Starry H. Rampengan
Departement of Cardiology and Vascular Medicine, Faculty of Medicine, University Sam Ratulangi, Manado, Indonesia

Published : 19 Documents
Articles

Found 19 Documents
Search

KARDIOMIOPATI PADA INFEKSI HIV Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Biomedik (JBM)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.814 KB)

Abstract

Abstract: Heart muscle involvement associated with human immunodeficiency virus (HIV) infection may be seen as myocarditis, dilated cardiomyopathy, or as an isolated left or right ventricular dysfunction. Histopathological and ultra structural findings with different degrees of cardiac-chamber dilation have been described, and important roles of cytokines (tumor necrosis factor-alpha, interleukin-1, and interleukin-6) have been suggested. HIV infection is an important cause of dilated cardiomyopathy, with a prevalence of 3.6% among cardiomyopathy patients that live longer. HIV patients with dilated cardiomyopathy have a much worse prognosis than those with idiopathic dilated cardiomyopathy (hazard ratio of death 4.0). HIV related myocardial dysfunction may easily be overlooked due to attributing symptoms such as breathlessness, fatigue, respiratory diseases, or anaemia. The diagnosis is readily made by echocardiography which can show dilatation or impaired contractility, or both of either or both ventricles. Isolated right ventricular dysfunction can be caused by cardiomyopathy, pulmonary hypertension secondary to repeated respiratory infections, thromboembolic diseases, or recurrent pulmonary emboli from intravenous debris acquired through drug abuse. Endomyocardial biopsy in patients with heart failures associated with HIV infection has been performed in several centers, and has identified myocarditis caused by potentially treatable infections due to organisms such as toxoplasma gondii. Keywords: Cardiomyopathy, HIV infection, myocarditis, management.   Abstrak: Keterlibatan kerusakan jantung pada pasien human immunodeficiency virus (HIV) biasanya dalam bentuk miokarditis, kardiomiopati dilatasi, ataupun disfungsi ventrikel kiri atau kanan terisolasi. Penemuan histopatologik dan ultrastruktur menunjukkan perbedaan derajat dilatasi ruang-ruang jantung dipengaruhi oleh peranan beberapa jenis sitokin (tumor necrosis factor-alpha, interleukin-1 dan interleukin-6). Infeksi HIV merupakan penyebab utama terjadinya kardiomiopati dilatasi dengan prevalensi 3,6% dari antara penderita kardiomiopati yang hidup lama. Infeksi HIV dan kardiomiopati dilatasi memiliki prognosis yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan penderita kardiomiopati dilatasi yang idiopatik. Disfungsi miokard dalam kaitannya dengan HIV lebih mudah diidentifikasi karena adanya gejala yang jelas seperti sesak napas, mudah capek, penyakit saluran napas ataupun anemia. Hal tersebut diatas menyingkirkan kemungkinan akibat terapi paliatif dari pasien HIV. Diagnosis pasti dilakukan dengan pemeriksaan ekokardiografi, dimana terlihat dilatasi ataupun perburukan kontraktilitas jantung maupun akibat dari keduanya, atau terjadi pada kedua ventrikel. Disfungsi ventrikel kanan terisolasi dapat diakibatkan karena kardiomiopati, juga hipertensi pulmonal sekunder oleh karena infeksi saluran napas berulang, penyakit tromboemboli maupun emboli paru berulang dari debris intravena pada pecandu narkoba. Di beberapa pusat jantung telah dilakukan biopsi endomiokard pada pasien gagal jantung dengan infeksi HIV, dan diidentifikasi penyebab tersering yang dapat diobati adalah miokarditis dengan organisme seperti toxoplasma gondii. Kata Kunci: Kardiomiopati, infeksi HIV, miokarditis, tatalaksana.
AMIODARON SEBAGAI OBAT ANTI ARITMIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP FUNGSI TIROID Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Biomedik (JBM)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.257 KB)

Abstract

Abstract: Amiodarone is a highly effective anti-arrhythmic agent used in certain arrhythmias from supraventricular tachycardia to life-threatening ventricular tachycardia. Its use is associated with numerous side-effects that could deteriorate a patient’s condition. Consequently, a clinician should consider the risks and benefits of amiodarone before initiating the treatment.The thyroid gland is one of the organs affected by amiodarone. Amiodarone and its metabolite desethyl amiodaron induce alterations in thyroid hormone metabolism in the thyroid gland, peripheral tissues, and probably also in the pituitary gland. These actions result in elevations of serum T4 and rT3 concentrations, transient increases in TSH concentrations, and decreases in T3 concentrations. Both hypothyroidism and hyperthyroidism are prone to occur in patients receiving amiodarone. Amiodarone-induced hypothyroidism (AIH) results from the inability of the thyroid to escape from the Wolff-Chaikoff effect and is readily managed by either discontinuation of amiodarone or thyroid hormone replacement. Amiodarone-induced thyrotoxicosis (AIT) may arise from either iodine-induced excessive thyroid hormone synthesis (type I, usually with underlying thyroid abnormality), or destructive thyroiditis with release of preformed hormones (type II, commonly with apparently normal thyroid glands). Therefore, monitoring of thyroid function should be performed in all amiodarone-treated patients to facilitate early diagnosis and treatment of amiodarone-induced thyroid dysfunction. Key words: Amiodarone, thyroid function, side effect, management, monitoring.     Abstrak: Amiodaron adalah obat antiaritmia yang cukup efektif dalam menangani beberapa keadaaan aritmia mulai dari supraventrikuler takikardia sampai takikardia ventrikuler yang mengancam kehidupan. Namun penggunaan obat ini ternyata menimbulkan efek samping pada organ lain yang dapat menimbulkan perburukan keadaan pasien. Sehingga, dalam penggunaan amiodaron, klinisi juga harus menimbang keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan oleh obat ini. Salah satu organ yang dipengaruhi oleh amiodaron adalah kelenjar tiroid. Amiodaron dan metabolitnya desetil amiodaron memengaruhi hormon tiroid pada kelenjar tiroid, jaringan perifer, dan mungkin pada pituitari. Aksi amiodaron ini menyebabkan peningkatan T4, rT3 dan TSH, namun menurunkan kadar T3. Hipotiroidisme dan tirotoksikosis dapat terjadi pada pasien yang diberi amiodaron. Amiodarone-induced hypothyroidism (AIH) terjadi karena ketidakmampuan tiroid melepaskan diri dari efek Wolff Chaikof, dan dapat ditangani dengan pemberian  hormon substitusi T4 atau penghentian amiodaron. Amiodarone-induced thyrotoxicosis (AIT) terjadi karena sintesis hormon tiroid yang berlebihan yang diinduksi oleh iodium (tipe I, biasanya sudah mempunyai kelainan tiroid sebelumnya) atau karena tiroiditis destruktif yang disertai pelepasan hormon tiroid yang telah terbentuk (tipe II, biasanya dengan kelenjar yang normal). Pemantauan fungsi tiroid seharusnya dilakukan pada semua pasien yang diberi amiodaron untuk memfasilitasi diagnosis dan terapi yang dini terjadinya  disfungsi tiroid yang diinduksi amiodaron. Kata Kunci: Amiodaron, fungsi tiroid, efek samping, penanganan, pemantauan.
HUBUNGAN KELAS NYHA DENGAN FRAKSI EJEKSI PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DI BLU/RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Sari, Patricia Ratna; Rampengan, Starry H.; Panda, Agnes Lucia
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.053 KB)

Abstract

Abstract: The functional status of patients with chronic heart failure (CHF) has been standardized by the classification of NYHA [New York Heart Association] class I-IV. One of the parameters to assess the ability of the heart function is the ejection fraction (LVEF) were assessed using echocardiography parameters. The purpose of this study was to determine the relationship of NYHA class with ejection fraction in patients with chronic heart failure in the BLU/Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Methodology: This research method is analytic cross sectional study approach. The sample was CHF patients in BLU/Prof. Dr. R. D. Manado Kandou 30 people held during November-December 2012. Results: The distribution of patients according to NYHA class most are in NYHA II (43%), while the lowest are in NYHA IV (7%). Distribution according to the ejection fraction is at most 30-39% LVEF is 12 and there are at least LVEF <30%, is 6 people. The results obtained using the Spearman test (p = 0.177), indicating that there was no statistically significant association between NYHA class with ejection fraction in patients with chronic heart failure in the BLU/Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.Conclusion: No significant relationship was found between NYHA class with ejection fraction. Keywords: Chronic Heart Failure, ejection fraction, NYHA class   Abstrak: Status fungsional penderita gagal jantung kronik (GJK) ini telah dibakukan berdasarkan klasifikasi NYHA [New York Heart Association] kelas I-IV. Salah satu parameter untuk menilai kemampuan fungsi jantung adalah fraksi ejeksi (LVEF) yang dinilai menggunakan parameter ekokardiografi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kelas NYHA dengan fraksi ejeksi pada penderita gagal jantung kronik di BLU/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Metodologi: Metode penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan studi cross sectional.  Sampel penelitian ini adalah pasien GJK  di BLU/RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado sebanyak 30 orang yang berlangsung selama bulan November – Desember 2012. Hasil : Distribusi pasien GJK menurut kelas NYHA terbanyak berada pada NYHA II (43%), sedangkan yang paling rendah berada pada NYHA IV (7%). Distribusi  menurut Fraksi Ejeksi terbanyak berada pada LVEF 30-39 % yaitu 12 orang dan paling rendah terdapat pada LVEF <30 % yaitu 6 orang. Hasil penelitian ini menggunakan uji Spearman diperoleh (p= 0,177), menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan bermakna antara NYHA kelas dengan fraksi ejeksi pada pasien gagal jantung kronik di BLU/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Kesimpulan:Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kelas NYHA dengan fraksi ejeksi. Kata kunci : Fraksi ejeksI, Gagal Jantung Kronik, Kelas NYHA [New York Heart Association]
HUBUNGAN OBESITAS UMUM DAN OBESITAS SENTRAL DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PASIEN DI BLU/RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Rompas, Tracey C. C. W.; Panda, A. Lucia; Rampengan, Starry H.
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.403 KB)

Abstract

Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit kardiovaskuler yang menyebabkan kematian nomor satu di dunia. Awalnya obesitas dianggap sebagai faktor yang memberikan kontribusi pada risiko penyakit PJK melalui faktor lain berhubungan seperti hipertensi, dislipidemia, namun telah dibuktikan juga bahwa distribusi jaringan lemak berpengaruh pada tingginya risiko penyakit jantung koroner. Obesitas ditentukan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang. Tujuan Penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui hubungan IMT dan lingkar pinggang penderita PJK di BLU/RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini bersifat pengamatan analitik dengan disain potong lintang. Populasi ialah pasien dengan penyakit jantung koroner di poliklinik Jantung BLU/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode November 2012 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh besar sampel 62 pasien. Sampel dipilih berdasarkan accidental sampling method. Menurut analisis univariat pasien yang mengalami PJK sebanyak 82,3% dari total sampel dan 86,7% penderita PJK tergolong memiliki lingkar perut dan IMT diatas normal. Hasil pengujian bivariat dengan kai-kuadrat dengan nilai kritis kemaknaan 0,05 didapatkan nilai p= 0,367 untuk kategori IMT dengan PJK dan nilai p= 0,135 untuk lingkar perut. Keduanya menunjukkan hubungan yang tidak signifikan. Dari penelitian ini ialah menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara obesitas umum dan obesitas sentral dengan PJK pada pasien di poli jantung BLU/RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado periode November 2012.KataKunci : Obesitas, Lingkarperut, Penyakit Jantung Koroner     Abstract: Coronary heart disease (CHD) is cardiovascular disease that the first causes of death in the world. Obesity was initially considered as a factor that contributes to the risk of CHD by other factors related such as hypertension, dyslipidemia, but has also proved that the distribution of fat tissue effect on the high risk of coronary heart disease.Obesity is defined by body mass index (BMI) and waist circumference. Purpose of this study the researchers wanted to know the relationship of BMI and waist circumference of patients with CHD in BLU/RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. The observation of this study is cross-sectional analytical design. The population was patients with CHD at the cardiac ward in the clinic of internal medicine BLU/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado hospital  during the period November 2012 that met the inclusion and exclusion criteria in order to obtain a sample size of 62 patients. Samples were selected based on accidental sampling method. According to univariate analysis of patients with CHD as much as 82.3% of the total sample, and 86.7% of patients classified as having CHD abdominal circumference and BMI above normal. Bivariate test results with kai-squared significance the critical value 0.05 obtained for p = 0.367 BMI categories with CHD and p = 0.135 for waist circumference, both showed no significant relationship. The conclusion of this study is to show there is no significant relationship between general obesity and central obesity and coronary heart disease in patients with CHD in the heart of poly BLU/RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado November 2012 period.Keywords: Obesity, Abdominal Circumference, Coronary Heart Disease
EDEMA PARU KARDIOGENIK AKUT Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 6, No 3 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.717 KB)

Abstract

Abstract: Acute cardiogenic pulmonary edema is a common disease, harmful and lethal with a mortality rate 10-20%. Cardiogenic pulmonary edema or edema volume overload due to an increase of pulmonary capillary hydrostatic pressure that causes the increase of transvascular fluid filtration. The increase of pulmonary capillary hydrostatic pressure is usually caused by the increase of pressure in the pulmonary veins that occur due to the increase of left ventricular end-diastolic pressure and left atrial pressure. Clinical features of cardiogenic pulmonary edema are inter alia shortness of breath that is associated with a history of chest pain and heart disease. Cardiogenic pulmonary edema is one of medical emergencies that need early medical treatment after the diagnosis is established. The management includes supportive treatment to maintain lung function (such as gas exchange, organ perfusion), where as the main cause should be investigated and treated as soon as possible whenever possible. The principle of management are adequate oxygen distribution, fluid restriction, and maintain cardiovascular function. The initial consideration are clinical evaluation, ECG, chest x-ray and blood gas analysis.Keywords: acute cardiogenic pulmonary edema, managementAbstrak: Edema paru kardiogenik akut merupakan penyakit yang sering terjadi, merugikan dan mematikan dengan tingkat kematian 10-20 %. Edema paru kardiogenik atau edema volume overload terjadi karena peningkatan tekanan hidrostatik dalam kapiler paru yang menyebabkan peningkatan filtrasi cairan transvaskular. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler paru biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan di vena pulmonalis yang terjadi akibat meningkatnya tekanan akhir diastolik ventrikel kiri dan tekanan atrium kiri. Gambaran klinis edema paru kardiogenik yaitu adanya sesak napas tiba-tiba yang dihubungkan dengan riwayat nyeri dada dan adanya riwayat sakit jantung. Edema paru kardiogenik merupakan salah satu kegawatan medis yang perlu penanganan medis secepat mungkin setelah ditegakkan diagnosis. Penatalaksanaan utama meliputi pengobatan suportif yang ditujukan terutama untuk mempertahankan fungsi paru (seperti pertukaran gas, perfusi organ), sedangkan penyebab utama juga harus diselidiki dan diobati segera bila memungkinkan. Prinsip penatalaksanaan meliputi pemberian oksigen yang adekuat, restriksi cairan, mempertahankan fungsi kardiovaskular. Pertimbangan awal yaitu evaluasi klinis, EKG, foto toraks dan AGDA.Kata kunci: edema paru kardiogenik akut, tatalaksana
KEHAMILAN PADA HIPERTENSI PULMONAR BERAT Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 6, No 3 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.307 KB)

Abstract

Abstract: Pregnancy is a very heavy burden on the cardiovascular system. Arterial-venous relaxation and blood volume increase in the early phases of conception. In embryonic phase, 5-8 weeks of pregnancy, the systemic vascular resistance decreases and the cardiac output increases until 20-30% compared to a non-pregnant state. A pregnant patient with pulmonary hypertension has a poor prognosis and it has been strongly recommended to undergo early abortion. We report a case of pregnancy with pulmonary hypertension with unknown cause. There is a hypercoagulable state that leads to pulmonary embolism in this case. The administration of anticoagulants (heparin or warfarin) and pulmonary vasculature vasodilator drugs are early indicated. Albeit, the patients did not control regularly, therefore, she has never received these drugs until her childbirth. Prevention of pregnancy and heart problems are the main things that influnce maternal mortality. Patients who desire to continue their pregnancy must be admitted to the hospital at the second trimester of gestation and handled by multi-disciplinary specialists. Concerning the increase of maternal mortality rate termination of pregnancy is still strongly recommended to pregnant women with primary pulmonary hypertension.Keywords: pregnancy, pulmonary hypertension, terminationAbstrak: Kehamilan merupakan kondisi yang sangat membebani sistem kardiovaskular. Relaksasi arterial dan vena serta peningkatan volume darah dimulai pada fase-fase awal konsepsi. Pada fase embrionik 5-8 minggu pertama kehamilan resistensi sistemik vaskular menurun dan curah jantung meningkat sampai 20-30% dibanding sebelum hamil. Prognosis buruk ditemukan pada pasien hamil dengan hipertensi pulmonal sehingga sangat direkomendasikan untuk terminasi sedini mungkin. Kami melaporkan kasus kehamilan dengan hipertensi pulmonal tanpa penyebab yang jelas. Pada kasus ini ditemukan hypercoagulable state yang dapat mengakibatkan terjadinya emboli paru. Pemberian antikoagulan (heparin atau warfarin) dan obat-obat vasodilator pembuluh darah paru diindikasikan sedini mungkin. Namun, oleh karena tidak kontrol teratur ke dokter maka sampai saat persalinanpun pasien belum pernah mendapat obat-obat jenis tersebut. Pencegahan kehamilan dan masalah jantung yang ditimbulkan merupakan dua hal utama yang memengaruhi angka kematian ibu. Pasien yang menginginkan kehamilannya diteruskan harus dirawat di rumah sakit saat usia kehamilan trimester kedua dan ditangani oleh spesialis dari multidisiplin. Terminasi kehamilan tetap merupakan pilihan utama pada pasien dengan hipertensi pulmonal primer mengingat tingginya angka kematian ibu.Kata kunci: kehamilan, hipertensi pulmonal, terminasi
Effect of enhanced external counterpulsation therapy on myeloperoxidase in lowering cardiovascular events of patients with chronic heart failure Rampengan, Starry H.; Setianto, Budhi; Posangi, Jimmy; Immanuel, Suzanna; Prihartono, Judo; Siagian, Minarma; Kalim, Harmani; Inneke, Sirowanto; Abdullah, Murdani; Waspadji, Sarwono
Medical Journal of Indonesia Vol 22, No 3 (2013): August
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.558 KB) | DOI: 10.13181/mji.v22i3.584

Abstract

Background: Chronic heart failure (CHF) is a slowly progressive disease with high morbidity and mortality; therefore, the management using pharmacological treatments frequently fails to improve outcome. Enhanced external counterpulsation (EECP), a non-invasive treatment, may serve as alternative treatment for heart failure. This study was aimed to evaluate the influence of EECP on myeloperoxidase (MPO) as inflammatory marker as well as cardiac events outcome.Methods: This was an open randomized controlled clinical trial on 66 CHF patients visiting several cardiovascular clinics in Manado between January-December 2012. The subjects were randomly divided into two groups, i.e. the group who receive EECP therapy and those who did not receive EECP therapy with 33 patients in each group. Myeloperoxidase (MPO) as inflammatory marker was examined at baseline and after 6 months of observation. Cardiovascular events were observed as well after 6 months of observation. Unpaired t-test was use to analyze the difference of MPO between the two groups, and chi-square followed by calculation of relative risk were used for estimation of cardiovascular event outcomes.Results: MPO measurement at baseline and after 6 months in EECP group were 643.16 ± 239.40 pM and 422.31 ± 156.26 pM, respectively (p < 0.001). Whereas in non EECP group, the MPO values were 584.69 ± 281.40 pM and 517.64 ± 189.68 pM, repectively (p = 0.792). MPO reduction was observed in all patients of EECP group and in 13 patients (48%) of non-EECP group (p < 0.001). Cardiovascular events were observed in 7 (21.21%) and 15 (45.45%) of patients in EECP and non-EECP groups, respectively (p = 0.037).Conclusion: EECP therapy significantly decreased the level of MPO as inflammatory marker and this decrease was correlated with the reduction of cardiovascular events in CHF patients. (Med J Indones. 2013;22:152-60. doi: 10.13181/mji.v22i3.584)Keywords: CHF, cardiovascular events, EECP, myeloperoxidase
MENINGKATKAN KOLESTEROL HDL Paradigma baru dalam pencegahan penyakit kardiovaskular Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Biomedik (JBM)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.307 KB)

Abstract

Abstract: Studies of statin have proven that lower LDL-cholesterol levels will reduce morbidity and mortality of coronary heart diseases with succesfull rate only about 20-30%; therefore, it needs another attempt to decrease these morbidity and mortality rate. The other important risk factor is HDL-cholesterol which protects against atherosclerotic events. Several studies have shown that there is a close relationship between low levels of HDL-cholesterol and the increased incidence of cardiovascular diseases. The inverse relationship between HDL cholesterol and cardiovascular disease prevention applies to both males and females, as well as morbidity and mortality. The increase of HDL-cholesterol levels about 1 mg/dl can reduce the risk of coronary heart disease 2% in males and 3% in females. It needs to know the goal of patient treatment to achieve the higher HDL-cholesterol level. There are 4 groups of patients with low level of HDL-cholesterol, as follows: type 2 diabetes mellitus, metabolic syndrome/central obesity, elderly, and post-myocardial infarction. The management of patients with low level of HDL-cholesterol consists of non-pharmacological therapy such as diet, exercise, stop smoking, and alcohol restriction as well as pharmacological therapy by using drugs to increase the HDL-cholesterol levels such as fibrates and nicotinic acid. These drugs can be combined with others such as the statins.Keywords: HDL-Cholesterol, cardiovascular disease, managementAbstrak: Penelitian golongan statin membuktikan bahwa penurunan kadar kolesterol-LDL akan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit jantung koroner dengan angka keberhasilan hanya sebesar 20-30%, sehingga harus ada upaya lain dalam menurunkan angka kesakitan maupun kematian penyakit kardiovaskuler. Komponen lain yang penting yaitu kolesterol-HDL yang bersifat protektif terhadap kejadian aterosklerosis. Beberapa penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan erat antara rendahnya kadar kolesterol-HDL dengan meningkatnya kejadian penyakit kardiovaskular. Hubungan terbalik antara kolesterol-HDL tinggi dan pencegahan penyakit kardiovaskular berlaku baik bagi pria maupun wanita, serta morbiditas maupun mortalitas. Setiap kenaikan kadar kolesterol-HDL plasma sebesar 1 mg/dl dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner sebesar 2% pada pria dan 3% pada wanita. Untuk meningkatkan kadar kolesterol-HDL, perlu diketahui target pasien yang menjadi sasaran pengobatan. Terdapat 4 kelompok pasien yang memiliki kadar kolesterol-HDL rendah, yaitu: pasien dengan diabetes melitus tipe 2, sindroma metabolik/obesitas sentral, usia lanjut, dan pasca infark miokard. Penatalaksanaan pasien dengan kadar kolesterol-HDL rendah terdiri dari terapi non-farmakologis antara lain: diet, olahraga, berhenti merokok, dan restriksi konsumsi alkohol) serta penggunaan obat untuk meningkatkan kadar kolesterol-HDL, diantaranya ialah golongan fibrat dan asam nikotinik. Obat-obat ini dapat dikombinasikan dengan obat lain seperti golongan statin.Kata kunci: kolesterol-HDL, penyakit kardiovaskular, penatalaksanaan
PERSEPSI PASIEN ATAU KELUARGANYA TERHADAP MUTU PELAYANAN UNIT GAWAT DARURAT Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Biomedik (JBM)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.495 KB)

Abstract

Abstract: Prof. Dr. R.D. Kandou General Hospital in Manado is an A-class public hospital with a capacity of 745 beds. About 80% of hospitalization comes from the Emergency Unit. Until now, complaints are still found in the suggestion box as well as from mass media about the unsatisfied patients. To date, there is no study that can be justified regarding the complaints of those patients. This study aimed to analyze the level of patient satisfaction in order to maintain the quality of services at the Emergency Unit. The study was conducted between September to December 2013 as a cross-sectional prospective study in eligible 98 patients who visited the Emergency Unit Department of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital. By using SERVQUAL dimension associated with the level of patients’ satisfaction, a data collection of visitors at the Emergency Unit was obtained. The results showed that the overall perception of patients or their families on the quality of service at the Emergency Unit was 82.33%. However, one of components in SERVQUAL dimension (quality of service) had the lowest score, i.e. on the dimension of response capacity including prompt or immediate service provided for customers. Patients who came from poor families got the highest score (112.74) on all kinds of SERVQUAL dimension.Keywords: patient satisfaction, quality of service, patient perceptionAbstrak: RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah, tergolong kelas A dengan kapasitas 745 tempat tidur. Sebanyak 80% pasien rawat inap berasal dari Unit Gawat Darurat RSUP. Walaupun melayani seluruh strata sosial ekonomi dan juga sebagai rujukan pasien miskin dan terlantar, hingga saat ini masih dijumpai keluhan melalui kotak saran dan media massa yang menyangkut ketidakpuasan pasien tersebut. Belum ada penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan menyangkut berbagai keluhan pasien tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat analisis yang menyangkut tingkat kepuasan pasien agar dapat menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan upaya menjaga mutu pelayanan di UGD. Penelitian ini dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada periode waktu September-Desember 2013 dengan desain potong lintang terhadap 98 pasien UGD yang memenuhi syarat penelitian. Dengan menggunakan dimensi SERVQUAL yang dikaitkan dengan tingkat kepuasan pasien, dilakukan pengumpulan data pengunjung UGD selama periode tertentu. Persepsi pasien terhadap pelayanan akan baik bila tingkat kepuasan pasien tinggi. Persepsi pasien atau keluarganya terhadap mutu pelayanan UGD secara keseluruhan sebesar 82,33%. Pada salah satu unsur dimensi SERVQUAL (mutu pelayanan) dengan nilai paling rendah yaitu dimensi daya tanggap meliputi antara lain pelayanan yang segera atau cepat bagi pelanggan. Pasien dengan status gakin mendapatkan skor yang tinggi (112,74) terhadap semua dimensi SERVQUAL.Kata kunci: kepuasan pasien, mutu pelayanan, persepsi pasien
Disfungsi ereksi pada penyakit kardiovaskular Sasube, Nancy; Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Biomedik (JBM)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.736 KB)

Abstract

Abstract: Erectile dysfunction (ED) is common among cardiovascular disease (CVD) patients. It is an important component of the quality of life. Moreover, it also confers an independent risk for future CV events. There is usual a 3-year time frame between the onset of ED symptoms and a CV event which offers an opportunity for risk mitigation. Thus, sexual function should be incorporated into CVD risk assessment for all males. Algorithms for the management of patient with ED have been proposed according to the risk for sexual activity and future (comprising of both lifestyle changes and pharmacological treatment) improve overall vascular health, including sexual function. Proper sexual counselling improves the quality of life and increase adherence to medication. Testosterone assessment may be useful for both diagnosis of ED, risk stratification, and further management. There are issues to be addressed, such as whether PDE5 inhibitors reduce CV risk. Management of ED requires a collaborative approach and the role of the cardiologist is pivotal.Keywords: cardiovascular disease, erectile dysfunction, sexual functionAbstrak: Disfungsi ereksi (DE) umumnya ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. DE merupakan komponen penting terhadap penurunan kualitas hidup pada laki-laki dan merupakan indikator terhadap risiko kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Terdapat jangka waktu sekitar 3 tahun antara munculnya DE dan kejadian penyakit kardiovaskular, sehingga masih ada kesempatan untuk mencegah risiko yang akan terjadi. Dengan demikian fungsi seksual harus dimasukkan dalam penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada semua laki-laki. Algoritma untuk penanganan pasien DE telah dirumuskan sesuai dengan risiko aktivitas seksual dan kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Beberapa pendekatan untuk mengurangi resiko penyakit kardiovaskular terdiri dari perubahan gaya hidup dan pengobatan farmakologi dapat meningkatkan kesehatan termasuk fungsi seksual. Konseling seksual yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Penggunaan testosteron dan inhibitor PDE5 dapat bermanfaat dalam pengobatan DE. Penanganan DE memerlukan kerjasama dari berbagai bidang spesialistik termasuk peran dari kardiologis.Kata kunci: disfungsi ereksi, fungsi seksual, penyakit kardiovaskular