Syaharuddin Rasyid
Politeknik Ujung Pandang

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pemanfaatan Media Pendingin Udara Bertekanan Pada Proses Pembubutan Plastik Polystirene (PS) Di Mesin CNC TU-2A

Teknik Mesin "TEKNOLOGI" Vol 13, No 1 Apr (2011)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas permukaan produk bahan plastik polystirene, mengetahui variabel tekanan udara dan variabel pemesinan yang paling berpengaruh terhadap kekasaran permukaan, mengetahui hubungan (korelasi) antar setiap variabel tekanan udara dan variabel pemesinan, menentukan tekanan udara dan variabel pemesinan yang dapat menghasilkan nilai kekasaran permukaan yang rendah. Metode pengujian yang dilakukan adalah pengukuran kekasaran permukaan dengan beberapa variabel tekanan udara ( 1, 4, 5, 6, 7 Bar),  variabel putaran mesin (800, 1000, 1200, 1400, dan 1600 rpm), variabel kecepatan pemakanan (60, 80, 100, dan 120 mm/menit), analisa data dengan metode statistik, dan uji validitas data. Kualitas permukaan produk hasil pembubutan telah meningkat setelah menggunakan media pendingin udara bertekanan. Nilai kekasaran permukaan rata-rata yang telah dicapai antara 2,12mm dan 2,28mm, dan nilai kekasaran permukaan rata-rata tanpa menggunakan media pendingin udara bertekanan adalah 3,8 mm. Parameter yang paling dominan berpengaruh dalam pengujian ini untuk plastik polystirene adalah tekanan udara (X3) dengan nilai 0,325 kemudian parameter kecepatan pemakanan (X2) dengan nilai 0,00894 dan terakhir adalah parameter kecepatan potong atau putaran mesin dengan nilai 0,000796. Pemberian tekanan udara pada proses pembubutan  plastik polystirene sangat berpengaruh meningkatkan kualitas permukaan bahan atau menurunkan kekasaran permukaan. Nilai kekasaran terendah terjadi pada tekanan 4 bar, putaran mesin 1200 rpm, dan kecepatan pemakanan 100 mm/menit dengan nilai 1,33 mm. Kata kunci : Pendingin Udara, Plastik polystirene, Kekasaran Permukaan.

Rancang Bangun Alat Pengering Kue Tradisional ”Putu Kacang” untuk Industri Rumah Tangga

Teknik Mesin "TEKNOLOGI" Vol 12, No 4 Okt (2010)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah dapat mengeringkan kue putu kacang secara kontinyu, menurunkan kandungan air pada putu kacang sampai 5 %, dan menentukan suhu dan waktu pengering yang optimal. Metode penelitian untuk mencapai tujuan adalah merancang, membuat, merakit, menguji alat pengering dengan berbagai variasi temperatur, dan menganalisa data hasil pengujian. Berdasarkan hasil pembuatan alat pengering putu kacang telah diperoleh prototipe alat pengering dengan spesifikasi; Daya listrik 600 Watt, Temperatur Pengering sampai dengan 250OC, dengan kapasitas 450 biji. Alat ini dapat mengeringkan kue putu kacang sebanyak 450 biji dengan kadar air sampai 5% selama 3, 4, dan 5 jam pada pada temperatur 50, 60, dan 70OC. Suhu dan waktu yang optimal untuk mencapai kadar air 5% adalah pada suhu 70OC dengan waktu pengeringan selama 3 jam. Kata Kunci : Alat Pengering, Putu Kacang.

Rancang Bangun Alat Press Kue Putu Kacang

Teknik Mesin "TEKNOLOGI" Vol 11, No 2 Apr (2010)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kapasitas produksi kue putu kacang. Metode pengujian untuk mencapai tujuan adalah merancang, membuat, merakit, dan menguji kualitas dan kuantitas hasil pembuatan kue putu kacang. Berdasarkan hasil rancang bangun alat press putu kacang, maka telah diperoleh alat yang dapat digunakan pada industri pembuatan kue putu kacang . Dengan alat pres kue putu kacang, hasil cetakan mempunyai tekstur yang lebih rapat, relief atau ukirannya lebih nampak sehingga kualitasnya lebih meningka. Untuk sekali proses pencetakan (6 buah putu kacang) dibutuhkan waktu maksimal 5 menit sehingga untuk 1 jam dapat dihasilkan sekitar 72 buah putu kacang. Pencetakan putu kacang yang dilakukan dengan alat pres dapat menghemat tenaga sebab proses penekanan tidak dilakukan satu per satu pada lubang cetakan. Kata kunci : Alat Press, Kue, Putu Kacang

Study of Experimental on Using of the Vibration Signal to Detect the Surface Roughness of Machining Results with Using of Parametric Equations

Teknik Mesin "TEKNOLOGI" Vol 15, No 1 Apr (2012)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research carried out aimed to produce two model / equation, which are the surface roughness and the machining vibration.  The generated machining vibration model can be used as substitution parameter to predict surface roughness.Workpiece material used was aluminum-alloy. Aluminum alloys was processed on CNC machines of TU-3A. The first phase of the study (first year), the focus on the synthesis and study of theoretical models to determine the optimum level of accuracy that can be achieved from the model.Design and research methods are divided into several stages. Starting from preparation, cutting parameter settings, machining process, measurement, until to processing and data analysis. Based on the cutting parameters that have been designed before it, then the machining process is performed to obtain the data. Data obtained from the measurement of machinery vibration and surface roughness. Overall, the amount of data obtained from the machining process as many as 125 rows of data. Data processing done to obtain surface roughness and machining vibration equations coupled with the accuracy of each model. Model produced in this study were 5 (five) model, both of surface roughness and machining vibration. But from 5 (five) models,  only selected 1(one) model which has an optimum level of accuracy. In this study produced each 1 (one) model of surface roughness and 1(one) model of machining vibration couple with the accuracy of each model.The resulting model for surface roughness has a level of accuracy (theoretically) of 83,533%. While the model generated for machining vibration has the highest accuracy (theoretically) of 82,188%. Keywords: Spindle speed, feedrate, depth of cut, vibration machining, and surface roughness.

Pengembangan dan Sosialisasi Mesin Penebar Pakan Ikan Terpadu dengan Aerator Jenis Kincir Air pada Petani Tambak

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-8, No. 1 (2010)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin SINERGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Ipteks programs are based on several factors that can affect the success of fish culture in milkfish and shrimp ponds is the availability of pond water quality is suitable for fish life fish and shrimp. In the intensification of efforts, one of the decisive parameters in improving pond water quality is to regulate the provision of oxygen content in water and fish feeding an orderly and proper dosage. Dissolved oxygen is very important for respiration and is one of the main components in the metabolism of fish and shrimp and other aquatic organizations. In addition, the system of fish feeding on fish and shrimp have been still using the traditional system, are fish/shrimp given to spread as much as 2-3 times a day. This system has several shortcomings, namely: the amount of feed given was not uniform, the feed is not spread evenly, and farmers have the pond every day. With the feed spreader tool has been developed as a tool in addition to the feed as well as spreader aerator tool that can provide aeration to the waters surface, then we can overcome the above problems with the feeding arrangement, which automatically threw food on time and the desired dose, and the continuously rotating wheel aerator will provide a spark against the surface of the water so the fish will be closer to get a new oxygen.

PENGARUH VARIABEL TEMPERATUR MEDIA PENDINGIN AIR PADA PROSES QUENCHING TERHADAP NILAI KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPAK BAJA EMS-45

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-11, No. 2 (2013)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin SINERGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variabel temperatur media pendingin air pada proses quenching terhadap nilai kekerasan dan kekuatan impak baja EMS-45. Metode penelitian yang digunakan adalah spesimen Baja EMS-45 dipanaskan pada suhu 850oC di dalam tungku listrik selama 4 jam. Setelah dilaku panas kemudian spesimen dicelup ke dalam air pada suhu masing-masing 0o, 5o, 10o, 15o, 20o, 25o, 30o, 40o, 50o, 60o, 70o, 80o, 90o, 100oC. Spesimen yang telah dicelup kemudian diuji kekerasan dan kekuatan impak. Data-data hasil pengujian dianalisis secara deskriptif. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan nilai kekerasan pada Baja EM-45 dengan adanya variasi temperatur media pendingin. Kekerasan terbesar terjadi pada suhu 0oC sebesar 62,5 HRC dan nilai kekerasan semakin menurun dengan naiknya suhu media pendingin. Nilai kekuatan impak berbanding terbalik dengan nilai kekerasan dengan naiknya temperatur media pendingin. Nilai impak Baja EMS-45 pada suhu 0oC sebesar 250,07 N.m dan mengalami kenaikan kekuatan impak sejalan dengan naiknya suhu media pendingin.

Analisis Variabel Temperatur Media Pendingin Air Garam terhadap Sifat Mekanik Baja K-945 EMS 45

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-12, No. 1 (2014)
Publisher : Jurnal Teknik Mesin SINERGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja K-945 EMS 45 adalah salah satu jenis baja paduan yang dengan komposisi kandungan (% berat) C 0,48%, Si 0,30%, dan Mn 0,70%. Baja ini merupakan baja karbon sedang yang mempunyai kekuatan tarik 60-70 Kg/mm2. Kekerasan pada baja ini dapat ditingkatkan melalui proses quenching dengan menggunakan media pendingin air. Kekerasan yang dapat dicapai Baja EMS-45 bila diquenching pada media pendingin air (suhu kamar) adalah 58 HRC. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel temperatur media pendingin air garam terhadap sifat mekanik baja K-945 EMS-45 dengan memvariasikan temperatur media quenching pada suhu 5, 10, 15, 20, 25, dan 30OC. Metode yang digunakan adalah proses pemanasan spesimen pada temperatur 850OC dengan waktu penahanan selama 30 menit, selanjutnya spesimen diquencing pada temperatur media pendingin yang berbeda. Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kenaikan nilai kekerasan pada Baja K945 EMS-45 dengan adanya memvariasikan temperatur media pendingin. Kekerasan terbesar terjadi pada suhu 0OC sebesar 61,77 HRC dan nilai kekerasan semakin menurun dengan naiknya suhu media pendingin. Nilai kekuatan impak berbading terbalik dengan nilai kekerasan dengan naiknya temperatur media pendingin. Nilai impak Baja K945 EMS-45 pada suhu 0OC sebesar 63,5 N.m dan mengalami kenaikan kekuatan impak sejalan dengan naiknya suhu media pendingin.

Rancang Bangun dan Analisis Biaya Teoritis Turbin Cross Flow Kapasitas 2500 Watt, Makassar

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-13, No. 1 (2015)
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta menghitung biaya produksi pada pembuatannya dengan menggunakan metode membandingkan pengerjaan secara teoritis dan aktual setiap pengerjaan komponen. Pengerjaan aktual dilakukan dengan dua metode yaitu pengerjaan langsung dan simulasi, serta membandingkan dengan variasi bahan komponen runner yaitu bahan ST 42 sebagai turbin A dan ST 60 sebagai Turbin B. Output dari penelitian ini ialah waktu pengerjaan, biaya manufaktur, serta harga jual Turbin Cross flow kapasitas 2500 watt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih waktu pengerjaan teoritis dan aktual Turbin Cross flow dengan runner bahan ST 42 ialah 1 jam 14 menit, sedangkan dengan bahan ST 60 ialah 6 jam 7 menit. Biaya manufaktur produksi yang dihitung dari setiap biaya baik secara teoritis maupun aktual untuk bahan ST 42 dan ST 60 mencapai nominal Rp. 20.000.000,- dan harga jual ditetapkan dengan laba 20 % yaitu mencapai nominal Rp.24.000.000 untuk setiap turbin dengan komponen runner bahan ST 42 dan ST 60.

SIFAT MEKANIK BAJA EMS 45 DENGAN PERUBAHAN TEMPERATUR MEDIA PENDINGIN AIR GARAM

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-14, No. 2 (2016)
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Baja karbon paduan yang dipanaskan hingga mencapai suhu austenit, kemudian didinginkan secara cepat akan membentuk struktur yang martensit dan memiliki kekerasan yang lebih tinggi dari struktur perlit maupun ferrit, proses ini dikenal dengan quenching, Proses quenching yang sederhana akan menghasilkan selubung uap yang mengelilingi spesimen, yang akan mengakibatkan ketidak seragaman proses pendinginan yang akhirnya dapat memunculkan keretakan karena pengaruh internal stress. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kekerasan dan kekuatan impak pada bahan Baja EMS 45 yang mengalami proses quenching dengan memvariasikan temperatur media pendingin air garam pada suhu 5OC sampai dengan 30OC.Metode yang digunakan adalah proses pemanasan spesimen pada temperatur 850OC dengan waktu penahanan selama 70 menit, selanjutnya spesimen diquencing pada temperatur media pendingin air garam yang berbeda. Untuk mengetahui nilai kekerasan dan kekuatan impak dilakukan pengujian kekerasan dan pengujian impak. Hasil pengujian yang diperoleh pada penilitian ini yaitu pengujian tarik adalah 77,783 KgF/mm2 atau setara dengan baja St 70, nilai Kekerasan terbesar terjadi pada suhu 0OC yaitu sebesar 61,77 HRC dan Nilai kekuatan impak pada suhu 0OC sebesar 63,5 N.m. apabila suhu media pendingin air garam naik maka nilai kekerasan akan semakin menurun sedangkan pada pengujian impak apabila suhu media pendingin air garam naik maka nilai kekuatan impak akan semakin meningkat.

RANCANG BANGUN MESIN PEMBERSIH RUMPUT LAUT KERING DENGAN SISTEM GETAR

Jurnal Teknik Mesin SINERGI Tahun ke-15, No. 2 (2017)
Publisher : Politeknik Negeri Ujung Pandang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa semakin tinggi putaran motor listrik yang dihasilkan maka getaran yang timbul dari pemberat yang melekat pada poros penggerak semakin baik untuk proses pembersihan rumput laut kering. Ini terlihat dari kecepatan motor sebesar 1420 rpm dengan perbandingan puli motor dan puli poros penggerak 1:2 maka kecepatan yang dihasilkan motor penggerak sebesar 710 rpm. Dari 3 sampel hasil pengujian menggunakan mesin ini dihitung rata-rata hasil percobaan sampel pertama sampai ketiga dari 2 kg rumput laut kering menghasilkan kotoran rata-rata 150 gr dalam kurun waktu 15 menit. Kotoran yang dikeluarkan berupa garam, pasir laut serta rumput laut yang memiliki ukuran kurang dari 6 mm dan kotoran asing lainnya yang melekat pada proses pengeringan. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui biaya manufaktur mesin pembersih rumput laut kering dengan sistem getar dengan nominal Rp. 4.677.614,- dengan menggunakan komponen mesin dari material St.37.