvegicuswere foundinfected byleptospires and they wereestimatedasleptospirosisreservoir.Keywords:leptospirosis, DemakRegency,epidemiology,reservoir.AbstrakStudidistribusi dan faktor risiko lingkungan leptospirosis telah dilakukandi KecamatanBonang,KabupatenDemak,padabulanMei- Juli2006.Tujuanpenelitianadalahmengetahuipenyebarandanfaktor risiko lingkungan kejadian leptospirosis di daerah penelitian. Penelitian menggunakanrancangan cross sectional. Penentuan kasus leptospirosis dengan pemeriksaan darah tepimenggunakanleptotek latteral flow, sedangkanuntuktikus menggunakanleptotek dridot.Distribusikasusdan reservoir leptospirosis dianalisisdenganpemanfaatanprogrampemetaan. Karakteristikkasus leptospirosis dikajidenganmenggunakankuesionerterstruktur. Hasilpenelitianmenunjukanbahwaleptospirosis tersebar secara random di sepanjangtepi sungai TuntangLamadanterfokus diKecamatanBonang (DesaTridonoredjo,danGebang).Buffer Zonekasus leptospirosis dansungaiberjarak < 50 m (21 kasus), 50 - 100 m (8 kasus) dan > 100 m (4 kasus). Kasus leptospirosis berjeniskelamin laki-laki (74,8%) lebih banyak daripada perempuan (25,2%). Kelompokumur kasusleptospirosis >15tahun (87,4%), pekerjaan petani/nelayan 52,6%, ibu rumah tangga 36,2% danpedagang 20%. Kasus leptospirosis pada umumnya rumah tidak rapat tikus 74,6% (23,6 - 33,2) danmemanfaatkan air sungai di depan rumahnya83,2%>(RR ; 15,4 - 17,6), dan tidak mempunyai hewanternak 82,5% (RR; 1,6 - 4,7). Selama survei ditemukan 57 ekor tikus, meliputi tikus rumah Rattustanezumi sebanyak 36 ekor, tikus gotR. norvegicus2ekor, dan cecurutSuncusmurinus(cecurut rumah) sebanyak 15 ekor.R.tanezumi (6,82% dari 36 ekor tikus) dan tikus gotR. norvegicus(3,6%>dari21ekortikus)terinfeksibakteriLeptospira.Katakunci;leptospirosis, Demak,Epidemiologi,Reservoir

DETERMINAN PERILAKU PADA KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI KABUPATEN DEMAK, JAWA TENGAH TAHUN 2008

Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 24, No 3 Sep (2014)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerilaku manusia dapat menjadi faktor pemicu terjadinya leptospirosis sebagai re-emerging zoonosis di Kabupaten Demak. Tujuan penelitian adalah menggambarkan determinan perilaku penderita pada kejadian luar biasa leptospirosis (KLB) di Kabupaten Demak, Tahun 2008. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Sampel adalah penderita leptospirosis periode 1 Januari – 1 April 2008. Hasil menunjukan mayoritas penderita berusia produktif. Lebih dari 50% penderita tidak tahu bahaya leptospirosis. Kaporit dipahami sebagai penjernih air bukan desinfektan. Lebih dari 50% penderita memiliki aktivitas kontak dengan sumber penularan leptospirosis. Mayoritas penderita tidak memakai alas kaki dan sarung tangan sebagai pelindung diri dari penularan leptospirosis. Bangkai tikus lebih banyak dibuang di sungai (59,3%), sedangkan perilaku pengendalian tikus yang efektif belum banyak dilaksanakan (68,5%). Kewaspadaan penderita terhadap leptospirosis masih rendah karena adanya persepsi leptospirosis tidak berbahaya dan pengetahuan tentang leptospirosis yang masih kurang. Responden mendukung penggunaan kaporit tetapi untuk menjernihkan air bukan sebagai desinfektan. Perilaku hidup bersih dan sehat, pengendalian tikus serta penggunaan alat pelindung diri untuk mencegah leptospirosis masih kurang. Rekomendasi yang diberikan adalah perlu peningkatan edukasi kesehatan tentang bahaya leptospirosis, aktivitas berisiko, penggunaan kaporit dan teknik pengendalian tikus yang benar.Kata kunci : leptospirosis, perilaku, determinan, kejadian luar biasaAbstractHuman behavior could be a trigger factor for leptospirosis as a re-emerging zoonoses in Demak Regency. Objective of this study was to describe patients behavioral determinants in leptospirosis outbreaks in Demak Regency, 2008. Research was a descriptive study with cross – sectional design. Data was collected with interview. Samples were leptospirosis patients from 1 January to 1 April 2008. Results showed the majority of respondents were in productive age. More than 50% of patients did not know the  danger  of  leptospirosis.  Chlorine  was  understood  as  water  purifier  instead  of  disinfectant.  More than 50% of patients had activity contact with source of transmission. The majority of respondents did not wear shoes and gloves as protective of transmission of leptospirosis. Respondents dumped dead rats in the river (59.3%), while effective rat control behavior had not been widely implemented (68.5%). Precautions against leptospirosis on patients was still low due to perception of leptospirosis were harmless and knowledge of leptospirosis were still lacking. Respondents supported the use of chlorine to purify water but not as disinfectant. Behavior of clean and healthy lifestyle, rat controls and the use of personal protective equipment were lacking. Increasing health education about the dangers of leptospirosis, risky activities, use of chlorine and effective rat control techniques were reccomended.Keywords : leptospirosis, behavior, determinants, outbreak

SEROPREVALENSI LEPTOSPIRA PADA RATTUS NORvEgICUS DAN RATTUS TANEzUmI BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN UMUR

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 7, No 1 JUN (2015)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rats are the main natural infectious host of leptospirosis to human. Rattus norvegicus (rats) and Rattus tanezumi (house mice) are two types of domestic rats that related with leptospira infection in the world. They are played the main role major leptospirosis transmission to human than others. This study aims to determine seroprevalence of Leptospira of R. norvegicus and R. tanezumi based of the sex and age. The method of study was trapping rats in the Miroto village (Semarang) and Tridonorejo village (Demak). LeptoTec Dri-Dot test has used after take  blood of the rats intracardially and weight eye lens used to determinan age of the rats. The results showed seroprevalence of Leptospira in R. norvegicus were 66,67% and R. tanezumi were 24,39%. Seroprevalence of Leptospira in R. norvegicus females were 71,43% and R. norvegicus males were 60%. Seroprevalence of Leptospira in R. tanezumi females were 21,43% and R. tanezumi male were 30,77%. Based of age showed seroprevalence of Leptospira was highest in R. norvegicus and R.tanezumi adult than R. norvegicus and R. tanezumi young.

PREVALENSI TIKUS TERINFEKSI Leptospira interogans DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

Vektora : Jurnal Vektor dan Reservoir Penyakit Vol 7, No 2 OKT (2015)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLeptospirosis merupakan zoonosis.Penyakit ini sering dijumpai di daerah perkotaan terutama yang sering dilanda banjir.Manusia terinfeksi bakteri Leptospira melalui air atau tanah yang terkontaminasi dengan urin atau cairan tubuh inang reservoir.Tikus adalah inang reservoir leptospirosis.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi tikus yang terinfeksi Leptospira dan interaksi antara pasien suspek leptospira dengan tikus­Kota­Semarang,­Jawa­Tengah.­Selain­itu­dilakukan­pula­identifikasi­serovar­Leptospira­padatikus­diKota Semarang, Jawa Tengah. Jenis penelitian adalah potonglintang (cross sectional).Dilakukan pengamatan di rumah dan lingkungan tempat tinggal 68 kasus leptospirosis. Penangkapan tikus menggunakan perangkap hidup sejumlah 100 buah.Pemasang perangkap di dalam dan di luar rumah selama 3 hari.  Tikus yang tertangkap­diidentifikasi­dan­diambil­serum­darahnya­untuk­mengetahui­serovar­Leptospira­dengan­uji­MAT.Seluruh 68 kasus leptospirosis dari Rumah Sakit di Kota Semarang memiliki riwayat interaksi dengan tikus. Prevalensi tikus terinfeksi bakteri leptospira  untuk tikus got (R. norvegicus) 33,43% dan tikus rumah (R. tanezumi)­13,69%.­Serovar­Leptospira­yang­diidentifikasi­pada­tikus­got­(R.­norvegicus)­adalah­Djasiman(40,55% dari 27 ekor), Icterohaemorhagie (22,22% ), Autumnalis (20,35) dan Bataviae (16,68%). Sementara pada­tikus­rumah­(R.­tanezumi)­dapat­diidentifikasikan­serovar­Autumnalis­(66,67%­dari­3­ekor)­dan­Bataviae(33,33%). Hal ini menunjukkan bahwa tikus merupakan reservoir penting dari leptospirosis. Penelitian ini menunjukkan bahwa tikus got (R. norvegicus) dan tikus rumah (R. tanezumi) memiliki potensi besar untuk menjadi vektor penularan bakteri Leptospira di Kota Semarang.Kata Kunci : Leptospirosis, Tikus, Faktor Risiko, SemarangAbstractLeptospirosis­is­a­zoonosis.­The­disease­is­often­found­in­urban­areas,­especially­the­frequent­flooding.­Humansinfected­with­Leptospira­bacteria­through­water­or­soil­contaminated­with­urine­or­body­fluids­of­the­hostreservoir. Rats are the reservoir host of leptospirosis. This study aims to determine the population of mice infected with Leptospira and interactions between patients with suspected leptospirosis with rats Semarang, Central­Java.­In­addition­it­also­conducted­in­mice­Leptospira­serovar­identification­in­Semarang,­CentralJava. This type of research is potonglintang (cross­sectional). Observation at home and living environment 68 cases of leptospirosis.Catching mice using live traps some 100 pieces.Trapper inside and outside the house for­3­days.­Mice­that­were­caught­were­identified­and­taken­to­determine­blood­serum­test­leptospira­serovarMAT. The whole 68 cases of leptospirosis Hospital in Semarang has a history of interaction with the rats. 86Vektora Volume 7 Nomor 2, Oktober 2015: 85 - 92Prevalence of mice infected with the bacteria leptospira for sewer rat (R. norvegicus) 33.43% and the house mouse (R. tanezumi)­13.69%.­Leptospira­serovar­identified­in­rats­(R. norvegicus) is Djasiman (40.55% of 27 animals), Icterohaemorhagie (22.22%), autumnalis (20.35) and Bataviae (16.68%). While at the house mouse (R. tanezumi)­can­be­identified­serovar­autumnalis­(66.67%­of­3­tail)­and­Bataviae­(33.33%).­This­showsthat rats are an important reservoir of leptospirosis. This study shows that rats (R. norvegicus) and mice (R. tanezumi) has great potential to be a vector of transmission of the bacteria Leptospira in Semarang.Keyword : Leptospirosis, Rats, Risk Factor, Semarang