Rasdiansyah Rasdiansyah
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian - Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Kualitas Bokasi dari Kotoran Berbagai Jenis Hewan Irfan, Irfan; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Munadi, Mahlil
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Vol.(9) No.1, April 2017
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.158 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v9i1.5976

Abstract

Cow manure, different to other manures, has been frequently used as raw material of bokasi along with other organic waste materials such as sawdust, rice husk ash, and bran. This study aimed to utilize various livestock manures as one of the organic material in the production of bokasi. A completely randomized design with 2 replications was used in this study, which consisted of two factors: type of livestock manure (J) and proportion of livestock manure (P) of the total bokasi raw material.  Factor J consisted of 3 levels: J1 (cow manure), J2 (goats manure), and J3 (chicken manure), while factor P consisted of 4 levels: P1 (35%), P2 (45%), P3 (55%), and P4 (65%). Analysis of the bokasi quality included: total microorganisms, moisture content, pH, temperature, C element, N element N, C/N ratio, organoleptic  (texture, smell and color), and the plants growth (height) test. The results showed that the type of livestock manure (J) effected very significant on total microorganisms, C, N and C/N ratio of bokasi, as well as significant on plant height. Based on the results of the C, N and C/N ratio it was known that the best bokasi resulted by chicken manure. It met the standard of INS (Indonesian National Standard). The proportion of manure affected very significant on water content as well as significant on N and plant height.
PRODUKSI ROTI TAWAR DARI LABU KUNING DENGAN PERSENTASE SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DAN KONSENTRASI EMULSIFIER YANG BERBEDA (Production of Yellow Pumpkin Bread with Different Percentage of Wheat Flour Subtitution and Emulsifier Concentration) Muzaifa, Murna; Rozali, Zalniati Fonna; Rasdiansyah, Rasdiansyah
Jurnal Hasil Penelitian Industri Vol 25, No 2 (2012)
Publisher : Baristand Industri Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung terigu digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan roti.Indonesia hingga saat ini masih mengimpor terigu dalam jumlah besar. Substitusi tepungterigu dengan produk labu kuning sangat mungkin dilakukan karena kaya karbohidrat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia roti tawar yangdisubstitusi sebagian dengan pasta beku labu kuning. Penelitian ini menggunakanRancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri atas 2 faktor, yaitupersentase substitusi sebagian tepung terigu dengan pasta labu kuning (R1 = 10%, R2 =20%, R3 = 30%, dan R4 = 40%) dan konsentrasi bahan pengemulsi yang digunakan(S1 = 0,5% dan S2 = 1%). Parameter yang diamati meliputi kadar air, kadar abu dankadar betakaroten untuk bahan baku labu kuning, dan analisis kadar abu, kadar air, kadarbetakaroten, rasio pengembangan adonan roti dan volume spesifik untuk roti tawar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa faktor persentase substitusi pasta labu kuning memberikanpengaruh sangat nyata (P≤0,01) terhadap kadar abu dan kadar betakaroten danberpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air, volume spesifik dan rasiopengembangan adonan roti tawar. Faktor konsentrasi bahan pengemulsi memberikanpengaruh nyata (P≤0,05) terhadap rasio pengembangan adonan roti tawar danberpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap kadar air, kadar abu, kadar betakaroten danvolume spesifik roti tawar setelah pemanggangan. Tidak terdapat interaksi keduanya(P>0,05) terhadap semua parameter yang diuji. Semakin tinggi persentase substitusi pastalabu kuning yang digunakan, maka kadar betakaroten pada roti tawar semakin meningkat.Kadar betakaroten tertinggi terdapat pada persentase substitusi pasta labu kuning 40 %.Rasio pengembangan adonan yang lebih tinggi didapatkan pada konsentrasi bahanpengemulsi 1%.
Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea arabika L.) Menjadi Minuman Sari Pulp Kopi dengan Penambahan Sari Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) dan Lemon (Citrus limon) Arpi, Normalina; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Widayat, Heru Prono; Foenna, Ramadhana Fajri
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Vol. (10) No. 2, Oktober 2018
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.787 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v10i2.12593

Abstract

Limbah pulp merah kopi (Coffea sp.) mengandung kafein, senyawa fenolik dan antioksidan alami seperti antosianin, betakaroten, polifenol, dan vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis jeruk, konsentrasi jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dan lemon (Citrus limon) serta penambahan gula terhadap mutu minuman sari pulp kopi arabika (Coffea arabika L.). Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial digunakan dalam penelitian ini. Faktor 1 jenis jeruk yaitu (J) yaitu J1 = jeruk nipis dan J2 = lemon. Faktor 2, konsentrasi sari jeruk (S) yaitu S1 = 20%, S2 = 30% dan S3 = 40%, serta faktor 3, konsentrasi gula (K) yaitu K1 = 20% dan K2 = 30% dari berat sari pulp kopi. Proses pengolahan dan pemanasan sari pulp kopi dengan penambahan jeruk nipis atau lemon menjadi minuman sari pulp kopi menyebabkan penurunan kandungan vitamin C dan pH. Perlakuan terbaik dalam pembuatan minuman sari pulp kopi yaitu menggunakan jeruk nipis dengan konsentrasi 20% dan gula 30% yang menghasilkan minuman sari pulp kopi dengan nilai sensori hedonik yang lebih baik, dan aktivitas antioksidan (DPPH) 74,9 %, vitamin C 17,6 mg/100g, gula reduksi 19,4 mg/ml, pH 3,40.
Pengaruh Pemanasan terhadap Aktivitas Antioksidan pada Beberapa Jenis Sayuran Aisyah, Yuliani; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Muhaimin, Muhaimin
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Vol.(6) No.2, June 2014
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.814 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v6i2.2063

Abstract

Vegetables is one of popular food for people in Indonesia. It is usually consumed in the form of fresh plant or after going through the process of cooking such as boiling, steaming and stirring-fry. Vegetable also contains many antioxidant components such as ascorbic acid, carotenoids, flavonoids, melanoidin, certain organic acids, reducing agents, peptides, tannin and tocopherol. Factor in this study is a type of vegetable and method of heating. Types of vegetable used i.e. S1 = Eggplant, S2 = Carrots, S3 = Broccoli and heating method comprising: P1 = without heating, P2 = boiling, P3 = steaming and P4 = stirring-fry. The results showed that the type of vegetable and methods of heating, as well as the interaction between the type of vegetable and method of heating gave very real effect on antioxidant activity. Effect of heating (boiling, steaming and stirring-airy) in some vegetables (eggplant, carrots and broccoli) gave different antioxidant activity.  
Optimasi Proses Pembuatan Karbon Aktif dari Ampas Bubuk Kopi Menggunakan Aktivator ZnCl2 Rasdiansyah, Rasdiansyah; Darmadi, Darmadi; Supardan, Muhammad Dani
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Vol.(6) No.3, October 2014
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.158 KB) | DOI: 10.17969/jtipi.v6i3.2312

Abstract

Activated carbon can be manufactured from a variety source materials containing element carbon. Dregs of coffee grounds is one of abundant and promising activated carbon raw materials. This study was conducted to assess optimization process of activated carbon production from dregs of coffee grounds by using ZnCl2 as an activator. The optimization process is performed by using Response Surface Method to optimize factors that affected quality of the activated carbon using Box-Behnken design. The factors used were carbonation temperature (T) with a level of 400 oC, 500 oC and 600 °C; concentration of ZnCl2 (K) with a level of 30%, 40%, 50%; and mass ratio of ZnCl2 to activated carbon with level of 2:1, 3:1 and 4:1. A second order regression model of iodine absorption of activated carbon was Y = 626,2 - 36,5T + 28,6K - 36,5R + 31,2T2 + 47,1K2 - 0,5R2 - 19,0TK + 15,9TR + 101,5KR. Results of optimization process showed that optimum iodine absorption of 799.659 mg/g was obtained at the following conditions, i.e. carbonation temperature of 400 oC, ZnCl2 concentration of 30% and mass ratio of ZnCl2 to activated carbon of 2:1.
PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT TUMBUH DAN VARIETAS TERHADAP MUTU FISIK, DAN FISIKO-KIMIA KOPI ARABIKA GAYO (THE EFFECT OF LAND ALTITUDE AND VARIETIES ON PHYSICAL AND FISIKO-CHEMICAL QUALITY OF GAYO ARABICA COFFEE) Qadry, Nur Al; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Abubakar, Yusya
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.764 KB)

Abstract

Abstrak. Kopi dengan rasa yang khas akan diperoleh bila varietas tertentu ditanam pada hamparan ketinggian tertentu tanpa tercampur dengan varietas lainnya dan diolah dengan cara pengolahan basah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat tumbuh dan varietas terhadap kualitas citarasa kopi Arabika Gayo serta memetakan kualitas citarasanya berdasarkan varietas dan ketinggian tempat tumbuh. Varietas dan ketinggian tempat tumbuh kopi Arabika di Dataran Tinggi Gayo diduga mempengaruhi mutu fisik dan organoleptik kopi yang dihasilkan. Varietas kopi arabika gayo yang dijadikan sebagai sampel adalah varietas Tim-Tim (V1), Bor-Bor (V2), dan Ateng Super (V3) dan Multi Varietas (V4) yang di tanam pada tiga ketinggian tempat yang berbeda di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, yaitu dibawah 1.100 (T1) m dpl, antara 1.100 s.d 1.500 (T2) m dpl, dan diatas 1.500 (T3) mdpl. Parameter yang diamati adalah: kualitas fisik, dan  analisis pH. Hasil analisis ukuran biji menghasilkan persentase ukuran biji besar terbanyak adalah varietas Borbor pada ketinggian tempat tumbuh diatas 1.500 mdpl yaitu 50,35 %. Dan varietas Borbor menghasilkan persentase ukuran biji yang tidak layak terkecil daripada yang lainnya. Sedangkan, varietas Ateng Super di ketinggian tempat tumbuh di bawah 1.100 m dpl menghasilkan biji yang tidak layak paling besar yaitu, 2,65 %. Hasil analisis menunjukkan biji cacat (Triage) kopi dengan varietas yang tumbuh di bawah 1.100 mdpl lebih tinggi nilai cacatnya dengan persentase 27,10% dibandingkan dengan yang tumbuh di atas 1.100 m dpl. dan kopi yang tumbuh di atas 1.500 mdpl memiliki biji cacat dengan persentase terendah (4,90 %).Abstract . Coffee with a special taste will be found if certain single variety was planted on certain  fields altitude and processed by wet  hulling. The purposed of the research this was to study the effect of coffee land altitude on quality of Gayo Arabica coffee. Varities and land altitude of arabica coffee were assumed to affect the physical quality of coffee. The sample of Gayo Arabica Coffee varieties taken were Tim-Tim (V1), Bor-Bor (V2), Ateng Super (V3), and Multi Varieties (V4) which planted  on there different altitude at Bener Meriah and Aceh Tengah District, Province of Aceh. The altitude  were under 1.100  m ASL (above sea level) (T1), between 1.100-1.500  m ASL (T2) and above 1.500 m ASL (T3). The parameters observed were; physical quality and pH. The result show that the lasgest beans size was from Bor-Bor varieties at land altitude higher than 1.500 m ASL (the percentage was 50,35). Bor-Bor varieties also had the least broken beans compared to others. Ateng Super grown on land under 1.100 m ASL had the most broke beans with of percentage 2,65. The triage of coffee varities planted on land under 1.100 m ASL  have higher triage than those planted  on land above 1.100 m ASL (the percentage was 27,10). The coffee planted on land above 1.500 m ASL show the least percentage of triage higher (the percentage was 4,90).
Pengaruh Penambahan Tepung Ubi Jalar Ungu dan Karagenan terhadap Kualitas Mi Basah Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas cv. Ayamurasaki) Salma, Salma; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Muzaifa, Murna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.551 KB)

Abstract

Abstrak. Mi merupakan salah satu makanan olahan tepung terigu yang terkenal di Indonesia dan Asia. Mi basah merupakan salah satu jenis mi paling banyak digunakan di masyarakat. Pada proses pembuatan mi basah, sering digunakan tepung terigu yang diimpor. Pengimporan terigu yang cukup tinggi dapat menurunkan devisa negara, sehingga perlu ditambahkan tepung selain terigu. Salah satu tepung yang ditambahkan yaitu tepung ubi jalar ungu sebagai pensubtitusi untuk menurunkkan pengunaan terigu. Didalam mi basah ubi jalar ungu yang diperoleh terdapat kandungan karbohidrat, lemak, protein dan antioksidan. Dalam pembuatan mi pada penelitian ini terdiri dari dua faktor tepung ubi jalar ungu dan karagenan. Karagenan pada pembuatan mi digunakan untuk memperbaiki kekuatan gel mi. karagenan yang digunakan adalah karagenan dari rumput laut. Penambahan tepung ubi jalar ungu pada mi basah sebesar 40%, 60% dan 80% sedangkan penambahan karagenan pada mi basah adalah 0,5%, 0,75% dan 1%. Pada penelitian ini pembuatan mi basah ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, dengan menggunakan 2 faktor. Faktor pertama adalah penambahan tepung ubi jalar ungu (T) terdiri dari 3 taraf yaitu : T1= 40% T2=60% dan T3= 80%.  Faktor kedua adalah penambahan karagenan (K) dengan 3 taraf yaitu : K1= 0,5%  K2=0,75% dan K3=1%. Analisis yang dilakukan pada mi antara lain organoleptik hedonik warna, aroma, rasa dan tekstur. Pada hasil penelitian, penambahan tepung ubi jalar ungu berpengaruh nyata (P ≤0,05) terhadap warna mi basah, penambahan tepung ubi jalar ungu 40% menghasilkan warna yang cerah sedangkan penambahan tepung ubi jalar ungu 80% menghasilkan warna yang gelap. Jenis karagenan berpengaruh nyata (P≤0,05) terhadap nilai cooking loss mi. Perlakuan terbaik adalah mi basah dengan penambahan tepung ubi jalar ungu (T1) 40% (K3) dengan nilai organoleptik hedonik warna = 3,70 (suka), aroma = 3,43 (netral), tekstur = 3,47 (suka), rasa = 3,50 (suka) dengan kadar protein 33,85% dan antioksidan 14,62%. Kadar air (62,55), kadar abu (0,43), dan uji fisik (nilai daya serap air (55,16), daya putus (2,17) cm, cooking loss (6,32).Influence of Concentration of Purple Sweet Potato Starch and Carrageenan to Wet Quality Noodles,  of Purple Sweet Potato ( Ipomoea batatas cv. Ayamurasaki)Abstraction. Noodles is one of the famous processed food in Indonesia and Asian made from wheat flour. Wet noodles are one of the most used noodles in the society. In the process of making wet noodles, often used imported wheat flour. High imports of flour can reduce the country's foreign exchange, so it is necessary to add other flour to the wheat flour. One of the flour that could ber added is purple sweet potato starch as a substituent to decreasing the use of flour. In the wet noodles made from purple sweet potato there is of carbohydrates content, fats, proteins and antioxidants. Noodle making materials usually consist of purple sweet potato starch from purple sweetpotato (Ipomoea batatas cv. Ayamurasaki) and carrageenan. Carrageenan in the manufacture of noodles that used to improve of strength of the gel of noodles. Carrageenan used is carrageenan from seaweed. The addition of purple sweet potato flour to wet noodles is 40%, 60% and 80% while the addition of carrageenan in wet noodles is 0.5%, 0.75% and 1%. In this research, the making of this wet noodles uses Randomized Complete Design (RCD) Factorial, using 2 factors. The first factor is the addition of purple sweet potato flour (T) consists of 3 levels, namely: T1 = 40% T2 = 60% and T3 = 80%. The second factor is the addition of carrageenan (K) with 3 levels namely: K1 = 0.5% K2 = 0.75% and K3 = 1%. Analysis performed on the noodles include organoleptic hedonic color, aroma, taste and texture. Result of this research show thst the addition of purple sweet potato starch has a significant effect (P ≤0,05) on the color of wet noodles, 40% purple sweet potato addition produces bright color while 80% purple sweet potato flour produces dark color. Type of carrageenan has a real effect (P≤0,05) to the value of noodles cooking loss . The best treatment obtained from the wet noodles with the addition of purple sweet potato starch (T1) 40% (K2) with hedonic organoleptic score of color = 3,70 (like), aroma = 3,43 (netral), texture = 3,47(like), taste = 3,50 (like) with protein content 26,26% and antioxidant 13,47%. Water content (62,55), ash content (0,43), and physical test (water absorption value 55,16), breaking strength (2,17) cm, cooking loss (6,32) 
Pengaruh Jenis Bumbu dan Konsentrasi Gula Aren terhadap Mutu Kecap Manis Ampas Tahu Aini, Jumratul; Rasdiansyah, Rasdiansyah; Muzaifa, Murna
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.965 KB)

Abstract

Abstrak. Ampas tahu merupakan limbah bubur kedelai yang telah diperas dari hasil pembuatan tahu. Sejauh ini penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan menjadi limbah yang tidak dimanfaatkan. Diperlukan upaya untuk pengembangan produk baru dalam memanfaatkan ampas tahu sekaligus agar lebih dapat meningkatkan nilai guna ampas tahu, salah satunya dengan mengolah ampas tahu menjadi kecap. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jenis bumbu dan konsentrasi gula aren terhadap mutu kecap manis ampas tahu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas 2 faktor.  Faktor pertama adalah Jenis Bumbu (B) yang terdiri atas 2 taraf yaitu B1 = bumbu lengkap ( jahe 20g, lengkuas 20g, kayu manis 10g, bawang putih 10g, kunyit 10g, ketumbar 10g, kemiri 10g). B2 = bumbu sederhana (jahe 20g, lengkuas 20g, kayu manis 10g). Faktor kedua adalah konsentrasi gula aren (G) yang terdiri atas 3 taraf yaitu G1 = 200g, G2= 250g, dan G3 = 300g. Kecap yang dihasilkan selanjutnya dianalisis kadar air, kadar protein, viskositas dan uji organoleptik (hedonik) meliputi warna, rasa dan aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gula aren (G) berpengaruh sangat nyata (P≤0,01) terhadap kadar air, viskositas, organoleptik warna dan organoleptik rasa kecap manis ampas tahu. Konsentrasi gula aren juga menunjukkan pengaruh nyata (P≤0,05) terhadap nilai organoleptik aroma kecap manis ampas tahu yang dihasilkan. Sedangkan jenis bumbu (B) dan interaksi antara jenis bumbu dan konsentrasi gula aren (B x G) berpengaruh tidak nyata terhadap kecap manis ampas tahu Abstract. Tofu dregs is a waste of soy porridge that has been squeezed from the production of tofu. The use of tofu dregs is still very limited even become untapped waste. Necessary efforts for the development of new products in order to utilize and increase the value of tofu dregs, one of them by processing tofu dregs into  sauce. This research aims to study the influence of seasoning type and palm sugar concentration on the quality of sweet sauce of tofu’s dregs. This research is conducted by using a Completely Randomized Design (CRD) Factorial consisting of two factors. The first factor is the type of seasoning (B) consisting of 2 levels namely B1 = complete seasoning (20g ginger, 20g galangal, 10g cinnamon, 10g garlic, 10g turmeric, 10g coriander, candlenut 10g). B2 = simple seasoning (20g ginger, 20g galangal, 10g cinnamon). Second factor is the concentration of palm sugar (G) consisting of 3 levels namely G1 = 200g, G2 = 250g, G3 = 300g. The resulting sauce is then analyzed its water content, protein content, viscosity and organoleptic tes (hedonic) include color, taste and aroma. The results showed that the concentration of palm sugar (G) had significant effect (P<0,01) on water content, viscocity, organoleptic color and taste of sweet sauce of tofu’s dregs. Palm sugar concentration also showed highly significant effect (P<0,05) on the value of organoleptic aroma sweet sauce tofu’s dregs produced. While the seasoning type (B) and the interaction between seasoning type and palm sugar concentration (B x G) had no significant effect of sweet soy sauce of tofu’s dregs.