Arintina Rahayuni
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Published : 32 Documents
Articles

Found 32 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN JUS TOMAT DAN JERUK NIPIS TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA WANITA DEWASA USIA 40 – 60 TAHUN

Jurnal Riset Gizi Vol 5, No 2 (2017): November (2017)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : DM is a chronic disease, not infrequently patients with DM depends on drugs throughout life. Drug consumption brings economic impact besides side effects of course. Therefore it is necessary alternative treatment in preventing the occurrence of DM disease by using vegetables and fruits. Based on the results of Riskesdas 2013, DM prevalence increased from 1.1 percent (2007) to 2.1 percent, while in Semarang there was an increase from 13,112 cases (2013) to 15,464 cases (2014). The highest prevalence in Semarang that is in Kecamatan Pedurungan with working area of Tlogosari Wetan by 8.6%.Objective  : To determine the effect of tomato and lime juice on blood glucose levels in adult women aged 40-60 years.Methods  : This research was clinical nutrition research. The type of research was true experiment that used randomized pretest posttest control group design. The sample size is 20 treatments and 18 controls. The test used to determine the difference of blood glucose level between the treatment group and the control group is Independent T-test and to determine the effect of tomato juice and lime juice on blood glucose control with nutrient intake is ANOVA Repeated Measure Test.Results  : Based on statistical tests showed that in subjects with initial blood glucose high category (≥90 mg / dl) there was more decrease in blood glucose in the treatment group even though statistically not significant (p = 0,354). Subjects with initial blood glucose normal category (<90 mg / dl) there was decrease in blood glucose even though statistically not significant (p = 0,139).Conclusion  : Tomato and lime juice can decrease blood glucose levels in the research subjects, although statistically not significant.

PENGARUH PEMBERIAN PH SUBSTRAT TERHADAP KADAR SERAT, VITAMIN C, DAN TINGKAT PENERIMAAN NATA DE CASHEW (ANACARDIUM OCCIDENTALE L.)

Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Buah semu jambu mete tinggi vitamin C namun jarang dikonsumsi karena rasanya sepat. Buah tersebut ingin dimanfaatkan menjadi suatu produk makanan yang disukai. Salah satu pemanfaatan jambu mete adalah nata. Nata yang terbuat dari bahan dasar sari buah jambu mete disebut juga nata de cashew. Nata merupakan produk makanan tinggi serat. Rasa sepat, kadar serat, dan kadar vitamin C dipengaruhi oleh pH. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang pengaruh pH substrat terhadap kadar serat, vitamin C, dan tingkat penerimaan nata de cashew. Tujuan: Menganalisis kadar serat, vitamin C, dan tingkat penerimaan nata de cashew pada perlakuan pH substrat yang berbeda. Metode: Merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap untuk mengetahui kadar serat, vitamin C, dan tingkat penerimaan nata de cashew dengan 3 perlakuan pH substrat yaitu A3, B3, C3 untuk substrat nata dengan pH 3, A4, B4, C4 untuk substrat nata dengan pH 4, dan A5, B5, dan C5 untuk substrat nata dengan pH 5. Analisis yang dilakukan adalah menghitung kadar serat kasar, vitamin C, dan tingkat penerimaan. Kadar serat didapatkan dengan uji gravimetri. Kadar vitamin C didapatkan dengan uji dye. Tingkat penerimaan dilakukan dengan uji hedonik. Analisis statistik data kadar serat dan vitamin C menggunakan uji independent T test sedangkan data tingkat penerimaan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Hasil kadar serat nata de cashew berkisar antara 1,06%-4,57% sedangkan kadar vitamin C berkisar antara 25,71 – 51,43 mg%. Nata de cashew dengan pH 3 gagal terbentuk. Variasi pH tidak mempengaruhi kadar serat dan kadar vitamin C nata de cashew. Hasil dari uji tingkat penerimaan, variasi pH mempengaruhi warna nata de cashew namun tidak mempengaruhi aroma, tekstur, dan rasa nata de cashew. Warna nata de cashew dengan pH 4 lebih disukai dari pada nata de cashew dengan pH 5. Aroma nata de cashew pH 4 dan 5 tidak disukai oleh panelis. Tekstur nata de cashew pH 4 dan pH 5 disukai oleh panelis. Rasa nata de cashew pH 4 dan pH 5 tawar dan tidak terasa sepat dari sari buah jambu mete. Simpulan: Kadar serat dan kadar vitamin C tidak dipengaruhi oleh variasi pH. Hasil uji tingkat penerimaan, variasi pH mempengaruhi warna nata de cashew namun tidak mempengaruhi aroma, tekstur, dan rasa.

NUGGET TEMPE DENGAN SUBSTITUSI IKAN MUJAIR SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN SUMBER PROTEIN, SERAT, DAN RENDAH LEMAK

Journal of Nutrition College Vol 2, No 1 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu masalah gizi yang terjadi di Indonesia adalah kejadian gizi lebih atau obesitas. Obesitas sering dipengaruhi oleh ketidakseimbangan asupan makanan dan kurangnya aktifitas fisik pada anak maupun dewasa. Ketidakseimbangan asupan makanan ditandai dengan tingginya asupan lemak dan kurangnya asupan sumber protein dan serat. Salah satu bahan pangan sumber protein, serat, dan rendah lemak adalah tempe. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian tentang nugget tempe dengan substitusi ikan mujair. Tujuan: Menganalisis variasi substitusi ikan mujair pada nugget tempe terhadap kadar protein, kadar serat, kadar lemak, tingkat penerimaan, dan menghitung komposisi asam amino esensial nugget tempe dengan substitusi ikan mujair. Metode: Merupakan penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor yaitu nugget tempe dengan substitusi ikan mujair (0%, 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50%). Analisis yang dilakukan adalah analisis kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak. Pengujian tingkat penerimaan dilakukan dengan uji hedonik pada 20 orang panelis agak terlatih. Analisis statistik kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak menggunakan uji One Way ANOVA Cl 95% untuk data berdistribusi normal dan  uji Kruskal-wallis untuk data berdistribusi tidak normal. Analisis untuk tingkat penerimaan menggunakan uji Friedman CI 95% dilanjutkan dengan uji Wilcoxon. Hasil: Variasi substitusi ikan mujair tidak mempengaruhi kadar protein, kadar serat, dan kadar lemak pada nugget tempe. Hasil uji tingkat penerimaan aroma, tekstur, dan rasa dipengaruhi oleh variasi substitusi ikan mujair, namun tidak mempengaruhi warna dari nugget tempe. Perlakuan terbaik diperoleh pada nugget tempe dengan substitusi ikan mujair 20% dengan kadar protein 14,76g; kadar serat 216mg; kadar lemak 16,74g; asam amino esensial metionin 249mg dan sistin 159mg. Simpulan: Nugget tempe dengan substitusi ikan mujair 20% sebagai hasil terbaik dan disukai panelis, menyumbang 14,8% bagi anak usia 6-12 tahun dan 12,3% bagi dewasa usia >15 tahun berdasarkan AKG protein, serta 0,57% untuk anak-anak; 0,43% untuk wanita dewasa; dan 0,28% untuk pria dewasa berdasarkan kebutuhan serat per hari.

KANDUNGAN SERAT, LEMAK, SIFAT FISIK, DAN TINGKAT PENERIMAAN ES KRIM DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI JENIS BEKATUL BERAS DAN KETAN

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Fiber intake provides many health benefits including reduced risk for coronary heart disease, stroke, hypertension, diabetes, obesity and certain gastrointestinal disease. One of the foods that have high fiber content is rice bran. The addition of rice bran in ice cream to enrich the fiber content of ice cream, so that the ice cream is produced has more complete nutritional value. White rice, red rice, white glutinous rice, and black glutinous rice are well known by Indonesian people. Therefore, it is necessary to study about fiber and fat content of ice cream with the addition of white, red, white glutinous, and black glutinous rice bran. Objective: Analyze the difference of fiber content, fat content, physical properties (overrun and melting rate), and level of acceptance by the addition different types of rice and glutinous rice bran in ice cream. Methods: Experimental study completely randomized design with single factor. Rice bran varieties used were white, red, white glutinous, and black glutinous rice bran with addition of 10% rice bran. The analyzes are crude fiber content, fat content, physical properties, and level of acceptance of ice cream with the addition of rice and glutinous rice bran varieties. Data described the physical properties of ice cream by calculating the average overrun and melting rate. Statistical analysis of the fiber content using one way ANOVA, while the fat content using Kruskal-wallis. The level of acceptance analyzed by Friedman test followed Wilcoxon test. Results: The addition of different types of rice and glutinous rice bran statistically no effect on fiber and fat content of ice cream. The highest overrun is in the ice cream without the addition of rice bran. The lastest melting rate is in the of ice cream with the addition  white rice and white glutinous rice bran. The addition of different types of rice and glutinous rice bran decrease level of acceptance includes the color, flavor, texture, and flavor of ice cream. Conclusions: The highest fiber content is in the ice cream with the addition of black glutinous rice bran. The lowest fat content is in the ice cream with the addition of white rice bran. Recommended ice cream is ice cream with the addition of white glutinous rice bran.

PENGARUH BERBAGAI PH SARI BUAH DAN SUHU PASTEURISASI TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN TINGKAT PENERIMAAN SARI KULIT BUAH MANGGIS

Journal of Nutrition College Vol 1, No 1 (2012): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Oxidative stress is associated with the progression of degenerative disease. The consumption of antioxidant resources to prevent the body from oxidative stress damage. Mangosteen fruit hull is one of the mangosteen waste which has potential activity of natural antioxidant, such as xanthone and anthocyanins. Xanthon and anthocyanins influenced by pH and heating. Therefore, it is necessary to study about the effect of pH and temperature pasteurized on antioxidant activity of the mangosteen fruit hull juice.Objective : Analyze the effect of antioxidant activity and the level of acceptance of the mangosteen fruit hull juice with various pH and pasteurization temperature. Methods : An experimental study with a factorial design which combines pH (pH 3 and pH 4) and pasteurization temperature (temperature of 750C, 850C, 950C). The analyzes are antioxidant activities and the level of acceptance. The antioxidant activity obtained with DPPH (2,2 dhipenyl -1-pycrilhidrazyil) test. The acceptance test are conducted with hedonic test. Statistical analysis of the antioxidant activity using Two Way ANOVA test CI 95%, while the level of acceptance using Friedman test followed Wilcoxon test. Result : The result of antioxidant activity of mangosteen fruit hull juice ranged 80.64-89.70%. The various pH and pasteurization temperature did not effect the antioxidant activity of the mangosteen fruit hull juice. The results of  test acceptance, color and taste are affected by variations in pH and temperature pasteurization, except aroma. The more acidic pH of juice, mangosteen fruit hull juice color of the panelists preferred. Acidification can not relieve harsh flavor mangosteen fruit hull juice. All mangosteen fruit hull juice aroma panelists preferred.Conclucion : The various pH and pasteurization temperature did not effect the antioxidant activity of the mangosteen fruit hull juice. The results of  test acceptance, color and taste are affected by variations in pH and temperature pasteurization, except aroma. Keyword : antioxidant activity, mangosteen fruit hull juice, pH, pasteurization temperature

PENGARUH PENAMBAHAN TELUR TERHADAP KADAR PROTEIN, SERAT, TINGKAT KEKENYALAN DAN PENERIMAAN MIE BASAH BEBAS GLUTEN BERBAHAN BAKU TEPUNG KOMPOSIT. (TEPUNG KOMPOSIT : TEPUNG MOCAF, TAPIOKA DAN MAIZENA)

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Penyandang  autism spectrum disorder (ASD) dan celiac disease tidak dapat menerima gluten yang masuk kedalam tubuh. Mi merupakan salah satu makanan pokok sumber karbohidrat yang terbuat dari gandum. Gandum memiliki kandungan gluten yang tinggi, sedangkan mi adalah makanan pokok terbanyak kedua setelah nasi. Salah satu alternatif bahan makanan sumber karbohidrat yang bebas gluten adalah singkong. Olahan singkong yaitu mocaf dan tepung tapioka memiliki sifat fisik yang menyerupai tepung terigu sehingga diharapkan dapat menggantikan tepung terigu dalam pembuatan mi. Singkong memiliki kadar protein yang rendah, oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai penambahan jumlah telur terhadap kadar protein mi basah bebas gluten agar sesuai dengan standar nasional indonesia (SNI) yaitu 8%, serat, tingkat kekenyalan dan penerimaan mi basah bebas gluten berbahan baku tepung komposit ( tepung mocaf, tapioka dan maizena).Tujuan : Menganalisis pengaruh penambahan telur terhadap kadar protein, serat, tingkat kekenyalan dan penerimaan mi basah bebas gluten berbahan baku tepung komposit.Metode : Merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap, dengan 4 perlakuan menggunakan 1 kontrol dan 3 variasi penambahan jumlah telur (5 butir telur, 6 butir telur, 7 butir telur). Analisis laboratorium yang dilakukan adalah uji kadar protein, serat dan tingkat kekenyalan. Uji tingkat penerimaan dilakukan dengan uji hedonik pada 20 orang panelis agak terlatih. Analisis statistik kadar protein, kadar serat dan tingkat kekenyalan diuji menggunakan uji ANOVA One Way CI 95% dengan uji lanjut LSD (Least Significance Different). Analisis statistik untuk tingkat penerimaan menggunakan uji Friedman CI 95% dengan uji lanjut Wilcoxon.Hasil : Penambahan jumlah telur mempengaruhi kadar protein, serat dan tingkat kekenyalan mi basah bebas gluten. Penambahan jumlah telur juga mempengaruhi tingkat penerimaan dari segi warna dan tekstur tetapi tidak mempengaruhi aroma dan rasa. Hasil penilaian terbaik didapat pada mi basah bebas gluten berbahan baku tepung komposit dengan 5 butir telur dengan kadar protein 7,66%, serat 0,84% dan tingkat kekenyalan 41,83 mm/g/detik.Simpulan : Mi basah bebas gluten berbahan baku tepung komposit dengan 5 butir telur merupakan mi terbaik dan dapat diterima oleh panelis. Mi basah tersebut menyumbang asupan serat sebesar 3,36% untuk wanita dewasa, 2,21% untuk pria dewasa dan 4,42% untuk anak-anak.

HUBUNGAN STATUS GIZI IBU DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 5 – 6 BULAN YANG MENDAPAT ASI EKSKLUSIF

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Pemerintah menetapkan progam ASI eksklusif untuk mencapai Millenium Developmental Goal’s (MDG’s). Bayi ASI eksklusif sangat bergantung pada asupan ASI saja selama 6 bulan. Status gizi ibu menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASI. Bayi yang mendapat cukup ASI diharapkan dapat mencapai status gizi optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.Metode : Penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 35 bayi usia 5 dan 6 bulan yang dipilih secara consecutive sampling di wilayah kerja Puskesmas Pandanaran dan Ngemplak Simongan pada bulan Mei – Juni. Data identitas dan  pemberian ASI eksklusif didapat melalui wawancara dengan ibu bayi. Status gizi bayi dinilai berdasarkan z-score BB/U, sedang status gizi ibu dinilai menggunakan IMT. Analisis bivariat menggunakan correlation Pearson product moment.Hasil : Rerata z-score BB/U bayi adalah (-0,114) ± 1,00. Rerata IMT ibu menyusui  adalah  23,93  ±  3,71. Tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara status gizi ibu dengan status gizi bayi usia 5 dan 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif.

SUBSTITUSI INULIN UMBI GEMBILI (DIOSCOREA ESCULENTA) PADA PRODUK ES KRIM SEBAGAI ALTERNATIF PRODUK MAKANAN TINGGI SERAT DAN RENDAH LEMAK

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Es krim merupakan produk makanan tinggi energi. Inulin banyak digunakan sebagai komponen produk rendah lemak. Inulin memiliki kandungan serat yang tinggi dan termasuk pangan fungsional. Umbi diketahui memiliki kandungan inulin cukup tinggi. Oleh karena itu, akan dilakukan penelitian mengenai substitusi inulin umbi gembili pada produk es krim.Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar serat, lemak, kualitas fisik meliputi melting rate dan overrun, serta tingkat penerimaan es krim dengan substitusi inulin umbi gembili.Metode: Merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap satu faktor yaitu konsentrasi inulin umbi gembili (2%, 3%, dan 4%). Analisis yang dilakukan adalah kadar serat kasar, lemak, sifat fisik (melting rate dan overrun), dan tingkat penerimaan es krim. Kadar serat dan lemak diuji menggunakan one way Anova dilanjutkan uji LSD (Least Significance Different). Data sifat fisik es krim dideskripsikan dengan menghitung rerata melting rate dan overrun. Tingkat penerimaan dilakukan dengan uji hedonik kemudian dianalisis dengan uji Friedman dilanjutkan uji Wilcoxon pada derajat kepercayaan 95%. Hasil:. Substitusi inulin umbi gembili berpengaruh terhadap peningkatan kadar serat dan penurunan kadar lemak es krim. Es krim dengan substitusi inulin umbi gembili 4% paling tahan terhadap pelelehan. Es krim dengan substitusi inulin umbi gembili memiliki overrun yang rendah. Substitusi inulin umbi gembili berpengaruh terhadap penurunan tingkat penerimaan es krim.Simpulan: Kadar serat paling tinggi dan kadar lemak paling rendah adalah es krim dengan substitusi inulin umbi gembili 4%. Es krim yang direkomendasikan adalah es krim dengan substitusi inulin umbi gembili 2%.

PENAMBAHAN GEMBILI PADA FLAKES JEWAWUT IKAN GABUS SEBAGAI ALTERNATIF MAKANAN TAMBAHAN ANAK GIZI KURANG

Journal of Nutrition College Vol 2, No 4 (2013): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Angka prevalensi gizi kurang, dari tahun 2007 sampai 2010 tidak mengalami penurunan. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah pada anak gizi kurang adalah dengan pemberian makanan tambahan (PMT). Salah satu jenis makanan yang dapat dijadikan makanan tambahan anak gizi kurang adalah flakes dengan bahan jewawut, ikan gabus, dan gembili.  Tujuan : Menganalisis pengaruh penambahan tepung gembili terhadap kadar protein, Fe, nilai Kalori, tingkat kerenyahan dan tingkat penerimaan flakes jewawut ikan gabus.        Metode : Penelitian merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap menggunakan 3 penambahan tepung gembili 5%, 10%, 15% dan satu kontrol. Analisis statistik dari kadar  protein, Fe, nilai Kalori dan tingkat kerenyahan diuji dengan one Way Anova sedangkan analisis data hasil tingkat penerimaan diuji menggunakan Friedman Hasil : Perbedaan persentase penambahan tepung gembili secara bermakna berpengaruh terhadap peningkatan kadar protein dan kadar Fe, tetapi tidak berpengaruh terhadap nilai kalori dan tingkat kerenyahan flakes. Penambahan tepung gembili berpengaruh nyata terhadap tingkat penerimaan warna dan teksture, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rasa dan aroma flakes.Simpulan : Berdasarkan kadar protein, Fe, nilai kalori, tingkat kerenyahan,dan tingkat penerimaan flakes yang direkomendasikan adalah flakes dengan penambahan tepung gembili 10%.

POTENSI YOGURT TANPA LEMAK DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG PISANG DAN TEPUNG GEMBILI SEBAGAI ALTERNATIF MENURUNKAN KOLESTEROL

Journal of Nutrition College Vol 3, No 2 (2014): Journal of Nutrition College
Publisher : Nutrition Science Department

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Hiperkolesterolemia merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler, yang menjadi penyebab utama kematian di dunia. Yogurt merupakan susu yang difermentasi bakteri asam laktat. dan telah terbukti dapat menurunkan kolesterol. Penambahan prebiotik, seperti FOS dan inulin pada probiotik dapat menunjang efek hipokolesterolemi yogurt. Pisang tanduk (Musa paradisiaca fa. corniculata) merupakan bahan makanan tinggi FOS, sedangkan gembili (Dioscorea esculenta) mengandung tinggi inulin.Tujuan : Menganalisis pengaruh penambahan tepung pisang dan tepung gembili dalam pembuatan yogurt tanpa lemak terhadap kadar lemak, kadar serat, total BAL, kadar asam propionat, serta karakteristik fisik berupa warna, viskositas, dan pH .Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap menggunakan 2 variasi penambahan tepung (N1 dan N2), yaitu 16.5 g tepung pisang (mengandung 1% FOS) dan 13.5 g tepung gembili  (mengandung 2% inulin), serta 1 kontrol (N0). Analisis statistik kadar lemak, serat, total bakteri asam laktat, viskositas, dan pH menggunakan uji Kruskal-Wallis CI 99% dengan uji lanjut Mann-Whitney. Uji kadar asam propionat dan warna hanya dideskripsikan.Hasil :  Perlakuan pada kedua kelompok, memberikan pengaruh yang signifikan pada kadar serat (N1 = 0.026%, N2 = 0.078%), total BAL (N1 = 6.86 x 108cfu/ml, N2 = 7.04 x 107 cfu/ml), viskositas (N1 = 230.083 cP, N2 = 9.752 cP), dan pH (N1 = 4.873, N2 = 5.72). Kelompok N1 memiliki kadar asam propionat tertinggi, yakni sebesar 569.96 ppm dan berwarna yellowish orange, sedangkan N2 memiliki kadar asam propionat 52.51 ppm, serta berwarna orangish pink . Simpulan : Penambahan tepung pisang dan tepung gembili tidak berpengaruh secara signifikan pada kadar lemak, namun penambahan tepung pisang pada yogurt memiliki potensi terbaik untuk menurunkan kolesterol, karena memiliki kadar lemak terendah, total BAL dan kadar asam propionat tertinggi, serta pH paling mendekati pH optimal.