DIANA RAHMASARI
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KETERLIBATAN AYAH DALAM PENGASUHAN DAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU PROSOSIAL PADA REMAJA AROFAL HAQUE, ERY; RAHMASARI, DIANA
Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol 2, No 1
Publisher : Character: Jurnal Penelitian Psikologi.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan perilaku prososial remaja, (2) kecerdasan emosional dan perilaku prososial remaja, dan (3) hubungan antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kecerdasan emosional dengan perilaku prososial pada remaja. Peneliti menggunakan sebanyak 65 siswa dari populasi 265 siswa Madrasah Tsanawiyah Nurul Hikmah, Surabaya sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Terdapat tiga skala yang digunakan dalam penelitian ini, yakni skala antara keterlibatan ayah dalam pengasuhan, skala kecerdasan emosional,dan skala perilaku prososial.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah uji analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku prososial dengan arah hubungan yang positif yang dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,013 (<0,05) dan koefisien regresi 0,439. (2) kecerdasan emosional memiliki hubungan signifikan dengan perilaku prososial dengan arah hubungan yang positif yang dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,000(<0,05) dan koefisien regresi 0,460. (3) keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kecerdasan emosional bersama sama memiliki hubungan signifikan dengan arah hubungan yang positif yang dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0,002 dan koefisien regresi sebesar 0,621. artinya sebesar 62,1% variasi pada perilaku prososial dipengaruhi oleh keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kecerdasan emosional, sisanya sebesar 37,9% disebabkan oleh variabel lain yang tidak diukur dalam penelitian ini. Kata kunci : keterlibatan ayah dalam pengasuhan, kecerdasan emosional, perilaku prososial Abstract The purposes of this study is to reveal : (1) the correlation between fathers involvement in parenting and prosocial behavior of adolescent, (2) ) the correlation between emotional intelligence and prosocial behavior of adolescent, (3) ) the correlation between fathers involvement in parenting, emotional intelligence and prosocial behavior of adolescent. Researcher selected 65 students from populations 0f 265 students in Madrasah Tsanawiyah Nurul Hikmah, Surabaya using random sampling technique. The method of this study is a correlational quantitative by using three scales. Data collected three schales which are; fathers involvement in parenting scale, emotional intelligence scale,and prosocial behavior scale.Data analysis technique used in this study was multiple linear regression. The result of this study showed that : (1) fathers involvement in parenting has significant correlation with prosocial behavior, with positive direction of correlation which can be seen from the level of significance which was 0,013(<0,05) and the regression coefficient was 0,439 (2) emotional intelligence has significant correlation with prosocial behavior in the positive direction of correlation which can be seen from level of significance of 0,000(<0,05) and the regression coefficient of 0,460; and (3) fathers involvement in parenting and emotional intelligence, together has significant correlation with prosocial behavior in the positive direction wich can be seen from level of significant of 0,002 and the regression coefficient of 0,621, is mean that 62,1% of variation in prosocial behavior isinfluenced by father’s involvmentt in parenting and emotional intelligence, the rest of 37,9% is cause by another variable wich is not measured in this research. Keyword : fathers involvement in parenting, emotional intelligence, prosocial behavior
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN OPTIMISME DENGAN KECEMASAN PADA ATLET BELADIRI AIKIDO AHMAD ZULKARNAIN, AFRIZAL; RAHMASARI, DIANA
Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol 2, No 2 (2013): Character : Jurnal Psikologi Pendidikan
Publisher : Character: Jurnal Penelitian Psikologi.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara self-efficacy dan optimisme dengan kecemasan atlet beladiri aikido. Terdapat dua variabel bebas yaitu self-efficacy (X1), optimisme (X2) dan satu variabel terikat kecemasan (Y). Penelitian ini merupakan tipe penelitian korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 65 atlet yang terdiri dari 51 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala self-efficacy yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Bandura, skala optimisme yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Seligman, dan skala kecemasan yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Gunarsa. Berdasarkan hasil kategorisasi norma stanfive, atlet beladiri aikido memiliki tingkat self-efficacy sedang dengan persentase 58,47 %, tingkat optimisme sedang dengan persentase 32,30 % dan tingkat kecemasan sedang dengan persentase 41,54 %. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan bantuan PASW Statistics 18. Nilai signifikansi pada variabel self-efficacy diperoleh sebesar 0,000 (p < 0,05) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dengan kecemasan atlet beladiri aikido. Sementara itu nilai signifikansi pada variabel optimisme diperoleh sebesar 0,099 (p < 0,05) yang menjelaskan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara optimisme dengan kecemasan atlet beladiri aikido, hal ini dikarenakan menurut Miller (1999) pemikiran seseorang terhadap situasi yang tidak terkontrol menyebabkan kecemasan tidak mudah menurun meskipun orang tersebut memiliki optimism yang baik..       Kata kunci : Self-Efficacy, Optimisme, Kecemasan, Atlet Beladiri Aikido ABSTRACT This research aims to reveal whether self-efficacy and optimism have a correlation with anxiety among aikido martial arts athletes. There are two independent variables those are self-efficacy (X1), and optimism (X2) ; and one dependent variable, that is anxiety (Y). This research was a correlation study using quantitative approach. The subjects in this study were 65 athletes consisting of 51 men and 14 women. Data collected using a self-efficacy scale which is based on the aspects raised by Bandura, optimism scale which is based on the aspects proposed by Seligman, and anxiety scale which is based on the aspects raised by Gunarsa. According to the results of stanfive categorization norms, aikido martial arts athletes have high levels of self-efficacy which was 58.47 %, the percentage level of optimism was 32.30 % and the percentage level of anxiety were 41.54 %. Data analyzed using multiple regression analysis of PASW Statistics 18. Significant value on self-efficacy variables obtained 0.000 (p < 0.05), which explains that there is a significant relationship between self-efficacy and anxiety among aikido martial arts athletes. Meanwhile, the significant value of optimism variables was 0,099 (p < 0.05) which explains that there is no significant relationship between optimism to anxiety. In this case the study result supports Miller’s (1999) concept which explain that individual thoughts on uncontrolled situations that create anxiety hardly to decline even when the individual has high optimism.             Keywords: Self-Efficacy, Optimism, anxiety, Aikido Martial Arts Athletes
Harga Diri dan Religiusitas dengan Resiliensi Pada Remaja Madura Berdasarkan Konteks Sosial Budaya Madura Rahmasari, Diana; Jannah, Miftakhul; Puspitadewi, Ni Wayan Sukmawati
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol 4, No 2 (2014): Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
Publisher : Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabay

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madurese known by the sense of self-esteem "typical" as "“ajina abha”" as well as a strong religiosity and synonymous with Islam. Needed to strengthen the resilience of youth in the face of obstacles or problems. This study is a preliminary study aimed to examine the dynamics of the relationship between self-esteem and religiosity with resilience in adolescents. This research is using quantitative methods. Quantitative methods are used to examine the relationship between self-esteem and religiosity with resilience. The results showed that there is a relationship between self-esteem and religiosity with resilience in adolescents Madura with a value of 0.01. Self-esteem and religiosity together to give effect to the resilience of 16.9%. This means that 83.1% of resilience in adolescents Madura is influenced by other variables. Esteem gives greater influence with significant value 0,311. While religiosity effect of 0.264. It can be concluded that self-esteem and religiosity have an influence on adolescents resilience in Madura.
Peran Filsafat Eksistensialisme terhadap Terapi Eksistensial-Humanistik untuk Mengatasi Frustasi Eksistensial Rahmasari, Diana
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol 2, No 2 (2012): Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
Publisher : Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabay

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Existential-humanistic therapy helps people to achieve personal meanings of their existence by raising self-awareness and changing the deficient mindset in looking values and meanings of life. Existential philosophy gives an important contribution not only in providing conceptual basis of this therapy but also in determining the therapeutic techniques. Existentialism is a philosophical school that is more adequate than other schools of philosophy, such as empiricism, to understand of human beings as an individual. Meanwhile, humanism is highly valuing of human dignity in a way that of an individual occupies a central position in the theoretical-philosophical reflections as well as in the explanation of daily life practices. This article discusses the basic concepts of existential-humanistic therapy and describes how this approach places the self as the central focus in scientific inquiry and clinical practices.  Abstrak: Terapi humanistik eksistensial membantu manusia untuk mengenal kembali keberadan dan kesadaran dirinya. Terapi ini juga membantu manusia mengubah pola pikir yang salah dalam hal nilai-nilai dan makna hidup, yang merupakan sumber utama frustasi eksistensial. Pendekatan terapi ini dilandasi oleh filsafat eksistensialisme dan humanisme tidak hanya dalam konsep-konsep dasarnya tapi juga dalam berbagai langkah terapi. Eksistensialisme berupaya untuk memahami hakikat manusia sebagai individu. Sedangkan humanisme menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sedemikian rupa sehingga manusia menempati posisi yang sentral dan penting baik dalam perenungan filsafati maupun dalam praktis hidup sehari-hari. Tulisan ini mengkaji konsep dasar terapi eksistensial humanistik dan mendeskripsikan bagaimana pendekatan humanistik eksistensial mengembalikan pribadi manusia sebagai fokus sentral dalam kegiatan ilmiah dan praktik terapi klinis.
HUBUNGAN ANTARA SIBLING RIVALRY DENGAN STRES PADA ANAK Yanuari, Tenny; Rahmasari, Diana
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol 2, No 1 (2011): Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
Publisher : Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabay

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed intent on testing corelation between sibling rivalries stress on children at SD Muhammadiyah 15 Surabaya. Work hypothesis that proposed is there is significant corelation between sibling rivalries with stress on children. Researcher using sample as big as 34 students from SD Muhammadiyah 15 Surabaya, that chosen using purposive sampling. Namely with children criterion that aged 10-12 year on fifth grade and have sibling. This research applying quantitative correlation method. There are two scale that applied on this research, namely sibling rivalry and stress. Data collection method done by applying Likert scale. Instrument validity obtained by using content validity technique with assist from professional judgment. Data analysis technique that used on this research is Pearson product moment correlation analysis test. The instrument reliability test done by using alpha Cronbach reliability. From the result of sibling rivalry reliability scale test, obtained score as big as 0.935. It means that the score of measure is very reliable. And stress scale, obtained score as big as 0.925 that means the sore is very reliable. Based on the data analysis test that done by using product moment correlation by using signification rate 1%, it find out that sibling rivalry  have significant relation with stress for children as big as 0.000 and the direction of relation as big as 0.778. So there is corelation between sibling rivalries with stress on children.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara sibling rivalry dengan tingkat stres pada anak di SD Muhammadiyah 15 Surabaya. Hipotesis kerja yang diajukan adalah ada hubungan yang signifikan antara sibling rivalry dengan stres pada anak. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 34 murid SD Muhammadiyah 15 Surabaya, yang dipilih menggunakan purposive sampling dengan kriteria anak yang berusia 10-12 tahun, duduk di kelas 5 dan mempunyai saudara kandung. Terdapat dua skala yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala sibling rivalry dan skala stres yang disusun dengan menggunakan skala Likert. Validitas alat ukur diperoleh dengan menggunakan teknik validitas isi dengan bantuan profesional judgement. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah uji analisis korelasi product moment Pearson. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan reliabilitas alpha cronbach’s. Uji reliabilitas skala sibling rivalry, mendapatkan hasil sebesar 0,935, sedangkan skala stres sebesar 0,925, yang berarti keduanya sangat reliabel. Berdasarkan uji analisis data yang dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment dan dengan menggunakan taraf signifikansi 1%, maka diketahui bahwa sibling rivalry mempunyi hubungan yang signifikan dengan tingkat stres pada anak dengan besar korelasi sebesar 0,778. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara sibling rivalry dengan stres pada anak.
Efektifitas Penerapan Outbound Training Dalam Meningkatkan Kemampuan Resolusi Konflik Interpersonal Pada Remaja Ramadhani, Hetti Sari; Rahmasari, Diana
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol 2, No 1 (2011): Jurnal Psikologi Teori dan Terapan
Publisher : Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabay

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to test the effectiveness of outbound training in improving interpersonal conflict resolution skills in adolescents. Subjects were adolescents outbound training participants with age ranges between 16-19 years old on the Team Survival Outbound Prigen Pasuruan. The design of this study was a true experiment, with 10 participants who were registered as outbound training participant was being assigned as experiment group and 10 participants who were not registered as outbound training participant was being assigned to control group Sampling technique used in this research was purposive sampling by selecting participants with low conflict resolution score. Data collecting method used was interpersonal conflict resolution questionnaire which resulting in an ordinal scale and was analysed using parametric statistic with t-test paired sample and independent t-test. Obtained score was t = 9.635 and p=0.000 (p<0.025), which means that the research hypothesis was accepted. In other words, there were a significant difference between adolescence interpersonal conflict resolution score prior- and post-intervention (outbound training) in α = 0.05%. Obtained score was t = 5.069 and p=0.000 (p<0.025), which means that the research hypothesis was accepted. It can be concluded, that there were a significant difference between adolescence interpersonal conflict resolution score prior- and post-intervention (outbound training) in α = 0.05%. Based on those results, it can be concluded that an effective implementation of outbound training can increase interpersonal conflict resolution skill in adolescence.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan outbound training dalam meningkatkan kemampuan resolusi konflik interpersonal pada remaja. Subjek penelitian adalah peserta remaja outbound training dengan rentang usia 16-19 tahun The Survival Outbound Team Prigen Pasuruan. Penelitian ini menggunakan true experiment yaitu kelompok eksperimen adalah 10 remaja yang terdaftar sebagai peserta outbound training dan kelompok kontrol adalah 10 remaja yang tidak terdaftar sebagai peserta outbound training. Pengambilan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling yakni mereka yang memiliki skor resolusi konflik interpersonal rendah. Pengumpulan data menggunakan angket resolusi konflik interpersonal yang dinyatakan dalam bentuk ordinal dan menggunakan statistik  parametrik dengan paired sampel t test dan independent t test. Hasil analisis data diperoleh nilai t sebesar 9,635 dan p=0,000 (p<0,025) sehingga hipotesis penelitian diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan terhadap skor resolusi konflik interpersonal remaja antara sebelum dan sesudah diberikan outbound training pada taraf α = 0,05%. Diperoleh nilai t sebesar 5,069 dan p=0,000 (p<0,025) sehingga hipotesis penelitian diterima. Artinya, ada perbedaan yang signifikan terhadap skor resolusi konflik interpersonal antara remaja yang mendapat outbound training dan remaja yang tidak mendapat outbound training pada taraf α = 0,05%. Dari data analisis, dapat disimpulkan bahwa penerapan outbound training efektif dalam meningkatkan kemampuan resolusi konflik interpersonal remaja.
GAMBARAN KETIADAAN PERAN ORANGTUA PADA REMAJA PELAKU BULLYING DI SMP NEGERI 1 PALANG QURROTUL AYUNI, ANNA; RAHMASARI, DIANA
Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Character: Jurnal Penelitian Psikologi.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran ketiadaan peran orangtua pada remaja pelaku bullying. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Subjek pada penelitian ini dipilih menggunakan purposive sampling dengan jumlah subjek sebanyak 1 orang dengan inisial YA. Metode pengambilan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara . Teknik analisis data yang digunakan adalah pembuatan transkrip, pengkodingan, dan pembuatan tabel tema. Uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan peran orangtua pada partisipan membuat orangtua hanya mampu memenuhi sebagian perannya. Peran yang dapat dipenuhi yaitu pendukung dalam hal materi, dan memberi motivator, serta peran sebagai pemberi pedoman. Hanya saja pada peranan sebagai motivator dan pemberi pedoman dilakukan orangtua melalui obrolan telepon dengan anak. Hal ini menyebabkan peran tersebut tidak dapat dijalankan dengan sempurna. Peran yang tidak dapat dipenuhi yaitu peran orangtua sebagai pembimbing, serta sebagai pendukung dalam kebutuhan non materiil (kasih sayang dan perhatian). Peranan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena orangtua tidak tinggal bersama anak. Kata Kunci: Ketiadaan Peran Orangtua, Pelaku Bullying, Remaja
GAMBARAN KETIADAAN PERAN ORANGTUA PADA REMAJA PELAKU BULLYING DI SMP NEGERI 1 PALANG QURROTUL AYUNI, ANNA; RAHMASARI, DIANA
Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Character: Jurnal Penelitian Psikologi.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran ketiadaan peran orangtua pada remaja pelaku bullying. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Subjek pada penelitian ini dipilih menggunakan purposive sampling dengan jumlah subjek sebanyak 1 orang dengan inisial YA. Metode pengambilan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur dengan menggunakan pedoman wawancara . Teknik analisis data yang digunakan adalah pembuatan transkrip, pengkodingan, dan pembuatan tabel tema. Uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ketiadaan peran orangtua pada partisipan membuat orangtua hanya mampu memenuhi sebagian perannya. Peran yang dapat dipenuhi yaitu pendukung dalam hal materi, dan memberi motivator, serta peran sebagai pemberi pedoman. Hanya saja pada peranan sebagai motivator dan pemberi pedoman dilakukan orangtua melalui obrolan telepon dengan anak. Hal ini menyebabkan peran tersebut tidak dapat dijalankan dengan sempurna. Peran yang tidak dapat dipenuhi yaitu peran orangtua sebagai pembimbing, serta sebagai pendukung dalam kebutuhan non materiil (kasih sayang dan perhatian). Peranan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena orangtua tidak tinggal bersama anak. Kata Kunci: Ketiadaan Peran Orangtua, Pelaku Bullying, Remaja