Articles

Found 11 Documents
Search

Variasi Bahan Bioaktif dan Bioaktivitas Tiga Nomor Harapan Temulawak pada Lokasi Budidaya Berbeda Nurcholis, Waras; Purwakusumah, Edy Djauhari; Rahardjo, Mono; Darusman, Latifah K.
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol 40, No 2 (2012): JURNAL AGONOMI INDONESIA
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.096 KB)

Abstract

Temulawak (Curcuma  xanthorrhizaRoxb.) belongs to the family Zingiberaceae, has been empirically used as herbal medicines. The research was aimed to evaluate three promising lines of Temulawak based on their high bioactive contents (xanthorrhizol and curcuminoid) and its in vitro bioactivity (antioxidant and toxicity), and to obtain information on agrobiophysic environmental condition which produced high bioactive compounds. The xanthorrhizol and curcuminoid contents were measured by HPLC. In vitro antioxidant and toxicity were determined by DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl) method and BSLT (Brine Shrimp Lethality Test). The result showed that promising line A produced the highest yield of bioactive and bioactivity, i.e. 0.157 and 0.056 g plant-1of xanthorrizol and curcuminoid respectively. The IC50 of antioxidant activity was 65.09 mg L-1and LC50of toxicity was 69.05 mg L-1. In this study, Cipenjo had the best temulawak performance than two other locations. According to the agrobiophysic parameters, Cipenjo environmental condition was suitable for temulawak cultivation with temperature 28-34 ºC, rainfall ± 223.97 mm year-1 and sandy clay soil. Keywords: antioxidant, curcuminoid, promising lines, temulawak, xanthorrhizol
PENGARUH UMUR BATANG BAWAH TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH MENGKUDU TANPA BIJI HASIL GRAFTING Rahardjo, Mono; Djauhariya, Endjo; Darwati, Ireng; SMD, Rosita
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 1 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Balittro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanaman mengkudu tanpa biji merupakan tanaman langka sehingga untuk mengantisipasi kelangkaan tanaman ini perlu pengembangan teknologi perbanyakan. Pengembangan mengkudu tanpa biji tidak dapat melalui perbanyakan generatif, tetapi harus melalui perbanyakan vegetatif. Perbanyakan vegetatif yang prospektif adalah menggunakan metode penyambungan pucuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan umur bibit batang bawah yang dapat menghasilkan bibit mengkudu tanpa biji bervigor tinggi. Penyambungan pucuk mengkudu tanpa biji telah dilakukan di KP. Cimanggu sejak Januari sampai Desember 2012 menggunakan batang atas mengkudu tanpa biji yang entresnya disimpan selama satu hari. Batang bawah yang diuji adalah lima umur batang bawah, yaitu umur 3, 4, 5, 6, dan 7 bulan, diulang lima kali. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok. Parameter yang diamati adalah daya tumbuh, jumlah daun, dan panjang tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan penyambungan mencapai 68%. Berdasarkan jumlah daun dan panjang tunas, benih mengkudu tanpa biji optimal dipindah ke lapang dan produksi pada umur tiga bulan setelah penyambungan. Benih yang dihasilkan mempunyai vigor tinggi pada umur tiga bulan setelah penyambungan.Kata kunci: Morinda citrofolia, mengkudu tanpa biji, umur batang bawah, penyambungan, pertumbuhan
PENGARUH PUPUK UREA, SP36, DAN KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb) RAHARDJO, MONO; PRIBADI, EKWASITA RINI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya sejakSeptember 2006 sampai Desember 2007. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui pengaruh pemberian pupuk urea, SP36, dan KCl terhadappertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang temulawak. Perlakuan disusundalam faktorial 3 x 3 yang dilaksanakan dalam rancangan acak kelompokdan diulang 3 kali. Ketiga faktor yang dicoba terdiri atas 3 jenis pupukurea, SP36, dan KCl dengan takaran masing-masing 100, 200, dan 300kg/ha. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 50 cm, denganpopulasi 40 tanaman/plot. Peubah yang diamati adalah, komponenpertumbuhan meliputi akumulasi biomas, produksi rimpang, mutusimplisia (minyak atsiri, bahan aktif kurkuminoid dan xanthorhizol), dankadar hara N, P dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukanurea sebanyak 300 kg/ha pada tanah dengan status hara N rendahberpengaruh nyata terhadap peningkatan komponen pertumbuhan tanamantemulawak, biomas, hasil rimpang segar, dan simplisia kering pertanaman.Namun perlakuan interaksi dari tiga faktor pupuk urea, SP36, dan KCldengan masing-masing dosis 100, 200, dan 300 kg/ha tidak berpengaruhnyata terhadap produksi rimpang segar. Mutu simplisia yang dihasilkansudah memenuhi standar MMI  ( DEPKES, RI, 1995. Produksi rimpangsegar berkisar antara 20,23 - 25,46 t/ha. Produksi rimpang segar 20,23 t/hadicapai perlakuan pemupukan urea, SP36, dan KCl masing-masing 100kg/ha, yang menyerap 37,41 kg/ha hara N, 15,30 kg/ha hara P, dan146,11 kg/ha hara K. Produksi rimpang segar 25,46 t/ha dicapai perlakuan300 kg/ha urea, 200 kg/ha SP36 dan 200 kg/ha KCl, yang menyerap193,44 kg/ha hara N, 21,05 kg/ha hara P, dan 221,34 kg/ha hara K.Kata kunci : Curcuma xanthorhiza Roxb, produksi, mutu, dan serapanharaABSTRACTEffect of urea, SP36, and KCl fertilizers on plant growthand production of java turmeric (Curcuma xanthorrhizaRoxb)The experiment was conducted in Sukamulya Experimental Stationfrom September 2006 until December 2007. The objective of the researchwas nitrogen, phosphate, potassium uptake to increase plant growth,production and to find out quality of java turmeric. The experiment wasarranged in factorial randomized block design with three replicates, andurea, SP36, and KCl fertilizer dosages were 100, 200, 300 kg/ha. The plantspacing was 75 cm x 50 cm, population was 40 plant/plot, and plot sizewas 3.75 m x 4 m. The first research was done in 2006 to obtain plantgrowth data and the second one was conducted in 2007 aiming to obtaindata on productivity and quality of rhizomes. Parameters observed wereaccumulation of biomass, rhizomes productivity and quality, absorption ofplant nutrition (N, P and K), active compounds (curcuminoid andxanthorhizol). The result showed that fertilizer application of 300 kg/haurea on the soil low in N content was able to increase growth componentof java turmeric, fresh rhizomes, and dry matter of rhizomes per/plant.Combination of the three application factors of urea, SP36, and KCl withdosages of 100, 200, and 300 kg/ha, respectively, did not affect onrhizomes productivity. The quality of rhizomes have fulfilled MMIstandard. The productivity of rhizome varied from 20.23 – 25.46 t/ha.Application of urea, SP36, and KCl with each dosage of 100 kg/haproduced 20.23 t/ha rhizome, which absorbed as much as 137.41 kg N,15.30 kg P, and 146.11 kg K per ha. Application of urea, SP36, and KCl of300, 200, and 200 kg/ha, respectively, produced 25.46 t/ha rhizome, whichabsorbed as much as 193.44 kg/ha N, 21.05 kg/ha P, and 221.34 kg/ha K.Key words : Curcuma xanthorrrhiza Roxb, productivity, quality andnutrien uptake
PENGARUH PEMUPUKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN MUTU SIMPLISIA PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molkenb) RAHARDJO, MONO; SMD, ROSITA; DARWATI, IRENG
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.293 KB)

Abstract

ABSTRAKPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) adalah tanaman obatasli Indonesia yang statusnya langka, dan teknologi budidayanya belumbanyak diketahui. Penelitian pengaruh pemupukan terhadap produksi danmutu simplisia purwoceng telah dilakukan tahun 2004-2005 di DesaSikunang, Dieng, Jawa Tengah. Perlakuan pemupukannya adalah: (1)kontrol (tidak dipupuk); (2) 9,6 kg pupuk kandang (pk); (3) 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl; (4) 9,6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl; (5)9,6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36; (6) 9,6 kg pk + 96 g urea + 72 g KCl;(7) 9,6 kg pk + 48 g SP36 + 72 g KCl. Percobaan menggunakan rancanganacak kelompok diulang 4 kali dengan ukuran petak 2,4 m 2 . Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemberian pupuk lengkap 9,6 kg pk + 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl/petak dan pemupukan 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/petak dapat meningkatkan produksi dan mutu simplisia purwoceng.Dibandingkan dengan tanaman yang tidak dipupuk, produksi simplisiameningkat 40%, kadar stigmasterol di akar meningkat 11 – 14 kali. Akartanaman purwoceng yang tidak dipupuk tidak mengandung sitosterol,tetapi setelah dipupuk mengandung sitosterol sebanyak 16,17 – 17,11 ppm.Tajuk tanaman tidak mengandung bergapten apabila tidak dipupuk, tetapisetelah dipupuk mengandung bergapten 4,92 – 5,56 ppm. Produksi danmutu simplisia perlakuan 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl/petak tidakberbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan 9,6 kg pk + 96 g urea + 48g SP36 + 72 g KCl/petak. Ini diduga karena kandungan bahan organiktanah cukup tinggi, sehingga penambahan 96 kg/petak pupuk kandangtidak berpengaruh nyata. Untuk menghasilkan simplisia kering purwocengsecara optimal 8,41 g/tanaman (6,98 kwt/ha) dan bermutu tinggi,diperlukan serapan hara N, P dan K pada jaringan tanaman masing-masingberturut-turut sebanyak 283 mg N; 55 mg P; dan 356 mg K/tanaman atausetara dengan 23,50 kg N; 6,30 kg P; dan 38,90 kg K/ha.Kata kunci: Purwoceng, Pimpinella pruatjan Molkenb, pemupukan,pertumbuhan, produksi, mutu, Jawa TengahABSTRACTEffect of fertilizer application on production and qualityof Pimpinella pruatjan MolkenbPurwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb) is an Indonesianindigenous medicinal plant. Purwoceng is classified as an endangeredspecies, and its cultivation technology has not been devoleped. Theobjective of the research was to find out the effect of fertilizer applicationon the production and quality of purwoceng simplisia. The research wasconducted in Sikunang, Dieng, Wonosobo, Central Java from 2004 until2005. The treatments of fertilizer application on 2.4 m 2  were (1) control(without fertilizer); (2) 9.6 kg dung manure (dm); (3) 96 g urea + 48 gSP36 + 72 g KCl; (4) 9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl; (5)9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36; (6) 96 kg pk + 9.6 g urea + 72 g KCl;(7) 9.6 kg pk + 48 g SP36 + 72 g KCl. The experiment was designed inrandomized block designed with four replications. The result of theresearch showed that the treatments of 9.6 kg dm + 96 g urea + 48 g SP36+ 72 g KCl/2.4 m 2 and 96 g urea + 48 g SP36 + 72 g KCl/2.4 m 2 increasedthe simplisia production and quality compared with control. The simplisiaproduction increased up to 40% and the stigma sterol content in the rootsincreased up to 11 – 14 times. The content of sitosterol in the plants withfertilizer application was 6.7 – 17.11 ppm but in the plants withoutfertilizer application was zero. The content of bergapten in shoot part ofplant with fertilizer application was 4.92 – 5.56 ppm, but in the shoot partwithout fertilizer application was zeros. The production and quality ofsimplisia with the fertilizer application of 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/2.4 m 2 were not significantly different from those with fertilizerapplication of 9.6 kg pk + 96 g urea + 48 g SP36 + 72 gKCl/2.4 m 2 . Ithappened probably because the organic soil content was high, so that theapplication of 40 ton/ha of dung manure did not give any effect.Furthermore, to increase the optimum production of purwoceng simplisia(6.98 kwt/ha) with high quality it needs 283 mg N, 55 mg P dan 356 mgK/plant or 23.50 kg N, 6.30 kg P, and 38.90 K/ha.Key words : Purwoceng,  Pimpinella  pruatjan  Molkenb,  fertilizerapplication, growth, production, quality, Central Java
PENGARUH PERLAKUAN BENIH DAN APLIKASI PESTISIDA SINTETIK DAN NABATI TERHADAP PRODUKSI RIMPANG BENIH JAHE Rahardjo, Mono
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.628 KB)

Abstract

Benih merupakan salah satu faktor pro-duksi yang mempunyai kontribusi lebih ku-rang 40% terhadap keberhasilan budida-ya jahe. Penyediaan benih jahe bermutu masih terkendala oleh tingginya kontami-nasi OPT tular benih. Minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan kayu manis, berpo-tensi digunakan untuk mengurangi serang-an OPT. Tujuan penelitian adalah untuk menguji perlakuan benih dan penyemprot-an tanaman jahe dengan formula minyak atsiri dan karbosulfan  + mancozeb terha-dap produksi jahe. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug sejak Nopember 2009 sampai Desember 2010. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Faktorial dan setiap perlakuan diulang 6 kali. Faktor pertama adalah perlakuan be-nih (seed treatment); A1) karbosulfan + mancozeb, A2) minyak daun cengkeh + kayu manis, dan A3) minyak daun cengkeh dan serai wangi, dosis masing-masing per-lakuan adalah 0,2% diberikan secara coa-ting sebelum benih disemaikan. Faktor ke-dua adalah aplikasi pestisida pada tanam-an; B1) kontrol tanpa perlakuan, B2) mi-nyak daun cengkeh + kayu manis, B3) minyak daun cengkeh + serai wangi, dan B4) karbosulfan. Dosis masing-masing per-lakuan adalah 0,4%, diaplikasikan setiap minggu terhadap tanaman pada fase vege-tatif sampai tanaman umur 6 bulan setelah tanam. Pengamatan dilakukan terhadap produksi benih, persentase benih rusak, kadar serat, kadar pati benih, dan persen-tase daya tumbuh benih. Hasil penelitian menunjukkan produksi rimpang tertinggi (11,56 t/ha), hasil benih tertinggi (10,21 t/ha) dan daya tumbuh benih jahe ter-tinggi (99,79%) dicapai pada perlakuan benih menggunakan campuran karbosul-fan + mankozeb sehingga perlakuan ter-sebut dapat dijadikan standar dalam pe-nyiapan benih jahe. Perlakuan tersebut ti-dak mempengaruhi mutu jahe. Kerusakan rimpang, kadar serat dan pati rimpang tidak dipengaruhi oleh perlakuan benih dan penyemprotan pestisida pada ta-naman.
PENGARUH MACAM SETEK DAN MEDIA TUMBUH TERHADAP VIGOR BIBIT KEMUKUS (Piper cubeba LINN) DJAUHARIYA, ENDJO; RAHARDJO, MONO; SUDIMAN, AGUS; SUKARMAN, SUKARMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.501 KB)

Abstract

ABSTRAKTanaman kemukus (Piper cubeba LINN.) sudah dikenal sejakjaman dahulu sebagai tanaman obat, rempah, pengharum dan penyedapmasakan. Di Jawa Tengah perbanyakan tanaman kemukus pada umumnyadilakukan melalui setek panjang yang terdiri dari 8 - 14 ruas. Perbanyakandengan cara demikian dianggap tidak ekonomis, oleh karena itu perludicari cara perbanyakan yang efisien dan efektif. Percobaan pengaruhmacam setek dan komposisi media tumbuh terhadap daya tumbuh danvigor bibit dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan teknologiperbanyakan kemukus. Percobaan dilakukan di Kebun PercobaanCimanggu, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor dari bulanSeptember sampai dengan Desember 2003. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok yang disusun secara faktorial dengan 2 faktordan 3 ulangan. Sebagai faktor pertama adalah 3 macam setek pendek 3ruas yaitu : (1) setek bertapak, (2) setek sulur panjat dan (3) setek cabangbuah. Faktor kedua adalah tiga perlakuan komposisi media tumbuh terdiridari (tanah + pupuk kandang + pasir) dengan perbandingan: (a) 1:1:1, (b)2:1:1, dan (c) 3:1:1. Media dimasukkan ke dalam polibag ukuran 10 x 12cm. Variabel yang diamati meliputi persentase daya tumbuh, panjangtunas, jumlah daun, bobot kering tunas, jumlah akar, panjang akar danbobot kering akar. Hasil percobaan menunjukkan bahwa vigor bibit yangdiekspresikan oleh persentase daya tumbuh, pertumbuhan tunas dan akartidak nyata dipengaruhi oleh interaksi jenis setek dan komposisi mediatumbuh. Jenis setek berpangaruh nyata terhadap semua variabel yangdiamati, kecuali terhadap jumlah daun. Jenis setek yang berasal dari setekbertapak dan sulur panjat manghasilkan persentase daya tumbuh 68,40%dan 62,00%, panjang tunas 2,87 cm dan 4,70 cm, bobot kering tunas 0,13g dan 0,14 g, jumlah akar 5,95 dan 5,76 dan bobot kering akar 0,05 g dan0.05 g, lebih baik dibandingkan setek cabang buah. Jenis media tumbuhhanya berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas tapi tidakberpengruh nyata terhadap variabel lainnya. Bobot kering tunas yangterbaik didapat pada komposisi media tumbuh tanah + pupuk kandang +pasir (1 : 1 : 1) (0,14 g) dan terendah pada komposisi media tumbuh tanah+ pupuk kandang + pasir (3 : 1 : 1) (0.11 g).Kata kunci : Kemukus, Piper cubeba LINN, bahan tanaman, macamsetek, media tumbuh, daya tumbuh, Jawa BaratABSTRACTEffect of cutting materials and growth media on thegrowth of cubeba cuttingsIn Indonesia, cubeba pepper plant (Piper cubeba LINN) has beenknown for years as a traditional medicine, spice, fragrant, and seasonings.In Central of Java, it is usually propagated by using eight or fourteen nodecuttings which is not an economical practice. The research on cuttingmaterials and growth media was conducted in Cimanggu ExperimentalGarden of the Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institutefrom September to December 2003. The objective of the research was tofind out an appropriate propagation technology of cubeba. The researchused two factors and three replications which was arranged in arandomized completely block design. The first factor was three kinds ofcutting nodes, i.e. (1) attached-rooted cuttings (2) vegetative branch and(3) generative branch. The second factor was three kinds of mediacompositions of soil, dung manure and sand (1) 1:1:1, (2) 2:1:1 and (3)3:1:1. Observations were conducted on the percentage of budding, lengthof bud, number of leaves, number of roots, length of root, dry weight ofthe roots, and the shoot. The results of the research indicated that the vigorof seedlings which was expressed by germination percentage, growth ofseedlings, and growth of root, did not significantly affected by theinteraction between kinds of cuttings and media composition. However,the kinds of cuttings significantly affected all variables, except the numberof leaves. Cubeba seedlings originated from attached-rooted cuttings andvegetative branch had higher germination percentage i.e. 68.40% and62.00%, length of shoot 2.87 cm and 4.70 cm, dry weight of shoot 0.13 gand 0.14 g, number of roots 5.95 and 5.76, length of root 7.32 cm and 7.27cm, and dry weight of root 0.05 g and 0.05 g, compared to the cubebaseedlings originated from generative branch. Media composition wassignificantly effected only on dry weight of shoots. The highest dry weightof shoot was resulted from composition of soil, dung manure and sand1:1;1 (0.14 g), while the lowest was found on ratio media composition ofsoil, dung manure and sand 3:1:1 (0.11g).Key words : Cubeba, Piper cubeba LINN, plant material, cuttingmaterials, growth media, growth, West Java
PENGARUH PEMUPUKAN ORGANIK TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU TIGA NOMOR HARAPAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) DI CIBINONG BOGOR Rahardjo, Mono; Ajijah, Nur
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 18, No 1 (2007): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.746 KB)

Abstract

The Effect of Organic Fertilizer on Productivity and Quality of Three Promising Lines Java Turmeric (Curcuma Xanthorriza Roxb.) Promising Lines, in Cibinong BogorProductivity and quality of java tur-meric were influenced by many factors, i.e. nutrition availability from fertilizer appli-cation. The objective of the research was to examine the effect of organic fertilizer on rhizome productivity and quality of three java turmeric promising lines (Balittro 1, Balittro 2 and Balittro 3). The research was conducted in Cibinong Experimental Garden, from No-vember 2005 until October 2006. The organic fertilizer application were 10 t/ha bookashi + 90 kg/ha bio fertilizer + 300 kg/ha zeolit + 300 kg/ha rock-phosphate/ha. Experiment was arranged in Randomized Block Design with 9 replications. Plot size of experiment is 30 cm2, with plant distance are 75 cm x 50 cm. Each plot contain 80 plants. The result showed that the rhizomes yield of three genotypes of java turmeric Balittro 1, Balittro 2 and Balittro 3 (ranged for 14.21 - 16.59 ton/ha) was higher than the rate of national production (10.7 ton/ha). The production of rhizomes, xanthor-rizol and curcuminoid of Balittro 1 were higher than  Balittro 2 and Balittro 3. The Balittro 1 promising line was superior java turmeric due to its higher response to organic fertilizers. 
PENGARUH UKURAN BENIH RIMPANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK Sukarman, Sukarman; Rahardjo, Mono; Rusmin, Devi; Melati, Melati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 22, No 2 (2011): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.947 KB)

Abstract

Efisiensi penggunaan benih temulawak (Curcuma xanthorrhiza), beberapa bagian rimpang dan ukurannya diuji dalam pene-litian ini. Penelitian bertujuan untuk mem-pelajari pengaruh ukuran benih (rimpang) terhadap pertumbuhan dan hasil te-mulawak. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Sukamulya, Balai Peneliti-an Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) sejak November 2007 sampai Agustus 2008. Percobaan dengan lima perlakuan dan lima ulangan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan yang diuji adalah lima taraf asal benih (rimpang) yaitu : (1) rimpang induk utuh (220,5 g), (2) rimpang induk dibelah 2 (109,7 g), (3) rimpang induk dibelah 4 (54,36 g), (4) rimpang induk dibelah 8 (27,29 g), dan (5) rimpang cabang (22,01 g). Peubah yang diamati adalah pertum-buhan tanaman, komponen hasil (jumlah dan bobot rimpang induk serta rimpang cabang, dan hasil). Hasil penelitian me-nunjukkan tanaman berasal dari rimpang induk menghasilkan rimpang segar terting-gi (27,2 t/ha), dan tidak berbeda nyata de-ngan produksi tanaman yang dihasilkan dari rimpang induk dibelah dua (24,2 t/ ha). Untuk efisiensi benih maka rimpang induk dibelah dua dapat dijadikan alterna-tif sebagai bahan tanaman dalam budidaya temulawak.
Penerapan SOP Budidaya Untuk Mendukung Temulawak Sebagai Bahan Baku Obat Potensial RAHARDJO, MONO
Perspektif Vol 9, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.436 KB)

Abstract

ABSTRAKTemulawak  (Curcuma xanthorrhiza  Roxb)  merupakan tanaman asli  Indonesia, banyak ditemukan terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jakarta, Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan  Barat  dan  Kalimantan  Timur,  Sulawesi Utara  dan Sulawesi Selatan. Rimpang temulawak mengandung bahan aktif yang potensial untuk kesehatan antara lain xanthorrizol, kurkuminoid dan minyak atsiri. Rimpang temulawak banyak dipergunakan  sebagai  bahan  baku  obat  tradisional sebagai jamu, herbal terstandar dan obat fitofarmaka. Teknologi yang mengacu pada SOP budidaya dengan penggunaan  varietas  unggul,    lingkungan  tumbuh yang  cocok,  benih  bermutu,  persiapan  lahan,  cara tanam dan pasca panen yang tepat akan menghasilkan produksi dan mutu rimpang yang tinggi. Pada umumnya  temulawak diperbanyak dengan menggunakan  stek  rimpang    berasal  dari  rimpang induk dan rimpang cabang.  Benih harus berasal dari tanaman yang sehat berumur 10 - 12 bulan, bersih, kulitnya licin   mengkilap, bebas  dari hama dan  penyakit.  Rimpang induk untuk benih dapat dibagi menjadi 2 - 4 bagian,  ukurannya sekitar 20 - 40 g/benih yang mempunyai 2 -3 mata tunas.  Tingkat pemupukan pupuk organik dan anorganik (N, P dan K)   mempengaruhi   produksi   rimpang   dan   mutu. Kebutuhan pupuk N (Urea), P (SP36) dan K (KCl) harus disesuaikan dengan kondisi kesuburan tanah. Pada status kesuburan tanah  dengan kandungan N rendah, P  cukup dan K cukup pada iklim tipe B, produksi rimpang tertinggi (25,46 t/ha) dicapai pada pemupukan pupuk kandang 20 t/ha, urea 300 kg/ha, SP36 200   kg/ha, dan KCl 200 kg/ha. Tanaman temulawak siap dipanen pada umur 10 12 bulan, dengan dicirikan tanaman sudah senescen (mengering batang dan daunnya). Temulawak berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan, memperbaiki fungsi pencernaan, fungsi hati, pereda nyeri sendi dan tulang, menurunkan lemak darah, antioksidan dan menghambat penggumpalan darah.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  teknologi budidaya, khasiat ABSTRACTApplication of Standard Operational Procedure to Support Java Turmeric as Potential Drug IngredientsJava turmeric (Curcuma xanthorrhiza  Roxb) is one of Indonesian native plants  cultivated  in West, Central and, East Java, Yogyakarta, Bali, North Sumatera, Riau, Jambi,  West  and  East  Kalimantan,  and  North  and South Sulawesi. Since rhizomes contain xanthorrizol, curcuminoid and essential oils, this plant has been widely   used   as   traditional   medicine                                                                                       (jamu), standardized  herbal  and  phytopharmaca  medicines. Applying standard operational procedure consisting of the  usage  of  a  good  variety,  selection  of  suitable environmental  condition,  soil  preparation,  seedling and planting techniques, and post harvest technology will produce high both yield and quality of rhizomes. Turmeric propagates via main or branch rhizomes. Seed should be chosen from the healthy plants age 10-12 months after planting. Rhizomes should have shiny skin and free from pests and diseases. Rhizomes may be divided into 2 - 4 pieces, which is 20-40 g/slice and have 2-3  shoots.  Organic  and  inorganic  fertilizers  ascertain quantity and quality of rhizomes. The need of inorganic  fertilizers  such  as  Urea,  SP36  and  KCl depends on soil fertility condition. Field in Type B climate having low N status, enough P and K status will produce 25.46 tones/ha rhizomes since it is applied with 20 ton/ha of dung manure, 300 kg/ha of Urea, 200 kg/ha of SP36 and 200 kg/ha of KCL.  Plant will ready to be harvested on 10 to 12 months after planting, indicated by senescent condition. Java turmeric can be used to enhance eating appetite, cure digesting and liver malfunctions, lower blood fat, antioxidants and inhibit blood clotting.Key words: Curcuma xanthorrhiza  Roxb,  cultivation tecnology,  medicinal uses
Peluang Pembudidayaan Tanaman Echinacea (Echinacea purpurea) di Indonesia RAHARDJO, MONO
Perspektif Vol 4, No 1 (2005): Juni 2005
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.121 KB)

Abstract

ABSTRAKEchinacea purpurea tergolong famili Asteracea yang banyak ditemukan tumbuh liar di Amerika Utara. Saat ini dikenal sebagai tanaman yang berkhasiat meningkatkan ketahanan tubuh paling penting di dunia, dan akhir-akhir ini telah diuji juga untuk terapi kanker, AIDS dan mengatasi kelelahan kronis. Karena manfaatnya tersebut, industri obat tradisional di Indonesia mengimpor bahan baku Echinacea. Seluruh bagian tanaman mempunyai khasiat sebagai obat. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa E. purpurea yang diintroduksi dari Australia, tumbuh baik di lingkungan tropis Indonesia pada ketinggian 450 - 1.100 m di atas permukaan laut.  Tanaman ini mampu menghasilkan bunga dan biji ketika ditanam di Cipanas (Jawa Barat) dan di Ungaran (Jawa Tengah). Biji  yang  dihasilkan    mempunyai  daya  kecambah 91,1%,  kecepatan tumbuh 77,5%, dan  percepatan tumbuh 12,0%. Laju pertumbuhan tanaman dan serapan hara N, P, K, Ca, Mg, dan S meningkat dengan bertambahnya umur tanaman, dengan akumulasi biomas kering terbesar pada bagian tajuk (batang dan daun) dan terendah pada bagian akar. Akumulasi biomas kering dapat mencapai 65,5 g per tanaman yang ditanam di lokasi Pacet dengan ketinggian tempat 1.100 m dpl, dan mencapai 35,4 g per tanaman di lokasi Ungaran dengan ketinggian tempat 450 m dpl. Mutu simplisia E. purpurea telah memenuhi standar yang telah ditentukan berdasarkan Standar Internasional. E. purpurea potensial untuk dibudidaya-kan di Indonesia, mengingat banyaknya manfaat tanaman tersebut.Kata  kunci  :  E. purpurea, tanaman obat, budidaya, kekebalan tubuh. ABSTRACTPotency  of  Echinacea  purpurea  cultivation  in IndonesiaPurple coneflower (Echinacea purpurea) belongs to the Asteraceae family which is naturally grown in North America. This crop is wellknown as the important-immune herbs in the world. Recently, Echinacea has also  been  evaluated  as  an  adjuvant  in  the  cancer therapy, AIDS and chronic recovery. Echinacea have been imported by the Indonesian Traditional-Herbs Companies for their invaluable purposes. The plant-parts used for medical purposes are the whole plant. Studies  on  introduced  E.  purpurea  from  Australia  showed that this crop grow well in Indonesia at 450-1.100 m asl. The plants could produce flowers and seeds in Cipanas (West Java) and Ungaran (Central Java) as well. The seed viability was 91,1%, growth rate was 77,5%, and daily growth rate was 12,0%.  Growth rate and nutrients uptake of N, P, K, Ca, Mg, and S linearly increased according to  the plant age. The highest dry weight was  accumulated at the aerial parts of plant (stem and leaf), and the lowest was on the root. Dry matter acumulation of plant  at Pacet-Cipanas location (1100  m  asl)  was  higher  than  dry  matter acumulaion of plant at Ungaran location (450 m asl). Nevertheles ,the quality of E. purpurea fullfilled the International Standard.  Therefore,  E.  purpurea  is potential  to  be  cultivated  in  Indonesia  for  their invaluable purposes.Key words: E. purpurea, medicinal plant, cultivation, immune system.