0.252
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Anestesiologi Indonesia
Articles
2
Documents
Midazolam Intravena Dosis Rendah Tidak Mempengaruhi Nitric Oxide Intraperitoneal Mencit Balb/C Yang Terpapar Lipopolisakarida

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Apoptosis as a pathologic mechanism of multiple organs dysfunction syndrome in sepsis can be induced by lipoplysaccharide via the transcriptional factor NF-kB activation. Nitric oxide (NO), a proinflammatory factor cytokine, has a potential rule in pathogenesis of systemic hypotension in sepsis which is caused by the activation of NF-kB. Antioxidant can reduce the effect of lipopolysacharide and inhibit NF-kB production. Midazolam, as an sedative anesthetic agent, is commonly used in intensive care unit for septic patients. This agent is recognized has antioxidant and anti-inflammatory effects via blockade of ubiquitin system of NF-kB, so the NO production can be inhibited. Objectives: to study the effect of midazolam 0,07-0,2 mg/kg on intraperitoneal NO level on Balb/c mice with injection of lipopolysaccharide intraperitoneally. Methods: a randomized post test only controlled group laboratoric experimental study on animal, used 20 male Balb/c mice divided into 4 groups, P1 as the control group. All mice were injected by lipopolysaccharide 20mg/kg intraperitoneally and 6 hours later were injected by midazolam 0,07;0,1; and 0,2mg/kg intravenously in group P2, P3, and P4 respectively. NO was taken from peritoneal macrophage culture and observed by Grease method. The results will be analyzed by Kruskal-Walis and Mann-Whitney statistical assay, with reliability p < 0,05. Results: Mann-Whitney nonparametric assay for intraperitoneal macrophage NO level showed no significant differences between group P2 and P1 (1,77 ± 0,23 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,841) and between group P3 and P1 (1,50 ±0,22 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,310). NO level of group P4(3,11 ± 0,44) was higher than control groupsignificantly (p=0,032). Conclusion: Midazolam is not effective for decreasing nitric oxide level in sepssi mechanisms. Midazolam 0,1 mg/kg can not decrease intraperitoneal nitric oxide level significantly. Midazolam 0,2 mg/kg will increase intraperitoneal nitric oxide level significantly.Keywords : midazolam, lipopolysaccharide, nitric oxide.ABSTRAKLatar belakang: Lipopolisakarida dapat mengaktivasi NF-kB (Nuclear Factor kappa B) untuk terjadinya apoptosis dan kegagalan organ. NO (nitric oxide), suatu sitokin pro inflamasi, memiliki peranan penting dalam patogenesis terjadinya hipoten si sistemik pada syok septik akibat aktivasi faktor transkripsional NF-kB. Antioksidan dapat melemahkan efek paparan dari lipopolisakarida dan memblok produksi NF-kB. Midazolam, obat sedasi yang seringkali digunakan di ruang rawat intensif (ICU) untuk penderita sepsis, diduga memiliki efek antioksidan dan anti inflamasi melalui penghambatan sistem ubiquitin NF-kB, sehingga pembentukan NO dapat dihambat. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian Midazolam dalam dosis 0,07-0,2 mg/kg terhadap kadar NO mencit yang diberi endotoksin lipopolisakarida intraperitoneal. Metode: merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipoplisakarida intraperitoneal dan midazolam dosis 0,07 ; 0,1 ; dan 0;2 mg/kg intravena. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu kelompok P1 sebagai kontrol, kelompok P2 yang mendapat midazolam 0,07 mg/kg, kelompok P3 yang mendapat midazolam 0,1 mg/kg, dan kelompok P4 yang mendapat midazolam dosis 0,2 mg/kg. Pemeriksaan NO diambil dari kultur makrofag intraperitoneal setelah 6 jam pemberian midazolam. Hasil dinilai dengan uji statistik nonparametrik Kruskal Walis dan Mann-Whitney dengan derajat kemaknaan p<0,05. Hasil: Tidak terdapat perbedaan kadar NO yang signifikan pada kelompok P2 dibanding P1 (1,77 ± 0,23 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,841) dan P3 dibanding P1 (1,50 ±0,22 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,310). Kadar NO pada kelompok P4 (3,11 ± 0,44) lebih tinggi dibanding P1 Secara signifikan (p=0,032). Simpulan: Pada mencit Balb/c sepsis, pemberian midazolam 0,1 mg/kg tidak dapat menurunkan kadar NO intraperitoneal secara signifikan. Pemberian midazolam 0,2 mg/kg meningkatkan kadar NO intraperitoenal mencit endotoksemia secara signifikan.

Manajemen Anestesi Prosedur Fontan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PendahuluanSingle ventricle merupakan kelainan jantung kongenital kompleks, dan seseorang yang hidup dengan kelainan ini akan disertai dengan sejumlah keterbatasan. Tanpa terapi bedah, univentrikel akan menjadi malapetaka. Prosedur Fontan merupakan teknik pembedahan terpilih yang dapat diterapkan pada pasien dengan single ventricle. Hasil prosedur Fontan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor, prosedur, pengelolaan, dan tekanan vena sisi kanan berangsur-angsur akan meningkat. Seiring dengan berjalannya waktu gagal jantung kanan akan mengalami penurunan fungsi sistem, meliputi peningkatan resistensi pembuluh darah pulmoner (PVR), peningkatan tekanan vena sistemik (SVR), low-cardiac output kronis, disfungsi ventrikel kanan, dan kegagalan prosedur perbaikan single ventricle. Presentasi KasusWanita 19 tahun dengan Double Outlet Right Ventricle, Ventricular Septal Defect, Pulmonal Stenosis, Patent Ductus Arteriosus, Bilateral Superior Vena Cava yang akan menjalani prosedur Fontan. KesimpulanProsedur Fontan akan meningkatkan usia harapan hidup pasien. Keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh banyaknya komplikasi. Dalam kondisi tidak adanya ketaatan.