Wiwid Noor Rakhmad
Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro

Published : 43 Documents
Articles

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan Televisi Fatimah, Niki Hapsari; Rakhmad, Wiwid Noor; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Representasi Figur Ustaz/Ustazah pada Iklan TelevisiABSTRAKFenomena ustaz/ustazah masuk dalam ranah dunia entertaiment di Indonesiatidaklah menjadi hal yang tabu bahkan sudah menjadi trend. Termasuk keikutsertaanustaz/ustazh sebagai endorser untuk produk-produk komersial. Menunjukanbagaimana representasi figur ustaz/ustazah dalam iklan Larutan Penyegar Cap KakiTiga dan provider Telkomsel, peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan olehJohn Fiske dalam buku Television Culture, yaitu tentang The Codes of Television.Setelah melakukan analisis sintagmatik pada level reality dan level representation,peneliti kemudian melakukan analisis secara paradigmatik untuk level ideology.Analisis paradigmatik dilakukan untuk mengetahui makna terdalam dari teks iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihat hubungan eksternalpada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisis paradigmatik juga berfungsiuntuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lain yang mungkin bersifatabstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasi dalam analisissintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik, makadidapat beberapa temuan penelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbolkeislaman, di mana figur ustaz/ustazah di jadikan sebagai komoditas, representasiustaz/ustazah sebagai icon dunia konsumsi, serta mitos di balik representasi figurustaz/ustazah pada iklan televisi. Temuan-temuan penelitian yang didapat olehpeneliti menjelaskan bahwa ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orangatau pun penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai iconkonsumsi dan tidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintangfilm, penyanyi, dsb.Kata Kunci: Iklan, Representasi, Simbol-simbol keislaman, Ustaz/ustazah, Semiotika.ABSTRACTThe phenomenon ustaz/ustazah entered in the realm of entertainment world inIndonesia is not a taboo even has become a trend. Including participationustaz/ustazah as endorser of commercial products. Researcher use John Fiske‟s ideain Television Culture, about The Codes of Television to show how ustaz/ustazahfigure representation on Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercialads. After conducted syntagmatic analysis at the level of reality and level ofrepresentation, researcher then conduct a paradigmatic analysis to the level ofideology. Paradigmatic analysis conducted to know meaning of text in LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga and Telkomsel commercial ads within looking at eksternalrelation on a symbol with another. Besides, paradigmatic analysis usefull to show thesecond meaning and another reality that may be abstract behind some ideas whichindentified with sintagmatic analysis.After conducting sintagmatic analysis and paradigmatic analysis, then thereare some research finding, that is Islamic symbol exploitation where ustaz/ustazahfigure used as commodity, ustaz/ustazah representation as communication icon, andthe myth behind ustaz/ustazah figure representation on television ads. Researchfindings which obtained explain that exposed ustaz/ustazah on commercial tv ads byadvertiser is not the ustaz whom people know as role models/knowledgeable personwhose their advice obeyed/connector of God‟s revelation which accepeted by theprophet anymore, but as the commercial icon and hasn‟t difference from anotherendorsers fo movie stars, singers, ect.Keywords: Ads (advertising), Representation, Islamic symbols, Ustaz/ustazah,SemioticI. PendaguluanSekarang ini banyak sekali iklan di layar televisi yang menawarkan berbagaimacam produk dengan variasi dan kreativitas bermacam-macam. Pada umumnyaiklan televisi menampilkan model iklan wanita yang cantik, atau jika pria yangditampilkan berparas tampan. Seringkali iklan-iklan televisi menggunakan modeliklan yang dikenal oleh masyarakat seperti bintang film, bintang sinetron, penyanyi,peragawati atau peragawan, musisi, pelawak hingga tokoh ustaz/ustazah yangmerupakan simbol keislaman bagi masyarakat Indonesia. Pengiklan dalam hal iniprodusen memang menganggarkan dana untuk promosi dalam bentuk iklan televisidan sesuai kebutuhan dari produknya masing-masing.Popularitas televisi kemudian membuat televisi tidak lagi dipandang sebagaiseperangkat kotak elektronik yang berkemampuan audio visual, tapi lebih dari itu,televisi merupakan seperangkat media transfer nilai, ideologi serta budaya yang saratakan kepentingan dan perebutan pengaruh/kekuasaan. Popularitas juga dirasakan olehustaz/ustazah di ranah pertelevisian dengan memiliki banyak jamaah pada gilirannyamenyeret tokoh masyarakat tersebut untuk ikut terlibat dalam iklan-iklan produkkomersial. Sayangnya, ustaz/ustazah yang ditampilkan di iklan televisi oleh sipembuat iklan bukan lagi sebagai ustaz seperti yang masyarakat kenal sebagaiseorang suri tauladan, seorang yang berilmu dan nasehatnya dituruti banyak orang,penyambung wahyu Tuhan yang diterima nabi, melainkan sebagai icon konsumsi dantidak berbeda dengan endorser-endorser lain dari kalangan bintang film, penyanyi,dsb.Masyarakat di Indonesia sejatinya mengenal ustaz adalah pemuka masyarakat,karena dianggap sebagai orang yang berilmu dan nasehatnya diturut oleh banyakorang. Masyarakat menetapkan siapa yang bakal menjadi ustaz mereka.Ustaz/ustazah yang merupakan simbol keislaman muncul di layar televesi tidak lagihanya berada di balik mimbar untuk berdakwah, melainkan menjadi endorser iklanproduk-produk yang bersifat komersial, seperti iklan untuk produk helm GM, AXIS,Ekstra Joss, Fresh Care yang dibintangi oleh ustaz Jefri Al Buchori (Uje), iklanLarutan Penyegar Cap Kaki Tiga, “Bintang Toedjoe Masuk Angin” oleh MamahDedeh, serta iklan Telkomsel, oleh ustaz Maulana, dan beberapa iklan produkkomersial lainnya. Kemuculan ustaz/ustazah pada iklan-iklan tersebut bukanlahsebuah kebetulan, melainkan tanda pada media iklan televisi yang bisa dikaji denganperspektif semiotika.Secara teoretis semua teks media termasuk iklan merupakan representasi darirealitas. Namun realitas tersebut bukan realitas yang sesungguhnya, akan tetapirealitas dalam versi si pembuat teks, yakni realitas yang dibentuk oleh pihak-pihakyang terlibat dalam proses mediasi teks. Demikian pun representasi figur paraustaz/ustazah merupakan realitas yang dikemas sesuai kebutuhan si pembuat iklan.Akan banyak arti ‟kedua‟ yang muncul dari tanda berupa representasi ustaz/ustazahyang ada pada iklan Telkomsel versi Ustaz Maulana, serta Larutan Penyegar CapKaki Tiga oleh Mamah Dedeh. Pada penelitian ini, peneliti akan membahas masalahseperti yang telah dirumuskan yaitu, bagaimana figur ustaz/ustazah sebagai simbolkeislaman direpresentasikan pada iklan televisi?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna ‟kedua‟ atau maknakonotatif dari representasi ustaz/ustazah sebagai simbol keislaman di dalam iklantelevisi.II. Kerangka Teori dan Metode Penelitian.Mengungkap makna di balik repesentasi ustaz/ustazah dalam iklan televisiartinya mengkaji tentang tanda. Ilmu tentang tanda yang mampu menemukan maknatersembunyi di balik sebuah teks seperti pada iklan yang melibatkan ustaz/ustazahadalah bidang semiotika. Semiotika adalah cabang ilmu yang berhubungan denganpengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistemtanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda (Zoest, 1993: 1). Semiotika yangmengulas masalah-masalah, katakanlah, tanda tanpa disengaja dan konotasi dikenaldengan semiotika konotatif. Seperti munculnya figur ustaz/ustazah pada iklan televisitentu saja tidak kemudian diartikan sebagai siar agama seperti halnya ketikaustaz/ustazah tersebut berdiri di balik mimbar. Ada arti „kedua‟ di balik representasiustaz/ustazah sebagai simbol keislamaan.Memaknai representasi melibatkan faktor-faktor yang kompleks. Representasididefinisikan sebagai penggunaan “tanda-tanda” (gambar, suara, dan sebagainya)untuk menampilkan ulang sesuatu yang diserap, diindrakan, dibayangkan, ataudirasakan dalam bentuk fisik. Representasi bergantung pada tanda dan citra yangsudah ada dan dipahami secara kultural, dalam pemahaman bahasa dan penandaanyang bermacam-macam atau sistem tekstual secara timbal balik (Hartley, 2004: 265).Kemunculan Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh pada iklan televisi misalnya,merupakan bentuk representasi, yakni mewakili suatu fakta figur ustaz/ustazah yangdikenal masyarakat sebagai pemuka agama. Melalui fungsi tanda „mewakili‟ kitamempelajari realitas.Agama memainkan peranan yang sangat penting di dalam mempertahankanikatan anatara individu dan kelompok yang lebih luas, baik sebagai dasar persekutuanmaupun sebagai sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai yang di hayati bersama(Raho, 2013: 77). Ilmu sosiologipun memiliki pendekatan teoritis untuk mempelajariAgama di tengah masyarakat. Sosiolog Prancis Emile Durkheim mengidentifikasisalah satu fungsi utama agama untuk operasi masyarakat, adalah membangun kohesisosial. Agama menyatukan orang melalui simbolisme bersama, nilai-nilai, dan norma.Pemikiran keagamaan dan ritual mendirikan aturan fair play, mengatur kehidupansosial kita.Simbol merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupanberagama. Hubungan yang suci tidak dapat dilakukan tanpa simbol-simbol. Simbolsimbolkeagamaan tersebut membangkitkan perasaan keterikatan dan kesatuan padaanggota-anggota pemeluk agama yang sama. Memiliki simbol yang sama merupakancara efektif untuk semakin memperkuat rsa persatuan di dalam kelompok pemeluk.Dalam budaya dominan yang telah mapan di masyarakat. Indonesia yangmayoritas beragama islam, ustaz/ustazah sebagai simbol agama merupakan figuryang memiliki pengaruh terhadap pengikutnya. Tokoh agama seperti misalnyaustaz/ustazah adalah figur yang dijadikan panutan dan memiliki pengaruh pada parajamaah, ummat, atau pengikutnya dan dianggap memiliki kharisma. Kharismamerupakan suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana diadibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memilikanugrah kekuasaan adikodrati, adimunusiawi, atau setidaknya kekuatan/ kualitas yangsangat luar biasa.Ustaz/ustazah di mana istilah tersebut merupakan salah satu status yang ada ditengah masyarakat dan memiliki peranan. Sosiologi menggunakan duaistilah, status dan peran, untuk menggambarkan bentuk dasar interaksi dalammasyarakat (Kimmel & Aronson, 2010: 76). Status Ustaz/ustazah merupakanpencapaian status yang dianggap begitu penting sehingga membayangi, mendominasidan mengendalikan posisi di masyarakat serta menjadi status master.Peran sosial adalah set perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menempatistatus tertentu. Peran sebagai tokoh masyarakat dalam hal ini ustaz/ustazah, tentunyamerupakan representasi dari adanya sifat-sifat tanggung jawab, mampumenyampaikan pesan-pesan agama.Iklan adalah sebuah message, artinya bahwa iklan mengandung suatu sumberyang mengeluarkannya, yaitu perusahaan yang menghasilkan produk yangdiluncurkan dengan semua keunggulannya, suatu titik resepsi-penerimaan, yaitupublik, dan suatu saluran transmisi, yang disebut media (Barthes, 2007: 281).Untuk mengkaji iklan dalam perspektif semiotika, bisa dikaji lewat sistemtanda dalam iklan. Iklan menggunakan sistem tanda yang terdiri atas lambang, baikyang berupa verbal maupun yang berupa ikon. Iklan juga menggunakan tiruan indeks,terutama dalam iklan radio, televisi, dan film.Menunjukkan bagaimana representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi,peneliti menggunakan konsep yang dikemukakan oleh John Fiske dalam bukuTelevision Culture, yaitu tentang The Codes of Television. John Fiske menyatakanbahwa untuk menganalisis iklan di media televisi dibagi menjadi tiga level, yaitulevel reality, level representation dan level ideology. Pada level reality kode-kodeyang diamati dapat berupa penampilan, pakaian, riasan, lingkungan, gaya bicara, danekspresi. Sedangkan pada level kedua, yaitu representation meliputi kamera,pencahayaan, musik dan suara, penarasian, dialog, karakter, dan pemeranan. Danpada level terakhir, level ideology yaitu berusaha menampilkan kode-kode yangtersembunyi dalam sebuah gambar seperti patriarki, kelas, individu, feminisme danjuga kode-kode di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan produk komersialdi televisi (Fiske, 2001: 4-5).Tiga level tersebut diurai dalam dua bagian, yakni analisis sitagmatik danparadigmatik. Pada analisis sintagmatik menjelaskan tanda-tanda atau makna-maknayang muncul dalam shot atau adegan dari berbagai aspek teknis yang merujuk padarepresentasi figur ustaz/ustaz pada iklan televisi pada level reality dan levelrepresentation. Level ideology akan diuraikan dengan analisis paradigmatik, dimanaanalisis paradigmatik berusaha mengetahui makna terdalam dari sebuah teks denganmelihat hubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Analisisparadigmatic berguna dalam penelitian representasi, dan khususnya untukmemastikan tanda apa yang telah dipilih pada pengeluaran yang lain (Hartley, 2004:221).III. PembahasanAnalisis sintagmatik menguraikan tanda-tanda atau makna-makna yangmuncul dalam shot-shot dan adegan-adegan yang terjalin dari berbagai kombinasiaspek teknis yang merujuk pada representasi figur ustaz/ustazah pada iklan LarutanPenyegar Cap Kaki Tiga yang dibintangi oleh Mamah Dedeh dan juga iklanTelkomsel yang dibintangi oleh Ustaz Maulana. Secara sintagmatik, iklan-iklantersebut akan dianalisis sebatas tanda-tanda yang muncul dari hal-hal teknis produksiiklan.Kode sosial dalam sebuah iklan televisi terlihat jelas dan nyata pada level ini,sehingga pemirsa bisa lebih dekat dengan unsur-unsur yang ada dalam iklan. Sepertisaat pemirsa melihat penampilan yang ditunjukkan oleh para endorser iklan.Penampilan yang ditambah dengan kostum dan riasan yang digunakan dan dipakaioleh para pemain akan memperjelas karakter seseorang dalam sebuah iklan.Lingkungan yang menjadi latar dalam iklan juga memberikan pengaruh yang sangatpenting dalam iklan. Bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh para pemain melalui mimikmuka dan ekspresi dapat membuat para pemirsa lebih memahami perasaan sangtokoh.Hal-hal dalam level reality telah diencode secara elektronik oleh kode-kodeteknis (technical code), sedangkan dalam level ke-2, yaitu level representation.Seperti halnya dalam produksi film, yang penting dalam sebuah iklan adalah gambardan suara, tanpa gambar dan suara yang mendukung maka tidak akan tercipta sebuahiklan yang bagus. Oleh sebab itu, untuk mendukung terciptanya gambar dan musikyang bagus terdapat beberapa aspek penting yang dibutuhkan. Aspek-aspek yangterdapat dalam level representation sebuah iklan bisa merepresentasikan pesan atauide yang ingin diutarakan oleh sutradaranya.Misalnya dalam level ini terdapat aspek kamera. Pengambilan gambar olehkamera akan membawa pemirsa kepada gambar-gambar yang dapatmerepresentasikan pesan dari sebuah iklan. Sebuah gambar dengan menggunakanteknik-tekniknya dapat membawa pemirsa mengenal tokoh-tokoh, tempat dansuasana dalam sebuah iklan. Dengan didukung pencahayaan yang baik, maka akanmenghasilkan gambar yang baik. Pencahayaan bertujuan untuk lebih memperjelasmaksud dari sebuah gambar. Demikian juga pada musik yang dapat mendukungterciptanya suasana dalam iklan. Dialog dan konflik juga menjadi aspek pentingdalam sebuah iklan. Dengan adanya konflik dan dialog yang menarik, maka akantercipta jalan cerita yang juga menarik.Secara garis besar pada level reality Mamah Dedeh dan Ustaz Maulana ditampilkan sesuai dengan statusnya di masyarakat, yakni dengan busanamuslim/muslimah sesuai dengan identitas agama islam, gaya bicara yang santun danpenuh ajakan, setting dan suasana yang akrab dengan statusnya sebagai ustaz/ustazahseperti tanah suci Mekah, dsb. Tetapi, masuk pada level representation aspek-aspekdi dalamnya mengerucut pada kepentingan si pembuat iklan. Seperti, pengambilangambar yang didominasi gambar produk komersial, dialog yang mengarah pada pesanpromosi produk, dsb.Berikutnya, pada analisis paradigmatik, berusaha mengetahui makna terdalamdari teks iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel dengan melihathubungan eksternal pada suatu tanda dengan tanda lain. Selain itu, analisisparadigmatik juga berfungsi untuk menunjukkan adanya arti „kedua‟ dan realitas lainyang mungkin bersifat abstrak yang ada di balik gagasan-gagasan yang teridentifikasidalam analisis sintagmatik.Setelah melakukan analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik darirepresentasi figur ustaz/ustazah pada kedua iklan, maka didapat beberapa temuanpenelitian, yaitu adanya eksploitasi simbol-simbol keIslaman, di mana figurustaz/ustazah, tempat peribadatan, busana yang merupakan identitasmuslim/muslimah di jadikan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan untukmendapat keuntungan. Kemudian, ustaz/ustazah yang muncul dalam iklan televisitidak lain adalah penanda dan memiliki kesamaan dari dunia konsumsi itu sendiri.Ustaz Maulana dan Mamah Dedeh hadir dalam iklan-iklan tersebut hanyalahmewakili dunia pemakaian atau penggunaan produk-produk yang mereka iklankan,dengan kata lain representasi ustaz/ustazah pada iklan televisi hanya sebagai icondunia konsumsi. Temuan berikuntya adalah adanya mitos yang menganggap bahwasemua pesan yang disampaikan ustaz/ustazah adalah benar dan pantas dijadikanpanutan di balik representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi.IV. KesimpulanTeori semiotika konotatif milik Barthes membawa peneliti menemukan arti„kedua„ di dalam iklan Larutan Penyegar Cap Kaki Tiga dan Telkomsel, dimanaMamah Dedeh dan ustaz Maulana yang merupakan figur ustaz/ustazah hadir dalamiklan televisi justru bukan sebagai penyampai pesan agama yang melainkanmenyampaikan pesan-pesan untuk mempromosikan produk komersial.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersialpada akhirnya menggeser peran ustaz/ustazah di masyarakat. Jika peran merupakanset perilaku yang diharapkan pada seseorang yang memiliki status, dalam hal iniustaz/ustazah dengan perannya menyampaikan pesan Tuhan, maka representasiustaz/ustazah pada iklan televisi untuk produk komersial pesan ustaz/ustazah adalahmenyampaikan pesan promosi produk komersial yang diiklankan.Agama menurut Email Durkheim diidentifikasikan sebagai pembangun kohesimasyarakat salah satunya melalui simbol. Ustaz/ustazah merupakan salah satu bentuksimbol agama Islam dimana figur tersebut juga menjadi alat untuk membangunkohesi di masyarakat. Teori tersebut kemudian digunakan pembuat iklan untukmenggiring jamaah dari ustaz/ustazah yang memiliki kohesi tersebut untukmenggunakan produk yang sama atau yang digunakan oleh panutannya seperti yangdirepresentasikan dalam iklan.Representasi figur ustaz/ustazah pada iklan televisi yang diperlihatkan peneliti,serta temuan-temuan penelitian yang didapat, diharapkan mampu membuat pembacasebagai penikmat televisi untuk lebih berfikir kritis ketika akan memaknai pesanpesaniklan televisi yang kenyataannya sarat akan kepentingan.Daftar PustakaBarthes, Roland. 2007. Petualang Semiologi. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.Fiske, J. 2001. Television Culture. London: Methuen & Co. Ltd.Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies.Yogjakarta:Jalasutra.Kimmel, Michael. Amy Aronson. 2010. Sociology now: the essentials (2nd ed.).Boston: Allyn & Bacon.Stout, Daniel A. 2006. Encyclopedia of Religion, Communication, and Media.London and New York: Routledge.Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKA Fitria, Zefa Alinda; Lukmantoro, Triyono; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.444 KB)

Abstract

CYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstractBlog, is one form of social media that is most commonly used and is ableto attract users who are so great. Even in its use, blogs have their own designationfor active users to update the text and then imprinted on the pages in the blog.Users are referred to the creation of this blogger ideas and ideas without beingbound by standard rules of writing and theme writing. In fact, not infrequentlyuser blog pages online diary filled with the experience of a personal experiencethat has unique style. This is partly demonstrated by the blogger whose name isknown through the writings in the blog address www.radityadika.com. As aliterary figure, Raditya Dika unsparing report various life experiences, from thingsthat are fun, sad, embarrassing, even though personal stories. All of thisexperience shows how important social media can facilitate the psychologicalaspect of a person as a place to share and pour emotion is referred to as acatharsis. In contrast to the interpersonal communication that exists with thespeaker, virtual communication with the media writing can accommodate all userswithout the need to feel the burden of anxiety disordered communication .This study aims to describe the writings Raditya Dika cyber ladencatharsis. The researcher used a qualitative approach with semiotic analysismethods to see how Raditya Dika construct experiences through reality, whichcan then be interpreted by readers that content catharsis, but has a distinctivewriting style like in the analysis of literary works. To that end, this studysupported the use of the theory of media (Media Equation Theory) and the theoryof human personality (Psychoanalytic theory) .The results showed that absurd style Raditya Dika used in constructing theexperience in ways unique, such as the delivery of messages is hyperbolic, poetic,and have an element of comedy in its delivery. However, with Raditya Dikaabsurd style in constructing experiences, researchers assessed it be an attraction togive a lesson on the importance of creativity in the frame of mind and dare to be„different‟ in creating a work, particularly in the field of writing.Keywords : Blog, Catharsis, Raditya Dika, Construction, EmotionCYBER CATHARSIS PADA BLOG RADITYA DIKAAbstrakBlog, merupakan salah satu bentuk media sosial yang paling umumdigunakan dan mampu menjaring penggunanya yang begitu besar. Bahkan dalampenggunaannya, blog memiliki sebutan sendiri bagi penggunanya yang aktifmeng-update tulisan yang kemudian dicantumkan pada halam blog. Penggunayang disebut blogger ini dapat mengkreasikan ide-ide dan gagasan tanpa terikatoleh aturan baku penulisan dan tema tulisan. Bahkan tak jarang pengguna blogyang mengisi halaman diary online dengan pengalaman pengalaman pribadi yangmempunyai corak keunikan tersendiri. Hal ini salah satunya ditunjukkan olehblogger yang namanya dikenal melalui karya tulisan dalam alamat blogwww.radityadika.com. Sebagai sosok penulis, Raditya Dika tak tanggungtanggungmenceritakan berbagai pengalaman hidup, dari mulai hal-hal yangmenyenangkan, menyedihkan, memalukan, bahkan kisah pribadi sekalipun.Kesemua pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya media sosial yangdapat memfasilitasi aspek psikologis seseorang sebagai tempat untuk berbagi danmencurahkan emosi yang disebut dengan istilah katarsis (catharsis). Berbedadengan komunikasi yang terjalin antarpribadi dengan lawan bicara, komunikasivirtual dengan media penulisan dapat menampung semua beban penggunanyatanpa perlu merasakan ganggunan kecemasan berkomunikasi.Penelitian ini, bertujuan mendeskripsikan karya tulisan Raditya Dika yangbermuatan cyber catharsis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode analisis semiotika untuk melihat bagaimana Raditya Dikamengkonstruksikan pengalaman-pengalaman melalui realitas, yang kemudiandapat dimaknai oleh pembaca sebagai tulisan yang bermuatan catharsis, namunmemiliki gaya penulisan tersendiri seperti layaknya analisis dalam karya sastra.Untuk itu, penelitian ini didukung dengan penggunaan teori teori media (MediaEquation Theory) dan teori kepribadian manusia (Psychoanalytic Theory).Hasil penelitian menunjukkan gaya absurd yang digunakan Raditya Dikadalam mengkonstruksikan pengalaman dengan cara-cara unik, sepertipenyampaian pesan secara hiperbolis, puitis, dan memiliki unsur komedi dalampenyampaiannya. Namun dengan gaya absurd Raditya Dika dalammengkonstruksikan pengalamannya, justru dinilai peneliti menjadi daya tarikuntuk memberikan pelajaran akan pentingnya kreativitas dalam kerangka berpikirdan berani menjadi „berbeda‟ dalam mencipta suatu karya, khususnya di bidangpenulisan.Kata kunci : Blog, Katarsis, Raditya Dika, Konstruksi, Emosi1.1 Latar BelakangBerbagai tulisan dalam buku-buku karya penulis yang akrab dipanggilRadith ini sebagian besar isinya merupakan cuplikan dari blog pribadi miliknyadengan alamat web www.kambingjantan.com. Blog yang saat ini telah bergantinama menjadi www.radityadika.com ini banyak mengulas kehidupan pribadiseorang Raditya Dika dari berbagai sisi mengenai problematika yang terjadidalam kesehariannya. Problematika yang terjadi dalam kehidupan seseorang jikatidak disikapi secara bijak dan dikelola secara benar akan menimbulkan dampakyang merugikan bagi diri sendiri maupun lingkungan. Permasalahan yang dialamioleh individu sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan dapat mengganggukondisi psikis atau mental maupun fisik. Hingga pada akhirnya pada suatu kondisiseseorang dapat secara tidak sadar mengeluarkan emosi secara berlebihan dengancara-cara yang destruktif. Pengeluaran emosi dalam bentuk yang destruktif dapatterjadi pada setiap orang jika tidak ada penyaluran yang tepat untuk menetralisirmunculnya efek negatif dari emosi.Sebagai makhluk yang mempunyai naluri untuk hidup bersama denganyang lain, manusia dibekali dengan daya nalar dan perasaan atau emosi. Keduahal ini merupakan aspek yang mendukung komunikasi antarmanusia melaluiinteraksi dan sosialisasi. Dengan daya nalar, manusia akan terikat oleh kebutuhaninformasi dari orang lain. Sedangkan menggunakan perasaan dan emosinya,manusia akan terikat oleh kebutuhan untuk berbagi dan mengutarakan keinginankeinginannya.Untuk memenuhi setiap kebutuhan ini diperlukan komunikasi.Komunikasi mampu menjembatani pikiran, perkataan, dan perbuatan denganmenggunakan bahasa dari masing-masing pihak yang berkomunikasi (Liliweri,1997 : 64).Berdasarkan fungsi interaksi dan komunikasi inilah manusia terikatdengan manusia lainnya untuk dapat berbagi, baik untuk menyampaikan ide-ide,gagasan, dan keinginan masing-masing pihak. Melalui proses pengiriman danpenerimaan pesan, sebuah hubungan interaksional akan terjalin dari pihak-pihakyang terlibat di dalamnya. Pesan yang disampaikan oleh komunikator (pengirimpesan) harus dapat dimengerti oleh komunikan (penerima pesan) agar timbulkesamaan makna sehingga akan terbentuk komunikasi yang efektif. Namunseringkali proses pengiriman pesan ini terkendala pada pihak yang menyampaikanpesan itu sendiri. Menurut James Mc Croskey, pada dasarnya setiap orang pernahmengalami kecemasan dalam berkomunikasi (communication anxiety).Kecemasan berkomunikasi merupakan kecenderungan untuk mengalamikecemasan secara berlebihan dalam waktu yang relatif lama dan dalam berbagaisituasi yang berbeda (Morissan dan Wardhany, 2009 : 50 - 51). Untuk metralisirkecemasan tersebut, dibutuhkan suatu cara yang disebu dengam katarsis(catharsis). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan katarsis,sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan seseorang sebagai reaksiketidakmampuan menghadapi suatu permasalahan dan tidak dapat keluar darimasalah tersebut. Salah satunya dengan menuliskan pengalaman pribadi dalammedia sosial blogging sebagai sarana pelampiasan perasaan.1.2 PermasalahanFenomena yang disebut oleh anak muda sebagai fenomena nge-blog inisemakin berkembang setelah kemunculan tulisan-tulisan karya Raditya Dika yangsecara terbuka menjadikan media blogging sebagai tempat berbagi menceritakanseluruh pengalaman hidupnya. Tidak terlepas dari sifat dasar manusia yang inginselalu berbagi untuk menyumbangkan gagasan dan perasaannya, setiap orangmembutuhkan sosok „pendengar‟ untuk berbagai hal. Terlebih lagi untuk hal-halyang berkaitan erat dengan perasaan dan emosi manusia yang membutuhkanruang untuk penyalurannya. Namun terkadang seseorang terhalang oleh adanyakecemasan dalam komunikasi, seperti yang terjadi dalam komunikasiinterpersonal. Untuk itulan, peneliti peneliti ingin melihat bagaimana cara RadityaDika mengkomunikasikan pengalaman hidupnya yang mengecewakan melaluicara katarsis sebagai sarana alternatif pelampiasan kecemasan berkomunikasi.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karya tulisan padablog Raditya Dika yang mencerminkan bentuk katarsis online (cyber catharsis)atau pelampiasan perasaan melalui sosial media.1.4 Kerangka TeoretisPenelitian ini menggunakan teori Kepribadian Psikoanalisis dan teori EkuasiMedia.1.5 Metoda PenelitianPenelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskripstif dengan paradigmakonstruktivistik. Dalam hal ini, pengalaman hidup Raditya Dika sebagai hasilkonstruksi sosial dapat dimaknai sebagai teks yang bermuatan katarsis.Pemaknaan atas teks dilakukan dengan menggunakan analisis semiotika JuliaKristeva, yang memfokuskan kajian bahasa sebagai salah satu bentuk karya sastrayang melekat makna-makna tersembunyi di dalamnya. Namun untukmenganalisis makna dalam teks karya sastra, lebih lanjut dapat dilakukanpembacaan makna secara subyektif yang mengedepankan peran aktif pembacadengan berbagai pengalaman psikologis dan pengalaman membaca sebelumya.Berdasarkan hal inilah, Michael Riffaterre memperkenalkan tahapan pembacaanteks dalam karya sastra melalui empat hal, yakni : Ketidaklangsungan ekspresi,pembacaan heuristik dan hermeneutik, matriks dan varian, serta hubunganintertekstualitas.1.6 Temuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan pembacaan teks pada blog Raditya Dikayang bermuatan cyber catharsis terhadap dua postingan yang berjudul “PahitManis Cinta Adalah...” dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan GueBingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”. Kedua postingan ini dapat dilakukanpembacaan makna dengan dua hahap, yakni tahap pertama (heuristik) dan tahapkedua (hermeneutik). Pembacaan tahap pertama (heuristik) dilakukan dengan caramembubuhkan tambahan kata yang diberi tanda kurung untuk lebihmempermudah memahami maksud kalimat yang dicantumkan pada halaman blog.Kemudian tahap kedua dilakukan dengan membaca teks padakalimat secara penuhuntuk lebih memahami maksud kalimat yang mengandung makna konotasi ataumakna kias.Postingan “Pahit Manis Cinta Adalah...” dapat digolongkan ke dalam tekskarya sastra berbentuk puisi yang hampir semua kalimat dalam bait menggunakangaya bahasa, seperti metafora, personifikasi, elipsis, dan lain sebagainya.Postingan ini berisi kegelisahan atau kekecewaan Raditya Dika terhadap kisahpercintaan yang pernah dialami di masa lalu. Kemudian postingan “Hal-hal yangGue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa Juga Gue Pikirin...”berbentuk prosa komedi. Postingan ini berisi kegelisahan Raditya Dika terhadaphal-hal sepele yang dialami saat sedang merasakan lapar maupun saat makan danhal-hal absurd yang dipikirkan Raditya Dika berkaitan dengan rasa lapar.1.7 Hasil PenelitianKedua postingan Raditya Dika yang berjudul “Pahit Manis Cinta Adalah...”dan “Hal-hal yang Gue Pikirin Pas Lagi Laper dan Gue Bingung Kenapa JugaGue Pikirin...” dikonstruksikan mengandung muatan katarsis berdasarkan asumsidari teori kepribadian Psikoanalisis yang diperkenalkan oleh Sigmund Freud.Postingan tersebut dipandang sebagai ungkapan perasaan Raditya Dika mengenaikejadian yang tidak menyenangkan, baik berupa kekecewaan, kekesalan, ataukebingungan terhadap kejadian yang dialami. Ditinjau dari struktur kepribadianmanusia, terdapat aspek bawah sadar sebagai tempat menyimpan memori-memoridan transferensi-transferensi dari kejadian masa lalu. Kesemua hal-hal negatifyang tersimpan dalam bawah sadar ini harus dikeluarkan agar tidak menimbun dialam bawah sadar dan keluar dalam kesadaran dalam bentuk yang destruktif(meusak). Apa yang menjadi dasar kegelisahan ini dikarenakan manusiamempunyai keinginan (id) yang berisi seluruh hawa nafsu dan keinginankeinginan.Namun terkadang Id ini berjalan tidak sesuai dengan konsep realitas(ego). Oleh karena itu, dibutuhkan cara untuk melampiaskan seluruh energinegatif yang tersimpan dalam alam bawah sadar agar muncul dalam kesadarandalam bentuk konstruktif. Cara ini disebut dengan mekanisme pertahanan ego.Wujud katarsis dilakukan dengan mekanisme pertahanan ego, yakni sublimasi.Sublimasi merupakan suatu cara untuk melampiaskan perasaan yang dilakukandengan cara-cara positif seperti menghasilkan suatu karya. Hal inilah yangdilakukan Raditya Dika unutk menyalurkan perasaannya melalui media penulisanonline blog sebagai media untuk menampung segala jenis gagasan dan perasaanpengunanya. Kemudian apa yang ditampilkan dalam media sosial blog tersebutdapat menjadi konsumsi khalayak, bahkan menjadi sebuah karya yang menghiburseperti layaknya tulisan yang dimuat dalam website atau blogwww.radityadika.com.1.8 KesimpulanPengalaman hidup Raditya Dika yang dituangkan dalam blog dikonstruksikansebagai tulisan bermuatan cyber catharsis. Peneliti meerubrikasi tulisan RadityaDika ke dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan analisis bahasa sebagaialat untuk berkomunikasi dan mengungkapkan gagasan-gagasan yang tersimpandalam alam bawah sadar. Teks yang memuat bahasa karya sastra ini kemudiandicari maknanya dengan menggunakan analisis semiotika Riffaterre. Bahasabahasayang bersifat konotatif ini menyimpan makna tersendiri dari sistem bawahsadar manusia.Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa blog dapat dijadikan sarana untukpelampiasan perasaan yang mampu mengatasi kecemasan berkomunikasi danmampu menampung segala hal yang disampaikan penggunanya secara terbuka.DAFTAR PUSTAKABuku :Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. (2008). Psikologi Remaja :Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Bumi Aksara.Aminuddin. (1991). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : C. V. SinarBaru.Atmazaki. (1993). Analisis Sajak : Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung :Angkasa.Bocock, Robert. (2002). Sigmund Freud. London : Routledge.Bateman, Anthony and Jeremy Holmes. Introduction to Psychoanalysis :Contemporary Theory and Practice. London : Routledge.Berger, Arthur Asa. (1991). Media Analysis Techniques. California : SAGEPublications.Berger, Peter L. and Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York : SAGE Publication,Inc.Bertens, Kees. (1980). Memperkenalkan Psikoanalisa Sigmund Freud . Jakarta :PT. Gramedia. [Eds.] Freud, Sigmund. (1980). Ueber Psychoanalyse, FunfVorlesungen. London : Imago Publishing.Bungin, Burhan. (2007). Imaji Media Massa : Konstruksi Sosial Iklan Televisidalam Masyarakat Kapitalistik. Yogyakarta : Jendela.Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, KebijakanPublik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana.Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal.Jakarta : Rineka Cipta.Chaplin, J. P. (2011). Dictionary of Psychology. New York : Dell Publishing, Inc.Chun, Wendy Hui Kyong and Thomas Keenan. (2006). New Media Old Media : AHistory and Theory Reader. New York : Routledge.Corbetta, Piergiorgio. (2003). Social Research : Theory, Methods, andTechniques. London : SAGE Publications.Danesi, Marcel. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media. Terj.A.Gunawan Admiranto. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman K. and Yvonna S. Lincoln. (1994). Handbook of QualitaiveResearch. London : SAGE Publications.Dominick, Joseph R. The Dynamics of Mass Communication. America : McGrawHill.Fachri, Hisyam A. (2010). Tarot Psikologi : Menemukan Jati Diri, Konseling, danHipnosis Terapan.. Jakarta : Gagas Media.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies : Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terj. Yosal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim.Yogyakarta : Jalasutra.Friedman, Howard S. dan Miriam W. Schutack. (2008). Kepribadian : TeoriKlasik dan Riset Modern. Terj. Dina Mardiana. Jakarta : Erlangga.Gerungan, W. A. (2004). Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.Hall, Calvin S, Gardner Linsey, John B. Compbell. (1993). Teori-teoriPsikodinamik (Klinis) : Psikologi Kepribadian. Terj. Yustinus Semiun.Yogyakarta : Kanisius.Hall, Stuart, Dorothy Hobson, dkk. [ed]. (2011). Budaya Media Bahasa. Terj.Saleh Rahmana. Yogyakarta : Jalasutra.Heller, Sharon. (2005). Freud A to Z. Canada : John Wiley & Sons, Inc.Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Prenhallindo.Kothari, C. R. (2004). Methodology : Methods and Techniques (Second RevisedEdition). New Delhi : New Age International Publishers.Liliweri, Alo. (1997). Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT. Citra AdityaBakti.Littlejohn, Stephen W. and Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of CommunicationTheory. California: SAGE Publication, Inc.Maslow, Abraham H. (1994). Motivasi dan Kepribadian 2. Terj. Nurul Imam.Jakarta : PT. Pustaka Binaman Pressindo.McQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa. Terj. Agus Dharma danAminuddin Ram. Jakarta : Erlangga.Morissan dan Andy Corry Wardhani. (2009). Teori Komunikasi : Komunikator,Pesan, Percakapan, dan Hubungan. Jakarta : Ghalia Indonesia.Morreall, John. (2009). Comic Relief : A Comprehensive Philosophy of Humour.UK : John Wiley & Sons, Ltd.Nurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajawali Pers.Piliang, Yasraf Amir. (1998). Sebuah Dunia yang Dilipat : Realitas KebudayaanMenjelag Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung : MizanPustaka.Rakhmat, Jalaluddin. (2011). Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. RemajaRosdakarya.Rybacki, Karyn C. and Rynacki Donald C. (1990). Communication Critism :Approaches and Genre. United State : Wadsworth Pub Company.Sobur, Alex. (2006). Semiotika Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.Shoemaker, Pamela J. And Stephen D. Reese. (1991). Mediating the Message :Theories of Influences on Mass Media Content. New York : Longman.Sujanto, Agus, Halem Lubis, Taufik Hadi. (1984). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Aksara Baru.Suryabrata, Sumaji. (2003). Psikologi Kepribadian. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersada.Thwaites, Tony, Lyod Davis, Warwick Mules. (2009). Introducing Cultural andMedia Studies : Sebuah Pendekatan Semiotik. Terj. Ikramullah Mahyiddin.Yogyakarta : Jalasutra.Waluyo, Herman J. (2002). Apresiasi Puisi. Jakarta : Gramedia.Wade, Carole dan Carol Tavris. (2008). Psikologi. Terj. Benedictine Widyasintadan Darma Juwono. Jakarta : Erlangga.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi :Analisis dan Aplikasi. Terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta : PT.Salemba Humanika.Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. (2007). Teori Kepribadian. Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.Zoest, Aart Van. (1993). Semiotika : Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apayang Kita Lakukan Dengannya. Terj. Ani Soekowati. Jakarta : YayasanSumber Agung.Jurnal :Powell, Esta. 2007. Catharsis in Psychology and Beyond : A Historic Overview.Washington DC : Author.Tesis :Wulandari, Diah. (2010). Analisis Framing : Konstruksi Pemberitaan Politik Ber-Isu Gender. Tesis. Universitas Diponegoro.Artikel :Noguchi, Yuki. (2005). Cyber-Catharsis : Bloggers Use Web Sites as Therapy.http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2005/10/11/AR2005101101781.html. Diakses pada 20Juli 2013.Internet :Anonim. (2013). Kata-kata Mutiara Cinta Terbaik Kahlil Gibran.http://statuzgue.blogspot.com/2013/03/kata-kata-mutiara-cinta-kahlilgibran.html. Diakses 14 Oktober 2013.Anonim. (2013). Pengertian RSS Feed dan Kegunaan.http://prowebpro.com/articles/ pengertian rss feed dan kegunaan html.Diakses pada 2 November 2012.Darwati, Yuli. (2013). Dinamika Kepribadian Menurut Sigmund Freud.http://www.slideshare.net/elmakrufi/dinamika-kepribadian-sigmund-freud.Diakses pada 10 November 2013.Dika, Raditya. Ini Dia Cara Standup Comedian Menemukan Bahan Komedi.http://radityadika.com/ini-dia-cara-standup-comedian-menemukan-bahankomedi,Diakses pada 24 Oktober.Fajar. (2012). Biografi Raditya Dika - Penulis Muda Indonesia. http://kolombiografi.blogspot.com/2012/02/biografi-raditya-dika.html. Diakses pada 18November 2013.Hary, Eka. (2011). Pengertian Blog dan Mengenal Sejarah Blog.http://www.ekahary.com/pengertian-blog-dan-mengenal-sejarah-blog.Diakses pada 25 September 2013.Isharyanto. (2013). Perempuan Dilarang Melucu : Beberapa Makna Humor.http://hiburan.kompasiana.com/humor/2013/05/10/perempuan-dilarangmelucu-beberapa-makna-humor-558883.html. Diakses pada 28 Juli 2013.Ismono, Henry. (2009). Raditya Dika : Semua Berawal dari Kesuksesan "Ngeblog".http://entertainment.kompas.com/read/2009/01/07/10305623/Raditya.Dika.Semua.Berawal.dari.Kesuksesan.Ngeblog. Diakses pada18 November 2013.Janiar, Nia. (2010). Menulislah dan Jangan Bunuh Diri.http://ruangpsikologi.com/menulislah-dan-jangan-bunuh-diri. Diakses pada13 September 2013.Kresna, Arya. (2010). Menatap Kelucuan : Menelaah Opera Van Java.http://aryaningaryakresna.blogspot.com/2010/04/menatap-kelucuanmenelaah-opera-van.html. Diakses pada 18 November 2013.Purwanti, Tenni. (2011). Hari Blogger Nasional, Sejarah dan Perkembangannya.http://tekno.kompas.com/read/2011/10/27/18033547/Hari.Blogger.Nasional.Sejarah.dan.Perkembangannya. Diakses pada 18 November 2013.Rivera, Ryan. “Tanpa tahun”. How Anxiety Can Impair Communication.http://www.calmclinic.com/anxiety/impairs-communication. Diakses pada 2Mei 2013.Tasmil. (2010). Blog Sebagai Media Kampanye Politik.http://tasmil.blogspot.com/2010/03/my-history.html. Diakses pada 27September 2013.Website :www.alexa.comwww.benablog.comwww.blog.bukukita.comwww.poconggg.comwww.radityadika.com
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAK DALAM EXTENDED FAMILY YULION, MERCYANA MAJESTY; Lestari, Sri Budi; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.802 KB)

Abstract

JURNALMEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYMERCYANA MAJESTY YULIOND2C009132JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI PENGASUHAN ANAKDALAM EXTENDED FAMILYABSTRAKSIKeluarga merupakan lembaga sosial inti di dalam masyarakat, sebab di dalamkeluargalah seorang anak memperoleh berbagai bekal dalam menghadapikehidupannya kelak di masyarakat. Konsep keluarga meluas (extended family)atau keluarga besar yang tidak hanya terdiri dari orang tua dan anak (keluarga inti)tetapi juga anggota keluarga besar yang lain seperti kakek-nenek, paman, bibi, dansaudara sepupu. Di dalam keluarga besar yang memiliki anak sebagai salah satuanggotanya menimbulkan adanya intervensi atau campur tangan juga dominasipengasuhan anak oleh anggota keluarga besar selain orang tua kandung anak itusendiri.Penelitian ini menggunakan genre interpretif dan tradisi fenomenologiyang berusaha untuk menyelami dunia pengalaman perceiver dalam kasus ini,yaitu orang tua dan anggota keluarga besar yang lain ketika melakukan kegiatanpengasuhan anak sehari-hari di dalam keluarga besar. Dengan menggunakan teorirelational dialectics theory (RDT) atau teori dialektika hubungan yang berfokuspada dialog multivocal dalam komunikasi keluarga, penelitian ini berupaya untukmenjelaskan pemaknaan partisipan terhadap pengasuhan anak dalam keluargabesar.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa figur orang tua di dalam keluargabesar memiliki pemaknaan bahwa pengasuhan anak, selain dari segi fisik seperimemberikan suplai kebutuhan pokok, juga berkaitan dengan segi psikis dan sosialyang diwujudkan dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi,pembelajaran, serta kontrol orang tua kepada anak-anak. Keberadaan pihak ketigadalam pengasuhan anak dipandang dapat memicu konflik akibat perbedaan carapandang dan cara pengasuhan anak. Hal ini terlihat pada pengalaman informan, dimana keberadaan anggota keluarga lain sebagai pihak ketiga yang lebih banyakberinteraksi dengan anak pada pengasuhan anak dalam keluarga besar, kerapmenimbulkan konflik antara orang tua dan anggota keluarga besar. Penyelesaianmasalah dalam keluarga besar dilakukan dengan gaya collaboration dimanapihak-pihak yang terlibat dalam konflik berdiskusi mengenai suatu masalah untukdiselesaikan bersama.Kata kunci: intervensi, pengasuhan anak, keluarga besarUNDERSTANDING THE COMMUNICATION EXPERIENCE OFPARENTING IN EXTENDED FAMILYABSTRACTThe family is a core social institution in society, as in the family a child obtainsvarious provisions to face their future life in the community. The concept of anextended family or a big family does not only consist of parents andchildren (nuclear family), but also other major family members, such asgrandparents, uncles, aunts, and cousins. In an extended families who havechildren as their members raises any intervention or interference, and also thedominance of parenting by a family member other than the childs biologicalparents itself.This research uses interpretive genre and phenomenology approach todeeply understanding the perceivers world, which is parents and other familymembers when performing activities of daily child care within the family. Byaccomodating the theory of relational dialectics (RDT) focusing on familycommunication in multivocal dialog, this study seeks to explain participants’sdefinition of parenting in an extended family.The results of this research shows that the figure of the elderly within thefamily have the meaning of parenting, aside from the physical aspects such asdelivering supplies of basic necessities, also related to psychic and social aspectwhich is manifested in the form of affection, attention, communication, learning,as well as parent’s control to children. The presence of a third party in parenting isseen could trigger the conflict due to differences in viewpoints and ways ofparenting. It can be seen at the informants’s experience, in which the existence ofother family members as third parties that dominate the parenting in an extendedfamily, often gives rise the conflicts between parents and other family members.To solve a problem in an extended family is using collaboration style where theparties involved in the conflict discuss about an issue to be resolved together.Keywords: intervention, parenting, extended familyPendahuluanPengasuhan anak di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) tidak hanyamenjadi dominasi orang tua si anak, tetapi turut menimbulkan adanya intervensibahkan dominasi dari keluarga besar. Mengasuh dan merawat anak menjadi perandan tanggung jawab orang tua di dalam keluarga. Namun di saat sebuah keluargainti tinggal bersama dengan orang tua maupun saudara-saudara mereka, makaperan mengasuh dan merawat tidak hanya menjadi milik orang tua. Akibatnyamuncul suatu campur tangan atau intervensi dari keluarga besar di dalampengasuhan anak tersebut.Keluarga merupakan lembaga sosial dasar di dalam masyarakat. Dalampraktiknya masyarakat memiliki berbagai definisi mengenai keluarga. Keluargainti (nuclear family) merupakan keluarga yang didasarkan pada pertalianperkawinan atau kehidupan suami-istri dengan anak-anak mereka. Selain keluargainti, juga ada keluarga hubungan sedarah yang dewasa ini lebih dikenal denganistilah keluarga meluas (extended family), yaitu keluarga inti berikut kerabat laindengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan. Bentuk keluarga initidak didasarkan pada perkawinan, melainkan pada pertalian darah dari sejumlahkerabat dekat. (Horton, 2006: 268).Bentuk keluarga tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakatsekitar tempat tinggal. Bagi masyarakat kebudayaan barat keluarga bisa terbentukbaik dengan atau tanpa ikatan perkawinan yang sah, sedangkan di budaya timuryang disebut keluarga adalah mereka yang terikat dalam ikatan perkawinan yangsah. Jumlah anggota keluarga di masyarakat barat biasanya hanya terdiri darianggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, dan anak. Sedangkan di masyarakat timurkonsep anggota keluarga bukan hanya terdiri dari keluarga inti namun termasukanggota keluarga yang lainnya seperti nenek, kakek, adik, keponakan, dansebagainya yang tinggal dalam satu rumah. (Sumarwan, dalam Wardyaningrum,2010: 289-298).Perubahan bentuk keluarga inti akan menimbulkan kesulitan dalamkomunikasi keluarga dan peran yang disandang. Hal ini juga berlaku ketikabentuk keluarga inti berubah ke bentuk keluarga meluas. Anak yang dibesarkanoleh kakek-neneknya mungkin merasa bahwa bentuk keluarganya tidak lazim danmenolak untuk membicarakan tentang keluarganya ketika berada di sekolah. (LePoire, 2006: 17-19).Salah satu peran utama dalam keluarga inti adalah pengasuhan anak.Namun di dalam sebuah keluarga meluas (extended family) peran ini tidak hanyamenjadi dominasi orang tua, tetapi turut menimbulkan adanya intervensi darikeluarga besar. Peran yang disandang oleh ayah dan ibu di dalam keluarga intisebenarnya memiliki porsi yang sama terutama dalam hal mendidik anak mereka.Pendidikan non formal dalam lingkungan keluarga sadar atau tidak, akan turutmembentuk karakter dan kepribadian anak. (Le Poire, 2006: 16-22).Sosialisasi juga menjadi salah satu fungsi keluarga. Keluarga menjadiujung tombak bagi masyarakat untuk melakukan sosialisasi kepada anak-anakmengenai alam dewasa sehingga nantinya mereka dapat berfungsi dengan baik didalam masyarakat itu. (Horton, 2006: 275-276).Fungsi sosialisasi tersebut diterapkan perlahan-lahan dalam prosespengasuhan anak. Pengasuhan yang dilakukan keluarga ini memiliki pola.Menurut pedoman yang dikeluarkan oleh Tim Penggerak PKK Pusat (1995) yangdimaksud sebagai pola asuh anak dalam keluarga, adalah usaha orang tua dalammembina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahirsampai dewasa (18 tahun), serta kegiatan kompleks yang memiliki dampak padaanak dengan tujuan menciptakan kontrol pada anak. (Puspa, 2013).Keberadaan beberapa orang dewasa ini memicu adanya intervensi atauikut campur tangan bahkan dominasi dari orang-orang sekitar dalam mendidikanak. Keberadaan keluarga besar yang terlibat dalam mengasuh anak terkadangmenimbulkan kontra terhadap peraturan yang sudah disepakati sebelumnya yangdapat menimbulkan kebingungan bagi anak. Bahkan dominasi pengasuhan olehpihak ketiga membuatnya menjadi lebih dekat dengan anak, sehingga memicuadanya kecemburuan orang tua terhadap pihak ketiga. Hal-hal tersebut dapatmemicu konflik di antara orang tua si anak dengan anggota keluarga besar yanglain.Teori dan Metoda PenelitianTeori dialektika hubungan (RDT) digunakan untuk memahami bahwa orangorangyang telah memiliki hubungan menggunakan komunikasi untuk mengatasikekuatan yang bertentangan secara alami yang menimpa hubungan mereka setiapsaat. RDT menjelaskan bagaimana di dalam setiap hubungan mengalamikontradiksi dialektika, yaitu suara-suara yang bersatu tetapi bertentangan. Dalamteori ini disebutkan 3 pandangan mengenai dialog yaitu dialog sebagai proseskonstitutif, dialog sebagai percakapan, dan dialog sebagai estetika. (Littlejohn danFoss, 2009: 298-300).Pengasuhan anak dalam keluarga besar melibatkan beberapa pihak selainorang tua kandung si anak. Hubungan antar partisipan (orang tua, kakek-nenek,paman, bibi, anak) berkembang melalui proses komunikasi yang kontradiktifterutama dalam konteks pengasuhan anak. Pemaknaan masing-masing individuterhadap pengasuhan anak mungkin berbeda dan bahkan bertentangan. Dalamperbedaan ini justru makna dapat terbentuk. Tidak menutup kemungkinan masingmasingindividu dapat saling mengerti dan hubungan keluarga semakin dekat.Dalam keluarga besar yang terdiri dari beberapa individu menggunakan dialogsebagai proses komunikasi yang tidak terlepas dari kontradiksi dialektika. Meskiterdapat kontradiksi, dalam dialog tersebut muncul suatu pemahaman yang estetistentang hubungan keluarga besar yang dimiliki oleh partisipan (Littlejohn danFoss, 2009: 306).Sedangkan untuk menyelesaikan konflik yang muncul di dalam keluarga,terdapat lima macam gaya penyelesaian konflik menurut K.W.Thomas dan R.H.Killmann (dalam Bebee, 2005: 231-236): (1) avoidance atau menghindar darimasalah yang ada, (2) accomodation atau mengalah kepada partner, (3)competition atau menyelesaikan masalah dengan beradu pendapat hingga salahsatu pihak menang, (4) compromise atau menentukan jalan tengah, (5)collaboration atau menampilkan konflik sebagai sebuah masalah untukdiselesaikan bersama-sama.Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang merujuk padaparadigma intepretif. Penelitian tipe kualitatif merupakan penelitian yangmenggunakan pendekatan alamiah untuk mencari dan menemukan pengertian ataupemahaman tentang fenomena dalam suatu latar yang berkonteks khusus dantidak mengadakan perhitungan. (Moleong, 2007: 3-5).Pendekatan yang digunakan dalam mengkaji fenomena tersebut adalahtradisi fenomenologi. Fenomenologi berusaha memahami arti suatu peristiwa dankaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu, dimana yangditekankan adalah aspek subjektif dari perilaku orang tersebut. Fenomenologimenganggap bahwa manusia secara aktif merepresentasikan pengalaman merekadan memahami dunia berdasarkan pengalaman mereka. (Littlejohn, 2002: 38).Komunikasi dalam pengasuhan anak merupakan fenomena yang dialamisecara sadar yang diseleksi untuk menjadi pengalaman masing-masing individu.Tujuan penelitian ini sejalan dengan tujuan fenomenologi, yaitu untukmempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, dan tindakan,seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis.(Kuswarno, 2009: 2).Memahami Pengalaman Komunikasi Pengasuhan Anak Dalam ExtendedFamilyCara pengasuhan anak yang diterapkan seseorang tidak terlepas dari pemaknaanmasing-masing individu terhadap pengasuhan itu sendiri. Pengasuhan anak dimata para informan bukan saja merupakan perkara fisik atau sesuatu hal yangdapat dilihat mata. Lebih dari itu seluruh informan mengungkapkan bahwapengasuhan anak juga berkaitan dengan memberikan pendidikan baik secarapsikis dan sosial dalam bentuk kasih sayang, perhatian, komunikasi, pembelajaran,dan kontrol. Le Poire (2006: 134) mencatat bahwa figur orang tua di dalamkeluarga amat memperhatikan keperluan anak-anak agar mereka tumbuh dengansehat. Orang tua berkomunikasi dalam cara-cara yang dibentuk untuk membantuanak berkembang secara intelektual, fisik, emosional, dan sosial, yang mengarahpada kesehatan dan kesejahteraan terbaik bagi mereka.Kegiatan pengasuhan anak yang dilakukan para informan sehari-haridilakukan bergantian dengan anggota keluarga besar yang lain, biasanyaberdasarkan waktu luang di luar jam kerja mereka. Aktifitas keseharian tersebutterkadang digunakan informan untuk berbincang-bincang dengan anak, mengajakmereka bercerita kegiatan selama di sekolah, atau menjelaskan kepada anak halhalyang baru mereka temukan. Akan tetapi kemajuan teknologi yang berkembangsampai ke dunia permainan lebih menarik bagi anak-anak dari pada harusmenuruti perintah orang tua untuk belajar, tidur siang, bahkan makan. Dalammenghadapi dan menyelesaikan hal ini hampir seluruh informan mengambillangkah serupa yaitu memarahi anak dan menjelaskan. Langkah ini selaludilakukan agar perilaku anak dapat terkontrol dengan baik.Meskipun berpartisipasi dalam kegiatan pengasuhan anak yangmelibatkan orang ketiga, mayoritas informan justru menyatakan ketidaksetujuanbahkan ketidaksukaan terhadap keberadaan pihak ketiga dalam proses pengasuhananak. Menurut mereka campur tangan pihak ketiga justru berpotensi menimbulkanperbedaan pandangan yang berdampak pada perbedaan cara pengasuhan anak.Berdasarkan temuan penelitian kedua ibu yang menjadi informan memilikipandangan bahwa sebagai ibu, mereka lah yang mengemban tanggung jawabdalam mengasuh anak, sementara anggota keluarga besar hanya membantu,selama yang bersangkutan tidak bisa melakukan kewajibannya.Strategi komunikasi pengasuhan anak meliputi aspek perawatan dankontrol. (Baumrind, dalam Le Poire 2006: 134-139). Kedua hal ini memerlukanproses interaksi orang tua dan anak. Dalam penelitian ini ditemukan suatu realitadimana anggota keluarga besar memiliki intensitas interaksi dengan anak yanglebih tinggi, jika dibandingkan dengan ibu sebagai orang tua, sehingga seolaholahmereka mendominasi pengasuhan anak. Tingginya intensitas interaksi pihakketiga dengan anak dalam keluarga besar membuat anak-anak lebih merasa dekatdan terbuka kepada nenek dan paman.Upaya Menangani Konflik tentang Pengasuhan Anak dalam ExtendedFamilySaat berhubungan dengan pengasuhan anak di dalam keluarga, terutama dalamkeluarga besar, dimungkinkan terjadi adanya perbedaan pendapat, cara pandang,cara pengasuhan, yang seringkali menimbulkan pertengakaran di antara anggotakeluarga. Dalam menyelesaikan masalah tentang pengasuhan anak dalam keluargabesar, masing-masing informan mengesampingkan gaya penyelesaian konfliknya,dan cenderung mengambil gaya collaboration dimana mereka mengambil jalanberdiskusi dengan anggota keluarga yang bermasalah untuk mencari jalankeluarnya bersama-sama. Semua proses komunikasi secara tatap mata tersebutdilakukan tanpa adanya pihak ketiga dari anggota keluarga besar yang menjadipenengah.Berdasarkan pengalaman menghadapi konflik di dalam keluarga, semuainforman sepakat bahwa mereka tetap memiliki hubungan baik dengan anggotakeluarga, bahkan menjadi semakin dekat dan mengenal kepribadian masingmasing.Kesimpulan1. Kegiatan pengasuhan anak dianggap lebih tepat jika dilakukan oleh orang tuakandung anak dari pada oleh figur orang tua yang lain, sebab merekalah yanglebih mengerti apa saja kebutuhan pokok anak. Anggota keluarga besar hanyabersifat mendukung dalam proses kegiatan pengasuhan dalam bentukmemberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan anak di saat orang tuakandung mereka tidak berada di rumah karena berbagai alasan, misalnyakarena harus bekerja.2. Proses pengasuhan anak yang terjadi di dalam keluarga besar tetapmelibatkan dimensi responsif dan tuntutan guna mengarahkan perilaku anak.Gaya authoritative di mana tingkat responsif dan kontrol tinggi menjadipilihan anggota keluarga dengan pertimbangan anak-anak akan menjadi lebihsegan terhadap figur orang tua memegang kuasa penuh atas diri mereka,namun di saat lain tetap memberikan perhatian, kehangatan, dan kasihsayang.3. Perbedaan cara pengasuhan dan intensitas komunikasi tatap muka dengananak di antara orang tua dan anggota keluarga besar berdampak padakedekatan dan keterbukaan anak dengan pihak ketiga lebih besar dari padadengan orang tuanya sendiri.4. Penyelesaian konflik yang muncul di dalam keluarga besar cenderungmenggunakan gaya collaboration di mana anggota keluarga besar berdiskusimengenai suatu masalah untuk diselesaikan bersama. Gaya penyelesaiankonflik individu tidak selalu diterapkan. Mereka akan menyesuaikan diridengan anggota keluarga yang lain, terutama demi kepentingan anak-anak.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven. A. (2005). Interpersonal Communication Relating to Others(4thed). USA : Pearsons Education.Braithwaite, Dawn O and Leslie A. Baxter. (2006). Engaging Theories in FamilyCommunication Multiple Perspectives. California: Sage Publications,Inc.Horton, Paul dan Chester L. Hunt. (2006). Sosiologi Jilid I (Edisi 6). Jakarta:ErlanggaKuswarno, Engkus. (2009). Metodologi Penelitian Komunikasi Fenomenologi:Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: WidyaPadjadjaranLe Poire, Beth. A. (2006). Family Communication Nurturing and Control in aChanging World. California: Sage PublicationLittlejohn, Stephen W. (2002). Theories of Human Communication (7thed).USA:Wadsworth.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi(Edisi 9).Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosda KaryaWadyaningrum, Damayanti. (2010). Pola Komunikasi Keluarga dalamMenentukan Konsumsi Nutrisi bagi Anggota Keluarga. Jurnal IlmuKomunikasiFISIP UPN Yogyakarta 8 (3): 289-298.Puspa, Dian. (2013). Pola Asuh Anak dalam Keluarga (Makalah). http://blogdianpuspa.blogspot.com/2013/04/pola-asuh-anak-dalam-keluargamakalah.html. Diunduh 1 Juli 2013, pukul 10.20 WIB
Visualisasi Bentuk Kekerasan Pada Tayangan Komedi Pesbukers Futaki, Ilham; Sunarto, Sunarto; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.081 KB)

Abstract

JUDUL : Visualisasi Bentuk Kekerasan Pada Tayangan KomediPesbukersNAMA : Ilham FutakiNIM : D2C008090AbstrakTayangan komedi saat ini sangat menjamur kehadirannya di stasiun-stasiuntelevisi Indonesia. Salah satu tayangan hiburan berupa komedi yang digemari olehkhlayak adalah Pesbukers. Tayangan komedi Pesbukers ini mempunyai temasketsa reality. Hal yang menarik dari tayangan komedi Pesbukers ini adalahkarena Pesbukers masuk ke dalam salah satu program besar dengan rating yangtinggi.Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kekerasan yang terjadipada tayangan komedi Pesbukers. Penelitian ini menggunakan pendekatankuantitatif dengan metode analisis isi. Analisis isi digunakan untuk mendeskripsidan menganalisis adanya kekerasan di 5 (lima) episode yang dijadikan sampelpenelitian.Dari penelitian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa terdapat banyak tindakkekerasan yang terjadi pada lima episode tayangan komedi Pesbukers. Hasilpenelitian juga menunjukkan bahwa terdapat bentuk kekerasan yang terbagimenjadi tiga bagian, yaitu: kekerasan verbal, kekerasan non verbal, dan kekerasanpsikis. Dengan banyaknya adegan yang muncul, dapat diketahui juga peran danjenis kelamin yang melakukan tindak kekerasan. Tidak hanya itu, selain kategorikategoriyang telah disebutkan di atas, juga ditemukan penemuan menarik yangmasih berkaitan dengan kekerasan, yaitu naturalisasi kekerasan pada media massa.Kata Kunci: Analisis Isi, Komedi, KekerasanJUDUL : The Visualization Form of Violent On Comedy Show“Pesbukers”NAMA : Ilham FutakiNIM : D2C008090AbstractCurrent comedy show was flourishing in Indonesia`s television stations. Onepopular comedy show that Indonesia favored is Pesbukers. This comedy show hasa background story about sketch reality. One of interest thing about Pesbukers isentered into one big programme with high ratings.This research aimed to describe the violence in comedy show. This study used aquantitative approach to content analysis method. Content analysis is used toanalyze and describing the violence in five episodes study sampled.From this research was conducted, there are many occured violence act in fiveepisodes. The research result showed that there are violence act which is dividedto three parts, among others: physical, non-physical, and psychological. With somany scenes of violence that appears, also can known figure and the role of sexwho can oftten become a offenders. Not only that, besides in addition to thecategories already mentioned, founded some interesting research that is related toviolence is naturalization of violent act in the mass media.Keywords : Content Analysis, Comedy, Violence.BAB IPENDAHULUANTelevisi dengan kesempurnaan elemen komunikasi yang dimilikinya membuatmedia ini sangat digemari oleh khalayak, karena mudah, murah, dan bisaditempatkan secara strategis. Televisi memang sangat mudah ditemui, dengankesempurnaannya inilah yang membuat media ini berkembang dan semakinberagam, konten acara, maupun penyajiannya. Televisi telah menjadi bagian yangtak terpisahkan dari kebutuhan manusia. Televisi dengan berbagai acara yangditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan membuatpemirsanya menjadi ketagihan untuk mengonsumsinya. Televisi merupakangabungan dari media gambar yang bisa bersifat politis, informatif (information),hiburan (entertainment), dan pendidikan (education), atau bahkan penggabungandari ketiga elemen tersebut.Hiburan, sebagai salah satu peranan televisi memang tidak ada habisnyauntuk menampilkan acara-acara yang bertemakan hiburan. Salah satu bentukhiburan yang ditampilkan di berbagai stasiun televisi adalah komedi.Pesbukers (Pesta Buka Bareng Selebriti) adalah sebuah acara televisi baruproduksi stasiun televisi AnTV, yang ditayangkan setiap Senin hingga Jumat padaawalnya, dan ditayangkan pada pukul 18.00-19.00 (15 menit sebelum adzan dandilanjutkan 3 menit kemudian setelah iklan). Pesbukers pertama kali tayang padatanggal 25 Juli 2011. Format acara Pesbukers ini adalah sebuah sketsa reality,dicampur dengan guyonan-guyonan segar seperti pantun yang jenaka, dan rayuangombal. Segala hal konyol dilakukan oleh para pemainnya agar bisa membuatpenonton tertawa dengan apa yang dilakukannya, cerita didalam sketsanyadiangkat dari kisah selebriti yang sedang hangat diperbincangkan di infotainment,tetap dengan tema kehidupan sehari-hari. Ide cerita dari episode-episodenya selaluberbeda dengan sebelum-sebelumnya, salah satu ciri khas lawakan dari Pesbukers,salah satu pemain rela ditaburi bedak kepalanya setelah mendapat pantun. Akantetapi, di balik kelucuan pantun-pantun yang dikeluarkan, mengandung unsurmerendahkan atau melecehkan.BAB IIBATANG TUBUHPesbukers sebagai salah satu acara komedi yang digemari olehpenontonnya, juga ditayangkan setiap hari, membuat khalayak menjadi terhipnotisdengan isi acaranya. Pesbukers telah membuat persepsi khalayak tentangkekerasan pada televisi menjadi homogen, dan jauh dari realita yang sebenarnya.Sehingga, kekerasan yang dilakukan oleh para pemain Pesbukers menjadi umumdi mata masyarakat. Ide-ide cerita yang berbeda di setiap episodenya menciptakanhal baru yang digemari pemirsanya. Segala tingkah laku pemain Pesbukersmampu membuat penontonnya tertawa dan terbawa, sehingga mereka(penonoton/pemirsa) seperti tidak menghiraukan adanya kekerasan dalamtayangan tersebut. Hal ini tidak lepas dari akibat produsen yang mengkonstruksimakna yang ada, sehingga penonton mulai terbiasa dengan makna baru yangmuncul. Mereka (para pemain Pesbukers) mempresentasikan adegan-adegankekerasan dalam tayangan komedi, yang seharusnya bisa membuat orang tertawadengan cara-cara yang lebih cerdas tanpa harus mengedepankan kekerasan.Siaran televisi saat ini telah menjadi suatu kekuatan yang sudah merasukke dalam kehidupan masyarakat. Televisi sebagai media massa memilikikarakteristik tersendiri yang berbeda dengan media lain di dalam penyampaianpesannya. Salah satu kelebihan televisi yaitu paling lengkap dalam menyampaikanunsur-unsur pesan bagi khalayak pemirsa, oleh karena dilengkapi dengan gambardan suara yang terasa lebih hidup dan dapaat menjangkau ruang lingkup yangsangat luas.Kekerasan di dalam media kini sudah tidak dapat dibendung lagikeberadaannya, baik dalam media cetak maupun media elektronik. Beberapa risetkomunikasi massa menunjukkan bahwa kekerasan bukan lagi merupakan hal yangtabu bagi pemirsanya. Media massa seringkali diibaratkan sebagai pedangbermata dua. Di salah satu sisi berguna untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikanseperti memberikan informasi dan menghibur, di sisi yang lain juga menyebarkannilai-nilai negatif yang tidak baik untuk masyarakat. Perkembangannya, penelititelah mengamati bahwa jumlah tayangan kekerasan di televisi telah meningkat.Khalayak tidak lagi merasa heran melihat adegan orang-orang yang berkelahi danseringkali melakukan upaya pembunuhan di beberapa tayangan seperti sinetron,film kartun, tayangan komedi. bahkan, sinetron sekarang ini kebanyakan tidak adaalur ceritanya, dan yang pasti mempertontonkan adegan kekerasan di dalamnya.Tidak hanya di dalam sinetron, dewasa ini tayangan kekerasan juga terdapat didalam komedi. seperti contoh Pesbukers. Dengan kedok komedi sketsa reality,para pemain dalam acara tersebut seringkali melakukan adegan kekerasan sepertimendorong, mencemooh, mengelabuhi bintang tamu atau pemain lainnya,menaburkan bedak ke salah satu pemain dan berbagai macam adegan yangdianggap sebagai hal yang lucu untuk menarik pemirsanya, tetapi mengandungunsur kekerasan di dalamnya.Menurut UU Penyiaran Pasal 36 ayat 3, isi siaran wajib memberikanperlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak danremaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembagapenyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayaksesuai dengan isi siaran. Tetapi dewasa ini, kekerasan merupakan salah satuaspek yang tidak dapat dihindari dari beragam tayangan di televisi. Bahkanmasyarakat terkadang tidak menyadari adanya kekerasan dalam program tayanganyang mereka konsumsi.Pesbukers merupakan salah satu program komedi yang mengusung konsep“sketsa reality” di mana gosip-gosip yang sedang “in” dimasukkan ke dalambentuk sketsa komedi. Walaupun sudah berulang kali ditegur oleh KPI, karenaseringkali menyisipkan unsur kekerasan dan pelecehan dalam sketsa komedi yangmereka mainkan, program komedi masih saja ditayangkan hingga saat ini. Dalamprogram tayangan komedi Pesbukers, menarik untuk diperhatikan bagaimanaPesbukers menampilkan bentuk kekerasan dalam setiap tayangannya?Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentukkekerasan yang ditayangkan pada program tayangan komedi Pesbukers.Dalam sebuah tayangan komedi yang menjadi objek penelitian inimenggunakan kategori-kategori untuk menghitung jumlah kekerasan yang munculpada tayangan komedi Pesbukers.- Fisik/nonverbal, berupa bentuk atau perilaku kekerasan yang dilakukanoleh pemain Pesbukers terhadap korban dengan cara memukul,menendang, melemparkan barang ke tubuh korban atau sebaliknya,menganiaya.- Nonfisik/verbal, kekerasan yang terjadi dengan cara membentak,melecehkan orang lain, melontarkan kata-kata yang bersifat menghina,memerintah orang lain dengan seenaknya.- Psikis, kekerasan yang dilakukan oleh para pemain Pesbukers terhadapmental korban dengan cara menakut-nakuti, merendahkan, mengancamBAB IIIPENUTUPPesbukers, sebagai salah satu acara komedi yang di favoritkan pemirsanya,ternyata mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Penelitian yang telahdilakukan dan mendapatkan hasil temuan penelitian menyatakan bahwa dari 3(tiga) kekerasan yang dijadikan tolak ukur, muncul pada tayangan komediPesbukers.Hasil temuan penelitian yang dilakukan, bahwa kekerasan tidak lepas darirealitas kehidupan, bahkan media massa pun memberikan informasi yang saratakan kekerasan verbal, non verbal maupun kekerasan psikis. Jumlah tokoh yangada pada tayangan komedi Pesbukers juga mempengaruhi kekerasan yang terjadidengan cara yang berbeda-beda.Berdasarkan dari hasil temuan penelitian, kekerasan verbal menjadipemicu dari kekerasan yang banyak muncul dalam penelitian ini
Kekerasan Dalam Sinetron “Si Biang Kerok Cilik” (Analisis Isi Kekerasan Dalam Tayangan Sinetron Anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” Di SCTV) Setyorini, Dwi Ratna; Rakhmad, Wiwid Noor; Suprihatini, Taufik; Sunarto, Dr.
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.576 KB)

Abstract

Tayangan televisi merupakan kebutuhan primer masyarakat untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Kebutuhan menonton televisi menjadikan persaingan antar stasiun televisi untuk menghasilkan tayangan yang menarik perhatian pemirsa dan mendapat rating yang tinggi. Namun adanya sistem rating, isi tayangan yang dihasilkan kurang berkualitas dan tidak mendidik seperti unsur kekerasan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kekerasan pada tayangan sinetron anak-anak “Si Biang Kerok Cilik” di SCTV. Tipe penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Teori yang digunakan adalah Teori Kultivasi dari Gebner (Griffin, 2011) dan Bentuk-bentuk kekerasan menurut Sunarto (2009) sebagai dasar kategorisasi kekerasan. Populasi penelitian ini seluruh tayangan Si Biang Kerok Cilik di SCTV, yaitu 149 episode, menggunakan teknik sampel acak sederhana (simple random sampling) dengan cara pengundian.Sampel berjumlah 10 episode dari populasi meliputi episode 02, 26, 43, 62, 98, 103, 112, 118, 139, dan 146. Teknik analisis data menggunakan uji reliabilitas antar dua koder.Hasil uji reliabilitas antar koder diperoleh 100%. Temuan penelitian menunjukkan sinetron Si Biang Kerok Cilik, dari 170 tokoh terdapat 107 tokoh(63%) melakukan kekerasan. Kekerasan banyak dilakukan oleh tokoh Usia Dewasa dan Anak. Bentuk kekerasan yang banyak muncul adalah Kekerasan Fisik (79%) dan Kekerasan Psikologis (42%). Hampir seluruh kekerasan dilakukan dengan Motif Sengaja (93%), dan sebagian besar dilakukan di Lokasi Publik (67%) yaitu di Jalan dan di Sekolah. Pada sinetron Si Biang Kerok Cilik terlihat bahwa tayangan ini banyak menampilkan / terkesan memberikan bentuk kekerasan secara jelas, serta kekerasan boleh atau wajar dilakukan oleh usia dewasa bahkan anak-anak baik dirumah maupun di tempat terbuka. Saran penelitian ini adalah televisi harus memperhatikan isi tayangan program sehingga layak ditonton pemirsa. Begitu juga masyarakat perlu mendampingi anak saat menonton televisi serta melek media agar dapat memahami dan memilih tontonanyang sesuai.Kata Kunci : Analisis Isi, Kekerasan, Televisi
VIVA.CO.ID dan KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK ABURIZAL BAKRIE (Kajian analisis isi terhadap viva.co.id mengenai pemberitaan keluarga Bakrie, perusahaan-perusahaan Bakrie Group, Partai Golkar, dan sosok Aburizal Bakrie) Kusumawardana, R. Sigit Pandhu; Rakhmad, Wiwid Noor; Pradekso, Tandiyo; Lukmantoro, Triyono; Rofiuddin, Muhammad
Interaksi Online Vol 2, No 6 (2014): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMasalah kepemilikan media muncul sebagai akibat kapitalisasi media. Salah satu media swasta yang dimiliki oleh seorang pengusaha sekaligus politisi adalah portal berita viva.co.id. portal berita ini dimiliki oleh Aburizal Bakrie. Bisnisnya menjamur ke berbagai industri. Lebih dari itu, sepak terjangnya di dunia politik begitu agresif. Dia terpilih sebagai ketua umum Partai Golkar. Dan kini dia memutuskan untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014. Sebagai media massa swasta yang tergabung dalam sebuah kelompok usaha yang begitu besar dan dimiliki oleh Aburizal Bakrie, bagaimana kecenderungan pemberitaan viva.co.id mengenai lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie menarik untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kecenderungan pemberitaan viva.co.idmengenai keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Abu Rizal Bakrie itu sendiri. Teori yang digunakan adalah teori-teori kritis, banyak pemikiran Karl Marx, Noam Chomsky, dan Arthur Asa Berger digunakan dalam penelitian ini. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hal ini relefan untuk digunakan karena sesuai dengan prinsip kontekstual dan fleksibilitas. Teknik sampling yang digunakan adalah random dengan total sampel sebesar 169 berita. Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa dalam penulisan berita, viva.co.id memiliki kecenderungan yang positif atau mendukung keluarga Bakrie, Partai Golkar, perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group, dan sosok Aburizal Bakrie itu sendiri. Indikator tersebut dapat dilihat dari aspek tema berita yang cenderung bertema bisnis. Sementara objek pemberitaan terbesar pada tema tersebut adalah perusahaan-perusahaan milik Bakrie Group. Dari aspek nilai berita viva.co.id tidak berani memasukkan nilai berita konflik ke dalam pemberitaannya, hal ini berarti viva.co.id tidak berani mengulas konflik yang terjadi di antara anggota dalam lingkaran kekuasaaan Aburizal Bakrie. Kemudian pada aspek narasumber, ditemukan fakta bahwa viva.co.id cenderung memilih “orang dalam” ketika membangun sebuah berita, sementara sebagian besar komentar ahli yang dijadikan narasumber bernada positif. Dilihat dari lead dan tubuh beritanya pun cenderung mendukung lingkaran kekuasaan Aburizal Bakrie. Lebih dari itu, selama rentang waktu 2009-2012 terjadi pergeseran topik berita dari bisnis ke politik. Hal ini terkait dengan pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden. Kata kunci: viva.co.id, analisis isi kritis, Aburizal Bakrie, kecenderungan berita
PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP EKSPLOITASI WILAYAH DOMESTIK PESOHOR DALAM TALKSHOW HITAM PUTIH Anggraini, Destika Fajarsylva; Rahardjo, Turnomo; Rakhmad, Wiwid Noor; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.025 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren program yang berlangsung. Begitu beraneka ragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah talkshow.Hitam Putih adalah salah satu program dari talkshow. Tayangan tersebut sangat menarik untuk di teliti, karena Hitam Putih mengandung format mind reading. Mind reading merupakan format membaca pikiran sehingga bintang tamu akan dibuat tidak berdaya ketika “dicecar” pertanyaan oleh pembawa acara Deddy Corbuzier yang memaksa mereka memaparkan kehidupan pribadinya tanpa disadari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens tentang tayangan Hitam Putih. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding tayangan Hitam Putih.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang memaknai tayangan Hitam Putih sesuai dengan preffered reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai tayangan ini dari dua sisi, yaitu menganggap bahwa tayangan ini tidak etis dan menganggap tayangan ini adalah tayangan yang memotivasi serta memberikan
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN IKLAN POP- UP DIHINDARI Saraswati, Ayu; Pradekso, Tandiyo; Setyabudi, Djoko; Rakhmad, Wiwid Noor
Interaksi Online Vol 2, No 7 (2014): WISUDA AGUSTUS
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.331 KB)

Abstract

Tingginya penggunaan internet saat ini, membuat sejumlah perusahaan dan pengiklan melirik internet untuk menjadi media beriklan dengan kelebihan yang ditawarkan. Banyak macam iklan di internet, salah satunya adalah iklan pop-up. Iklan pop-up adalah iklan yang muncul secara tiba-tiba di halaman situs, yang mana ukuran dari iklan pop-up hampir menutupi halam situs. Iklan pop-up kerap kali dianggap mengganggu dan dihindari.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan iklan pop-up dihindari. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksploratif dengan metoda studi kasus. Konsep pemikiran untuk acuan penelitian ini menggunakan konsep Louise Kelly dalam penelitiannya “Advertising Avoidance in the Online Social Networking Environment”. Data penelitian ini diperoleh dari in-depth interview terhadap lima informan dengan kriteria pengguna aktif internet dan mengetahui mengenai iklan pop-up.Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan iklan pop-up dihindari adalah mitos buruk dan kekhawatiran terhadap iklan pop-up. Banyaknya mitos mengenai iklan pop-up yang menyatakan bahwa terdapat virus dalam iklan pop-up menyebabkan iklan pop-up dihindari, di samping hal tersebut kekhawatiran pengguna internet terhadap kuota yang akan habis jika melihat dan mengklik iklan pop-up juga membuat para pengguna internet berfikir dua kali untuk mengklik iklan pop-up. Pesan iklan kurang sesuai, dalam hal ini terdapat dua hal mengenai pesan iklan pop-up yang menjadi alasan iklan pop-up dihindari, yaitu pesan iklan yang menipu dan pesan iklan yang tidak sesuai dengan segmentasi produk dari iklan tersebut. Kemunculan iklan pop-up yang kurang menarik akan membuat para pengguna internet menghindari iklan dan kemunculan iklan secara berulang-ulang juga membuat para pengguna internet tidak ingin secara berulang-ulang membaca iklan karena merasa sudah mengetahui isi pesan. Kurang mengetahui mengenai regulasi iklan di internet, pengguna internet merasa jika media yang digunakan untuk beriklan tidak dapat dipertanggungjawabkan membuat para pengguna internet tidak ingin membaca iklan dan lebih memilih menghindarinya, dan resiko pada brand, iklan pop-up adalah iklan yang dihindari dan dianggap mengganggu hal ini berimbas kepada produk yang tengah ditawarkan, karena dianggap produk yang mengganggu. Key words : iklan pop-up, iklan di internet, iklan dihindari, eksploratif
HUBUNGAN TINGKAT KETIDAKPASTIAN DAN KONSEP DIRI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN KOMUNIKASI PRIA PADA TAHAP PERKENALAN DENGAN WANITA Azwar, Rwanda Zwazdianza; Sunarto, Dr; Rakhmad, Wiwid Noor; Widowati, Sri
Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.025 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya prosentase pria yang mengalami kecemasan komunikasi ketika berkomunikasi dengan wanita yang belum dikenal. Setiap hubungan personal baik teman, sahabat, kekasih, dan sebagainya terbentuk melalui tahap-tahap, salah satunya adalah tahap kontak atau perkenalan. Tahap kontak atau perkenalan menjadi krusial karena pada tahap ini masing-masing individu akan memutuskan apakah hubungan dapat dilanjutkan ke tahap selajutnya atau tidak. Dengan demikian, kecemasan komunikasi secara tidak langsung akan menghambat pria untuk mengembangkan hubungan dengan wanita. Kecemasan komunikasi yang dialami pria ditentukan oleh dua faktor, yaitu ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria dengan tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria pada tahap perkenalan. Beberapa teori yang digunakan pada penelitian ini antara lain teori pengurangan ketidakpastian, teori selanjutnya yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep diri yang dimiliki pria, dan teori terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kecemasan komunikasi.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah pria berusia 20-40 tahun yang mengikuti produk atau pelatihan Hitman System dan mengalami kecemasan komunikasi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 80 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall, diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau semakin tinggi tingkat ketidakpastian pria maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami pria. Diketahui pula terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), dapat dikatakan semakin positif konsep diri pria maka semakin rendah tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria. Terakhir, didapati bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dan konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau pria mengalami ketidakpastian yang tinggi ketika berkenalan dengan wanita maka tingkat kecemasan komunikasi yang dialaminya juga akan meningkat, namun jika pria memiliki konsep diri yang positif maka tingkat kecemasan yang dialaminya akan menurun.Kata kunci: Tingkat Ketidakpastian, Konsep Diri, dan Tingkat Kecemasan Komunikasi
Fenomena Penggunaan Blackberry Messenger Sebagai Media Personal Branding Nugroho, Imam Dwi; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwid Noor; Widagdo, M Bayu
Interaksi Online Vol 2, No 8 (2014): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.158 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi informasi sekarang ini telah memasuki babak baru yakni dunia digital. Blackberry messenger merupakan bagian dari perkembangan teknologi saat inimemudahkan penggunanya untuk memperluas pertemanan. Fenomena Blackberry messengersudah menjadi kebutuhan bagi para penggunanya untuk menjadi media komunikasi palingefektif antar teman, keluarga, bahkan rekan bisnis. Dalam personal branding pada mediaBlackberry Mesenger, pengguna harus dengan cermat mengetahui bagaimana cara memasarkan dan membangun image diri sendiri kepada target. Maka dari itulah pokokpermasalahan bagaimana pengalaman berkomunikasi pengguna Blackberry messengersebagai media personal branding melalui pesan instan.Studi ini merupakan penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi yangberupaya memberi penjelasan tentang pengalaman individu dalam memanfaatkan Blackberrymessenger sebagai media personal branding. Penulis teori dramaturgi karya Erving Goffmandalam konteks Computer Mediated Communication (CMC) untuk mendeskripsikanpenggunaan Blackberry messenger sebagai media personal branding.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman penggunaan Blackberrymessenger sebagai media untuk mengelola kesan (impression management) demi membentukpersonal brand yang kuat. Struktur kognitif yang terbangun dari pemrosesan informasi kemudianmengantar pengguna sampai pada kesadaran bahwa pembentukan personal branding yang kuatterjadi karena strategi pembentukan yang baik dan dapat mengelola kesan. Sehingga, brandimage dapat melekat pada target.Implikasi studi ini dalam lingkup teoritis adalah memahami pengalaman komunikasi pengguna pesan instan Blackberry messenger dalam membentuk personal branding padakonsep dramaturgi oleh Erving Goffman yang erat kaitannya dengan pengelolaan kesan(impression management). Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan penjelasan mengenai pembentukan personal brand dalam sebuah komunikasi interpersonal. Kesan perluuntuk dibentuk agar komunikasi interpersonal yang terjalin dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sementara, sebagai implikasi sosial hasil studi ini memberi informasikepada masyarakat bagaimana membentuk personal branding dalam komunikasi di mediasosial khususnya pesan instan.Kata kunci : Media, BBM, personal branding