Articles

Found 11 Documents
Search

POLA PEMBINAAN SANTRI DALAM MENGENDALIKAN PERILAKU MENYIMPANG DI PONDOK PESANTREN SABILUL MUTTAQIN, DESA KALIPURO, KECAMATAN PUNGGING, MOJOKERTO

Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : UNESA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.

PENERAPAN METODE ACCELERATED LEARNING PADA POKOK BAHASAN PROGRAM LINIER KELAS X JURUSAN AKUNTANSI SMK NEGERI 4 JEMBER SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2012/2013

Pancaran Pendidikan Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Pancaran Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.205 KB)

Abstract

Abstract. Accelerated learning is a method to make a student learns naturally by applying some techniques appropriate with their own characters so that they will feel easier and more fun. The purposes of this research are to describe the implementation of Accelerated learning method, to know the students learning activity, and to analyze the student’s achievement on the topic “Linier Program”. The subject of the research is grade X for accounting skill program of SMKN 4 Jember. The data collection methods used in this research are test, interview, observation, and documentation. The result of the research indicates that the strategy increases the student’s achievement to 72,22% in the first cycle and 86,11% in the second cycle. The result also showed that the teaching learning activity using Accelerated learning method got a good responses from the students. Those good responses were proved by the improvement of studends activity. The student’s activity increases in the first cycle to second cycle. In the first cycle, the student’s activity are 68,52% in the first learning and 73,02% in the second learning. Even though, in the second cycle, the student’s activity are 80,03% in the first learning and 84,26% in the second learning. The result identify that the Accelerated learning method can improve the result of students learning activity. Key Words: Accelerated learning, student’s achievement, Linier Program

PERBEDAAN ANGKA RATA-RATA KARIES GIGI ANTARA MASYARAKAT BALI VEGETARIAN DAN NONVEGETARIAN DI DESA BASARANG JAYA KABUPATEN KAPUAS

Jurnal Skala Kesehatan Vol 5 No 1 (2014): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.071 KB)

Abstract

Perbedaan pola makan vegetarian dan nonvegetarian terletak pada ada tidaknya asupan makanan hewani dan proporsi asupan makanan nabati. Pola makan yang menyangkut jenis atau bahan makanan, selain dapat mempengaruhi kesehatan umum dapat pula mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut, salah satunya adalah dapat mempercepat terjadinya proses gigi berlubang. Vegetarian adalah orang yang hanya mengkonsumsi produk nabati dan berpantang daging. Vegetarian yang berpantang daging harus mencukupi kebutuhan protein dari produk nabati seperti kacang-kacangan, buah, sayur kaya protein, kalsium, dan vitamin. Alasan agama atau spiritual mendorong berkembangnya pola makan vegetarian, salah satunya di kalangan umat beragama Buddha. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rata-rata angka karies gigi  antara masyarakat Bali vegetarian dan nonvegetarian di Desa Basarang Jaya Kabupaten Kapuas. Manfaat Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam hal perencanaan program kesehatan gigi, khususnya masalah  gigi berlubang.Penelitian ini dilakukan di Desa Basarang Jaya Kabupaten Kapuas, jenis  penelitian  deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, dimana variabel sebab akibat yang terjadi pada objek penelitian diukur untuk dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan). Populasi penelitian berjumlah 1575 orang dengan sampel berjumlah 38 orang, 19 orang masyarakat Bali vegetarian dan 19 orang nonvegetarian.   Hasil penelitian menunjukkan angka rata-rata karies gigi mesyarakat Bali vegetarian sebesar 7,32, sedangkan angka rata-rata karies gigi masyarakat Bali nonvegetarian sebesar 5,47 pada equal variance assumed adalah 0,376 dengan probabilitas signifikansi  0,376˃0,05 sehingga tidak ada perbedaan angka rata-rata karies gigi masyarakat vegetarian dan nonvegetarian.   Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan angka rata-rata karies masyarakat Bali vegetarian dan nonvegetarian. Karies disebabkan oleh banyak faktor, seperti gigi, saliva, bakteri, substrat dan waktu, meskipun dengan pola makan vegetarian yang lebih banyak mengkonsumsi asupan makanan nabati dapat mengurangi kejadian karies namun bila mengabaikan faktor lain maka angka rata-rata kariespun tidak berbeda dengan yang pola makannya nonvegetarian. Kata Kunci : Karies, Vegetarian, Nonvegetarian

PERBEDAAN pH SALIVA ANTARA SEBELUM DAN SESUDAH MENGKONSUMSI MINUMAN RINGAN (Studi pada Siswa Kelas II dan III Madrasah Ibtidaiyah Zam-Zam Zailani Banjarbaru Kalimantan Selatan Tahun 2014).

Jurnal Skala Kesehatan Vol 6 No 1 (2015): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.872 KB)

Abstract

Seperti  diketahui bahwa makanan maupun minuman ringan menjadi kegemaran baik bagi orang tua terlebih lagi anak-anak mengandung sejumlah besar gula yang bila dikonsumsi terlalu sering akan menyebabkan karies. Hal ini sependapat dengan Wieke dan Susy (2008) yang menyatakan bahwa rasa manis merupakan rasa yang paling disukai kebanyakan orang terutama anak-anak. Sumber rasa manis ini dapat diperoleh dari sukrosa yang dikonsumsi dalam bentuk gula dan sering digunakan untuk makanan dan minuman terutama minuman ringan. Tingginya angka karies pada siswa kelas II dan III Madrasah Ibtidaiyah Zam_zam Zailani  Banjarbaru Kalimantan Selatan Tahun  2014  dengan rata-rata DMF-T  6.43.Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan antara lain mengukur pH saliva sebelum mengkonsumsi minuman ringan. serta menganalisis perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan.Jenis penelitian ini eksperimen dengan menggunakan metode observasi. Jumlah responden  dalam penelitian ini 63 responden. Analisis data menggunakan program SPSS dengan uji Paired Samples T Test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan nilai pH saliva sebelum mengkonsumsi minuman ringan dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan mengalami penurunan nilai rata-rata pH saliva sebesar 1,20 dengan nilai Sig. = 0,000 atau p < 0,05. Oleh karena p < 0,05, maka dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima atau ada perbedaan pH saliva antara sebelum dan sesudah mengkonsumsi minuman ringan. Sehingga disarankan Perlu adanya penyuluhan dari petugas kesehatan gigi kepada siswa guna  memotivasi dan mengarahkan agar mengurangi konsumsi minuman ringan yang mengandung aspartam dan segera untuk berkumur-kumur. Kata Kunci : pH saliva, minuman ringan 

Intervensi Media Promosi Kesehatan Melalui Kesenian Banjar Untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Dan Anak Di Kalimantan Selatan

Jurnal Skala Kesehatan Vol 7 No 1 (2016): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.187 KB)

Abstract

RPJM bidang kesehatan 2015-2019 lebih mengutamakan pada upaya promotif dan preventif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Salah satu pendekatannya adalah dengan kegiatan promosi kesehatan. Dalam promosi kesehatan, seni tradisional dapat digunakan sebagai media untuk memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel melalui program promosi kesehatan 2015 telah melaksanakan kegiatan pengembangan model intervensi budaya berupa kesenian tradisional Banjar untuk peningkatan cakupan program kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di lima Kabupaten, yaitu Kabupaten Batola, Banjar, Tapin, Tanah Bumbu, dan HSU. Kegiatan intervensi kesenian daerah berupa Jepin Cerita, Damarwulan, Madihin, dan Mamanda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan melalui pentas kesenian daerah Banjar terhadap pengetahuan masyarakat tentang KIA. Desain penelitianini adalah One Shot Case Study, yaitu dengan cara memberikan intervensi kepada suatu kelompok masyarakat (audience) berupa pertunjukan kesenian daerah  Banjar Madihin, Mamanda, Jepin Carita, Damarwulan, dan lain-lain. Setelah pertunjukan selesai, dilakukan penilaian (posttest) terhadap audience dengan cara wawancara dan angket (kuesioner). Intervensi dilakukan oleh Tim Promosi Kesehatan Kabupaten bekerja sama dengan Even Organizer (EO,)sedangkan evaluasi (posttest) dilakukan oleh Tim Dosen Poltekkes Banjarmasin. Data diolah dan dianalisis secara kualitatif dan deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kesenian tradisional Banjar yang paling sering disaksikan responden adalah Madihin.Pertunjukan kesenian sebagai media intervensi promosi kesehatan cukup menarik bagi responden untuk disaksikan. Tingkat penerimaan pesan kesehatan oleh responden pada pertunjukan kesenian tradisional cukup baik. Hal ini didukung dengan data bahwa 90% responden dapat menyebutkan kembali pesan-pesan kesehatan yang disampaikan pada pertunjukan kesenian tersebut. Pada saat melakukan pertunjukan disarankan agar pesan kesehatan dikemas secara “utuh” agar audience lebih mudah memahami pesan tersebut.Pertunjukan kesenian tradisonal yang memuat pesan kesehatan sebaiknya didokumentasikan dalam bentuk rekaman/video agar bisa diputar ulang dan disaksikan oleh masyarakat di tempat-tempat fasilitas pelayanan kesehatan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk dapat menentukan model intervensi kesenian tradisional Banjar yang sesuai untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak.   Kata Kunci : Media Promkes ; Kesenian Banjar; KIA

KEANEKARAGAMAN DAN KEMELIMPAHAN KUPU-KUPU DI KAWASAN WISATA AIR TERJUN IRENGGOLO KEDIRI

STIGMA: Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unipa Vol 11 No 02 (2018): Stigma
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.425 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai keragaman kupu-kupu di kawasan Wisata Air Terjun Irenggolo Kediri pada bulan Februari hingga Juli 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan database tentang keragaman dan kelimpahan kupu-kupu di kawasan Wisata ini. Metode yang digunakan untuk mengkoleksi kupu-kupu adalah dengan metode VES. Kupu ditangkap menggunakan jaring serangga dan dikoleksi menggunakan kertas papylote. Semua spesies diidentifikasi di laboratorium zoology dan dikonsultasikan pada ahli. Data keragaman kupu dianalisis menggunakan indeks Shanon Winner. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 35 spesies kupu dengan total jumlah 1.622 individu. Berdasarkan analisis kuantitatif, disimpulkan bahwa meskipun kekayaan individu tinggi, namun derajad kemelimpahan masing-masing spesies rendah. Adapun spesies yang derajad kelimpahannya cukup adalah Hasora taminatus (14,5) dan Chilades pandava (16,5). Untuk menjaga kelestarian jenis kupu dan menjaga kemelimpahannya, perlu dilakukan edukasi kepada pengunjung agar tetap menjaga keberadaan tumbuhan liar di kawasan wisata Air Terjun Irenggolo Kediri. Kata kunci: Keanekaragaman kupu, media belajar

DIFFERENCE OF MODERATE AND HARD-BRISTLED TOOTHBRUSH IN PREVENTING PLAQUE AMONG SCHOOL CHILDREN

Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health No 2 (2017)
Publisher : Proceedings of the International Conference on Applied Science and Health

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.379 KB)

Abstract

Background: Oral health is very important, some oral and dental problems occur because we do not maintain oral hygiene and teeth. Plaque is a major etiologic factor of caries and periodontal disease. Efforts to prevent plaque buildup is called plaque control, by mechanical, chemical and natural, mechanical ventilation is a tooth brush. In general, the bristles are soft, moderate, and hard. Aims: This research aims to know the differences using a moderate and hard-bristled toothbrush against plaque. Methods: This is a quasi-experiment with pretest-post-test control group design between the bristles medium and hard bristles using independent test T-test. Conclusion: There is a difference of tooth brushing plaque by using the medium tough and hairbrush medium tough hairbrush and hairy on the students of class VII B and VII C in Public Junior High School 3 Banjarbaru. The use of hard bristled toothbrushes is better 72.22% than the use of medium toothbrushes is only 47.37%. But a hard hairy toothbrush can cause gums to drop (recession gingival) if done continuously. 

KEMELIMPAHAN CAPUNG (Odonata) DI DAS BRANTAS KOTA KEDIRI: SEBAGAI STUDI PENDAHULUAN BIOMONITORING PERAIRAN

Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7, No 2 (2018): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.841 KB)

Abstract

Capung dan kupu-kupu merupakan contoh invertebrata yang digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan. Capung akan meletakkan telurnya pada perairan tenang yang jernih, sedangkan kupu-kupu lebih dapat bertahan lama pada lingkungan yang bersih. Penelitian ini merupakan penelitian tahap awal biomonitoring perairan, yang bertujuan untuk mengetahui keragaman capung di DAS Brantas Kota Kediri. Pengamatan di lapangan dilaksanakan selama bulan Maret hingga pertengahan April 2017. Identifikasi hingga level spesies dilakukan di laboratorium Zoologi Universitas Nusantara PGRI Kediri dan divalidasi oleh tim ahli. Sebanyak lima spesies dari tiga famili telah teridentifikasi. Brachytemis contaminate merupakan spesies yang paling banyak dijumpai dengan rata-rata 40 kali perjumpaan. Orthetrum Sabina merupakan jenis yang paling jarang dijumpai, dengan jumlah individu sebanyak enam individu selama pengamatan. Kata kunci: kemelimpahan, capung, DAS Brantas

Hubungan Perilaku Menyikat Gigi Dengan Indeks DMF-T Pada Murid Kelas III DAB IV Sekolah Dasar Negeri Gambut 5 Pematang Panjang Kabupaten Banjar

Jurnal Skala Kesehatan Vol 7 No 2 (2016): JURNAL SKALA KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kementerian Kesehatan Banjarmasin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.216 KB)

Abstract

Beberapa faktor yang dianggap sebagai faktor risiko adalah pengalaman karies, penggunaan fluor, oral higiene, jumlah bakteri, saliva dan pola makan. Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode menyikat gigi, serta frekuensi dan waktu menyikat gigi yang tepat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan perilaku menyikat gigi dengan Indeks DMF-T pada murid kelas III dan IV SDN Gambut 5. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan secara cross sectional Pengambilan data dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel sebesar 62 orang. Data diambil dengan observasi langsung dan menggunakan instrument penelitian berupa kuesioner yang telah di uji validitas dan reabilitasnya. Data dianalisa menggunakan uji chie square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 56 (90,3%) memiliki perilaku menyikat gigi kategori baik dengan indeks DMF-T yang rendah (62.9%). Hasil uji chie square nilai p- value < dari 0.005 yaitu 0.002 hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara perilaku menyikat gigi dengan indeks DMF-T pada murid kelas III dan IV SDN Gambut 5.Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan agar murid lebih meningkatkan perilaku menyikat giginya terutama waktu dan cara menyikat gigi, dan petugas kesehatan gigi dapat melakukan penambalan sehingga dapat mengurangi angka kejadian karies (DMF-T) menjadi lebih rendah.Kata Kunci : Perilaku menyikatgigi , indeks DMF-T

EFEKTIVITAS HEARING CONSERVATION PROGRAM TERHADAP PENCEGAHAN PENINGKATAN AMBANG DENGAR DI INDUSTRI MANUFAKTUR

Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 6, No 5 (2018): Jurnal Kesehatan Masyarakat (E-Journal)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increased hearing threshold is acute or chronic hearing loss caused by noise exposure that it can reduce the ability of auditory sense function. The hearing threshold in people can be detected by doing an audiometric test to determine hearing ability in certain intensity. Based on preliminary studies, one manufacturing industry in Semarang, Central Java has implemented the Hearing Conservation Program, one of the efforts to control the potential noise hazards. The aim was determine the relationship between the effectiveness of the Hearing Conservation Program implementation with an increased hearing threshold for workers. The research design was descriptive analytic with cross sectional approach. The sampling technique used a total sampling of 26 respondents who were workers in the work area with noise>85 dBA, and had done audiometry tests. The research instruments used were questionnaires and observation sheets from the National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) in A Practical Guide to Effective Hearing Conservation Programs in the Workplace with publication number 90-120 Appendix A, namely OSHA Noise Standard Compliance Checklist. Statistical analysis using the Rank Spearman. The results was no relationship age (p-value 0.607), and work period (p-value 0.162), and disease history (p-value 0.282) increase threshold in manufacturing industry workers. The application of the Hearing Conservation Program in the manufacturing industry in this case includes an effective one with a work <5% that is equal to 0.38%. Researchers to conduct safety briefings on workers who are in a very high work area and provide benefits for personal protective equipment while working.