Sukri Rahman
Bagian THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Radioterapi Terhadap Kadar TSH dan T4 pada Pasien Tumor Ganas Kepala dan Leher Chandra, Ade; Rahman, Sukri; Hafiz, Al; Decroli, Eva; Bachtiar, Hafni
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 48, No 2 (2018): Volume 48, No. 2 July - December 2018
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.248 KB) | DOI: 10.32637/orli.v48i2.238

Abstract

Latar belakang: Tumor ganas kepala dan leher adalah tumor ganas yang berasal dari epitel traktus aerodigestif atas. Radioterapi adalah salah satu modalitas talaksana pada tumor ganas kepala dan leher. Kelenjar tiroid akan terpapar radioterapi selanjutnya merangsang terjadinya kelainan pada kelenjar tiroid. Hipotiroid merupakan efek samping yang paling umum terjadi akibat radioterapi. Diagnosis hipotiroid ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium yaitu didapatkan peningkatan TSH dan penurunan T4. Tujuan: Mengetahui pengaruh radioterapi terhadap kadar TSH dan T4 pasien tumor ganas kepala dan leher di RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Metode: Analitik cross sectional dengan desian pre and post test only pada                            10 responden tumor ganas kepala dan leher. Sampel berupa darah vena yang dihitung kadar TSH dan T4 menggunakan alat Vidas 3. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil analisis statistik dinyatakan bermakna bila didapatkan hasil p<0,05. Hasil: Nilai rerata kadar TSH sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,57 ± 0,512 µIU/ml. Nilai rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi didapatkan 0,721 ± 0,508 µg/dL. Uji t bepasangan didapatkan peningkatan rerata kadar TSH setelah radioterapi dengan p = 0,004 yang menunjukkan peningkatan bermakna rerata kadar TSH setelah radioterapi dan didapatkan penurunan rerata kadar T4 setelah radioterapi dengan p = 0,001 yang menunjukkan penurunan bermakna rerata kadar T4 setelah radioterapi. Kesimpulan: Terdapat peningkatan bermakna rerata kadar TSH serta penurunan rerata kadar T4 sebelum dan setelah radioterapi pada pasien tumor ganas kepala dan leher walau belum melewati nilai normal.ABSTARCTBackground: Head and neck cancers are malignancies that originate from upper aerodigestive tract epithelium. Radiotherapy is one of the modalities treatments for head and neck cancer. Thyroid glands which exposed by radiotherapy, furthermore can induce abnormalities. Hypothyroid is a most common abnormality that occur after radiotherapy. Diagnosis hypothyroidism can be established through laboratory examination that is obtained an increased levels of TSH and decreased levels of T4. Purpose: To determine effect radiotherapy on levels of TSH and T4 in patients with head and neck cancer in Dr. M. Djamil Hospital, Padang.     Methods: Cross sectional analytic study with pre and post test only on 10 respondents with head and neck cancer. Samples taken from venous blood then TSH and T4 were counted with Vidas 3. Data was analyzed with paired t-test. The statistical result was significant with p<0,05.             Result: Mean value of TSH before and after radiotherapy is 0,57 ± 0,512 µUI/ml. Mean value of T4 before and after radiotherapy is 0,721 ± 0,508 µg/dL. From paired t-test resulted an increase of TSH mean value after radiotheraphy with p = 0,004 which implies a significant enhancement of TSH mean value after radiotheraphy and decreasing T4 mean value after radiotheraphy with p = 0,001 which implies a significant deflation of T4 mean value after radiotheraphy. Conclusions: There was significant enhancement of TSH mean and significant deflation of T4 mean value before and after radiotherapy on patients with head and neck cancer even still within normal value.  Keywords: Radiotheraphy, TSH, T4, head and neck cancer.
Penatalaksanaan Trauma Tembus Leher Akibat Luka Sayat Rahman, Sukri; ., Novialdi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pendahuluan :Trauma tembus leher merupakan keadaan gawat darurat yang bersifat mengancam nyawa karena dapat menyebabkan cedera terhadap struktur-struktur vital di leher seperti jalan nafas, pembuluh darah besar, esofagus dan saraf.Sebagian besar penyebab luka tembus leher adalah luka tembak diikuti luka tusuk/ sayat. Trauma ini memerlukan penanganan yang segera. Keberhasilan penatalaksanaan trauma tembus leher bergantung pada waktu mulai mendapat pertolongan, ketepatan diagnosis dan ketepatan penanganan. Tujuan : Laporan kasus ini diajukan untuk memberikan gambaran penatalaksanaan pada kasus trauma tembus leher akibat luka sayat. Kasus :Dilaporkan satu kasus luka tembus leher pada seorang laki-laki umur 15 tahun akibat luka sayat (digorok). Penatalaksanaan : Pada pasien ini dilakukan penatalaksanaan keadaan gawat darurat dan eksplorasi segera terhadap luka.Kesimpulan:Keberhasilan penatalaksanaan trauma tembus leher bergantung pada waktu mulai mendapat pertolongan, ketepatan diagnosis dan ketepatan penatalaksanaan. Kata kunci: trauma tembus leher, penatalaksanaan, luka sayat leher (gorok) Abstract Introduction: Penetrating neck trauma is life threatening emergency because of the potential injury to vital structures of the neck such as the air passages, major vascular vessels, esophagus and neurological structures. The majority of penetrating neck trauma is presenting as result from gunshot followed by stab wound.Penetrating neck traumas require emergency treatment. Successful management of penetrating neck trauma depends on prompt recognition of injury, appropriate diagnosis and proper treatment.Purpose :This case reportpresentedto give an overviewon themanagement ofpenetratingnecktraumadue tocuts. Case :A case of 15 years old man with penetratingneck trauma due to cut throat is presented. Case Management :This case was managed with emergency resuscitation and immediate neck exploration. Conclusion :Successful management of penetrating neck trauma depends on prompt recognition of injury, appropriate diagnosis and proper management. Keywords:penetrating neck trauma, management ,cut throat
Neuropati Auditori Rahman, Sukri; Rosalinda, Rossy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Latar belakang: Neuropati auditori merupakan suatu gangguan pendengaran yang jarang terjadi dengan prevalensi yang belum diketahui secara pasti dan membutuhkan identifikasi dan diagnosis secara dini. Tujuan: Untuk menjelaskan gambaran audiologi dan elektrofisiologi neuropati auditori sehingga dapat menentukan terapi dan intervensi yang efektif. Tinjauan Pustaka: Neuropati auditori merupakan bagian dari tuli sensorineural, dimana suara dapat masuk hingga telinga dalam, tetapi transmisi sinyal dari telinga dalam ke otak terganggu pada jaras tertentu. Kelainan ini dapat mengenai semua umur mulai dari bayi hingga dewasa. Pasien dengan neuropati auditori dapat memiliki derajat pendengaran yang normal atau mengalami penurunan dari ringan hingga tuli sangat berat, tetapi selalu memiliki kemampuan persepsi bicara yang buruk. Neuropati auditori ditandai dengan hasil abnormal pada brainstem evoked response audiometry (BERA), tetapi otoacoustic emission (OAE) yang normal. Kelainan ini membutuhkan pendekatan manajemen yang berbeda untuk masalah pendengaran dan komunikasi dibandingkan tuli perifer lainnya. Kesimpulan: Evaluasi klinis dan audiologi yang akurat dibutuhkan pada neuropati auditori, dan pada akhirnya, diagnosis yang tepat memberikan strategi terapi dan rehabilitasi yang lebih baik. Kata kunci: Neuropati auditori, BERA, OAE, persepsi bicara Abstract Background: Auditory neuropathy is a rare hearing disorder which is the prevalence not well established and need an early identification and diagnosis. Purpose: To describe the audiological and electrophysiological features of auditory neuropathy in order to determine the effective treatment and intervention. Literature Review: Auditory neuropathy is a kind of sensorineural hearing loss, in which sounds enter the inner ear normally, but the signal transmission from the inner ear to the brain is impaired in some ways. It can affect people of all ages from infant to adult. Patients with auditory neuropathy may have normal hearing or hearing loss ranging from mild to profound hearing loss, but they always have poor speech perception abilities. Auditory neuropathy is characterized by the abnormal result of the auditory brainstem response (BERA), but in the presence of preserved otoacoustic emissions (OAE). It requires a different management approach to the auditory and communication problems that used for usual peripheral hearing losses. Conclusion: An accurate clinical and audiological evaluation are needed in auditory neuropathy, and finally, a correct diagnosis allow better treatment and rehabilitative strategies. Keywords: Auditory neuropathy, BERA, OAE, speech perception
Tumor Sinus Paranasal Dengan Perluasan Intrakranial dan Metastasis ke Paru Rahman, Sukri; Firdaus, M. Abduh
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Keganasan hidung dan sinus paranasal (sinonasal) merupakan tumor yang jarang ditemukan, hanya merupakan 1% dari seluruh tumor ganas di tubuh dan 3 % dari keganasan di kepala dan leher. Diagnosis secara dini dan pengobatan sampai saat ini masih merupakan tantangan. Pasien dengan tumor sinonasal biasanya datang pada stadium yang sudah lanjut, dan umumnya sudah meluas ke jaringan sekitarnya. Tidak jarang keluhan utama pasien justru akibat perluasan tumor seperti keluhan mata dan kepala dan bahkan gejala akibat metastsis jauh. Prognosis keganasan ini umumnya buruk. Hal ini karena anatomi sinus yang merupakan rongga yang tersembunyi dalam tulang, yang tidak akan dapat dideteksi dengan pemeriksaan fisik biasa dan sering asimptomatik pada stadium dini serta lokasinya yang berhubungan erat dengan struktur vital. Dilaporkan satu kasus tumor sinus paranasal pada seorang lali-laki berusia 52 tahun yang telah mengalami perluasan ke intrakranial dan metastasis ke paru. Kata kunci: tumor sinonasal, perluasan intrakranial, metastasis paru. Abstract Malignancies of the nasal cavity and paranasal sinuses (sinonasal) are rare, comprising only 1 % of all human malignancies and only 3 % of those arising in the head and neck. Early diagnosis and treatment are still a challenge. A patient with sinonasal tumors usually comes at the advanced stage, and generally has spread to surrounding tissue. Not infrequently the patients main complaint due to the expansion of the tumors such as eye or head complaints and sometimes even result of distant metastases. It has been associated with a poor prognosis. This is because the anatomy of the sinuses, which is a hidden cavity in the bone, which can not be detected by regular physical examination, tend to be asymptomatic at early stages, and located close anatomic proximity to vital structures. A case of paranasal sinus tumors in a 52-year-old man who has experienced intracranial expansion and pulmonary metastases is reported. Keywords: sinonasal tumor, intracranial expansion, pulmonary metastases.
Faktor Risiko Non Viral Pada Karsinoma Nasofaring Rahman, Sukri; Budiman, Bestari Jaka; Subroto, Histawara
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Latar belakang: Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas epitel nasofaring yang sampai saat ini penyebabnya belum diketahui, infeksi virus Epstein Barr dilaporkan sebagai faktor dominan terjadinya karsinoma nasofaring tetapi faktor non viral juga berperan untuk timbulnya keganasan nasofaring. Tujuan: Untuk mengetahui faktor non viral  yang dapat meningkatkan kejadian karsinoma nasofaring sehingga dapat mencegah dan menghindari faktor-faktor non viral tersebut. Tinjauan Pustaka: Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas epitel nasofaring yang penyebabnya berhubungan dengan faktor viral dan non viral diantaranya asap rokok, ikan asin, formaldehid, genetik, asap kayu bakar , debu kayu, infeksi kronik telinga hidung tenggorok, alkohol dan obat tradisional. Kesimpulan: Pembuktian secara klinis dan ilmiah terhadap faktor non viral sebagai penyebab timbulnya karsinoma nasofaring masih belum dapat dijelaskan secara pasti. Faktor non viral merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kejadian timbulnya keganasan nasofaring Kata kunci: karsinoma nasofaring, faktor risiko, non viral AbstractBackground: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant epithelial nasopharyngeal tumor that until now the cause still unknown, Epstein barr virus infection had reported as predominant occurance of nasopharyngeal carcinoma but non viral factors may also contribute to the onset of the incidence of nasopharyngeal malignancy. Purpose: To find non viral factors that may increase the incidence of nasopharyngel carcinoma in order to prevent and avoid non-viral factors Literature: Nasopharyngeal carcinoma is a malignant tumor that causes nasopharyngeal epithelium associated with viral and non-viral factors such as cigarette smoke, salt fish, formaldehyde, genetic, wood smoke ,wood dust, ear nose throat chronic infections, alcohol, and traditional medicine. Conclusion: Clinically and scientifically proving the non-viral factors as the cause of nasopharyngeal carcinoma can not be explained with certainty. Non-viral factors only as one risk factor that can increase the incidence of the onset of nasopharyngeal carcinoma. Keywords:  nasopharyngeal carcinoma, risk factor, non viral
Giant Parotid Pleomorphic Adenoma Involving Parapharyngeal Space Rahman, Sukri; Budiman, Bestari J; Yurni, Yurni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Pleomorfik adenoma parotis merupakan tumor jinak kelenjar liur yang paling sering ditemukan, namun pleomorfik adenoma parotis yang sangat besar sehingga melibatkan ruang parafaring (RPF) sangat jarang. Diagnosis ini sulit ditegakkan karena gejala klinisnya tidak khas. Penatalaksanaanya harus hati-hati mengingat banyak struktur vital yang beresiko mengalami trauma. Tujuan: Bagaimana menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF. Kasus: Seorang pasien perempuan 27 tahun ditegakkan diagnosis pleomorfik adenoma parotis kanan dengan melibatkan RPF. Terdapat pembengkakan pada leher yang bersifat asimtomatis dan gejala pendorongan faring dan laring yang menyebabkan disfonia, disfagia, dan defisit saraf kranial IX,X,XII. Penatalaksanaan: Pasien telah dilakukan operasi parotidektomi pendekatan transervikal–transparotid dengan preservasi arteri karotis eksterna dan saraf fasialis. Kesimpulan: Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) dan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting untuk menegakkan diagnosis. Penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF adalah bedah ekstirpasi komplit dengan beberapa pendekatan. .Kata kunci: tumor jinak kelenjar liur, pleomorfik adenoma, ruang parafaringAbstractBackground: Parotid pleomorphic adenoma is the most common benign salivary gland tumor, while giant parotid pleomorphic adenoma involving the parapharyngeal space (PPS) is rare. It was difficult to diagnose because the clinical presentation of this tumor can be subtle. The management must be performed carefully due to anatomy relation to complex vital structure lead to traumatic injury highrisk. Purposes: How to make diagnosis and management parotid pleomorphic adenoma involving PPS. Case: A female 27 years old with diagnosis was giant parotid pleomorphic adenoma involving PPS. There was asymptomatic swelling of the neck and presence of pushing the pharynx and larynx medially causes dysphonia, dysphagia, and IX,X,XII cranial nerves deficit. Management: The patient has been performed parotidectomy with transcervical-transparotid approaches by preservation of the external carotid artery and facial nerve. Conclusion: Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) and imaging are essential for diagnostic. The management of parotid pleomorphic adenoma involving PPS is surgical complete extirpation with various approaches.Keywords:benign salivary gland tumor, pleomorphic adenoma, parapharyngeal space
Maksilektomi Inferior pada Karsinoma Sel Skuamosa Palatum Durum Rahman, Sukri; Jaka Budiman, Bestari; Triansyah, Irwan; Kurniawan Anwar, Heru Kurniawan Anwar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak          Karsinoma Palatum Durum adalah keganasan daerah kepala dan leher yang jarang terjadi dimana setengah diantaranya merupakan Karsinoma Sel Skuamosa. Pada fase awal keganasan ini dapat bersifat asimptomatis namun dapat juga menimbulkan gejala berupa ulkus yang terasa nyeri pada perkembangan penyakitnya. Operasi maksilektomi inferior merupakan salah satu pilihan tindakan yang dapat dilakukan dalam tatalaksana kasus ini, diikuti oleh pemberian radioterapi. Kasus ini dibuat untuk memahami penatalaksanaan karsinoma palatum durum. Dilaporkan kasus seorang laki-laki 45 tahun dengan diagnosis Karsinoma Sel Skuamosa Palatum Durum (Well to Moderately Differentiated Keratinized) stadium IVa (T4aN0M0) dilakukan operasi maksilektomi inferior, namun tidak diikuti dengan radioterapi karena pasien menolak. Maksilektomi inferior merupakan pilihan pembedahan pada tumor yang terbatas pada palatum, lantai sinus maksila dan kavum nasi. Prognosis karsinoma sel skuamosa palatum durum cukup baik dan angka harapan hidup lima tahun akan bertambah bila dilakukan operasi diikuti dengan pemberian radioterapi. Kata kunci: Karsinoma sel skuamosa, maksilektomi inferior, radioterapi AbstractCarcinoma of the hard palate is a rare head and neck cancer in which half of it was Squamous Cell Carcinoma. In the initial phase of this malignancy may be asymptomatic, but can also cause symptoms such as painful ulcers in the development of the disease. Inferior maxillectomy is one of the choice of operation that can be performed, followed by radiotherapy to understand the management of carcinoma of the hard palate. Reported one case of a man 45 years old with diagnosis Squamous Cell Carcinoma of hard palate (Well to Moderately Differentiated Keratinized) stage IVa (T4aN0M0) treated by inferior maxillectomy surgery, but not followed by radiotherapy because the patient refused. Inferior Maksilektomi is a surgical option in tumor that limited to the palate, floor of the maxillary sinus and the nasal cavity. Prognosis of the squamous cell carcinoma of the hard palate is good and the five-year survival rate will increase if surgery followed by radiotherapy. Keywords:  Squamous cell carcinoma, inferior maxillectomy, radiotherapy
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas Laring Irfandy, Dolly; Rahman, Sukri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Laring berperan dalam koordinasi fungsi saluran aerodigestif atas seperti bernafas, berbicara dan menelan.Laring terbagi tiga yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Laring merupakan daerah tersering kedua untuk kasuskarsinoma sel skuamosa kepala-leher, biasanya berhubungan dengan tembakau dan alkohol. Lebih dari 95% kasustumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa. Pasien tumor ganas laring datang dengan berbagai keluhanseperti disfonia, obstruksi jalan napas, disfagia, odinofagi dan hemoptisis. Diagnosis tumor ganas laring ditegakkanberdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis menggunakan endoskopi kaku, serat optik dan biopsi. Penatalaksanaantumor ganas laring tergantung stadium dengan modalitas berupa operasi, kemoterapi, radiasi atau terapi kombinasi.Dilaporkan kasus laki-laki 53 tahun dengan karsinoma glotis stadium III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized welldifferentiated. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan melakukan laringektomi total.Kata kunci: Tumor ganas laring, karsinoma, laringektomi, tembakau Abstract Larynx plays a certain role in coordinating functions of the upper aerodigestive tract, such as respiration,speech, and swallowing. The larynx is divided into three region; supraglottic, glottic, and subglottic. Larynx is thesecond most common site for squamous cell carcinoma in the head and neck and usually related to tobacco andalcohol exposure. Primary malignant tumors of the larynx are squamous cell carcinomas can found more than 95% ofcases. Patients with laryngeal tumors usually present with complaints of hoarseness, respiratory obstruction,dysphagia, odynophagia and hemoptysis. Diagnosis of laryngeal cancer is made by medical history, clinicalexamination using a rigid or fiberoptic endoscope and biopsy. Management of laryngeal tumour depends on stadiumwith various modality included surgery, chemotheraphy, radiotheraphy or combined therapy. Reported case of 53years old male with Glottic carcinoma of the larynx stage III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized well differentiatedis presented. The treatment undergoes with total laryngectomy.Keywords:  Laryngeal cancer, carcinoma, laryngectomy, tobacco
Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Sel Skuamosa Glotis Stadium Dini Rahman, Sukri; Jaka Budiman, Bestari; Swanda, Delva
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak           Karsinoma laring merupakan tumor ganas kepala leher yang banyak dijumpai. Lebih dari 90% dari seluruh tumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa, jika terdeteksi lebih dini maka angka keberhasilan pengobatan menjadi lebih baik. Radioterapi merupakan modalitas pilihan pada penatalaksanaan karsinoma laring stadium dini untuk mempreservasi organ dan suara. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan patologi anatomi. Dilaporkan satu kasus laki-laki berusia 61 tahun dengan diagnosis karsinoma sel skuamosa glotis keratin berdiferensiasi baik stadium IB (T1bN0M0) yang ditatalaksana dengan radioterapi.                                                                                                                                               Kata kunci: Karsinoma sel skuamosa glotis, stadium dini, radioterapi. AbstractLaryngeal carsinoma is the common head and neck cancer. More than 90% of laryngeal cancers are squamous cell carcinoma, if the early detected the cure rate can the better. Radiotherapy is the modality for treatment of laryngeal carcinoma in the early stages to preserve the organ and voice of the patient. The clinical diagnosis is made based on history of illness, physical examination and anatomical pathology examination. Reported One case, man 61 year old, diagnosed with laryngeal squamous cell carcinoma keratinized well differiamted stage IB (T1bN0M0) treated by radiotherapy. Keywords:  Glottic squamous cell carsinoma, early stage, radiotherapy.
Karakteristik Klinis dan Patologis Karsinoma Nasofaring di Bagian THT-KL RSUP Dr.M.Djamil Padang Faiza, Shofi; Rahman, Sukri; Asri, Aswiyanti Asri3
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKarsinoma nasofaring banyak terjadi di Cina dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, sering didiagnosis pada keadaan lanjut dan memiliki prognosis yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi epidemiologi, karakteristik klinis, dan tipe histopatologi pada pasien karsinoma nasofaring di Bagian THT-KL. Metodologi penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data rekam medik di RSUP Dr. M. Djamil Padang selama Juni 2010 sampai Juli 2013 dan data hasil pemeriksaan histopatologi sebagai konfirmasi.  Didapatkan sebanyak 44 kasus yang lengkap pada periode tersebut, yang mana 52,27% penderita adalah laki-laki dan 47,22% perempuan, perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1,2 : 1. Sebaran umur penderita dari 17 sampai 75 tahun dengan insiden puncak pada umur 41- 65 tahun. Gejala klinis terdiri atas massa di leher 93,17%, diikuti dengan obstruksi nasal 79,55%, dan gangguan pendengaran 79,55% sedangkan tanda klinis terdiri atas pembesaran kelenjar getah bening leher 90,91%, diikuti dengan tuli 79,55%, cranial nerve palsy  dan perluasan kelenjar getah bening ke fossa supraklavikula masing-masing 15,8%. Sebagian besar pasien berada pada stadium IV 83,16%, dengan derajat tumor terbanyak T4N2M0 15,91%. Tipe histopatologi yang terbanyak adalah nonkeratinizing carcinoma, undifferentiated type 75%, diikuti keratinizing SCC 13,64%, dan nonkeratinizing carcinoma - differentiated type 11,36%.Kata kunci: karsinoma nasofaring, karakteristik klinis, histopatologi, padang AbstractNasopharyngeal carcinoma  is more frequent in China and Southeast Asia, including Indonesia, commonly with advance stages at diagnosis and has a poor prognosis.  The objective of this study was to evaluate epidemiology, clinical characteristic and histopathology types of patients with nasopharyngeal carcinoma in the department of Otorhinolaryngology - Head and Neck Surgery.This is a descriptive study that used data from medical record of Dr. M. Djamil General Hospital in Padang during June 2010 to July 2013 and histopathology examination as confirmation. The result demonstrated 44 cases found on that period, of which 52,27% was male and 47,72% was female, hence the male and female ratio was 1,2 : 1.  The age-range from 17 to 75 years old with incidence peak between 41 - 65 years old. Clinical symptoms were neck mass 93,17%, followed by nasal obstruction 79,55 %, and audiological complaints 79,55% while clinical sign were cervical lymphadenopathy 90,91%, followed by hearing loss 79,55%, cranial nerve palsy and lymphadenopathy metastases to fossa supraclavicular each subject 15,8%. Most of patients were classified as stage IV 83,16%, with T4N2M0 15,91%.  The histopathology type were nonkeratinizing carcinoma, undifferentiated type had percentage 75%, followed by keratinizing SCC 13,64%, and nonkeratinizing carcinoma - differentiated type 11,36%. Keywords: nasopharyngeal carcinoma, clinical characteristic, histopathology types, padang