Articles
41
Documents
Penatalaksanaan Perioperatif pada Bedah Dekompresi Mikrovaskular: Sajian Kasus Serial

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dekompresi mikrovaskular (microvascular decompression/MVD) adalah terapi definitif dari spasme hemifasial, yakni suatu gangguan gerakan neuromuskular wajah. Spasme ini ditandai dengan kontraksi involunter berulang pada otat yang diinervasi oleh N. fasialis (N.VII) akibat penekanan oleh arteri, tumor atau kelainan vaskular lainnya. Prevalensinya mencapai 9–11 kasus per 100.000 populasi sehat, dan paling sering terjadi pada usia 40–60 tahun. Meskipun bukaan operasi MVD kecil yaitu di sekitar retroaurikula tetapi teknik anestesi-nya menggunakan prinsip-prinsip pembedahan fossa posterior. Bukaan lapangan operasi yang baik, kewaspadaan terhadap rangsangan ke batang otak maupun nervus kranialis dan kewaspadaan terhadap penurunan perfusi otak merupakan pilar-pilar utama tatalaksana anestesia pada MVD. Disajikan empat kasus spasme hemifasial dengan keadaan khusus. Kasus pertama operasi dilakukan pada pasien geriatri, pasien kedua dengan riwayat hipertensi, pasien ketiga dengan leher pendek dan asma, pasien terakhir dengan diabetes mellitus serta hipertensi. Pemantauan kestabilan hemodinamik, kedalaman anestesia dan relaksasi otot merupakan aspek penting yang menyertai tata laksana anestesi pada kasus ini.Perioperative Management in Microvascular Decompression Surgery: Case Series ReportMicrovascular decompression (MVD) is the definitive surgery for hemifacial spasm. The symptoms is described as a repetitive involuntary muscle contraction which innervated by N.fascialis caused by compression of the nervus by enlarged artery, tumor or vascular malformation. Its happened to 9-11 people from 100.000 population, especially in 4th to 6th decades. Although MVD operation only need small opening in retroauricula area but it still use posterior fossa operation principles. They are sufficient work field, awareness of impulse to brain stem and cranial nerves, and decrease of cerebral perfusion pressure. We present four cases of hemifacial spasm, with variety of considerations. The first case was a geriatric patient, the second was with history of hypertension, the third patient has short neck and also history of hypetension and asthma and the last is with diabetes mellitus and history of hypertension. Hemodynamic monitoring, deepness of anesthesia and adequate muscle relaxation is important parameter of anasthetical management of these cases.

Penatalaksanaan Anestesi pada Operasi Epilepsi

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang adalah perubahan fungsi otak secara mendadak dan sementara akibat aktifitas nueron yang abnormal sehingga terjadi pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktivitas ini dapat bersifat parsial atau general, berasal dari daerah spesifik korteks serebri atau melibatkan kedua hemisfer otak. Kejang disebabkan oleh banyak faktor, yaitu penyakit serebrovaskuler (stroke iskemik, stroke hemoragik), gangguan neurodegeneratif, tumor, trauma kepala, gangguan metabolik, infeksi susunan saraf pusat (SSP) seperti ensefalitis, meningitis. Penyebab lain adalah gangguan tidur, stimulasi sensori atau emosi, perubahan hormon, kehamilan, penggunaan obat-obatan yang menginduksi kejang (teofilin dosis tinggi, fenotiazin dosis tinggi), antidepresan (maprotilin atau bupropion), kebiasaan minum alkohol. Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy (IBE) pada tahun 1981, epilepsi adalah suatu kelainan otak yang ditandai adanya faktor predisposisi yang dapat mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurologis, kognitif, psikologis dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya. Diagnosa epilepsi ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan electroencephalography (EEG). Umumnya, epilepsi diterapi dengan obat antiepilepsi atau anti konvulsan. Apabila kejang tidak teratasi dengan obat oral, dapat dilakukan terapi invasif atau pembedahan, berupa non brain epilepsy surgery atau brain epilepsy surgery. Di Inggris, diperkirakan 0,5–2% total penduduk, menderita epilepsi, dimana 13% memerlukan terapi invasif atau pembedahan. Studi retrospektif, membuktikan, pengobatan invasif atau pembedahan pada epilepsi yang tidak respons terhadap obat oral, telah berhasil mengurangi serangan kejang. Penatalaksanaan anestesi pada epilepsi merupakan tantangan tersendiri bagi dokter anestesi. Diperlukan pemilihan gas, anestetika intravena dan teknik anestesi yang tidak memicu serangan kejang selama operasi. Interaksi dan efek samping obat anti epilepsi harus diperhitungkan saat anestesi.Anesthesia Management on Epilepsy SurgeySeizures are sudden changes in brain function and activity of abnormal neuron activity causing cerebral excessive electrical discharges. May be partial or general, comes from a spesific region of the cerebral cortex or both hemispheres. Caused by cerebrovascular disease (ischemic stroke, hemorrhagic stroke), neurodegenerative disorders, tumors, head trauma, metabolic disorder, central nervous system infection (encephalitis, meningitis). Another factor are sleep disorder, sensory of emotional stimulation, hormonal changes, pregnancy, use of drugs induce seizures (theophyline high-dose, phenothiazine high-dose), antidepresants (maprotilin or bupropion), drinking alkohol.International League Against Epilepsy (ILAE) and the International Bureau for Epilepsy (IBE) in 1981, epilepsy is a brain disorder that can trigger epileptic seizures, neurological changes, cognitive, psychological and social consequences resulting. Diagnose is anamnesa, physical examnination and electroencephalography. Treated with antiepileptic drugs or anticonvulsant. If the seizures are not resolved, can be invasive or surgical therapy (non brain epilepsy surgery or brain surgery). In UK, 0,5 - 2% suffer from epilesy, 13% require surgical therapy. A retrospective study, prove that invasive treatment has succeeded. Management of anesthesia is a challenge for anesthesiology. Election necessary gas, intravenous and anesthesia techniques that do not trigger a seizure. Interaction and side effects of anti epileptic drugs should be calculated. 

Pengaruh Diabetes Mellitus Gestasional Terhadap Sirkulasi Uteroplasenta

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestational diabetes mellitus/GDM) adalah intoleransi glukosa yang ditemukan pertama kali pada masa kehamilan dan sering menimbulkan komplikasi pada ibu yang mengandung maupun janin yang dikandung. Beberapa organ pada GDM mengalami perubahan struktur dan perubahan fungsi termasuk disfungsi endothel mikrosirkulasi dan makrosirkulasi fetoplasenta. Endothelium-derived Relaxing Factors (EDRF) khususnya prostasiklin dan nitrik oksid berperan penting dalam mengontrol sirkulasi fetoplasental. Endothel vaskuler pasien GDM mengalami disfungsi,  sehingga  sintesa dan pelepasan prostasiklin dan nitrik oksid (NO) mengalami gangguan sehingga tonus arteria meningkat. Peningkatan tonus arteri yang menuju uterus akan menurunkan aliran darah uteroplasenta dan akhirnya menurunkan umbilical blood flow (UmBF). Endothel  pembuluh darah merupakan target utama dari stress oksidatif. Sintesa NO merupakan mekanisme penting yang mendasari perubahan pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah uterine selama kehamilan. Beberapa evidensi penelitian membuktikan peranan NO dan ADMA pada kehamilan normal dan insufiensi plasenta. Dengan berkembangnya pengetahuan akan mekanisme gangguan jalur ADMA-NO, pilihan tambahan untuk intervensi terapetik akan dapat ditemukan. Tatalaksana GDM secara umum adalah dengan pengaturan diet, latihan fisik selama tidak ada kontraindikasi, pengawasan dan kontrol gula darah, dan terapi farmakologi Berbagai penelitian lain terus berusaha menemukan terapi-terapi baru untuk memperbaiki endothel dan sirkulasi uteroplasenta pada pasien GDM.

Ekstraksi Daun Gedi (Abelmoschus manihot L) Secara Sekuensial dan Aktivitas Antioksidannya

Agritech Vol 35, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gedi’s leave is one of the raw material in tinutuan porridge, a traditional food from Manado Indonesia. The leaves was extracted by various solvent to dissolve all of the compound. The aim of this study was to compare the profile and antioxidant activities of the extract in various sequence of solvent. Hexane, aseton, and methanol were used to dissolve a non polar, semi polar and polar component, respectively. All of the extract were analysed for its antioxidant activities. The profile of extract were indicated by total phenol and total flavonoid meanwhile antioxidant activities was measured by radical scavenging activity DPPH, metal chelating and singlet oxygen quenching. The result indicated the sequence of hexane – aseton – methanol contain the highest of total phenol and flavonoid compare to the others with 10.67±0.49 mg GAE/g extract and 2.33±0.026 mg quersetin/g extract. The sequence also showed the highest of antioxidant activities at 150 μg/mL extract with 67.47%; 48.07% and 38.66% for percentage of inhibition DPPH, value of metal chelating and singlet oxygen, respectively.ABSTRAKDaun Gedi (Abelmoschus manihot L) merupakan salah satu bahan utama tinutuan, makanan tradisional Manado.Penelitian tentang profil dan aktivitas antioksidan dari daun Gedi telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi dan membandingkan profil dan aktivitas antioksidan dari daun gedi yang diekstraksi secara sekuensial dengan pelarut heksana, aseton dan metanol. Ekstrak daun gedi selanjutnya dianalisis kandungan total fenolik dan flavonoid, sedangkan aktivitas antioksidannya dilakukan secara in vitro meliputi penangkal radikal bebas DPPH, pengkelat logam dan penstabil oksigen singlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sekuensial heksanaaseton-metanol (ESHAM) memiliki total fenol dan total flavonoid yang tertinggi dibandingkan dengan ekstrak lainnya,masing-masing sebesar 10,67±0,49 mg GAE/g ekstrak dan 2,33±0,026mg kuersetin/g ekstrak. ESHAM juga memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi, dengan persentase penghambatan DPPH sebesar 67,47%; persen pegkelat logam sebesar 48,07% dan persen penghambatan oksigen singlet sebesar 38,66% pada konsentrasi 150μg/mL esktrak. Kesimpulan senyawa fenolik pada daun gedi bersifat polar sehingga menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi pada pelarut polar.

Aplikasi Mikroemulsi β-Karoten untuk Menghambat Kerusakan Fotooksidatif Vitamin C pada Sari Buah Jeruk

Agritech Vol 31, No 3 (2011)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orange juice were known have high ascorbic acid content, but susceptible towards photodegradation during storage and display. The objectives of this research were to determine β–carotene microemulsion inhibitory effect on ascorbic acid photooxidation in orange juice and to examine the effect of β–carotene microemulsion application on the sensory qualities. Results of this research showed that β–carotene microemulsion at β–carotene level of 6 ppm (2 % w/w of the system) efectivelly inhibited photooxidation of ascorbic acid in orange juice under 8 hours illumination of 2000 lux fluorescent light. The β–carotene microemulsion was proved as potential inhibitor of asorbic acid photodegradation in orange juice, and the inhibitory effectiveness found to be higher than that of empty microemulsion and free β–carotene. Application of β–carotene microemulsion on orange juice enhanced the juice color and appearance quality when its added after pasteurization.ABSTRAKSari buah jeruk merupakan produk pangan yang kaya vitamin C, tetapi rentan terhadap kerusakan fotooksidasif selama penyimpanan dan display. Penelitian ini bertujuan menentukan kemampuan mikroemulsi β-karoten dalam menghambat kerusakan fotooksidatif vitamin C sari buah jeruk dan pengaruhnya terhadap karakteristik sensorisnya. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa mikroemulsi β-karoten pada konsentrasi β-karoten 6 ppm (2 % b/b terhadap sari buah jeruk) terbukti efektif menghambat fotooksidasi vitamin C sari buah jeruk yang dipapar cahaya fluoresen 2000 lux selama 8 jam. Mikroemulsi β-karoten terbukti mampu berperan sebagai penghambat kerusakan fotooksidatif vitamin C sari buah jeruk yang potensial, dengan penghambatan yang lebih tinggi dibanding mikroemulsi  maupun β-karoten. Aplikasi mikroemulsi β-karoten ke dalam sari buah jeruk meningkatkan kualitas warna dan kenampakan sari buah jika penambahannya dilakukan setelah pasteurisasi.

Pengelolaan Waktu Endap dan Tingkat Kepadatan Lapangan Penumpukan Peti Kemas di PT Jakarta International Container Terminal

Jurnal Manajemen Teknologi Vol 15, No 1 (2016)
Publisher : SBM ITB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12798.189 KB)

Abstract

Abstrak. Waktu menunggu rata-rata petikemas untuk pemeriksaan dan pengurusan dokumen-dokumen yang dibutuhkan di lapangan penumpukan terminal terutama untuk barang import yang juga disebut dwell time (DT) di Jakarta Indonesia akhir-akhir ini menjadi isu nasional. Hal ini disebabkan masih tingginya waktu endap yang secara rata-rata masih berkisar 6 hari atau lebih, berakibat meningkatnya biaya pengiriman barang dan juga akan mempengaruhi tingkat kepadatan lapangan penumpukan petikemas/Yard Occupancy Ratio (YOR) dan menimbulkan kongesti sehingga kinerja operasional pelabuhan akan menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1. menjelaskan kondisi eksisting hubungan DT dan YOR di PT. Jakarta International Container Terminal sebagai terminal petikemas terbesar di Indonesia dengan menggunakan data sekunder dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015; 2. menyusun prakiraan perkembangan kinerja DT dan YOR yang akan datang dengan menggunakan analisis forecasting data time series dengan error paling kecil dan 3. memperoleh alternatif strategi dan solusi untuk mengatasi DT dengan teknik Analytical Hierarchy Process (AHP) yang menggunakan pendapat 7 pakar (expert) yang mewakili para pemangku kepentingan. Hasil korelasi antara DT dan YOR menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan, sedangkan prakiraan menunjukkan bahwa dwell time cenderung turun dan YOR juga akan cenderung turun. Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa strategi yang menjadi prioritas utama adalah perancangan model early warning system (EWS)/sistem peringatan dini lingkup antar lembaga yang dimaksudkan untuk mengantisipasi apabila terjadi lonjakan YOR para pihak dapat melakukan secara bersama-sama dengan cepat dan terkoordinasi dan alternatif solusi mengatasi DT dikarenakan aktifitas di terminal petikemas didominasi variabel waktu dalam pengurusan dokumen maka dapat dilakukan dengan memperbanyak barang yang lewat tanpa pemerikasaan dilihat dari rekam jejak para pemiliknya yaitu dapat dipercaya.Kata Kunci: waktu endap, tingkat kepadatan lapangan penumpukan, prakiraan, AHP, sistem peringatan diniAbstract. The average waiting time of containers for inspecting and handling documents required in the container yards of terminals, especially for imported goods, known as DT (dwell time), in Jakarta, Indonesia, lately becomes a national issue. This is due to the high settling time, which on average is still around 6 days or more, resulting in increased shipping cost and affecting the density of container yards/YOR (Yard Occupancy Ratio) and causing congestions that decrease the port operational performance. The purposes of this study were to: 1. Explain the existing condition of the relation between DT and YOR in PT. Jakarta International Container Terminal which is the largest container terminal in Indonesia, by using secondary data from 2011 to 2015; 2. Predict the growth of the future performances of DT and YOR using time series with the smallest error and to obtain alternative strategies and solutions to handle DT using AHP (Analytical Hierarchy Process) which uses opinions of 7 experts who represent stakeholders. The correlation between DT and YOR showed that there was a significant positive relation, while estimation indicated that the dwell time tended to decline and so did YOR. The results of AHP analysis showed that the prioritized strategy was designing EWS (Early Warning System) model between agencies to anticipate surge of YOR so that the parties could work together rapidly and in a coordinated manner. Alternative solutions to solve DT because activities in the container terminal are dominated by the time variable in terms of documents handling was multiplying goods which passed through without examination based on track records of trustworthy owners.Keywords: dwell time, yard occupancy ratio, predict, analytical hierarchy process, early warning system

Venous Air Embolism (VAE) during Craniotomy of Supratentorial Meningioma in Supine Position

Bali Journal of Anesthesiology Vol 1, No 3 (2017)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractVenous Air Embolism (VAE) is one of the most serious complications in neuroanesthesia case. The highest number of VAE incident is during neurosurgery procedure with sitting position, even tough VAE may occur during craniotomy of supratentorial tumor in the supine position. VAE occurs due to the pressure differential between open vein in the surgical field and right atrium. A 46 years old woman underwent craniotomy for supratentorial meningioma in the supine position. Intraoperative, the patient was experiencing a decrease in end-tidal CO2 pressure about 6 mmHg in 5 minutes. Therefore, management of acute VAE was proceed to the patient, such as informed the surgeon immediately, discontinued N2O and increased flow of O2, modified the anesthesia technique, asked the surgeon to irrigate the surgical field with fluids, gave compression on jugular vein, aspirated the right atrial catheter, prepared drugs to support the hemodynamic, and changed the patient’s position if possible. 

Optimal time of administration of fentanyl in reducing hemodynamic response in endotracheal intubation

Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 46, No 02 (2014)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laryngoscopy and endotracheal intubations are frequently conducted in general anesthesia.However, it can stimulate symphatic and sympatoadrenal activities. Several non andpharmacological interventions have been used to reduce the symphatic stimulation. Fentanyl isone of the opioid drugs that frequently used to decrease the cardiovascular responses after theintubations. In order to obtain an optimal effect, fentanyl should be administered in appropriatetime. This study was conducted to compare the time of fentanyl administration at 2, 5 and 7minutes before endotracheal intubation to reduce hemodynamic responses. This was anobervational study with a prospective cohort design on patients who were going to undergoelective sugical using general anesthesia followed laryngoscopy intubation in Dr Sardjito GeneralHospital and met the inclusion and exclusion criteria. The patients were then divided into 3groups i.e patients who received fentanyl 1.5 μg/kg body weight (BW) intravenously (IV) 2minutes (Group A), 5 minutes (Group B) and 7 minutes (Group C) before laryngoscopy intubations.The hemodynmic responses including sistolic and diastolic blood pressure (SBP and DBP), meanarterial pressure (MAP), heart rate (HR) and rate pressure product (RPP) were monitored andrecorded every 1 minute during 7 minutes period. The result showed that fentanyl administration5 minutes before laryngeal intubation was more effective in the decrease hemodynamic responsethat those 2 and 7 minutes. Significantly different in SBP in 2, 3, 4 and 7 minutes observationswas observed (p<0.05). Furthermore, significantly different in MAP in 2, 3 and 4 minutesobservation and in RPP in 1, 2, 3, 4 and 7 minute observation were also observed (p<0.05). Nosignificantly different was observed in HR during observation (p>0.05). In conclusion, theadministration of fentanyl 1.5 μg/kg BW IV at 5 minutes before intubation is more effectiveagainst hemodynamic responses in endotracheal intubation.

Evaluasi Masa Konsesi Pada Pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru

Warta Penelitian Perhubungan Vol 26, No 12 (2014): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan utama dan tersibuk di Indonesia berfungsi sebagai pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor maupun barang antar pulau. KapasitasTerminal Petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok mampu menampung sebesar 4,5 juta TEUs. Undang-Undang Nomor 17/2008 tentang Pelayaran mereformasi sistem pelabuhan di Indonesia yaitu menghapus monopoli dan membuka kesempatan bagi partisipasi sektor swasta. Masa konsesi sangat penting, karena terkait dengan kepentingan pemerintah sebagai pemilik proyek maupun pihak swasta sebagai pemegang hak konsesinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang usaha dalam pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru dan untuk mengetahui pengaruh kebijakan, kelayakan proyek dan kinerja operasional baik secara parsial maupun simultan terhadap masa konsesi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif sedangkan analisis data Structural Equation Modeling (SEM) dengan menggunakan software Smart PLS versi 2.0. Hasil dari analisis diperoleh kesimpulan bahwa persepsi responden Undang-Undang Nomor 17/2008 tentang Pelayaran berikut turunannya, memberikan peluang usaha sangat besar bagi sektor swasta yaitu berdirinya perbengkelan petikemas, pencucian petikemas, pengurusan jasa dokumen, restoran dan kebijakan, kelayakan proyek dan standar kinerja operasional pelabuhan terbukti secara parsial dan simultan berpengaruh signifikan terhadap masa konsesi. Hal ini jika pemenuhan kebijakan diimbangi dengan peningkatan berbaikan kelayakan proyek dan standar kinerja operasional pelabuhan, maka diperoleh masa konsesi yang wajar sesuai dengan peraturan yang ada. Masa konsesi dalam penetapannya harus memberikan kondisi yang saling menguntungkan bagi pihak yang bekerjasama terutama bagi pemerintah dan PT. Pelabuhan Indonesia II.

Formulasi dan Stabilitas Mikroemulsi O/W sebagai Pembawa Fucoxanthin

Agritech Vol 32, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study was to obtain a clear and stable oil-in-water (o/w) microemulsion containing fucoxanthinwhich is intended for aqueous food system application. Virgin coconut oil (VCO) was used as the oil phase andcombination of Tween 80, Tween 20 and Span 80 were selected as nonionic surfactant having high, medium, and lowHLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance) values, respectively. The o/w microemulsions were formulated to have the Þ nalHLB values of 13.5, 14.0, and 14.5. For each HLB value, three different microemulsion formulas were determined. Allof the formulated microemulsions were then subjected to oven heating at 105 oC for 5 hour, centrifugation at 4500 rpmfor 30 min, incubation at different pH (3.5, 4.5, and 6.5), water dilution, and photooxidation to evaluate its stability.The most stable microemulsion was then selected and used to deliver fucoxanthin as a hydrophobic antioxidant inaqueous system. Photo-oxidation was performed by exposing the microemulsions under ß uorescent light at 4,000 luxfor up to 4 hours at room temperature. Peroxide values were measured every hour using ferric thiocyanate method.Stable o/w microemulsions were obtained when its HLB value was 14.5, the ratio of oil:surfactants was 3:17, andthe ratio of (oil + surfactants) : water was 35 : 65. The ratio of Tween 80 : Tween 20 : Span 80 was 92.0 : 2.5: 5.5. Fucoxanthin microemulsion was remained stable at pH range from 3.5 to 6.5 even after heating treatment,centrifugation, and water dilution. However, there were increased peroxide values of these microemulsions after being subjected to photooxidation. The presence of fucoxanthin (over 12 ppm) in the microemulsion could not effectively inhibit photooxidation of the o/w microemulsion.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh mikroemulsi minyak dalam air (o/w) yang mengandung fucoxanthinyang stabil dan jernih untuk diaplikasikan dalam sistem makanan aqueous. Virgin coconut oil (VCO) digunakansebagai fase minyak dan kombinasi Tween 80, Tween 20 dan Span 80 sebagai surfaktan non ionik yang masingmasingmempunyai nilai HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance) tinggi, medium dan rendah. Formulasi mikroemulsio/w ditentukan nilai HLB akhir masing-masing 13,5; 14, dan 14,5. Masing-masing nilai HLB tersebut ditentukan tigaformula yang berbeda. Semua formulasi mikroemulsi kemudian dipanaskan dalam oven pada suhu 105 oC selama 5jam, disentrifugasi pada kecepatan 4500 rpm selama 30 menit, diinkubasi pada pH yang berbeda (3,5; 4,5 dan 6,5),diencerkan dengan akuades dan stabilitas diuji secara fotooksidasi. Mikroemulsi paling stabil selanjutnya dipilih dandigunakan untuk pembawa fucoxanthin sebagai antioksidan hidrofobik dalam sistem aqueous. Fotooksidasi ditentukandengan menempatkan mikroemulasi di bawah sinar ß ouresensi 4000 lux selama 4 jam pada suhu ruang. Angkaperoksida diukur setiap jam menggunakan metode feri thiosianat. Mikroemulsi o/w yang stabil diperoleh pada HLB14,5 dengan rasio minyak : surfaktan = 3 : 17 dan rasio minyak + surfaktan : air = 35 : 65. Rasio Tween 80 : Tween 20: Span 80 adalah 92.0 : 2.5 : 5.5. Mikroemulsi fucoxanthin yang diperoleh stabil pada pH 3,5 sampai 6,5 dan bahkansetelah perlakuan pemanasan, sentrifugasi dan pengenceran. Namun angka peroksida meningkat selama fotooksidasi.Fucoxanthin dalam mikroemulasi lebih dari 12 ppm tidak efektif untuk menghambat fotooksidasi dalam mikroemulsio/w.