Articles

Found 14 Documents
Search

KORELASI ANTARA MIB-1, AgNOR DAN APOPTOSIS CASPASE-3 DENGAN RESPONS KEMORADIOTERAPI PADA KANKER SERVIK Kurnia, Iin; Siregar, Budiningsih; Soetopo, Setiawan; Ramli, Irwan; Kurjana, Tjahya; ., Andriono; Tobing, Maringan DL; Suryawathi, Bethy; Tetriana, Devita
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 14, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.13 KB)

Abstract

Salah satu cara pengobatankanker servik adalah dengan kemoradioterapi melalui pemberian radioterapi dan kemoterapisecara bersamaan pada kanker servik stadium lanjut lokal. Respons kemoradioterapidipengaruhi oleh faktor biologis yaitu kinetika sel yang terdiri dari proliferasi dan kematian sel.Pada penelitian ini dipelajari korelasi antara biomarker proliferasi sel kanker, yaitu AgNOR, MIB-1, dan ekspresi apoptosis jalur caspase-3 dengan respons kemoradioterapi pada kanker servik.Dua puluh satu sediaan mikroskopik jaringan kanker servik yang diambil dari biopsi pasiensebelum menerima tindakan kemoradioterapi diberi pewarnaan AgNOR, sedangkan deteksiMIB-1 dan apoptosis caspase-3 dilakukan dengan teknik immunohistokimia. Setelah selesaimenerima kemoradioterapi dilakukan pengamatan respons klinik dengan cara pelvic control.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum kemoradioterapi tidak ditemukan korelasi nilaiAgNOR, MIB-1 dengan apoptosis (p>0,05). Proliferasi sel yang diamati dengan AgNOR danMIB-1 sebelum kemoradioterapi tidak menunjukkan adanya korelasi dengan respons jaringankanker setelah kemoradioterapi, namun ekspresi apoptosis menunjukkan korelasi positifdengan respons kemoradioterapi. Indeks apoptosis caspase-3 yang diperoleh dapat dijadikanbahan pertimbangan pada penjadwalan kemoradioterapi kanker servik.
Hospital based cancer registry in Cipto Mangunkusumo hospital Jakarta Sibuea, Wilfried H.; Mangunkusumo, R. R.; Akbar, Nurul; Widjanarko, Abidin; Gatot, Djajadiman; Windiastuti, Endang; Hamzah, Mochtar; Panigoro, Sonar S.; Prihartono, Joedo; Krisnuhono, Ening; Lisnawati, Lisnawati; Utami, Sri M.S.; Ramli, Irwan; Roezin, Averdi; Pribadi, Sigit; Wilarso, Iik; Nasar, I Made; Cornain, Santoso
Medical Journal of Indonesia Vol 9, No 3 (2000): July-September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.738 KB) | DOI: 10.13181/mji.v9i3.634

Abstract

[no abstract available]
Correlation Between Akt and p53 Protein Expression and Chemoradiotherapy Response in Cervical Cancer Patients KURNIA, IIN; SIREGAR, BUDININGSIH; SOETOPO, SETIAWAN; RAMLI, IRWAN; KURJANA, TJAHYA; ANDRIONO, .; TOBING, MARINGAN DIAPARI LUMBAN; SURYAWATHI, BETHY; KISNANTO, TEJA; TETRIANA, DEVITA
HAYATI Journal of Biosciences Vol 21, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1416.842 KB) | DOI: 10.4308/hjb.21.4.173-179

Abstract

Akt is a protein that is associated with cell proliferation and is expressed at high levels in cancer cells. Some research indicates it may play a role in increasing the resistance of cancer cells to chemotherapy treatment. P53 is a tumor suppressor protein that influences the cell cycle and apoptosis. The purpose of this study was to examine the relationship between the expression of Akt and p53 in cancerous tissue before chemoradiation treatment, and the clinical response to treatment of cervical cancer patients. Twenty microscopic tissue samples were taken from cervical cancer biopsies obtained from patients before cancer treatment. The tissue samples were stained with p53 and Akt antibodies via immunohistochemistry technique, to measure expression of both proteins. After completion of chemoradiotherapy, patients’ clinical response to treatment was determined using the pelvic control method. Our results revealed no correlation between expression of Akt and p53 index (P = 0.74) as well as between p53 Index and chemoradiotherapy clinical response (P=0.29). There was significant correlation between expression of Akt and cervical cancer chemoradiotherapy response (P = 0.03). There was no correlation found between p53 index and chemoradiotherapy clinical response (P = 0.29). High expression of Akt may related with high cell proliferation and resistance to chemoradiotherapy.
Kanker Vulva Nurhidayat, Wahyudi; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1561.677 KB) | DOI: 10.32532/jori.v8i1.57

Abstract

Kanker vulva adalah keganasan ginekologi yang jarang terjadi pada wanita (1% dari seluruh keganasan pada wanita). Sekitar 80-90% jenis histopatologi kanker vulva adalah karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko terjadinya kanker vulva adalah usia lanjut, adanya lesi prekanker, infeksi HPV, imunodefisiensi, merokok dan lichen sclerosis. Keterlibatan kelenjar getah bening merupakan faktor prognosis terpenting yang dapat menurunkan overall survival. Modalitas terapi pada kanker vulva adalah kombinasi antara operasi, kemoterapi dan radioterapi. Preservasi anatomi dan fungsi organ menjadi menjadi pertimbangan penting dalam menentukan tatalaksana kanker vulva. Pada makalah ini akan dibahas peran radiasi pada kanker vulva.
Brakhiterapi Nasofaring Hasan, Isnaniah; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 5, No 2 (2014): Volume 5 No.2 Juli 2014
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.082 KB) | DOI: 10.32532/jori.v5i2.27

Abstract

Kanker nasofaring adalah keganasan pada epitel nasofaring yang kejadiannya cukup tinggi di daerah Asia dan memiliki potensi kuratif dengan pengobatan radiasi, baik radiasi eksterna maupun brakhiterapi. Letak nasofaring yang berdekatan dengan basis kranii menyebabkan sulitnya tindakan operasi sehingga terapi dengan brakhiterapi akan memberikan keuntungan karena menempatkan sumber  radiasi  sangat dekat dengan target radiasi sehingga memungkinkan kecilnya volume jaringan normal yang akan diradiasi, dengan dosis yang sangat tinggi pada kanker dan dosis yang cukup pada batas antara kanker dan jaringan normal. Terdapat 3 kategori brakhiterapi, yaitu Brakhiterapi laju dosis rendah atau low dose rate (LDR), dosis menengah atau medium dose rate (MDR, dan dosis tinggi atau high dose rate (HDR) yang pemberiannya harus dengan menggunakan remote afterloader. Ada beberapa macam teknik brakhiterapi yang dilakukan,yaitu: teknik cetakan, teknik Massa-chusetts, implant interstitial permanen transnasal, dan teknik Rotterdam yang dilakukan di departemen radioterapi RSCM
Aplikasi Teknik Field Junction pada Radioterapi Rafli, Rhandyka; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 5, No 1 (2014): Volume 5 No.1 Januari 2014
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32532/jori.v5i1.21

Abstract

Dalam praktek radioterapi, sering dipakai dua atau lebih lapangan yang terhubung  dengan field junction. Berkas sinar (beam) bersifat divergen dan dapat menimbulkan dosis yang heterogen pada field junction. Hal ini menimbulkan daerah dengan dosis kurang (underdose) atau lebih (overdose) yang tidak diinginkan. Berbagai teknik dikembangkan untuk mengatasi persoalan ini, baik dengan menghilangkan divergensi berkas sinar, menyebarkan titik perbatasan (junction) atau dengan memperlebar penumbra. Setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pertimbangan yang tepat diperlukan dalam pemilihan teknik field junction yang sesuai dengan keadaan pada masing-masing pusat radioterapi.
Tatalaksana Radioterapi Kanker Endometrium dengan Fokus pada Stadium Dini Brohet, Kartika Erida; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 6, No 1 (2015): Volume 6 No.1 Januari 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1547.976 KB) | DOI: 10.32532/jori.v6i1.32

Abstract

Kanker endometrium merupakan keganasan ginekologi terbanyak pada wanita di dunia, dan kedua terbanyak di Indonesia. Oleh karena sebagian besar kanker endometrium ditemukan pada stadium dini (I-II), maka terapi utamanya adalah dengan pembedahan. Pemilihan terapi ajuvan yang tepat akan memperbaiki kontrol lokal,  sedapat mungkin harus meminimalisasi toksisitas akibat efek samping yang mungkin terjadi, dan harus dilakukan kasus per kasus berdasarkan stadium dan faktor risiko pasien. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai dasar pemilihan terapi dan tekniknya akan dibahas dalam makalah ini, dengan fokus utama pada radioterapi.
Kompresi Medula Spinalis akibat Metastasis Sinambela, Aurika; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.027 KB) | DOI: 10.32532/jori.v9i1.65

Abstract

Sebanyak 5 – 10% pasien kanker akan mengalami kompresi medulla spinalis akibat metastasis (KMSM). Penyakit ini terjadi saat tumor atau fragmen tulang menggeser dan menekan kedudukan medulla dalam kanalis spinalis. Gejala utama adalah nyeri punggung (83-95% pasien), dengan atau tanpa deficit motorik (82% pasien) dan sensorik (50-80% pasien).  Saat ini pencitraan terpilih untuk diagnosis kompresi medulla spinalis adalah MRI dengan kontras. Kondisi ini merupakan salah satu kegawatdaruratan onkologi, yang harus ditatalaksana segera setelah diagnosisnya ditentukan. Modalitas terapi yang tersedia saat ini adalah operasi, radioterapi, dan kortikosteroid. Sepertiga pasien dengan KMSM memiliki kesempatan hidup lebih dari 1 tahun setelah terapi, sehingga tatalaksana yang dipilih harus mempertimbangkan toksisitas dan morbiditas pasca terapi agar tercapai kualitas hidup yang optimal.
Model Linear Kuadratik dalam Radioterapi Primasari, Mirna; Ramli, Irwan
Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 4, No 1 (2013): Volume 4 No. 1 Januari 2013
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.077 KB) | DOI: 10.32532/jori.v4i1.10

Abstract

Dalam mencapai tujuan utama terapi yaitu mencapai kontrol lokal tumor setinggi mungkin dan efek samping pada jaringan normal seminimal mungkin, diperlukan pemahaman yang mendasar mengenai mekanisme kematian sel, baik sel normal maupun sel ganas. Mekanisme kematian tersebut digambarkan oleh model matematis linear kuadratik. Model linear kuadratik memberikan gambaran mengenai rasio α/β, menjadi landasan kuantitatif dari fraksinasi, dan membantu interpretasi treatment planning.
Pendeteksian Ekspresi Biomarker ERK Secara Semi Kuantitatif dan Kuantitatif Pada Kanker Serviks Sebelum Respon Kemoradioterapi Kisnanto, Teja; Wardani, Rina Tri; Siregar, Budiningsih; Amir, Mellova; Soetopo, Setiawan; Ramli, Irwan; Kurjana, Tjahya; Andrijono, Andrijono; S Hernowo, Bethy; DL Tobing, Maringan; Tetriana, Devita
Jurnal Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radisasi - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.099 KB)

Abstract

Kanker servik merupakan penyakit kanker yang umum dijumpai pada wanita yang disebabkan oleh virus HPV (Human Papilova Virus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ekspresi protein MNK (Mitogen Activated Protein Kinase) pada penderita kanker serviks sebelum tindakan pengobatan terhadap respon kemoradioterapi. Sampel uji yang digunakan adalah sediaan mikroskopis hasil biopsi jaringan kanker dari penderita kanker serviks stadium lanjut (IIB-IIIB) sebanyak 20 sampel. Metode yang digunakan adalah metode imunohistokimia dengan menggunakan biomarker MNK pada biopsi jaringan kanker serviks. Ekspresi protein MNK yang positif ditandai dengan warna coklat tua yang terdapat pada inti sel. Respon kemoradioterapi diperoleh dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian menunjukkan nilai IRS (Imuno Reaktif Score) protein MNK pada grup respon kemoradioterapi baik lebih tinggi dibandingkan grup respon kemoradioterapi buruk dan tidak ditemukan adanya hubungan IRS protein MNK dengan respon kemoradioterapi. Sedangkan hubungan ekspresi MNK terhadap respon kemoradioterapi menunjukkan adanya korelasi perbedaan grup respon kemoradioterapi antara ekspresi protein MNK negatif dan ekspresi protein MNK positifCervical cancer is a cancer that common in women caused by HPV (Human Papilova Virus). The purpose of this study is to determine the relationship MNK protein expression (Mitogen-Activated Protein Kinase) in patients with cervical cancer before chemoradiotherapy treatment. Sample used was the preparation of microscopic cancer tissue biopsies from patients with advanced cervical cancer (IIB-IIIB) is 20 samples. The method used is immunohistochemistry using MNK biomarkers in cervical cancer tissue biopsies. MNK positive protein expression marked with dark brown color that is contained in the cell nucleus. Chemoradiotherapy response obtained from RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo and Hasan Sadikin Hospital in Bandung. The results show the value of the IRS (Immuno Reactive Score) MNK protein in response to chemoradiotherapy group either higher than the response to chemoradiotherapy group was bad and did not find any relationship IRS MNK protein with chemoradiotherapy response. While the relationship MNK expression responses show a correlation chemoradiotherapy group differences in chemoradiotherapy response between MNK expression negative and MNK expression positive.