Triastuti Rahayu
Prodi Pendidikan Biologi UMS, Jl A Yani Tromol Pos I Pabelan Kartasura, Surakarta

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

STREPTOMYCES SEBAGAI SUMBER ANTIBIOTIK BARU DI INDONESIA Rahayu, Triastuti
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Antibiotik merupakan bagian penting dalam terapi infeksi bakteri  karena itu penemuan sumber antibiotik baru yang potensial sangat diperlukan untuk mengatasi masalah akibat  infeksi bakteri. Streptomyces adalah bakteri yang mampu memproduksi agen antimikroba dan banyak ditemukan di tanah pada rizosfer tanaman tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi Streptomyces dari rizosfer Familia Poaceae yang dapat menghasilkan antibiotik untuk menghambat bakteri S. aureus dan  E. coli. Isolasi Streptomyces dari rizosfer rumput kembangan (Digitaria microbachne (Presl.) Henr), rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dan alang–alang (Imperata cylindrica L) yang tumbuh dari tanah yang kering, sedikit berpasir dan tidak tergenang air. Tahap awal isolasi Streptomyces adalah pre treatment sampel tanah. Isolasi menggunakan media raffinosa-histidine agar. Isolat dipurifikasi pada media benneth agar kemudian dipindah ke media oatmeal agar untuk menumbuhkan spora. Identifikasi isolat Streptomyces dilakukan dengan pengecatan Gram. Uji potensi isolat Streptomyces dilakukan dengan metode agar block menggunakan bakteri uji S. aureus dan  E. coli ATCC 25922. Hasil isolasi diperoleh 57 isolat Streptomyces dengan warna miselium vegetatif, spora aerial dan pigmen difus yang berbeda. Dari 57 isolat diperoleh 10 isolat (17,50%) berpotensi ”sangat kuat” (diameter lebih dari 20 mm), 6 isolat (10,52%) berpotensi ”kuat” (diameter 10-20 mm) terhadap S. aureus, sedangkan terhadap E. coli ATCC 25922 diperoleh 8 isolat (14,04%) berpotensi antibiotik “sangat kuat” (20-30 mm), 11 isolat (17,54%) berpotensi ”kuat” (10-19,5 mm), dan 1 isolat (1,75%) berpotensi ”sedang” (7 mm).   Kesimpulan yang diperoleh adalah Streptomyces dapat dijadikan sebagai sumber penghasil antibiotik baru yang sangat potensial di Indonesia.   Kata Kunci:  Antibiotik, Streptomyces,  Familia Poaceae, Rizosfer
STREPTOMYCES SEBAGAI SUMBER ANTIBIOTIK BARU DI INDONESIA Rahayu, Triastuti
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.261 KB)

Abstract

ABSTRAK Antibiotik merupakan bagian penting dalam terapi infeksi bakteri  karena itu penemuan sumber antibiotik baru yang potensial sangat diperlukan untuk mengatasi masalah akibat  infeksi bakteri. Streptomyces adalah bakteri yang mampu memproduksi agen antimikroba dan banyak ditemukan di tanah pada rizosfer tanaman tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui potensi Streptomyces dari rizosfer Familia Poaceae yang dapat menghasilkan antibiotik untuk menghambat bakteri S. aureus dan  E. coli. Isolasi Streptomyces dari rizosfer rumput kembangan (Digitaria microbachne (Presl.) Henr), rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dan alang–alang (Imperata cylindrica L) yang tumbuh dari tanah yang kering, sedikit berpasir dan tidak tergenang air. Tahap awal isolasi Streptomyces adalah pre treatment sampel tanah. Isolasi menggunakan media raffinosa-histidine agar. Isolat dipurifikasi pada media benneth agar kemudian dipindah ke media oatmeal agar untuk menumbuhkan spora. Identifikasi isolat Streptomyces dilakukan dengan pengecatan Gram. Uji potensi isolat Streptomyces dilakukan dengan metode agar block menggunakan bakteri uji S. aureus dan  E. coli ATCC 25922. Hasil isolasi diperoleh 57 isolat Streptomyces dengan warna miselium vegetatif, spora aerial dan pigmen difus yang berbeda. Dari 57 isolat diperoleh 10 isolat (17,50%) berpotensi ”sangat kuat” (diameter lebih dari 20 mm), 6 isolat (10,52%) berpotensi ”kuat” (diameter 10-20 mm) terhadap S. aureus, sedangkan terhadap E. coli ATCC 25922 diperoleh 8 isolat (14,04%) berpotensi antibiotik “sangat kuat” (20-30 mm), 11 isolat (17,54%) berpotensi ”kuat” (10-19,5 mm), dan 1 isolat (1,75%) berpotensi ”sedang” (7 mm).   Kesimpulan yang diperoleh adalah Streptomyces dapat dijadikan sebagai sumber penghasil antibiotik baru yang sangat potensial di Indonesia.   Kata Kunci:  Antibiotik, Streptomyces,  Familia Poaceae, Rizosfer
POTENSI ANTIBIOTIK ISOLAT RARE ACTINOMYCETES DARI MATERIAL VULKANIK GUNUNG MERAPI ERUPSI TAHUN 2010 Rahayu, Triastuti
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.786 KB)

Abstract

Tujuan pelitian ini adalah mengetahui dan menentukan potensi antibiotik  isolat   rare Actinomycetes  yang sudah diperoleh dari material vulkanik Gunung Merapi DIY erupsi tahun 2010 terhadap S. aureus. Penelitian dilakukan untuk skrining primer antibiotik isolat Rare Actinomycetes yang sudah diperoleh dengan metode agar block.  Isolat  Rare Actinomycetes (isolat A-J) dari media oatmeal agar  diambil dengan sterile cork borer ukuran 6 mm kemudian diletakkan di atas biakan bakteri uji (S. aureus), selanjutnya diinkubasi selama 24 jam 370C. Potensi antibiotik ditentukan dengan cara mengukur diameter zona hambat di sekitar agar block. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 5 (lima) isolat Rare Actinomycetes berpotensi antibiotik “sedang” dan 5 (lima) isolat berpotensi “kuat” yaitu isolat B, D, H, I dengan diameter zona hambat 12,5 mm, sedangkan isolat F 13,7 mm.   Kata kunci : Rare Actinomycetes, Antibiotik, S. aureus
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI SAMPEL PASIR GUNUNG MERAPI DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli MULTIRESISTEN ANTIBIOTIK Wulandari, Wuri; Rahayu, Triastuti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri 10 isolat Actinomycetes dari sampel pasir Gunung Merapi menggunakan metode sumuran dan fermentasi terhadap bakteri E.coli multiresisten antibiotik dengan lama waktu fermentasi yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama waktu fermentasi (L) dan jenis isolat Actinomycetes (S). Masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan. Isolat Actinomycetes tersebut difermentasi dalam kultur cair yang mengandung 2% manitol, 2% pepton, dan 1% glukosa selama 6, 7, dan 8 hari, pada suhu 280C menggunakan shaker 50 rpm, selanjutnya diuji menggunakan metode sumuran terhadap E.coli multiresisten. Hasilnya ke 10 isolat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan diameter zona hambat bervariasi. Aktivitas antibakteri terkuat pada hari ke-6 pada isolat D (S4) dengan diameter zona hambat iradikal 17,25 mm, pada fermentasi hari ke-7 pada isolat G (S8) dengan diameter zona hambat radikal 7 mm, dan pada hari ke-8 pada  isolat A (S1) dengan diameter zona hambat radikal 10 mm.
The Response of Node and Leaf Explant of Binahong (Anredera cordifolia L.) on MS Media with Variation of BAP Concentration Rahayu, Triastuti; Mardini, Ucik
Prosiding Seminar Biologi Vol 12, No 1 (2015): Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.277 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the response of nodal explants and leaves of plants binahong on MS medium with the addition of 2,4-D with BAP variation. Research was designed using two factors: factor 1: types of explants (E1 = node, E2 = leaf),  factor 2: the concentration of plant growth regulator BAP (B0 = 2,4-D 2 mg / L (without BAP); B1 = 2, 4-D 2 mg / L and BAP 1 mg / L; B2 = 2,4-D 2 mg / L and BAP 2 mg / L). Explants nodes and leaves of plants Binahong sterilized using Bayclin 45 "sterile distilled water and then rinsed 3 times further incubated in a culture room. Parameters include callus formation time (Days After Planting / HST), size, and color callus. Additional parameters: the presence or absence of roots and shoots. Observations made during the 35 days and the result that the treatment of E1 (explants nodes) more quickly induced to form callus and callus size larger than E2 (leaf explants). B0 treatment induced to form roots (E1 and E2), while B1 forming buds at E1. The conclusion is the response of nodal explants Binahong better for the formation of callus on MS medium with the addition of 2 ppm 2,4-D and variations in the concentration of BAP (0, 1, 2 ppm) compared explants of leaves and the most excellent in the treatment E1B1 (explants nodes on MS + 2 ppm 2,4-D and 1 ppm BAP).Keywords: Binahong, Callus, 2,4-D, BAP
KUALITAS KERTAS SENI DARI PELEPAH TANAMAN SALAK MELALUI “BIOCHEMICAL” JAMUR Phanerochaete crysosporium DAN Pleurotus ostreatus DENGAN VARIASI LAMA PEMASAKAN DALAM NaOH Rahayu, Triastuti; Asifa, Aulia Asifati
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 2, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v2i2.2493

Abstract

Kertas seni atau biasa disebut kertas daur ulang merupakan kertas yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan kerajinan tangan. Biasanya terbuat dari limbah tanaman yang mengandung serat tinggi. Limbah pelepah tanaman salak yangtidak termanfaatkan mengandung serat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas seni. Bahan baku tersebut diproses melalui biopulping jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas kertas seni dari pelepah tanaman salak melalui biokraft jamur Phanerochaete crysosporium dan Pleurotus ostreatus dengan variasi lama pemasakan dalam NaOH dengan parameter penelitian uji daya tarik, daya sobek dan uji sensoris (tekstur, warna, kenampakan serat dan daya terima masyarakat). Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, faktor 1 yaitu lama pemasakan dalam NaOH 15% (P1=1 jam, P2= 2 jam) dan faktor 2 yaitu lama inkubasi (L1= 30 hari, L2= 45 hari) dengan 4 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kertas seni terbaik adalah pada perlakuan P2L1 (lama pemasakan 2 jam dan lama inkubasi 30 hari) yaitu 0,243 N/mm2 yang merupakan hasil uji daya tarik dan 18,711 N yang merupakan daya sobek tertinggi, tekstur halus, warna coklat muda, kenampakan serat kurang jelas dan panelis suka terhadap kertas ini.
BIOPULPING PELEPAH TANAMAN SALAK MENGGUNAKAN JAMUR PELAPUK PUTIH Phanerochaete chrysosporium Rahayu, Triastuti; Asngad, Aminah; Suparti, Suparti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 3, No 1: Maret 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v3i1.3671

Abstract

Serat pelepah tanaman salak yang menjadi limbah perkebunan salak di Kabupaten Sleman Yogyakarta sama sekali belum dimanfaatkan dan menjadi sampah/limbah padahal mengandung selulosa 42%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh JPP (Jamur Pelapuk Putih) P. chrysosporium pada proses biopulping serat pelepah salak. Rancangan penelitian menggunakan RAL 1 faktor yaitu jenis inokulum (J0=kontrol, J1= P.chrysosporium).  Pelepah tanaman salak dicacah dengan pencacah sampah kemudian disterilkan dalam autoclave selama 45 menit pada suhu 121°C. Serpih pelepah salak  (150 g berat kering) dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kemudian diinokulasi 10% inokulum jamur dan diinkubasi dalam suhu ruang (29-30˚C) selama 45 hari. Serpih pelepah tanaman salak yang telah diinkubasi sampai masa inkubasi berakhir dimasak dengan NaOH 10%  L: W = 1:5 (L=berat serpih, W=larutan pemasak), lama pemasakan 1 jam. Setelah dimasak, serpih direndam dalam air dingin 1 L selama 24 jam untuk mengoptimalkan sisa-sisa bahan pemasak dalam melunakkan serpih. Selanjutnya serpih dicuci sampai bebas alkali dan diblender menjadi serbuk untuk analisis bilangan Kappa dan kadar holoselulosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P.chrysosporium dapat tumbuh bagus pada substrat serat pelepah salak untuk biopulping dan dapat menurunkan bilangan Kappa 5% setelah 45 hari inkubasi tetapi kadar holoselulosa sama dengan kontrol.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI SAMPEL PASIR GUNUNG MERAPI DENGAN LAMA FERMENTASI YANG BERBEDA TERHADAP BAKTERI Escherichia coli MULTIRESISTEN ANTIBIOTIK Wulandari, Wuri; Rahayu, Triastuti
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v1i2.878

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri 10 isolat Actinomycetes dari sampel pasir Gunung Merapi menggunakan metode sumuran dan fermentasi terhadap bakteri E.coli multiresisten antibiotik dengan lama waktu fermentasi yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor perlakuan yaitu lama waktu fermentasi (L) dan jenis isolat Actinomycetes (S). Masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan. Isolat Actinomycetes tersebut difermentasi dalam kultur cair yang mengandung 2% manitol, 2% pepton, dan 1% glukosa selama 6, 7, dan 8 hari, pada suhu 280C menggunakan shaker 50 rpm, selanjutnya diuji menggunakan metode sumuran terhadap E.coli multiresisten. Hasilnya ke 10 isolat mempunyai aktivitas antibakteri terhadap E.coli dengan diameter zona hambat bervariasi. Aktivitas antibakteri terkuat pada hari ke-6 pada isolat D (S4) dengan diameter zona hambat iradikal 17,25 mm, pada fermentasi hari ke-7 pada isolat G (S8) dengan diameter zona hambat radikal 7 mm, dan pada hari ke-8 pada  isolat A (S1) dengan diameter zona hambat radikal 10 mm.