Puguh Dwi Raharjo
Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung, LIPI

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DALAM ANALISIS BENTUKAN LAHAN ASAL PROSES FLUVIAL DI WILAYAH KARANGSAMBUNG Raharjo, Puguh Dwi
Jurnal Geografi Vol 7, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obyek kajian geomorfologi adalah bentuklahan yang tersusun pada permukaan bumi di daratan maupun penyusun muka bumi di dasar laut. Kondisi geomorfologi yang dimiliki suatu daerah merupakan sumberdaya  alam. Salah satu bagian dari sumberdaya alam adalah sumberdaya lahan. Pemanfaatan sumberdaya lahan yang seoptimal mungkin menjadi suatu keharusan agar mendapat hasil yang optimal. Dengan menggunakan data penginderaan jauh maka pengkaitan bentuk lahan dapat dilakukan analisa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis bentukan lahan asal proses fluvial di wilayah Karangsambung dengan menggunakan data citra satelit. Hasil yang didapat pada penelitian ini bahwa sub bentukan lahan asal proses fluvial terdapat 5 (lima) jenis, yaitu : dataran banjir, sungai meander, sungai teranyam, pothole, point bar, sungai mati. Kata Kunci : Geomorfologi fluvial, penginderaan jauh, Karangsambung
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAS KREO TERHADAP DEBIT PUNCAK DENGAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH Raharjo, Puguh Dwi
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 19, No 2 (2009)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2009.v19.24

Abstract

ABSTRAK Alih fungsi penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi akan cenderung meningkatkan nilai koefisien aliran permukaan yang akan berpengaruh terhadap debit puncak. DAS Kreo merupakan DAS yang berada  di daerah Semarang yang telah mengalami perubahan penggunaan lahan. Tujuan dalam penelitian ini adalah menguji kemampuan dan ketelitian teknik penginderaan jauh untuk penyadapan data mengenai karakteristik fisik dan morfometri DAS guna estimasi debit puncak serta mengevaluasi pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak dengan menggunakan metode rasional. Perubahan luasan Penggunaan lahan yang signifikan yang dapat mempengaruhi volume air larian  adalah lahan sawah yang pada tahun 1992 seluas 24,89 km2 menjadi 15,47 km2 pada tahun 1999. Pemukiman desa seluas 13,29 km2 pada tahun 1992 menjadi 20,42 km2 pada tahun 1999. Dalam perbandingan hidrograf terjadi peningkatan nilai puncak banjir. Berdasarkan perbandingan antara debit sungai maksimum dengan debit sungai minimum pada tahun 1992 sebesar 240,74 dan pada tahun 1999 sebesar 393,25 sehingga terjadi peningkatan yang juga disertai dengan peningkatan  penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap debit puncak
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN KEKRITISAN DI DAS LUK ULO HULU JAWA TENGAH Raharjo, Puguh Dwi
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 17, No 1 (2010)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DAS Lukulo Hulu adalah DAS yang berada di Jawa Tengah dengan koordinat 340.000 - 365.000 mT dan 916.0000 - 917.5000 mU. Aktifitas masyarakat dimungkinkan sangat mempengaruhi kondisi DAS, yaitu dengan ekploitasi sumberdaya alam (batu, pasir). Pada DAS Lukulo Hulu mempunyai 7 (tujuh) Sub DAS yaitu, DAS Lukulo, DAS Lokidang, DAS Maetan, DAS Gebang, DAS Loning, DAS Mondo, dan DAS Cacaban. Pehitungan lndeks Erosivitas Tertimbang menggunakan SIG (Sistem lnformasi Geografis) memperlihatkan bahwa DAS Lokidang merupakan DAS kritis yang mempunyai prioritas pertama, nilai dari total lndeks Erosivitas Tertimbangnya sebesar 1082,62 dengan luas DAS sebesar 3602,705 hektar. Darr sudut nandang penutup lahan (vegetasi) dengan metode penginderaan jar.rh menggunakan transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) DAS Gebang, DAS Cacaban, dan DAS Lukulo merupakan DAS yang sangat mudah rusak (erosi) hal tersebut karena pentrukaan lahannya tidak terdapat vegetasi sehingga mudah tererosi. 
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DALAM ANALISIS BENTUKAN LAHAN ASAL PROSES FLUVIAL DI WILAYAH KARANGSAMBUNG Raharjo, Puguh Dwi
Jurnal Geografi Vol 10, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geomorphology object study is land form which composed in earth surfaceweither in the land or in the bottom of the sea. Geomorphological condition of aregion is a natural resource. A part of it is land resource. Land resource optimalutilization is a must to get an optimal result. Using remote sensing image, it couldbe analyze the connection of land form. The aim of this research was to analyzeland form of fluvial process in Karangsambung area using satellite imagery. Thisresearch’s result showed that land sub-form of fluvial process consist of fivekinds, i.e.: inundation land, meander river, woven river, pothole, point bar anddead river.
Analisa Spasial Risiko Longsoran Skala Kecamatan, Studi Kasus di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo Raharjo, Puguh Dwi; Hidayat, Edi; Widiyanto, Kristiawan; Puswanto, Eko; Winduhutomo, Sueno
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 18, No 1 (2017): Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subdistricts of Kaliwiro - Wonosobo is a region with diverse topography and included in the Karangsambung Geological Nature Reserve. The purpose of this study was to determine the role of socio-community in Karangsambung which influencing the landslides risk. In this study, we analyted every environmental physical factors to give the landslide hazard map. Analytical Hierarchy Process (AHP) is used as a method to processing landslides maps using Geographic Information System (GIS). The landslides hazard associated with the socio-community and the environment, visible role in reducing the landslides risk. The results obtained that in some places have a high-level of landslide hazard. However, the socio-community is very well in overcoming the impact and mitigation of landslides. Social conditions is very influential on the landslides risk which often occur in the Kaliwiro Sub district. Keywords: GIS, lanslide, menace, vulnerability, capacity, risk.
PENGUKURAN LAJU PENGENDAPAN DALAM PENENTUAN TOLERANSI PENAMBANGAN PASIR DAN BATU (sirtu) (Studi Kasus di DAS Lukulo Hulu Jawa Tengah) Saifudin, Saifudin; Raharjo, Puguh Dwi
Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.15458

Abstract

DAS adalah wilayah kesatuan ekosistem dibatasi oleh topografi dan berfungsi sebagai compiler, dealer air bersama dengan unsur sedimen di sistem sungai. Daerah Aliran Sungai Luk Ulo luas 676 km2, Curah hujan di DAS hulu memiliki jangkauan dari 2.500 mm / tahun sampai 3250 mm / tahun, dan saham hilir DAS curah hujan kurang lebih 2.600 mm /tahun. Pada musim hujan debit dari Sungai Luk Ulo memuncak tajam dan ketika sangatkecil musim kemarau. Erosi, sedimentasi, banjir, ketersediaan air sangat berhubungandengan faktor fisik dan sosial-budaya. Luk Ulo DAS terletak di jawa tengah di manamengalami degradasi lingkungan, sedimentasi sungai Luk Ulo dimanfaatkan dan menghasilkan ketidakseimbangan DAS. Indikasi kerusakan DAS Likely ditonton dari tingkat ketinggian sedimentasi dan erosi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan pertambangan pasir, sehingga keseimbangan ketersediaan pasir dan maksimalpertambangan pasir (sirtu) dapat mengamati. Metode yang digunakan dalam penelitian iniadalah survei dan pengukuran sedimen, yaitu dengan asupan sampel airmempertimbangkan beban ditangguhkan dan juga pengukuran debit sungai setiap sub DAS. Parameter pengukuran sedimentasi adalah konsentrasi sedimen tersuspensi Cs (mg /l), debit Q (m3 / detik) dan keluarnya Qs sedimen tersuspensi (gr / detik). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan pengukuran sedimentasi, yaitu dengan asupan sampel air mempertimbangkan beban ditangguhkan dan juga pengukuran debit sungai setiap sub DAS. Parameter pengukuran sedimentasi adalah konsentrasi sedimen tersuspensi Cs (mg / l), debit Q (m3 / detik) dan keluarnya Qs sedimen tersuspensi (gr /detik). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa beban sedimen harian di Luk Ulo hulu wathersed di hujan Oktober-November sebesar 1.438,36 ton / hari, sedangkan beban sedimen dalam satu tahun sebesar 194,43 ton / Hektar / tahun.
POTENSI PERTAMBANGAN DAN ANCAMAN KEBENCANAAN SEBAGAI DATA PENUNJANG PENYUSUNAN TATA RUANG WILAYAH DI KECAMATAN WADASLINTANG, KABUPATEN WONOSOBO, PROVINSI JAWA TENGAH Ansori, Chusni; Raharjo, Puguh Dwi; Wardhani, Fitriany Amalia
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 12, No 3 (2017): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Wadaslintang mempunyai potensi bahan tambang berupa  andesit, diabas, batu pasir, sirtu, tanah urug, breksi, batu mulia dan Kaolin. Sejalan dengan peningkatan pembangunan, kebutuhan bahan tambang untuk memenuhi pembangunan bertambah secara signifikan, namun ketersediaan wilayah pertambangan tidak terakomodasi dalam RTRW. Paradigma pembangunan saat ini adalah pembangunan berkelanjutan sehingga penambangan yang dilakukan juga harus memperhatikan aspek kebencanaan. Untuk dapat mengakomodasi kepentingan penambangan dalam tata ruang wilayah, maka dilakuka kajian ini.Penelitian bahan tambang dilakukan dengan survey lapangan dan analisa laboratorium (petrografi, geokimia, XRD,sifa fisik batuan) yang menghasilkan peta sebaran dan kualitas bahan tambang. Sedangkan penelitian kebencanaan dilakukan melalui survey lapangan serta analisis Citra Landsat menggunakan metode AHP sehingga didapatkan peta ancaman bencana. Peta sebaran bahan tambang dan peta ancaman bencana dilakukan proses tumpang tindih sehingga menghasilkan peta wilayah pertambangan.Kaolin tersebar pada areah 17,26 Ha, setelah dilakukan proses tumpang tindih maka wilayah yang layak tambang menjadi 14,76 Ha (wilayah dengan tingkat ancaman bencana rendah dan sedang). Diabas tersebar 41,84 Ha, mengalami penciutan menjadi 35,29. Ha. Kalkarenit seluas 22,51 Ha  menjadi 5,88 Ha; breksi andesit seluas 1440,6 Ha menjadi 838,92 Ha, tanah merah 55.06 Ha menjadi 32,29 Ha,  batu pasir 737,6 ha menjadi.523,4 Ha. Wilayah pertambangan yang dihasilkan dari proses tumpang tindih antara peta ancaman bencana dengan peta potesi tambang lebih layak diterapkan untuk mengurangi resiko yang terjadi akibat penambangan
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DALAM ANALISIS BENTUKAN LAHAN ASAL PROSES FLUVIAL DI WILAYAH KARANGSAMBUNG Raharjo, Puguh Dwi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 7, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v7i2.85

Abstract

Obyek kajian geomorfologi adalah bentuklahan yang tersusun pada permukaan bumi di daratan maupun penyusun muka bumi di dasar laut. Kondisi geomorfologi yang dimiliki suatu daerah merupakan sumberdaya  alam. Salah satu bagian dari sumberdaya alam adalah sumberdaya lahan. Pemanfaatan sumberdaya lahan yang seoptimal mungkin menjadi suatu keharusan agar mendapat hasil yang optimal. Dengan menggunakan data penginderaan jauh maka pengkaitan bentuk lahan dapat dilakukan analisa. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis bentukan lahan asal proses fluvial di wilayah Karangsambung dengan menggunakan data citra satelit. Hasil yang didapat pada penelitian ini bahwa sub bentukan lahan asal proses fluvial terdapat 5 (lima) jenis, yaitu : dataran banjir, sungai meander, sungai teranyam, pothole, point bar, sungai mati. Kata Kunci : Geomorfologi fluvial, penginderaan jauh, Karangsambung
PENGGUNAAN DATA PENGINDERAAN JAUH DALAM ANALISIS BENTUKAN LAHAN ASAL PROSES FLUVIAL DI WILAYAH KARANGSAMBUNG Raharjo, Puguh Dwi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 10, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v10i2.8060

Abstract

Geomorphology object study is land form which composed in earth surfaceweither in the land or in the bottom of the sea. Geomorphological condition of aregion is a natural resource. A part of it is land resource. Land resource optimalutilization is a must to get an optimal result. Using remote sensing image, it couldbe analyze the connection of land form. The aim of this research was to analyzeland form of fluvial process in Karangsambung area using satellite imagery. Thisresearchs result showed that land sub-form of fluvial process consist of fivekinds, i.e.: inundation land, meander river, woven river, pothole, point bar anddead river.
IDENTIFIKASI KONDISI FISIK AIR SUMUR DAN POLA ALIRAN AIRTANAH DANGKAL DI KECAMATAN SADANG KEBUMEN Hermawan, Nandian Mareta; Winduhutomo, Sueno; Raharjo, Puguh Dwi
Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc geology.v17i1.20201

Abstract

Secara geologi kecamatan Sadang termasuk kedalam kompleks melange Luk Ulo yang merupakan percampuran berbagai jenis blok batuan yang tertanam dalam massa dasar lempung hitam bersisik (scaly clay). Percampuran ini diakibatkan oleh proses subduksi lempeng benua Eurasia dan lempeng samudera Indo-Australia pada zaman kapur. Blok-blok batuan yang tertanam dalam massa dasar lempung hitam itu beraneka jenis, baik batuan sedimen, batuan beku dan batuan metamorf. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fisik air bersih yang dipergunakan sehari-hari oleh masyarakat kecamatan Sadang dan pola aliran airtanah dangkalnya yang selanjutnya untuk mengidentifikasi konservasi airtanah.Pendekatan survei geologi dan pengamatan hidrogeologi di lapangan menghasilkan data pH, TDS dan suhu air bersih serta kondisi pola aliran airtanah dangkalnya. Hasil identifikasi kondisi fisik air bersih di daerah Sadang memperlihatkan variasi nilai pH, TDS dan suhu. Nilai pH air berkisar antara 6,4 – 8,7, dengan rata-rata pH 7,32. Nilai pH terendah tercatat di sumur penduduk (SP) 19 dan SP 23 dengan nilai 6,4, sementara nilai pH tertinggi tercatat di Bak Penampungan (BP) 3 dan BP 4 dengan nilai 8,7. Berdasarkan standar air baku Permenkes No. 32 tahun 2017, pH air baku berada pada kisaran 6,5 – 8,5. Sehingga di empat lokasi yaitu SP 19, SP 23, BP 3 dan BP 4, dimana nilai pH-nya diluar kisaran perlu menjadi perhatian. Secara keseluruhan daerah Sadang dan sekitarnya yang mempunyai nilai rata-rata pH 7,32 merupakan daerah dengan kondisi air yang baku, sedang variasi nilai TDS berkisar antara 29-190, dengan rata-rata TDS 95,87. Nilai TDS terendah tercatat di SP 9 sebesar 29 dan nilai TDS tertinggi tercatat di SP 26 sebesar 190. Berdasarkan standar air baku Permenkes No. 32 (2017), TDS air baku maksimal 500 mg/L. Nilai TDS tertinggi yang tercatat di daerah telitian sebesar 190 mg/L, tidak melebihi 500 mg/L, sehingga secara keseluruhan kondisi titik pengamatan termasuk kedalam air baku dari segi nilai TDS. Variasi nilai suhu berkisar 270C – 320C, dengan rata-rata suhu 28,750C. Nilai suhu terendah tercatat di SP 1, SP 9, SP 10, SP 12, SP 13 sebesar 270C dan nilai suhu tertinggi tercatat di SP 31 dan BP 4 sebesar 320C. Secara keseluruhan nilai suhu air daerah telitian sesuai dengan standar baku air bersih.Pola aliran airtanah di daerah telitian mengalir dari wilayah utara dan wilayah barat menuju wilayah timur dan wilayah selatan dengan ketinggian MAT di wilayah utara dan wilayah barat pada kisaran 55 mdpl semakin ke wilayah selatan dan wilayah timur ketinggian MAT semakin tinggi mencapai 219 mdpl.Kata kunci : geologi, air bersih, Sadang, pola pengaliran, akuifer, konservasi airtanah