Articles

Found 13 Documents
Search

EVALUASI MANFAAT DAN BIAYA PENGURANGAN EMISI SERTA PENYERAPAN KARBON DIOKSIDA PADA LAHAN GAMBUT DI HTI PT. SBA WI Rahmat, Mamat
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 10, No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Forest has an opponent function in climate change issue, as carbon sink and carbon source. Reducing emission from deforestation and forest degradation (REDD) is the mechanism to tackle green house gas emission from forest sector. The economic analysis of those projects in Indonesia has not conducted yet, moreover the benefit and cost analysis of REDD on forest management unit. The research was conducted in the unique site, at Industrial Forest Plantation PT. SBA WI, South Sumatera. Benefit and cost analysis and break-even cost analysis were conducted to evaluate project feasibility. The research result shows that forest management was not feasible if the role of the project aimed to product wood or reducing emission only which conducted in mutual. If the project aims to reach both roles together, it is very attractive. Break-even cost of reducing emission and carbon sequestration in PT. SBA WI Rp.29.000,- per ton CO2e equal to US$3,17. It was lower than the cost in Bolivia, Ghana, and Nepal and also cheaper than carbon price in voluntary market.
EXPLORING THE ROLE OF FORESTRY SECTOR ON ECONOMIC SYSTEM OF GUNUNGKIDUL DISTRICT IN 1993 - 2008 Rahmat, Mamat; F., Takahiro; Sato, Noriko
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 9, No 2 (2012): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.351 KB)

Abstract

This study was conducted to explore the role of forestry sector in the economic system of Gunungkidul district. The Location Quotient (LQ) Analysis, Income Multiplier Effect Value, and Klassen Typology Analysis were employed to analyze the role of the forestry sector. The data were regional income of Gunungkidul district and Yogyakarta Province from 1993 to 2008, including the economic crisis period from 1997 to 1998. The result showed that forestry sector was an important sector in economic development of Gunungkidul district. LQ analysis indicated that forestry became a basic sector since pre-economic crisis period until post-economic crisis (1993 - 2008). Prior to the economic crisis, forestry sector generated the highest income multiplier effect value. However, the value dropped during and after the economic crisis. The economic crisis had an influence on the development pattern classification of forestry sector. Before economic crisis, forestry sector was classified as a developed sector (quadrant I) with the growth and shared to GDRP in Gunungkidul were higher than that in Yogyakarta Province. Meanwhile, since the economic crisis, forestry sector fell into the lower class as a stagnant sector.
PERAN SEKTOR KEHUTANAN DALAM PEREKONOMIAN KABUPATEN OGAN KOMERING ULU SELATAN Rahmat, Mamat
JURNAL PENELITIAN SOSIAL DAN EKONOMI KEHUTANAN Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.935 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis peran sektor kehutanan dalam perekonomian Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan selama periode tahun 2000 - 2008. Peran sektor kehutanan dianalisis dalam kerangka teori ekonomi basis dengan menggunakan metode Analisis , nilai surplus pendapatan dan nilai efek pengganda pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor kehutanan merupakan salah satu sektor basis dalam perekonomian Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, dengan nilai LQ lebih dari 1. Walaupun, sektor kehutanan merupakan sektor basis, namun pendapatan dari sektor ini masih mengalami defisit, demikian pula dengan sektor basis lainnya. Akan tetapi, defisit pendapatan yang dialami sektor kehutanan paling kecil dibandingkan dengan sektor basis lainnya. Pendapatan dari sektor kehutanan juga memiliki efek pengganda dalam memicu pendapatan dari sektor perekonomian lainnya termasuk sektor non basis. Hal ini ditunjukkan dengan nilai efek pengganda pendapatan sektor kehutanan selama periode tahun 2000 - 2008 berkisar antara 16 - 19. Nilai tersebut menunjukkan bahwa pendapatan sektor kehutanan dapat meningkatkan pendapatan sektor lain sebesar 16 - 19 kali lipat dibandingkan sektor kehutanan. Peningkatan peran sektor kehutanan dapat dilakukan dengan cara memacu produksi hasil hutan kayu dan non kayu. Peningkatan hasil hutan kayu diarahkan pada hutan rakyat dan hasil hutan non kayu melalui pemanfaatan jasa kawasan hutan lindung sebagai objek wisata. Location Quotient
Performance Analysis of ZigBee Mesh WSN in Carbon Monoxide Gas Monitoring System Fuad, Muhammad; Iqbal, Muhammad; Rahmat, Mamat; Sukoco, Heru; Alatas, Husin
TELKOMNIKA Indonesian Journal of Electrical Engineering Vol 15, No 3: September 2015
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The need for air pollutant monitoring system is very substantial especially in the developing countries such as Indonesia. In this research, we have performed a test of such system for carbon monoxide gas based on wireless sensor network (WSN) using ZigBee. This system is working with a mesh topology where each sensor node can communicate with one another. There are seven nodes that serve as sensor nodes and one node serving as Coordinator. Each sensor node has five components that represent of gas sensors. We measure three performance metrics during the test, i.e. throughput, delay, and packet loss. The system has been successfully implemented which is capable of displaying information in real time. The experiment resulted in an average carbon monoxide value of 25.1 ppm and showed a good performance. It showed a throughput more than 1.017 kbps, delay and packet loss ratio less than 409 ms and 5 %, respectively.
ALOKASI PENDAPATAN DARI JASA PENGURANGAN EMISI MELALUI PENCEGAHAN DEFORESTASI: SEBUAH TINJAUAN ALOKASI BENEFIT DAN KERANGKA HUKUM FISKAL Rahmat, Mamat
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deforestasi menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 18% dari total emisi gas rumah kaca per tahun. REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forests Degradation) adalah mekanisme yang dikembangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca akibat deforestasi dan degradasi hutan. Para pihak menginginkan agar REDD juga berperan dalam pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar hutan di negara berkembang. Masyarakat sekitar hutan merupakan salah satu pihak yang berhak untuk memperoleh alokasi dari pendapatan tersebut. Peraturan perundangan yang mengatur alokasi pendapatan dari REDD hingga saat ini belum tersedia. Paper ini mengemukakan gagasan mengenai proporsi alokasi pendapatan dari REDD. Upaya ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam menyusun peraturan perundangan yang diperlukan. Proporsi hipotetik alokasi pendapatan yang dikemukakan di sini diupayakan untuk mengakomodir para pihak, antara lain: pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat sekitar hutan. Proporsi hipotetik tersebut merupakan hasil tinjauan terhadap kerangka hukum fiskal yang tersedia dan azas alokasi benefit.
EXPLORING THE ROLE OF FORESTRY SECTOR ON ECONOMIC SYSTEM OF GUNUNGKIDUL DISTRICT IN 1993 - 2008 Rahmat, Mamat; F., Takahiro; Sato, Noriko
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 9, No 2 (2012): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.351 KB)

Abstract

This study was conducted to explore the role of forestry sector in the economic system of Gunungkidul district. The Location Quotient (LQ) Analysis, Income Multiplier Effect Value, and Klassen Typology Analysis were employed to analyze the role of the forestry sector. The data were regional income of Gunungkidul district and Yogyakarta Province from 1993 to 2008, including the economic crisis period from 1997 to 1998. The result showed that forestry sector was an important sector in economic development of Gunungkidul district. LQ analysis indicated that forestry became a basic sector since pre-economic crisis period until post-economic crisis (1993 - 2008). Prior to the economic crisis, forestry sector generated the highest income multiplier effect value. However, the value dropped during and after the economic crisis. The economic crisis had an influence on the development pattern classification of forestry sector. Before economic crisis, forestry sector was classified as a developed sector (quadrant I) with the growth and shared to GDRP in Gunungkidul were higher than that in Yogyakarta Province. Meanwhile, since the economic crisis, forestry sector fell into the lower class as a stagnant sector.
EXPLORING THE ROLE OF FORESTRY SECTOR ON ECONOMIC SYSTEM OF GUNUNGKIDUL DISTRICT IN 1993 - 2008 Rahmat, Mamat; F., Takahiro; Sato, Noriko
Indonesian Journal of Forestry Research Vol 9, No 2 (2012): Journal of Forestry Research
Publisher : Secretariat of Forestry Research and Development Agency

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.351 KB)

Abstract

This study was conducted to explore the role of forestry sector in the economic system of Gunungkidul district. The Location Quotient (LQ) Analysis, Income Multiplier Effect Value, and Klassen Typology Analysis were employed to analyze the role of the forestry sector. The data were regional income of Gunungkidul district and Yogyakarta Province from 1993 to 2008, including the economic crisis period from 1997 to 1998. The result showed that forestry sector was an important sector in economic development of Gunungkidul district. LQ analysis indicated that forestry became a basic sector since pre-economic crisis period until post-economic crisis (1993 - 2008). Prior to the economic crisis, forestry sector generated the highest income multiplier effect value. However, the value dropped during and after the economic crisis. The economic crisis had an influence on the development pattern classification of forestry sector. Before economic crisis, forestry sector was classified as a developed sector (quadrant I) with the growth and shared to GDRP in Gunungkidul were higher than that in Yogyakarta Province. Meanwhile, since the economic crisis, forestry sector fell into the lower class as a stagnant sector.
PERSEPSI MASYARAKAT DESA PENYANGGA TERHADAP KAWASAN TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT PASCA PELAKSANAAN KEGIATAN KONSERVASI TERPADU : Studi Kasus di Desa Napal Licin dan Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan Rahmat, Mamat; Winarno, Bonda
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 3, No 2 (2006): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.422 KB)

Abstract

Selama tahun 1998-2002, Bank Dunia melalui Global Environment Facility (GEF) bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dan Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah melakukan kegiatan  Program Konservasi dan Pembangunan Terpadu (Integrated Conservation and Development Program/ICDP) di Taman Nasional Kerinci Seblat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak pelaksanaan program tersebut terhadap persepsi masyarakat di 2 desa mengenai keberadaan TNKS. Penelitian dilakukan di desa Napal Licin dan Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Rawas Ulu, Provinsi Sumatera Selatan. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode survey rumah tangga dengan menggunakan kuisioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program ICDP belum mampu merubah persepsi masyarakat terhadap keberadaan kawasan TNKS.
PENDAPATAN MASYARAKAT DARI HUTAN DAN FAKTORFAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHINYA: KASUS DESA PENYANGGA TNKS DI KABUPATEN PESISIR SELATAN Rahmat, Mamat; Hamdi, Hamdi
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.098 KB)

Abstract

Areal Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah penyangga Kabupaten Pesisir Selatan mengalami degradasi hutan tertinggi diantara daerah-daerah penyangga lainnya, yaitu mencapai 1.570 ha atau 34,23% dari luas total degradasi hutan yang terjadi di seluruh kawasan TNKS. Fakta tersebut diduga erat kaitannya dengan kegiatan illegal logging dan kondisi sosial ekonomi masyarakat desa penyangga. Salah satu pendapatan hutan pada masyarakat desa penyangga diantaranya adalah hasil kayu dari kegiatan illegal logging. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji proporsi pendapatan dari hutan pada masyarakat desa penyangga, serta menganalisis pengaruh fakior-faktor sosial ekonomi rumah tangga terhadap pendapatan hutan. Metode penelitian yang yang digunakan adalah gabungan antara wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner dan wawancara tidak terstruktur. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat dari kayu balok jauh lebih besar dibandingkan dengan pendapatan hasil hutan lainnya. Pendapatan dari hasil kayu (kayu balok) mencapai Rp 282.499,- atau 66,05% dari total pendapatan/bulan. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa faktor Umur Responden dan Jumlah Anggota Rumah Tangga, memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan dan penurunan pendapatan masyarakat dari hutan.
KETERGANTUNGAN MASYARAKAT TERHADAP KAWASAN TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT PASCA PELAKSANAAN KEGIATAN KONSERVASI TERPADU Rahmat, Mamat; Helmi, Helmi; Syahni, Rahmat
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.171 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis dampak dari pelaksanaan program Integrated Conservation and Development Project (ICDP) pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Program ICDP dalam pengelolaan TNKS telah dimulai sejak tahun 1998 dan berakhir pada tahun 2002. Pertanyaan utama yang diajukan adalah apakah pelaksanaan program ICDP dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya di dalam kawasan TNKS dan sejauh mana pengaruh program ICDP serta faktor faktor-faktor sosial ekonomi lainnya terhadap pendapatan masyarakat, baik pendapatan dari sumberdaya di dalam kawasan TNKS maupun pendapatan dari luar kawasan TNKS sebagai alternatif pola pengembangan kedepan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Napal Licin dan Desa Pulau Kidak, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas, Propinsi Sumatera Selatan yang termasuk desa-desa penyangga TNKS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program ICDP tidak dapat menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan TNKS, terutama terhadap lahan perladangan. Pelaksanaan program ICDP belum mampu menurunkan pendapatan masyarakat dari dalam kawasan TNKS, disamping itu juga belum mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dari luar kawasan TNKS. Dalam rangka melaksanakan kegiatan konservasi TNKS, maka kegiatan perladangan di dalam kawasan TNKS harus dihentikan. Sebagai kompensasinya disarankan untuk meningkatkan akses masyarakat dalam pemanfaatan zona pemanfaatan khusus TNKS secara legal sebagai alternatif mata pencaharian masyarakat yang tidak mengakibatkan kerusakan kawasan TNKS tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi.  Pola penanaman karet secara tradisional (non intensif) pada zona pemanfaatan khusus merupakan pilihan yang lebih baik dalam rangka pelestarian kawasan TNKS dan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.