Articles

Found 16 Documents
Search

AFINITAS PENGIKATAN ANTIBODI MONOKLONAL TRASTUZUMAB TERHADAP HUMAN EPIDERMAL RECEPTOR-2 YANG DIEKSPRESIKAN Fiddiyamti, Ilma; Ramli, Martalena; Soetikno, Ristaniah D.; Mutalib, Abdul
Jurnal Sains Materi Indonesia 2012: Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor ganas ovarium merupakan tumor ganas keempat tersering pada wanita dan tumor ganas ginekologi kedua tersering setelah tumor ganas endometrium. Angka kematian dan angka kesakitan yang tinggi pada tumor ganas ovarium sebagian besar diakibatkan belum adanya cara untuk mengenal stadium awal dari tumor ganas ini, dimana hampir 65% hingga 70% kasus tumor ganas ovarium ditemukan pada stadium lanjut, dengan harapan hidup sekitar 5%hingga 50%. Human Epidermal Receptor-2 (HER-2) merupakan epidermal growth factor receptor yang terdapat pada permukaan sel ovarium. Interaksi HER-2 dengan antibodi monoklonal (mAb) adalah salah satu pendekatan untuk diagnosis dikaitkan dengan kespesifikan interaksinya yang lebih terarah mencapai target molekul. Trastuzumab merupakan humanized antibodi monoklonal yang rangkaian asam aminonya mirip dengan rangkaian asam amino antibodi manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis interaksi afinitas pengikatan antara mAb (trastuzumab) dan reseptor HER-2 yang diekspresikan tumor ganas ovarium. Hasil penelitian ini akan menjadi dasar untuk penggunaan trastuzumab sebagai molekul pembawa senyawa pengontras pada prosdur Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk tumor ganas ovarium yang target spesifik. Penelitian ini merupakan studi deskriptif untuk penandaan trastuzumab dan studi analitik korelasional dengan rancangan eksperimental untuk menilai interaksi trastuzumab dengan reseptor HER-2 yang diekspresikan cell-line tumor ganas ovarium. Cell-line tumor ganas ovarium SKOV-3 yang didapat dari LAPTIAB-BBPT, diberikan sejumlah trastuzumab yang telah ditandai dengan 125I. Selanjutnya, dilakukan penentuan interaksi trastuzumab dengan HER-2 secara in vitro menggunakan formula Scatchard. Hasil analisis interaksi memberikan nilai maksimum binding capacity, Bmax dan konstanta disosiasi, Kd berturut-turut adalah 4 x 10-7M dan 9,17 x 10-9M yang menunjukkan adanya afinitas pengikatan yang kuat antara trastuzumab dengan HER-2 yang diekspresikan tumor ganas ovarium.
PROSES UJI KUALITAS PRODUK Mo-99 HASIL BELAH U-235 DI PUSAT PRODUKSI RADIOISOTOP PERIODE 1995 -1996 Kadarisman, Kadarisman; Komala, Imas; Gunawan, Adang Hardi; Suparman, Ibon; Sayad, M.; Djoharly, Djoharly; Sovilawati, Evi; Ramli, Martalena; Ritonga, Togar M.; Tahyan, Yayan; Hafid, Dadang; Herlina, Herlina; Karyadi, Karyadi; Lestari, Enny; Sarmini, Endang; Mujinah, Mujinah; Kurniasih, Dede
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 1, No 2 (1998): JURNAL PRR 1998
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3947.404 KB)

Abstract

ROSES UJI KUALIT AS PRODUK 99Mo HASIL BELAH 235U DI PUSAT PRODUKSI RADIOISOTOP PERIODE 1995 -1996. Telah dilakukan evaluasi kualitas produk 99Mo hasil belah 235U. Konsentrasi radioaktivitas, kemurnian radionuklida, pengotor radionuklida pemancar gamma dan alfa telah dibahas. Sebanyak 44 buah cuplikan produk 99Mo yang diproses dari Januari 1995 sampai dengan Juni 1996 di Pusat Produksi Radioisotop - BATAN, telah diperiksa dan dievaluasi memenuhi persyaratan kualitas sesuai yang ditetapkan oleh Medy-Physics Inc dan layak digunakan untuk pembuatan generator 99Mo - 99mTc. Konsentrasi radioaktivitas produk 99Mo berkisar dari 280 mCi/mL sampai dengan 4500 mCi/mL pada saat kalibrasi. Konsentrasi radioaktivitas total pengotor radionuklida pemancar alfa yang ditetapkan dengan pencacah alfa Eberlin berkisar antara 0,04 x 10-7 µCi/mCi 99Mo sampai dengan 4,55x10-7 µCi/mCi 99Mo, yang menunjukkan semua produk 99Mo yang dianalisis memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, maksimum 1,0 x 10-6 µCi/mCi 99Mo. Demikian juga konsentrasi radioaktivitas pengotor radionuklida pemancar gamma tidak ada yang melampaui persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu 131I < 0,05 µCi/mCi 99Mo, 103Ru < 0,05 µCi/mCi 99Mo dan total nuklida pemancar gamma yang lain < 0,1 µCi/mCi 99Mo. Konsentrasi radioaktivitas nuklida pengotor 131I terbesar adalah 0,0125 µCi/mCi 99Mo, untuk 103Ru 0,032 µCi/mCi 99Mo, dan untuk total nuklida lainnya 0,08031 µCi/mCi 99Mo. Nuklida pemancar gamma yang paling dominan mengotori produk 99Mo hasil belah 235U adalah radioiodium yang terdiri dari isotop 133I(dalam 42 batch), 132I(dalam 37 batch) dan isotop 133I (dalam 39 batch). Sedangkan yang paling sedikit adalah nuklida 140Ba dan 132Tc, masing­ masing dalam 1 batch dari jumlah 44 batch. QUALITY CONTROL PROCESS OF 99Mo FISSION PRODUCT IN RADIOISOTOPE PRODUCTION CENTER 1995 - 1996. Quality evaluation of 99Mo fission was carried out. Radioactive concentration, impurities of gamma and alpha emitting radionuclides were investigated. Fourty four batches of 99Mo were processed from January 1995 to June 1996 in Radioisotope Production Center - BATAN, were investigated for the agreement with the quality requirement set out by Medy-Physics Inc. and their suitability for 99mTc generator production. Radioactive concentration of 99Mo solutions were found between 280 mCi/mL to 4500 mCi/mL at calibration time. Radioactive concentration of total alpha emitting impurities were between 0,04 x 10-7 µCi/mCi 99Mo to 4,55 x 10-7 µCi/mCi 99Mo which complied with the impurity limit of 1.0 x 10-6 µCi/mCi 99Mo at calibration time. Radioactive concentration of gamma emitting impurities of all 44 99Mo solutions complied with quality requirements set out by Medy-Physics Inc. i.e. 131I < 0.05 µCi/mCi 99Mo, 103Ru <0.05 µCi/mCi 99Mo and others gamma emitter < 0.1 µCi/mCi 99Mo. The highest radioactive concentartion of impurities observed were 0.0125 µCi 131I/mCi 99Mo, 0.032 µCi 103Ru/mCi 99Mo and other was 0.0803 µCi/mCi 99Mo. Major gamma enitting impurities were radioiodine, i.e: 131I in 42 batches, 132I in 37 batches and 133I in 39 batches, while 140Ba and 132Te were only observed in one batch.
BINDING AFINITY OF ANTIBODY MONOCLONAL TRASTUZUMAB AND HUMAN EPIDERMAL RECEPTOR TYPE-2 OVEREXPRESSED BY MAGLINAT OVARIUM TUMOR Fiddiyanti, Ilma; Ramli, Martalena; Soetikno, Ristaniah D.; Mutalib, Abdul
Jurnal Sains Materi Indonesia 2012: Desember 2012 - Edisi Khusus
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malignant ovarian tumor is the fourth most common malignancy in woman and the second most gynecological malignancy next to the endometrial carcinoma. High morbidity and mortality rates of the malignant ovarian tumor are mostly caused by the inability to detect an early stage of this malignancy. Almost 65-70% cases of ovarian tumor are found on later stage, with survival rate of about 5-50%. Human Epidermal Receptor (HER-2) is an epidermal growth factor receptor found on the surface of ovarium cells. Interaction between HER-2 with monoclonal antibody (mAb) has been an approach for diagnosis associated with specific interaction which is more targeted on molecule target. Trastuzumab is a humanized mAb which has amino acid structure similar to that of human mAb amino acid. The aim of this study was to analyse binding affinity of interaction between trastuzumab and HER-2 receptor overexpressed by malignant ovarian tumor. The experiments results would be used as a basic consideration for the use of trastuzumab as molecular carrier for specific targeted contrast agent in Magnetic Resonance Imaging (MRI) procedure for maglinant ovarium tumor. This research covered descriptive study of trastuzumab radiolabeling and experimental design of corellational study to evaluate interaction between trastuzumab and HER-2 overexpressed by malignant ovarium tumor cell-lines. The malignant ovarian tumor cell-lines, SKOV-3 provided by LAPTIAB-BBPT, were treated with 125 Iradiolabeled trastuzumab. The in vitro interaction between trastuzumab and HER-2 was analysed by using Scatchard formula. Analysis result gave the value of maximum binding capacity, Bmax and discotiation constant, Kd were 4x10-7 M and 9,17x10-9 M respectively. It can be concluded that there was a strong interaction between trastuzumab with HER-2 which was expressed by malignant ovarian tumor.Keywords: Malignant ovarian tumor, HER-2, Monoclonal antibody, Trastuzumab, 125I, , Binding affinity.
VALIDASI PENENTUAN Sn(II) DI DALAM KIT RADIOFARMAKA Mutalib, Abdul; Ramli, Martalena; Herlina, Herlina; Sarmini, Endang; Suharmadi, Suharmadi; Besari, Canti
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 1, No 1 (1998): Jurnal PRR 1998
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3275.863 KB)

Abstract

VALIDASI PENENTUAN So(II) DI DALAM KIT RADIOFARMAKA. Suatu kegiatan validasi penentuan Sn2+ dengan titrasi iodometri tidak langsung dilaporkan. Metoda analisis sendiri didasarkan atas reaksi oksidasi Sn2+ dengan menggunakan iodium berlebih dalam jumlah diketahui dan kelebihan iodium yang tidak bereaksi dititer dengan larutan standar tiosulfat. Parameter analitik yang dipelajari dalam kegiatan validasi adalah presisi, akurasi, selektivitas, rentang analisis (range) dan linieritas. Presisi metoda analisis cukup baik, yang ditunjukkan dengan koefisien variasi yang berkisar antara 1,0% - 6,9%, untuk 10 kali pengulangan kecuali untuk satu analisis yang memiliki koefisien variasi sekitar 10,6%. Akurasi metoda memperlihatkan nilai cukup baik untuk kandungan Sn2+ yang berkisar antara 463 µg sampai 2318 µg. Selektifitas atau kespesifikan (specificity) dengan adanya "placebo ingredient" bahan baku kit MDP dan DTPA menunjukkan basil analisis Sn2+ yang tidak berbeda nyata antara cuplikan Sn2+ dalam keadaan murni dengan cuplikan Sn2+ yang mengandung "placebo ingredient". Metoda analisis mempunyai rentang analisis dan linier di daerah jangkauan konsentrasi antara 463 µg sampai 2318 µg. Korelasi antara Kadar Sn2+ teoritis dengan kadar Sn2+ hasil pengukuran ternyata sangat baik dengan nilai R= 0,9991. Hasil validasi ini menunjukkan bahwa metoda analisis cukup cepat, sederhana dan cukup teliti untuk kegiatan rutin penentuan kuantitatif Sn2+ sebagai komponen kit radiofarmaka. ASSAY VALIDATION FOR QUANTITATION OF Sn2+ IN RADIOPHARMACEUTICAL KITS. An assay validation for quantitation of Sn2+ in radiopharmaceutical kits based on indirect iodometric titration is described. The method is based on the oxidation of Sn2+ using a known excess of iodine and the excess unreacted iodine titrated with thiosulphate. Typical analytical parameters considered in this assay validation are precision, accuracy, selectivity or spesificity, range, and linearity. The precision of the analytical method is quite good represented by coefficient of variance in the range of 1.0% to 6.9%. for 10 runs of analysis except one analysis shows the coeficient of 10.2%. The method has an accuracy of 95.6% - 99% as percent recoveries at theoretical Sn2+ amounts of 463 µg to 2318 µg. The selectivity or specificity in the presence of placebo ingredients, such as MDP and DTPA, shows that there is no significant difference between the analytical mean of placebo samples and that of non-placebo samples. The theoretical and experimental Sn2++ amounts show a linear correlation in the stannous range studied with an excellent correlation coefficient (R = 0.9991). This validation studies indicate that the analytical method is accurate enough for routine quantitative analysis of Sn2+ in radiopharmaceutical kits.
PENANDAAN DAN BIODISTRIBUSI RADIOFARMAKA TERAPI KANKER OTAK 1251-NIMOTUZUMAB TERHADAP MENCIT NORMAL Ismuha, Ratu Ralna; Ramli, Martalena; Gunawan, Adang Hardi; Mutalib, Abdul; Subarnas, Anas
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 13, No 2 (2010): Jurnal PRR 2010
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPENANDAAN DAN BIODISTRIBUSI RADIOFARMAKA TERAPI KANKER OTAK 125I-NIMOTUZUMAB TERHADAP MENCIT NORMAL. NIMOTUZUMAB adalah anti bodi monoclonal yang diketahui berperan banyak dalam antiproliferasi, proapoptisis dan efek antiangionik pada terapi kanker  otak  (glioma). Penandaan antibody monoklonal nimotuzumab dengan radiosiotop 1251yang memancarkan e1ektron auger telah dilakukan dengan menggunakan metode  iodogen. Hasil penelitiaan kemurnian radiokimia terbaik (97%)  menunjukan  mol  ratio protein (nimotuzumab) dengan kalium iodida  dan  lodogen adalah 1: 2: 1200  pada fraksi ke 6.  Kemurnian radiokimia diuji dengan  kromatografi kertas dengan fase diam  dan  fase gerak  masing –masing  adalah  kertas whatman  no. 1 dan  etanol-butanol-amonium  hidroksida dengan  perbandingan  3 : 2 : 1 Nilai Rf untuk  1251_nimotuzumab adalah 0,0 dan  125I adalah 0,9.  Hasil uji biodistribusi terhadap mencit normal selama 72 jam  menunjukan 125 I-nimotuzumab memiliki  waktu  paruh  yang  panjang  dan  terakumulasi  tinggi dalam organ  hati (1,97 ± 1,18%), organ ginjal (0,82± 0,28%)  dan  otot (0,61±,98%).  Sedangkan  akumulasi tertinggi  pada organ otak mencit normal (0,13 ±0,06%) baru terjadi setelah 24jam penyuntikan. Berdasarkan efek terapi dan akumulasi terhadap organ pada mencit normal, 1251_9imotuzumab berpotensi digunakan untuk terapi kanker otak. Kata kunci: Biodistribusi, Glioma, 1251,lodogen, Nimotuzumab ABSTRACT LABELING AND BIODISTRIBUSTION OF THERAPEUTIC RADIOPHARMACEUTICAL FOR BRAIN CANCER 125I – NIMOTUZUMAB IN NORMAL MICE. Nimotuzumab is a monoclonal antibody which known giving contribution in antiproliferation, proapoptosis and antiangionik effect on the therapy of brain cancer (glioma). The labeling of monoclonal antibody nimotozumab with 1251which radiate Juger electrons has been done with idogen method. The best result of radiochemical purity (97%) was shown ihI fraction 6 with the mol ratio of nimotuzumab towards potassium iodide and iodogen was 1 : 2 : 1200. Radiochemical purity was examined by paper chromatography with whatman paper no. 1 as the stationary dhase and ethanol-butanol-ammonium hydroxide with a ratio of 3 : 2 : 1 as the mobile phase. Rf Values for 1251-nimotuzumab is 0.0, while Rf value of 1251is 0.9. The biodistribution result on normal mice for 72 hours showed that 1251-nimotuzumab not only has a long half-life time but also has high accumulation in liver (1.97 e. 1.18(%0.)kidey (0.82±0.28%) and  muscle ( 0.61 ± 0.98 % ). The higest accumulation in liver (1.97 mice ( 0.128±0.06% ) occurred 24 hours after injection . Based on trhwe therapeutic effect and organ accumulation on normal mice,  1251-nimotuzumab could be potentially used for brain cancer therapy. Keywords: Biodistribution, Glioma, 1251,lodogen, Nimotuzumab      
PREPARASI DAN UJI STABlLlTAS I77Lu-DOTA-NIMOTUZUMAB SEBAGAI RADIOFARMAKA TERAPI. Human, Titis Sekar; Ramli, Martalena; Rustendi, Cecep Taufik; Subur, Muhammad
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 13, No 1 (2010): Jurnal PRR 2010
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK PREPARASI DAN UJI STABlLlTAS I77Lu-DOTA-NIMOTUZUMAB SEBAGAI RADIOFARMAKA TERAPI. Nimotuzumab adalah humanized monoclonal antibody  (mAb) yang spesifik terhadap epidermal growthfoctor receptor (EGFR), sasaran kunci dalam pengembangan obat terapi kanker. Dalam penelitian ini telah dilakukan preparasi dan uji stabilitas I77Lu-DOTA -Nimotuzumab sebagai  radiofarmaka  terapi yang diharapkan  lebih paten dibandingkan dengan penggunaan nitozumab atau radiasi secara sendiri- sendiri. Preparasi I77Lu-DOTA-Nimotuzumab, diawali dengan penyiapan immunokonjugat DOTA -  Nimotuzumab yang kemudian dilanjutkan dengan  proses  penandaan 77Lu dan proses pemurnian dengan kolom Sephadex G-25M, berhasil  memberikan I77Lu-DOTA-Nimotuzumab dengan kemurnian rad iokim ia > 99%. Untuk memonitor kualitas dan stabilitas hasil penandaan system kromatografi lapis tipis (KLT), dengan fase diam dan fase gerak masing-masing adalah ITLC-SG dan salin telah berhasil dikembangkan. Hasil uji stabilitas I77Lu-DOT A-Nimotuzumab memperlihatkan bahwa  radiommunokonjugat ini masih tetap utuh. Kemurnian radiokimia radioimmunokonjugat ini setelah penyimpanan selama 96 turut jam pada suhu kamar, pada suhu 4°C dan dalam serum pad a suhu 37°C berturut adalah 97,42 ± 0,59, 96,27 ± 0,08 dan 99,46 ± 0,07%. Kata kunci : I77Lu-DOTA-Nimbtuzumab, epidermal growth factor receptor (EGFR), radiofarmaka terapi ABSTRACT PREPARATION  AND  STABILITY TEST OF  I77Lu-DOTA-NIMOTUZUMAB  AS RADIOPHARMACEUTICAL  FOR  THERAPY. Nimotuzumab is a humanized monoclonal antibody (mAb) that targets the epidermal growth factor receptor (EGFR), a key target in the development of cancer therapeutics. In this research project a preparation and stability test of a potential therapeutic radiopharmaceutical, 177Lu-DOT A-Nimotuzumab, which was expected to be more potent than the use of Nimotuzumab or radiotherapy alone, had been carried out. Preparation of I77Lu-DOT A-Nimotuzumab, which was initiated by preparing of immunoconjugate DOTA-Nimotuzumab then followed by radiolabelling with  I77Lu and purification process using Sephadex G-25M column, resulted in a I77Lu-DOTA-Nimotuzumab with radiochemical purity I77Lu-DOTA77Lu -Nimotuzumab > 99%. A Thin-Layer Chromatography (TLC) system , where ITLC-SG used as static phase and saline as mobile phase, for monitoring   of quality and  stability of 177Lu-DOT A-Nimotuzumab, had also been developed Successfully. The Stability test  177Lu-DOT A-Nimotuzumab  showed that this radioimmunoconjugate was still intact for 96 hours. The radiochemical purity of  I77Lu-DOT A-Nimotuzumab ehich kept at room temperature, at 4 oC   in serum at 37°C  for  96  hours  was  found to be 97,42 ± 0,59, 96,27 ± 0,08 dan 99,46 ± 0,07%. Kaywords :  l77Lu-DOT A-Nimotuzumab, epidermal growth factor receptor (EGFR), therapeutic  radiopharmaceutical.  
VALIDASI METODE PENENTUAN KADAR GADOLINIUM (III) DAN LIGAN DIETHYL TETRAAMINE PENTAACETIC ACID (DTPA) DALAM CONTRAST AGENT Gd-DTPA Ritawidya, Rien; Ramli, Martalena; Rustendi, Cecep Taufik
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 17, No 1 (2014): Jurnal PTRR 2014
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.765 KB)

Abstract

Gd-DTPA merupakan salah satu contrast agent yang penting dalam Magnetic Resonance Imaging (MRI). Kadar ion Gd (III) dan ligan DTPA bebas dalam contrast agent yang terlalu besar akan bersifat toksik pada tubuh manusia. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk penentuaan kadar ion Gd (III) dan ligan DTPA bebas sehingga contras agent dapat digunakan untuk tujuan klinis. Metode analisis yang dipilih pada penelitian ini adalah titrasi kompleksometri yang harus divalidasi sehingga diperoleh data-data perolehan kembali (recovery), koefisien variansi (CV) dan linearitas. Serangkaian percobaan yang telah dilakukan pada penentuan Gd (III) dengan DTPA menunjukkan hasil parameter akurasi % recovery antara 30,33 %-183,59 %, presisi dari % CV antara 2,34 %-35,25 %, dan linieritas dengan nilai R=0.9760. Sementara pada penentuan DTPA dengan Gd (III) menunjukkan hasil % recovery antara 105,15 %-139,12 %, nilai % CV antara 6,78 %-10,96 %, dan nilai R=0.9994. Hasil validasi menunjukkan bahwa metode penentuan ini tidak dapat digunakan sebagai salah satu metode alternatif penentuan ion Gd(III) bebas dan ligan DTPA bebas dalam contrast agent. Gd-DTPA is one of the contrast agent which is important in Magnetic Resonance Imaging (MRI) application. The presence of free Gd (III) ion and free DTP A ligand isextremely toxic in human body. Therefore, it needs a method in order to detennine free ion Gd (III) and freeDTP A ligand concentration which then MRI would be applicable for clinical purpose. The analyticalmethod  that selected for the research was complexometric titration. The research was carried out in order tomake validation methodJof free ion Gd (III) and free DTPA ligand detennination, then validation criteriasuch  as % recovery, % coefisien of variance and linierity could be obtained. Some experiments that had been done on detennination of free Gd (III) with DTPA resulted in % recovery between 30,33% - 183,59%, theprecision from %CY between 2,34% - 35,25% and linearity showed with value ofR = 0,9525. Meanwhile on detennination ofDTPA with Gd (III) resulted in % recovery between 105.15% - 139,12%, %CY between 6,78% - 10,96% and R = 0,9525. Yalidation result indicates that detennination method can not be used as a method to detennine free ion Gd(III) and free DTPA ligand in contrast agent. Keywords: Gd-DTPA, contrast agent, ion Gd (III), complexometric, validation 
STUDI AWAL ESTIMASI DOSIS INTERNAL 177Lu-DOTA TRASTUZUMAB PADA MANUSIA BERBASIS UJI BIODISTRIBUSI PADA MENCIT Hidayati, Nur Rahmah; Setyowati, Sri; Sutari, Mrs; Triningsih, mrs; Karyadi, mr; Aguswarini, Sri; Humani, Titis Sekar; Hidayat, Basuki; Ramli, Martalena; Massora, Stepanus; Susilo, Veronika Yulianti; Mutalib, Abdul; Sastramihardja, Herry; Masjhur, Johan S.
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.903 KB)

Abstract

ABSTRAK STUDI AWAL ESTIMASI DOSIS INTERNAL 177Lu-DOTA TRASTUZUMAB PADA MANUSIA BERBASIS UJI BIODISTRIBUSI PADA MENCIT. Radiofarmaka baru untuk pengobatan penyakit kanker payudara tipe HER-2, 177Lu-DOTA Trastuzumab, telah berhasil diproduksi oleh Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN. Demi keamanan produk dan keselamatan pasien, radiofarmaka baru tersebut perlu dilengkapi dengan data studi dosis internal yang dilakukan setelah uji praklinis pada hewan coba selesai. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk melakukan estimasi dosis pada pasien yang dihitung berdasarkan data uji biodistribusi pada mencit. Studi Uji biodistribusi dilakukan pada 25 ekor mencit dan diamati biodistribusinya pada organ-organ, diantaranya otak, perut, usus, jantung , ginjal, hati, paru-paru, otot, tulang, limpa dan kandung kemih. Pengamatan cacahan organ dilakukan pada jam ke 1, 2, 3, 4, 24, 48 pasca injeksi radiofarmaka 177Lu DOTA-Trastuzumab sebesar 100mCi. Hasil yang diperoleh dari uji biodistribusi adalah % ID/gram organ tikus, kemudian dilakukan konversi perhitungan ke % ID/gram organ manusia. Untuk mengestimasi dosis ke manusia, hasil %ID/gram organ tersebut dipakai sebagai input pada software dosimetri internal OLINDA/EXM, dengan cara melakukan plotting %ID/gram versus waktu, yang akan menghasilkan residence time di masing-masing organ. Setelah residence time diperoleh, dosis internal radiasi pada masing-masing organ dan seluruh tubuh dapat diketahui. Hasil studi menunjukkan bahwa tiga  organ yang memiliki dosis internal tertinggi 177Lu DOTA Trastuzumab adalah : paru-paru, hati dan ovarium dengan dosis masing-masing 0,063; 0,046 dan 0,025 mSv/MBq. Disimpulkan bahwa hasil estimasi dosis internal radiasi total yang diperoleh manusia pada penyuntikan radiofarmaka 177Lu-DOTA Trastuzumab adalah 0.21 mSv/MBq. ABSTRACT   INTERNAL DOSE ESTIMATION OF 177Lu-DOTA TRASTUZUMAB IN HUMAN BASED ON THE BIODISTRIBUTION DATA OF MICE: A PRELIMINARY STUDY. A new radiopharmaceutical for treating Breast Cancer of HER-2 type, 177Lu DOTA-Trastuzumab, had been successfully produced by The Centre for Radioisotope and Radiopharmaceutical Technology-BATAN. With regard to the patient safety, the new drug development process need internal dosimetry data obtained of preclinical study in animal. Hence, this study has been objected to estimate the internal radiation dose in human by performing the biodistribution test in mice. In this study, the biodistribution test was done for 25 mice and sacrificed at 1, 2, 3, 4, 24, 48 hour after the injection of 177Lu DOTA-Trastuzumab. There were 11 organs, namely brain, stomach, intestine, heart, kidneys, liver, lungs, muscle, bone, spleen, and urinary bladder, have been investigated by observing the uptake in each organ during the proposed time. The result of biodistribution test then were being calculated into injection dose per gram human organ (%ID/gr). To estimate the internal dose in human, the data of % ID/gram in human need to be plotted to calculate the residence time which will be need as the input for OLINDA/EXM, a tool for calculating internal dosimetry in Nuclear Medicine fields. As a result, three organs that have been estimated receiving the highest internal radiation dose due to the administration of 177Lu DOTA Trastuzumab are: lungs, liver, and ovaries at approximately 0,063; 0,046 and 0,025 mSv/MBq respectively. To conclude, the total internal dose in human reference model due to the administration of 177Lu-DOTA Trastuzumab has been estimated to be 0,21 mSv/MBq.
Studi Dosimetri Internal Radiofarmaka Terapi Kanker Payudara 177Lu-DOTA-Trastuzumab Susyati, Susyati; Mutalib, Abdul; Muchtaridi, Muchtaridi; Ramli, Martalena; Aguswarini, Sri; Karyadi, Karyadi; Hidayat, Basuki; Massora, Stepanus
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (953.371 KB)

Abstract

Pengobatan terarah berbasis imunologik (Imunoterapi) kanker payudara dengan mekanisme pengikatan reseptor HER2/neu oleh antibodi spesifik telah dikembangkan oleh para peneliti sejak tahun 80-an. Trastuzumab adalah antibodi yang pertama disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika. Dari pemantauan diketahui bahwa pengobatan dengan trastuzumab selain berbiaya tinggi juga terjadi kardiotoksisitas dan resistensi obat. Mengantisipasi hal ini, para peneliti mulai mengembangkan trastuzumab dalam bentuk konjugat dengan suatu radionuklida (salah satunya adalah 177Lutesium), sebagai farmaka Radioimunoterapi (RIT) baru. Sebagai penerapan aspek keselamatan untuk tujuan melakukan proteksi terhadap pasien dari efek samping pemberian dosis radiasi internal yang tidak akurat, studi dosimetri internal perlu dilakukan sejak awal pengembangan farmaka RIT baru. Tujuan studi dosimetri internal pada RIT adalah memastikan pemberian dosis radiasi internal yang akurat dan aman untuk setiap individu pasien/memaksimalkan dosis radiasi ke sel-sel kanker dan meminimalkan dosis radiasi ke sel-sel normal. Radiofarmaka baru (177Lu)m-(DOTA)n-trastuzumab telah berhasil dipreparasi oleh para peneliti BATAN. Uji praklinik in vivo/uji biokinetik pada hewan coba mencit betina normal inbred substrain BALB/c paska pemberian dosis tunggal 100 µCi bolus intravena injeksi radiofarmaka 177Lu-DOTA-trastuzumab juga telah dilakukan. Ruang lingkup studi dosimetri internal yang dilakukan ini adalah melakukan penghitungan perkiraan dosis terabsorb oleh berbagai organ hewan coba berdasarkan data biokinetik hasil uji praklinik in vivo. Dari hasil penghitungan perkiraan dosis terabsorb menggunakan persamaan MIRD dengan bantuan data Fraksi absorbsi spesifik dari pustaka diketahui bahwa dosis terabsorb organ paru-paru paling tinggi diantara organ-organ lainnya, yaitu 1,5X10-2 µGy. Dengan memperhitungkan faktor bobot tipe radiasi dan faktor bobot tipe jaringan/organ (sebagaimana tercantum pada Publikasi ICRP No.103 tahun 2007), diperoleh dosis ekivalen dan dosis efektif organ paru-paru berturut-turut adalah 1,5 X 10-2 µSv dan 1,8 X 10-3 µSv. Dosis efektif seluruh tubuh hewan coba adalah 4,2 X 10-3 µSv. Data biokinetik berbagai organ hewan coba dapat juga dipakai sebagai masukan (input) pada penghitungan perkiraan dosis terabsorb berbagai organ phantom manusia menggunakan software dosimetri internal tertentu, seperti OLINDA/EXM software. Breast cancer targeted therapy which mechanism is the binding of HER2/neu receptor with specific antibodies have been developed by researchers since the 80’s. Trastuzumab is the first antibody approved by the US Food & Drug Administration. From monitoring known that treatment with trastuzumab also occur cardiotoxity and drug resistance in addition to high costs. Anticipating this, the researchers began developing trastuzumab in the conjugate form with a radionuclide (one of which is 177Lutesium) as a new pharmaceutical of Radioimmunotherapy (RIT). As the implementation of safety aspects in order to protect the patients from adverse effects of inaccurate internal radiation dose administration, internal dosimetry studies / assessment need to be done since the beginning of a new RIT pharmaceutical development. The objective of internal dosimetry study at RIT is to ensure accurate and safe internal radiation dose administration for each individual patients / to maximize the radiation dose to the cancer cells and minimize the radiation dose to the normal cells. The new RIT pharmaceutical 177Lu-DOTA-trastuzumab has been successfully prepared by BATAN researchers.  In vivo preclinical trials/biokinetic testing in normal female mice inbred substrain BALB/c after administration of a single dose 100 μCi of bolus intravenous 177Lu-DOTA-trastuzumab radiopharmaceutical injection also been conducted. The scope of internal dosimetry studies conducted was absorbed dose calculation estimation of the various experimental animals organs based on biokinetic data of in vivo preclinical trials. Calculation estimation of Absorbed Dose using the MIRD (Medical Internal Radiation Dose) equation with the aid of SAFs (Specific absorbed fractions) data from reference known that Absorbed Dose of lungs organ is highest among other organs ie. 1,5 X 10-2µGy. Taking into account of recommended radiation weighting factors and tissue / organ weighting factors (as stated in ICRP Publication #103, 2007) obtained equivalent dose and effective dose of lungs organ is 1,5 X 10-2 μSv and 1,8 X 10-3μSv respectively. The whole body effective dose of experimental animal is 4,2 X 10-3 μSv. The biokinetic-test results data of the various experimental animal organs can also be used as an input on the Absorbed dose calculation estimation of the various human phantom organs using certain internal dosimetry software (one example is OLINDA/EXM software).
PREPARATION OF 99mTc-TRICINE-EDDA-HYNIC-FOLATE, A POTENTIAL RADIOPHARMACEUTICAL FOR RADIODIAGNOSIS OF FOLATE RECEPTORS OVER EXPRESSED CANCER Ramli, Martalena; Ritawidya, Rien; Rustendi, Cecep Taufik; Humani, Titis Sekar; Widjaksana, Widyastuti
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 15, No 1: OKTOBER 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.26 KB)

Abstract

PREPARATION OF 99mTc-TRICINE-EDDA-HYNIC-FOLATE, A POTENTIAL RADIOPHARMACEUTICAL FOR RADIODIAGNOSIS OF FOLATE RECEPTORS OVER EXPRESSED CANCER. Folate receptors (FRs) have been reported to be over expressed on various types of cancers. Therefore, it would be possible for its ligand in this case folic acid, also known as vitamin B9, to be used as delivery agent for diagnosis and therapy of FRs over expressed cancers. The aim of this projectwas to prepare 99mTc radiolabeled folic acid via 6-hydrazinonicotinamido-hydrazido (HYNIC) in the form of 99mTc-tricine-ethylenediamine diacetate-HYNIC-folate (99mTc-tricine-EDDA-HYNIC-folate), which was expected to be potential for radiodiagnosis of the FRs over expressed cancers. Preparation of 99mTc-tricine-EDDA-HYNIC-folate was initiated by preparation of HYNIC-folate by reacting of folate-γ- hydrazide with 6-chloronicotinic acid NHS ester which was then followed by addition of hydrazine-hydrate. The HYNIC-folate was recovered in its HCl salt-form which was then formulated to form a freeze dried kit which consisted of HYNIC-folate, tricine and EDDA (co-ligands) and Sn(II) as reducing agent. The formation of 99mTc-tricine-EDDA-HYNIC-folate was carried out by addition of 99mTc into tricine-EDDA-HYNIC-folate freeze dried kit which resulted in 99mTc-tricine-EDDA-HYNIC-folate with radiochemical purity of 97.0 ± 1.8% met with the requirement of a good radiopharmaceutical (≥ 90%). The stability test showed that the 99mTc-tricine-EDDA-HYNIC-folate was still intact (radiochemical purity ~ 95%) when stored at 37 °C for four hours.