Muhammad Ramdhan
Balitbang - KP, Kementerian Kelautan dan Perikanan

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Karakteristik pantai Taman Nasional Wakatobi dalam mendukung potensi wisata bahari: Studi kasus Pulau Wangiwangi

DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 3, No 2 (2014): August 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.865 KB)

Abstract

Abstract. Wakatobi Regency with its capital Wangiwangi Island has a great potential of natural resources, i.e.  sloping white sandy beach which strategically stretched out from north to south. The purpose of  this research is to identify beach type, to make a map of beach type in Wangiwangi island  and to identify potential of object tourism.  The metodology of this research is using field observation and the Geographical Information System (GIS). The field obervation was used to measure the beach’s width, length and slope.  The tools used in research are geological compass and applicable measurement equipment. The result of field obervation was used to make spasial analysis to get Map of beach characteristic. Processing of beach map characteristic using ARC GIS 9.3. The lithology of Wangiwangi island beach is limestone, its morphology is of high relief and low relief and there are three types of its characteristic, (they are); sandy beach, sandy beach with fragment coral and cliff beach. The locations of sandy beach are at waha and cemara beach. The location of Sandy beach with fragment coral are at Wapia beach, in Patuno island, in Matahora island and for cliff  beach are at Weki beach, in Kapotan island, at Buni beach and Batutobengko beach. The sandy beach and sandy beach with fragment coral are suitable for coastal tourism such as swimming, sunbathing and fishing.Keywords: Geographical Information System (GIS); beach characteristic; Wangiwangi Island; coastal tourism. Abstrak. Kabupaten Wakatobi dengan pusat pemerintahan di Pulau Wangiwangi memiliki sumberdaya alam yang sangat potensial dengan pantainya yang landai dan berpasir putih, membujur dari utara ke selatan dan posisinya sangat strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan jenis pantai di Pulau Wangiwangi dan memetakan kondisi pantai di Pulau Wangiwangi serta mengidentifikasikan potensi wisatanya . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung dan analisis spasial. Pengamatan observasi langsung diterapkan untuk mengukur lebar pantai, panjang pantai dan berm menggunakan alat ukur meteran, sedangkan kemiringan pantai dengan kompas geologi. Hasil dari pengamatan pantai digunakan untuk membuat  analisis spasial sehingga diperoleh Peta jenis karakteristik pantai. Proses pengolahan mengunakan ARC GIS 9,3. Kondisi  pantai  Pulau Wangiwangi berdasarkan geologi (litologi penyusun)  didominasi oleh Batu Gamping Koral (Limestone), morfologi terdiri atas Relief Tinggi dan Relief Sedang sedangkan karakteristik pantai Pulau Wang-Wangi  terdiri dari  Pantai berpasir,. Pantai berpasir bercampur fragmen karang dan. Pantai bertebing karang. Lokasi Pantai Berpasir di Pantai Waha dan Pantai Cemara. Pantai Berpasir bercampur fragmen karang berada di Pantai Wapia, Pantai Patuno, Pulau Matahora, sedangkan Pantai bertebing karang tersebar di Pantai Weki, Pulau Kapotan, Bungi dan Batutobengko. Potensi wisata pantai dapat diusulkan pada jenis pantai berpasir dan pantai berpasir bercampur fragmen karang. Objek wisata antara lain berenang, berjemur dan memancing.

CORAL REEF SPATIAL DISTRIBUTION IN WANGI-WANGI ISLAND WATERS, WAKATOBI

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.82 KB)

Abstract

Coral reefs contribute significant benefits in coastal area in Wangi-wangi Island, Wakatobi in terms of their ecological functions to marine biota and socio-economical services to local coastal communities. Therefore, it is importance to observe coral reef condition and its spatial distribution around Wangi-wangi island waters, Wakatobi. In this study Point Intercept Transect (PIT) and GIS tools were used to observe and analyze coral reef condition in Wangi-wangi island waters, Wakatobi. The results showed that coral reef condition in Wangi-wangi island waters can be categorized into moderate and good conditions with coverage percentage ranging from 28 – 60%. Based on spatial analysis non-acropora coral was found in greater cover percentages in Waha village, Sombu village, and Kapota island than other locations. Soft coral cover percentage was also found in larger cover percentage in Waha and  Sombu regions than other locations. Keywords: coral reefs, geographic information system (GIS), Wangi-wangi Island

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PENILAIAN PROPORSI LUAS LAUT INDONESIA

GEOMATIKA Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman. Laut sebagai komponen wilayah yang utama dari negara kepulauan perlu mendapat perhatian khusus. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis, termasuk di dalamnya penilaian proporsi laut. Penelitian ini menyajikan aplikasi pengolahan peta digital untuk menghitung luasan suatu wilayah, dengan tujuan memperoleh angka proporsi laut Indonesia. Hasil yang diperoleh adalah proporsi wilayah laut terhadap luas keseluruhan NKRI adalah 76,94 %. Dari keseluruhan laut tersebut yang menjadi kewenangan pusat adalah 78,86 % dan kewenangan daerah adalah 21,14 %.Kata Kunci: SIG, luas laut, proporsi, wilayah NKRIABSTRACTIndonesian waters area includes the Indonesian territorial sea, archipelagic waters, and inland waters. Sea as a major component of the area of the archipelagic nation needs special attention. Geographic Information Systems (GIS) is a system (computer-based) that are used to store and manipulate geographic information, including the proportion of marine assessment. This study presented the application of digital map processing to calculate the area of a region, with the aim of obtaining the proportion of Indonesian sea figures. The result showed the proportion of sea area to the total area of the Republic of Indonesia was 76.94 %. Of the whole sea under the authority of the cental government was 78.86 % and 21.14 % was in the regional government authority.Keywords: GIS, sea area, proportion, Indonesia region

POLICY MODELONMARINE TOURISM DEVELOPMENT IN WAKATOBI REGENCY (SE SULAWESI,INDONESIA)

Marine Research in Indonesia Vol 40, No 2 (2015)
Publisher : Research Center for Oceanography - Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (808.233 KB)

Abstract

Wakatobi Regency has a huge capacity in natural resources with its beautiful and pristine coastal ecosystems that host 25 coral reefs species in diverse forms. The regency is considered as the world’s best biosphere and frequently visited by local and international tourists for diving/snorkeling. The objectives of this study are to determine the role of marine tourism in Wakatobi’seconomy and formulate an appropriate and strategic policy for its marine tourism development plan. Methods used in this research are theLocation Quotient (LQ) analysis to determine the relative ability of a sub-area to a wider area in the specific sector, and theProspective Participatory Analysis for preparing the marine tourism development plan. The LQ analysis for the marine tourism (trade, hotels, and restaurants) sector based on GDP data from 2004-2007 shows values ranging from 0.808-0.881, which indicate poor potential and low contribution of this sector toWakatobi’s economy. TheProspective Participatory Analysis involving 18 variables related to marine tourism development indicates that Wakatobi Regency has four key variables. These are:community behavior towards environmental protection, community character, human resources andmotivation. These variables would play an important role in preparing and implementing marine tourism development plan in Wakatobi Regency.

PENGARUH LOKASI DAN KONDISI PARAMETER FISIKA-KIMIA OSEANOGRAFI UNTUK PRODUKSI RUMPUT LAUT DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma sp. dipengaruhi oleh faktor oseanografi meliputi parameter fisika, kimia dan biologi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial parameter fisika-kimia oseanografi dan pengaruhnya terhadap produksi rumput laut Eucheuma cottonii. Distribusi spasial parameter fisika-kimia perairan dianalisis menggunakan Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis, PCA).Hubungan antara parameter fisika-kimia dengan produksi rumput laut dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Analisis distribusi spasial parameter fisika-kimia menghasilkan 3 kelompok utama, dimana pengaruh stasiun sangat dominan dalam pengelompokan tersebut. Parameter fisika-kimia memberikan karakteristik yang berbeda antara kedua lokasi pengamatan (Kecamatan Sanrobone dan Mangarabombang). Adapun produksi rumput laut di Kecamatan Sanrobone dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 98,6%.): Produksi = - 2343 + 331 suhu - 48.6 salinitas – 41,6 DO - 708 pH – 3,33 TSS + 48,5 BOT + 458 kecepatan. arus – 8,6 kecerahan + 46,5 kedalaman - 159 nitrogen - 615 fosfat + 1,625 silikat. Sedangkan untuk produksi rumput laut di Kecamatan Mangarabombang dapat diramalkan menggunakan persamaan ini (R = 76,9%.): Produksi = - 385 + 448 suhu - 499 salinitas + 940 DO + 220 pH – 12.4 TSS + 12.2 BOT + 5.997 kecepatan arus - 311 kecerahan + 60 kedalaman - 726 nitrogen - 106 fosfat - 8,577 silikat.

CHARACTERISTIC OF SALEH BAY COASTLINE

Jurnal Segara Vol 14, No 2 (2018): Agustus
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is an archipelagic country with numbers of natural resources including bays. As a closed estuary, bay has a strategic role as one of the ecological resources and environmental services. Saleh Bay is an outstanding bay of West Nusa Tenggara province which is situated between Sumbawa regency and Dompu regency. The study aimed to explain the criteria for the determination of a bay based on UNCLOS and bathymetry system by using Geographic Information System (GIS). The results of the identification indicated that the Ocean Map issued by Dishidros had not entirely referred to the criteria of UNCLOS in determining an area as a bay, in which an indentation is regarded as a bay if its total area is larger than the area of t he semi-circle whose diameter is a line drawn across the mouth of that indentation. Subsequently, spatial analysis found out that the depth of the waters in Saleh Bay can be classified into eleven classes, which are: (1) 0 – 10 meter with area of 294.27 km2, (2) 10 - 20 meter with area of 205.45 km2, (3) 20 - 30 meter with area of 259.45 km2, (4) 30 - 40 meter with area of 146.25 km2, (5) 40 - 50 meter with area of 137,83 km2, (6) 50 - 60 meter with area of 148.19 km2, (7) 75 - 100 meter with area of 57.08 km2, (8) 100 - 150 meter with area of 73.78 km2, (9) 150 - 200 meter with area of 109.46 km2, (10) 200 - 300 meter with area of 533.42 km2 , and(11) >300 meter with area of 134.89 km2.

PENGELOLAAN WILAYAH GAMBUT MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA PESISIR DI KAWASAN HIDROLOGIS GAMBUT SUNGAI KATINGAN DAN SUNGAI MENTAYA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Area gambut yang ada di wilayah pesisir memiliki peran ekologis yang penting sebagai penyimpan karbon, penyimpan air, konservasi biodiversitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Pengelolaan wilayah gambut dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan faktor sosial, ekonomi dan juga lingkungan fisik. Makalah ini memaparkan usaha pengelolaan wilayah gambut di kawasan hidrologis gambut Sungai Katingan - Sungai Mentaya seluas 254.522 hektar yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Metode kuantitatif-kualitatif melalui teknik GIS dan survey lapangan dilakukan untuk mendapat parameter terkait pengelolaan lahan gambut di lokasi studi. Upaya restorasi yang dilakukan oleh pemerintah ada tiga jenis yaitu melakukan rewetting di areal gambut yang berkanal dan pernah terjadi kebakaran, revegetasi bagi wilayah gambut yang tutupan vegetasinya sudah < 25% dan pembentukan desa-desa peduli gambut yang dilakukan melalui suatu pendekatan sosial pada masyarakat sekitar yang beraktivitas sehari-hari di kawasan gambut tersebut.

Spatial Distribution of Dissolved Heavy Metals (Hg, Cd, Cu, Pb, Zn) on the Surface Waters of Pare Bay, South Sulawesi

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 23, No 4 (2018): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.606 KB)

Abstract

Pare bay is one of the areas of significance which is utilized for port services, stevedoring, oil distribution, regional industrial development, aquaculture, cultivation and settlement systems. Pare Bay potentially has a good prospect for a gigantic development. Whilst, a very dangerous threat is pollution, especially heavy metal pollution and water quality degradation. This study aims to determine the current condition of heavy metal concentrations and its distribution on surface waters of Pare Bay. Heavy metals were analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry) in which it has a minimum detection limit reached 0.001 ppm so that the heavy metal concentration can be well-determined. Hg concentration is higher in the surface ranged 0.01-0.1 mg.l-1. Cd concentration ranged from 0.018-0.083 mg.l-1. Cu concentration ranged from 0.043-0.078 mg.l-1. Pb concentration ranged from 0.111-2.692 mg.l-1. Zn concentration ranged from 0.004 - 0.112 mg.l-1. Heavy metals content in Pare Bay exceeds the standard quality established by Ministry of Environment. It potentially harms the marine life which indirectly reduces the function value of Pare Bay as a center of maritime in the South Sulawesi. Water quality condition play a role in inducing the toxicity level of heavy metals in the Pare Bay. So that this area need to be monitored the water quality sustainably.

Budi daya Rumput Laut dan Pengelolaannya di Pesisir Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat Berdasarkan Analisa Kesesuaian Lahan dan Daya Dukung Lingkungan

Jurnal Segara Vol 15, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumput laut (makro alga) merupakan salah satu komoditas sumber daya pesisir yang mermiliki potensi ekonomis, mudah dibudidayakan dengan biaya produksi yang rendah. Perairan Kabupaten Dompu Provinsi, Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan kawasan memiliki beragam sumber daya hayati pesisir dan laut (SDHPL), diantaranya rumput laut jenis Eucheuma cottoni dan Kappaphycus alvarezii yang merupakan rumput laut dari 5 jenis yang dimanfaatkan dan dibudidayakan di Indonesia, namun data dan informasi yang menunjang usaha budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu masih sangat minim. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian perairan dan menduga daya dukung lingkungannya untuk budidaya rumput laut di Kabupaten Dompu. Metode spasial, yaitu metode untuk mendapatkan informasi pengamatan yang dipengaruhi efek ruang digunakan dalam kajian ini. Pengaruh efek ruang tersebut disajikan dalam bentuk pembobotan.  Parameter unsur hara, yaitu Nitrogen (N) dan Phosfat (P) digunakan sebagai dasar untuk menghitung daya dukung lingkungan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas area yang sesuai untuk budidaya rumput laut sekitar 72.515 ha atau 99,49 % dari luas total wilayah kawasan yang dikaji. Luas area budidaya rumput laut yang telah dimanfaatkan hingga saat ini adalah 500 ha atau 3,3 % dari total luasan daya dukung, sehingga luas area yang belum termanfaatkan adalah 14.719 Ha atau 66,7 % dari total luasan daya dukung. Skenario ideal pengembangan usaha budidaya rumput laut yaitu; melalui penambahan bibit unggul dan informasi musim tanam serta melaksanakan budidaya secara optimal sehingga potensi ekonomi pertahun dapat tercapai.

Simulasi Daya Dukung Lingkungan di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dengan Mengandalkan Curah Hujan sebagai Pemenuhan Kebutuhan Air

Jurnal Kelautan Nasional Vol 14, No 1 (2019): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hujan merupakan salah satu sumberdaya air yang penting bagi kehidupan manusia. Keseimbangan lingkungan dapat diketahui dari ketersediaan sumber air yang berguna untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan lingkungan untuk menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satu cara menentukan daya dukung lingkungan adalah dengan pendekatan ketersediaan dan kebutuhan air. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan simulasi terhadap status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air bulanan dari curah hujan dan kebutuhan air di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dalam satu tahun. Metode yang digunakan untuk mengetahui daya dukung lingkungan adalah analisis kuantitatif melalui perbandingan antara penghitungan ketersediaan air dan kebutuhan air. Hasil penghitungan status daya dukung lingkungan berdasarkan ketersediaan air dan kebutuhan air di Gili Ketapang apabila dihitung berdasarkan kebutuhan layak air minum 130 liter/orang/hari adalah defisit sebesar 33.389.799,47 liter/bulan.